Info Kesehatan

healhty

Minggu, 22 April 2012

askep GANGGUAN SISTEM PENGLIHATAN (BUTA WARNA)





ASUHAN KEPERAWATAN PADA 
PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
PENGLIHATAN (BUTA WARNA)


BAB  I
KONSEP DASAR

I.      ANATOMI
Retina adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas penyebaran
serabut saraf optik. Letaknya antara badan kaca dan koroid. Di bagian retina yang
letaknya sesuai dengan sumbu penglihatan, terdapat makula lutea yang berperan
penting untuk tajam penglihatan. Di tengah makula terdapat bercak mengkilap yang
merupakan reflex fuvea kira-kira 3 mm ke arah nasal kutub belakang bola mata,
terdapat daerah putih kemerahan disebut papil saraf optik. Arteri sentral bersama
venanya masuk ke dalam bola mata di tengah papil saraf optik merupakan pembuluh
darah. Terminal retina terdiri dari 10 lapisan dan memiliki 3 lapisan sel saraf yaitu:
1.   Lapisan sel kerucut (cellula optica caniformis) dan sel batang (cellula optica
bacilliformis)
2.   Lapisan sel-sel (neuron) bipolar
3.   Lapisan sel-sel ganglion

























     Lapisan sel kerucut dan sel batang
Merupakan sel reseptor yang peka terhadap rangsangan cahaya, sehingga
disebut fotoreseptor. Fotoreseptor terdiri atas 3 bagian:
1.   Segmen luar, paling dekat dengan eksterior mata, menghadap ke koroid dan
mendeteksi rangsangan cahaya.
2.   Segmen dalam, terletak di pertengahan panjang fotoreseptor dan mengandung
perangkat metabolik sel.
3.   Terminal sinaps, paling dekat dengan interior mata menghadap ke neuron
bipolar dan menyalurkan sinyal yang dihasilkan fotoreseptor setelah mendapat
rangsangan cahaya yang bermacam-macam warna sel-sel berikutnya pada
jalur penglihatan.
     Lapisan sel-sel bipolar
Axon-axon dari sel-sel batang dan kerucut mengadakan hubungan sinaptik
dengan dendrite-dendrite di sel bipolar terutama di daerah sentral retina. 1 sel
kerucut mengadakan hubungan sinaptik dengan satu sel bipolar, sejumlah sel
batang mengadakan hubungan sinaptik dengan satu sel bipolar.
Hubungan 1 sel kerucut dengan 1 sel bipolar tersebut memungkinkan
penghantaran impuls-impuls yang timbul di dalam satu sel kerucut secara terpisah
melalui serat nervus opticus. Oleh karena itu impuls-impuls tersebut pada
akhirnya dapat diterima secara terpisah pula di dalam cortex area penglihatan,
sehingga memungkinkan suatu penglihatan yang amat tajam.
     Lapisan sel-sel ganglion
Axon-axon dari sel-sel bipolar mengadakan hubungan sinaptik dengan
dendrite-dendrite dari sel-sel ganglion. Selanjutnya axon-axon dari sel ganglion
berkumpul pada permukaan sebelah dalam retina untuk membentuk suatu lapisan
retina paling dalam. Stratum neurofibriarum nervus opticus, untuk selanjutnya
meninggalkan retina dan keluar dari dinding dorsal bulbus oculi sebagai nervus
opucus.


1





II. FISIOLOGI
Retina dilengkapi dengan suatu bahan kimia yang disebut rhodopsin atau zat
warna penglihat yang berwarna merah-ungu. Cahaya yang jatuh pada retina
menyebabkan adanya perubahan kimiawi di dalam rhodopsin serta bahan-bahan lain
yang terdapat di dalam sel kerucut dan sel batang. Rhodopsin, fotopigmen sel batang
tidak dapat membedakan berbagai panjang gelombang spektrum cahaya. Pigmen
tersebut menyerap semua panjang gelombang cahaya tampak, sehingga sel batang
hanya memberi gambaran bayangan abu-abu apabila mendeteksi berbagai intensitas
cahaya, tidak memberi warna.
Foto pigmen di tiga jenis sel kerucut (sel kerucut merah, hijau dan biru)
berespon secara selektif terhadap berbagai panjang gelombang cahaya, sehingga
penglihatan warna dapat terjadi. Sensasi dari setiap warna tertentu ditentukan oleh
frekuensi relatif impuls dari ketiga sistem sel kerucut tersebut. Pigmen peka
biru/gelombang pendek menyerap warna maksimum dari bagian biru-ungu spektrum.
Pigmen peka hijau atau gelombang menengah menyerap warna maksimum di bagian
hijau, dan pigmen peka merah atau gelombang panjang menyerap warna maksimum
di bagian kuning, biru, merah, hijau adalah warna primer, tapi sel kerucut yang
memiliki penyerapan maksimum di bagian kuning. Spektrum cukup peka pada bagian
merah sehingga berespon terhadap cahaya merah dan ambang yang lebih rendah
daripada cahaya hijau.

III. PENGERTIAN
Buta warna/kekurangan penglihatan warna adalah kemampuan penglihatan
warna-warna yang tidak sempurna, di mana seseorang tidak atau kurang dapat
membedakan beberapa warna dengan baik, dapat terjadi secara kongenital maupun
didapat akibat penyakit tertentu.

IV. PENYEBAB
a.   Kongenital, bersifat resesif terkait dengan kromosom X
b.   Didapat, bila ada kelainan pada makula dan saraf optik.

V. PATOFISIOLOGI
Mata yang sehat mempunyai beribu-ribu sel kerucut yang peka terhadap
warna, sel kerucut ini kemudian menghantarkan rangsangan pada saraf optik yang
seterusnya menyampaikan ke otak. Pada penderita buta warna beberapa sel kerucut
tidak dapat menghantar isyarat warna dengan sempurna sehingga ia tidak mampu
membedakan beberapa warna tertentu.
Defek penglihatan dapat bersifat kongenital herediter maupun didapat:
     Defek penglihatan kongenital hampir selalu “merah-hijau” mengenai 8 % laki-laki 
dan 0,5 % perempuan, mengenai kedua mata dan tingkat keparahannya setara atau
sama antara kedua mata. Defek penglihatan kongenital bersifat resesif terkait
kromosom X, tipe keparahannya konstan.
     Defek penglihatan didapat
Lebih sering pada warna biru-hijau dan mengenai semua jenis kelamin dengan
insiden yang sama. Sering mengenai salah satu mata, di mana tipe dan



2





keparahannya bervariasi, tergantung pada letak dan gambar patologi okuler yang
biasanya dapat dilihat secara oftalmoskop.
Defek penglihatan warna/buta warna dapat terjadi dalam bentuk:
     Trikromat
Keadaan pasien punya 3 pigmen kerucut yang mengatur fungsi
penglihatan. Pasien buta warna dapat melihat berbagai warna tapi dengan
interpretasi berbeda daripada normal, bentuk yang paling sering ditemukan:
a)   Protanomali (defisiensi warna merah)
b)   Deutranomali (defisiensi warna hijau)
c)   Tritanomali (defisiensi warna biru)
     Dikromat
Hanya memiliki 2 pigmen kerucut dan mengakibatkan sukar membedakan
warna tertentu.
a)   Protanopia: keadaan yang paling sering ditemukan dengan cacat pada warna
merah, hijau.
b)   Dentranopia: tidak memiliki warna hijau.
c)   Tritanopia: kesukaran membedakan warna biru dari kuning.
     Monokromat/akromatopia
Hanya terdapat 1 pigmen kerucut

VI. TANDA DAN GEJALA
Tergantung dari jenis buta warna yang diderita, biasanya seseorang yang
mengalami kekurangan penglihatan warna sering keliru dalam membedakan warna-
warna tertentu dan juga mungkin tidak dapat melihat suatu warna dengan terang
seperti orang normal.
1.   Dikromatik
a.   Protanopia: penderita tidak dapat membedakan warna merah dan hijau karena
pigmen merah tidak ada.
b.   Dentranopia: penderita tidak dapat membedakan warna merah hijau karena
pigmen hijau tidak ada.
c.   Tritanopia: penderita tidak dapat membedakan warna biru-kuning karena
pigmen biru hilang.
2.   Trikromatik
Penderita memiliki 3 macam sel kerucut tapi salah satunya tidak berfungsi secara
normal. Gejala analog dengan defek pada dikromatik.
3.   Monokromatik
Terdiri dari 2 bentuk walaupun keduanya tidak memiliki diskriminasi warna sama
sekali.
a.   Monokromatik batang
Pengidap lahir tanpa sel kerucut yang berfungsi pada retina dengan gejala:
penurunan ketajaman penglihatan, tidak ada penglihatan warna, fotofobia dan
nistagmus.
b.   Monokromatik kerucut
Tidak memiliki diskriminasi cacat warna tapi ketajaman penglihatan normal,
tidak terdapat fotofobia dan nistagmus.


3





Monokromatik kerucut memiliki fotoreseptor kerucut tapi semua sel kerucut
mengandung pigmen penglihatan yang sama.

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.   Oftalmoskop
Suatu alat dengan sistem pencahayaan khusus untuk melihat bagian dalam mata,
terutama retina dan struktur terkaitnya.
2.   Tes penglihatan warna
a.   Uji ishihara
Dengan memakai sejumlah lempeng polikromatik yang berbintik, warna
primer dicetak di atas latar belakang mosaik bintik-bintik serupa dengan aneka
warna sekunder yang membingungkan, bintik-bintik primer disusun menurut
pola (angka atau bentuk geometrik) yang tidak dapat dikenali oleh pasien yang
kurang persepsi warna.











































4





b.   Uji pencocokan benang
Pasien diberi sebuah gelendong benang dan diminta untuk mengambil
gelendong yang warnanya cocok dari setumpuk gelendong yang berwarna-
warni.
3.   Tes sensitivitas kontras
Adalah kesanggupan mata melihat perbedaan kontras yang halus, di mana pada
pasien dengan gangguan pada retina, nervus optikus atau kekeruhan media mata
tidak sanggup melihat perbedaan kontras tersebut.
4.   Tes elektrofisiologik
a.   Elektroretingrafi (ERG)
Untuk mengukur respon listrik retina terhadap kilatan cahaya bagian awal
respon flash ERG mencerminkan fungsi fotoreseptor sel kerucut dan sel
batang.
b.   Elektro okulografi (EOG)
Untuk mengukur potensial korneoretina tetap. Kelainan EOG terutama terjadi
pada penyakit secara dipus mempengaruhi epitel pigmen retina dan
fotoreseptor.

VIII. TERAPI BUTA WARNA
Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan buta warna, tapi
bagaimanapun pengidap boleh diajar untuk menyesuaikan diri dalam mengatasi
kelemahannya dalam membedakan warna, seperti dengan menghafal bentuk, ukuran.
Untuk mengurangi gejala dapat digunakan kacamata yang berlensa dengan
filter warna khusus yang memungkinkan pasien melakukan interpretasi kembali
warna.
BAB II
ASKEP PADA PASIEN DENGAN 
GANGGUAN SISTEM PENGLIHATAN (BUTA WARNA)

I.      PENGKAJIAN
1.   Riwayat Kesehatan
a.   Kapan keluhan dirasakan.
b.   Apakah gangguan penglihatannya ini mempengaruhi ketajaman penglihatan.
c.   Bagaimana gangguan penglihatan itu terjadi.
d.   Apakah pasien merasakan adanya perubahan dalam matanya (massa tumor).
e.   Apakah pasien merasa ketajaman penglihatannya berkurang.
f.    Apakah ada keluhan lain yang menyertai (misalnya: gatal, pusing, keluar pus
dan darah pada mata).
g.   Apakah pasien sering minum obat-obat tertentu (nama obatnya dan lama
penggunaannya).
h.   Apakah pasien sebelumnya pernah menderita penyakit yang sama.
i.    Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit mata yang sama.
2.   Riwayat Sosial
a.   Tanyakan usia pasien dan bandingkan dengan perkembangan yang normal dari
matanya
b.   Tanyakan tentang hobby dan kegiatan yang dilakukan pasien.

5




3.   Riwayat Psikologis
a.   Bagaimana perilaku dan reaksi pasien serta keluarganya terhadap gangguan
penglihatan yang dialami pasien.
b.   Mekanisme koping yang biasa digunakan pasien dalam menghadapi dan
mengatasi masalahnya.
4.   Pengkajian Fisik
a.   Tes penglihatan warna: uji ishihara
b.   Pemeriksaan tajam penglihatan (visus dasar)
-     Visus OD
-     Visus OS (tidak dapat diukur karena ada massa tumor)
c.   Pemeriksaan anatomik dilakukan dengan cara objektif
-     Inspeksi: perhatikan tanda-tanda nyata (adanya pembengkakan, kemerahan
dan tumor)
-     Palpasi: untuk menentukan adanya tumor, rasa sakit (nyeri tekan), keadaan
dan tahanan intra okuler.
5.   Pemeriksaan Diagnostik
-     ERG: defisiensi salah satu sel kerucut
-     Oftalmoskop
Retina berwarna kuning-merah dengan bercak-bercak hitam-coklat.
Pengumpulan Data
DS:
-     Keluhan tidak dapat membedakan warna tertentu
-     Keluhan atau pada cahaya terang
-     Merasa malu dengan orang lain
DO:
-     Interpretasi warna rendah/kurang
-     Tidak dapat menyebutkan angka dalam buku ishihara
-     Tampak murung
-     Menarik diri
-     Perasaan terhadap tubuh
Prioritas Masalah
1.   Gangguan persepsi warna
2.   Gangguan konsep diri
3.   Resiko terhadap cedera
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

No.
1.     DS:

Data

Penyebab
Defek

Masalah
Gangguan persepsi

- Keluhan tidak dapat
membedakan warna tertentu
- Keluhan silau pada cahaya
terang
DO:
- Interpretasi warna rendah
- Tidak dapat menyebutkan
angka dalam buku ishihara

penglihatan
warna










6

warna





2.     DS:
- Merasa malu dengan orang
lain
DO:
- Tampak murung
- Menarik diri
- Perasaan (-) terhadap tubuh




Harga diri rendah     Gangguan konsep
diri

3.



III. RENCANA KEPERAWATAN

Interpretasi warna
kurang

Resiko terhadap
cedera

1.   Gangguan persepsi warna berhubungan dengan defek penglihatan warna ditandai
dengan:
-     Keluhan tidak dapat membedakan warna tertentu.
-     Keluhan silau pada cahaya terang
-     Interpretasi warna kurang
-     Tidak dapat menyebutkan angka dalam buku ishihara
Tujuan:
Gangguan persepsi warna teratasi dengan kriteria:
-     Klien dapat membedakan warna dengan benar
-     Tidak merasa silau pada cahaya terang
Intervensi:
a.   Kaji bentuk defisiensi buta warna. Tentukan apakah salah satu atau kedua
mata yang rusak:
Rasional:
Menentukan kriteria buta warna yang diderita.
b.   Lakukan tindakan untuk membantu klien mengurangi keterbatasan
penglihatan pada cahaya terang, contoh: perbaikan sinar/warna yang terang.
Rasional:
Menurunkan rasa silau pada mata.
c.   Anjurkan klien menggunakan teknik khusus dalam menginterpretasi warna,
misalnya: dengan menghafal bentuk, ukuran, ukuran/susunan dll suatu benda.
Rasional:
Memudahkan klien menentukan warna yang dimaksud oleh suatu benda.
d.   Kolaborasi dengan dokter untuk penggunaan kacamata.
Rasional:
Kacamata dengan lensa yang memiliki filter warna khusus memungkinkan
klien untuk menginterpretasi warna dengan benar.
2.   Gangguan konsep diri berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan:
-     Klien merasa malu
-     Perasaan (-) terhadap tubuh
-     Klien tampak murung
-     Menarik diri dari lingkungan
Tujuan:
Gangguan konsep diri teratasi dengan kriteria:

7





-     Klien tampak cerah
-     Merasa optimis
-     Dapat bergaul dengan lingkungan
-     Menerima diri apa adanya.
Intervensi:
a.   Beri kesempatan klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional:
Memvalidasi perasaan dan persepsi klien meningkatkan kesadaran diri dan
mempertinggi konsep diri.
b.   Beri dukungan psikologis
Rasional:
Dapat bersikap realistis dan menerima keadaannya.
c.   Beri informasi yang akurat tentang penyakitnya
Rasional:
Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya sehingga
ansietasnya dapat berkurang dan dapat menerima dirinya apa adanya.
3.   Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kurangnya interpretasi warna.
Tujuan: cedera tidak terjadi dengan kriteria:
-     Klien dapat menginterpretasikan warna
-     Klien dapat melindungi diri dari cedera
Intervensi:
a.   Anjurkan     untuk     tetap      menggunakan      teknik-teknik      khusus     dalam
menginterpretasi warna
Rasional:
Klien dapat mengidentifikasi warna dari suatu benda yang dapat menurunkan
resiko cedera.
b.   Anjurkan orang terdekat untuk selalu bersama klien.
Rasional:
Menurunkan kebingungan klien, di mana ia dapat ditanya pada orang
terdekatnya bila ia tidak bisa menginterpretasikan suatu benda.
c.   Ingatkan klien untuk tetap menggunakan kacamata
Rasional:
Penggunaan kacamata dengan lensa yang berfilter warna khusus
memungkinkan klien untuk menginterpretasikan warna dengan baik yang
dapat menghindari dirinya dari cedera.

IV. IMPLEMENTASI
Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan
yang akan dilakukan sesuai prosedur yang telah ditentukan.

V. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi hasil menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada tahap
perencanaan keperawatan. Dilakukan secara periodik, sistematis dan terencana. Hasil
evaluasi segera dicatat dan didokumentasikan.




8





DAFTAR PUSTAKA
     Anderson, CR, Petunjuk Modern Kepada Kesehatan, Indonesia, Publishing House,
Bandung, 1975.
     Ganong, WF, Fisiologi kedokteran, EGC, Jakarta, 195.
     Ilyas, HS, Ilmu Penyakit Mata. FKUI, Jakarta, 2002.
     Sherwood, L., Fisiologi Manusia, EGC, Jakarta, 1996.
     Sukardi, E. Neuroanatomia Medica, UI-Press, Jakarta, 1985.
     Vaughan, DE, Asburg, T., Rior dan Eva, P., Oftalmologi Umum, Widya Medika,
Jakarta, 1996.

















































9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar