Info Kesehatan

healhty

Minggu, 29 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA GAGAL JANTUNG









ASUHAN KEPERAWATAN PADA GAGAL JANTUNG

A.  DEFINISI 
Gagal jantung adalah suatu keadaan patologis berupa kelainan fungsi
jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau
disertai peninggian volume diastolik secara abnormal.

B.  ETIOLOGI
1.   Ketidakmampuan miokard berkontraksi sempurna (kegagalan miokard)
secara umum disebabkan oleh:
a.   Stroke volume dan cardiac output menurun hal ini terjadi pada MCI,
cardiomiopati dan miocarditis.
b.   Beban tenaga berlebihan (Afterload meningkat) sehingga pengosongan
ventrikel terhambat menyebabkan stoke volume menurun hal ini dapat
terjadi pada hipertensi dan stenosis aorta.
c.   Kebutuhan metabolisme meningkat pada anemia, demam dan
tirotoksikosis
d.   Hambatan pengisian ventrikel, output ventrikel berkurang, cardiac output
menurun, bendungan arteri pulmonalis dan beban sistolik pada ventrikel
kanan.
2.   Faktor Predisposisi Gagal Jantung
Adalah penyakit yang menimbulkan penurunan fungsi ventrikel
seperti penyakit arteri koroner, hipertensi, kardiomiopati, penyakit pembuluh
darah atau penyakit congenital, dan keadaan yang membatasi pengisian
ventrikel seperti stenosis mitral, kardiomiopati atau penyakit pericardial.
3.   Faktor Pencetus
Asupan natrium meningkat, ketidakpatuhan menjalani pengobatan
anti gagal jantung, infark miokard akut esensial, serangan hipertensi, aritmia








akut, infeksi atau demam, emboli paru, anemia, tirotoksikosis, kehamilan dan
endokarditis infektif.

C.  MANIFESTASI KLINIK
1.   Pembagian gagal jantung
a.   Gagal jantung kiri (decompensasio cordis sinistra)
b.   Gagal jantung kanan (decompensasio cordis dextra)
c.   Gagal jantung kongestif (Congestive Hearth Failure): Gabungan gagal
jantung kiri dan kanan
2.   Tanda dan gejala gagal jantung
a.   Gagal jantung kanan:
-     Oedema/pitting oedema
-     Anoreksia/perut kembung
-     Neusea
-     Asites
-     Tekanan vena jugularis meningkat
-     Pulsasi vena jugularis
-     Hepatomegali
-     Fatique
-     Hipertropi jantung kanan
-     Irama derap/gallop ventrikel kanan
-     Irama derap/gallop atrium kanan
-     Murmur
-     Tanda-tanda penyakit paru kronik
-     Bunyi paru-paru mengeras
-     Hidrothorax
b.   Gagal jantung kiri
-     Lemas/fatique
-     Berdebar-debar
-     Sesak nafas (dispnea d’effort)








-     Orthopnea
-     Dyspnea noctural paroximal
-     Pembesaran jantung
-     Keringat dingin
-     Takhikardia
-     Kongesti vena pulmonalis
-     Ronchi basah dan wheezing
-     Terdapat BJ III dan IV (gallop)
-     Cheynes stokes
3.   Klasifikasi keterbatasan fungsional berdasarkan kategori New York Heart
Association (NYHA)
a.   Kelas 1: Tidak ada pembatasan aktivitas sehari-hari
b.   Kelas 2: Aktivitas sehari-hari menimbulkan sesak nafas, kelelahan atau
palpitasi
c.   Kelas 3: Aktivitas yang kurang pada pekerjaan sehari-hari sudah
menimbulkan sesak nafas, kelelahan dan palpitasi
d.   Kelas 4: Pasien dengan keluhan walaupun pada waktu istirahat

D.  PENATALAKSANAAN
1.   Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan menurunkan
konsumsi O2 melalui istirahat dan pembatasan aktivitas
2.   Memperbaiki kontraktilitas obat jantung
a.   Mengatasi keadaan yang reversibel, termasuk tirotoksikosis, miksedema
dan aritmia 
b.   Digitalis
3.   Menurunkan beban jantung
a.   Menurunkan beban awal (preload) dengan diet rendah garam, diuretic,
vasodilator
b.   Menurunkan beban akhir (afterload) dengan dilator arteriol







E.  KOMPLIKASI
1.   Edema paru
2.   Fenomena emboli
3.   Gagal/infark paru gagal nafas
4.   Carcinogenic syok

F.   PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.   Foto Thoraks: mengidentifikasi kardiomegali, infiltrate prekordial kedua paru
dan efusi pleura
2.   EKG: Mengidentifikasi penyakit yang mendasari seperti infark miokard dan
aritmia
3.   Pemeriksaan lain: Hb, leukosit, ekokardiografi, fungsi ginjal, fungsi tiroid
dilakukan atas indikasi

G.  ANALISA DATA

No
1      DS:

Data

Kemungkinan Penyebab
Penyakit jtg            Penyakit jtg

Masalah
Penurunan

Klien mengatakan:
- Nyeri dada
- Frekuensi BAK

Congenital
Volume darah

koroner,

kardiomiopati

curah
miokarditis,

menurun/< 4x/hari

dalam ventrikel      

- Berkeringat dingin
DO:
- TD: >160/90 mmHg
atau < 90/60 mmHg
- N: > 80 x/mnt
- Kulit dingin, berkeringat
- BJ S3, S4

meningkat








Kerusakan otot
jantung


menurun


Kontraktilitas
miokard

- Ortopnea
- Pembesaran hepar
- Produksi urine < 400
cc/hr
- Distensi vena jugularis
- Hasil EKG: takikardia,
disritmia
- Capillary refill time > 3
dtk

Kemampuan pengosongan
ventrikel menurun
Beban ventrikel meningkat
Volume sekuncup menurun
Cardiac output menurun








2      DS:
Klien mengatakan:
- Cepat lelah
- Berdebar-debar, nyeri
dada
- Pusing bila bergerak
- Berkeringat dingin
DO:
- Tampak lemah
- Hipotensi ortostatik
- ADL di bantu
3      DS:
Klien mengatakan:
- Sesak bila berbaring
telentang
- BB meningkat
- Bengkak pada kaki
- Frekuensi BAK
menurun/< 4x/hari
DO:
- Edema tungkai bawah
- Distensi vena jugularis
- Produksi urine < 400
cc/hr







Volume sekuncup menurun
Suplai oksigen ke jaringan
menurun
Vasokontriksi perifer
Perfusi jaringan/otot rangka
menurun
Kelemahan/keletihan
Volume sekuncup menurun


Volume sisa            CO menurun
ventrikel                
meningkat               Aliran darah
                              ke ginjal
Afterload                menurun
meningkat              
                              Pelepasan renin
Tekanan atrium       angiotensin
meningkat              
                             Konfersi
Tekanan kapiler   angiotensin I
paru meningkat       menjadi
                              angiotensin II
Tekanan                 
hidrostatika            Retensi Na + 
kapiler                     dan H2O
meningkat,
tekonkotik 
vaskuler 
menurun
Transudasi ke 
dalam cairan 
interstitial


Edema interstitial







Intoleransi
aktivitas











Kelebihan
volume
cairan







4      Faktor Risiko:
- Sesak bila berbaring
terlentang
- Frekuensi nafas > 20 x /
mnt
- Capillary refill time > 3
dtk
- GDA: Pa O2 menurun
- Pa CO2 meningkat



H.  RENCANA KEPERAWATAN







Afterload ventrikel meningkat
Beban vena pulmonalis meningkat
Transudasi cairan ke alveoli
Edema paru

No

Diagnosa Keperawatan

Rencana Keperawatan

1      Penurunan curah jantung berhubungan
dengan penurunan kontraktilitas
miokard di tandai dengan:
DS:
Klien mengatakan:
- Nyeri dada
- Frekuensi BAK menurun/< 4x/hari
- Berkeringat dingin
DO:
- TD: >160/90 mmHg atau < 90/60
mmHg
- N: > 80 x/mnt
- Kulit dingin, berkeringat
- BJ S3, S4
- Ortopnea
- Pembesaran hepar
- Produksi urine < 400 cc/hr
- Distensi vena jugularis
- Hasil EKG: takikardia, disritmia

T : curah jantung adekuat
K : - Vital sign stabil
    - Haluaran urin meningkat C1-2
cc/kg BB/jam
    - Frekuensi jantung dan curah
jantung dalam batas diterima
I: 1. Observasi vital sign tiap 4 jam
  2. Kaji kulit terhadap pucat,
sianosis, capillary refill time
  3. Pantau pengeluaran urine, catat
frekuensi/jumlah, konsentrasi
urine
  4. Pertahankan istirahat dengan
posisi semi rekumben
  5. Beri dukungan emosional dengan
memberi penjelasan sederhana
  6. Beri istirahat psikologis dengan
lingkungan tenang, menghindari
stres, mengurangi stimulasi








- Capillary refill time > 3 dtk










2      Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan penurunan suplai O2 ke
jaringan di tandai dengan:
DS:
Klien mengatakan:
- Cepat lelah
- Berdebar-debar, nyeri dada
- Pusing bila bergerak
- Berkeringat dingin
DO:
- Tampak lemah
- Hipotensi ortostatik
- ADL di bantu








3      Kelebihan volume cairan berhubungan
dengan peningkatan produksi ADH,
retensi natrium dan air di tandai
dengan:
DS:
Klien mengatakan:







  7. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian obat diuretic,
vasodilator, captopril, morfin
sulfat, sedatif, anti koagulan.
  8. Siapkan alat pacu jantung bila
diindikasikan
T: Aktivitas dapat ditoleran
K: Dapat berpartisipasi pada aktivitas
yang di inginkan/diperlukan
I:  1. Periksa vital sign sebelum dan
segera setelah beraktivitas,
khususnya bila klien
menggunakan vasodilator,
diuretic, penyekat beta
  2. Catat respons cardio pulmonal
terhadap aktivitas
  3. Kaji penyebab kelemahan misal:
pengobatan, nyeri obat
 4. Evaluasi peningkatan intoleransi
aktivitas
  5. Beri bantuan dalam aktivitas
perawatan diri sesuai indikasi,
selingi dengan istirahat
T: Keseimbangan cairan 
K: - Intake: Out put
 - BB stabil
  - Efusi pleura tidak ada
 - Edema (-)
  - Produksi urine meningkat (1-2







- Cepat lelah
- Berdebar-debar, nyeri dada
- Pusing bila bergerak
- Berkeringat dingin
DO:
- Tampak lemah
- Hipotensi ortostatik
- ADL di bantu
























4.      Risiko tinggi terhadap gangguan
pertukaran gas di tandai dengan:
Faktor Risiko:
- Sesak bila berbaring terlentang
- Frekuensi nafas > 20 x / mnt
- Capillary refill time > 3 dtk
- GDA: Pa O2 menurun
- Pa CO2 meningkat







cc/kg BB/jam)
I:  1. Pantau intake dan output cairan
  2. Pertahankan tirah baring dengan
posisi semi fowler selama fase
akut
  3. Timbang BB setiap hari
  4. Kaji distensi vena jugular, edema
  5. Auskultasi bunyi nafas dan
frekuensi nafas batuk persisten
  6. Ubah posisi dengan sering,
tinggikan daerah kaki/berikan
bantalan
  7. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian obat diuretic, trazid
 8. Pertahankan pemberian
cairan/pembatasan natrium
sesuai indikasi
  9. Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk pemberian diet rendah
garam
T: Gangguan pertukaran gas adekuat
K: - Pernafasan 16-20 x/mnt
  - GDA/oksimetri dalam batas
normal
I:  1. Auskultasi bunyi nafas, catat
krekels, mengi
  2. Anjurkan pasien batuk efektif,
nafas dalam
  3. Dorong perubahan posisi

























DEMAM TIFOID


DEFENISI







  4. Kolaborasi dengan dokter untuk:
- Pemberian O2 sesuai indikasi
    - Pantau GDA, nadi oksimetri
    - Beri obat diuretic,
bronchodilator.

Demam tifoid adalah penyakit infeksius akut yang menyerang usus halus


ETIOLOGI


-     S. Typhi
-     S. Paratyphi
-     S. Paratyphi. B
-     S. Paratyphi C


MANIFESTASI KLINIK
Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit,
keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu
demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau
diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisis
hanya di dapatkan suhu badan meningkat. Dalam minggu kedua gejala-gejala
menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia relatif. Dalam minggu kedua gejala-









gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor
di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor).


KOMPLIKASI


Komplikasi demam tifoid dapat di bagi dalam:
1.   Komplikasi intestinal
- Perdarahan usus
- Perforasi usus
- Ileus paralitik
2. Komplikasi ekstra intestinal
- Komplikasi kardiovaskuler: Kegagalan sirkulasi perifer, miokarditis,
trombosis, tromboflebitis
- Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia
- Komplikasi paru: Pneumonia, empiema dan pleuritis
- Komplikasi hepar dan kandung empedu: hepatitis dan kolesistitis
- Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, periostisis, spondilitis dan
arthritis
- Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, meningitis, polyneuritis
perifer.


PENGOBATAN


1.   Perawatan
Pasien harus tirah baring absolut sampai minima 7 hari bebas demam atau
kurang lebih selama 14 hari
2.   Diet
Pemberian bubur saring yang di maksudkan untuk menghindari komplikasi
perdarahan usus








3.   Obat
-     Kloramfenikol
-     Tramfenikol
-     Ko- trimoksazol
-     Amoksisilin dan ampisilin
-     Sefalosforin generasi ketiga
-     Fluorokinolon


ANALISA DATA


DATA
1.   DS: Klien mengatakan badannya panas
DO: - S: 38 C
-     Wajah tampak kemerahan
-     Kulit teraba hangat
2.   DS: klien mengatakan malas makan
DO: - porsi makan tidak di habiskan
-     klien tampak lemah
3.   DS: Klien mengatakan aktivitas di bantu
DO: - Tampak ADL nya di bantu oleh keluarga
-     klien bedrest
4.   DS: klien mengatakan tidak tahu bagaimana penyakitnya bisa timbul
DO: Klien sering bertanya tentang penyakitnya


ETIOLOGI
Kuman S. Typhi
Masuk melalui minuman dan makanan yang terkontaminasi
Sebagian kuman masuk ke usus halus
Aterjadi infeksi kuman salmonella








Endotoksin
Zat pirogen
Merangsang hipothalamus
Set poin meningkat
Respon menggigil
Reaksi peningkatan suhu tubuh 


Mual muntah
Anoreksia
Intake inadekuat




Reaksi peningkatan suhu tubuh
Metabolisme tubuh meningkat 
Cadangan energi <
Kelemahan otot




Reaksi peningkatan suhu tubuh
Hospitalisasi
Kurang informasi
Persepsi yang salah satu


RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


1.   Hipertermi berhubungan dengan infeksi kuman
salmonella di tandai dengan:
DS:
DO:








2.   Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake in adekuat ditandai dengan
DS:
DO:
3.   Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
ditandai dengan:
DS: 
DO:
4.   Kurang     pengetahuan     klien     tentang     penyakit,
prognosis,perawatan dan pengobatan berhubungan
dengan informasi tidak adekuat, ditandai dengan:
DS:
DO:


RENCANA KEPERAWATAN


T: Hipertermi teratasi
K: - SB dalam batas normal
-     Wajah tampak rileks
I: 
1.   Observasi TTV
2.   anjurkan untuk kompres air hangat
3.   Anjurkan untuk minum banyak (2000-2500 cc)
4.   Anjurkan untuk memakai pakaian yang menyerap keringat
5.   kolaborasi pemberian obat antipiretik


T: Nutrisi adekuat
K: - Porsi makan di habiskan
-     Nafsu makan meningkat








I:









1.   Kaji ulang kebiasaan makan klien
2.   Observasi pemasukan diet
3.   Beri makanan dalam porsi sedikit tapi sering
4.   Hidangkan makanan dalam keadaan hangat dan menarik
5.   lakukan perawatan mulut sebelum makan



T: Toleransi aktivitas
K: Dapat menunjukkan aktivitas secara bertahap
I:
1.   Kaji respon klien terhadap aktivitas
2.   Beri lingkungan tenang dan batasi pengunjung
3.   Ajarkan cara penghemat energi
4.   Bantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari


T: Klien menyatakan pemahamannya tentang penyakit, prognosis, perawatan dan
pengobatan
K: Klien mengerti, memahami tentang penyakitnya
I:
1.   Kaji pengetahuan klien mengenai penyakit yang di deritanya
2.   Berikan informasi tentang prosedur dan tujuan tindakan yang diberikan pada
pasien 
3.   Libatkan keluarga dalam menyusun Tujuan asuhan yang realistik
4.   Berikan umpan balik yang positif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar