Info Kesehatan

healhty

Jumat, 27 April 2012

makalah eliminasi urin


BAB  I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Eliminasi produk pencernaan yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya, karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan beberapa faktor pola dan kebiasaan eliminasi berfariasi diantara individu namun telah terbukti bahwa pengeluaran feses yang sering dalam jumlah besar dan karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya insiden kanker kolesterol (Robinson dan Weigley ,1989).
Untuk menangani masalah eliminasi perawat harus memahami eliminasi normal dan faktor-faktor yang meningkatkan atau menghambat eliminasi. Asuhan kaperawatan yang mendukung akan menghormati privasi dan kebutuhan emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi normal juga harus meminimalkan rasa ketidak nyamanan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimana cara melakukan perawatan pada pasien saat eleminasi urine ?  
1.3 TUJUAN PENULISAN
·         Tujuan umum
Memberikan gambaran tentang perawatan pada saat  eleminasi urine sesuai dengan   tujuan dan tata prosedur pelaksanaan
·         Tujuan khusus
1.        Mengetahui faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih
2.        Mengetahui sifat urin normal    
3.        Mengetahui masalah dalam eliminasi urin
4.        Mengetahui cara mengatasi masalah dalam eliminasi urin
5.        Mampu melaksanakan tindakan perawatan eliminasi urine sesuai dengan prosedur pelaksanaan
























BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ELIMINASI URINE
A. Pengertian
       Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urine atau alvi (buang air besar). Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).

B. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih
1. Diet dan intake
Jumlah dan type makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi output urine, seperti protein dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang keluar, kopi meningkatkan pembentukan urine intake cairan dari kebutuhan, akibatnya output urine lebih banyak.
    2. Respon keinginan awal untuk berkemih
Beberapa masyarakat mempunyai kebiasaan mengabaikan respon awal untuk berkemih dan hanya pada akhir keinginan berkemih menjadi lebih kuat. Akibatnya urine banyak tertahan di kandung kemih. Masyarakat ini mempunyai kapasitas kandung kemih yang lebih daripada normal
3.Gaya hidup
Banyak segi gaya hidup mempengaruhi seseorang dalam hal eliminasi urine. Tersedianya fasilitas toilet atau kamar mandi dapat mempengaruhi frekuensi eliminasi. Praktek eliminasi keluarga dapat mempengaruhi tingkah laku.
4. Stress psikologi
Meningkatnya stress seseorang dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih, hal ini
karena meningkatnya sensitive untuk keinginan.
 5. Tingkat aktifitas
Aktifitas sangat dibutuhkan untuk mempertahankan tonus otot. Eliminasi urine membutuhkan tonus otot kandung kemih yang baik untuk tonus sfingter internal dan eksternal. Hilangnya tonus otot kandung kemih terjadi pada masyarakat yang menggunakan kateter untuk periode waktu yang lama. Karena urine secara terus menerus dialirkan keluar kandung kemih, otot-otot itu tidak pernah merenggang dan dapat menjadi tidak berfungsi. Aktifitas yang lebih berat akan mempengaruhi jumlah urine yang diproduksi, hal ini disebabkan karena lebih besar metabolisme tubuh.
6. Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga akan mempengaruhi pola berkemih. Pada wanita hamil kapasitas kandung kemihnya menurun karena adanya tekanan dari fetus atau adanya lebih sering berkemih.
7. Kondisi Patologis.
Demam dapat menurunkan produksi urine (jumlah & karakter) dan Obat diuretiik dapat meningkatkan output urine dan Analgetik dapat terjadi retensi urine.

C.  Sifat Urine
Warna :
1. Normal urine berwarna kekuning-kuningan
2. Obat-obatan dapat mengubah warna urine seperti orange gelap
3. Warna urine merah, kuning, coklat merupakan indikasi adanya penyakit.
Bau :
1. Normal urine berbau aromatik yang memusingkan
2. Bau yang merupakan indikasi adanya masalah seperti infeksi atau mencerna obat-obatan tertentu.

Berat jenis :
1. Adalah berat atau derajat konsentrasi bahan (zat) dibandingkan dengan suatu volume yang sama dari yang lain seperti air yang disuling sebagai standar.
2. Berat jenis air suling adalah 1, 009 ml
3. Normal berat jenis : 1010 – 1025

Kejernihan :
1. Normal urine terang dan transparan
2. Urine dapat menjadi keruh karena ada mukus atau pus.
PH :
1. Normal pH urine sedikit asam (4,5 – 7,5)
2. Urine yang telah melewati temperatur ruangan untuk beberapa jam dapat menjadi     alkali karena aktifitas bakteri
3. Vegetarian urinennya sedikit alkali.
Protein :
1. Normal : molekul-molekul protein yang besar seperti : albumin, fibrinogen, globulin, tidak tersaring melalui ginjal ke urine
2. Pada keadaan kerusakan ginjal, molekul-molekul tersebut dapat tersaring ke dalam urine
3. Adanya protein didalam urine - proteinuria, adanya albumin dalam urine albuminuria.
D. Masalah-masalah dalam Eliminasi
Masalah-masalahnya adalah : retensi, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola urine (frekuensi, keinginan (urgensi), poliurine dan urine suppression).
Penyebab umum masalah ini adalah :
* Obstruksi
* Pertumbuhan jaringan abnormal
* Batu
* Infeksi
* Masalah-masalah lain.
1. Retensi
a) Adanya penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak sanggupan kandung kemih untuk mengosongkan diri.
b) Menyebabkan distensi kandung kemih
c) Normal urine berada di kandung kemih 250 – 450 ml
d) Urine ini merangsang refleks untuk berkemih.
e) Dalam keadaan distensi, kandung kemih dapat menampung urine sebanyak 3000 – 4000 ml urine
§  Tanda-tanda klinis retensi
a) Ketidaknyamanan daerah pubis.
b) Distensi kandung kemih
c) Ketidak sanggupan untuk berkemih.
d) Sering berkeih dalam kandung kemih yang sedikit (25 – 50 ml)
e) Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikelurakan dengan intakenya.
f) Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.
2. Inkontinensi urine
a) Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih
b) Jika kandung kemih dikosongkan secara total selama inkontinensia sampai inkontinensi komplit
c) Jika kandung kemih tidak secara total dikosongkan selama inkontinensia sampai  inkontinensi sebagian
v Penyebab Inkontinensi
a) Proses ketuaan
b) Pembesaran kelenjar prostat
c) Spasme kandung kemih
d) Menurunnya kesadaran
e) Menggunakan obat narkotik sedative




3. Perubahan pola berkemih
1. Frekuensi
a) Normal, meningkatnya frekuensi berkemih, karena meningkatnya cairan.
b) Frekuensi tinggi tanpa suatu tekanan intake cairan dapat diakibatkan karena cystitis
c) Frekuensi tinggi pada orang stress dan orang hamil
d) Canture / nokturia – meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari, tetapi ini tidak akibat meningkatnya intake cairan.
2. Urgency
a) Adalah perasaan seseorang untuk berkemih
b) Sering seseorang tergesa-gesa ke toilet takut mengalami inkontinensi jika tidak berkemih
c) Pada umumnya anak kecil masih buruk kemampuan mengontrol sfingter eksternal.
3. Dysuria
a) Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih
b) Dapat terjadi karena : striktura urethra, infeksi perkemihan, trauma pada kandung kemih dan urethra.
4. Polyuria
a) Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, seperti 2.500 ml/hari, tanpa adanya peningkatan intake cairan
b) Dapat terjadi karena : DM, defisiensi ADH, penyakit ginjal kronik
c) Tanda-tanda lain adalah : polydipsi, dehidrasi dan hilangnya berat badan.

5. Urinari suppresi
a) Adalah berhenti mendadak produksi urine
b) Secara normnal urine diproduksi oleh ginjal secara terus menerus pada kecepatan  60 – 120 ml/jam (720 – 1440 ml/hari) dewasa
c) Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urine kurang dari 100 ml/hari disanuria
d) Produksi urine abnormal dalam jumlah sedikit oleh ginjal disebut oliguria misalnya 100 – 500 ml/hari
e) Penyebab anuria dan oliguria : penyakit ginjal, kegagalan jantung, luka bakar dan shock.
E. Cara Mengatasi Masalah Urin
1. KATETERISASI
a.  Pengertian
       Kateterisasi adalah pemasangan selang kateter melalui uretra kedalam kandung kemih. Seperti juga mengalirkan urin, kateterisasi dapat digunakan selama pembedahan untuk mempertahankan kandung kemih kosong. Ada dua jenis kateter.
b. Persiapan
1.        Persiapan alat: Bak intrumen berisi (pinset anatomi, duk, kassa, kateter sesuai ukuran, sarung tangan steril dua pasang), Desinfektan dalam tempatnya, Spuit 20 cc,  Pelumas, Urin bag, Plester dan gunting, Selimut mandi, Perlak dan pengalas, Bak berisi air hangat, sabun, handuk, Bengkok,  Pispot
2.        Persiapan pasien
3.         Persiapan Lingkungan
4.         Persiapan Perawat
c.    Prosedur
1. Pintu ditutup/pasang sampiran
2. Mencuci tangan
3. Perawat berdiri di sebelah kanan klien dan pasang sarung tangan
4. Pasang perlak dan pengalas
5. Pasang selimut mandi sambil pakaian bagian bawah klien ditanggalkan
6. Atur posisi klien sim kiri
7. Sambung selang karet dan klem (tertutup) dengan irigator
8. Isi irigator dengan cairan yang sudah disediakan
9. Gantung irigator dengan ketinggian 40-50 cm dari bokong klien
10. Keluarkan udara dari selang dengan mengalirkan cairan ke dalam bengkok
11. Pasang kanule rekti dan olesi dengan jelly
12. Masukkan kanule ke anus, klem dibuka, masukkan cairan secara perlahan
13. Jika cairan habis, klem selang dan cabut kanul dan masukkan kedalam bengkok
14. Atur kembali posisi klien dan minta klien menahan sebentar
15. Bantu klien ke WC jika mampu, jika tidak tetap dalam posisi miring lalu pasang pispot dibokong klien.
16. Klien dirapihkan
17. Alat dirapikan kembali
18. Mencuci tangan
19. Melaksanakan dokumentasi.
2. HUKNAH RENDAH
a.  Pengertian
Adalah tindakan keperawatan dengan cara memasukkan cairan hangat ke dalam kolon dessendens melalui anus dengan menggunakan kanula rektal. Kanul masuk 10-15 cm ke dalam rektal dengan ketinggian irigator 50 cm dengan posisi sisi kiri.
b. Persiapan
1. Persiapan alat: Sarung tangan bersih, Selimut mandi atau kain penutup, Perlak dan pengalas bokong, Irigator lengkap dengan canule recti, selang dan klemnya, Cairan hangat sesuai kebutuhan (misalnya cairan Nacl, air sabun, air biasa),  Bengkok, Pelicin (vaselin, sylokain, Jelly 2% /pelumas larut dalam air, Tiang penggantung irigator,  Jika perlu sediakan pispot,air pembersih dan kapas cebok/tissue toilet
2. Persiapan pasien
3. Persiapan Perawat
c.  Prosedur
1. Pintu ditutup/pasang sampiran
2. Mencuci tangan
3. Perawat berdiri disebelah kanan klien dan pasang sarung tangan
4. Pasang perlak dan pengalas
5. Pasang selimut mandi sambil pakaian bagian bawah klien ditanggalkan
6. Atur posisi klien sim kiri
7. Sambung selang karet dan klem (tertutup) dengan irigator
8. Isi irigator dengan cairan yang sudah disediakan
9. Gantung irigator dengan ketinggian 40-50 cm dari bokong klien
10. Keluarkan udara dari selang dengan mengalirkan cairan ke dalam bengkok
11. Pasang kanule rekti dan olesi dengan jelly
12. Masukkan kanule ke anus, klem dibuka, masukkan cairan secara perlahan
13. Jika cairan habis, klem selang dan cabut kanul dan masukkan kedalam bengkok
14. Atur kembali posisi klien dan minta klien menahan sebentar
15. Bantu klien ke WC jika mampu, jika tidak tetap dalam posisi miring lalu pasang pispot dibokong klien.
16. Klien dirapikan.


3.  HUKNAH TINGGI
a.  Pengertian
Adalah tindakan keperawatan dengan cara memasukkan cairan hangat ke dalam kolon assendens melalui anus dengan menggunakan kanula rekti. Kanul masuk 15-20 cm ke dalam rektal dengan ketinggian irigator 30 cm dengan posisi sims kanan
b.  Persiapan
1. Persiapan alat
2. Persiapan pasien
3. Persiapan Lingkungan
4. Persiapan Perawat
c.  Prosedur
1. Pintu ditutup/pasang sampiran
2. Mencuci tangan
3. Perawat berdiri disebelah kanan klien dan pasang sarung tangan
4. Pasang perlak dan pengalas
5. Pasang selimut mandi sambil pakaian bagian bawah klien ditanggalkan
6. Atur posisi klien sim kiri
7. Sambung selang karet dan klem (tertutup) dengan irigator
8. Isi irigator dengan cairan yang sudah disediakan
9. Gantung irigator dengan ketinggian 40-50 cm dari bokong klien
10. Keluarkan udara dari selang dengan mengalirkan cairan ke dalam bengkok
11. Pasang kanule rekti dan olesi dengan jelly
12. Masukkan kanule ke anus, klem dibuka, masukkan cairan secara perlahan
13. Jika cairan habis, klem selang dan cabut kanul dan masukkan kedalam bengkok
14. Atur kembali posisi klien dan minta klien menahan sebentar
15. Bantu klien ke WC jika mampu, jika tidak tetap dalam posisi miring lalu pasang pispot dibokong klien.
16. Klien dirapihkan
17. alat dirapihkan kembali
18. Mencuci tangan
19. Melaksanakan dokumentasi

F.  PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Urine meliputi Volime, warna, Berat Jenis, Ph, Protein, Bikokarbonat, warna tambahan, dan osmolalitas.
2. Pemeriksaan darah meliputi : HB, SDM, kalium, Natrium, pencitraan radionuklida, dan Klorida, fosfat, dan magnesium meningkat.
3. pemeriksaan ultrasound ginjal
4. arteriogram ginjal
5. EKG
6. CT Scan
7. Endourologi
8. Urografi ekskretorius
9. sistouretrogram berkemih






BAB III
   PENUTUP
3.1.  KESIMPULAN
Untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik. Penyakit tertentu menyebabkan kondisi – kondisi yang mencegah pengeluaran fases secara normal dari rectum, sehingga menyebabkan membuat suatu lubang dibagian usus, tepatnya didaerah kolon,seperti kolon asenden, traversum, desenden.
Dalam melakukan perawatan pada masalah diatas diperlukan pemahaman dalam melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang telah ada dan perawatan yang rutin.
3.2. SARAN                               
Tak lengkap jika pembuatan makalah ini terselesaikan tanpa adanya saran dari kawan-kawan sekalian. Kami berharap para pembaca juga akan terus memberikan saran untuk perbaikan selanjutnya sehingga tidak hanya dapat dipelajari namun juga dinikmati karena adanya interaksi yang baik antara penulis/penyusun makalah dengan para pembaca sekalian. Seperti halnya kritik kami juga menantikan berbagai saran dari anda para pembaca sekalian.










DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar