Info Kesehatan

healhty

Jumat, 20 April 2012

makalah keluarga dan perawatan lansia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional, telah mewujudkan hasil yang positif diberbagai bidang, terutama di bidang medis atau ilmu kedokteran sehingga dapat meningkatkan kwalitas kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan cenderung bertambah lebih cepat. ( Nugroho Wahyudi 2000: 1 )
Meningkatnya usia harapan hidup( UHH) di Indonesia sehingga diperkirakan pada dua dekade permulaan abad 21 ini akan mengalami aged population boom hal ini dikarenakan pertumbuhan lansia di Indonesia lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain.( Suara Merdeka : 29 Mei 2004)
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik ( BPS) tahun 2000, terdata jumlah lansia sebanyak 15,8 juta jiwa. Dengan komposisi 47,7% pria, dan 52,3% wanita. Dari total tersebut, berdasarkan statusnya terdapat 21,79%( 3,8 juta jiwa) lansia terlantar,n artinya tidak mendapatkan perhatian keluarga. Sedangkan sekitar 33,84 %( 5,2 juta jiwa) lansiarawan terlantaar, yakni mendapatkan perhatian minimal dari keluarga, sisanya 44,37% ( 6,8 juta jiwa) adalah lansia potensial yang masih bisa berkarya. Dari data Mensos, jumlah lansia dibeberapa daerah telah mencapai 7%, diantaranya Bali, jawa Timur, Sumatra Barat , dan Jawa Barat. Sedangkan daerah yogyakarta, lansia mencapai 12% dari total penduduk, diikuti Sulawesi Utara ( 10%), kemudian disusul daerah Jawa Tengah (9%). ( Media Indonesia: kamis, 27 mei 2004 )
Data Susenas tahun 2000 ( BPS) jumlah penduduk lanjut usia 15.054.877 jiwa, sebagian besar ( 61,73%) bertempat tinggal didaerah pedesaan. Adapun jumlah lansia perempuan lebih banyak ( 52,42 %) dibandingkan dengan lansia laki-laki ( 47,58 %). Dari jumalh lansia tersebut 3.274.100 jiwa ( 21,75%) merupakan lansia terlantar. ( Suara Merdeka : sabtu, 29 mei 2004)
Saat ini penduduk berusia lanjut ( diatas 60 tahun) di Indonesia terus meningkat dan diperkirakan tahun 2005-2010 jumlahnya akan menyamai jumlah Balita yaitu sekitar 8,5% dari jumlah seluruh penduduk ( sekitar 19 juta jiwa), dengan umur harapan hidup    ( UHH) yaitu 67 tahun untuk perempuan dan 63 tahun untuk laki-laki. ( www. Ministry of Health, Indonesia. Com)
Proses menua ( aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu sama lain. Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput dan lain sebagainya sehingga akan menimbulkan gangguan fungsi fisik, psikologik maupun sosial,  yang selanjutnya dapat menyebabkan ketergantungan kepada orang lain atau menimbulkan keterasingan bagi diri lansia. Dan jika itu dibiarkan maka akan dapat menimbulkan perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengurung barang- barang tak berguna sehingga perilakunya seperti anak kecil .(www. e-psikologi. com)
Beberapa kemunduran organ tubuh menurut kartari (1990) adalah sebagai berikut: kulit (menjadi tipis , kering, keriput, tidak elastis); rambut (rontok warna menjadi putih, kering dan tidak mengkilat); otot (jumlah sel otot berkurang, atrofi, fungsi dan kekuatannya menurun); jantung dan pembuluh darah (kekuatan mesin pompa jantung berkurang, hipertensi); tulang (osteoporosis dan mudah patah); seks (produksi hormon seks pada pria dan wanita manurun). ( www. Jaringan Informasi Kesehatan . com)
Dalam menghadapi permasalahan diatas pada umumnya lansia yang memiliki keluarga , seperti orang yang berbudaya ketimuran seperti di Indonesia masih sangat beruntung karena anggota keluarga ikut membantu memelihara mereka dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Tapi bagi lansia yang tidak memiliki keluarga, seringkali mereka menjadi terlantar, maka disinilah pentingnya adanya panti werdha sebagai  long stay rehabitation yang tetap memelihara mereka untuk hidup bermasyarakat (www.       e- psikologi .com)
Dalam psikogeriatri mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia yang m,enyangkut aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitaatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia , sehingga dalam psikogeriatri dikenal adanya 3 prinsip umum dan 10 prinsip khusus. 3 prinsip khusus itu meliputi: kebijaksanaan bagi masyarakat, keberhasilan dalam mempertahankan hidup, kemajuan kemanusiaan.            10 prinsip khusus yaitu : berbagai keuntungan dari kemajuan masyarakat, individu manula (manusia lanjut usia ), mandiri, pilihan, pelayanan melalui keluarga,aksesibilitas,mengikutsertakan lanjut usia ( Enganging the Eldery ), mobilitas, produktivitas, memelihara diri sendiri dan dipelihara oleh keluarga (www.e- psikologi.com ).
Macao Plan of  Action dalam sidang ESCAP tahun 1998 untuk kawasan Asia Pasifik memutuskan : satu, memahami masalah dan implikasi menuanya  penduduk dan dampak terhadap masyarakat; dua, mempersiapkan penduduk menghadapi proses penuaan dengan produktif dan memuaskan; tiga, mengembangkan infrastruktur dan lingkungan baik yang tradisional ataupun modern; empat, meningkatkan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan lanjut usia yang berjumlah semakin besar ( Suara Merdeka : sabtu, 29 mei 2004).

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
Bagaimanakah peran keluarga dalam perawatan lansia yang mengalami masalah fisik di desa Semambung, kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum

Mempelajari peran keluarga dalam perawatan lansia yang mengalami masalah fisik

1.3.2        Tujuan Khusus
1.3.2.1  Mengidentifikasi Karakteristik keluarga dalam perawatan lansia yang mengalami masalah fisik
1.3.2.2  Mengidentifikasi peran keluarga sebagai motivator dalam perawatan lansia yang mengalami masalah fisik
1.3.2.3  Mengidentifikasi peran keluarga sebagai pendidik dalam perawatan lansia yang mengalami masalah fisik
1.3.2.4  Mengidentifikasi peran keluarga sebagai fasilitator dalam perawatan lansia yang mengalami fisik

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi perawat
Sebagai dasar untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya peran keluarga dalam perawatan lansia yang mengalami masalah fisik
1.4.2        Bagi puskesmas
Untuk meningkatkan pencapaian program puskesmas untuk meningkatkan derajat kesehatan para lansia sehingga taraf hidup lansia dapat dipertahankan setinggi-tingginya agar terhindar masalah-masalah atau penyakit.
1.4.3        Bagi ilmu pengetahuan dan teknologi
Dengan adanya riset ini diharapkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang gerontik semakin maju sehingga di harapkan umur harapan hidup lansia semakin meningkat

1.5  Relevansi
  Semakin meningkatnya life expectancy dari manusia sehingga semakin bertambahnya jumlah lansia secara cepat, karena proses menua menyebabkan beberapa permasalahan yang akan dialami oleh lansia baik fisik, biologis, sosial maupun ekonomi. Hal tersebut menyebabkan banyaknya gangguan yang akan dialami oleh lansia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga ketergantungan mereka terhadap orang lain semakin meningkat, begitu pula dalam fasilitas rumah lansia juga memerlukan peralatan dan perlengkapan yang khusus. Bergesernya pola perekonomian dari pertanian ke industri sehingga terjadi perbedaaan asumsi masyarakat tentang lansia. Pada era ini lansia kurang dihormati, dihargai, terisolir dan terlantar dari keluarganya, hal ini disebabkan karena kurangnya keluarga memberikan pelayanan kepada lansia dengan berbagai masalah fisik yang dialami. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengurangi masalah yang seharusnya dapat dicegah secara dini, dan pada akhir hidupnya lansia dapat hidup bahagia, tentram, berkwalitas dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa.










































BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA



Dalam bab ini akan diuraikan tentang beberapa konsep dasar yang mendasari penelitian ini diantaranya yaitu konsep peran, konsep keluarga, konsep lansia, konsep perawatan pada lansia dan peran keluarga dalam perawatan lansia.
2.1 Konsep Peran
2.1.1 Definisi Peran
Peran adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu jabatan atau pola tingkah laku yang diharapkan pantas dari seseorang (Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI Jakarta 1989 : 15). Para ahli yang lain mendifinisikan peran adalah seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan,  yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu ( Nasrul Effendy 1998 :34). Menurut Nye (1976) peran adalah beberapa set perilaku yang kurang lebih bersifat homogen yang di definisikan dan diharapkan secara normatif  dari seorang okupan dalam situasi sosial tertentu ( Marilyn M. friedman 1998 : 286).
2.1.2 Faktor –faktor yang mempengaruhi peran
Menyangkut struktur kekuasaan keluarga ada faktor- faktor utama yang mempengaruhi peran formal dan informal yaitu :
1.      Kelas sosial

      Beraneka macam adaptasi peran keluarga telah berkembang menjadi sebuah alat untuk memecahkan masalah – masalah dan isu – isu yang muncul ddari posisi kelas mereka yang tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh fungsi –fungsi kehidupan keluarga dalam hubungannya dengan para keluarga dipengaruhi oleh kepentingan keluarga.

2.      Tipe keluarga

       Tipe keluarga sangat berpengaruh pada struktur peran dari keluarga, hal ini di karenakan oleh orang tua tunggal atau tiri yang merupakan bentuk varian keluarga yang paling serina ditemukan . Sehingga kedua tipe keluarga ini digambarkan dalam hubungannya dengan pengaturan peran yang unik dan stres yang timbul dari peran.

3.      Latar belakang keluarga

      Keluarga dalam melaksanakan perannya sangat dipengaruhi oleh norma atau nilai yang berlaku pada lingkungannya. Untuk menginterpretasikan apakah peran – peran keluarga itu cocok atau tidak , hal ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan tenteng inti dari nilai, kebiasaan dan tradisi.

4.      Tahap perkembangan keluarga

      Dalam satu tahap siklus kehidupan ke tahap yang lain, keluarga melaksanakan peran-peran yang berbeda sesuai dengan tahap perkembangan keluarga.

5.      Model –model peran
      Ketika anggota keluarga mengalami masalah peran maka yang dapat memberi manfaat adalah mengkaji model-model peran dari anggota keluarga. Hal ini  bertujuan untuk menemukan kehidupan awal keluarga.
2.2 Konsep keluarga
2.2.1 Definisi keluarga
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena aada hubungan  darah, perkawinan, pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain didalam peranannya masing –masing dan menciptakan serta
ciri keluarga
1.      Diikat dalam suatu tali perkawinan
2.      Ada hubungan darah
3.      Ada ikatan batin
4.      Ada tanggung jawab masing-masing anggota
5.      Ada pengambilan keputusan
6.      Kerjasama diantara anggota keluarga
7.      Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
8.      Tinggal dalam suatu rumah
2.2.3. Tipe keluarga
1.      Keluarga inti (Nuclear family)

adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak

2.      Keluarga besar (Extended family)
adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya kakek, nenek, bibi, dan lain-lain
3.      Keluarga berantai (Serial family)
adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan keluarga inti
4.   Keluarga duda / janda (Single family)
 adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atat kematian
4.      Keluarga berkomposisi (Composiite)
5.      Adalah keluarga yang perkawinannya poligami atau hidup bersama
6.      Keluarga kabitas (kahabitation)
Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga
2.2.4. Fungsi keluarga
Friedman (1986) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga yaitu :
1.      Fungsi afektif
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial
2.      Fungsi sosialisasi
Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dapat dicapai melalui interaksi atau hubungan antar keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi
3.      Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia
4.      Fungsi ekonomi

Fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga

5.      Fungsi peraawatan kesehatan
Keluarga juga dapat melakukan praktek asuhan keperawatan yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan atau merawat anggota keluarga yang sakit
2.2.5. Tugas-tugas keluarga

Dalam kehidupan sehari-hari keluarga memiliki beberapa tugas yaitu :

1.      Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggota keluarga
2.      Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga
3.      Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya
4.      Sosialisasi antar anggota keluarga
5.      Pengaturan jumlah anggota keluarga
6.      Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga
7.      Penempatan anggota keluarga dalam masyarakat
8.      Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga
2.2.6. Peran keluarga
Berbagai macam peran dalam keluarga adalah :     
1.      Peran ayah
Berperan ssebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga dan sebagai anggaota masyarakat
2.      Peran ibu
Berperan sebagai pengasuh, pendidik, pelindung, pengurus rumah tangga, pencari nafkah tambahan, dan sebagai anggota masyarakat
3.      Peran anak
Anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembgangan baik fisik, mental, sosial dan spirtual
2.3 Konsep lanjut usia
2.3.1 Definisi lanjut usia
Menurut UU No.13 / Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia yang berbunyi sebagai berikut : BAB I pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia” adalah seseoirang yang mencapai usia 60 tahun keatas. Menurut WHO lanjut usia meliputi : usia pertengahan ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia ialah antara 60 dan 74 tahun, lanjut usia tua yaitu antara 75 dan 90 tahun, usia sangat tua diatas 90 tahun. (Nugroho wahyudi : 20)
2.3.2 Perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut
1.      Perubahan fisik
a.       perubahan sel
sel menjadi lebih sedikit jumlahnya dan ukurannya menjadi lebih besar, berkkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intra sel
b.      sistem integumen
kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa. Kulit pucat dan terdapat bintik-bintik hitam akibat  menurunnya aliran darah kekulit dan menurunnya sel memproduksi pigmen kuku pada kaki dan tangan menjadi tebal dan rapuh. Rambut menipis dan warnanya kelabu.




 
     






  

              

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar