Info Kesehatan

healhty

Jumat, 27 April 2012

makalah isbd cara penanganan ibu bersalin kala IV oleh dukun bayi



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Dizaman yang berkembang sekarang ini, Indonesia mengalami perubahan-perubahan.Misalnya berkembangnya pendidikan, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, tekhnologi dan kebudayaanpun semakin berkembang.Walaupun demikian, masyarakat Indonesia banyak pula yang pemikirannya kurang berkembang.Contohnya saja dalam bidang pelayanan kesehatan.Banyak masyarakat yang tidak mau meninggalkan kebudayaan atau kebiasaan yang jelas secara medis itu hal yang kurang baik bagi kesehatan.Walaupun era semakin berkembang, namun penanganan ibu melahairkan masih banyak menggunakan dukun bayi khususnya di daerah-daerah pedesaan atau daerah terpencil.Minimnya tenaga kesehatan, membuat jasa dukun bayi semakin digunakan.Selain itu, masyarakat masih ada yang menganggap penanganan dengan dukun bayilah yang lebih aman disbanding tenaga medis (bidan). Ada juga yang sudah mengerti dan faham apabila penanganan oleh tenaga medis(bidan) lebih aman dibanding dukun bayi namun tetap menggunakan dukun bayi yang masih memegang erat tradisi zaman dahulu. Ritual-ritual atau kebiasaan zaman dahulu yang seharusnya sudah tidak perlu digunakan lagi, masih tetap digunakan karena menurut sebagian masyarakat atau daerah tertentu hal tersebut akan menjauhkan hal-hal bahaya, atau hal gaib yang akan mengganggu kesehatan pasien. Contohnya saja di daerah Lamongan, Madura, Kediri dan Bali serta Nusa Tenggara Barat masih ada yang melakukan hal diatas yang kami paparkan dengan berbagai kebiasaan sesuai dengan adat setempat.
Dalam makalah kami ini, kami akan membahas tentang bagaimana penanganan ibu bersalin kala IV disuatu daerah tertentu oleh dukun bayi. Dan bagaimana dampak medis bagi kesehatan.Oleh karena itu, kami membuat makalah ini supaya masyarakat tahu dan mengerti bahayanya penanganan ibu bersalin kala IV jika ditangani oleh dukun bayi yang tidak terdidik oleh ilmu kesehatan.


B.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara penanganan ibu bersalin kala IV pada adat istiadat di daerah tertentu?
2.      Bagaimanakah  dampak medis terhadap kebiasaan penanganan ibu bersalin kala IV di daerah tertentu bagi kesehatan?

C.   Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahui bagaimana tradisi beberapa daerah cara penanganan ibu bersalin kala IV oleh dukun bayi
2.      Untuk mengetahui dampak medis bagi kesehatan penanganan bayi jika ditangani oleh petugas non medis (dukun)


D.   Manfaat Makalah
1.      Sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang bahaya cara penanganan ibu bersalin jika sesuai dengan ilmu medis
2.      Sebagai sumber penambah pengetahuan
3.      Sebagai sumber pendorong masyarakat supaya percaya akan manfaat kesehatan
4.      Sebagai sumber pendorong masyarakat supaya menghilangkan kebiasaan adat yang tidak bermanfaat bagi kesehatan atau yang membahayakan bagi tubuh



























BAB II
PEMBAHASAN

Pelayanan ibu melahirkan kala IV merupakan dimana mulai lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama. Di kala ini, secara medis ada tata cara penanganan dan cara pelayanannya. Adapun cara-cara secara medis, seperti berikut:
1.      Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan darah yang keluar setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama satu jam kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu.
2.      Masase uterus untuk membuat kontraksi uterus menjadi baik setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama satujam kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak normal, tingkatkan frekuensi obserfasi dan penilaian kondisi ibu.
3.      Pantau temperatur tubuh selama dua jam pertama pascapersalinan. Jika meningkat, pantau dan tatalaksana sesuai dengan apa yang diperlukan.
4.      Nilai pendarahan. Periksa perineum dan vagina selama 15 menit menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua pada kala empat.
5.      Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai kontraksi uterus dan jumlah darah yang keluar dan bagaimana melakukan masase jika uterus menjadi lembek
6.      Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan dan bantu ibu untuk mengenakan baju atau sarung yang bersih dan kering, atur posisi ibu agar nyaman, duduk bersandarkan bantal atau berbaring miring. Jaga agar bayi diselimuti dengan baik, bagian kepala tertutup baik, kemudian berikan bayi ke ibu dan anjurkan untuk dipeluk dan diberi ASI.
7.      Lengkapi asuhan esensial bagi bayi baru lahir.

Beda dalam daerah tertentu jika Kala IV di tangani oleh dukun, contonya saja di daerah:
A.    MADURA
Budaya di Madura pada penanganan ibu melahirkan kala empat atau pengeluaran plasenta/ari-ari dan 2 jam pertama. Biasanya jika plasenta sudah keluar dan dipotong, plasenta ditaburkan garam, bawang merah, laos, bawang putih, ketumbar, merica jahe dan kembang 7 rupa. Kemudian plasenta dibungkus di dalam kain kafan dan dimasukkan ke dalam kendi atau di madura biasanya disebut  ceteh yang terbuat dari tanah liat. Ada juga yang ditempatkan pada kulit semangka.Caranya, isi semangka yang berwarna merah itu dikeluarkan dan jika sudah bersih tinggal kulit semangkanya, masukkan ari-ari ke dalam kulit semangka tersebut.Selain itu, ari-ari juga dapatdimasukkan kedalam “kondur”.Air-ari atau plasenta yang dimasukkan ke kondur atau semangka, dipercaya oleh orang Madura untuk menjadikan plasenta atau ari-ari itu dingin.
            Sebelum plasenta atau ari-ari itu dimasukkan, plasenta tersebut harus dicuci terlebih dahulu hingga bersih.Baru dimasukkan kedalam kendi, semangka atau kondur dan kemudian dikubur.Masyarakat disana biasanya juga memasangkan lampu pada ari-ari tersebut yang dikubur supaya pada malam hari terasa hangat.
            Masyarakat disana juga mempercayai budaya nenek moyang, yaitu pada saat plasenta atau ari-ari dikuburkan tersebut orang itu harus bersih, rapi dan wangi. Sebab apabila orang yang menguburkan plasenta atau ari-ari itu tidak bersih dan tidak rapi, akan mencerminkan sifat anaknya tersebut kelak ketika dewasa. Misalnya yang menguburkan ari-ari bayi baru lahir orangnya tidak bersih dan tidak rapi, maka sifat anak tersebut juga pasti tidak suka kebersihan.Selain itu, untuk orang yang menguburkan ari-ari harus menggunakan tangan kanan, sebab apabila dengan tangan kiri, si anak juga melakukan aktivitasnya dengan tangan kiri.
            Ada juga hal yang harus dilakukan ibuk yaitu setelah melahirkan harus memakai gurita, tubuh dilumuri dengan jamu yaitu “parem”. Dan juga minum jamu.



B.     LAMONGAN
Orang-orang lamongan bisanya menyebutkan plasaenta atau ari-ari dengan sebutan “dulur”.Penganan oleh dukun beranak ketika plasenta baru lahir yaitu pertama ari-ari dicuci bersih kemudian ari-ari tersebut diberi garam yang diyakini agar si bayi kelak punya malu.Setelah itu ari-ari dibungkus dengan kain berwarna putih.
Langkah kedua, siapkan kunyit, dauh sirih dan daun kenanga dipotong-potong yang dipercya supaya bayinya ber bau sedap.
Langkah ketiga, siapkan benang, jarum, kaca agar si bayi tidak diganggu oleh hal-hal gaib.
Ketiga persiapan tadi kemudian dimasukkan kedalam kendil yang ter buat dari tanah liat dikendil tersebut diberi ayat-ayat al quran supaya tidak diganggu oleh syetan, lalu dipendam dalam tanah.Diatas pendaman ari-ari tersebut ditaburi kembang 7 rupa dan diberi lampu supaya si bayi diberi jalan yg terang dan ari-arinya menjadi hangat dan berpengaruh oleh ari-arinya.Itu menurut tradisi didaerah Lamongan.
            Selain penanganan plasenta, setelah plasenta lahir dan 2 jam pertama ibu yang melahirkanpun perutnya langsung dipijat untuk mengembalikan letak rahim. Selain itu, ibu tidak boleh minum terlalu banyak.Bahkanada yang hanya diberi minum sedikit sekali.


C.    KEDIRI
Menurut kepercayaan orang dahulu dalam penguburan ari-ari bayi dilakukan dengan  mencuci bersih ari-ari yang lahir setelah bayi, lalu dibungkus dengan kain putih kemudian dimasukkan ke dalam kendil yang terbuat dari tanah liat. Untuk kendil yang kedua diisi dengan barang-barang yang menurut orang dahulu akan sangat bermanfaat untuk masa depan bayi diantaranya :
·         jarum dan benang dengan maksud agar dewasa nanti anaknya akan pintar menjahit
·         pulpen dan kertas dengan maksud agar dewasa nanti anaknya akan pandai
·         bumbu dapur dengan maksud agar saat dewasa nanti khususnya anak perempuan akan        pintar masak
 tetapi sebelum barang-barang tersebut dimasukkan ke dalam kendil terlebih dahulu di dalam kendil dialasi dengan daun waru sebanyak 5 lembar dengan tujuan agar pemikiran bayi pada masa mendatang akan luas. Barulah setelah itu ditutup dengan kain putih dengan tujuan agar perilaku anak nanti saat dewasa akan menjadi anak yang baik. Setelah semuanya lengkap maka kedua kendil tersebut dikubur dalam satu lubang dan saat penguburannya harus disertai dengan adzan.



D.    BALI
Pada masyarakat bali, ada suatu upacara Jatakarma Samskara yang artinya Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia.Kemudian sarananya berupa Dapetan, terdiri dari nasi berbentuk tumpeng dengan lauk pauknya (rerasmen) dan buah-buahan.Serta Canang sari / canang genten, sampiyan jaet dan penyeneng.Kemudian Untuk menanam ari-ari (mendem ari-ari) diperlukan sebuah kendil (periuk kecil) dengan tutupnya atau sebuah kelapa yang airnya dibuang.Waktu upacara ketika Upacara Jatakarma dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama.Upacara Jatakarma dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah.Upacara kelahiran dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan, demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Dalam hal tidak ada keluarga tertua, misalnya, hidup di rantauan, sang ayah dapat melaksanakan upacara ini. Adapun cara-caranya:
1.      Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan, canang sari, canang genten, sampiyan dan penyeneng. Tujuannya agar atma / roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan.
2.      Setelah ari-ari dibersihkan, selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu
ditutup. Apabila mempergunakan kelapa, kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian, selanjutnya ditutup kernbali. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan, pada bagian tutup kendil atau belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA (OM) dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA (AH) .
3.      Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga.
4.      Selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah, tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki, dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah.
Dalam menanmkan ari-ari ada mantra tertentu, yaitu:
“Om lbu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta sanjiwani, angermertani sarwa tumuwuh si anu (kalau bayi sudah diberi nama sebutkan namanya) mangde dirgayusa nutugang tuwuh”
Yang artinya:
“Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai pertiwi, penguasa segala kekuatan, penguasa kehidupan menghidupi segala yang lahir/ tumbuh, si anu (nama si bayi) semoga panjang umur”.


E.     NUSA TENGGARA BARAT (NTB)

SUKU SASAK, LOMBOK
Pada suku Sasak ada berbagai ritual yang unik dan sakral misalnya orang sasak menggelar berbagai upacara adat dan selamatan serta do’a contohnya upacara beretes (menghormati ari-ari).Pergelaran upacara adat tersebut bertujuan untuk menjaga atau menghormati jabang bayi serta sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.
Ketika jabang bayi telah lahir maka orang sasak mengganggap bayi tersebut lahir tidak sendirian, akan tetapi berdua, mereka menyebutnya adi’ dan kaka’. Adi’ adalah bayinya sendiri sedangkan kaka’ adalah ari-ari yang masih menempel dibusar jabang bayi.Oleh karena itu, saat kelahiran, ari-ari dirawat dan dihormati seperti halnya si jabang bayi.Ari-ari dicuci sampai bersih seakan memandikan orang yang sudah mati, kemudian dimasukkan kedalam periuk atau tempurung kelapa setengah tua, lalu dikubur di halaman rumah.Sebagai tanda dibuatlah gundukan tanah pada kuburan tersebut dan diletakkan lekesan (tepah sirih) di dekat gundukan tersebut.Lekesan dianggap sebai symbol do’a agar jabang bayi kelak berumur panjang.
Di daerah yang berbeda namun masih di daerah Lombok, ari-ari tidak dikubur dalam tanah akan tetapi diletakkan diatas tiang bambu yang ada di pekarangan rumah atau kebun. Ari-ari sebelumnya dimasukkan tempurung kelapa lalu direkatkan kembali dengan adonan tanah liat yang selanjutnya di ungkus dengan kain putih.



F.     JIKA KEBUDAYAAN DIATAS DITINJAU SECARA MEDIS
Dalam pelayanan atau perawatan ibu bersalin kala 4, secara medis harus tepat dan teliti karena jika tidak tepat maka akan membahayakan sang ibu dan melakukan hal yang tidak berguna.
Misalnya saja di beberapa daerah di atas, setelah ibu mengeluarkan plasenta langsung di urut begitu saja perutnya, padahal secara medis memang dianjurkan setelah plasenta lahir  lakukan rangsangan tekstil (masase) uterus agar merangsang utrus berkontraksi baik dan kuat. Jika perutnya di urut begitu saja maka akan menyebabkan pendarahan pada sang ibu dan juga dapat menyebabkan kematian jika terjadi pendarahan terus-menerus.
Setelah persalin, pada zaman dulu banyak yang tidak dekontaminasi alas yang digunakan persalinan. Contoh di lamongan, pada zaman dulu dan ditangani oleh dukun, ketika setelah persalinan, alas tidak di dekontaminasi terlebih dahulu namun langsung dari persalinan sampei pengeluaran plasenta masih memakai alas yang sama tanpa di dekontaminasi pdahal hal tersebut dapat menyebabkan infeksi dengan cara dapat melalui percikan darah pada mata, hidung, mulut serta pada kulit yang terluka.
Jika ditinjau secara medis, pemberian ramuan pada ari-ari atau plasenta, pemberian kembang 7 rupa dan pemendaman plasenta tidak ada hubungannya dengan kesehatn, bahkan sia-sia saja.Hal-hal tersebut masih digunakan, karena masih berpegang teguh pada budaya setempat.Dan dukun bayi pun masih digunakan pula.






















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN



A.   Kesimpulan
Ternyata di beberapa daerah ada berbagai macam cara pelayanan ibu bersalin kala IV. Dan pelayanan tersebut masih memegang teguh budaya atau adat istiadat setempat.Seperti ritual-ritiual.
Dari pembahasan diatas, telah didapat bahwa kebudayaan dibeberapa daerah ada yang merugikan atau berbahaya, adapula tindakan yang sia-sia saja bagi kesehatan.


B.     SARAN
1.      Sebaiknya dalam penganan yang sangat penting ketika persalinan baik kala I sampai kala IV dibantu proses persalinannya oleh tenaga medis yang terdidik saja, supaya tidak membahayakan bagi si ibu dan si bayi.
2.      Buka pengetahuan seluas-luasnya, jangan menutup kebudayaan baru yang baik bagi kesehatan. Contohnya saja tetap percaya kepada dukun bayi yang tidak terlatih dari pada dengan bidan.
3.      Tetap menjaga kebersihan ketika akan melahirkan ari-ari agar tidak terjadi infeksi






















DAFTAR PUSTAKA

sumber wawancara:
1.      Cici Sarwisri (Lamongan)
2.      Aminah (Lamongan)
3.       Dukun desa lebakadi (lamongan)
Wiknjosastro, gulardi H dkk.2008.Asuhan Persalinan Normal.Jakarta:DEPKES RI















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar