Info Kesehatan

healhty

Rabu, 11 April 2012

PERSIAPAN DAN PEMBEDAHAN OPERASI


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1              Persiapan dan Perawatan
2.1.2    Pre Operasi
Perioperasi merupakan tahapan dalam proses pembedahan yang dimulai prabedah (preoperasi), bedah (intraoperasi), dan pascabedah (postoperasi).
-          Prabedah (preoperasi) merupakan masa sebelum dilakukannya pembedahan, dimulai sejak persiapan pembedahan dan berakhir sampai pasien di meja bedah.
-          Bedah (intra bedah) merupakan masa pembedahan yang dimulai sejak ditransfer ke meja bedah dan berakhir saat pasien di bawa ke ruang pemulihan.
-          Pascabedah (postoperasi) merupakan masa setelah dilakukan pembedahan yang dimulai sejak pasien memasuki ruang pemulihan dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya.
2.1.3        Jenis Perawatan Bedah
Ada beberapa jenis perawatan bembedahan, yaitu :
a.       Perawatan Preoperatif
Beberapa hal yang dapat dikaji dalam tahap prabedah adalah pengetahuan tentang persiapan pembedahan, pengalaman masa lalu, dan kesiapan psikologis. Pemeriksaan lainnya yang dianjurkan sebelum pelaksanaan operasi adalah radiografi toraks, kapasitas vital, fungsi paru-paru, analisis gas darah pada pemantauan sistem respirasi, dan elektrokardograf, pemeriksaan darah seperti leukosit,eritrosit, hematokrit, elektrolit dan lain-lain. Ada pun rencana tindakan pada proses ini adalah :
-       Pemberian pendidikan kesehatan prabedah
-       Persiapan diet
-       Persiapan kulit
-       Latihan bernafas dan latihan batuk
-       Latihan kaki.
-       Latihan mobilitas
-       Pencegahan cedera


b.      Perawatan Intraoperasi
Perawatan intraoperatif merupakan bagian dari tahapan perawatan perioperatif. Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini adalah segala macam aktivitas yang dilakukan oleh perawatdi ruang operasi. Berikut adalah beberapa rencana tindakan yang akan dilakukan oleh seorang perawat pada proses ini :
-       Penggunaan baju seragam bedah
-       Mencuci tangan sebelum pembedahan
-       Menerima pasien di daerah bedah
-       Pengiriman dan pengaturan posisi ke kamar bedah
-       Pembersihan dan persiapan kulit
-       Penutupan daerah steril
-       Pelaksanaan anestesia
-       Pelaksanaan pembedahan
c.       Perawatan Postoperasi
Asuhan postoperasi haru dilakukan di ruang pemulihan tempat adanya akses yang cepat ke oksigen, pengisap peralatan resusitasi, monitor, bel panggil emergensi, dan staf terampil dalam jumlah dan jenis yang memadai. Asupan paska operatif meliputi :
-       Meningkatkan proses penyembuhan luka dan mengurangi rasa nyeri dapat dilakukan dengan cara merawat luka, serta memperbaiki asupan makanan.
-       Mempertahankan respirasi yang sempurna dengan latihan napas, tarik napas yang dalam dengan mulut terbuka, lalu tahan napas selama 3 detik dan hembuskan.
-       Mempertahankan sirkulasi, dengan stoking pada pasien yang beresiko tromboflebitis atau pasien dilatih agar tidah duduk terlalu lama.
-       Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, dengan memberikan cairan sesuai kebutuhan pasien.
-       Mempertahankan eliminasi, dengan mempertahankan asupandan output, dengan mencegah terjadinya retensi urine.
-       Mempertahankan aktifitas dengan latihan yang memperkuat otot sebelum ambulatori.
-       Mengurangi kecemasan dengan melakukan komunikasi secara terapeutik.

2.2              Perawatan Luka
2.2.1    Jenis luka
1.      Berdasarkan sifat kejadian
a)             Luka disengaja : Misalnya luka terkena radiasi atau bedah
b)   Luka tidak disengaja : misalnya luka karena trauma, di bagi menjadi :
-          Luka tertutup : luka tertutup jika tidak ad robekan.
-          Luka terbuka : luka terbuka jika terjadi robekan dan kelihatan seperti luka abrasi, yakni luka akibat gesekan,luka puncture, yakni  lika akibat tusukan, dan hautration (luka akibat alat alat perawatan luka)
2.      Berdasarkan penyebabnya, di bagi menjadi :
a.       Luka mekanik
-          Vulnus scissum atau luka sayat akibat benda tajam. Pinggir luka kelihatan rapi.
-          Vulnus contusum, luka memar dikarenakan cedera pada jaringan bawah kulit akibat benturan benda tumpul.
-          Vulnus kaceratum, luka robek akibat terkena mesin atau benda lainnya yang menyebab robeknya jarinagan rusak dalam.
-          Vulnus punctum, luka tusuk yang kecil di bagian luar, akan tetapi besar di bagian dalam luka.
-          Vulnus seroferadum,luka tembak akibat  terbakar peluru. Bagian tepi luka tampak kehitam-hitaman.
-          Fulnus morcum, luka gigitan yang tidak jelas bentuknya pada bagian luka.
-          Vulnus abrasio, luka terkikis yang terjadi pada bagian luka dan tidak sampai ke pembuluh darah.
b.      Luka non mekanik : Luka akibat  zat kimia, termik, radiasi, atau serangan listrik.
2.2.2    Faktor-Faktor Penyembuhan Luka
Proses penyambuhan luka dapat dipengarui oleh beberapa faktor, antara lain :
a.         Vaskularisasi, mempengaruhi luka karena luka membutuhkan keadaan peredaran darah yang baik untuk pertumbuhan dan perbaikan sel.
b.         Status nutrisi, diperlukan asupan protein, vitamin A dan C, tembag, zinkum, dan zat besi yang adekuat. Protein mensuplai asam amino yang dibutuhkan untuk perbaikan jaringan dan regenerasi. Vitamin A dn zinkum untuk epitelisasi, dan vitamin C dan zinkum untuk sintesis kolagen dan integrasi kapiler. Zat besi diperlukan untuk sintesis hemoglobin yang bersama oksigen yang diperlukan untuk menghantarkan oksigen ke seluruh tubuh.
c.         Merokok, mempengaruhi ambilan dan pelepasan oksigen ke jaringan, sehingga memperburuk perfusi jaringan.
d.        Penambahan usia, adanya gangguan sirkulasi dan koagulopati, respon inflamasi yang lebih lambat dan penurunan aktifitas fibroblas.
e.         Obesitas, jaringan lemak menyebabkan suplai darah yang tidak adekuat, mengakibatkan lambatnya proses penyembuhan dan menurunnya resistensi terhadap infeksi.
f.          Diabetes militus, adanya gangguan sirkulasi dan perfusi jaringan.
g.         Obat-obatan, obat anti inflamasi menekan sintesis protein, inflamasi, kontraksi luka, dan epitelisasi.
h.         Infeksi, menyebabkan peningkatan inflamasi dan nekrosis yang menghambat penyembuhan luka.




BAB III
P
ENUTUP

3.1       Kesimpulan
Banyak hal lain yang dapat kita ketahui setelah menelaah lebih lanjut mengenai kehidupan orang Asmat yang ada di Indonesia ini. Banyaknya orang asing melalui bukunya yang telah mengungkapkan bagaimana kehidupan masyarakat Asmat pada jaman dahulu menandakan bahwa orang Asmat memiliki ciri khas tertentu. Hal itu dapat dilihat dari adanya keahlian yang dimiliki masyarakat Asmat (wow-ipits/ pengukir Asmat)dalam hal mengukir dan memahat sehingga menghasilkan benda-benda seni yang indah dan mengagumkan. Walaupun hanya menggunakan alat-alat yang sederhana, mereka tetap dapat menghasilkan karya yang indah.
Di balik kekaguman itu, mungkin tertanam dalam pikiran masyarakat bahwa suku Asmat adalah suku yang primitif, manusia kanibal yang suka mengayau kepala orang -orang luar di sekitarnya. Kebiasaan papis dianggap sebagai kegiatan seksual yang tidak bermoral. Namun semua itu hanyalah sejarah bagi masyarakat Asmat pada saat ini.
Saat ini masyarakat Asmat lebih terkenal dengan hasil karyanya dalam bidang seni pahat dan ukir. Semua kebudayaan yang dimiliki oleh orang Asmat merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia ini.

3.2       Saran
Perlu dipikirkan bagaimana melestarikan bakat dan karya-karya yang dimiliki oleh orang-orang Asmat tersebut sehingga dapat dinikmati oleh generasi penerusnya. Dengan begitu, hasil karya seni yang indah itu dapat terus terjaga keberadaannya dan tetap dimiliki oleh bangsa Indonesia ini.
Untuk pembuatan karya etnografi selanjutnya, diharapakan dapat menjelaskan keadaan demografi secara tepat mengenai masyarakat Asmat saat ini, serta membahas lebih mendetail mengenai tata cara bahasa yang digunakan oleh orang-orang Asmat, seperti dialeknya, cara membacanya, dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar