Info Kesehatan

healhty

Minggu, 29 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN XEROFTALMIA





ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN XEROFTALMIA

I.      KONSEP DASAR
A. Anatomi dan Fisiologi
Struktur: pada permukaan anterior bola mata terdapat kornea (B11) yang
transparan. Lensa (B12) terletak di belakang iris (B13), yang di tengahnya
berlubang, yaitu pupil. Pada dinding belakang bola mata, nervus optikus (B14)
muncul sedikit medial dari sumbu optik. Mata mengandung tiga rongga: 1)
kamera okuli anterior (B15) dibatasi kornea, iris dan lensa, 2) kamera okuli
posterior (B16) yang mengelilingi lensa berupa cincin, dan 3) bagian dalam mata
yang mengandung korpus vitreum (B17). Korpus vitreum merupakan substansi
mirip jelly, terutama mengandung air. Kamera okuli anterior dan posterior
mengandung cairan bening mirip air yaitu humor akueus.




















Dinding bola mata terdiri atas tiga lapisan: sklera, uvea dan retina. Sklera B18
adalah suatu pembungkus jaringan penyambung padat terutama terdiri atas serat-
serat kolagen dan sedikit serat-serat elastin, yang bersamaan dengan tekanan
intraokular memelihara bentuk bola mata. Uvea mengandung pembuluh-
pembuluh darah dan membentuk iris dan korpus siliaris B19 di bagian anterior
bola mata dan di bagian posterior, koroid B20. Bagian posterior retina, yaitu pars
optika B21, mengandung sel-sel sensoris peka-cahaya dan bagian anterior, pars
saeka B22, epitel pigmen. Batas antara kedua bagian retina itu disebut ora serrata





B23. Pada bola mata dapat kita bedakan suatu polus anterior B24 dan polus
posterior B25, di antara mana terdapat ekuator mata B26. Beberapa pembuluh dan
otot menempuh jalur meridional B27, yakni mereka mengikuti suatu garis
lengkung pada permukaan bola mata dan polus ke polus.

Kornea
Kornea A1B. Kornea menonjol seperti kaca-arloji pada bola mata. Dengan
lengkungannya yang nyata ia berfungsi sebagai lensa penampung. Permukaan
anteriornya dibentuk oleh epitel berlapis gepeng tanpa tanduk (B2), yang diikuti
suatu lamita limitants anterior (membran Bowman) B3. Di bawah ini terdapat
substansia propria B4, terdiri atas serat-serat kolagen halus yang membentuk
lamel-lamel yang tersusun paralel terhadap permukaan luar kornea. Pada
permukaan posterior terdapat suatu membran basal tipis, membrane limitants
posterior B5 dan suatu endotel B6 yang selapis.
















Kornea mengandung serat-serat saraf tanpa mielin, tetapi tidak ada pembuluh
darah. Keadaan transparannya disebabkan adanya suatu cairan tertentu dan
keadaan turgor komponen-komponennya. Setiap perubahan pada turgornya
mengakibatkan kekeruhan pada kornea.
Kamera okuli anterior A7. Di sini terdapat humor akueus yang dihasilkan
pembuluh-pembuluh dan iris. Dinding sudut kamera A8 terdiri atas trabekula-
trabekula jaringan penyambung jarang (ligamentum pektinatum A9), dan di antara
celah-celahnya humor akueus dapat mengalir ke arah sinus venosus dan sklera,
dan melalui kanalis Schlemm A10, diangkut pergi.


1





Retina
Papila nervi optisi B14, tempat semua serat-serat saraf dari retina berkumpul
sebelum meninggalkan mata sebagai nervus optikus, terletak pada belahan nasal;
mata. Papila merupakan lempeng pucat keputihan dengan lekukan mendatar di
tengah, ekskavasio papilla nervi optisi (B15). Pada papilla, arteri sentralis
bercabang-cabang dan vena-vena berkumpul membentuk vena sentralis. Arterinya
berwarna lebih terang dan lebih halus dibanding vena-venanya yang lebih gelap
dan lebih lebar. Pembuluh-pembuluh itu berjalan lebih radier ke jurusan nasal. Ke
arah daerah temporal jalan mereka lebih melengkung. Banyak pembuluh-
pembuluh meluas ke arah makula B16.
Lapis neuroepitel mengandung dua jenis sel-sel sensoris, batang (rods) dan
kerucut (cones). Teori rangkap menganggap bahwa batang sensitif untuk terang
dan gelap. Batang dan kerucut berakhir pada epitel pigmen, dan tanpa
berhubungan dengannya, mereka tidak dapat berfungsi.

















Retina dilengkapi baik dengan suatu bahan kimia yang disebut rodopsin, yang
jatuh pada retina menyebabkan adanya perubahan kimiawi. Di dalam rodopsin
serta bahan-bahan lain yang terdapat dalam sel batang dan kerucut. Perubahan
terjadi amat cepat tetapi vitamin A yang besar jumlahnya diperlukan untuk
melaksanakannya. Kepekatan mata terhadap cahaya tergantung pada jumlah
fotopigmen yang terdapat di sel batang dan kerucut. Sewaktu Anda pergi dari
keadaan sinar matahari terang ke ruang gelap, Anda tidak dapat melihat apa-apa
pada awalnya, tetapi secara bertahap Anda dapat membedakan benda-benda


2





akibat proses adaptasi gelap sebaliknya, ketika Anda berpindah dari keadaan gelap
ke terang mata Anda mula-mula menjadi sangat peka terhadap cahaya. Dengan
sedikit kontras antara bagian yang lebih terang dan lebih gelap. Bayangan
keseluruhan tampak putih. Sewaktu sebagian fotopigmen dengan cepat terurai
oleh cahaya yang kuat kepekatan mata berkurang dan kekontrasan normal kembali
dapat dideteksi, suatu proses dikenal sebagai adaptasi terang.

B. Pengertian
Xeroftalmia adalah suatu penyakit mata akibat defisiensi vitamin A dengan
kekeringan epitel biji mata dan kornea.

C. Penyebab
Xeroftalmia terjadi akibat penerimaan vitamin A yang kurang dari kebutuhan
tubuh. Masalah kekurangan vitamin A juga erat hubungannya dengan beberapa
penyakit seperti diare, campak. Di Indonesia diperkirakan 30 % dari semua kasus
xeroftalmia didahului oleh penyakit campak, 20 % oleh karena penyakit infeksi
lain yang disertai demam.

D. Patologi
Xerosis yang terjadi pada defisiensi vitamin A merupakan xerosis epitel. Xerosis
pada hipovitaminosis A berupa kekeringan khas pada konjungtiva bulbi yang
terdapat pada celah kelopak mata. Xerosis disertai dengan pengerasan dan
penebalan epitel. Letak xerosis ini biasanya pada konjungtiva bulbi di daerah
celah kelopak kantus eksternus. Bila mata digerakkan maka akan terlihat lipatan
yang timbul pada konjungtiva bulbi.
Konjungtiva di daerah ini terlihat kering atau terlihat sedikit kering. Bila
kekeringan ini menggambarkan bercak bitot maka bercak ini berwarna seperti
mutiara yang berbentuk segitiga. Bercak bitot seperti terdapat busa di atasnya.
Bercak ini tidak dapat dibasahi oleh air mata dan akan terbentuk kembali.
Terdapat dugaan bahwa bentuk busa ini merupakan akibat adanya kuman
corynebacterium xerosis.




3



















Defisiensi Vitamin A. Terdapat pelunakan kornea (keratomalasia). Kornea keruh
dan menonjol.














Defisiensi vitamin A. Xerosis konjungtiva dengan bercak bitot

E. Gejala dan Tanda
1.   Hemeratopia (buta senja atau buta ayam)
Pada tahap ini, penglihatan anak cukup baik dalam keadaan tentang, tetapi
akan menjadi kurang baik pada keadaan remang-remang, misalnya pada senja
hari.
2.   Xerosis conjunctivae
Bagian putih mata menjadi kering, kusam, tegang dan keriput.
3.   Bercak bitot
Pada bagian mata yang putih timbul bercak putih seperti buih sabun atau
kadang-kadang seperti lemak.
4.   Xerosis kornea
Bagian mata yang hitam menjadi kuning, keruh, dan keriput. Kadang-kadang
timbul pula bercak sehingga mengganggu penglihatan.


4






5.   Keratomalasia
Bagian mata yang hitam menjadi lunak dan rusak yang mengakibatkan
kebutaan.
Gejala xeroftalmia sebelum mencapai keratomalasia masih dapat diupayakan
pemulihannya dengan memberikan vitamin A yang cukup jumlahnya.

F. Pemeriksaan Penunjang
-     Tes adaptasi gelap
-     Kadar vitamin A dalam darah (kadar < 20 mg/200 ml menunjukkan
kekurangan intake)

G. Penatalaksanaan
1.   Pencegahan
a.   Jangka panjang
- Pendidikan pemberian makanan yang baik
- Pemberian makanan dengan vitamin A
b.   Jangka pendek
Pemberian vitamin A 200.00 IU pada balita tiap 6 bulan atau 300.000 IU
vitamin A tiap 1 tahun.
2.   Memperbaki nutrisi dengan diet TKTP
3.   Memperbaki penyakit infeksi yang ada
4.   Pengobatan
-     Pemberian vitamin A dalam dosis terapeutik, yaitu vitamin A oral 50.000
– 75.00 IU/kg BB, tidak boleh lebih dari 400.000 – 500.000 IU.
-     Pengobatan kelainan pada matanya (sesuai dengan stadiumnya) menurut
FKUI
a.   Stadium I: tidak perlu pengobatan 
b.   Stadium II: berikan salep AB
c.   Stadium III: berikan sulfaatropin 0,5 % tetes mata pada anak atau SA 4
% pada orang dewasa.





5






ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN 
DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN

I.      DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
A. Aktivitas/Istirahat
Gejala:      perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan khususnya pada senja hari.

B. Neurosensori
Gejala:      gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas) khususnya pada sore hari,
kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat, perubahan respons
biasanya terhadap rangsang.
Tanda:      kekeringan pada konjungtiva bulbi.
Bagian mata putih timbul bercak seperti buih sabun, kering, kusam,
tegang dan keriput.
Bagian mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput dan timbul
bercak yang mengganggu penglihatan.

C. Makanan/Cairan
Gejala:      tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah
Tanda:      Menolak jika sayur-sayuran dan buah

D. Nyeri/Kenyamanan
Gejala:      ketidaknyamanan ringan/mata kering, sakit kepala.

E. Integritas Ego
Gejala:      peningkatan kepekatan atau kegelisahan
Tanda:      cemas, marah, depresi
Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dalam membuat keputusan,
ketakutan dan ragu-ragu.







6






F. Interaksi Sosial
Gejala:      perasaan isolasi/penolakan
Perasaan kesepian
Ketidakamanan dalam situasi sosial 
Menggambarkan kurang hubungan yang berarti
Tanda:      Keinginan terhadap kontak lebih banyak dengan orang lain
Kontak mata buruk
G. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala:      Riwayat keluarga xeroftalmia
Timbulnya penyakit kebutaan (gangguan penglihatan) dipengaruhi oleh
faktor makanan khususnya yang mengandung vitamin A.
H. Pemeriksaan Diagnostik
1.   Tes adaptasi gelap
2.   Kadar vitamin A darah (kadar < 200 mg/200 ml menunjukkan kekurangan
intake)

II. PENGELOMPOKAN DATA
A. Data Objektif
•     Kekeringan pada konjungtiva bulbi
•     Bagian mata putih timbul bercak seperti buih sabun, kering, kusam, tegang
dan keriput
•     Bagian mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput dan timbul bercak
yang mengganggu penglihatan.
•     Peningkatan kepekatan atau kegelisahan
•     Isolasi dan penolakan
•     Ketidakinginan terhadap kontak lebih banyak dengan orang lain
•     Kontak mata buruk

B. Data Subjektif
•     Keluhan perubahan penglihatan pada senja hari
•     Perubahan respons biasanya terhadap rangsangan


7





•     Tidak bisa memfokuskan kerja dengan dekat
•     Tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah
•     Ketidaknyamanan ringan/mata kering
•     Cemas, marah, depresi, ketakutan dan ragu-ragu
•     Perasaan kesepian
•     Ketidakamanan dalam situasi sosial
•     Menggambarkan hubungan yang kurang burung

Patofisiologi berdasarkan penyimpangan KDM
Defisiensi vitamin A


Kekeringan pada retina


Impuls yang masuk tidak


Resiko tinggi
terhadap
cedera


Perubahan
penglihatan
pada senja hari


dapat ditangkap dengan baik
oleh retina dan 
diteruskan ke saraf optik




Ancaman kehidupan        Gangguan adaptasi gelap









III. ANALISA DATA
Data
DS:
- Perubahan respon
biasanya terhadap
rangsang
DS:
- Menurunnya



Ansietas






Penyebab


Defisiensi vit. A

Kekeringan pada retina

Impuls yang masuk tidak
dapat ditangkap dengan
baik oleh retina dan


8



Gangguan sensori-
Persepsi penglihatan




Masalah


Gangguan sensori-persepsi
penglihatan






ketajaman/ 
gangguan
penglihatan
DS:
- Mata hitam
menjadi kering,
kusam, keriput dan
timbul bercak yang
mengganggu
penglihatan
DO:
- Keluhan perubahan
penglihatan pada
senja hari
DS:
- Ketakutan
- Ragu-ragu
DO:
- Menyatakan
masalah tentang
perubahan hidup





diteruskan ke saraf optik

Gangguan adaptasi gelap



Defisiensi vit. A

Perubahan penglihatan
pada senja hari
















Defisiensi vit. A

Impuls yang masuk tidak
dapat ditangkap dengan
baik oleh retina dan
diteruskan ke saraf optik

Perubahan penglihatan
pada senja hari

Ancaman kehidupan













Resiko tinggi terhadap
cedera


















Ansietas





IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. Gangguan sensori-persepsi penglihatan 
Berhubungan dengan:
-     Gangguan penerimaan sensori/status organ indera
-     Lingkungan secara terapeutik dibatasi





9






Ditandai dengan:
-     Menurunnya ketajaman, gangguan penglihatan
-     Perubahan respons biasanya terhadap rangsang
Planning
Tujuan: sensori-perseptual: penglihatan tidak mengalami perubahan
Dengan kriteria:
-     Meningkatnya ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu
-     Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
-     Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

Intervensi/Tindakan
1.   Kaji ketajaman penglihatan
Rasional: untuk mengetahui tajam penglihatan klien dan memberi penglihatan
menurun ukuran baku yang ada.
2.   Dorong     mengekspresikan      perasaan     tentang     kehilangan/kemungkinan
kehilangan penglihatan
Rasional: sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien menghadapi
kemungkinan kehilangan penglihatan sebagian atau total.
Meskipun kehilangan penglihatan telah terjadi tak dapat diperbaiki
(meskipun dengan pengobatan) kehilangan lanjut dapat dicegah.
3.   Lakukan tindakan untuk membantu klien menangani keterbatasan penglihatan,
contoh: kurangi kekacauan, atur perabot, perbaiki sinar yang suram dan
masalah penglihatan malam.
Rasional: menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan
lapang pandang/kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil
terhadap sinar lingkungan.
4.   Kolaborasi:
a.   Tes adaptasi gelap
Rasional: untuk mengetahui adanya kelainan atau abnormalitas dari fungsi
penglihatan klien.




10





b.   Pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah.
Rasional: untuk mengetahui keadaan defisiensi kadar vitamin A dalam
darah sebagai pemicu terjadinya penyakit xeroftalmia.
c.   Pemberian obat sesuai indikasi:
-     Pemberian vitamin A dalam dosis terapeutik yaitu vitamin A oral
50.000 – 75.000 IU/kg BB tidak boleh lebih dari 400.000 – 500.000
IU.
Rasional: pemberian vitamin A dosis terapeutik dapat mengatasi
gangguan penglihatan tahap dini. Dengan memberikan
dosis vitamin secara teratur dapat mengembalikan
perubahan penglihatan pada mata.
-     Pengobatan kelainan pada mata:
-     Stadium I: tanpa pengobatan
-     Stadium II: berikan AB
-     Stadium III: berikan sulfa atropine 0,5 %, tetes mata pada anak
atau SA 4 % pada orang dewasa
Rasional: mengembalikan ke fungsi penglihatan yang baik dan
mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Rasional: 

B. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan
penglihatan ditandai dengan:
-     Mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput dam timbul bercak yang
mengganggu penglihatan.
-     Keluhan PA penglihatan pada senja hari
Planning
Tujuan: cedera tidak terjadi
Dengan kriteria:
-     Klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan






11





Intervensi/Tindakan
1.   Orientasikan klien dengan lingkungan sekitarnya
Rasional: meningkatkan pengenalan terhadap lingkungannya.
2.   Anjurkan keluarga untuk tidak memberikan mainan kepada klien yang mudah
pecah seperti kaca dan benda-benda tajam.
Rasional: menghindari pecahnya alat mainan yang dapat mencederai klien
atas benda tajam yang dapat melukai klien.
3.   Arahkan semua alat mainan yang dibutuhkan klien pada tempat yang sentral
dari pandangan klien.
Rasional: memfokuskan lapang pandang dan menghindari cedera.

B. Ansietas berhubungan dengan:
-     Faktor fisiologis
-     Perubahan status kesehatan: kemungkinan/kenyataan
-     Kehilangan penglihatan
Ditandai dengan:
-     Ketakutan, ragu-ragu
-     Menyatakan masalah tentang perubahan hidup
Planning
Tujuan: klien akan mengungkapkan bahwa kecemasan sudah berkurang/hilang
Dengan kriteria:
-     Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi
-     Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah
-     Menggunakan sumber secara efektif. 
Intervensi/Tindakan
1.   Kaji tingkat ansietas, timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat
ini.
Rasional: faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri,
potensial siklus ansietas dan dapat mempengaruhi upaya medik
untuk mengontrol terapi yang diberikan.




12






2.   Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa
pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan
tambahan
Rasional: menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan/harapan
yang akan datang dan memberikan dasar fakta untuk membuat
pilihan informasi tentang pengobatan.
3.   Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.
Rasional: memberikan kesempatan untuk pasien menerima situasi nyata,
mengklarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah.
4.   Identifikasi sumber/orang yang menolong.
Rasional: memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalam
menghadapi masalah






































13






DAFTAR PUSTAKA

1.   W. Kahle, dkk., Atlas dan Buku Teks Anatomi Manusia, Penerbit EGC, Jakarta, 1993.

2.   Sherwood Laurake, Fisiologi Manusia, Penerbit EGC, Jakarta, 2001.

3.   Marsetyo, Ilmu Gizi, Rineka Cipta, Jakarta, 1995.

4.   Ilyas Sidarta, Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata, FKUI, Jakarta, 2000.

5.   Jumadi P., dkk., Kapita Selekta Kedokteran Edisi Khusus, FKUI, Jakarta, 1997.















































14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar