Info Kesehatan

healhty

Minggu, 29 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN




ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN
SISTEM INTEGUMEN


 A.Konsep  Dasar
Kulit dan appendicesnya merupakan struktur yang kompleks yang membentuk jaringan tubuh
yang kuat dank eras. Fungsinya dapat dipengaruhi oleh kerusakan terhadap struktur demikian
juga karena penyakit. Karena terdapat banyak penyakit yang mempengaruhi kulit, maka
makalah ini dibatasi hanya yang paling sering ditemukan. 
1. Tinjauan Struktur Anatomi
Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis atau lapisan luar dan dermis atau kulit
sebenarnya, terdapat juga apendises pada kulit yang termasuk rambut dan kuku.
Epidermis
Epidermis terdiri dari sel epitel yang mengalami keratinisasi yang mengandung bahan
lemak yang menjadikan kulit kedap air. Sel superficial dari stratum ini secara konstan
dilepaskan dan diganti. Sel lain mengandung cairan berminyak. Lapisan ketiga terdiri
dari sel-sel yang mengandung granula yang mapu merefraksi cahaya dan membantu
memberikan warna putih pada kulit. Lapisan keempat mengandung sel yang
memproduksi melamin, yaitu suatu bahan yang berfungsi sebagai protektiof terhjadap
efek sinar ultraviolet. Epidermis tidak mengandung pembuluh darah, tetapi limfe
bersirkulasi dalam ruang interseluler.
Dermis
Lapisan ini terdiri dari jaringan fibrosa yang lebih padat pada bagian superficial
dibandingkan dengan bagian dalamnya. Dapat diidentifikasi dua lapisan; yaitu yang
pertama mengandfung akhiran saraf sensorik, pembuluh darah dan limpatika; yang
kedua mengandung serat kolagen, serat elastic, glandula sebasea dan glandula
sudorifera, folikel rambut dan muskulus arrektor pilli


Hipodermis
Lapisan ini terdiri dari jaringan fibrosa yang lebih apdat pada bagian superficial
dibandingkan dengan bagian dalamnya. Dapat diidentifikasi dua lapisan: yaitu yang
pertama mengandung akhiran saraf sensorik, pembuluh darah dan limpatika; yang



1




kedua mengandung serat kolagea, serat elastic, glandula sebasea dan glandula
sudorifera, folikel rambut dan muskulus arrektor pilli.
Hipodermis
Lapisan ini merupakan zona transisisonal  diantara kulit dan jaringan adipose
dibawahnya, mengandung sel lemak demikian juga jaringan ikat putih dan kuning,
kumparan dari sejumlah glandula sebacea dan radiks dari sejumlah rambut.
Pemberian zat makanan dermis atau korium terganggu pada vena dan limfatika, Baik
saraf bermielin maupun tidak bermielin ditemukan pada kulit yang berisi organ akhir
dan banyak serat saraf. Organ ini memberikan respon sensasi terhadap panas, dingin,
nyeri, getar dan rasa ringan.
Kelenjar Keringat
Kelenjar keringat terdiri dari glomerulus atau bagian sekresi dan duktus. Secara
relative tardapat satu darah yang kaya dan mensekresi keringat yang agak keruh,
hampir tidak berbau, hampir mengandung 99 persen air dan sejumlah kecil klorida,
urea, ammoniak, asam urat dan kreatinin. Berbagai tipe kelenjar keringat ditemukan
pada area seperti genitalia, anus, aksila dan putting susu dan masing-masing juga
mempunyai bau yang khas.
Appendises.
Appedises termasuk rambut dan kuku. Rambut berasal dari epitel dan terbentuk dari
sel tanduk yang mengalami modifikasi yang timbul dalam struktur yang kompleks,
yaitu folikel yang terletak dalam lapisan dermis yang lebih dalam. Pada saat rambut
melintasi lapisan permukaan dari dermis maka rambut dilapisi oleh sebum yang
merupakan. Fungsinya  sebagai pelumas kulit dan menjaga kulit tetap lentur,
bertindak sebagai penolak air dan melindungi kulit dari udara yang kering.
Kuku terdiri dari sel tanduk yang mengalami modifikasi yang bersatu dengan kuat.
Pada bagian proksimal kuku terbentuk dalam matriks kulit. Dasar kuku dari sel
prickle yang agak mengalami modifkasi pada mana kuku melekat dengan kulit.
2.   Fungsi Kulit
Bertindak sebagai barier terhadap infeksi asal berada dalam keadaan utuh, tetapi dapat juga
dirusak oleh mikroorganisme dengan aksi dari asam lemak rantai panjang yang ditemukan dalam
kulit.



2




 Ketahanan jaringan yang kuat melindungi jaringan dibawahnya . 
Kulit bertindak sebagai suatu insulator (hypodermis) dan membantu mengatur suhu tubuh.
Karena mengandung akhiran saraf sensorik, sensasi dari kulit mamainkan peranan penting
dalam mempertahankan kesehatan.
Sampai tingkat tertentu, kulit bertindak sebagai organ ekskresi untuk  mengeluarkan produk
sampah tubuh. Karenanya memainkan peranan penting dalam mempertahankan keseimbangan
cairan dan elektrolit.
Dalam kondisi yang sesuai, kulit mengatur vitamin D, yang terbentuk dengan aksi fotokimia
dan sinar ultraviolet pada sterol yang diduga dieksresikan dalam sebulan.
3.   Terminologi pada Kondisi Dermatologis
Banyak bentuk berbeda dari lesi diuraikan dalam status dermaotlogis yang menentukan
penyakit spesifik. Hal ini dapat dibagi dalam bentuk yang tidak merusak kulit (lesi
primer) dan yang merusak kulit (lesi sekunder)
Lesi Primer
a.   Makula
Perubahan dalam warna kulit,bervariasi dalam ukuran dan bentuk,dan tampak
sebagai pewarnaan pada kulit.Makula dibentuk dari :
-     Deposit pigmen dalam kulit misalnya frekles
-     Keluarnya darah kedalam kulit misalnya petekie
-     Dilatasi permanen dari pembuluh perifer misalnya nevi
-     Dilatasi sementara dari pembuluh darah perifer misalnya eritema
b.   Papula
Terdapat elevasi yang dapat diraba dari kulit yang bervariasi diameternya dari
sekitar 1 sampai 5 mm.Permukaan dapat tajam,bulat atau datar.
Terletak superficial dan dibentuk dari proliferasi sel atau eksudasi cairan kedalam
kulit.
c.   Nodul
Serupa dengan papula tetapi terletak lebih dalam.Bervariasi dalam ukuran dan
biasanya lebih besar dari papula.
d.   Vesikel





3




Merupakan lepuh kecil yang dibentuk dengan akumulasi cairan dalam
epidermis,biasanya terisi dengan cairan serosa dan ditemukan pada anak-anak
yang menderita eksema.
e.   Bula atau pustula
Bula merupakan vesikel besar yang mengandung serum,pus atau darah ditemukan
biasanya pada pemfigus neonatorum.
f.    Gelegata
Merupakan elevasi sementara kulit yang disebabkan oleh dermis dan dilatasi
kapiler sekitarnya.Biasanya berkaitan dengan respon alergi terhadap bahan asing.
Lesi sekunder
a.   Skuama
Adalah lapisan tanduk dari epidermis mati yang menumpuk pada kulit yang dapat
berkembang sebagai akibat perubahan inflamasi,ditemukan pada psoriasis.
b.   Krusta
Terbentuk dari serum,darah atau nanah yang mongering pada kulit masing-masing
dikenal dari warna : merah kehitaman( krusta darah),kuning kehijauan (krusta
nanah) dan berwarna madu (krusta serum).




c.   Fisura
Merupakan retakan kecil yang meluas melalui epidermis dan memaparkan
dermis.Dapat terjadi pada kulit kering pada inflamasi kronik.
d.   Ulkus
Merupakan lesi yang terbentuk oleh kerusakan local dari seluruh epidermis dan
sebagian atau seluruh korium dibawahnya.
4.   Prinsip Umum Dalam Terapi Penyakit kulit
Tujuan terapi adalah melestarikan atau memelihara keadaan fisiologis dari kulit.Terapi
local sering dipilih karena medikasi dapat diberikan dalam konsentrasi yang optimal pada
tempat yang tepat diperlukan.
Air memainkan peranan penting dan ditemukan banyak pada larutan dan lotion.Jika kulit
mengalami hidrasi maka akan menjadi lembut dan licin dan untuk tetap dalam keadaan



4




ini,kelembaban lingkungan harus adekuat (sekitar 60 %).Jika menurun maka stratum
korneum menciut dan pecah,barier epidermis hilang dan mikroorganisme dan iritan akan
masuk,menimbulkan respon inflamasi.Dapat terjadi overhidrasi jika jumlah air yang
diabsorbsi meningkat dan sambungan lipid yang ketat antara sel strtum korneum secara
berangsur-angsur diganti dengan air.Hal ini dapat terjadi pada daerah popok,ketiakdan
daerah lainnya.
Dasar preparat topical :
a.   Cairan
- Sebagai kompres basah juga dapat menghilangkan rasa gatal
- Dengan bedak,jika digunakan sebagai pasta pengering
-  Dengan minyak,jika digunakan sebagai vanishing,karena penitrasinya cepat dan
memungkinkan penguapan
-  Kelebihan pelumas dan emulsifikasi.Air dalam minyak berfungsi sebagai krim
emolien yang menembus lebih lambat sehingga dapat menahan kelembaban pada
kulit.
b.   Minyak sebagai zalf : hal ini menahan bahan pada kulit untuk waktu yang lama dan
mencegah penguapan air.
c.   Bedak,berfungsi meningkatkan penguapan


5.   Pengkajian dan manifestasi kulit yang lain
Pengkajian keperawatan dengan memperhatikan manifestasi kulit antara lain :
Eritema : area kemerahan yang disebabkan oleh peningkatan jumlah darah yang
teroksigenisasi pada vaskularisasi dermal.
Ekimosis : kemerahan yang terlokalsir atau perubahan warna keunguan disebabkan
oleh ekstrevasasi darah kedalam jaringan kulit dan subcutan.
Ptekie : bercak kecil dan berbatas tajam dalam lapisan epidermis superficial
Gambaran pola penyebaran lesi ( misalnya permukaan ekstensor,lipatan-lipatan,area
terpajan,seluruh tubuh,area popok )
Gambaran konfigurasi dan pengaturan lesi ( misalnya terpisah-pisah,berkelompok
atau menyatu,melingkar/bercincin,konfluen,linier,menyebar )





5




Gambaran



adanya



karakteristik



berhubungan



dengan



:

suhu,kelembaban,tekstur,elastisitas dan kekerasan kulit secara umum atau pada area
lesi.
Observasi adanya bukti-bukti manifestasi subjektif yang berkaitan dengan lesi

misalnya

:

pruritus,nyeri

atau

nyeri

tekan,rasa

terbakar,tertusuk,tersengat,menjalar,anesthesia,hyperestesia,hipestesia
hipotesia,konstan atau intermiten,diperbesar oleh aktivitas atau situasi khusus.

atau

Observasi adanya bukti-bukti faktor pemberat misalnya : benda asing seperti serat
kayu,serangga,kutu busuk sebelumnya.
Dapatkan riwayat kesehatan untuk reaksi kulit sebelumnya misalnya adanya allergi
dan penyakit yang berhubungan dengan manifestasi kulit.
Dikaji faktor pencetus seperti pemajanan terhadap penyakit infeksi kontak dengan
zat kimia,tumbuhan,binatang,serangga,sinar matahari,allergi pakaian atau mainan
misalnya dari wol,logam,zat topical misalnya sabun,make up,lotion,garam
mandi,suhu panas atau dingin yang berlebihan.
Dapatkan riwayat nutrisi terutama makanan yang dikenal sebagai allergic.
Bantu dengan prosedur diagnostic misalnya tes kulit,pemeriksaan mikroskopik
terhadap kerokan,biopsy,kultur,sitodiagnostik,pengujian bercak,tes darah.
B. Diagnosa Keperawatan Yang Lazim Ditemukan Pada Anak Dengan Gangguan Kulit               
1.   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan agens lingkungan : faktor somatic;
deficit imunologis.
2.   Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik; sekresi
tubuh;peningkatan kerentanan terhadap infeksi.
3.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif
4.   Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor allergic
5.   Nyeri berhubungan dengan lesi kulit ; pruritus
6.   . Gangguan citra tubuh berhubungan dengan persepsi penampilan
7.   Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan kondisi
kulit yang parah ( misalnya ; eksema,psoriasis,itiosis )
8.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi
9.   Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penggarukan pruritus.



6





C. Intervensi Keperawatan Yang Lazim Dilakukan Pada Anak Dengan Gangguan Kulit.
1.   Pengendalian infeksi yang tepat
2.   Mempertahankan hidrasi kulit
3.   Lakukan tindakan nonfarmakologis untuk penanganan nyeri dan pruritus. 
4.   Mempertahankan status nutrisi
5.   Dorong dan fasilitasi aktifitas bermain sesuai dengan kondisi kulit dan usia
perkembangan anak.
6.   Meningkatkan kebersihan personal dan lingkungan rumah
7.   Melatih keluarga melaksanakan program terapeutik.










D. Asuhan Keperawatan pada beberapa Penyakit kulit yang lazim ditemukan. pada Anak
1. Diaper Rash (Ruam, popok, dermatitis popok iritan primer : DPIP)
1.1. Konsep dasar
a.   Definisi
Dermatitis popok iritan primer (DPIP) merupakan istilah yang lebih tepat digunakan
dimana erupsi yang terjadi akibat kontak iritan dengan hahan excreta. DPIP merupakan
gannguan kulit yang paling sering didaerah popk dan diperkirakan 50% dari bayi
mengalaminya. Diaper rash merupakan akibat akhir karena kontak terus menerus
dengan larutan alkali kluat.
Banyak faktor yang menimbulkan atau memperhebat keadaan ini, misalnya kebersihan
kulit yang tidak terjaga akibat jarang ganti popok setelah bayi kencing, keadaan
lingkungan yang panas dan lembab atau akibat mencret, reaksi kontak terhadap karet,
plastyik atau detergen
b.   Etiologi
1.   Kontak dengan ammonia yang berasal dari pemecahan urea urine oleh bakteri usus.
2.   Sering diare yang mengiritasi kulit : organisme pada kulit yang memecahkan urea
ammonia sehingga meningkatkan basa.



7



3.   Sabun pada popok yang tidak tercuci dengan baik merupakan sumber
c.   Pathofisiologi
Timbul pada bayi baru lahir 1-3 bulan dan mencapai puncaknya pada usia 7-12 bulan (
Dali Amiruddin, 2003, hal 357). Terjadi iritasi primer pada kulit yang terkena dan 
muncul sebagai erythema. Erupsi terdapat pada daerah kontak yang menonjol seperti
pantat, alat kelamin, perut bawah dan paha atas. Dalam bentuk yang lebih parah akan
terdapat papula erythemathosa, vesicular dan uselarasi.












Patogenesis PDIP dapat dilihat pada bagan dibawah:

       Urine 




                   PH

        Feses


         Bakteri



        Kelembaban


        Udem Str. Korneum






     Lipase/protase





      Kepekaan terhadap Iritasi                                           Antibiotik





      Gesekan




    d.  Gambaran Klinis




     Rash











8




Yeast





Gambaran Klinis biasanya disebabkan oleh kontak langsung kulit dengan urine dan
feses. Eriten yang konfluen nampak pada permukaan konveks yang bersentuhan
langsung popok seperti: bokong, genital. Abdomen bagian bawah dan paha bagian atas.
Pada kasus ringan biasanya hanya tampak yang jika dibiarkan akan mengelupan dan
udem, mungkin disertai vesikel dan bula, bila terjadi erosi akan menunjukkan gejala
klinis yang eksematous dan piodermik. Pada meatus glans penis laki-laki tampak ulkus
yang tertutup membrane mirip dengan membrane difteri. Pelepasan popok sering
menimbulkan bau amoniak.
Pada kasus berat yang menyerupai eczema herpetikum, umumnya timbul akibat kontak
kronis dengan urine atau feses. Lesi berupa erosi, nodul ataupun ulserasi. Lesi erosi
dengan tepi meninggi memberikan gambaran seperti punched out, keadaan ini biasanya
sulit diatasi bila penyebab yang mendasarinya tidak teratasi.
e.   Diagnosa Banding
1.   Dermatitis seboroik
2.   Psoriasiform napkin dermatitis
3.   Dermatitis atopi
4.   Intertrigo
5.   Neonatal Kandidiasis
6.   Sifilis Kongenital
7.   Defisiensi Zink
8.   Granuloma gluteal infantum
f.    Penalaksanaan terafuetik
Keberhasilan pengobatan DPIP tergantung pada pengetahuan akan faktor  penyebab.
Pemberian preperat  topical tanpa memperhatikan frekuensi penggantian popok sering
mengakibatkan kegagalan terapi.
1)   Penggunaan popok
  Tujuan utama penatalaksanaan DPIP adalah mengurangi kelembaban karena itu
yang terpenting adalah hgiene yang baik menjaga daerah popok agar tetap bersih
dan kering.
2)   Terafi Spesifik





9




DPIP sedang dan berat tidak akan mengalami perbaikan bila hanya menggunakan
krim pelindung. Pada keadaan tersebut dianjurkan menggunakan kortikosteroid
topical potensi rendah dank rim pelindung. Krim hidrokortison 1% 2 x sehari
selama 3-5 hari. Bila dicurigai terhadi superinfeksi dengan kandida dapat digunakan
clotrimazole 1% atau mikonazole 2%. Hidrokorstison dan anti jamur dioleskan
bersamaan 2 kali sehari pada saat mengganti popok kemudian dioleskan barrier
ointment diatasnya.
1.2 Proses keperawatan
a.   Pengkajian 
Pada pengkajian fisik didapatkan data-data sebagai berikut:
1.   Subjektif:
   Keluarga mengatakan popok jarang diganti
   Riwayat gesekan kulit dengan popok atau kontak lama dengan urine dan atau
tinja
   Pakaian yang dicuci kurang bersih.
2.   Objektif:
   Bayi rewel gelisah karena gatal
   Eritema dan skuama pada kulit yang terkena, seringkali lesi populovesikel,
bula, fisura dan erosi
   Personal hygene yang kurang terpelihara
   Jarang terlihat pada daerah lipatan paha dan alat kelamin.
Selain hal diatas perlu dikaji juga tentang cara pemeliharaan kulit dan pakaian
bayi terutama popok atau celana.
Data penunjang: pemeriksaan isi putsula untuk mendeteksi adanya jamur (infeksi
kandida)


b.   Diagnosa Keperawatan:
 Nyeri berhubungan dengan lesi kulit
 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan papula eritemathosa
 Kurangnya pengetahuan orang tua tewntang penyakit berhubungan dengan
kurangnya informasi



10




c.   Intervensi Keperawatan
 Daerah yang terkena ruam popok, tidak boleh ditutup harus dibiarkan terbuka dan
tetap kering
 Bersihkan kjulit bayi dengan menggunakan kapas halus yang mengandung sedikit
minyak
 Seger bersihkan bila anak selesai BAB, BAK
 Atur posisi yang nyaman agar tidak terjadi penekanan pada daerah lesi
 Anjurkan ibu tetap memberikan ASI
 Ajarkan tekhnik pemeliharaan kebersihan pakaian dan lat-alat lainnya misalnya
celana yang terkena direndam dalam larutan acidum boricum, lalu dibias dan
dikeringkan (larutan acidum boricum menetralisir ammonia sehingga suasana
menjadi asam)
 Anjurkan ibu memperhatikan kebersihan tubuh bayi secara keseluruhan, sering
mengganti popok dan pencucian organ kelamin dengan seksama menggunakan air
hangat dan sabun lunak.
 Popok sekali pakai mengandung bahan-bahan superabsorben yang dapat menolong
untuk memberikan lingkungan yang relative kering.
 Pemberian bahan pelindung topical lunak (petrolatum atau pasta seng oksida)
setelah dimandikan dapat mencegah ruam popok
 Hidrokotison topical 0,5-1% setiap mengganti popok dalam jangka waktu terbatas
dapat dianjurkan.
2. Impetigo
Impetigo merupakan infeksi stapilokokus, mulai sebagai lepuh kecil yang mongering
dengan cepat untuk membentuk suatu skab dengan sebaran tepi yang merata basah. Pada
neonatus ditemukan sebagai pemfigus neonatorum yang nyata bulosa.
Prinsip terapi dan managemen perawatan:
a.   Neonatus harus diisolasi 
b.   Obat-obatan. Antibiotik diberikan peroral dan dapat diberikan secara local
c.   Penatalaksanaan lesi. Scab dan crusta harus diangkat karena dibawahnya terjadi
penyembuhan. Satu-satunya pengecualian jika impetigo tumpang tindih dengan
keadaan lagi, seperti scabies. Scab dapat diangkat dengan menggunkakan tampalan



11




sagu setiap15 menit selama satu jam. Tampalan dibuat dengan menambahkan air
mendidih  secara lambat pada 30gr tepung maizena, diaduk merata sampai timbul gel
secara menyeluruh. Bahan ini dibiarkan mendingin dan kemudian disebarkan pada pita
dan ditutupi dengan lapisan kasa. Tampalan dikenakan pada area yang terkena dan
dibalut pada posisinya.
d.   Perawatan rutin
e.   Dukungan bagi orang tua, hal ini bertujuan untuk membantu orang tua mengerti
penyebab dan memberikan bimbingan mengenai pencegahan dan perawatan dirumah.
3. Dermatitis Atopik (eczema)
3.1. Definisi:
Ekzema atau inflamasi eczema kulit mengacu pada kategori deskriptif dari penyakit
dermatologi dan bukan pada penyebab khusus. Ekzema merupakan istilah yang
menguraikan setiap dermatitis inflamatoar yang khas dengan adnya eritema, papula,
vesikula, cairan, krusta dan skuama pada berbagai fase sesolusi. Keadaan ini
melibatkan epidermis dan lapisan vascular kulit.
Inflamasi disebabkan oleh beberapa iritan dalam tubuh yang menimbulkan erupsi. Ini
berasal dari kapiler. Kasus ringan hanya terdapat eritema dan skuama tetapi
seringkali terdapat vesikula dan keadaan basah (weeping wells)
Dermatitis atopik (DA) adalah sejenis ekszema pruritik yang biasanya terjadi pada
masa bayi dan berhubungan dengan alergi dengan kecendrungan herediter.
3.2 Mekanisme terjadinya reaksi alergi
Diduga terdapat beberapa mekanisme yang berperan sebagai berikut:
a.   Terdapat pembebasan histamine, suatu bahan yang kuat untuk menimbulkan
reaksi yang kuat pada otot polos, dilatasi kapiler dan penurunan tekanan darah.
b.   Pembebasan bahan lain, misalnya asetilkolin dan;
c.   Reaksi antara allergen dan suatu antibody
3.3 Gambaran Klinik
Lesi kulit pada awalnya tampak pada pipi, dahi dan kulit kepala, tetapi juga
ditemukan pada permukaan fleksor dari lengan dan tungkai. Pada alhirnya mereka
menyebar pada seluruh permukaan kulit. Hal ini sangat gatal dan sebaian besar
perubahan kulit timbul akibat menggaruk, menggosok dan ekskoriasi.



12






3.4 Penatalaksanaan Terapi
    a. Diberikan antihistamin untuk mengurangi rasa gatal
    b. Pemberian krim  hidrokortison atau kortikosteroid local sangat efektif.Jika bayi
sakit berat,maka anak dapat dibalut dengan pembalut katun yang dibasahi dalam
krim.Verban dapat ditingkatkan sampai selama seminggu.Anak-anak yang lebih
tua dapat mencapai keadaan ringan dengan menggunakan krim kortikosteroid
pada lesi,tetapi obat ini dapat diabsorbsi.
    c. Dapat diberikan antibiotic untuk mengobati setiap infeksi yang rekuren.
3.5 Konsep Asuhan Keperawatan 
   3.5.1 Pengkajian
a.   Dapatkan riwayat keluarga tentang bukti-bukti lesi kulit dan allergi

b. Dapatkan

kesehatan,terutama

berhubungan

dengan

serangan

sebelumnya,faktor lingkungan atau diet yang berhubungan dengan
eksaserbasi saat ini dan sebelumnya.
c. Pengkajian fisik dilakukan dengan penekanan khusus pada  karekteristik dan
distribusi manifestasi kulit.
             d.  Observasi adanya manifestasieksema :
                  Distribusi lesi :
1.   Bentuk infantile-umum,terutama pipi,kulit kepala dan permukaan
ekstensor dan ekstermitas.
2.   Bentuk masa kanak-kanak area fleksural ( fosa antekubital dan fosa
popliteal,leher ) pergelangan tangan,pergelangan kaki dan kaki.
3.   Bentuk praremaja dan remaja-wajah,bagian leher,tangan,kaki,wajah.fosa
antekubital dan popliteal ( sampai luas yang lebih sedikit ).
Tampilan Lesi :
1.   Bentuk infantile: eritema, vesikel, papula, menangis, merembes, krusta,
mengelupas, seringkali simetris.
2.   Bentuk lesi dimasa kanak-kanak : simetris,kelompok eritema kecil atau
papula berwarna merah seperti daging atau bercak yang mengelupas
yang minimal.Kering dan mungkin hiperpigmentasi.Lisenifikasi (



13




penebalan kulit dengan penekanan –penekanan lipatan).Keratosis pilaris
(hyperkeratosis folikular ) merupakan hal yang umum terjadi.
3.   Bentuk remaja/dewasa : sama dengan manifestasi masa kanak-
kanak.Lesi kering dan tebal (plak mengalami lisensifikasi ) merupakan
hal umum terjadi.papula berkumpul.
Manifestasi lain :
1.   Gatal terus menerus
2.   Kulit yang tidak sakit kering dan kasar
3.   Dapat menunjukan satu atau lebih hal-hal berikut :
   Limpadenopati,terutama pada area yang sakit
   Peningkatan lipatan palmar
   Lipatan atopik ( garis atau lekukan tambahan pada kelopak mata
bawah )
   Cenderung mengalami tangan dingin
   Pitiriasis alba(area hipopigmentasi kecil dan terbatas tidak tegas)
   Wajah pucat (khususnya sekitar hidung,mulut dan telinga)
   Perubahan warna kebiruan dibawah mata (bengkak allergic) 
   Peningkatan kerentanan terhadap infeksi kutan tak umum
(terutama virus)
4.   Observasi tipe,distribusi dan bukti infeksi sekunder dari lesi
5.   Lakukan atau Bantu dengan prosedur diagnostic tes kulit,diet
eliminasi.
3.5.2 Diagnosa Keperawatan Dan Intervensi
Diagnosa Keperawatan 1 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
eksema.
Tujuan perawatan : Mempertahankan hidrasi kulit. 

Intervensi
Jaga agar kuku, jari tangan dan kaki
tetap      pendek      dan      bersih,      jika
memungkinkan pakaian sarung tangan
katun lembut atau stocking



14

Rasional
Minimalkan trauma dan infeksi
sekunder




Hindari     penggunaan     pakaian     dan
bahan-bahan yang dapat mestimulasi
gatal misalnya : bahan nilon, wol,
boneka berbulu, gunakan pakaian dari
katun



Pakaian dari bahan-bahan nilon
dan    wol     dapat    meningkatkan
keringat yang dapat meningkatkan
rasa gatal

Hindari ruangan dari panas dan lembab     Keringat akan memperberat rasa
gatal

Dorong untuk tidur dan istirahat
adequat
Berikan mandi koloit (misalnya tepung
pati dalam air hangat)
Lakukan program terapeutik yang
ditetapkan (metode kering: jangan
sering memandikan, bersihkan kulit
dengan agens non lipit, hidropilik; dan
mandi basah; mandikan dengan sering,
penggunaan lubrikans, gunakan hanya
sabun sangat ringan
Berikan anti histamine oral, sedative
ringan, bila diresepkan

Kelebihan dan peka rangsangan
lebih cenderung untuk menggaruk
Mengurangi rasa gatal yang berat
khususnya menjelang tidur
Mempertahankan     hidrasi     kulit:
metode basah untuk menjaga
kelembaban tetap ada dalam kulit








Mencegah pengeluaran histamine,
sedative ringan memungkinkan
anak dapat istirahat yang cukup



Diagnosa Keperawatan 2 : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan
ketidak nyamanan anak dan lamanya terapi
Tujuan perawatan : Keluarga klien dapat memberikan perawatan lanjutan di
rumah



Intervensi


Rasional

Dorong aktifitas bermain yang sesuai
dengan      kondisi      kulit      dan      usia
perkembangan anak



15

Menfasilitasi
normal

perkembangan




Berikan bermain kinestetik, mainan
yang bergerak dan besar



Memerlukan keterampilan motorik
halus bila tangan ditutupi

 Demonstrasikan prosedur yang tepat
untuk       pengenceran       sabun       dan

Meningkatkan
keluarga

kemampuan
dalam program

penggunaan balutan basah 
Anjurkan pemasanan balutan pada saat
yang     tenang      ketika      anak     telah
beristirahat dengan baik dan telah
menerima obat-obatan untuk rasa gatal
Berikan       penjelasan alasan diet
hipoalergenik       atau       pembuanagan
inhalan
Kaji      lingkungan      rumah     sebelum
memberikan cara-cara menghilangkan

perawatan lanjutan di rumah
Meningkatkan     kerjasama anak
selama penatalaksanaan tindakan
dilakukan


Meningkatkan kepatuhan program
terapi


Kemampuan       keluarga       dalam
pencegahan inhalan dicapai bila

inhalan

ada

kepastian cara-cara







4. Scabies
4.1 Konsep Dasar

penatalaksanaan yang benar

Scabies adalah penyakit menular akibat infestasi tungau sarcobtes scabei varian
hominis dan produknya pada tubuh ( M.Dali Amiruddin,2003 )
Pada populasi yang besar dan padat,inseden scabies tinggi karena kemungkinan
kontak person besar.Penyakit ini juga sering disebut : the itch,gudik,budukan,gatal
agogo.
4.2 Masa Inkubasi
Masa inkubasi bervariasi ada yang beberapa minggu bahkan berbulan-bulan tanpa
menunjukan gejala,terutama scabies pada orang bersih.Mellanby menunjukan
sensitisasi dimulai 2-4 minggu setelah penyakit dimulai.selama waktu tersebut tungau
betina berada diatas kulit atau sedang menggalai terowongan tanpa menimbulkan





16





gejala seperti gatal.Gatal muncul setelah penderita tersentisasi oleh ekskreta kutu
yang merupakan gejala subjektif yang menonjol dan sangat mengganggu.
4.3 Gambaran Klinis 
Dikenal 4 ( empat ) tanda terutama ( Cardinal Sign ) pada infeksi yaitu :
a.   Pruritusnocturna : gatal yang hebat pada malam hari,hal ini disebabkan karena
meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan panas.
b.   Sekelompok orang : penyakit ini menyerang manusia secara kelompok,misalnya
dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena.
c.   Adanya terowongan ( kunikulus/kanalikuli) :kelangsungan hidup sarcoptes scabie
sangat tergantung kepada kemampuannya meletakkan telur,larva dan limfa
didalam stratum korneum.Terowongan ini biasanya berbentuk baris lurus atau
berkelok,rata-rata panjangnya 1 cm,berwarna putih keabu-abuan,pada ujung
terowongan ditemukan papul atau vesikel.bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya
menjadi polimorfi (pustule,ekskoriasis dan lain-lain ).
d.   Menemukan      sarcoptes      Scabei      :      apabila      kita      dapat     menemukan
kunikulus/terowongan yang masih utuh kemungkinan besar kita dapat
menemukan tungau dewasa,larva,limfa maupun skibala dan ini merupakan hal
yang palinh diagnostic.
Scabies pada bayi dan anak : lesi scabies pada anak dapat mengenai seluruh
tubuh,termasuk seluruh kepala,leher,telapak tangan,telapak kaki dan sering terjadi
infeksi sekunder berupa impetigo,eksima sehingga terowongan jarang
ditemukan.Pada bayi,lesi terdapat diwajah.           
4.4 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan tungau pada lesi.Beberapa cara untuk
menemukan tungau dan produknya yaitu :
 Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral dan larutan KOH
10%,lalu lakukan kerokan dengan menggunakan scalpel steril.Bahan pemeriksaan
diletakkan diatas objek gelas dan ditutup dengan kaca lalu diperiksa dibawah
mikroskop.
 Mengambil tungau dengan jarum



17




Carilah terowongan,kemudian gunakan jarum suntik yang runcing ditusukkan
kedalam terowongan yang utuh dengan menggerakan jarum secara tangensial
keujung lainnya,kemudian mengeluarkannya,akan dapat terlihat tungau berada pada
ujung jarum berupa parasit yang sangat kecil dan transparan.
 Tes tinta pada terowongan ( Burrow ink test )
Papula scabies dilapisi dengan tinta cina,dibiarkan selama 20 – 30 menit kemudian
dihapus dengan alcohol,tes dinyatakan positif bila terbentuk gambaran kanalikuli
yang khas berupa garis menyerupai huruf S
 Membuat biopsy irisan ( epidermal shave biopsy )
Lesi jepitan dengan ibu jari dan telunjuk kemudian dibuat irisan tipis sangat
superficial dengan pisau,kemudian diletakkan dibawah objek gelas,ditetesi dengan
minyak mineral dan diperiksa dibawah mikroskop.
 Uji tetrasiklin
Pada lesi diolesi salep tetrasiklin,apabila tetrasiklin sudah masuk kedalam
kanalikuli kemudian dibersihkan dan dengan menggunakan sinar ultraviolet dari
lampu wood,tetrasiklin tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan
pada kanalikuli.
4.5 Penatalaksanaan terapi dan managemen perawatan 
 Penatalaksanaan umum
Pemeliharaan kebersihan badan,pakaian,sprei dan handuk yang digunakan harus
dicuci secara teratur bila perlu direndam dengan air panas.
 Penatalaksanaan khusus
Pemberian obat-obatan harus didasarkan atas efekasi dan potensi toksisitas dan cara
penggunaan obat yang tepat.
Terapi local :
~ Diberikan mandi hangat dan kulit digosok dengan flannel kasar
~ Setelah kulit dikeringkan,dioleskan emulsi benzyl benzoate dengan tangan pada
semua bagian kulit,dari leher sampai jari-jari.Ruangan harus hangat dan emulsi
dibiarkan kering sebelum anak diberikan pakaian.
~ Anak tidak dimandikan selama 48 jam,jika tangan dicuci maka emulsi ini diberikan
kembali.



18



~ Kemungkinan diberikan terapi kedua.
Seluruh keluarga harus diobati dan ini biasanya dilakukan dengan rawat jalan.
Terdapat beberapa obat khusus scabies yaitu :
~ Sulfur : dalam bentuk paraffin lunak,padat dan berwarna,dengan konsentrasi 10
%.Digunakan setiap malam hari selama 3 malam,lalu dicuci bersih setelah 24 jam
dan bisa diulangi setelah 1 minggu kemudian.
~ Benzil benzoate : Bahan sintesa dari balsem perlu dalam bentuk emulsi atau losion
12-14 % namun biasanya 25 %,digunakan pada kulit selama 24 jam,diberikan setiap
2-3 hari berturut-turut atau dengan interval 1 minggu.
~ Gamma benzene heksaklorida : tersedia dalam bentuk krim.lotion,gel,tidak berbau
dan tidak berwarna,bersifat scabisid atau mematikan kutu.Cara pemakaian dengan
mengoleskan keseluruh tubuh dari leher kebawah selama 12/24 jam dalam bentuk
krim 1 % atau lotion.
~ Permethin
~ Crotamiton krim
 ~ Ivermectin
4.6 Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
   Lakukan pemeriksaan fisik khususnya pengkajian sistem integument,pemeriksaan
karakteristik dan distribusi manifestasi kulit.Pengkajian keluhan khususnya adanya
pruritusnocturna observasi adanya terowongan/kunikulus.
 Dapatkan riwayat kesehatan anggota keluarga lain kemungkinan penyebaran
penyakit.
 Kaji personal hygene,kebersihan lingkungan rumah dan status nutrisi.
c.   Diagnosa keperawatan dan intervensi


 Diagnosa keperawatan 1 : nyeri berhubungan dengan lesi kulit
 Tujuan : Klien mengalami ketidaknyamanan minimal

Intervensi
Jaga agar kulit tetap bersih,ganti
pakaian tidur dan linen setiap hari



19

Rasional
Mencegah      ekskoriasi      dan
infeksi kulit




Lakukan strategi nonfarmakologis



Tekhnik-tekhnik



seperti

untuk membantu anak mengatasi
nyeri


Gunakan strategi yang dikenal
anak atau gambarkan beberapa
strategi dan biarkan anak memilih
salah satunya
Libatkan      orang      tua      dalam
pemilihan styrategi


Bantu atau minta orang tua

relaksasi,pernafasan berirama
dan distraksi dapat membuat
nyeri,dapat lebih ditoleransi 
Memudahkan       pembelajaran
anak dan penggunaan strategi
yang tepat.


Orang tua penting dilibatkan
karena mengetahui lebih dekat
dengan anak
Pelatihan     diperlukan     untuk

membantu

anak

dengan

membantu anak berfokus pada

menggunakan     strategi     selama tindakan yang diperlukan.
nyeri actual

Berikan     analgesic      dan     anti

Impuls

analgesia

dapat

pruritus sesuai kebutuhan dan
ketentuan 

memblok rasa nyeri sebelum
sampai     keotak,meningkatkan
nilai      ambang      nyeri      dari
reseptor nyeri pada kulit.





Diagnosa Keperawatan 2 : Rersiko penularan penyakit berhubungan dengan 
penjamu dan agen infeksi.
Tujuan : Klien tidak dapat menyebarkan penyakit.

Intervensi
Lakukan     pengendalian     infeksi

Rasional
Pengendalian infeksi yang ketat

yang tepat,lakukan isolasi 

akan

mengurangi

resiko



Pertahankan hygene personal dan
lingkungan

penularan penyakit
Menurunkan     pemajanan     pada
organisme hidup




20




Ajarkan anak yang sakit metode  Melatih anak melakukan tindakan

protektif pengendalian infeksi

pencegahan penyebaran infeksi

Ajarkan

pada

keluarga

Penyebaran infeksi akan lebih

pengendalian penyebaran infeksi
dan kepatuhan mengikuti program
terapi
Berikan obat anti biotik bila
diresepkan

efektif bila keluarga memahami
cara     penularan     dan    program
pengobatan yang tuntas.
Mengatasi dan mencegah infeksi

Dukung

pertahanan

tubuh

Status     nutrisi     yang     aedkuat

alamiah melalui nutrisi yang baik

meningkatkan pertahanan tubuh
terhadap agen infeksi.





Diagnosa Keperawatan 3 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
penggarukkan pruritus.
Tujuan : Klien dapat mempertahankan integritas kuli



Intervensi
Jaga agar kuku tetap pendek dan
bersih
Pakaikan sarung tangan atau
restrein siku


Rasional
Meminimalkan trauma dan infeksi
sekunder
Mencegah trauma dan penggarukkan

Berikan
tipis,longgar
mengiritasi 

pakaian
dan

yang
tidak

Panas yang berlebihan menyebabkan
stimulus rasa gatal

Tutup area dengan pakaian
selapis

Mencegah penggarukkan langsung
pada kulit

Berikan

lotion

yang

Area lesi terbuka absorbsi obat

melembutkan sedikit saja pada
area terbuka

meningkat,lotion dank rim khusus
menurunkan pruritus




21




Ajarkan
penatalaksanaan
terapeutik



keluarga
tindakan



Meningkatkan kemampuan keluarga
dalam memberikan perawatan yang
tepat

Berikan
diresepkan

antipruritus bila

Meminimalkan stimulus gatal.























































22





DAFTAR PUSTAKA


1.   Departemen Kesehatan R.J. 1993.
2.   Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 1989.
3.   Dona L. Wong, Edisi 4. 2003.
4.   Aryani.




















































23

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar