Info Kesehatan

healhty

Minggu, 29 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI MENAHUN (PPOM)









ASUHAN KEPERAWATAN 
PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT PARU 
OBSTRUKSI MENAHUN (PPOM)


A.  KONSEP DASAR

PPOM merupakan suatu istilah yang sering di gunakan untuk sekelompok

penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi

terhadap aliran darah.

PPOM adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronchitis

kronis, empisema, bronkiektasi dan asma.

1.   Bronchitis Kronis

a.   Definisi

Bronchitis kronis adalah inflamasi luas jalan nafas dengan penyempitan

atau hambatan jalan nafas dan peningkatan sputum mukoid, menyebabkan

ketidakcocokan ventilasi perfusi dan menyebabkan sianosis.

b.   Etiologi

Penyebab utama bronchitis kronis adalah merokok dan pemajanan

terhadap polusi.

c.   Manifestasi Klinis

Pada bronchitis kronik keluhan utama adalah batuk berdahak dan sesak,

makin lama batuk makin sering berlangsung lama dan makin berat timbul

siang maupun malam, sehingga pasien terganggu tidurnya.

d.   Pemeriksaan

1)   Pemeriksaan radiologist









a)   Tubular shadows atau tram lines terlihat bayangan garis yang

paralel keluar dari hilus menuju apeks paru. Bayangan tersebut

adalah bayangan bronchus yang menebal

b)   Corak paru yang bertambah

2)   Pemeriksaan fungsi paru-paru

Menunjukkan penurunan kapasitas vitas (VC) dan volume ekspirasi

kuat (FEV: jumlah udara yang diekshalasi) dan peningkatan volume

residual (RV: udara yang tersisa dalam paru setelah ekshalasi

maksimal)

3)   Pemeriksaan darah

a)   Hematokrit dan hemoglobin meningkat

b)   Analisis gas darah menunjukkan hipoksia dan hiperkapnia

e.   Penatalaksanaan

1)   Pemberian broncodilator

2)   Pemberian kortikosteroid

3)   Mengurangi sekresi mucus

2.   Empisema

a.   Definisi

Suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan menyebarnya

secara abnormal saluran udara bagian distal bronchus terminal yang

disertai kerusakan dinding alveolus.





1









b.   Etiologi

Merokok merupakan penyebab utama empisema. Akan tetapi terdapat

faktor predisposisi terhadap empisema yang berkaitan dengan defisiensi

antitripsin-α1, yang merupakan enzim inhibitor

c.   Klasifikasi

Terdapat dua jenis empisema utama yang diklasifikasikan berdasarkan

perubahan yang terjadi dalam paru- paru.

1)   Panlobular (panacinar)

Kerusakan terjadi di seluruh asinus

2)   Sentralobular (centroacinar)

Kerusakan terjadi di daerah sentral asinus. Daerah distal tetap normal

d.   Manifestasi klinis

Pasien mempunyai riwayat sesak nafas dengan batuk- batuk kadang-

kadang disertai dengan sputum mukoid

Pada inspeksi pasien biasanya tampak mempunyai barrel chest,

penggunaan otot-otot asesoris pernafasan. Anoreksia, penurunan berat

badan dan kelemahan umum terjadi dan distensi vena leher selama

ekspirasi.

e.   Pemeriksaan

1)   Radiologis

Terdapat dua kelainan foto dada pada empisema paru

a)   Gambaran defisiensi arteri


2









b)   Corakan paru yang bertambah

2)   Pemeriksaan fungsi paru

Peningkatan kapasitas paru total (TLC) dan volume residual (VR)

penurunan kapasitas vital (VC) dan volume ekspirasi kuat (FEV).

3)   Pemeriksaan darah

AGD menunjukkan hipoksia ringan dan hiperkapnia

f.    Penatalaksanaan

1)   Broncodilator

2)   Pengobatan infeksi

3)   Kortikosteroid

4)   Oksigenasi

3.   Bronkiektasis

a.   Definisi

Bronkiektasis adalah dilatasi bronchus yang bersifat patologis dan

berjalan kronik

b.   Etiologi

Belum diketahui dengan jelas pada kenyataannya kasus bronkiektasis

dapat timbul secara congenital maupun didapat:

1)   Kelainan congenital

2)   Kelainan didapat:

a)   Infeksi

b)   Obstruksi bronchus


3









c.   Manifestasi klinis

1)   Batuk

2)   Hemoptisis

3)   Sesak nafas

4)   Demam berulang

d.   Pemeriksaan

1)   Laboratorium

Sputum biasanya berlapis tiga. Lapisan atas terdiri dari busa, lapisan

tengah adalah sereus dan lapisan bawah terdiri dari pus dan sel-sel

rusak.

2)   Pemeriksaan radiology

Biasanya didapatkan paru menjadi lebih kasar dan batas-batas corakan

menjadi kabur, daerah yang terkena corakan tampak mengelompok

kadang ada gambaran sarang tawon.

e.   Penatalaksanaan 

1)   Antimikroba

2)   Drainase postural

3)   Bronkodilator

4)   Intervensi bedah










4









4.   Asma

a.   Definisi

Penyakit saluran nafas dengan karakteristik berupa meningkatnya

reaktivitas trachea dan bronchus terhadap berbagai rangsangan sehingga

terjadi penyempitan saluran nafas yang dapat hilang dengan atau tanpa

pengobatan

b.   Etiologi

Penyakit asma selalu dihubungkan dengan bronkspasme yang reversibel

sebagai faktor pencetusnya adalah:

1)   Asma alergis disebabkan oleh allergen yang diketahui misal: serbuk,

binatang, makanan, debu.

2)   Asma idiopati atau non alergi, tidak berkaitan dengan alergan spesifik.

Misal: infeksi pernafasan dan iritasi, latihan, emosional perubahan

lingkungan dan suhu.

c.   Manifestasi klinis:

Gejala umum:

1)   Batuk

2)   Dispnea

3)   Mengi

Tanda-tanda lanjut:

1)   Sianosis sekunder akibat hipoksia berat





5









2)   Gejala retensi karbonmonoksida (misal: berkeringat, takikardia, dan

desakan nadi melebar).

d.   Pemeriksaan

1)   Pemeriksaan sputum

2)   Pemeriksaan darah

Analisa gas darah normal, tetapi dapat juga terjadi hipoksemia dan

hiperkapnia.

3)   Pemeriksaan radiologi

Gambaran radiologi pada asma umumnya normal pada waktu

serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru, yakni

radiolusen yang bertambah dan pelebaran rongga intercostals serta

diafragma menurun.

e.   Penatalaksanaan

Terapi obat:

1)   Agonis beta

2)   Metil santin

3)   Antikolinergik

4)   Kortikorteroid

5)   Inhibitor sel mast.










6









B.  KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1.   Pengkajian

a.   Aktivitas/istirahat

Gejala  : keletihan, kelelahan, malaise

  Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena

sulit bernafas.

  Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk

tinggi.

  Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau

latihan

Tanda : keletihan

Gelisah, imsomnia

  Kelemahan umum/kehilangan massa otot

b.   Sirkulasi

Tanda : distensi vena leher selama ekspirasi

c.   Integritas ego

Gejala : peningkatan faktor resiko

  Perubahan pola hidup

Tanda : ansietas, ketakutan, peka rangsang

d.   Makanan/cairan

Gejala : mual muntah

  Nafsu makan buruk (anoreksia)


7









Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernafasan.

Penurunan BB menetap, peningkatan BB menunjukkan edema

Tanda : Turgor kulit buruk

Edema dependen

Berkeringat

  Penurunan BB, penurunan massa otot/lemak subkutan

  Palpitasi abdominal dapat menyatakan hepatomegali

e.   Higiene

Gejala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan

  Bantuan melakukan aktivitas sehari-hari

Tanda : kebersihan buruk, bau badan.

f.    Pernafasan

Gejala : nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai

gejala menonjol pada emfisenia)

  Rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas

 Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama

minimal 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun.

Produksi sputum (hijau, putih, dan kuning) dapat banyak sekali.

  Episode batuk hilang timbul

 Terpajan pada polusi kimia/iritasi pernafasan dalam jangka

panjang, misal: rokok, debu, serbuk gergaji).

  Faktor keluarga dan keturunan misal: defisiensi alfa antitripsin.


8









Tanda : Pernafasan: biasanya cepat, lambat

  Penggunaan obat bantu pernafasan

  Bunyi nafas: redup dengan ekspirasi mengi, menyebar, lembut,

ronki, mengi sepanjang area paru pada ekspirasi, dan tidak

adanya bunyi nafas.

  Kesulitan bicara kalimat atau lebih dari 4 atau 5 kata sekaligus.

 Warna; pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku, abu-abu

keseluruhan, warna merah.

g.   Keamanan

Gejala : Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor

lingkungan

Adanya/berulangnya infeksi

Kemerahan/berkeringat

h.   Seksualitas

Gejala : Penurunan libido

i.    Interaksi sosial

Gejala : Hubungan ketergantungan

  Kurang sistem pendukung

  Kegagalan dukungan dari orang terdekat/pasangan

  Penyakit lama atau ketidakmampuan membaik

Tanda : Ketidakmampuan        untuk     membuat/mempertahankan      suara

karena distress pernafasan


9









Keterbatasanmobilitas fisik

  Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

j.    Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : Penggunaan/penyalahgunaan obat pernafasan

Kesulitan menghentikan merokok

  Penggunaan alkohol secara teratur

  Kegagalan untuk membaik

2.   Prioritas Keperawatan

a.   Mempertahankan patensi jalan nafas

b.   Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas

c.   Meningkatkan masukan nutrisi

d.   Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi

e.   Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program

pengobatan.


3.   Tujuan Pemulangan

a.   Ventilasi/oksigenasi adekuat untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.

b.   Masukan nutrisi memenuhi kebutuhan kalori

c.   Bebas infeksi

d.   Proses penyakit/prognosis dan program terapi dipahami.









10








Penyimpangan Kebutuhan Dasar Manusia pada PPOM




Asap tembakau
polusi udara
Gangguan 
pembersihan
paru-paru
Peradangan
bronchus dan
bronkiolus
Peningkatan
produksi sputum
Obstruksi jalan
nafas



Predisposisi genetik
(defisiensi alfa 1-antitripsin)
Sekat dan jaringan 
penyokong hilang
Produksi sputum
meningkat
Penyempitan
bronkus
Tegang
Batuk















Pertukaran O2 dan CO2
tidak efektif
Gangguan pertukaran
gas

O2 ke jaringan menurun


Bersihan jalan 
nafas tidak
efektif tidur


Gangguan pola





Nafsu makan
menurun
↓Intoleransi aktivitas
Intake makanan
menurun
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh













11


Batuk terus-menerus
anaerob
Tidak terpenuhinya
kebutuhan sel
terhadap O2
Kelemahan umum


Metabolisme









ANALISA DATA

No.                     Data
1       DO:
- Gelisah
- Batuk
- Bunyi nafas ronchi dan
mengi pada saat
ekspirasi
DS:
- Klien mengeluh batuk
produktif
- Klien mengeluh sesak











Etiologi
Peningkatan produksi
sekret











Masalah
Bersihan jalan nafas
tidak efektif


2.      DO:
- Kelemahan
- Tampak sesak
- Penggunaan otot bantu
pernafasan
- Gelisah dan keringat
dingin
DS:
- Klien mengeluh sesak
nafas
- Ketidakmampuan
untuk bernafas


Obstruksi jalan nafas       Gangguan pertukaran
gas


3.      DO:
- Klien nampak lemah
- BB menurun
DS:
- Klien mengeluh nafsu
makan menurun
4.      DO:
- Klien tampak lemah
DS:
- Klien mengeluh tidak
dapat melakukan
aktivitas


Peningkatan produksi
sputum, kelemahan





Ketidakseimbangan
antara suplai dan
kebutuhan oksigen













12


Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh




Intoleransi aktivitas










RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1.   Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi

sekret, ditandai dengan:

a.   Klien mengeluh batuk produktif

b.   Klien mengeluh sesak

c.   Gelisah

d.   Bunyi nafas ronchi dan mengi

Tujuan: bersihkan jalan nafas efektif dengan kriteria:

a.   Klien mengatakan sesak tidak ada

b.   Batuk hilang

c.   Klien tampak tenang

Intervensi:

a.   Auskultasi bunyi nafas. Catat adanya bunyi nafas misal: mengi, ronchi.

Rasional:

Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan dan dapat

dimanifestasikan adanya nafas abnormal.

b.   Kaji/pantau frekuensi pernafasan. Catat rasio inspirasi/ekspirasi

Rasional:

Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada

penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut.








13









c.   Catat adanya dispnea. Penggunaan otot bantu.

Rasional:

Disfungsi pernafasan adalah variabel yang tergantung pad tahap proses kronis

selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit.

d.   Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, misal: peninggian kepala tempat tidur,

duduk pada sandaran tempat tidur.

Rasional:

Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan

menggunakan gravitasi.

e.   Pertahankan polusi lingkungan minimum, misal: debu, asap.

Rasional:

Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat memperberat keadaan.

f.    Tingkatkan masukan cairan. Berikan air hangat

Rasional:

Hidrasi     membantu     menurunkan     kekentalan     sekret,     mempermudah

pengeluaran. Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.

g.   Berikan obat sesuai indikasi

Bronchodilator

Rasional:

Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal.

2.   Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas, yang

ditandai dengan:


14









a.   Klien mengeluh sesak nafas

b.   Klien mengeluh tidak mampu untuk bernafas

c.   Klien tampak sesak

d.   Penggunaan otot bantu pernafasan

e.   Klien gelisah dan keringat dingin

Tujuan: menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat.

Intervensi:

a.   Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan. Catat penggunaan otot aksesori

Rasional:

Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses

penyakit.

b.   Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang

mudah untuk bernafas

Rasional:

Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi.

c.   Dorong mengeluarkan sputum: pengisapan bila diindikasikan.

Rasional:

Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan

pertukaran gas pada jalan nafas kecil. Pengisapan dibutuhkan bila batuk tidak

efektif.








15









d.   Palpasi fronitus

Rasional:

Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara

terjebak.

e.   Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi

Rasional:

Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia.

3.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan

produksi sputum, kelemahan, ditandai dengan:

a.   Klien mengeluh nafsu makan menurun

b.   Batuk

c.   Klien tampak lemah

d.   BB menurun

Tujuan: kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi dengan kriteria:

a.   Nafsu makan klien meningkat

b.   Batuk (-)

c.   Klien tampak segar

d.   BB bertambah

Intervensi:

a.   Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, catat derajat kesulitan makan.

Evaluasi BB dan ukuran tubuh





16









Rasional:

Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksi

sputum, dan obat.

b.   Auskultasi bunyi usus

Rasional:

Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan

konstipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, pilihan

makanan buruk, penurunan aktivitas.

c.   Berikan perawatan oral sering, buang sekret. Berikan wadah khusus untuk

sekali pakai dan tissue.

Rasional:

Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu

makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan

bernafas.

d.   Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan.

Berikan makan porsi kecil tapi sering.

Rasional:

Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan

kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.

e.   Hindari makanan yang sangat panas dan dingin

Rasional:

Suhu ekstrem dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.


17









f.    Timbang berat badan sesuai indikasi

Rasional:

Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan BB dan

evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.

g.   Konsul ahli gizi nutrisi pendukung lain untuk memberikan makanan yang

mudah dicerna secara nutrisi seimbang

Rasional:

Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi/kebutuhan

individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal

pasien/penggunaan energi.

4.   Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan

kebutuhan oksigen ditandai dengan:

a.   Klien mengeluh tidak dapat melakukan aktivitas

b.   Klien tampak lemah

Tujuan:      melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas

yang dapat diukur dengan tidak adanya dispnea, dan tanda vital dalam

rentang normal

Intervensi:

a.   Evaluasi respon klien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan

kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas

Rasional:

Menetapkan kemampuan/kebutuhan klien dan memudahkan pilihan intervensi.


18









b.   Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase sesuai indikasi

Rasional:

Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.

c.   Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya

aktivitas dan istirahat.

Rasional:

Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan

metabolisme, menghemat energi untuk penyembuhan

d.   Bantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat/tidur

Rasional:

Klien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, atau duduk.

e.   Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

Rasional:

Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai kebutuhan

oksigen.





















19









DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddart, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 2 Vol.
1, Jakarta. EGC.

Doengus, et. al., 2002.          Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Jakarta,
EGC.

Pearce Evelyn, 1999. Patofisiologi, Edisi 4. Jakarta. EGC.

Waspadji, 2001, Ilmu Penyakit Dalam, Edisi ketiga Jilid II, Jakarta, FKUI.










































20

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar