Info Kesehatan

healhty

Jumat, 27 April 2012

ASKEP GANGGUAN SOSIAL


1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut petunjuk teknis standar asuhan keperawatan jiwa direktorat
kesehatan jiwa (1994:117) Gangguan hubungan sosial merupakan gangguan
kepribadian yang tidak fleksibel. Pola tingkah lakunya maladaptik,
mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosialnya. Hal ini disebabkan
oleh cara pemecahan masalah yang diselesaikannya kepada orang lain atau
lingkungan sosialnya.
Gangguan hubungan sosial terdiri atas isolasi sosial dan kerusakan
interaksi sosial. Isolasi sosial dapat diakibatkan dari berbagai situasi, dan
masalah kesehatan yang berhubungan dengan kehilangan hubungan yang telah
terbentuk atau kegagalan untuk mempertahankan hubungan ini. Masalah
tersebut merupakan 10 diagnosis keperawatan yang banyak ditemukan di
rumah sakit jiwa berdasarkan kongres nasional pada tahun 2005. Akan tetapi
belum dikatahui secara pasti berapa epidemiologi pada kasus tersebut.
Gangguan hubungan sosial bisa terjadi pada orang yang mengalami
penganiayaan dan pengabaian di lingkungannya, hubungan orang tua-anak
tidak memuaskan, model-model peran yang negative, ketakutan terhadap
penolakan oleh masyarakat, kurang identitas pribadi. sehingga terjadi
kerusakan interaksi sosial dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan
orang lain yang akan mengarah pada perilaku menarik diri.
Dalam menghadapi masalah tersebut, seorang perawat jiwa dituntut untuk
mampu menguasai asuhan keperawatan dengan baik dan benar. Dalam
makalah ini kami akan menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien
dengan masalah utama ganguan hubungan sosial : menarik diri. Kami
berharap dengan adanya makalah ini bisa menjadi pedoman dalam
melaksanakan proses keperawatan bagi pasien dengan gangguan hubungan
sosial : menarik diri. Selain itu, menggunakan ilmu keperawatan sebagai
landasan berpikir dan menjadikan diri perawat sebagai alat yang efektif dan
2
terapeutik bisa mempercepat penyembuhan dalam merawat klien yang
mengalami gangguan hubungan sosial.
1.2 Rumusan masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan hubungan social:
menarik diri?
1.3 Tujuan
Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menjelaskan dan melaksanakan asuhan keperawatan pada
klien dengan gangguan hubungan social: menarik diri
Tujuan khusus
1. Menjelaskan konsep gangguan hubungan sosial.
2. Menerangkan proses keperawatan untuk klien dengan masalah utama
gangguan hubungan sosial: menarik diri.
3. Merancang kasus klien dengan masalah utama menarik diri.
4. Menerapkan konsep proses keperawatan pada kasus klien dengan masalah
utama menarik diri.
1.4 Manfaat
Bagi Perawat
1. Pembaca khususnya mahasiswa keperawatan dapat melaksanakan asuhan
keparawatan pada klien dengan gangguan sosial secara tepat
2. Mahasiswa keperawatan bisa memberikan pelayanan kasehatan pada klien
dengan gangguan hubungan social secara professional.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gangguan Hubungan Sosial
2.1.1. Pengertian
Menurut petunjuk teknis standar asuhan keperawatan jiwa direktorat
kesehatan jiwa (1994:117). Gangguan hubungan sosial adalah gangguan
kepribadian yang tidak fleksibel. Pola tingkah lakunya maladaptik,
mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosialnya. Hal ini disebabkan
oleh cara pemecahan masalah yang diselesaikannya kepada orang lain atau
lingkungan sosialnya.
Ganguan hubungan sosial atau bisa disebut kerusakan interaksi sosial
adalah satu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkah maladaptif dan
mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya (Stuart dan Sundeen,
1 998). Pengertian kerusakan sosial menurut Townsend (1998) adalah suatu
keadaan seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan
kualitas yang tidak efektif. Klien yang mengalami kerusakan interaksi sosial
mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain yang salah satunya
mengarah pada perilaku menarik diri.
2.1.2. Perilaku Menarik Diri
2.1.2.1. Pengertian
Adalah usaha menghidari interaksi dengan orang lain di mana
individu merasa bahwa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai
kesempatan membagi rasa, fikiran, prestasi / kegagalan, ia mempunyai
kesulitan berhubungan secara spontan dengan orang lain yang
dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tak
sanggup membagi pengalaman dengan orang lain.
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993).
Menurut Townsend, M.C (1998) Menarik diri merupakan suatu keadaan di
mana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara
4
terbuka dengan orang lain. Sedangkan menurut Dekes RI (1989) Penarikan
diri atau withdrawal merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian
ataupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung yang dapat
bersifat sementara atau menetap. Terjadinya perilaku menarik diri dipengaruhi
oleh faktor predisposisi dan stressor presipitasi. Faktor perkembangan dan
sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri.
Kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri,
tidak percaya orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap
hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu
merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan menimbulkan perilaku
tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, menghindar dari orang lain,
lebih menyukai berdiam diri sendiri, kegiatan sehari-hari hampir terabaikan.
2.1.2.2. Etiologi
Menurut Townsend (1998) penyebab penarikan diri dari masa bayi sampai
tahap akhir perkembangannya adalah :
a. Kelainan pada konsep diri
b. Perkembangan ego yang terlambat
c. Perlambatan mental yang ringan sampai sedang
d. Abnormalitas SSP tertentu, seperti adanya neurotoksin, epilepsi, serebral
palsi, atau kelainan neurologist lainnya
e. Kelainan fungsi dari sistem keluarga
f. Lingkungan yang tidak terorganisir dan semrawut
g. Penganiayaan dan pengabaian anak
h. Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan
i. Model-model peran yang negatif
j. Fiksasi dalam fase perkembangan penyesuaian
k. Ketakutan yang sangat terhadap penolakan dan terlalu terjerumus
l. Kurang identitas pribadi
Manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, selalu membutuhkan
orang lain dan lingkungan sosial. Rentang respon sosial berfluktuasi dengan
rentang adaptif sampai rentang maladaptif.
5
2.1.2.3. Penatalaksanaan
Menurut Keliat, dkk.,(1998), prinsip penatalaksanaan klien menarik diri adalah:
a. Bina hubungan saling percaya
b. Ciptakan lingkungan yang terapeutik
c. Beri klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
d. Dengarkan klien dengan penuh empati
e. Temani klien dan lakukan komunikasi tera peutik
f. Lakukan kontak sering dan singkat
g. Lakukan perawatan fisik
h. Lindungi klien
i. Rekreasi
j. Gali latar belakang masalah dan beri alternatif pemecahan
k. Laksanakan program terapi dokter
l. Lakukan terapi keluarga
Penatalaksanaan medis (Rasmun,2001):
Obat anti psikotik
1. Clorpromazine (CPZ)
a) Indikasi
Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai
realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri
terganggu, berdaya berat dalam fungsi -fungsi mental: waham, halusinasi,
gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau, tidak terkendali, berdaya
berat dalam fungsi kehidupan sehari -hari, tidak mampu bekerja, hubungan
sosial dan melakukan kegiatan rutin.
b) Mekanisme kerja
Memblokade dopamine pada reseptor paska sinap di otak khususnya
sistem ekstra piramidal.
c) Efek samping
Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/ parasimpatik, mulut
kering, kesulitan dalam miksi, dan defikasi, hidung tersumbat, mata kabur,
tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung), gangguan ekstra
6
piramidal (distonia akut, akatshia, sindroma parkinson/tremor,
bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin, metabolik, hematologik,
agranulosis, biasanya untuk pemakaian jangka panjang.
d) Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris,
ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran disebabkan CNS
Depresan.
2. Haloperidol (HP)
a) Indikasi
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta
dalam fungsi kehidupan sehari -hari.
b) Mekanisme kerja
Obat anti psikosis dalam memblokade dopamine pada reseptor paska
sinaptik neuron di otak khususnya sistem limbik dan sistim ekstra
piramidal.
c) Efek samping
Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi,
antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi,
hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan
irama jantung).
d) Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris,
ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.
3. Trihexy phenidyl (THP)
a) Indikasi
Segala jenis penyakit parkinson,termasuk paska ensepalitis dan
idiopatik,sindrom parkinson akibat obat misalnya reserpin dan fenotiazine.
b) Mekanisme kerja
Obat anti psikosis dalam memblokade dopamin pada reseptor paska
sinaptik nauron diotak khususnya sistem limbik dan sistem ekstra
piramidal.
c) Efek samping
7
Sedasi dan inhibisi psikomotor Gangguan otonomik (hypertensi, anti
kolinergik/ parasimpatik, mulut kering, kesulitanmiksi dan defikasi,
hidung tersumbat, mata k abur, tekanan intra oluker meninggi, gangguan
irama jantung).
d) Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, fibris,
ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran .
2.1.2.4. Karakteristik Perilaku Menarik Diri
· Gangguan pola makan : tidak ada nafsu makan / minum berlebihan
· Berat badan menurun /meningkat dratis
· Kemunduran kesehatan fisik
· Tidur berlebihan
· Tinggal ditempat tidur dalam waktu yang lama
· Banyak tidur siang
· Kurang bergairah
· Tak mempedulikan lingkungan
· Aktivitas menurun
· Mondar – mandir / sikap mematung, melakukan gerakan secra berulang (jalan
mondar mandir)
· Menurunnya kegiatan seksual
2.1.2.5. Akibat Menarik Diri
Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakibat adanya
terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini
merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive, dimana
halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang
nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa
stimulus/ rangsangan eksternal.
Gejala Klinis :
1. bicara, senyum dan tertawa sendiri
2. menarik diri dan menghindar dari orang lain
8
3. tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata
4. tidak dapat memusatkan perhatian
5. curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan
lingkungannya), takut
6. ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
(Budi Anna Keliat, 1999)
2.2 ASUHAN KEPERAWATAN
2.2.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
Meliputi Nama, umur, Informan, Status pendidikan, Status Pekerjan, Status
Pernikahan, Tanggal Pengkajian.
2. Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi
kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang
lain ,tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen.
3. Faktor Predisposisi
3.1 Faktor perkembangan
Secara teori, kurangnya stimulasi, kasih sayang dan kehangatan dari ibu
(pengasuh) pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat
menghambat terbentuknya rasa percaya.
3.2 Faktor biologis
Gangguan dalam otak, seperti pada skizofrenia terdapat struktur otak yang
abnormal ( atropi otak, perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbik
dan daerah kortikal).
3.3 Faktor sosiokultural
Isoloasi sosial dapat terjadi, salah satunya pada tuntutan lingkungan yang
terlalu tinggi. Dan jga bisa disebabkan norma2 yang salah dianut keluarga,
seperti : anggota keluarga tidak produktif ( lansia, berpenyakit kronis dan
penyandang cacat) diasingkan dari lingkungan sosialnya.
9
3.4 Faktor komunikasi dalam keluarga :
Komunikasi yang tidak jelas (suatu keadaan dimana seorang anggota
keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu yang
bersamaan), ekpresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat
untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.
4. Faktor Presipitasi
Stressor psikologis seperti intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang
disertai terbatasnya kemampuan individu untuk mengatasi masalah diyakini akan
menimbulkan berbagai masalah kerusakan hubungan sosial menarik dri.
ü Faktor eksternal : stressor sosial budaya : stres yang ditimbulkan oleh faktor
sosial budaya ( keluarga).
ü Faktor Internal : stresor psikologik : stres terjadi akibat ansietas
berkepanjangan disertai keterbatasan kemampuan mengatasinya.
5. Perilaku
Tingkah laku klien menarik diri:
a. Kurang spontan
b. Apatis (acuh terhadap lingkungan)
c. Ekspresi wajah kurang berseri
d. Afek tumpul
e. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
f. Komunukasi verbal menurun/tidak ada
g. Mengisolasi diri
h. Kurang sadar dengan lingkungan sekitar
i. Pemasukan makanan dan minuman terganggu
j. Retensi urine dan feses
k. Aktivitas menurun
l. Kurang energi (tenaga)
m. Harga diri rendah
n. Menolak berhubungan dengan orang lain.
10
6. Fisik
ADL (Aktiviti Daily Life)
Masalah nutrisi, kebersihan diri, tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan
aktivitas fisik yang menurun akan muncul pada klien dengan menarik diri.
7. Psikososial
a. Genogram tiga generasi
Tidak ada pola genogram khusus atau spesifik untuk pasien gangguan
hubungan social : menarik diri.
b. Konsep Diri
· Gambaran Diri :
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak
menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi.
Menolak penjelasan perubahan tubuh , persepsi negatip tentang tubuh .
Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang , mengungkapkan keputus
asaan, mengungkapkan ketakutan.
· Identitas :
Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan keinginan dan
tidak mampu mengambil keputusan .
· Peran :
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses
menua , putus sekolah, PHK.
· Ideal Diri :
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan
keinginan yang terlalu tinggi.
· Harga Diri :
Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap diri sendiri
, gangguan hubungan sosial , merendahkan martabat , mencederai diri,
dan kurang percaya diri.
c. Hubungan Sosial
Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga social
dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam
11
masyarakat.
8. Status emosi
Afek tidak sesuai merasa bersalah dan malu, sikap negatif yang curiga,rendah
diri dan kecemasan berat. Kontak mata klien kurang / tidak dapat
mepertahankan kontak mata , kurang dapat memulai pembicaraan , klien
suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain. Adanya
perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.
9. Kebutuhan Persiapan Pulang
1. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan
2. Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC,
membersikan dan merapikan pakaian.
3. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi
4. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur , dapat beraktivitas didalam dan
diluar rumah
5. Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
10. Mekanisme Koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada
orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri)
11. Daftar Masalah Keperawatan
a. Isolasi sosial : menarik diri
b. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
c. Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang
lain
d. Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal.
e. Intoleransi aktifitas.
f. Kekerasan resiko tinggi.
12
ANALISA DATA
DATA-DATA MASALAH KEPERAWATAN
Data Subjektif :
a. Mengungkapkan perasaan tidak
berguna, penolakan oleh lingkungan
b. Mengungkapkan keraguan tentang
kemampuan yang dimiliki
Data Objektif :
a. Tampak menyendiri dalam ruangan
b. Tidak berkomunikasi, menarik diri
c. Tidak melakukan kontak mata
d. Tampak sedih, afek datar
e. Posisi meringkuk di tempat tidur
dengang punggung menghadap ke
pintu
f. Adanya perhatian dan tindakan yang
tidak sesuai atau imatur dengan
perkembangan usianya
g. Kegagalan untuk berinterakasi dengan
orang lain didekatnya
h. Kurang aktivitas fisik dan verbal
i. Tidak mampu membuat keputusan dan
berkonsentrasi
j. Mengekspresikan perasaan ksepian
dan penolakan di wajahnya
Isolasi sosial : menarik diri
Data Subjektif :
a. Mengkritik diri sendiri atau orang lain
b. Perasaan tidak mampu
c. Rasa bersalah
d. Sikap negatif pada diri sendiri
e. Sikap pesimis pada kehidupan
f. Keluhan sakit fisik
g. Menolak kemampuan diri sendiri
h. Pengurangan diri/mengejek diri sendiri
i. Perasaan cemas dan takut
j. Merasionalisasi penolakan/menjauh
dari umpan balik positif
k. Mengungkapkan kegagalan pribadi
l. Ketidak mampuan menentukan tujuan
Data Objektif :
a. Produktivitas menurun
b. Perilaku destruktif pada diri sendiri
c. Menarik diri dari hubungan sosial
d. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
e. Menunjukkan tanda depresi (sukar
tidur dan sukar makan)
Gangguan konsep diri : harga diri rendah
13
Pohon Masalah
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan menarik diri.
1. Resiko melakukan kekerasan berhubungan dengan menarik diri.
2. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah kronis.
Resiko perilaku kekerasan
: Bunuh Diri
Akibat
Isolasi Sosial : Menarik Diri
Masalah Utama
Gangguan konsep diri :
Harga diri rendah kronis,
Kehilangan, Mekanisme
Koping Maladaptif
Penyebab
Defisit perawatan diri
: mandi dan berhias
Gangguan
pemeliharaan
kesehatan
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
14
No. Perencanaan
Diagnosis
Diagnosis
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi
Intervensi
1 ____ berhubungan
dengan menarik
diri
TUM :
Klien dapat
berinteraksi dengan
orang lain sehingga
tidak terjadi
halusinasi.
TUK 1 :
Klien dapat membina
hubungan saling
percaya.
1.1 Ekspresi wajah bersahabat,
menunjukkan rasa senang, ada
kontak mata, mau berjabat
tangan, mau menyebutkan
nama, mau menjawab salam,
mau duduk berdampingan
dengan perawat, mau
mengutarakan masalah yang
dihadapi.
1.1.1 Bina hubungan saling percaya degan
menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
a. Sapa klien dengan nama baik verbal
maupun nonverbal.
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap dan nama
panggilan yang disukai klien.
d. Jelaskan tujuan pertemuan.
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima
klien apa adanya.
g. Berikan perhatian kepada klien dan
perhatikan kebutuhan dasar klien.
TUK 2 :
Klien dapat
menyebutkan
penyebab menarik
diri.
2.1 Klien dapat menyebutkan
penyebab menarik diri yang
berasal dari : diri sendiri, orang
lain, ligkungan.
2.1.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku
menarik diri dan tandanya.
a. ”Di rumah, ibu tinggal dengan siapa”
b. ”Siapa yang paling dekat dengan Ibu”
c. ”Apa yang membuat Ibu dekat
dengannya”
d. ”Dengan siapa Ibu tidak dekat”
e. ”Apa yang membuat ibu tidak dekat”
2.1.2 Beri kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan perasaan yang
menyebabkan klien tidak mau bergaul.
2.1.3 Berikan pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya.
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
15
TUK 3 :
Klien dapat
menyebutkan
keuntungan
berinteraksi dengan
orang lain dan
kerugian tidak
berinteraksi dengan
orang lain.
3.1 Klien dapat menyebutkan
keuntungan berinteraksi
dengan orang lain.
Misalnya :
- Banyak teman
- Tidak sendiri
- Bisa diskusi, dll.
3.2 Klien dapat menyebutkan
kerugian bila berinteraksi
dengan rang lain. Misalnya:
- Sendiri
- Tidak memiliki teman
- Sepi, dll.
3.1.1 Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan
memiliki teman.
3.1.2 Beri kesempatan kepada klien untuk
berinteraksi dengan orang lain.
3.1.3 Diskusi bersama klien tentang keuntungan
berinteraksi dengan orang lain.
3.1.4 Beri penguatan positif terhadap kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
3.2.1 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian
bila tidak berinteraksi dengan orang lain.
3.2.2 Beri kesempatan kepada klien untuk
mengungkapkan perasaan tentang kerugian
bila tidak berinteraksi dengan orang lain.
3.2.3 Diskusi bersama klien tentang kerugian
tidak berinteraksi dengan orang lain.
3.2.4 Beri penguatan positif terhadap kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang kerugian
tidak berinteraksi dengan orang lain.
TUK 4 :
Klien dapat
melaksanakan
interaksi sosial secara
bertahap.
4.1 Klien dapat mendemontrasikan
interaksi sosial secara bertahap
antara :
· Klien – Perawat
· Klien – Perawat – Perawat
lain
· Klien – Perawat – Perawat
lain – Klien lain
· Klien – Keluarga atau
kelompok masyarakat
4.1.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan
dngan orang lain.
4.1.2 Bermain peran tentang cara berhubungan
atau berinteraksi dengan orang lain.
4.1.3 Dorong dan bantu klien untuk berinteraksi
dengan orang lain melalui tahap :
· Klien – Perawat
· Klien – Perawat – Perawat lain
· Klien – Perawat – Perawat lain – Klien
lain
· Klien – Keluarga atau kelompok
masyarakat
4.1.4 Beri penguatan positif terhadap
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
16
keberhasilan yang telah dicapai.
4.1.5 Bantu klien untuk mengevaluasi keuntungan
menjalin hubungan sosial.
4.1.6 Diskusikan jadwal harian yang dapat
dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu, yaitu berinteraksi dengan orang lain.
4.1.7 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan
ruangan.
4.1.8 Beri penguatan positif atas kegiatan klien
dalam kegiatan ruangan.
TUK 5 :
Klien dapat
mengungkapkan
perasaannya setelah
berinteraksi dengan
orang lain.
5.1 Klien dapat mengungkapkan
perasaannya setelah
berinteraksi dengan orang lain
untuk :
· Diri sendiri
· Orang lain
5.1.1 Dorong klien untuk mengungkapkan
perasaanya bila berinteraksi dengan orang
lain.
5.1.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan
keuntungan beriteraksi dengan orang lain.
5.1.3 Beri penguatan positif atas kemampuan klien
mengungkapkan perasaan keuntungan
berhubungan dengan orang lain.
TUK 6 :
Klien dapat
memberdayakan
sistem pendukung
atau keluarga.
6.1 Keluarga dapat :
· Menjelaskan perasaannya
· Menjelaskan cara merawata
klien menarik diri
· Mendemonstrasikan cara
perawatan klien menarik
diri.
· Berpartisipasi dalam
perawatan klien menarik
diri.
6.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan
keluarga.
· Salam, perkenalkan diri
· Jelaskan tujuan
· Membuat kontrak
· Eksplorasi perasaan klien
6.1.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang
:
· Perilaku menarik diri
· Penyebab perilaku menarik diri
· Akibat yang akan terjadi jika perilaku
menarik diri tidak ditanggapi
· Cara keluarga menghadapi klein
menarik diri
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
17
6.1.3 Dorong anggota keluarga untuk memberi
dukungan kepada klien dalam berkomunikasi
dengan orang lain.
6.1.4 Anjurkan anggota keluarga untuk secara
rutin bergantian menjenguk klien minimal 1x
seminggu
6.1.5 Beri penguata positif atas halhal yang telah
dicapai oleh keluarga
TUK : 7
klien dapat
memanfaatkan obat
dengan baik
7.1 klien dapat menyebutkan :
- manfaat minum obat
- kerugian tidak minum obat
- nama, warna, dosis, efek terapi
dan efek sampin obat
7.2 klien dapat mendemonstrasikan
penggunaan obta dengan benar
7.3 klien menyebutkan akibat
berhenti minum obat tanpa
konsultasi dokter
7.1 diskusikan dengan klien tentang menfaat dan
kerugian tidak minum obat, nama, warna,
dosis, cara, efek samping penggunaan obat
7.2 pantau klien saat pengguanaan obat
7.3 beri pujian jika klien menggunakan obat
dengan benar
7.4 diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa
konsultasi dengan dokter
7.5 anjurkan klien untuk konsultasi kepada
dokter/ perawat jika terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
18
2.2.3. Implementasi
Dalam melaksanakan intervensi yang telah dibuat maka perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
a. Menetapkan hubungan saling percaya.
b. Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka.
c. Kenal dan dukung kelebihan pasien.
d. Membatasi orang yang berhubungan dengan pasien pada awal terapi.
e. Melakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin.
f. Membicarakan dengan pasien mengenai peristiwa yang menyebabkan
pasien menarik diri.
g. Menerangkan harapan dari tindakan secara bersama-sama dengan klien.
h. Menganjurkan kepada keluarga untuk tetap melakukan hubungan dengan
pasien.
i. Melibatkan klien dalam aktivitas kelompok.
j. Memperhatikan kebutuhan fisiologis klien.
k. Membantu pasien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai
melaksanakannya sendiri.
l. Memberikan obat sesuai dengan program medik dengan prinsip lima
benar.
m. Memfasilitasi pasien untuk berperan serta dalam terapi kelompok.
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
19
BAB III
ANALISIS KASUS
Klien Nn B 24 tahun anak ke 3 dari 7 bersaudara (tiga orang adik lain ibu)
dari keluarga bapak A (almarhum) dan ibu I (almarhum) bertempat tinggal di
Surabaya. Klien masuk rumah sakit pada tanggal 14 maret 2009 dirawat untuk
ketiga kalinya dengan keluhan utama klien sering merobek – robek bajunya,
telanjang, dan ingin lari dari rumah. Sejak kecil klien dianggap mengalami
gangguan jiwa, dianggap bodoh, sehingga klien tidak disekolahkan. Sebelumnya
pasien sudah pernah dirawat di rumah sakit jiwa dan sembuh (sekitar 1tahun yang
lalu). Tetapi setelah sembuh, di rumah selalu dikucilkan dan tidak pernah diajak
komunikasi, tidak ada teman dekat dan tidak ada keluarga yang dekat dengannya.
Akibatnya klien sering menyendiri, melamun, dan menggores – gores tubuhnya
dengan silet.
Keluarga merasa tidak mampu untuk merawat dan akhirnya klien dibawa
ke Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya dengan alasan mau diajak nonton film.
Selama di rumah sakit, ibu tiri klien tidak pernah menjenguk dan kadang kala
kakak kandung klien datang ke RSJ untuk membawakan pakaian dan membayar
biaya obat – obatan. Tetapi dia tidak mengakui klien sebagai adiknya. Dari hasil
observasi didapat data tentang klien yaitu klien sering berteriak – teriak jika
melihat orang yang memasuki kamarnya. Gaya bicara klien sangat hati – hati,
bicara apabila ditanya, jawaban singkat. Klien banyak duduk sendiri. Klien juga
mengatakan bahwa dia sulit untuk tidur. Yang berbeda dari pasien yang lain,
pasien tampak rapi berpakaian, bersih, dan rajin mandi. Tapi klien sering tidak
mau untuk makan hingga badannya tampak kurus. Dokter mendiagnosanya
dengan: Skizofrenia Simpleks
Terapi yang didapat: Nitrazepam 5mg, vitamin, dan Clomipramine 25 mg
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
20
PENGKAJIAN
Ruangan Rawat: Ruang Flamboyan RSJ Menur Surabaya
Tanggal dirawat: 14 Maret 2009
I. IDENTITAS KLIEN
Initial : Nn. B, perempuan
Umur : 24 tahun
Informan : kakak kandung
Status pendidikan : tidak pernah bersekolah
Status pekerjaan : tidak bekerja
Status pernikahan : belum menikah
Tanggal pengkajian : 10 Agustus 2009
RM No :
II. Alasan masuk:
Keluarga mengatakan bahwa klien sering menyendiri, merobek – robek
bajunya dan menggores – gores tubuhnya dengan silet.
III. Faktor Predisposisi
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu? Ya
2. Pengobatan sebelumnya? Kurang berhasil
3. Aniaya fisik : menganiaya diri sendiri
Aniaya seksual: tidak ada
Penolakan: klien sebagai korban penolakan dari keluarga
Kekerasan dalam keluarga: klien mengalami kekerasan secara
psikologis
Tindakan kriminal: tidak ada
4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?Tidak ada
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan:
Klien dianggap sakit jiwa sejak kecil sehingga klien dan dianggap
bodoh. Akibatnya klien tidak disekolahkan dan dikucilkan dalam
keluarga.
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
21
MK: Kurang Pengetahuan Keluarga tentang perawatan klien
keterbelakangan mental
IV. FISIK
1. Tanda vital : TD: 110/80 N: 90/menit S: 37C P: 20 x/menit
2. Ukur : TB: 155cm BB:40kg
3. Keluhan fisik: Pasien tidak mengeluh sakit ada fisiknya
MK: Tidak ditemukan masalah
V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram
a) Klien merasa tidak ada orang yang berarti di keluarga atau
lingkungannya. Sehingga dia tidak memiliki orang yang dekat dengan
dirinya.
b) Pengambil keputusan utama dalam keluarga adalah ibu tiri pasien.
Pencari nafkah adalah ibu tiri dan kakak kandungnya.
c) Pola komunikasi dalam keluarga buruk karena pasien tinggal bersama
dengan ibu dan saudara tiri. Sedangkan saudara kandungnya sibuk
berkerja. Akibatnya klien sering menyendiri, dan melamun. Klien tidak
disekolahkan dan dikucilkan dalam keluarga.
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
22
2. Konsep Diri
a) Gambaran Diri: klien tidak mengalami gangguan pada fisiknya sehingga
ganbaran dirinya tidak ada masalah.
b) Identitas: Klien tidak diakui dalam keluarga karena dianggap bodoh dan
gangguan jiwa.
c) Peran: Klien tidak memiliki peran yang bararti, karena klien cenderung
mengurung diri dan tidak mau berinteraksi denga lingkungan
d) Ideal Diri: Klien ingin dihargai sebagai anggota keluarga
e) Harga Diri: Pasien mengalami harga diri rendah karena tidak mendapat
pengakuan keluarga
MK: Gangguan konsep diri
3. Hubungan Sosial
d) Orang yang berarti: klien merasa tidak ada orang yang berarti di keluarga
atau lingkungannya.
e) Peran serta kelompok: Tidak melakukan peran apapun
f) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: Klien merasa malas
berkomunikasi dan berinteraksi akibatnya pasien lebih senang sendiri.
MK: Menarik Diri
4. Spiritual:klien tidak pernah beribadah
VI. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Tidak rapi (-)
Penggunaan pakaian tidak sesuai (-)
Cara berpakaian tidak seperti biasanya (-)
Klien sangat menjaga kepersihan dan kerapian dari tubuhnya
2. Pembicaraan
Cepat (-) Gagap (-)
Apatis (+) Membisu (-)
Keras (-) Inkoheren (-)
Lambat (+) Tidak mampu (-)
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
23
Klien masa bodoh saat diajak bicara. Klien cenderung malas diajak
bicara dan berusaha untuk menghindar. Bicara hanya pada saat ditanya
3. Aktivitas Motorik
Lesu (+) Gelisah (-)
TIK (-) Tremor (-)
Tegang (-) Agitasi(-)
Grimasen (-) Kompulsif (-)
Pasien lebih sering diam sambil menopang dagunya
4. Alam perasaan
Sedih (+) Khawatir (-)
Ketakutan (-) Gembira lebih (-)
Putus Asa (+)
Pasien sedih karena tidak ada seorang keluargapun yang menganggap
ada keberadaanya.
5. Afek:
Datar (+)
Ekspresi mukanya tidak berubah saat pertanyaan demi pertanyaan
dilontarkan kepadanya saat Bina Hubungan Saling Percaya maupun
pengkajian
6. Interaksi saat wawancara:
Bermusuhan (-) Defensif (-)
Kontak mata kurang (+) Mudah tersinggung (-)
Tidak kooperatif (+) Curiga (-)
Klien tidak pernah memandang pengkaji dan bersifat tidak kooperatif
karena pasien jarang mau menjawab pertanyaan yang diajukan selama
wawancara.
MK: Menarik diri
7. Persepsi:
Pendengaran (-) Penghidu (-)
Pengecapan (-) Perabaan (-)
Penglihatan (-)
MK: Tidak ditemukan masalah
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
24
8. Proses Berfikir
Blocking (+)
Klien sering tiba – tiba diam dalam proses wawancara
9. Isi Pikir
Pada klien tidak ditemukan masalah gangguan isi pikir
MK: tidak ditemukan masalah
10. Tingkat kesadaran
Bingung (+)
Paien dalam keadaan sadar walau kadang terlihat bingung
11. Memori
Klien tidak mengalami gangguan dalam ingatannya
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Tidak mampu berkonsentrasi (+)
Tidak mampu berkonsentrasi karena pasien lebih sering melamun dan
tidak memperhatikan perawat saat ditanya
13. Kemampuan Penilaian
Gangguan ringan (+) karena pasien masih bisa mengambil keputusan
saat diberi stimulus dalam bentuk pilihan oleh perawat.
14. Daya Tilik Diri
Menyalahkan hal-hal diluar dirinya (+) karena dia menyalahkan
keluarganya yang selalu menelantarkan dan tidak menganggapnya
hingga dia harus mengalamai gangguan jiwa.
MK: Tidak ditemukan masalah
VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1. Kemampuan klien memenuhi/ menyediakan kebutuhan:
Makanan (-)
Keamanan (-)
Tempat tinggal (-)
Perawatan kesehatan (-)
Pakaian (+)
Transportasi (-)
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
25
Uang (-)
Klien tidak bisa memenuhi kebutuhan – kebutuhan tersebut dan sangat
tergantung pada orang lain.
2. Kegiatan hidup sehari – hari
a. Perawatan Diri
Mandi (+) pasien rajin mandi
BAB/BAK (+) bantuan minimal
Kebersihan (+) bantuan minimal
Ganti pakaian (+) bantuan minimal
Makan (-) bantuan minimal
Klien cenderung perfeksionis dalam hal kebersihan dirinya. Sehingga
dia bisa melakukan perawatan diri secara mandiri tanpa bantuan dari
orang lain.
b. Nutrisi
Puas dengan pola makan (-)
Memisahkan diri (+)
c. Tidur
- Apakah ada masalah? Ya
- Apakah merasa segar setelah bangun? Tidak
- Apakah ada kebiasaan tidur siang? Tidak
- Apakah yang menolong anda untuk tidur? Obat
- Waktu tidur malam jam 10 bangun jam 3 pagi
Sulit tidur (+) Terbangun saat tidur (+)
Bangun tarlalu pagi (+) Gelisah saat tidur (+)
Somnabulisma (-) Berbicara saat tidur (-)
Paien sulit untuk memulai tidur. Hingga dia membutuhkan obat anti
insomnia untuk membantunya tidur.
3. Kemampuan klien dalam:
Mengantisipasi kebutuhan sendiri (-)
Membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri (-)
Mengatur penggunaan obat (-)
Melakukan pemeriksaan kesehatan (-)
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
26
Pasien mempunya kemampuan, tapi enggan untuk melakukan hingga
dia masih tergantung sekali pada orang lain.
4. Klien memiliki sistem pendukung:
Keluarga (-)
Profesional/terapis (+)
Teman sejawat (-)
Kelompok sosial (-)
Klien tidak memiliki sistem pendukung. Ini diakibatkan karena klien
tidak pernah melakukan interaksi dengan lingkungan sosial. Satu –
satunya tim oendukung yang ada adalah medis dan paramedis yang
merawatnhnya di rumah sakit
5. Apakah klien menikmati saat bekerja, kegiatan yang menghasilkan
atau hobi?Tidak
Klien tidak pernah menikmati apa yang menjadi kesenangannya karena
dia selalu mengurung diri.
MK: -
VIII. MEKANISME KOPING
Bicara dengan orang lain (-) Minum alkohol (-)
Mampu menyelesaikan masalah (-) Reaksi lambat (-)
Teknik relaksasi (-) Bekerja berlebihan (-)
Aktifitas konstruktif (-) Menghindar (-)
Olahraga (-) Mencederai diri (+)
MK: Potensial amuk
IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
- Masalah dengan dukungan kelompok: pasien tidak mendapat
dukungan kecuali dari tim medis dan paramedis
- Masalah berhubungan dengan lingkungan: Klien tidak pernah
berinteraksi dengan lingkungan
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
27
- Masalah pendidikan: klien tidak pernah mengenyam pendidikan
karena dahulu waktu kecil ia dianggap bodoh dan gangguan jiwa
sehingga oleh keluarganya tidak disekolahkan
- Masalah pekerjaan: klien tidak mengalami masalah karena dia tidak
pernah bekerja
- Masalah dengan perumahan: tidak ada masalah
- Masalah ekonomi: klien merasa tidak punya masalah dengan ekonomi
karena kebutuhannyas selama di rumah sakit dipenuhi oleh kakaknya
- Masalah dengan pelayanan kesehatan: tidak ada masalah
MK: Isolasi sosial
X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG
Penyakit Jiwa (+)
Faktor Presipitasi (+)
Koping (+)
Sistem Pendukung (+)
Penyakit fisik (+)
Obat – obatan (+)
MK: Kurang pengetahuan
XI. ASPEK MEDIK
Diagnosa Medik:Skizofrenia Simpleks
Terapi Medik: Nitrazepam 5mg
Vitamin
Clomipramine 25 mg
XII. DAFTAR MASALAH YANG MUNCUL
1. Kurang pengetahuan keluarga tentang perawatan klien
keterbelakangan mental.
2. Menarik diri
3. isolasi sosial
4. Potensial amuk
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
28
DATA – DATA MASALAH KEPERAWATAN
Data Subjektif:
- ”Nggak mau,males ah,”kata klien
saat diajak berkenalan
- ”Kayaknya gak ada lagi yang mau
diomongin, sekarang saya nggak
mikir apa – apa lagi,” kata klien
saat ditanya perasaanya
- ”Di rumah tidak pernah cerita sama
siapa – siapa, enakan sendirian,”
kata klien ketika ditanya apakah
dirumah sering cerita sama ibu atau
tidak
- ”Nggak apa – apa, males aja enak
duduk sendiri,”kata klien ketika
ditanya sebabnya ia tidak duduk
dengan teman - temannya
- ”Nggak tahu,malu,"jawab klien saat
ditanya kenapa dia tidak tahu siapa
nama temannya
Data Obyektif:
- Klien sering duduk sendiri
(menyendiri)
- Bila tidak ada kontak dengan
perawat, klien lebih banyak tidur.
Hanya berbicara bila ditanya
Menarik Diri
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
29
Pohon Masalah
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Resiko mencederai diri berhubungan dengan menarik diri
Resiko mencederai diri
sendiri
Akibat
Isolasi Sosial : Menarik Diri
Masalah Utama
Gangguan konsep diri :
Harga diri rendah kronis
Penyebab
Ketidakefektifan
koping keluarga :
ketidakmampuan
keluarga merawat
klien dirumah
Ketidakefektifan
penatalaksanaan
program terapeutik
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
30
Rencana tindakan keperawatan kesehatan jiwa
Nama : Nn. N Ruangan : M RM No :
Jjjjj No Dx.
Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
1. Resiko
mencederai
diri sendiri
b.d menarik
diri
TUM : klien dapat
berhubungan
dengan orang
lain/ lingkungan.
TUK:
1. klien dapat
membina
hubungan saling
percaya.
Klien dapat
menunjukkan tandatanda
percaya kepada
perawat :
Ekspresi wajah
bersahabat,
menunjukan rasa
senang, ada kontak
mata, mau berjabat
tangan, mau
menyebutkan nama,
mau menjawab salam,
mau duduk
berdampingan dengan
perawat, mau
mengutarakan masalah
yang dihadapi.
1.1 Bina hubungan saling percaya
dengan :
- sapa klien dengan ramah, baik
verbal maupun non verbal.
- Perkenalkan diri dengan
sopan
- Jelaskan tujuan perawat
berkenalan
- Jujur dan menepati janji setiap
kali berinteraksi
- Kontak mata selama interaksi
- Tunjukkan sikap empati dan
penuh perhatian pada klien
- Terima klien apa adanya
- Perhatikan kebutuhan dasar
klien
2. klien mampu
menyebutkan
penyebab menarik
diri
Klien dapat
menyebutkan
penyebab menarik diri
:
- diri sendiri
- orang lain
2.1 Tanyakan pada klien tentang :
- orang yang tinggal serumah/ teman
sekamar klien
- orang yang paling dekat dengan
klien di rumah / di ruang perawatan
- apa yang membuat klien dekat
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
31
- lingkungan dengan orang tersebut
- orang yang tidak dekat dengan klien
di rumah / di ruang perawatan
- apa yang membuat klien tidak dekat
dengan orang tersebut
- upaya apa yang sudah dilakukan
agar dekat dengan orang lain
2.2 Diskusikan dengan klien
penyebab menarik diri atau tidak mau
bergaul dengan orang lain
2.3 Beri pujian terhadap kemampuan
klien mengungkapkannya
perasaannya
3. klien klien
dapat
melaksanakan
hubungan sosial
secara bertahap
3. klien dapat
melaksanakan
hubungan sosial
secara bertahap
dengan :
- perawat
- perawat lain
- klien lain
- kelompok
3.1 observasi perilaku klien saat
berhubungan sosial
3.2 beri motivasi dan bantu klien
untuk berkenalan / berkomunikasi
dengan:
- perawat lain
- klien lain
- kelompok
3.3 libatkan klien dalam Terapi
Aktivitas Kelompok Sosialisasi
3.4 diskusikan jadwal harian yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan klien bersosialisasi
3.5 beri motivasi klien untuk
melakukan kegiatan sesuai dengan
jadwal yang telah dibuat.
3.6 beri pujian terhadap kemampuan
klien memperluas pergaulannya
melalui aktivitas yang dilaksanakan
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
32
4. klien mampu
menyebutkan
keuntungan
berhubungan
sosial dan
kerugian menarik
diri
4. klien dapat
menyebutkan
keuntungan
berhubungan sosial,
misalnya :
- banyak teman
- tidak kesepian
- bisa diskusi
- saling menolong
Dan kerugian menarik
diri, misalnya :
- sendiri
- kesepian
- tidak bisa
4.1 tanyakan pada klien
tentang:
- manfaat hubungan sosial
- kerugian menarik diri
4.2 diskusikan bersama
klien tentang manfaat
berhubungan sosial dan
kerugian menarik diri
4.3 beri pujia terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya
5. klien mendapat
dukungan dari
keluarga dalam
memperluas
hubungan sosial
5.1 Pertemuan
keluarga dapat
menjelaskan tentang :
- pengertian menarik
diri
- Tanda dan gejala
menarik diri
- penyebab dan akibat
menarik diri
Cara merawat klien
menarik diri
5.2 keluarga dapat
mempraktekkan cara
merawat klien menarik
diri
5.1 diskusikan pentingnya peran serta
keluarga sebagai pendukung untuk
mengatasi perilaku menarik diri
5.2 diskusikan potensi keluarga untuk
membantu klien mengatasi perilaku
menarik diri
5.3 Jelaskan pada keluarga tentang :
- pengertian menarik diri
- tanda dan gejala menarik diri
- penyebab dan akibat menarik diri
- cara merawat klien menarik diri
5.4 latih keluarga cara merawat klien
menarik diri
5.5 tanyakan perasaan keluarga
setelah mencoba cara yang dilatihkan
5.6 beri motivasi keluarga agar
membantu klien untuk bersosialisasi
5.7 beri pujian kepada keluarga atas
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
33
keterlibatannya merawat klien di RS
6. klien mampu
menjelaskan
perasaanya
setelah
berhubungan
sosial
6.1 klien dapat
menjelaskan
perasaannya setelah
berhubungan sosial
dengan :
- orang lain
- kelompok
5.1 diskusikan dengan klien tentang
perasaannya setelah berhubungan
sosial dengan :
- orang lain
- kelompok
5.2 beri pujian terhadap kemampuan
klien mengungkapkan perasaannya.
7. klien dapat
memanfaatkan
obat dengan baik
7.1 klien dapat
menyebutkan :
- manfaat minum obat
- kerugian tidak
minum obat
- nama, warna, dosis,
efek terapi dan efek
sampin obat
7.2 klien dapat
mendemonstrasikan
penggunaan obta
dengan benar
7.3 klien menyebutkan
akibat berhenti minum
obat tanpa konsultasi
dokter
7.1 diskusikan dengan klien tentang
menfaat dan kerugian tidak minum
obat, nama, warna, dosis, cara, efek
samping penggunaan obat
7.2 pantau klien saat pengguanaan
obat
7.3 beri pujian jika klien
menggunakan obat dengan benar
7.4 diskusikan akibat berhenti minum
obat tanpa konsultasi dengan dokter
7.5 anjurkan klien untuk konsultasi
kepada dokter/ perawat jika terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
34
BAB IV
PEMBAHASAN
Kasus diatas menguraikan bahwa masalah utama klien pada saat awal
MRSJ, klien mengalami gangguan hubungan sosial, berupa menarik diri. Hal itu
dikarenakan sejak masa kecil klien merasa dikucilkan oleh keluarganya, tidak
diperhatikan, dianggap bodoh, gila dan tidak pernah diajak berinteraksi oleh
siapapun. Karena tidak ada satu orangpun yang memberikannya perhatian
sehingga membuat klien lebih sering melamun dan berdiam diri di kamar, tidak
mau makan dan minum. Bahkan terkadang, klien mencoba untuk mencederai
dirinya sendiri dengan bunuh diri karena klien merasa kecewa berat karena tidak
ada satupun orangpun yang mau berinteraksi dengan klien dan klien masih tetap
dianggap gila sehingga hal tersebut membuat jiwanya tergoncang.
Melihat hal tersebut, keluarga merasa tidak mampu merawat dan akhirnya
klien dimasukkan ke RSJ. Kurangnya pengetahuan dalam perawatan orang sakit
jiwa, kurangnya dukungan dari pihak keluarga menyebabkan ketidakefektifan
pengobatan yang dilakukan di Rumah Sakit terutama saat pasien sudah
dipulangkan kepada keluarganya. Hal itulah yang menyebabkan keluarganya
membawa bolak-balik klien keluar-masuk RSJ hingga 3 kali.
Pada kasus ini, perilaku pasien menunjukkan kurangnya menjaga kesehatan
dirinya karena klien tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya dalam hal makan
dan minum. Meskipun klien mengurung dirinya di kamar terus, tapi selama
dikamar klien tidak pernah bisa tidur. Dalam hal ini, tidak sesuai dengan
pernyataan dalam teori yang menyatakan bahwa karakteristik dari perilaku
menarik diri adalah klien akan tinggal ditempat tidur dalam waktu yang lama
sehingga waktunya tidur itu berlebihan. Selain itu, pasien juga tidak mengalami
defisit perawatan diri, karena sebelumnya pasien pernah MRSJ dimana pada saat
itu klien diajarkan tentang bagaimana cara merawat diri.
Sehingga masalah utama pada klien ini yang harus ditangani adalah
menyelesaikan atau mengurangi masalah menarik diri. Pertama, bina hubungan
saling percaya sangat perlu untuk melakukan interaksi pertama kali dengan klien.
Diskusikan beberapa hal seputar menarik diri yang dilakukan klien. Bangkitkan
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
35
motivasi klien untuk mau dan mampu berkomunikasi dengan perawat , kelompok,
ataupun klien lain di RSJ. Beri pujian untuk setiap perkembangan yang dilakukan
oleh klien sehingga klien merasa lebih dihargai.
Pada saat melakukan pengkajian pada penyakit jiwa, tidak semua data
yang telah dituliskan dalam format pengkajian terpenuhi. Terlebih jika klien
bersifat non kooperatif dan tidak ada keluarga yang bisa mengklarifikasi
kebenaran dari cerita klien. Untuk menggali informasi yang lebih dalam, kita
sebagai perawat perlu membangun kepercayaan agar klien percaya dengan kita
dan mau bertindak kooperatif selama wawancara dilakukan. Ketepatan dan
kemampuan dalam pengkajian sangat menentukan keberhasilan dari asuhan
keperawatan yang akan dilakukan selanjutnya.
Dalam hal ini dapat disimpulkan, bahwa tidak semua yang ada pada teori
itu sesuai dengan yang ada pada kenyataan, misalnya pada masalah Nn. N.
Demikian pula dengan intervensi yang dibuat tidak selamanya bisa diterapkan
pada setiap kasus. Sehingga diperlukan suatu modifikasi dari intervensi tersebut.
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
36
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut petunjuk teknis standar asuhan keperawatan jiwa direktorat
kesehatan jiwa (1994:117). Gangguan hubungan sosial adalah gangguan
kepribadian yang tidak fleksibel. Pola tingkah lakunya maladaptik, mengganggu
fungsi seseorang dalam hubungan sosialnya. Hal ini disebabkan oleh cara
pemecahan masalah yang diselesaikannya kepada orang lain atau lingkungan
sosialnya.
Dalam melaksanakan intervensi yang telah dibuat maka perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut : Menetapkan hubungan saling percaya, berkomunikasi
dengan pasien secara jelas dan terbuka, kenal dan dukung kelebihan pasien,
membatasi orang yang berhubungan dengan pasien pada awal terapi, melakukan
interaksi dengan pasien sesering mungkin, dll.
Tidak semua yang ada pada teori itu sesuai dengan yang ada pada
kenyataan, misalnya pada masalah Nn. N. Demikian pula dengan intervensi yang
dibuat tidak selamanya bisa diterapkan pada setiap kasus. Sehingga diperlukan
suatu modifikasi dari intervensi tersebut.
Saran
Dengan makalah ini diharapkan dapat membantu perawat untuk lebih peka
dalam memahami dan melaksanakan asuhan keparawatan pada klien dengan
gangguan hubungan social : menarik diri secara tepat.
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
37
DAFTAR PUSTAKA
Boyd, M.A & Nihart, M.A, 1998. Psychiatric Nursing Contemporary Practice,
Edisi 9th, Philadelphia : Lippincott-Raven Publishers.
Carpenito, L.J, 1998. Buku Saku Diagnosa keperawatan (terjemahan), Edisi 8,
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
DEPKES RI, 1989. Pedoman Perawatan Psikiatrik, Ed I, DEPKES RI, Jakarta
Dita, arie, 2009. Askep Gangguan Jiwa : Menarik Diri, diakses tanggal 23 oktober
2009, dari http://ariedita.blogspot.com/2009/05/askep-gangguan-jiwamenarik-
diri.html
Hiyandi, Erfan, 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Isolasi Sosial,
diakses tanggal 20 Oktober 2009, dari www.erfanhiyandi.blogspot.com/
askep_isolasi sosial.html
Imron, 2009. Isolasi Sosial, diakses pada tanggal 23 Oktober 2009, dari
http://imron46.blogspot.com/2009/02/isolasi-sosial-menarik-diri.html
Ipul, 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Harga Diri,
diakses tanggal 20 Oktober 2009, dari http://ilmu-asuhankebidanan.
blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-pada-kliendengan.
html
Johnson, B.S, 1995. Psichiatric-Mental Health Nursing Adaptation and Growth,
Edisi 2th, Philadelphia : J.B Lippincott Company
Keliat, B. A., 2000. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik Diri,
Jakarta ; Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia..
Kusuma, W, 1997. Dari A Sampai Z Kedaruratan Psikiatrik Dalam Praktek, Ed I,
Jakarta : Professional Books
Maramis,W.F, 1998. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Surabaya : Airlangga
University Press
Muhay, Kadir, 2009. Askep HDR, diakses tanggal 18 Oktober 2009, dari
http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/04/askep-hdr.html
Rasmun, 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan
Keluarga. Konsep, Teori, Asuhan Keperawatan dan Analisa Proses
Interaksi (API). Jakarta : Fajar Interpratama.
Makalah Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri
38
Rawlins, R.P & Heacock, P.E., 1988. Clinical Manual of Psychiatric Nursing,
Edisi 1th, Toronto : The C.V Mosby Company
Stuart, G.W & Sundeen, S.J, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan).
Edisi 3, Jakarta : EGC
Townsend M. C, 1998. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri,
Pedoman untuk Pembuatan Rencana Keperawatan , Jakarta : EGC.
———–, 1998. Buku Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Penerapan
Asuhan Keperawatan pada Kasus di Rumah Sakit Ketergantungan Obat.
Direktorat Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Dep-Kes
RI, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar