Info Kesehatan

healhty

Jumat, 27 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH PSIKOSEKSUAL


KEPERAWATAN JIWA II
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH PSIKOSEKSUAL


 







KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH PSIKOSEKSUAL “ sebagai tugas Keperawatan Jiwa II program studi S1 Keperawatan semester 6 Universitas Muhammadiyah Surabaya tahun pelajaran 2011/2012.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan membantu dalam penyelesaian penulisan makalah ini.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan penulis bersedia menampung kritik dan saran dari para pembaca.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca.

                                                                                                 
                                                                            Surabaya, Maret 2012
                                                                           
                                                                                             Penulis








DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………       i
KATA PENGANTAR………………………………………………………………….       Ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………        iii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………….     
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………...
1.3 Tujuan……………………………………………………………………………….
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………..
2.1 Pengertian Psikoseksual……………………………………………………………… 
2.2 Teori Psikoseksual …….………………………………………………………………  
2.3 Patofisiologi…………………………………………………………………………..      
2.4 Manifestasi klinis…………………………………………………………………….       
2.5 Komplikasi…………………………………………………………………………...     
2.6 Pencegahan…… ...……………………………………………………………………    
2.7 Penatalaksanaan.……………………………………………………………………..     
2.8 Pemeriksaan Penunjang……………………………………………………………..
2.9 Asuhan Keperawatan pada Pasien Thypoid…………………………………………
BAB III PENUTUP…………..…………………………………………………………      
3.1 Kesimpulan……………………..……………………………………………………… 
3.2 Saran………………….………………………….……………………………………    
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………    



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan


































BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Psikoseksual
Seksualitas dalam arti yang luas ialah semua aspek badaniah, psikologik dan kebudayaan yang berhubungan langsung dengan seks dan hubungan seks manusia. Seksologi ialah ilmu yang mempelajari segala aspek ini. Seksualitas adalah keinginan untuk berhubungan, kehangatan, kemesraan dan cinta, termasuk di dalamnya memandang, berbicara, bergandengan tangan. Seksualitas mengandung arti yang luas bagi manusia, karena sejak manusia hadir ke muka bumi ini hal tersebut sudah menyertainya.
Dengan demikian, maka seks juga bio-psiko-sosial, karena itu pendidikan mengenai seks harus holistik pula. Bila dititikberatkan pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan keseimbangan dalam hal ini pada individu atau pada masyarakat dalam jangka pendek atau jangka panjang, umpamanya hanya aspek biologi saja yang diperhatikan atau hanya aspek psikologik ataupun sosial saja yang dipertimbangkan.
Kita membedakan beberapa pengertian yang berkaitan dengan psikoseksual yang meliputi:
1. Sexual identity (identitas kelamin)
Identitas kelamin adalah kesadaran individu akan kelaki-lakiannya atau kewanitaan tubuhnya. Hal ini tergantung pada ciri-ciri seksual biologiknya, yaitu kromosom, genitalia interna dan eksterna, komposisi hormonal, tetstis dan ovaria serta ciri-ciri sex sekunder. Dalam perkembangan yang normal, maka pola ini bersatu padu sehingga seorang individu sejak umur 2 atau 3 tahun sudah tidak ragu-ragu lagi tentang jenis seksnya.
2. Gender identity (identitas jenis kelamin)
Identitas jenis kelamin atau kesadaran akan jenis kelamin kepribadiannya merupakan hasil isyarat dan petunjuk yang tak terhitung banyaknya dari pengalaman dengan anggota keluarga, guru, kawan, teman sekerja, dan dari fenomena kebudayaan. Identitas jenis kelamin dibentuk oleh ciri-ciri fisik yang diperoleh dari seks biologik yang saling berhubungan dengan suatu sistem rangsangan yang berbelit-belit, termasuk pemberian hadiah dan hukuman berkenaan dengan hal seks serta sebutan dan petunjuk orangtua mengenai jenis kelamin. Faktor kebudayaan dapat mengakibatkan konflik tentang identitas jenis kelamin dengan secara ikut-ikutan memberi cap maskulin atau feminim pada perilaku nonseksual tertentu. Umpamanya minat seorang anak laki-laki pada kesenian atau pakaian dicap feminin oleh orangtuanya dan mungkin ia sendiri sudah menganggap demikian. Seorang gadis yang suka olahraga, bersaing, dan berdiri sendiri menjadi ragu-ragu bila ia dicap maskulin.
3. Gender role behaviour (Perilaku peranan jenis kelamin)
Perilaku peranan jenis kelamin ialah semua yang dikatakan dan dilakukan seseorang yang menyatakan bahwa dirinya itu seorang pria atau wanita, meskipun faktor biologik penting dalam mencapai peranan yang sesuai dengan jenis kelaminnya, faktor utama ialah faktor belajar. Bila suami-istri menjadi tua, maka hubungan seks memegang peranan penting dalam mempertahankan kestabilan perkawinan. Dorongan seksual wanita meningkat antara umur 30-40 tahun dan orgasme dapat saja dicapai sampai pada usia tua. Seorang pria dapat melakukan aktivitas seksual sampai umur tua juga. Faktor paling penting dalam mempertahankan seksualitas yang efektif ialah ekspresi seksual yang aktif secara tetap.

2.2 Teori Psikoseksual
Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.
Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.
Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap “terjebak” dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan oral melalui merokok, minum, atau makan.


Tahap Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud :

1. Fase Oral

Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral.
Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.
2. Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif.
Namun, tidak semua orang tua memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini. Beberapa orang tua ‘bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk kecelakaan. Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar, Freud menyarankan bahwa-yg mengusir kepribadian dubur dapat berkembang di mana individu memiliki, boros atau merusak kepribadian berantakan. Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian kuat-analberkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif.
3. Fase Phalic
Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks Oedipus menggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah. Namun, anak juga khawatir bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan.
Istilah Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan yang dialami oleh gadis-gadis muda. Freud, bagaimanapun, percaya bahwa gadis-gadis bukan iri pengalaman penis.
Akhirnya, anak menyadari mulai mengidentifikasi dengan induk yang sama-seks sebagai alat vicariously memiliki orang tua lainnya. Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri tidak pernah sepenuhnya terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak terpaku pada tahap ini. Psikolog seperti Karen Horney sengketa teori ini, menyebutnya baik tidak akurat dan merendahkan perempuan. Sebaliknya, Horney mengusulkan bahwa laki-laki mengalami perasaan rendah diri karena mereka tidak bisa melahirkan anak-anak.
4. Fase Latent
Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri.
Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah.
5. Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.
2.3 Seksualitas Normal dan Penyesuaian Seks Sehat
Normal dalam hal ini diartikan sehat atau tidak patologik dalam hal fungsi keseluruhan. Perilaku seksual yang normal ialah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntutan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan individu mengenai kebahagiaan dan pertumbuhan, yaitu perwujudan diri sendiri atau peningkatan kemampuan individu untuk mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik.
Penyesuaian diri seksual yang sehat ialah kemampuan memperoleh penagalaman seksual tanpa rasa takut dan salah, jatuh cinta pada waktu yang cocok dan menikah dengan partner yang dipilihnya serta mempertahankan rasa cinta kasih dan daya tarik seksual terhadap partner-nya. Partnernya itu tidak mempunyai gangguan atau kesukaran yang serius yang dapat mengganggu, merusak atau meniadakan suatu hubungan bahagia.
1. Rentang Respon
Para pakar yang mendalami masalah seksual tidak setuju dengan tipe perilaku seksual yang disebut ”normal”. Ekspresi seksual merupakan rentang adaptif dan maladaptif.
- Respon Adaptif
-           Respon Maladaptif
-           Perilaku seksual yang memuaskan dengan menghargai pihak lain
-     Gangguan perilaku seksual karena kecemasan yang disebabkan oleh penilaian pribadi atau masyarakat
-           Disfungsi penampilan seksual
-     Perilaku seksual yang berbahaya, tidak dilakukan di tempat tertutup atau tidak dilakukan antara orang dewasa
2. Rentang Perilaku Seksual
Respon seksual yang paling adaptif terlihat dari perilaku yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Terjadinya antara dua orang dewasa.
2) Memberikan kepuasan timbal balik bagi pihak yang terlibat.
3) Tidak membahayakan kedua belah pihak baik secara psikologis maupun fisik
4) Tidak ada paksaan.
5) Tidak dilakukan di tempat umum.
Respon perilaku seksual maladaptif meliputi perilaku yang tidak memenuhi satu atau lebih kriteria yang diuraikan terdahulu.

2.4 Tingkatan Respon Faaliyah Seksual
Pada pria dan wanita normal terdapat tingkat-tingkat perangsangan seksual dengan masing-masing tingkat disertai perubahan-perubahan faaliah yang khas.
1) Tingkat 1 (perangsangan)
Ditimbulkan oleh rangsangan psikologik (fantasi, kehadiran objek cinta) atau rangsangan faaliah (usapan, kecupan) atau gabungan keduanya. Terjadilah ereksi pada pria dan lubrikasi (pelumasan lendir) vaginal, keduanya dalam waktu 10 detik sejak rangsangan efektif dimulai. Puting susu menjadi tegang, seperti pada wanita. Klitoris menjadi keras dan bengkak serta labia mayora dan minora menjadi tebal. Fase perangsangan dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam.
2) Tingkat 2 (dataran)
Bila rangsangan berlangsung terus, testis menjadi lebih besar 50% dan terangkat, seperti bagian bawah vagina mengecil (dikenal sebagai ”panggung orgasmik”, ”orgasmic platform”. Klitoris terangkat dan masuk ke belakang sismfisis pubis sehingga tidak mudah dicapai. Buah dada wanita bertambah besar 25%. Timbul gerakan-gerakan volunter kelompok-kelompok otot besar. Fase dataran berlangsung 30 detik sampai beberapa menit.
3) Tingkat 3 (orgasme)
Pada pria orgasme timbul sebagai ”reflek bersin” yang tidak dapat ditahan dan diikuti dengan penyemprotan sperma. Terjadi 4-5 kali spasme ritmik pada prostat, vesika, seminalis, vas deferens, dan uretra dalam interval 0,8 detik. Pada wanita terjadi 3-12 kali kontraksi ”panggung orgasmik” dan uterus berkontraksi secara tetanik yang terjadi dari fundus ke servix dengan interval 0,8 detik.
Pada kedua seks timbul kontraksi involunter pada sfinkter ani interna dan eksterna. Terdapat juga gerakan-gerakan volunter dan involunter pada kelompok otot besar, termasuk otot muka (grimas) dan spasme karpopedal. Tekanan darah naik dengan 20-40 mm (sistolik dan diastolik) dan denyutan jantung meningkat sampai 120-160 per menit. Orgasme berlangsung 3-15 detik dengan kesadaran yang sedikit berkabut.
Kemampuan orgasme pada pria paling tinggi pada kira-kira umur 18 tahun (6-8 kali orgasme dalam waktu 24 jam) dan pada wanita sekitar umur 35 tahun terutama sesudah melahirkan anak (mungkin karena berkurangnya hambatan psikologik). Pada pria sesudah berumur 30 tahun sering kemampuan orgasme menjadi satu kali dalam 24 jam.
Orgasme merupakan betul-betul suatu pengalaman psikofisiologik dengan perasaan subjektif mengenai suatu puncak reaksi fisik terhadap rangsangan seksual dan dengan suatu masa singkat pembebasan fisik dari pembendungan pembuluh darah dan ketegangan otot yang tertimbun sewaktu fase.
Orgasme pada wanita sama saja, tidak ada hubungan dengan cara dan daerah rangsangan. Ternyata orgasme vaginal tidak berbeda dari orgasme klitoris. Secara anatomik dan fisiologik hanya terdapat satu macam orgasme, yaitu, kontraksi ritmik pada sepertiga bagian bawah vagina.
Kekuatan nafsu seksual Sangat bervariasi menurut umur, jenis kelamin, dan keadaan individu, pada pria dewasa yang normal biasanya dua atau tiga kali seminggu, wanita mempunyai potensi orgasme yang lebih besar.
4) Tingkat 4 (resolusi)
Dalam fase penyelesaian atau resolusi (resolution) terjadi pengaliran darah ke luar dari genitalia sehingga badan kembali ke dalam keadaan istirahat. Jika terjadi orgasme, maka resolusi cepat, jika tidak, maka resolusi berlangsung 2-4 jam dengan rasa nyeri pada genitalia dan iritabilitas.
Resolusi yang berhasil pada kedua sex ditandai dengan perasaan sejahtera, senang dan lega serta reaksi pengeluaran keringat di seluruh badan.
Periode refrakter: sesudah orgasme, pria mengalami periode refrakter selama beberapa menit sampai berjam-jam lamanya. Selama masa ini ia tidak dapat dirangsang untuk orgasme lagi. Periode refrakter bertambah panjang dengan bertambahnya usia.
Pada wanita tidak terdapat periode refrakter, sehingga wanita mampu mencapai orgasme ganda berturut-turut. Beberapa wanita mencapai 20 sampai 30 orgasme bila rangsangan berlangsung terus.

2.5 Organ Seksualitas
·         Organ seksual pria
                                              
        Organ seksual pria (samping)                                                     Organ seksual pria (depan)
Organ seksual pria bagian luar :
Ø Testis
Testis ini memiliki 2 fungsi, sebagai tempat menghasilkan spermatozoa dan mengeluarkan androgen. Masing-masing testis terletak dalam kantong pelir atau buah zakar.
Ø Penis
Ukuran dan bentuknya setiap orang bervariasi. Ukuran ini tidak bisa diterka berdasarkan pengalaman seksuil, masturbasi, dan postur tubuh seseorang. Rata-rata ukuran orang dewasa Indonesia dalam keadaan ereksi adalah 13-18 cm dengan diameter 4 cm, sedangkan selama istirahat panjangnya 5 – 10 cm dengan diameter 2-3 cm. fungsinya sebagai tempat keluarnya sperma.
Organ seksual pria bagian dalam :
Ø  







·         Organ seksual wanita
                 
                        Organ seksual wanita                                                        Organ seksual dalam wanita

Organ seksual wanita bagian luar :
Ø Mons Veneris
Ø Labia mayora
Ø Labia minora
Ø Klitoris
Ø Vestibulum
Organ seksual wanita bagian dalam :
Ø Vagina
Ø Uterus
Ø Tuba falopii
Ø Ovarium

2.6 Dorongan Seksual dan Transmutasi Seksual
2.7 Disfungsi Seksual
Disfungsi seksual merupakan kondisi di mana fungsi seksual dalam tubuh seseorang sudah mulai melemah. Kondisi itu dapat terjadi ketika kita masih muda, maupun pada usia lanjut karena kondisi fisik dan mental yang semakin berkurang.
Kondisi disfungsi seksual dapat terjadi pada pria maupun wanita. Pada pria dapat berupa hiposeksualitas (hasrat seks yang berkurang), impotensia (kemampuan ereksi berkurang atau tidak mampu sama sekali), ejakulasi dini, dan anorgosmia (tidak dapat orgasme). Sedangkan pada wanita, disfungsi seksual dapat berupa hiposeksualitas (hasrat seks berkurang), frigiditas (dingin terhadap seks atau tidak bergairah sama sekali), fobio seksualis (takut dan muak pada hubungan seksual), vaginismus, disparuenia (nyeri saat berhubungan), dan anorgasmia (tidak dapat organsme).
Disfungsi seksual disebabkan oleh berbagai gangguan dan penyakit, baik fisik maupun mental. Penyakit fisik yang menyebabkan disfungsi seksual adalah diabetes mellitus (kencing manis), anemia, kurang gizi, penyakit kelamin, penyakit otak dan sumsum tulang, akibat operasi prostat pada pria, tumor atau kanker rahim pada wanita, menurunnya hormon (pada pria maupun wanita), akibat pembedahan indung telur, penggunaan narkoba, obat penenang, alkohol, dan rokok. Sedangkan penyakit mental yang menyebabkan disfungsi seksual adalah psikosis, schizoprenia, neurosis cemas, histerik, obsesif-kompulsif, depresif, fobia, gangguan kepribadian atau psiko-seksual, serta retardasi mental dan gangguan intelegensia.
Ada beberapa ciri-ciri umum orang dikatakan menderita disfungsi seksual, antara lain:
1.   Takut akan kegagalan
Dimana masalah terjadi ketika adanya ketakutan yang terkait dengan kegagalan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi atau kegagalan mencapai orgasme.
2.      Asumsi peran sebagai penonton dan bukan sebagai pelaku
 Memonitor dan mengevaluasi reaksi tubuh saat melakukan hubungan seks.
  1. Kurangnya harga diri
  2. Efek emosional
Rasa bersalah, rasa malu, frustasi, depresi, kecemasan.
  1. Perilaku menghindar
Menghindari kontak seksual karena takut gagal menunjukkan performa yang adekuat, membuat berbagai macam alasan kepada pasangan.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi disfungsi seksual :
Ø  Terapi obat, yaitu mengkonsumsi obat-obatan yang bisa menangani disfunsi seksual.
Ø  Cara lain adalah dengan pendekatan psikologis, yaitu dengan psikoterapi. salah satunya adalah terapi kognitif-behavioral (CBT). Dalam hal ini terapi seks menjadi pilihan. Tujuan terapi ini adalah untuk membantu klien individu atau pasangan untuk mengembangkan hubungan seksual yang lebih memuaskan dan mengurangi kecemasan akan performa yang kurang maksimal.

2.8 Deviasi Seksual dan Seksual Abnormal
Macam-Macam / Jenis-Jenis Penyimpangan Seksual :
1. Homoseksual / Homo / Homoseks
Homosexual adalah kelaianan di mana seseorang menyukai ornag lain sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay dan pada wanita disebut lesbian / lesbi.
2. Sadomasokisme dan Masokisme
Sadomasokisme adalah penyimpangan seksual yang mendapat kenikmatan seks setelah menyakiti pasangan seksnya. Sedangkan Masokisme adalah kelianan seks yang menikmati seks jika terlebih dahulu disiksa oleh pasangannya.
3. Ekshibisionisme / Ekshibisionis
Adalah penyimpangan seks yang senang memperlihatkan alat vital / alat kelamin kepada orang lain. Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, takut, jijik, dan lain sebagainya.
4. Fetishisme / Fetishi
Fetishisme adalah suatu perilaku seks meyimpang yang suka menyalurkan kepuasan seksnya dengan cara onani / masturbasi dengan benda-benda mati seperti gaun, bando, selendang sutra, bh, sempak, kancut, kaus kaki, dsb.
5. Voyeurisme / Voyeur
Pelaku penyimpangan seks ini mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat atau mengintip orang lain yang sedang melakukan hubungan suami isteri (Scoptophilia), sedang telanjang, sedang mandi, dan sebagainya.
6. Pedophilia / Pedophil / Pedofilia / Pedofil
Adalah orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.
7. Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.
8. Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengna anak cowok.
9. Necrophilia / Necrofil
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks denganorang yang sudah menjadi mayat / orang mati.
10. Zoophilia
Zoofilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks dengan hewan.
11. Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.
12. Frotteurisme / Frotteuris
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.
Untuk mengobati bentuk penyimpangan aktivitas seks diperlukan suatu bimbingan konseling yang baik, dukungan orang-orang terdekat serta peran serta masyarakat untuk memberantas segala bentuk penyimpangan seks yang tidak normal.

2.9 Faktor Predisposisi Penyimpangan Seksual

2.10 Asuhan Keperawatan dengan Masalah Psikoseksual
Contoh kasus :













































BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran



































DAFTAR PUSTAKA









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar