Info Kesehatan

healhty

Minggu, 22 April 2012

EPILEPSI (GANGGUAN KONDUKSI SISTEM SYARAF)






EPILEPSI (GANGGUAN KONDUKSI SISTEM SYARAF)



Konduksi atau hantaran merupakan proses aktif yang bekerja sendiri dan memerlukan penggunaan energi
oleh syaraf. Konduksi impuls syaraf walaupun cepat, namun berlangsung lebih lambat daripada listrik,
karena jaringan syaraf merupakan konduktor pasif yang relatif sangat buruk. Syaraf memerlukan potensial
beberapa volt untuk dapat menghasilkan impuls, sebab sel syaraf mempunyai ambang yang rendah
terhadap perangsangan (impuls).

Kata “epilepsy” berasal dari kata Yunani “epilambanein” yang berarti serangan. Dan menunjukkan bahwa
“sesuatu dari luar yang menimpa dirinya, sehingga ia jatuh.” Epilepsy tidak dianggap sebagai suatu
penyakit, tetapi lebih diyakini sebagai suatu kutukan roh jahat atau kekuatan gaib yang merasuki
seseorang. 

Epilepsi sudah dikenal sekitar 2000 tahun SM didaratan Cina, namun Hipocrateslah orang pertama yang
mengenalkan epilepsy sebagai suatu penyakit dalam bukunya “On the Sacred Disease” yang mengatakan
bahwa terjadinya epilepsy bukan karena kekuatan supranatural, tetapi berasal dari dalam diri penderita itu
sendiri. 

Di Indonesia epilepsy lebih dikenal dengan istilah-istilah berikut ini : sawan, ayan dan gila babi, sehingga
sampai saat ini pengobatannya masih menggunakan cara-cara mistik dan pemasangan. Epilepsy
merupakan suatu masalah neurologis yang relatif sering terjadi dan dapat menyerang semua kelompok
usia, juga segala jenis bangsa dan keturunan di seluruh dunia. Lebih kurang 70% dapat terjadi sebelum
usia 20 tahun dan lebih sering terjadi pada masa kanak-kanak. 

Definisi
Epilepsy adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-
serangan, berulang-ulang yang disebabkan oleh lepasan muatan listrik abnormal sel-sel syaraf otak, yang
bersifat reversible dengan berbagai etiologi, dengan ciri khas serangan yang timbul secara tiba-tiba dan
menghilang secara tiba-tiba pula. 

Etiologi 
Perlu diketahui bahwa epilepsy bukanlah suatu penyakit, tetapi suatu gejala yang dapat timbul karena
penyakit. Secara umum serangan epilepsy dapat timbul jika terjadi pelepasan aktifitas energi yang
berlebihan dan mendadak dalam otak, sehingga mengganggu kerja otak. Otak akan segera
mengkoreksinya dan kembali normal dalam beberapa saat. 

Secara umum epilepsy dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
1.   Epilepsi primer atau epilepsy idiopatik yang sampai pada saat ini belum ditemukan penyebabnya
dan sebagian besar terjadi pada anak-anak. Pada kasus ini tidak ditemukan kelainan pada jaringan
otak.
2.   Epilepsi sekunder  penyebabnya diketahui, antara lain :

a.   Faktor    herediter   
hipoparatiroidisme, hipoglikemia.

yang mengalami kelainan             seperti         neurofibromatosis,

b.   Faktor genetik  pada kejang demam
c.   Kelainan congenital otak  atropi, agenesis korpus kolosum
d.   Gangguan metabolic  hipoglikemia, hipoklasemia, hiponatremia, hipernatremia
e.   Infeksi  radang yang disebabkan virus atau bakteri pada otak dan selaputnya seperti
toksoplasmosis, meningitis
f.    Trauma  contusio cerebri, hematoma sub arachnoid, hematoma subdural
g.   Neoplasma otak dan selaputnya
h.   Kelainan pembuluh darah, malformasi dan penyakit kolagen
i.    Keracunan  timbal, kamper/kapur barus, fenotiazin
j.    Lain-lain  penyakit darah, gangguan keseimbangan hormon, degenerasi cerebral

Faktor precipitasi atau faktor pencetus atau yang mempermudah terjadinya gejala
1.   Faktor sensoris  cahaya yang berkedip-kedip (fotosensitif), bunyi-bunyi yang mengejutkan, air,
dll.
2.   Faktor sistemis   demam, penyakit infeksi, obat-obatan tertentu (fenotiazin, klorpropamid,
barbiturat, valium), perubahan hormonal (hipoglikemia), kelelahan fisik.
3.   Faktor mental  stress, gangguan emosional, kurang tidur

1






Patofisiologi
Secara umum, epilepsy dapat terjadi karena menurunnya potensial membran sel syaraf akibat proses
patologik dalam otak, gaya mekanik, atau toksik, yang selanjutnya menyebabkan terlepasnya muatan
listrik dari sel syaraf tersebut.

Beberapa penyelidikan menunjukkan peranan acetilkolin sebagai zat yang merendahkan potensial
membran prosinaptik dalam hal terlepasnya muatan listrik yang terjadi sewaktu-waktu saja sehingga
manisfestasi klinisnya pun muncul sewaktu-waktu. Bila asetilkolin sudah cukup tertimbun dipermukaan
otak, maka pelepasan muatan listrik sel-sel syaraf kortikal dipermudah. Asetilkolin diproduksi oleh sel-sel
syaraf kolinergik dan merembes keluar dari permukaan otak. Pada kesadaran awas waspada lebih banyak
asetilkolin yang merembes keluar dari permukaan otak daripada selama tidur. Pada jejas otak lebih banyak
asetilkolin daripada dalam otak sehat. Pada tumor cerebri atau adanya sikatriks setempat pada permukaan
otak sebagai gejala sisa dari meningitis, encephalitis, kontusio atau trauma lahir, dapat terjadi penimbunan
setempat dari asetilkolin. 

Pada epilepsy idiopatik, tipe grandmal, secara primer muatan listrik dilepas oleh nuclei intralaminerase
talami, yang dikenal juga sebagai inti centrecephalic. Inti ini merupakan terminal lintasan asendens
spesifik atau lintasan asendens ekstralemsnikal. Input korteks cerebri melalui lintasan ini menentukan
derajat kesadaran. Bilamana tidak ada sama sekali input, maka timbullah koma. Perangsangan
talamokortikal yang berlebihan ini menghasilkan kejang seluruh tubuh dan sekaligus menghalangi sel-sel
syaraf yang memelihara kesadaran menerima impuls aferen dari  dunia luar sehingga hilang kesadaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian dari substansia retikularis dibagai rostral dari mesensepalon
yang dapat melakukan blokade sejenak terhadap inti-inti intralaminar talamik sehingga kesadaran hilang
sejenak tanpa disertai kejang-kejang pada otot skeletal, yang dikenal dengan petit mal. 

Manisfestasi klinik
Menurut Commission of Classification and Terminology of the International League Against Epilepsy
(ILAE) tahun 1981, epilepsy diklasifikasikan sebagai berikut :
1.   Epilepsi parsial (fokal, lokal)
a.   Sawan parsial sederhana  kesadaran tetap normal
  Dengan gejala motorik
     Fokal motorik tidak menjalar
     Fokal motorik menjalar (dikenal dengan Epilepsi Jackson)
     Versif  disertai gerakan memutar tubuh, mata, kepala
     Postural  disertai lengan atau tungkai kaku dalam sikap tertentu
     Fonasi  disertai dengan arus bicara terhenti atau menimbulkan bunyi-
bunyian tertentu
  Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial (melibatkan pancaindera)
     Somatosensoris  timbul rasa kesemutan atau seperti ditusk jarum
     Visual  terlihat kilatan cahaya
     Auditorius  terdengar sesuatu
     Olfaktoris  terhidu sesuatu
     Disertai vertigo
  Dengan gejala atau tanda gangguan syaraf otonom  sensasi epigastrium,
pucat, berkeringat, dilatasi pupil.
  Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)
     Disfasia  mengulang suku kata, kata atau bagian kalimat
     Dimnesia   gangguan fungsi ingatan seperti pernah mengalami,
merasakan, melihat atau sebaliknya tidak pernah.
     Kognitif  gangguan orientasi waktu
     Afektif  merasa sangat senang, susah, marah, takut
     Ilusi  perubahan persepsi benda yang dilihat
     Halusinasi kompleks (berstruktur)  mendengar ada yangbicara, musik,
melihat suatu fenomena tertentu

b.   Epilepsi parsial kompleks (disertai gangguan kesadaran)
  Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran
     Dengan gejala parsial sederhana disertai dengan menurunnya kesadaran
     Dengan automatisme   gerakan-gerakan tidak terkendali dan tidak
disadari

2





  Dengan penurunan kesadaran sejak permulaan serangan
     Hanya dengan penurunan kesadaran
     Dengan automatisme

c.   Epilepsy parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik)
  Sawan parsial sederhana yang berkembangan menjadi bangkitan umum
  Sawan parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan umum
  Sawan parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu
berkembang menjadi bangkitan umum

2.   Epilepsi umum (konvulsif dan non-konvulsif)
a.   Epilepsi lena (absence)   kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, muka tampak
membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tidak ada reaksi bila diajak bicara,
biasanya berlangsung ¼ - ½ menit dan sering dijumpai pada anak. Cirikhasnya :
  Hanya penurunan kesadaran
  Dengan komponen klonik ringan
  Dengan komponen atonik
  Dengan komponen tonik
  Dengan automatisme
  Dengan komponen autonom  kombinasi
b.   Epilepsi lena tak khas (atypical absence)  dapat disertai dengan gangguan tonus yang
lebih jelas ; permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak mendadak.
c.   Epilepsi mioklonik   terjadi kontraksi mendadak, sebentar, dapat kuat atau lemah
sebagian otot atau semua otot-otot, sekali atau berulang-ulang.
d.   Epilepsi klonik  tidak ada komponen tonik, hanya terjadi kejang kelonjot.
e.   Epilepsi tonik  tidak ada komponen klonik, otot-otot hanya menjadi kaku.
f.    Epilepsy tonik-klonik (Grandmal epilepsy) 
Serangan dapat diawali dengan aura, klien mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh
badan kaku. Kejang kaku berlangsung selama kira-kira ¼ - ½ menit diikuti kejang
kelonjot diseluruh badan. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri. Tarikan nafas menjadi
dalam beberapa saat lamanya. Bila pembentukan ludah meningkat saat kejang, mulut
menjadi berbusa karena hembusan nafas kuat. Mungkin pula klien miksi. Setelah kejang
selesai, klien dapat bangun dengan kesadaran yang masih rendah atau langsung menjadi
sadar dengan keluhan badan pegal-pegal, lelah dan nyeri kepala.
g.   Epilepsi atonik   otot-otot seluruh badan mendadak lemas sehingga klien terjatuh.
Kesadaran dapat tetap baik dan dapat juga menurun sebentar.
h.   Status epileptikum  aktifitas kejang yang berlangsung terus-menerus lebih dari 30 menit
tanpa pulihnya kesadaran.

3.   Epilepsi tak tergolongkan
Ialah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola mata yang ritmik, mengunyah-ngunyah, gerakan
seperti berwenang, menggigil atau pernafasan yang mendadak berhenti sejenak.

Pemeriksaan penunjang
1.   EEG
2.   CT Scan
3.   MRI

Diagnosa banding
Sinkop, gangguan sirkulasi, hipoglikemia, hysteria, paralysis tidur, migren, dsb.

Penatalaksanaan medik
Tujuan pengobatan adalah mencegah timbulnya epilepsy tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek
klien. Pengobatan epilepsy meliputi pengobatan medikamentosa dan pengobatan psikososial.

Prognosis
Klien berobat teratur, 1/3 akan bebas dari serangan paling sedikit 2 tahun, dan bila lebih dari 5 tahun
sesudah serangan terakhir, obat dapat dihentikan, klien tidak mengalami epilepsy lagi. Hati-hati
kemungkinan akan berulangnya serangan dapat terjadi dikenal dengan istilah remisi.




3





ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN KONDUKSI SISTEM
PERSYARAFAN : EPILEPSI


PENGKAJIAN 
1.   Aktifitas / istirahat  keletihan, kelemahan umum, keterbatasan dalam beraktifitas, perubahan
tonus/kekuatan otot, gerakan involunter/kontaksi otot.
2.   Sirkulasi  hipertensi, peningkatan nadi, sianosis, tanda vital dapat normal atau depresi.
3.   Integritas ego  stressor internal/eksternal, peka rangsang, perasaan  tidak berdaya atau tidak ada
harapan, perubahan dalam berhubungan, pelebaran rentang respons emosional.
4.   Eliminasi  inkontinensia episodic, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter, otot
relaksasi mengakibatkan inkontinensia.
5.     Makanan dan cairan  sensitivitas terhadap makanan, mual-muntah yang berhubungan dengan
aktifitas kejang, kerusakan jaringan lunak/gigi selama kejang, hiperplasia gingival (selama
penggunaan dilantin jangka panjang)
6.   Neurosensori  riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pingsan, pusing, riwayat trauma
kepala, anoksia, infeksi cerebral, aura, karakteristik kejang (diuraikan).
7.   Nyeri/Kenyamanan             sakit kepala, nyeri otot/punggung pada periode posikal, nyeri abnormal
paroksismal selama fase iktal, sikap dan tingkah laku yang berhati-hati, perubahan tonus otot,
tingkah laku distraksi atau gelisah.
8.   Pernafasan  gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun/cepat, peningkatan sekresi mucus,
apnea.
9.   Keamanan  riwayat terjatuh atau trauma, adanya alergi, trauma jaringan lunak/ekimosis,
penurunan kekuatan otot secara menyeluruh.
10. Interaksi sosial   masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga atau lingkungan
sosialnya, pembatasan/penghindaran terhadap kontak sosial.
11. Penyuluhan dan pembelajaran      riwayat epilepsy dalam keluarga, penggunaan atau
ketergantungan obat (termasuk alkohol).

PRIORITAS KEPERAWATAN
1.   Mencegah/mengendalikan aktifitas kejang
2.   Melindungi klien dari cedera
3.   Mempertahankan jalan nafas/fungsi pernafasan
4.   Meningkatkan harga diri yang positif
5.   Memberikan informasi tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan penanganannya

TUJUAN PEMULANGAN
1.   Serangan terkontrol
2.   Komplikasi/cedera dapat dicegah
3.   Mampu menunjukkan citra diri
4.   Pemahaman terhadap proses penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.   Resti trauma atau henti nafas b/d kelemahan/kesulitan keseimbangan ; keterbatasan kongnitif
akibat perubahan kesadaran ; kehilangan koordinasi otot besar atau kecil ; kesulitan emosional.
Kriteria hasil :
  Mengungkapkan pemahaman faktor yang menunjang kemungkinan trauma, dan atau
penghentian pernafasan dan mengambil langkah untuk memperbaiki situasi.
  Mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko dan
melindungi diri dari cedera.
  Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan
  Mempertahankan aturan pengobatan untuk mengontrol atau menghilangkan aktifitas
kejang
  Perawat mengidentifikasi tindakan yang perlu diambil bika terjadi kejang

2.   Resiko tinggi tidak efektif bersihan jalan nafas / tidak efektif pola nafas b/d kerusakan
neuromuskuler ; obstruksi tracheobronchial ; kerusakan persepsi atau kongnitif.
Kriteria hasil :
  Mempertahankan pola pernafasan efektif dengan jalan nafas paten/ aspirasi dicegah

3.   Gangguan harga diri atau Identitas pribadi b/d Stigma berkenaan dengan kondisi ; persepsi tentang
tidak terkontrol  d/d pengungkapan tentang perubahan gaya hidup, takut penolakan, perasaan

4





negatif tentang tubuh, perubahan persepsi diri tentang peran, perubahan pola tanggung jawab dari
biasanya.
Kriteria hasil :
  Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping dengan persepsi negatif pada diri
sendiri
  Mengungkapkan peningkatan rasa harga diri dalam hubungannya dengan diagnosis
  Mengungkapkan persepsi realistis dan penerimaan diri dalam perubahan dan gaya hidup

4.   Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan b/d kurangnya informasi ;
kesalahan interpretasi informasi ; kurang mampu mengingat ; keterbatasan kognitif ; kegagalan
untuk berubah  d/d banyak bertanya, kurang kontrol aktifitas kejang, kurang mengikuti aturan
terapi.
Kriteria hasil :
  Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan dan berbagai rangsang yang dapat
meningkatkan aktifitas kejang
  Memulai perubahan perilaku atau gaya hidup sesuai indikasi
  Mentaati aturan obat yang diresepkan






















































5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar