Info Kesehatan

healhty

Jumat, 27 April 2012

Upaya penurunan tingkat stress pada pasien penyakit kronis diabetes mellitus type I melalui pendekatan teori Calista Roy


Upaya penurunan tingkat stress pada pasien penyakit kronis diabetes mellitus type I melalui pendekatan teori Calista Roy

fik
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Jumlah penderita diabetes mellitus di dunia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini berkaitan dengan jumlah populasi yang meingkat, life expectancy bertambah, urbanisasi yang merubah pola hidup tradisional ke pola hidup modern, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan fisik kurang. Diabetes mellitus perlu diamati karena sifat penyakit yang kronik progresif, jumlah penderita semakin meningkat dan banyak dampak negatif yang ditimbulkan. Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang (Handoko, 1997:200). Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Stress dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stress; semua sebagai suatu system. Terkadang penyakit diabetes ini memicu ketegangan tingkat stress seorang individu sehingga untuk beradaptasi pun individu memerlukan motivasi untuk memahami. Bila seseorang setelah mengalami stress mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres. Tingkat stress pada seorang individu harus segera di atasi sebelum mencapai tingkat yang lebih serius.
Adaptasi sangatlah penting untuk mengatasi tingkat stress individu tersebut. Adaptasi yang adaptif kemungkinan besar mampu meminimalis tingkat stress individu yang terdiagnosa diabetes mellitus. Stress bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stress hambatan, atau stress yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.
Menurut survei yang dilakukan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), jumlah penderita Diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2000 terdapat 8,4 juta orang, jumlah tersebut menempati urutan ke-4 terbesar di dunia, sedangkan urutan di atasnya adalah India (31,7 juta), Cina (20,8 juta), dan Amerika Serikat (17,7 juta). Diperkirakan jumlah penderita Diabetes mellitus akan meningkat pada tahun 2030 yaitu India (79,4 juta), Cina (42,3 juta), Amerika Serikat (30,3 juta) dan Indonesia (21,3 juta). Jumlah penderita Diabetes mellitus tahun 2000 di dunia termasuk Indonesia tercatat 175,4 juta orang, dan diperkirakan tahun 2010 menjadi 279,3 juta orang, tahun 2020 menjadi 300 juta orang dan tahun 2030 menjadi 366 juta orang 6,7. Di Indonesia berdasarkan penelitian epidemiologis didapatkan prevalensi Diabetes millitus sebesar 1,5 – 2,3 % pada penduduk yang usia lebih 15 tahun, bahkan di daerah urban prevalensi DM sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2%. Prevalensi tersebut meningkat 2-3 kali dibandingkan dengan negara maju, sehingga Diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003 penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun sebesar 133 juta jiwa, maka pada tahun 2003 diperkirakan terdapat penderita DM di daerah urban sejumlah 8,2 juta dan di daerah rural sejumlah 5,5 juta. Selanjutnya berdasarkan pola pertambahan penduduk diperkirakan pada tahun 2030 akan terdapat 194 juta penduduk yang berusia di atas 20 tahun maka diperkirakan terdapat penderita sejumlah 12 juta di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural.
Model adaptasi Roy menguraikan bahwa bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku secara adaptif karena menurut Roy, manusia adalah makhluk holistic yang memiliki sistem adaptif yang selalu beradaptasi. Roy dalam teorinya menjelaskan empat macam elemen esensial dalam adaptasi keperawatan, yaitu : manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan. Dalam model adaptasi keperawatan, konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi. Adaptasi yang bebas energi dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespon terhadap stimulus yang lain. Pembebasan energi ini dapat meningkatkan penyembuhan dan mempertinggi kesehatan. Hal ini adalah pembebasan energi yang menghubungkan konsep adaptasi dan kesehatan. Adaptasi dipertimbangkan baik proses koping terhadap stressor dan produk akhir dari koping. Proses adaptasi termasuk fungsi holistic untuk mempengaruhi kesehatan secara positif dan itu meningkatkan integritas. Proses adaptasi termasuk semua interaksi manusia dan lingkungan terdiri dari dua proses. Dengan melakukan pendekatan menggunakan teori roy maka tingkat adaptasi individu dapat lebih baik.

1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan data yang ada maka rumusan masalah yang didapat yaitu “Cara menurunkan tingkat stress pada pasien diabetes mellitus type I melalui pendekatan teori Calista Roy”.

1.3  Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
Menurunkan tingkat stress pada pasien diabetes mellitus tipe I melalui pendekatan teori Calista Roy.
1.3.2        Tujuan Khusus
-          Untuk menilai tingkat stress pada pasien perlakuan.
-          Untuk menilai tingkat stress pada pasien kontrol.
-          Membandingkan antara tingkat pada pasien perlakuan dan pasien kontrol.

1.4  Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Institusi Kesehatan (Dinas Kesehatan , Rumah Sakit)
Memberikan informasi tentang stress pada penderita Diabetes mellitus sehingga rumah sakit/dinas kesehatan dapat melaksanakan tindakan yang tepat.
2.      Peneliti
Bahan masukan untuk peneliti-peneliti berikutnya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini menjelaskan tentang konsep dari : 1. Konsep stress
            Konsep Stres
Pengertian Stress
Stres merupakan stimulus yang dapat merubah suatu pertumbuhan, dalam hal ini stress bersifat positif namun apabila terlalu banyak stres dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup seperti penyakit fisik dan mekanisme koiping terhadap masalah berkurang ( Hidayat, 2006 ).
Stress adalah segala situasi dimana tuntunan non spesifik yang mengharuskan seseorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan, respon atau tindakan ini termasuk respon fisiologi atau psikologi (Perry and Porter, 2005). Secara umum, yang dimaksud “Stres adalah reaksi tubuh tehadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain”. Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita (Maramis, 1999).
Stressor adalah suatu variabel yang dapat diidentifikasikan sebagai penyebab timbulnya stress yang datangnya stressor dapat tiba-tiba atau dapat pula bersamaan. Persepsi atau pengalaman individu terhadap perubahan besar menimbulkan stress, stimulus yang mengawali atau mencetuskan inilah yang disebut stressor. Stressor menunjukkan suatu keadaan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa saja kebutuhan fisiologis, psikoligis, sosial, lingkungan, perkembangan, spiritual atau kebutuhan kultural (Perry & Porter, 2005).
Berdasarkan berbagai definisi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa stres adalah dapat disebabkan oleh tuntutan internal maupun eksternal (stimulus) yang dapat membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu sehingga individu akan bereaksi baik secara fisiologi maupun psikologis (respon) dan melakukan penyesuaian diri terhadap situasi (proses).


Sumber Stresor
Setiap waktu kita dihadapkan dengan perubahan, apakah kejadian tersebut kita inginkan atau tidak, homeostatis akan terganggu dan kita akan menderita stres selama adaptasi terhadap kejadian tersebut, disebut adaptasi.
Stresor merupakan faktor pendukung yang dapat menimbulkan stres, dapat berasal dari sumber internal (yaitu diri sendiri) maupun eksternal ( yaitu, keluarga, masyarakat, dan lingkungan ).
1.   Internal. Faktor stres bersumber dari diri sendiri, stresor individual dapat timbul dari tuntunan pekerjaan atau beban yang terlalu berat, motivasi dan harapan, tipe kepribadian.
2.   Eksternal. Faktor eksternal stres dapat bersumber dari keluarga, kondisi lingkungan, fasilitas, kondisi keuangan, Terjadinya stres karena stresor tersebut dirasakan dan dipersiapkan oleh individu sebagai suatu faktor pendorong cara menyikapi suatu ancaman yang menimbulkan kecemasan yang merupakan tanda awal dari gangguan kesehatan fisik dan psikologis,
Seperti :
    1. Stressor Biologik
Dapat berubah mikroba, bakteri, virus, dan jasad renik lainnya, hewan, dapat mempengaruhi kesehatan lainnya : tumbuhnya jerawat (acne), demam, gigitan binatang dan lain-lain, yang dipersiapkan dapat mengancam individu.
    1. Stressor Fisik
Dapat berupa perubahan iklim, alam, suhu, cuaca, geografis, yang meliputi letak tempat tinggal, domisili, demografi, berupa jumlah anggota dalam keluarga, nutrisi, radiasi, kepadatan penduduk, imigrasi, kebisingan.
    1. Stressor Kimia
Berasal dari dalam tubuh dapat berubah serum dan glukosa sedangkan dari luar dapat berupa obat, pengobatan, pemakaian, alkohol, nikotin, cafein, polusi udara, gas beracun, insektisida, pencemaran lingkungan, bahan-bahan kosmestika, bahan-bahan pengawet, pewarna.


    1. Stressor sosial psikologi
Merupakan labeling (penanaman) dan prasangka, ketidakpuasan terhadap diri sendiri, kekejaman (aniaya, perkosaan) konflik peran, percaya diri yang rendah, perubahan ekonomi, emosi yang negativ, dan konsentrasi menurun.
    1. Stressor spiritual
Yaitu persepsi negatif kepada nilai-nilai ketuhanan. Tidak hanya stresor negatif yang menyebabkan stresor tetapi stresor positif pun dapat menyebabkan stres misalnya : kenaikan pangkat, menikah, promosi jabatan, hasil prestasi, menghadapi ujian, semua perubahan yang terjadi sepanjang daur kehidupannya.
            Contoh stressor yang di uraikan oleh Esperanza (1997) Fundamental of nursing practice a nursing poscess approace dalam (Rasmun, 2004).
1)      Perubahan patologi dari penyakit atau suatu injuri
2)      Trauma
3)      Tidak adekuatnya makanan, kehangatan dan pencegahan
4)      Tidak terpenuhinnya kebutuhan dan pencegahan
5)      Program terapi (diet, terapi fisik, psikoterapi)
6)      Ketidak harmonisan hubungan keluarga
7)      Peristiwa yang menyebabkan stres
8)      Konflik sosial dan budaya
9)      Bencana alam
10)  Kegiatan sehari-hari dan lingkungan
Sesungguhnya tidak ada stressor dalam kehidupan dapat membahayakan kehidupan, karena menimbulkan kebosanan, dan tidak adanya tuntutan dan seperti ada yang kurang dalam pertumbuhan kepribadian.

Tanda – Gejala Stress
Proses terjadinya stres merupakan hal yang kompleks dan melibatkan hubungan antara perasaan dan tubuh manusia dapat dilihat dari beberapa segi sebagai berikut :
1.      Dari segi fisik
Apabila seseorang yang mengalami stres secara fisik dapat dilihat dari gejala seperti merasa cepat lelah, sering berkeringat, sering flu, rasa nyeri pada anggota tubuh seperti nyeri kepala, ketegangan pada bahu dan otot kaku, nyeri dada, nafas pendek, perubahan ritme nafas, gangguan lambung, dan pencernaan, mengalami diare, dan gangguan pola tidur.
2.       Segi emosi
Apabila seseorang mengalami stress secara emosional dapat dilihat dari ekspresi wajah seseorang tampak gelisah, sering merasa cemas, sedih, depresi, mudah, menangis, gugup, mara-marah tidak jelas, mudah tersinggung, cepat naik darah, tidak mampu berbicara.
3.      Segi mental
Apabila seseorang mengalami secara stres dalam segi mental dapat dilihat dari gejala seperti orang tersebut mudah lupa, berpikiran negativ, berbicara dengan pikirannya sendiri, konsentrasi menurun, sulit mengambil keputusan.
4.      Segi Perilaku Individu
Apabila seseorang mengalami stres dari segi perilaku dapat dilihat dari gejala seperti orang tidak memiliki hubungan dekat dengan orang lain, tidak tegas, harga diri rendah, tidak mau memaafkan, tidak berani mengambil keputusan, menghindari dari tantangan dalam kehidupan dan perubahan dalam hidup, mengalami kejenuhan dan kebosanan, tidak percaya diri, tidak punya keinginan untuk maju, ketakutan akan kritikan atau kegagalan.
5.      Perilaku pekerja
Apabila seseorang mengalami stres dilihat dari segi perilaku kerjanya gejala dapat dilihat dari seseorang tidak memiliki pengaturan waktu yang baik, tidak mampu bekerja sama dengan orang lain, menjadi orang yang sifatnya kaku, menghindari tanggung jawab, menghabiskan waktu yang sia-sia, tidak menghormati orang lain.

Tahapan Stress
Gejala stres pada seseorang sering tidak disadari karena perjalanan awal stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan jika gejala sudah lanjut mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari baik dirumah, lingkungan kerja maupun dilingkungan sosial. Dr. J. Van Ambreg 1979 ( dalam Dadang Hawari, 2001 ) membagi tahapan stress sebagai berikut :
1.      Tahap Pertama
Tahap ini merupakan tahap stres yang paling ringan dan biasanya ditandai dengan munculnya semangat yang berlebihan, penglihatan lebih tajam dari biasanya, dan merasa mampu menyelesaikan masalah pekerjaan lebih dari biasanya (namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan dan timbulnya rasa gugup yang berlebihan).
2.      Tahap Kedua
Pada tahap ini, dampak stres yang semula menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan karena habisnya cadangan energi. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan antara lain merasa lebih letih sewaktu bangun pagi dalam kondisi normal, badan yang (seharusnya berasa segar), mudah lelah sesudah makan siang, cepat lelah menjelang sore, mengeluh lambung atau perut tidak nyaman, jantung berdebar-debar, otot punggung dan tengkuk terasa tegang dan tidak bisa santai.
3.      Tahap Ketiga
Jika tahap stres sebelumnya tidak ditanggapi dengan memadai, maka keluhan akan semakin nyata, seperti gangguan lambung dan usus (gastritis atau Magg, diare), ketegangan otot semakin terasa, perasaan tidak tenang, gangguan pada pola tidur (sulit untuk memulai tidur, terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur, atau bangun terlalu pagi dan tidak dapat tidur kembali), tubuh terasa lemah dan tidak bertenaga.
4.      Tahap Keempat
Orang yang mengalami tahap-tahap stres diatas ketika memeriksakan kedokteran sering kali dinyatakan tidak karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ tubuhnya. Namun pada kondisi berkelanjutan, akan muncul gejala seperti ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas rutin karena perasaan bosan, kehilangan semangat, terlalu lelah karena gangguan pola tidur, kemampuan mengingat dan konsentrasi menurun, serta perasaan takut dan cemas yang tidak jelas penyebabnya.



5.      Tahap Kelima
Tahap ini ditandai dengan kelelahan fisik yang sangat, tidak mampu menyelesaikan pekerjaan ringan dan sederhana, gangguan pada sistem pencernaan semakin berat, serta semakin meningkatnya rasa takut dan cemas.
6.      Tahap Keenam
Tahap ini merupakan tahap puncak, biasanya ditandai dengan rasa panik dan takut mati yang menyebabkan jantung berdetak semakin cepat, kesulitan untuk bernafas, tubuh gemetar dan berkeringat, dan adanya kemungkinan terjadi kolaps atau pingsan.

Model Stress
Akar dan dampak stres dapat dipelajari dari sisi medis dan model teori perilaku. Model stres dapat digunakan untuk membantu  pasien mengatasi respons yang tidak sehat dan perilaku produktif terhadap stressor. Ada berbagai bentuk model stres antara lain :
1.   Model Stres Berdasarkan Respons
Model stres ini menjelaskan respons atau pola respons tertentu yang dapat mengidentifikasikan streso. Model stres yang dikemukakan oleh Selye, 1976 (dalam Potter dan Perry, 1997) menguraikan stres sebagai respons yang tidak spesifik dari tubuh terhadap tuntutan yang dihadapinya. Stres ditunjukkan oleh reaksi fisiologis tertentu yang disebut (general adaption Syndrom-GAS).
2.   Model Stres Berdasarkan Adaptasi
Model ini menyebutkan empat faktor yang menentukan apakah suatu situasi menimbulkan stres atau tidak (Mechanic, 1962), yaitu :
    1. Kemampuan untuk mengatasi stres, bergantung pada pengalaman seseorang dalam menghadapi stres serupa, sistem pendukung, dan persepsi keseluruhan terhadap stres.
    2. Praktik dan Norma dari kelompok atau rekan-rekan pasien yang mengalami stres. Jika kelompoknya menganggap wajar untuk membicarakan stressor maka pasien akan mengeluh atau mendiskusikan hal tersebut. Respon ini dapat membantu proses adaptasi terhadap stres.
    3. Pengaruh lingkungan sosial dalam membantu seseorang menghadapi ujian akhirnya yang pertama dapat mencari pertolongan dari dosennya. Dosen dapat memberikan penilaian dan selanjutnya memberikan referensi kepada asisten dosen tertentu yang menurutnya mampu membantu kegiatan belajar belajar mahasiswa tersebut. Dosen dan asisten dosen dalam contoh ini merupakan sumber penurun tingginya stressor yang dialami mahasiswa tersebut.
    4. Sumber daya yang dapat digunakan mengatasi stressor. Misalnya seorang penderita sakit yang kurang mampu dalam hal keuangan dapat memperoleh bantuan tunjangan akses perusahaan tempatnya bekerja untuk kemudian berobat di rumah sakit yang memadai. Hal ini mempengaruhi cara pasien untuk mendapatkan akses ke sumber daya yang dapat membantunya mengatasi stressor fisiologis.
 3.  Model Stres Berdasarkan Stimulus
Model ini pada karakteristik yang bersifat mengganggu atau merusak dalam lingkungan. Riset klasik yang mengungkapkan stress sebagai stimulus telah menghasilkan skala penyesuaian ulang social, yang mengukur dampak dan peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan seseorang terhadap penyakit yang dideritanya (Holmes dan Rahe, 1976).
4.   Model Stres Berdasarkan Transaksi
      Model ini memandang orang dan lingkungannya dalam hubungan yang
dinamis, resiprokal, dan interaktif. Model yang mengembangkan oleh Lazarus dan Flokman ini menganggap stressor sebagai respons perseptual seseorang yang berakardari proses psikologis dan kognitif. Stres berasal dari hubungan antara orang dan lingkungannya.

Faktor Presdiposisi Stres
Respons terhadap stressor yang diberikan pada individu akan berbeda, hal tersebut tergantung dari faktor stressor dan kemampuan koping yang dimiliki individu. Faktor presdiposisi ini sangat berperan dalam menentukan apakah respon adaptif atau malaptif. Faktor presdiposisi menurut (Murphy & Moriaty, 1976 dalam Rasmun 2004)
            Antara lain :
1.      Pengaruh Genetik
Pengaruh genetik adalah keadaan kehidupan seseorang yang diperoleh dari keturunannya. Contoh, riwayat kondisi psikologis dan fisik keluarga (kekuatan dan kelemahannya). Serta temperamen, karakteristik tingkah laku pada saat lahir dan masa pertumbuhan.
2.      Pengaruh Masa Lalu
Pengaruh masa lalu seperti, kejadian-kejadian yang menghasilkan suatu pola pembelajaran yang dapat mempengaruhi respons penyesuaian individu, termasuk pengalaman sebelumnya terhadap tekanan stress tersebut atau tekanan lainnya, mempelajari respons penanggulangan dan tingkat penyesuaian pada tekanan stress sebelumnya.
3.      Pengaruh Saat Ini
Kondisi saat ini yang meliputi faktor kerentanan yang mempengaruhi kesiapan fisik, psikologis, dan sumber-sumber social individu untuk menghadapi tuntunan menyesuaikan diri, contohnya :
a.       Status kondisi kesehatan saat ini.
b.      Motivasi.
c.       Perkembangan kedewasaan.
d.      Berat dan lamanya stress.
e.       Sumber keuangan dan pendidikan.
f.       Umur.
g.      Tersedianya penanggulangan saat ini.
h.      Sistem penunjang perawatan lainnya.
Respon Terhadap Stres
Respons stress adalah daptif dan protektif dan karakteristik dari respon ini yaitu hasil dari respons meuroendokrin yang terintegrasi dalam hal ini respon terbagi atas :
1.      Respon Fisiologis
Riset klasik yang dilakukan Selye, 1976 (dalam Potter da Perry, 1997) membagi dua respon adaptasi fisiologis terhadap stress yaitu sindrom adaptasi local (LAS) dan sindrom adaptasi umum (GAS).

    1. LAS
Las merupakan proses adaptasi yang bersifat local, misalnya ketika daerah tubuh atau kulit terkena infeksi, maka daerah sekitar kulit tersebut akan menjadi kemerahan, bengkak, terasa nyeri, panas, kram, dan lain-lain. Ciri-ciri las sebagai berikut :
1)      Bersifat local, yaitu tidak melibatkan keseluruhan sistem tubuh.
2)      Bersifat adaptif, yaitu diperlukan stressor untuk menstimulasi
3)      Bersifat jangka pendek, yaitu membantu memperbaiki hemoistasis daerah atau bagian tubuh.
    1. GAS
      Gas adalah suatu proses adaptasi yang bersifat umum atau sistematik. Misalnya, apabila reaksi local tidak dapat diatasi, maka timbul gangguan system atau seluruh tubuh lainnya berupa panas diseluruh tubuh, berkeringat, dan lain-lain. GAS terdiri dari tiga tahap, yaitu :
1)      Tahap Reaksi Alam
Merupakan tahap awal dari proses adaptasi, yaitu tahap dimana individu siap menghadapi stressor yang akan masuk kedalam tubuh, tahap ini dapat diawali dengan kesiagaan yang ditandai dengan perubahan fisiologis pengeluaran hormone oleh hipotalamus, yang dapat menyebabkan kelenjar adrenal mengeluarkan adrenalin, yang selanjutnya memacu denyut jantung dan menyebabkan pernafasan menjadi cepat dan dangkal. Kemudian, melepaskan hormone ACTH (hormone adrenokortikotropik) yang dapat merangsang adrenal untuk mengeluarkan kortikoid yang akan mempengaruhi berbagai fungsi tubuh. Aktifitas hormonal yang ekstensif tersebut mempersiapkan seseorang untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Dengan peningkatan kewaspadaan energi dan energi mental, seseorang di siapkan untuk melawan atau menghindari stresor. Selama reaksi alarm individu dihadapkan pada stressor spesifik. Jika stressor terus menetap setelah reaksi peringatan, individu berkembang pada fase ke dua dari GAS yaitu resisten.


2)      Tahap Resisten
Pada tahap ini tubuh sudah mulai stabil, tingkat hormone, tekanan darah, dan output jantung kembali normal. Individu berupaya beradaptasi dengan stressor jika stress dapat di selesaikan, tubuh akan memperbaiki kerusakan yang mungkin telah terjadi. Namun jika stresor tidak hilang, maka ia akan memasuki tahap ketiga dari GAS yaitu tahap kelelahan.
3)      Tahap Kelelahan
Tahap ini ditandai dengan terjadinya kelelahan karena tubuh tidak mampu lagi merangsang stress dan habisnya energi yang diperlukan untuk beradaptasi. Tubuh tidak mampu melindungi dirinya sendiri menghadapi stresor, regulasi fisiologis menurun, dan jika stress berkelanjutan dapat menyebabkan kematian.
2.      Respon Psikologis
Merupakan respon penyesuaian secara psikologis dengan cara melakukan mekanisme pertahanan diri yang bertujuan melindungi atau bertahan dari serangan atau hal yang menyenangkan.
Adaptasi psikologis bisa bersifat konstruktif atau destruktif, perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan untuk memecahkan konflik. Bahkan rasa cemas bisa jadi konstruktif, jika dapat memberi sinyal adanya suatu ancaman sehingga individu dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya. Perilaku destruktif tidak membantu individu mengatasi stresor. Bagi sebagaian orang, pengguna alcohol dan obat-obatan mungkin tampak perilaku adaptif, namun kenyatannya justru menambah dan bukannya mengurangi stress.
Perilaku adaptasi psikologis mengacu pada mekanisme koping (coping mechanism), yang berorientasi pada tugas (task oriented) dan mekanisme pertahanan diri (ego oriented), tujuannya adalah untuk mengatur distress emosional dan dengan demikian dapat memberikan suatu perlindungan individu terhadap ansiatas dan stress. Mekanisme pertahanan ego merupakan pertahanan terhadap stress tidak berjalan secara tidak langsung.


3.      Respon Verbal Motorik
Respon individu verbal secara verbal dan psikomotor terhadap stress. Umumnya respon pertama individu terhadap stress seperti spontanitas yang di ungkapkan secara verbal dan di ikuti dengan gerakan dari ungkapan emosional psikomotor seperti :
1.      Menangis
Menangis dapat menurunkan perasaan tegang terhadap situasi dari perasaan tegang terhadap situasi yang menyakitkan, menyenangkan, atau menyedihkan
2.      Ketawa
Merupakan respons untuk menurunkan kecemasan atau ketegangan yang dapat mengarahkan pada penyelesaian masalah konstruktif, misalnya suami yang mendengar istrinya sakit, tetapi tertawa ketika melihat sandal terbalik.
3.      Teriak
Merupakan respons pada ketakutan, frustasi atau marah misalnya terkejut karena tiba ada seseorang dari kegelapan. Respon ini dapat menurunkan ketegangan tetapi dapat berbahaya jika tidak dapat di control, karena individu yang ketakutan dan sebaiknya harus di tempatkan pada lingkungan yang tenang dan aman.
4.      Memukul dan menyepak
Respon spontan pada ancaman fisik, pada orang dewasa yang dapat mengendalikan diri mungkin memukul dan meyepak keranjang sampah. Cara ini dapat menurunkan ketegangan namun perlu diarahkan pada benda yang tidak dapat rusak dan Bantu menyelesaikan masalah.
5.      Menggenggam, memegang dan meremas
Merupakan respon pada keadaan senang. Menyakitkanatau sedih, cara ini memberikan rasa aman dan tenang. Namun perlu diperhatikan latar belakang budaya.
6.      Mencerca atau Mengumpat
Merupakan ungkapan perasaan yang tidak menyenangkan dari yang ditunjukkan pada objek atau kejadain yang merupakan sumber stress, untuk sementara individu dapat merasa puas, tetapi harus dibantu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalahnya (rasmun, 2004)

Reaksi Tubuh Terhadap Stres
Stres yaitu reaksi atau respon tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan) diuraikan di muka, maka seseorang yang mengalami stress dapat pula dilihat ataupun dirasakan dari perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya, misalnya antara lain :
1.      Rambut
Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi coklat-kecoklatan serta kusam. Ubanan (rambut memutih) terjadi sebelum waktunya, demikian pula dengan kerontokan rambut.
2.      Mata
Ketajaman mata sering kali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi focus mata.
3.      Telinga
Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (titinus).
4.      Daya pikir
Kemampuan berpikir dan mengingat serta konsntrasi menurun. Orang menjadi pelupa sering mengeluh sakit kepala atau pusing.
5.      Ekspresi wajah
Wajah seseorang yang stress tampak tegang, dahi berkerut, mimic, nampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa dan kulit muka kedutan.
6.      Mulut
Mulut bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum. Selain itu pada tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar untuk menelan, hasil ini disebabkan karena otot-otot lingkar ditenggorokan mengalami spasme sehingga serasa “tercekik”.
7.      Kulit
Pada orang yang mengalami stress reaksi kulit bermacam-macam pada kulit dari sebagaian tubuh terasa panas dan dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelemahan kulit lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya eksim, uritikaria (biduran), gatal-gatal, dan pada kulit muka sering kali muncul jerawat berlebihan, juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki berkeringat (basah).
8.      Sistem pernafasan
Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stress dapat terganggu misalnya Nafas terasa berat sesak dan berat dikarenakan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami spasme dan tidak elastis sebagaimana biasanya, sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma disebabkan karena otot-otot pada saluran paru-paru juga mengalami spasme.
9.      Sistem kardivaskuler
Sistem jantung dan pembulu darah atau kardiovaskuler dapat terganggu faal karena stress. Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar atau menyempit sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah dan pucat. Pembulu darah tepi terutama dibagian ujung jari-jari tangan atau kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain itu sebagaian tubuh terasa panas atau sebaliknya terasa dingin.
10.  Sistem pencernaan
Orang yang mengalami stress sering kali mengalami gangguan pada system pencernaan. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih hal ini disebabkan karena asam lambung yang berlebihan. Dalam istilah kedokteran disebut sebagai gastritis atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan penyakit maag, selain itu gangguan juga dapat terjadi pada usus, sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar atau sebaliknya sering diare.
11.  Sistem perkemihan
Orang yang sedang menderita stress faal perkemihan (air seni) dapat juga terganggu. Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya meskipun ia bukan penderita kencing manis.
12.  Sistem otot dan tulang
Stres dapat menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan tulang. Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa sakit (keju) seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain itu keluhan-keluhan pada tulang persendihan sering pula dialami misalnya rasa ngilu atau rasa kaku bila menggerakkan anggota tubuhnya, mayarakat aam sering menyebut gejala ini sebagai pegel linu.
13.  Sistem endokrin
Gangguan pada system endokrin ( hormonal ) pada mereka yang mengalami stress adalah kadar gula yang meninggi dan bila hal ini berkepanjangan bisa mengakibatkan bersangkutan menderita penyakit kencing manis.
14.  Libido
Kegairahan seseorang di bidang seksual dapat pula terpengaruh karena stre. Yang bersangkutan sering kali mengeluh libido menurun atau sebaliknya meningkat tidak sebagaimana biasanya.

Manifestasi Stres
Sesuai karakteristik individu maka respon terhadap stress berbeda-beda untuk setiap orang. Respon yang berbeda tersebut dikarenakan mekanisme koping yang digunakan individu dalam mengatasi stress berbeda pula, sehingga stress yang sama akan mempunyai dampak dan reaksi yang berbeda. Namun demikian gambaran dibawah ini digunakan untuk menganalisa kondisi stress dengan keadaan sakit. Hubungan stadium perkembangan sakit dengan stress, (Potter & Perry, 2005) telah membagi hubungan tingkat stress dengan kejadian stress :












Stres ringan
(tidak ada resiko sakit)


Stres
sedang



Stres
berat




Tanda
klinis





Penyakit
dan Tidak mampu








Kematian




 
Sehat


Sakit


Meninggal
Pencegahan Primer

Pelayanan dan
pengobatan

Tabel 2.1 hubungan tingkat stress dengan kejadian sakit
1.      Stres Ringan
Biasanya tidak merusak aspek fisiologis, sebaliknya stress sedang dan berat mempunyai resiko terjadinya penyakit, stress ringan pada umumnya dirasakan oleh setiap orang misalnya : lupa, tidak bisa tidur, ketiduran, kemacetan, dikritik. Situasi ini biasanya berakhir dalam beberapa menit atau beberapa jam. Situasi seperti ini nampaknya tidak akan menimbulkan penyakit kecuali jika dihadapi terus menerus.
2.      Stres Sedang
Terjadi lama atau beberapa jam sampai hari contohnya kesepakatan yang belum selesai, beban kerja yang berlebih, mengharapkan pekerjaan baru, anggota keluarga pergi dalam waktu yang lama, seperti ini dapat bermakna bagi individu yang faktor presdiposisi suatu penyakit koroner.
3.      Stres Berat
Stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai beberapa tahun, misalnya hubungan suami istri yang tidak harmonis, kesulitan financial dan penyakit fisik lainnya. Menurut Koizer, at all (1989) dalam Rasmun (2004), mengemukakan bahwa manifestasi stress antara lain :
    1. Manifestasi Psikologis
Manifestasi adalah, gejala atau gambaran yang dapat diamati secara subjek maupun objektif dari individu yang mengalami stress psikologis. Manifestasi psikologis individu terhadap stress antara lain, (Koizer, 1989 dalm Rasmun 2004).
1)      Kecemasan
Cemas adalah perasaan yang tidak menenangkan tidak menentu dari individu dimana penyebabnya tidak pasti atau tidak ada objek yang nyata, misalnya : cemas kalau ujian jelek, cemas tidak naik kelas, cemas menunggu kedatangan, menunggu keberangkatan, terlambat. Cemas data digolongkan menjadi cemas ringan, cemas sedang, cemas berat.
2)      Marah
Marah adalah suatu reaksi emosi yang subjektif atau kejengkelan dan ketidak puasan individu terhadap tuntunan yang tidak terpenuhi.
Ada tiga ekspresi marah yang konstruktif :
a)      Perhatian, yaitu aksi mencari perhatian orang lain dengan cara memanggil nama.
b)      Mencari penjelasan, proses mencari penjelasan atas masalah yang menyebabkan marah.
c)      Identifikasi, yaitu mencari respond an dukungan orang lain.
    1. Manifestasi Kognitif
Manifestasi kognitif adalah reaksi dari individu yang mengalami stress dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang memiliki untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
1)      Penyelesaian masalah
Individu melakukan identifikasi dan menetapkan masalah penyebab stress kemudian dengann kemampuan kognitif menyelesaikan masalah dengan cara memilih dan melaksanakan alternative dan mengevaluasi keberhasilan dan keefektifan upaya yang di lakukannya.

2)      Strukturisasi
Menata dan memanipulasi situasi agar kejadian yang mengancam tidak muncul kembali, misalnya menjadwalkan pemeriksaan kesehatan, menyusun kembali jadwal atau kegiatan sehari-hari kacau.
3)      Disiplin diri
Tindakan yang dilakukan oleh individu melatih diri atau kebiasaan yang dapat menghindari timbulnya stress missal untuk menghindari hasil ujian yang jelek siswa dengan membiasakan dirinya untuk belajar tekun dan sungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.
4)      Supresi
Menekan perasaan yang tidak menyenangkan ke dalam alam sadar.
5)      Fantasi dan melamun
Kebutuhan yang tidak tercapai dibayangkan tercapai, sehingga hasilnya tidak realistis misalnya seorang ibu yang sedang menunggu hasil laboratorium biopsi mammae melamukan hasil bedah mengatakan anda tidak kanker, sedangkan fantasi yang mengarah pada penyelesaian masalah adalah “ walaupun dokter mengatakan saya kanker, tetapi telah ada tindakan pengangkatan kanker, saya akan terima.
6)      Berdo’a dan Sembahyang
Upaya menyelesaikan masalah dengan cara berserah diri kepada yang maha pencipta, namun harus disertai dengan upaya bentuk tindakan.

Manajemen Stres
Manajemen stress merupakan upaya mengelolah stress dengan baik, bertujuan mencegah atau mengatasi stress agar tidak sampai pada tahap yang paling berat. Beberapa manajemen stress dapat dilakukan dengan cara :
1.      Pengaturan diet dan Nutrisi
Pengaturan diet dan nutrisi merupakan cara yang efektif dalam mengurangi atau mengatasi stress. Ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang bergizi sesuai porsi dan jadwal yang teratur. Menu juga sebaiknya bervariasi agar tidak timbul kebosanan.
2.      Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stress karena istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keletihan fisik dan kebugaran tubuh. Tidur yang cukup juga dapat memperbaiki sel-sel yang rusak.
3.      Olah raga atau latihan teratur
Olahraga teratur adalah satu cara meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olahraga yang dilakukan tidak harus sulit. Olahraga yang sederhana seperti jalan pagi atau lari pagi sering dilakukan paling tidak dua kali seminggu dan tidak harus sampai berjam-jam. Sesuai olahraga, dinamakan tubuh yang berkeringat sejenak lalu mandi untuk memulihkan kesegarannya.
4.      Berhenti merokok
Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stress karena dapat meningkatkan status kesehatan serta menjaga ketahanan dan kekebalan tubuh.
5.      Menghindari minuman keras
Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat mengakibatkan terjadinya stress. Dengan menghindari minuman keras, individu terhindar dari banyak penyakit yang disebabkan oleh pengaruh minuman keras yang mengandung alcohol.
6.      Mengatur berat badan
Berat badan yang tidak seimbang (terlalu gemuk atau lebih terlalu kurus) merupakan faktor yang dapat menimbulkan stress. Keadaan tubuh yang tidak seimbang akan menurunkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap stress.
7.      Mengatur waktu
Pengaruh waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan menanggulangi stre. Dengan mengatur waktu sebaik-baiknya, pekerjaan yang dapat menimbulkan keluhan fisik dapat dihindari. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien, misalnya tidak membenarkan waktu berlalu tanpa menghasilkan hal yang bermanfaat.
8.      Terapi psikofarmaka
Terapi ini menggunakan obat-obatan dalam menghadapi stress yang dialami melalui pemutusan jaringan antara psiko,neuro, dan imunologi sehingga stressor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau psikomotor yang dapat mengganggu system tubuh yang lain. Obat-obatan yang biasanya digunakan adalah obat anti cemas dan anti depresi.
9.      Terapi somatik
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stress yang dialami, sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu system tubuh yang lain.
10.  Psikoterapi
Terapi ini menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan seseorang. Terapi ini meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi redukatif. Psikoterapi suportif memberikan motivasi dan dukungan aagr pasien memiliki rasa percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan dukungan secara berulang. Selain itu, ada pula psikoterapi rekonstruktif dengan cara memperbaiki kembali kepribadian yang mengalami goncangan dan psikoterapi kognitif dengan memulihkan fungsi kognitif pasien (kemampuan berpikir rasional).
11.  Terapi psikoreligius
Terapi ini menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi permasalahan psikologis. Terapi ini diperlukan karena dalam mengatasi atau mempertahankan kehidupan, seseorang harus sehat secara fisik, psikis, social, maupun spiritual.
            Manajemen stress yang lain adalah dengan cara meningkatkan strategi koping yaitu koping yang berfokus pada emosi dilakukan dengan cara lain dengan cara mengatur respons emosional terhadap stress melalui perilaku individu, sedangkan strategi koping yang berfokus pada masalah dilakukan dengan mempelajari cara atau ketrampilan yang dapat menyelesaikan masalah, seperti ketrampilan menetapkan prioritas pekerjaan, menejemen waktu, dan peningkatan dukungan social. Teknik lain dalam mengatasi stress adalah relaksasi meditasi, dan sebagainya (Hawari, 2002).







BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual



 



















Gambar 15 : Kerangka konseptual Upaya penurunan tingkat stress pada pasien penyakit kronis diabetes mellitus type I melalui pendekatan teori Calista Roy






3.2 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian (Alimul, A.2007). Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut :




























BAB 4
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara memecahkan masalah menurut metode keilmuan. Dalam bab ini akan diuraikan beberapa metode yang mendasari penelitian yaitu, (1) Desain penelitian, (2) Kerangka kerja, (3) Populasi, sampel, dan sampling, (4) Variabel penelitian dan definisi operasional, (5) Pengumpulan dan analisa data, (6) Keterbatasan, (7) Masalah etik.

4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian (Alimul, A.2007). Ada juga yang menguraikan bahwa desain penelitian adalah suatu strategi penelitian dalam mengidentifikasi permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data (Nursalam, 2003).
Jenis penelitian yang digunakan adalah Observasional dan desain yang digunakan adalah “.........” yaitu ....
















4.2 Kerangka Kerja Penelitian






























4.3 Populasi, sampel, dan sampling
4.3.1 Populasi
Populasi adalah seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti (Alimul, A.2007). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien Diabetes Melitus Type 1 di Rs. Yapalis di Kabupaten Sidoarjo Dengan populasi ∑ = 50 orang.

4.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Alimul, A.2007). Sampel yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagian pasien Diabetes Melitus Type 1 di Rs.Yapalis di Kabupaten Sidoarjo.

4.3.3 Besar Sampel
Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Nursalam, 2000). Besar sampel dalam penelitian ini adalah 53 responden yang menderita TB paru. Besar sampel dalam penelitian ini ditetapkan berdasarkan rumus (Notoatmodjo, 2005).
Dalam penelitian ini besar sampel yang digunakan dalam rumus :
                     n =         N______
                              1 + N (d2)
Keterangan :
N = Besar Populasi
n = Besar Sampel
d = Tingkat kesalahan yang ditolerir (0,05) (Nursalam, 2003).
Diketahui : N = 50 orang                 d = 0,05
Ditanya : n ?






n =         N______
 1 + N (d2)
n =         50______
                               1 + 50 (0,052)
n =            50_______
1 + 50 (0,0025)
n =         50______
 1 + 0,125
n =           50___
   1,125
n =  44,4
Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah 44 responden.
       
4.3.4 Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi proses dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini sampling dilakukan secara probability dimana setiap subyek mempunyai peluang atau kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling, yaitu teknik penetapan sampel dengan cara setiap elemen diseleksi secara random atau acak (Nursalam, 2003).











4.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
4.4.1 Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai cirri, sifat atau yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan peneliti tentang sesuatu konsep penelitian tertentu (Notoatmodjo,2002).
4.4.1.1 Variabel Independen
Variabel independen ini merupakan variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas yang artinya bebas dalam mempengaruhi variabel lain (Alimul, A.2007). Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pendekatan Calista Roy.

4.4.1.2 Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas (Alimul, A.2007). variabel dependen dalam penelitian ini adalah Penurunan Tingkat Stress.

4.4.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional dan berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena (Alimul, A.2007).









Tabel 4.1 : Definisi Operasional dan Variabel Penelitian
Variabel
Definisi Operasional
Parameter / Indikator
Alat Ukur
Skala
Skor
Variabel Independen
-          Pendekatan Calista Roy










Variabel Dependen
-          Stress

Pengertiannya apa??











Segala situasi dimana tuntunan non spesifik yang mengharuskan seseorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan, respon atau tindakan ini termasuk respon fisiologi atau psikologi


Cari parameter / indicator teory adaptasi roy!!










Cari parameter/ indicator stress !!!!

-












-       Observasi
-       Kuisioner

-












Ordinal

-












-Stess Ringan
-Stress Sedang
-Stress Berat




4.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2002). Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuisioner dan observasi. Dan cara pengukurannya dengan skala ordinal, menggunakan pertanyaan tertutup.

4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rs. Yapalis Kabupaten Sidoarjo. Waktu penelitian pada bulan Desember 2011.

4.7 Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar