Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

-----

pengaruh penerapan model king dalam meningkatkan interaksi social pada pasien TB


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok, Maryati dan Suryawati (2003). Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur social, Murdiyatmoko dan Handayani (2004).  Interaksi positif hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana saling mempercayai, menghargai, dan saling mendukung, (Siagian, 2004, p. 216). Di dalam kehidupan sehari – hari tentunya manusia tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya,ia akan selalu perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk dapat berinteraksi ataupun bertukar pikiran. TB ( tubercolusis ) merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tubercolusis yang dapat ditularkan dari orang satu ke orang yang lain melalui udara maupun kontak social lainnya. Dimana pasien TB ini biasanya di isolasi dan jarang sekali mau melakukan interaksi social karena merasa takut kalu penyakitnya tertular pada orang lain.
Penelitian ini bertujuan mengaplikasikan teori model King dalam meningkatkan interaksi social pada pasien TB supaya pasien TB tidak merasa dikucilkan atau sendiri. Berdasarkan data yang ada Indonesia menempati urutan ke tiga di dunia setelah india dan china dalam jumlah penderita TB paru sekitar 583 ribu orang dan diperkirakan sekitar 140 ribu orang meninggal dunia tiap tahun akibat TBC. Sedangkan di jawa timur sendiri menempati urutan ke dua setelah jawa barat dengan khasus sekitar 37 ribu penderita. ( Depkes RI, 2007 ). Dari data tersebut menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati dalam mengajak pasien TB berinteraksi dengan cara meningkatkan APD ( alat pelindung diri ) baik untuk diri sendiri maupun untuk pasien TB. Dengan demikian kita dapat tetap mengajak pasien TB untuk tetap berinteraksi baik dengan perawat maupun masyarakat. Karena kita sama-sama memiliki hak untuk mengadakan interaksi social. Apabila hal tersebut tidak diatasi maka pasien TB akan cenderung menarik diri.
Interaksi social merupakan hal yang penting bagi diri kita sebagai makhluk social. Adapun faktor-faktor yang mendorong terjadinya interaksi social yaitu : tindakan social, kontak social, komunikasi social.
Tindakan social adalah tindakan seorang individu yang dapat mempengaruhi individu-individu lainnya dalam masyarakat. Kontak social adalah hubungan antara satu pihak dan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi social. Komunikasi social adalah penyampaian pesan kepada orang lain atau masyarakat. Orang yang menyampaikan komunikasi disebut komunikator sedangkan orang yang menerima komunikasi disebut komunikan.
Dalam penelitian ini saya akan mengaplikasikan teori model King dalam meningkatkan interaksi social pada pasien TB. Apakah ada pengaruh atau tidak dalam meningkatkan interaksi pasien TB. Karena dengan berinteraksi, yang dapat mengantarkan individu pada suatu keadaan sehat bagi individu yang memiliki kemampuan untuk berfungsi di dalam peran-peran social sehingga akan muncul feedback atau timbal balik sesuai yang diharapkan.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Pertanyaan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka dapat diasumsikan permasalahan bahwa dalam meningkatkan interaksi social pada pasien TB diterapkan dengan menggunakan model King. Sehingga dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut “Adakah pengaruh penerapan model king dalam meningkatkan interaksi social pada pasien TB.”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi penerapan model teori King dalam meningkatkan interaksi social pada pasien TB.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.      Mengidentifikasi atau menilai interaksi sosial pada pasien TB sebelum penerapan model King
2.      Mengidentifikasi atau menilai interaksi sosial pada pasien TB sesudah penerapan model King
3.      Membandingkan interaksi sosial pada pasien TB sebelum dan sesudah penerapan model King


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai kerangka dalam mengembangkan ilmu konsep dasar keperawatan yang berhubungan dengan interaksi sosial
1.4.2 Manfaat Praktis
1.4.2.1 Manfaat bagi masyarakat
Dengan mengetahui penelitian ini, masyarakat sadar akan pentingnya melakukan interaksi sosial.
1.4.2.2 Manfaat bagi peneliti
Meningkatkan atau mengembangkan pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya ilmu konsep dasar keperawatan yang telah diterima untuk diberikan kepada keluarga yang salah satu keluarganya menderita TB.
1.4.2.3 Bagi Tempat Pelayanan Kesehatan
Sebagai bahan masukan untuk lebih meningkatkan kegiatan pendidikan kesehatan pada keluarga dan meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien yang menderita TB.






BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Penerapan Model Teori King
2.1.1 Pengertian Model Teori King
Teori king adalah teori memfokuskan kepada fase-fase perencanaan dan implementasi dalam proses perawatan. Perawat dan pasien (dyad interact) saling memikirkan pencapaian tujuan, meneliti sarana-sarana untuk mencapai tujuan bertransaksi dan meraih tujuan.
King memahami model konsep dan teori keperawatan dengan menggunakan pendekatan sistem terbuka dalam hubungan interaksi yang konstan dengan lingkungan, sehingga King mengemukakan dalam model konsep interaksi. Dalam mencapai hubungan interaksi, King mengemukakan konsep kerjanya yang meliputi adanya sistem personal, sistem interpersonal dan sistem sosial yang saling berhubungan satu dengan yang lain.
Menurut King sistem personal merupakan sistem terbuka dimana di dalamnya terdapat persepsi, adanya pola tumbuh kembang, gambaran tubuh, ruang dan waktu dari individu dan lingkungan. Kemudian hubungan interpersonal merupakan suatu hubungan antara perawat dan pasien dalam menegakkan sistem sosial sesuai dengan situasi yang ada. Melalui dasar sistem tersebut King memandang manusia merupakan individu yang reaktif yakni bereaksi terhadap waktu, tidak lepas dari masa lalu dan sekarang yang dapat mempengaruhi masa yang akan datang dan sebagai makhluk sosial manusia akan hidup bersama dengan orang lain yang akan berinteraksi satu dengan yang lain.

2.1.2 Konsep Utama Model Teori King
Konsep-konsep utama dalam teori pencapaian tujuan adalah sebagai berikut :
1.      Interaksi sebagai proses presepsi dan komunikasi antara orang dan lingkungandan orang dengan orang, di representasikan oleh perilaku verbal dan nonverbal yang di arahkan untuk mencapai tujuan.
2.      Persepsi sebagai representasi setiap orang tentang realitas.
3.      Komunikasi sebagai proses pemberian informasi dari satu orang ke orang berikutnya, baik secara langsung atau tidak langsung.
4.      Transaksi sebagai maksud tujuan interaksi yang membawa kepada pencapaian tujuan.
5.      Peran sebagi seperangkat tingkah laku yang diharapkan dari orang yang memiliki posisi dalam system sosial, peraturan-peraturan yang menjelaskan hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
6.      Stres adalah tingkatan dinamis dala interaksi antara manusia dengan lingkungan.
7.      Pertumbuhan dan pengembangan sebagai perubahan terus-menerus dalam diri individu secara selular, molekular, dan tingkat-tingkat aktivitas perilaku kondosif untuk menolong individu-individu bergerak menuju kedewasaan.
8.      Waktu sebagai tahapan kejadian- kejadian bergerak menuju ke masa depan.
9.      Tempat sebagai keberadaan di seluruh jarak dan di tempat yang sama. Waktumerupakan durasi antara kejadian dan yang lain sebagai pengalaman unik setiapmanusia.

2.1.3 Konsep Hubungan Manusia dalam Model Teori King
Menurut King konsep hubungan manusia terdiri dari beberapa komponen :
1.      Aksi adalah proses awal hubungan 2 individu dalam berperilaku dalam memahami atau mengenali kondisi yang ada dalam keperawatan dengan digambarkan hubungan perawat dank lien untuk melakukan kontrak atau tujuan yang diharapkan.
2.      Reaksi adalah suatu bentuk tindakan yang terjadi akibat dari adanya aksi dan merupakan respons dari individu.
3.      Interaksi adalah suatu bentuk kerjasama yang saling mempengaruhi antara perawat dan klien yang terwujud dalam komunikasi.
4.      Transaksi adalah kondisi dimana antara perawat dan klien terjadi suatu persetujuan dalam rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
2.1.4 Asumsi-asumsi Utama Model Teori King
Teori pencapaian tujuan didasarkan pada asumsi-asumsi umum yang memfokuskan perawatan interaksi manusia dengan lingkungan untuk membawa kebagian kesehatan bagi individu yang dapat berfungsi dalam peran sosial. Perawatan (Nursing), Keperawatan merupakan perilaku yang dapat diobservasi yang ditemukan dalam sistem perawatan kesehatan masyarakat. Tujuan perawatan menolong individu mempertahankan kesehatannya sehingga mereka dapat berfunsi dalam peran-peran mereka. Keperawatan di pandang sebagai proses interpersonal aksi, reaksi, interaksi dan transaksi. King menurunkan tujuh hipotesis teori pencapaian tujuan :
1.   Perceptual accuracy antara interaksi perawat-pasien meningkatkan mutual goal setting.
2.   Komunikasi meningkatkan mutual goal setting antara perawat dan pasien membawa pada kepuasan.
3.      Kepuasan perawat dan pasien karena meningkatnya peraihan tujuan.
4.   Pencapaian tujuan mengurangi stres dan kecemasan dalam situasi keperawatan.
5.   Pencapaian tujuan meningkatkan belajar pasien dan kemampuan meniru situasi keperawatan.
6.   Konflik peran di alami oleh pasien, perawat, atau keduanya, menurunkan transaksi interaksi perawat pasien.
7.   Kesamaan kepuasaan peran dan performa peran meningkatkan transaksi dalam interaksi perawat pasien.

2.1.5 Proses Keperawatan Model King

2.1.5.1 Definisi Proses Keperawatan

A.    Suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien.
B.     Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien sampai ke tahap maksimum.
C.     Merupakan pendekatan ilmiah.
D. Terdiri dari 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Atau, ada pula yang menterjemahkannya ke dalam 5 tahap : pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

2.1.5.2 Tahap-Tahap Proses Keperawatan

Dalam proses keperawatan terdapat empat tahapan yaitu:
1.      Pengkajian
Pada dasarnya tujuan pengkajian adalah mengumpulkan data objektif dan subjektif dari klien. Adapun data yang terkumpul mencakup klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau kebudayaan. (Mc Farland & mc Farlane, 1997).
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan selama pengkajian antara lain:
1.      Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosialkultural, dan spiritual yagn bisa mempengaruhi status kesehatannya.
2.      Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. (Gordon, 1987;1994)
3.      Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
4.      Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan kesehatan klien.
Metode pengumpulan data meliputi :
·         Melakukan interview/wawancara.
·         Riwayat kesehatan/keperawatan.
·         Pemeriksaan fisik.
·         Mengumpulkan data penunjang hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medik).
2.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif untuk membuat diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.
The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga, dan respon komunitas terhadap sesuatu yang berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.
·         Dalam membuat diagnosa keperawatan dibutuhkan ketrampilan klinik yang baik, mencakup proses diagnosa keperawatan dan perumusan dalam pembuatan pernyataan keperawatan.
·         Proses diagnosa keperawatan dibagi menjadi kelompok interpretasi dan menjamin keakuratan diagnosa dari proses keperawatan itu sendiri. Perumusan pernyataan diagnosa keperawatan memiliki beberapa syarat yaitu mempunyai pengetahuan yang dapat membedakan antara sesuatu yang aktual, risiko, dan potensial dalam diagnosa keperawatan.
3.      Intervensi
Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan.
Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas. Pengkualifikasian seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi, dan besarnya memberikan isi dari aktivitas yang direncanakan. Intervensi keperawatan dapat dibagi menjadi dua yaitu mandiri yaitu dilakukan oleh perawat dan kolaboratif yaitu yang dilakukan oleh pemberi perawatan lainnya.
4.      Evaluasi
Evaluasi mengacu kepada penilaian, tahapan, dan perbaikan. Pada tahap ini perawat menemukan penyebab mengapa suatu proses keperawatan dapat berhasil atau gagal. (Alfaro-LeFevre, 1994).Perawat menemukan reaksi klien terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan dan menetapkan apa yang menjadi sasaran dari rencana keperawatan dapat diterima. Perencanaan merupakan dasar yang mendukung suatu evaluasi.
Menetapkan kembali informasi baru yang diberikan kepada klien untuk mengganti atau menghapus diagnosa keperawatan, tujuan, atau intervensi keperawatan.Menentukan target dari suatu hasil yang ingin dicapai adalah keputusan bersama antara perawat dank lien (Yura & Walsh, 1988)
Evaluasi berfokus pada individu klien dan kelompok dari klien itu sendiri. Proses evaluasi memerlukan beberapa keterampilan dalam menetapkan rencana asuhan keperawatan., termasuk pengetahuan mengenai standar asuhan keperawatan, respon klien yang normal terhadap tindakan keperawatan, dan pengetahuan konsep teladan dari keperawatan.

2.1.5.3 Poses Keperawatan Menurut Imogene M. King

Berdasarkan model konsep dan teori keperawatan king dapat disimpulkan bahwa konsep keperawatan menurut king adalah sebagai proses aksi, reaksi, dan interaksi perawat dan klien yang secara bersama-sama memberikan informasi tentang persepsi mereka dalam suatu situasi keperawatan dan sebagai proses interaksi humanis antara perawat dan klien yang masing-masing merasakan situasi dan kondisi yang berlainan, dan melalui komunikasi mereka menentukan tujuan, mengeksplorasi maksud, dan menyetujui maksud untuk mencapai tujuan.
Keperawatan adalah suatu profesi yang memberikan bantuan pada individu dan kelompok untuk mencapai, memelihara dan mempertahankan derajat kesehatan dengan memperhatikan, memikirkan, menghubungkan, menentukan dan melakukan tindakan perawatan sehingga individu atau kelompok berprilaku yang sesuai dengan kondisi keperawatan. Keperawatan berhubungan langsung dengan lingkungan, tempat atau ruang dan waktu untuk membentuk suatu hubungan menanggulangi status kesehatan dalam proses interpersonal reaksi interaksi dan transaksi dimana perawat dan klien berbagi informasi mengenai persepsinya dalam keperawatan. Kerangka ini dikenal dengan system kerangka terbuka. Asumsi yang mendasari kerangka ini adalah : a. Asuhan keperawatan berfokus pada manusia termasuk berbagai hal yang mempengaruhi kesehatan seseorang, b. Tujuan asuhan keperawatan adalah kesehatan bagi individu, kelompok dan masyarakat, c. Manusia selalu berinteraksi secara konstan terhadap konsep ini.
Tiga system yang mempengaruhi : a. Lingkungan dalam kerangka Kepribadian ( saling berinteraksi : Sistem Personal ) setiap individu mempunyai system kepribadian, b. Sistem Interpersonal terbentuk karena hasil interaksi berbentuk interaksi, komunikasi, perjanjian, stress dan System sosial peran, c. Sistem Pendidikan meliputi keluarga, kelompok, keagamaan, system pekerjaan dan kelompok sebaya. Menurut King, tujuan pemberian asuhan keperawatan dapat dicapai jika perawat dan pasien saling bekerja sama dalam mengidentifikasi masalah serta menetapkan tujuan bersama yang hendak dicapai.
Elemen dalam proses keperawatan menurut King  meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, dan evaluasi, langkah-langkah tersebut sama dengan proses keperawatan secara umum.
a.       Pengkajian
b.      Perumusan diagnosa keperawatan
c.       Intervensi keperawatan
King menyampaikan pola intervensi keperawatannya adalah proses interaksi klien dan perawat meliputi komunikasi dan persepsi yang menimbulkan aksi, reaksi, dan jika ada gangguan, menetapkan tujuan dengan maksud tercapainya suatu persetujuan dan membuat transaksi.
d.      Implementasi
Implementasi keperawatan direncanakan dengan tujuan merubah atau meningkatkan interaksi sosial dari interaksi negative ke interaksi yang positif.
e.       Evaluasi
Penilaian terakhir dari proses keperawatan berdasarkan tujuan keperawatan yang ditetapkan. Penetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan perilaku dari kriteria hasil yang ditetapkan, yaitu terjadinya interaksi sosial pada individu.

2.2    Interaksi Sosial
2.2.1 Pengertian Interaksi sosial
Manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan itulah yang dapat menimbulkan suatu proses interaksi sosial. Dalam Ramus Besar Bahasa Indonesia, interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi, berhubungan, atau saling mempengaruhi. Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok (Maryati dan Suryawati, 2003). Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur social (Murdiyatmoko dan Handayani, 2004). Di dalam hubungan tersebut, individu atau kelompok bekerja sama atau berkonflik, melakukan interaksi, baik formal atau tidak formal, langsung atau tidak langsung. Beberapa contoh interaksi sosial adalah kerja sama antara anggota tim sepak bola dalam sebuah pertandingan (hubungan kerja sama), debat antara para calon presiden dalam memperebutkan kursi presiden (hubungan konflik), perbincangan atau diskusi antara kepala bagian dan bawahan di sebuah kantor (hubungan formal), tawar menawar antara pembeli dan penjual di pasar (hubungan informal). Dari uraian di atas, terlihat bahwa dalam interaksi sosial terjadi hubungan timbal balik yang melibatkan aspek sosial dan kemanusiaan kedua belah pihak, seperti emosi, fisik, kepentingan. Di dalam interaksi, salah satu pihak memberikan stimulus atau aksi dan pihak lain memberikan respons atau reaksi.
Menurut Charles P. Loomis, sebuah hubungan bisa disebut interaksi sosial jika memiliki ciri-ciri berikut :
1.   Jumlah pelaku dua orang atau lebih.
2.   Adanya komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbol atau lambang.
3.   Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa lalu, masa kini, dan masa yang akan  datang.
4.   Adanya tujuan yang hendak dicapai sebagai hasil dari interaksi tersebut.
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Ada 6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial diantara nya sebgai berikut:
1.   Sugesti adalah sesuatu proses pemberian pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga pandangan atau pengaruh tersebut diikuti tanpa berpikir panjang.
2.   Imitasi adalah proses belajar seseorang dengan cara meniru atau mengikuti perilaku orang lain. Melalui proses imitasi seseorang dapat mempelajari nilai dan norma dalam masyarakat dan dapat juga menyimpang oleh nilai dan norma yang berlaku.
3.   Identifikasi adalah proses identifikasi berawal oleh rasa kekaguman seseorang pada tokoh idolanya. Kekaguman tersebut mendorong seseorang untuk menjadikan dirinya sama atau identik dengan tokoh tersebut.
4.   Simpati adalah Sekilas simpati tampak sama dengan identifikasi karena menuntun seseorang untuk  memosisikan diri pada keadaan orang lain. Hanya saja dalam simpati faktor perasaan memang memegang peranan utama. Rasa ketertarikan seseorang.
5.   Motivasi adalah dorongan yang mendasari seseorang untuk melakukan perbuatan berdasarkan pertimbangan rasionalitas. Motivasi dalam diri seseorang dapat muncul disebabkan faktor atau pengaruh oleh orang lain sehingga individu melakukan kontak dengan orang lain.
6.   Empati adalah rasa empati merupakan rasa haru seseorang ketika seseorang melihat orang lain mengalami sesuatu yang menarik perhatian. Empati merupakan kelanjutan oleh rasa simpati yang berupa perbuatan nyata untuk mewujutkan.

2.2.3 Macam-macam Interaksi Sosial
Menurut Maryati dan Suryawati (2003) interaksi sosial dibagi menjadi tiga macam, yaitu (p. 23) :
1. Interaksi antara individu dan individu
Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).
2. Interaksi antara individu dan kelompok
Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok bermacam - macam sesuai situasi dan kondisinya.
3. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok
Interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Misalnya, kerja sama antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek.
2.2.4 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.
1. Kontak Sosial
Kata “kontak” (Inggris: “contact’) berasal dari bahasa Latin con atau cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi, kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, sebab orang bisa melakukan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon, radio, atau surat elektronik. Oleh karena itu, hubungan fisik tidak menjadi syarat utama terjadinya kontak.
Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut.
1.    Kontak sosial dapat bersifat positif atau negative
Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik.
2.    Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder
Kontak sosial primer terjadi apabila para peserta interaksi bertemu muka secara langsung. Misalnya, kontak antara perawat dan pasien di dalam ruangan. Sementara itu, kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara. Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya terjadi saat ketua RW mengundang ketua RT datang ke rumahnya melalui telepon. Sementara jika Ketua RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan pesan kepada ketua RT agar datang ke rumahnya, yang terjadi adalah kontak sekunder tidak langsung.
2. Komunikasi
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Misalnya, seorang perawat yang akan atau sedang melakukan tindakan ke pasiennya. Pasien tersebut setuju dengan tindakan yang dilakukan. Tapi pasien tersebut berfikir dan kadang bertanya tujuannya untuk apa pasien tersebut diberikan tindakan seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan reaksi dan tafsiran pasien terhadap perawat. Ada lima unsur pokok dalam komunikasi. Kelima unsur tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Komunikator
Yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.
2.    Komunikan
Yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.
3.    Pesan
Yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi, instruksi, dan perasaan.
4.    Media
Yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.
5.    Efek
Yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan pesan dari komunikator.
Ada tiga tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Encoding
Pada tahap ini, gagasan atau program yang akan dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar. Dalam tahap ini, komunikator harus memilih kata, istilah, kalimat, dan gambar yang mudah dipahami oleh komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan kode-kode yang membingungkan komunikan.
2.    Penyampaian
Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian dapat berupa lisan, tulisan, dan gabungan dari keduanya.


3.    Decoding
Pada tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami kalimat serta gambar yang diterima menurut pengalaman yang dimiliki.

2.2.5 Bentuk - Bentuk Interaksi Sosial
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu (p. 49) :
1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif
yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
a. Kerja sama
Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
b. Akomodasi
Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok - kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.
c. Asimilasi
Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
d. Akulturasi
Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur - unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur - unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.
2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif
Yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk pertentangan atau konflik, seperti :
a. Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
b. Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c. Konflik
Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

2.3    Tubercolusis Paru (TB)
2.3.1   Definisi Tuberculosis Paru
Tuberculosis paru adalah penyakit akibat infeksi kuman mycobakterium tubercolosis sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak diparu yang biasanya merupakan infeksi primer. Tuberculosis merupakan bakteri kronik dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan hipersensivitas yang diperantarai sel (Cell Madiated Hipersensivity) (Mansjoer Arif, 2000).

2.3.2   Gejala Tuberculosis Paru
1. Demam
Dimulai dengan demam subfebris seperti influenza. Terkadang panas mencapai 40-41oC. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk (Soeparman,1990).

2. Batuk darah
Batuk darah terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah terjadi peradangan menjadi produktif hal ini berlangsung 3 minggu atau lebih. Keadaan lanjut adalah terjadinya batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Yang merupakan tanda adanya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kavitas. Kematian dapat terjadi karena penyumbatan bekuan darah pada saluran nafas (Soeparman, 1990).
3. Sesak nafas
Sesak nafas ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana ilfiltrasinya sudah setengah bagian paru (Depkes RI, 2002)
4. Nyeri dada
Terjadi bila ilfiltrasinya radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis (Depkes RI, 2002)
5. Malaise (Badan lemah)
Penyakit tuberculosis paru adalah penyakit radang yang bersifat menahan nyer otot dan keringat dimalam hari. Gejala-gejala tersebut makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur (Soeparman, 1990)



2.3.3    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Tubercolusis
1. Harus ada sumber infeksi
Sumber infeksi dapat berasal dari penderita tubercolusis dengan BTA positif yang ditularkan melalui droplet. Baik itu melalui penggunaan alat makan secara bergantian tanpa dicuci terlebih dahulu ataupun pada waktu penderita batuk atau bersin.
2. Jumlah basil sebagai penyebab infeksi harus cukup
Semakin banyak jumlah basil yang terhirup, maka semakin besar kemungkinan seseorang untuk mengidap penyakit tubercolusis.
3. Virulensi yang tinggi dari basil tubercolusis
Apabila tingkat keaktifan kuman tinggi maka akan semakin cepat berkembang biak didalam tubuh. Selain itu akan semakin cepat pula massa inkubasinya.
4. Daya tahan tubuh yang menurun
Daya tahan tubuh yang menurun memungkinkan basil berkembang biak dan keadaan ini menyebabkan timbulnya penyakit tubercolusis baru.

2.3.4   Pemeriksaan Diagnostik
1. Kultur sputum
Pemekriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukanya kuman BTA, diagnosa tubercolusis paru sudah dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA positif adalah bila ditemukanya sekurang-kurangya 3 batang kuman BTA pada satu sediaan dan sedikitnya dua dari tiga kali pemekrisaan specimen BTA hasilnya nyatakan positif (Soeparman, 1990).
2. Foto thorak
Menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan. Adanya perluasan kuman tubercolusis paru ditunjukan dengan adanya rongga atau area fibrosa (Doenges, 2002)
3. Tes tuberkulin (Mantoux)
Reaksi positif area durasi 10mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradermal antigen menunjukan massa lalu dan adanya antibodi, tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa infeksi disebabkan oleh mikrobakterium yang berbeda (Doenges,2002).
4. Pemekrisaan darah
Pada waktu kuman tubercolusis mulai aktif jumlah leukosit sedikit meninggi dan jumlah limfotsit masih dibawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila sakit mulai sembuh jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tetap tinggi. Laju endap darah mulai turun kearah normal lagi (Soeparman, 1990).
5. Pemeriksaan fungsi paru
Terjadi penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total. Saturasi oksigen terjadi penurunan sekunder terhadap infiltrasi parenkim paru, kehilangan jaringan paru ketika tubercolusis paru kronis sudah meluas. (Doenges, 2002)

2.3.5   Cara Penularan
1. Percikan ludah (droplet infection)
Pada saat penderita tubercolusis batuk akan mengeluarkan droplet dengan ukuran mikroskopis yang bervariatif. Ketika pertikel tersebut berada di udara, air akan menguap dari permukaannya sehingga menurunkan volume dan menaikan konsetrasi kumannya. Partikel inilah yang disebut dengan droplet (Crofton, 2002).
2. Inhalasi debu yang mengandung basil tubercolusa (air bone infection)
Seseorang yang melakukan kontak erat dalam waktu yang lama dengan penderita tubercolusis paru akan mudah tertular karena menginhalasi udara yang telah terkontaminasi kuman tubercolusis (Depkes RI, 2002).

2.3.6    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keteraturan Minum Obat
1. Keadaan sosial ekonomi
Makin buruk keadaan sosial ekonomi masyarakat sehingga makin jelek pula gizi dan hygiene lingkungannya yang akan menyebabkan rendahnya daya tahan tubuh mereka sehingga memudahkan terjadinya penyakit. Seandainya mendapat penyakit selain mempersulit penyembuhan juga memudahkan kambuhnya TBC yang sudah ada.
2. Kesadaran
Pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama (minimal 2 tahun terbentuk) sebab anti TBC barulah bersifat tuberculostotica bersifat tubercuicocido. Kadang-kadang walaupun penyakitmya agak berat sipenderita tidak merasa sakit sehingga tidak mencari pengobatan menurut hasil penyelikan WHO 50% penderita TBC menunjukan gejala apa-apa orang ini telah berbahaya lagi sebagai sumber penular karena bebas bercampur dengan masyarakat.
3.Pengetahuan
Makin rendah pengetahuan penderita tentang bahaya penyakit TBC untuk dirinya keluarga dan masyarakat disekitarnya maka besar pulalah bahaya sipenderita sebagai penularan baik dirumah maupun ditempat kerjanya. Untuk keluarga dan orang-orang disekitarnya, sebaiknya pengetahuan yang baik tentang penyakit ini akan menolong masyarakat dalam menghindarinya (Dr.indan entjang, 2000).

2.3.7   Tingkat Kepatuhan Pengobatan tuberculosis
Niven (2000) berpendapat bahwa tingkat kepatuhan pengobatan tuberculosis paru adalah sebagai berikut :
1.      Minum obat sesuai petunjuk
Obat yang diminum sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan oleh petugas kesehatan meliputi dosis, jumlah, jenis dan waktu minum obat.
2. Jadwal mengambil obat
Pengambilan obat tidak boleh terlambat. Apabila penderita telah minum obat dikhawatirkan akan terjadi resistesi obat.
3. Lama pengobatan
Lama pengobatan akan mempengaruhi terhadap kepatuhan penderita untuk berobat. Pengobatan pada tuberculosis sendiri minimal dilakukan selama 6 bulan.
4. Macam-macam obat
Banyaknya macam-macam obat tuberculosis membuat penderita menjadi jenuh untuk berobat. Jika kurangnya pengetahuan atau motivasi maka semakin besar kemingkinan akan putus obat.















BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual


 
Text Box: Faktor-faktor pendorong interaksi social :
- Tindakan sosian
- Kontak social
- Komunikasi sosial
feedback                                                                                                                     feedback









 



















Keterangan :
Diteliti                    :
Tidak diteliti         :
Hubungan             :
Gambar 15 :    Kerangka konseptual penerapan model king dalam meningkatkan interaksi sosial pada pasien TB.

3.2 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian (Alimul, A.2007). Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
“Jika penerapan model king baik, maka interaksi sosial yang dialami pasien akan meningkat.”




















BAB 4
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara memecahkan masalah menurut metode keilmuan. Metode penelitian adalah suatu metode pemilihan dan perumusan masalah serta hipotesis untuk memberikan gambaran mengenai metode dan teknik yang hendak digunakan dalam melakukan suatu penelitian ( Tjokronegoro, 1999 ). Dalam bab ini akan diuraikan beberapa metode yang mendasari penelitian yaitu, (1) desain penelitian, (2) kerangka kerja, (3) desain sampling meliputi populasi, sampel, dan sampling, (4) identifikasi variabel, (5) definisi operasional, (6) pengumpulan data, (7) analisis data, (8) etik penelitian.

4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian (Alimul, A.2007). Ada juga yang menguraikan bahwa desain penelitian adalah suatu strategi penelitian dalam mengidentifikasi permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data (Nursalam, 2003).
Jenis penelitian yang digunakan adalah experimental dan desain yang digunakan adalah “Pre-experiment” dengan rancangan pre-post test control design yang mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok control disamping kelompok eksperimental, kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah dilakukan intervensi (Nursalam, 2008).
Rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
P                      Oal                  Xl                    Oa2    
Gambar   skema rancangan penelitian pre eksperimental
Keterangan :
P    : Klien
Oal            : Observasi tingkat stress sebelum intervensi
Xl  : Perlakuan
Oa2: Observasi setelah perlakuan
















4.2 Kerangka Kerja Penelitian


 






 






                    


 



Analisis data : uji wilcoxon
Mactched Pairs

 
 



 



Gambar 4.2 Kerangka Kerja penelitian Penerapan Model King dalam Meningkatkan Interaksi Sosial pada Pasien TB di Puskesmas Kalitidu Kabupaten Bojonegoro.
4.3 Populasi, sampel, dan sampling
4.3.1 Populasi
Populasi adalah seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti (Alimul, A.2007). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien TB paru di puskesmas Kalitidu kabupaten Bojonegoro. Dengan populasi ∑ = 30 orang.

4.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Alimul, A.2007). Sampel yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagian pasien TB paru di puskesmas Kalitidu kabupaten Bojonegoro yang masuk kriteria inklusi. Populasi sesuai criteria di bawah ini :
Ø  Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti (Nursalam dan Siti Pariani, 2001).
Yang termasuk kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
·         Pasien TB yang dirawat di Puskesmas Kalitidu Kabupaten Bojonegoro
·         Pasien TB yang mau dijadikan responden
·         Pasien TB yang tidak dalam keadaan koma atau tidak sadar


Ø  Kriteria Eksklusi
Kriteria Eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang memenuhi criteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam dan Siti Pariani, 2001).
Yang termasuk dalam kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :
·         Pasien TB yang dalam keadaan tidak sadar atau koma
·         Pasien TB yang tidak bersedia menjadi responden

4.3.3 Besar Sampel
Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Nursalam, 2000). Besar sampel dalam penelitian ini adalah 53 responden yang menderita TB paru. Besar sampel dalam penelitian ini ditetapkan berdasarkan rumus (Notoatmodjo, 2005).
Dalam penelitian ini besar sampel yang digunakan dalam rumus :
                     n =         N______
                              1 + N (d2)
Keterangan :
N = Besar Populasi
n = Besar Sampel
d = Tingkat kesalahan yang ditolerir (0,05) (Nursalam, 2003).
Diketahui : N = 30 orang                 d = 0,05
Ditanya : n ?
n =         N______
 1 + N (d2)
n =         30_____
                               1 + 30 (0,052)
n =            30_______
1 + 30 (0,0025)
n =         30______
 1 + 0,075
n =           30___
   1,075
n =  27,9
Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah 28 responden.
      
4.3.4 Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi proses dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini sampling dilakukan secara probability sampling dimana setiap subyek mempunyai peluang atau kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling, yaitu teknik penetapan sampel dengan cara setiap elemen diseleksi secara random atau acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi (Nursalam, 2003). Dengan cara semua populasi didaftar dan diberikan nomer urut kemudian diundi sebanyak jumlah sampel kemudian hasil dari sampling akn diambil untuk mewakili jumlah populasi (Hidayat A. Azis, 2010).

4.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan peneliti tentang sesuatu konsep penelitian tertentu (Notoatmodjo,2002).
4.4.1 Variabel Independen
Variabel independen ini merupakan variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas yang artinya bebas dalam mempengaruhi variabel lain (Alimul, A.2007). Variabel independen dalam penelitian ini adalah penerapan model king.

4.4.2 Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas (Alimul, A.2007). variabel dependen dalam penelitian ini adalah interaksi sosial pasien TB.

4.5 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional dan berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena (Alimul, A.2007). Definisi operasional dari variable yang diteliti dapat dilihat pada table berikut :



Tabel 4.1 : Definisi Operasional dan Variabel Penelitian Penerapan Model King dalam Meningkatkan Interaksi Sosial pada pasien TB
Variabel
Definisi Operasional
Parameter / Indikator
Alat Ukur
Skala
Skor
Variabel Independen
Penerapan model King











Variabel Dependen
Interaksi sosial


Teori memfokuskan kepada fase-fase perencanaan dan implementasi dalam proses perawatan. Perawat dan pasien (dyad interact) saling memikirkan pencapaian tujuan, meneliti sarana-sarana untuk mencapai tujuan bertransaksi dan meraih tujuan.



kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok

Elemen dalam proses keperawatan menurut King meliputi :
1.       Pengkajian
2.       Diagnosa kep.
3.       Intervensi dan tujuan
4.       Implementasi  
5.       Evaluasi








-          Mampu mempengaruhi orang lain
-          Mampu merubah orang lain yang ada disekitar lingkungan
-          Mampu memperbaiki tingkah laku


-












-       kuisioner

-












Nominal

-












1. Interaksi positif
2. Interaksi  negative
4.6 Pengumpulan dan Analisis Data
4.6.1 Instrumen
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2002). Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuisioner. Dan cara pengukurannya dengan skala nominal, menggunakan pertanyaan tertutup.

4.6.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kalitidu Kabupaten Bojonegoro. Waktu penelitian pada bulan Desember 2011.

4.6.3 Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya dan seijin Direktur Puskesmas Kalitidu Kabupaten Bojonegoro. Langkah awal peneliti menyeleksi responden kemudian memberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian yang akan dilakukan dan meminta persetujuan dari responden penilitian. Responden setuju menandatangani inform consent.
Sebelum intervensi kelompok perlakuan dinilai tingkat interaksi sosial yang dialami sehingga diperoleh data awal sebelum diintervensi. Kelompok perlakuan akan dikumpulkan dan diberi intervensi penerapan model keperawatan King sebanyak 2x dalam seminggu dengan durasi 60 menit setiap pertemuan. Peneliti berperan sebagai educator dan fasilitator. Post test dilakukan setelah semua masalah terselesaikan dengan cara memberikan kuesioner yang sama pada saat pre test.

4.6.4 Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan tahap analisa data. Pada analisa data dilakukan ;
1.      Editing, melakuakn pemeriksaan terhadap data yang diperoleh kemudian diteliti apakah ada kekeliruan dalam pengisian, terisi lengkap atau belum.
2.      Coding, peneliti memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data untuk memudahkan dalam melakukan analisa data.
3.      Scoring, pada tahap ini jawaban responden yang sama dikelompokkan dengan teliti dan teratur.

4.6.5 Analisa Data
Setelah data terkumpul dikelompokkan tabulasi data dan kemudian di analisis dengan uji Wilcoxon Matched Pairs karena dalam penelitian ini menerapakan pre dan post test terhadap sampel sebelum dan sesudah perlakuan. Teknik ini dilakukan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berkorelasi bila datanya berbentuk nominal dengan menentukan taraf nyata (α) 0,05 dengan T table.
Dalam penelitian ini dibandingkan sebelum dan sesudah perlakuan pada penderita Tuberculosis (TB). Kemudian dilakukan uji normalitas Kolmogorov-smirnov untuk mengetahui distribusinya normal atau tidak. Dilakukan uji statistic wilcoxon sign rank sampel berpasangan untuk data sebelum intervensi dan sesudah intervensi dengan nilai kemaknaan p < 0,05 artinya bila uji statistic menunjukkan niali p < 0,05 maka ada pengaruh bermakna antara variable.

4.7 Masalah Etik
Persetujuan dan kerahasiaan responden merupakan hal utama yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu penelitian ini dimulai dengan melakukan berbagai prosedur yang berhubungan dengan etika penelitian :
4.7.1 Lembar Persetujuan (Informed consent)
Responden ditetapkan setelah terlebih dahulu mendapatkan penjelasan tentang kegiatan penelitian, tujuan penelitian dan setelah responden menyatakan setuju untuk dijadikan responden secara tertulis.
4.7.2 Tanpa Nama (anonimity)
Seluruh responden dalam sampel penelitian tidak akan disebutkan namanya dalam hasil pengukuran maupun dalam laporan penelitian.
4.7.3 Kerahasiaan (confidentiality)
Responden yang dijadikan sampel dalam penelitian akan dirahasiakan identitas spesifiknya (nama, gambar dan ciri-ciri) dan hanya informasi tertentu saja yang ditampilkan.




4.8 Keterbatasan 
Keterbatasan-keterbatasan dari penelitian ini adalah :
1.      Instrument dengan kuesioner memiliki kelemahan unttuk tidak diisi dengan jujur karena pasien takut dan adanya persepsi yang keliru akan pertanyaan-pertanyaan yang ada
2.      Terbatasnya sarana dan dana sehingga penelitian kurang sempurna dan kurang memuaskan
3.      Tingkat kemampuan dan pengalaman peneliti terbatas

















KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyusun proposal yang berjudul “Penerapan Model Keperawatan King dalam Meningkatkan Interaksi Sosial Pada Pasien TBC“ sebagai tugas Metodologi Riset program studi S1 Keperawatan semester 5 Universitas Muhammadiyah Surabaya tahun 2010/2011.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan membantu dalam penyelesaian penulisan makalah ini. Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan penulis bersedia menampung kritik dan saran dari para pembaca.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca.

           
Surabaya, 10 Januari 2012


Penulis









i
 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFFTAR ISI............................................................................................... ii
BAB 1 . PENDAHULUAN.......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................... 3
1.2.1 Pertanyaan Masalah......................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian...................................................................... 3
1.3.1 .................................................................... Tujuan Umum........ 3
1.3.2 ................................................................... Tujuan Khusus........ 3         
1.4 Manfaat Penelitian.................................................................... 4
1.4.1 ................................................................ Manfaat Teoritis........ 4
1.4.2 ................................................................. Manfaat Praktis........ 4
BAB 2 . TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 5
2.1. Penerapan Model Teori King.................................................... 5
2.1.1 ............................................ Pengertian Model Teori King........ 5
2.1.2 ..................................... Konsep Utama Model Teori King........ 6
2.1.3 ...... Konsep Hubungan Manusia dalam Model Teori King........ 7
2.1.4 ......................... Asumsi-asumsi Utama Model Teori King........ 8
2.1.5 ...................................... Proses Keperawatan Model King........ 9
2.2. Interaksi Sosial....................................................................... 15
2.2.1 ................................................. Pengertian Interaksi sosial........ 15
ii
 
2.2.2 .......... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial........ 17
2.2.3 ......................................... Macam-macam Interaksi Sosial........ 18
2.2.4 ..................................... Syarat Terjadinya Interaksi Sosial........ 19
2.2.5 ....................................... Bentuk - Bentuk Interaksi Sosial........ 22
2.3. Tubercolusis Paru (TB)........................................................... 24
2.3.1 Definisi Tuberculosis Paru............................................. 24
2.3.2 Gejala Tuberculosis Paru............................................... 24
2.3.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
........ Terjadinya Tubercolusis................................................. 26
2.3.4 Pemeriksaan Diagnostik................................................ 26
2.3.5 Cara Penularan.............................................................. 28
2.3.6 ................................... Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Keteraturan Minum Obat.............................................. 28
2.3.7  Tingkat Kepatuhan Pengobatan tuberculosis............... 29
BAB 3   KERANGKA KONSEPTUAL DAN
.............. HIPOTESIS PENELITIAN.......................................................... 31
3.1 Kerangka Konseptual............................................................. 31
3.2 Hipotesis................................................................................. 32
BAB 4 . METODE PENELITIAN............................................................. 33
4.1 Desain Penelitian.................................................................... 33
4.2 Kerangka Kerja Penelitian...................................................... 35
4.3 Populasi, sampel, dan sampling.............................................. 36
4.3.1 ............................................................................. Populasi........ 36
4.3.2 ............................................................................... Sampel........ 36
iii
 
4.3.3 ..................................................................... Besar Sampel........ 37
4.3.4 ............................................................................ Sampling........ 38
4.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional......................... 39
4.4.1 ......................................................... Variabel Independen........ 39
4.4.2 ............................................................ Variabel Dependen........ 39
4.5 Definisi Operasional............................................................... 39
4.6 Pengumpulan dan Analisis Data............................................. 41
4.6.1 ........................................................................... Instrumen........ 41
4.6.2 Lokasi dan Waktu Penelitian........................................ 41
4.6.3 Prosedur Penelitian........................................................ 41
4.6.4 Pengolahan Data............................................................ 42
4.6.5 Analisa Data.................................................................. 42
4.7 Masalah Etik........................................................................... 43
4.7.1 Lembar Persetujuan (Informed consent)........................ 43
4.7.2 Tanpa Nama (anonimity)............................................... 43
4.7.3 Kerahasiaan (confidentiality)......................................... 43
4.8 Keterbatasan  ......................................................................... 44
               






iv
 
PENERAPAN MODEL KEPERAWATAN KING DALAM MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL PASIEN TUBERCOLUSIS PARU (TBC)


fik















OLEH :

SITI NUR AFIFAH
NIM : 09600068






PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2011 / 2012
Previous
Next Post »

Translate