Info Kesehatan

healhty

Sabtu, 14 April 2012

MAKALAH ISU TERKINI HUBUNGAN ANTARA POLA PEMBERIAN ASI DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN


MAKALAH

ISU TERKINI HUBUNGAN ANTARA

 POLA PEMBERIAN ASI

DENGAN

FAKTOR LINGKUNGAN








Disusun oleh :
RORIN KUSUMA WULANDARI (03021005)
KEBIDANAN A


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
 INSAN UNGGUL
SURABAYA
2005




KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang telah dilimpahkan kepada saya, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini mebahas tentang “ Isu Terkini Hubungan Antara Pola Pemberian ASI Dengan Faktor Lingkungan” untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Pada   Neonatus, Bayi dan Balita.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Ibu Fatmawati, SST selaku dosen dan penanggung jawab mata kuliah “Asuhan Kebidanan Pada Neonatus, Bayi dan Balita”.
2.      Perpustakan yang telah meyediakan buku-buku sumber.
3.      Semua teman-teman yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Harapan saya semoga makalah ini bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi pembaca umumnnya.
Demikian penyusunan makalah ini yang mungkin masih banyak kekurangan di dalamnya. Saya mohon saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sekalian.

                                                                                                                           Surabaya, Januari 2005
                                                                                                        Penyusun






i

BAB I

P E N D A H U L U A N


A.    Latar Belakang

Penggunaan Air Susu Ibu (ASI) di indonesia perlu ditingkatkan dan dilestarikan. Dalam “Pelestarian Penggunaan ASI”, yang terutama perlu ditingkatkan adalah pemberian ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI segera setelah lahir sampai 6 bulan dan memberikan kolostrum pada bayi.
Bila kesehatan ibu setelah melahirkan baik, menyusui merupakan cara memberi makan yang paling ideal untuk 6 bulan pertama sejak dilahirkan, karena ASI dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi. Setelah ASI tidak lagi cukup mengandung protein dan kalori, seorang bayi mulai memerlukan minum atau makan pendamping ASI.
Gambaran mengenai pemberian ASI pada bayi ditunjukan dalam SKRT. SKRT tersebut menunjukkan bahwa pada bayi umur 0 – 2 bulan yang mulai diberi makanan pendamping cair sebesar 21,2 %, makanan lumat atau lembik 20,1%, dan makanan pada 13,7%. Pada bayi berumur 3 – 5 bulan, yang mulai diberi makanan pendamping cair sebesar 60,2%, lumat atau lembik 66,2% dan padat 45,5%.
Sampai saat ini, telah banyak informasi yang menggambarkan tentang besarnya prosentase pemberian ASI eksklusif, tetapi belum banyak informasi yang menganalisis penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, rendahnya pemberian ASI eksklusif oleh para ibu masih perlu dipelajari, terutama yang berhubungan dengan latar belakang sosial ekonomi, sosial, demografi, dan perawatan kesehatan waktu hamil serta melahirkan.






1
B.     Tujuan

Makalah ini bertujuan mempelajari hubungan antara faktor sosial ekonomi, demografi dan perawatan kesehatan waktu melahirkan dengan pola pemberian ASI oleh ibu – ibu menyusui di indonesia, sedangkan tujuan khususnya, yaitu :
v  Menganalisis gambaran pola pemberian ASI atau ASI eksklusif menurut kelompok umur bayi diperkotaan dan pedesaan.
v  Menganalisis hubungan antara pola pemberian ASI dengan faktor sosial ekonomi, demografi, dan perawatan kesehatan waktu melahirkan.
v  Menganalisis faktor determinan pemberian ASI eksklusif atau non – eksklusif di perkotaan dan pedesaan.


















2
BAB II
P E M B A H A S A N


A.    Pengertian


Dalam upaya meningkatan pemberian ASI eksklusif, yang terutama ditingkatkan adalah “Menyusui ASI Eksklusif”. ASI eksklusif adalah “Hanya ASI sampai bayi berumur 6 bulan dan diberikan kolostrum” untuk mengetahui anak atau bayi tersebut menyusu ASI eksklusif atau tidak, ditelusuri dari anak menyusu ASI atau tidak menyusu. Dari anak yang menyusu,ditelusuri anak yang hanya diberi ASI saja dan diberi makan atau minum, kemudian anak tersebut dalam 24 jam hanya diberi ASI.
Dari definisi tersebut, telah diperoleh gambaran bahwa bayi yang < 1 bulan, proporsi menyusu ASI eksklusif justru lebih rendah dari bayi umur 1 bulan. Proporsi ini terjadi di daerah perkotaan dan di pedesaan. Hal ini kemungkinan karena ibu – ibu dalam masa kini banyak melakukan kegiatan untuk memperoleh tambahan pendapatan keluarga. Hal ini di dasarkan pada hasil analisis asosiasi bahwa proporsi peberian ASI eksklusif mempunyai hubungan dengan kegiatan yang dilakukan oleh ibu.
Proporsi pemberian ASI eksklusif diperkotaan dan pedesaan untuk umur bayi kurang dari 1 - 3 bulan cenderung tidak jauh berbeda. Hal ini kemungkinan terjadi karena para ibu di desa dan di kota telah sama – sama terpapar oleh media, sehingga pengetahuan dan kepedulian mereka terhadap bayi untuk menyusui cukup besar.
Jumlah anak umur 0 – 4 tahun dalam keluarga tampaknya mendukung pemberian ASI eksklusif. Hal ini didasarkan pada hasil uji regresi bahwa jumlah anak 1 – 2 dalam keluarga mempunyai pengaruh dibandingkan dengan keluarga yang tidak mempunyai 1 – 2 anak.


3
Berdasarkan umur, proporsi pemberian ASI eksklusif  tanpa cukup berfariasi dari umur kurang 1 – 3 bulan. Hal ini didukung  oleh regresi logistik yang menunjukan bahwa bayi yang berumur 2 bulan mempunyai kemungkinan untuk diberikan ASI eksklusif 4 kali dibandingkan dengan yang tidak berumur 2 bulan, tertinggi dibandingkan dengan umur 1 bulan dan 3 bulan.
Sementara itu, proporsi penmberian ASI eksklusif berdasarkan kategori lokasi (di perkotaan, di pedesaan, di desa tertinggal dan desa tak tertinggal), tidak terjadi perbedaan yang cukup tajam. Hal ini kemungkinan terjadi karena pengaruh modernisasi di desa – desa sehingga para ibu kurang menyadari pentingnya pemberian ASI ekslusif. Disamping itu, telah terjadi peningkatan iklan susu buatan yang secara gencar memasarkan produk susunya sebagai pengganti ASI.
Dalam pemberian ASI eksklusif, walaupun ada kecendrungan bahwa yang pengeluaran  rata – rata tinggi, rata – rata pengeluaran untuk makan tinggi, penghasilan bersih dari pekerjaan utama tinggi, tampaknya tidak mempunyai pengaruh langsung pada kemungkinan pemberian ASI eksklusif. Hal ini terbukti dengan tidak adanya pengaruh yang bermakna pada menyusu pada ASI eksklusif dengan variabel pertolongan pertama / kedua waktu melahirkan, terpaparnya dari media radio, TV, serta membaca koran. Oleh karena itu, tanpaknya masih di perlukan dari sumber lain mengenai faktor – faktor yang menentukan ibu – ibu dalam menyusui ASI, khususnya ASI eksklusif.

B.     Pembentukan dan Persiapan ASI


Persiapan memberikan ASI dilakkukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar – kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit.




4
Bagaimana persiapan untuk memberikan ASI berlangsung? Segera setelah terjadi kehamilan maka korpus luteum berkembang terus dan mengeluarkan estrogen dan progesteron, untuk mempersiapkan payudara, agar pada waktunya dapat memberikan ASI. Estrogen akan mempersiapkan kelenjar dan saluran ASI dalam bentuk proliferasi, deposit lemak, air dan elektrolit, jaringan ikat makin banyak dan mioepitel disekitar kelenjar mamae semakin membesar. Sedangkan progesteron meningkatkan kematangan kelenjar mamae bersama dengan hormon lainnya.
Hormon prolaktin yang sangat penting dalam pembentukan dan pengeluaran ASI makin bertambah, tetapi fungsinya belum mampu mengeluarkan ASI karena dihalangi oleh hormon estrogen, progesteron, dan human placental lactiogen hormone. Oksitosin meningkatkan dari hipofisis posterior, tetapi juga belum berfungsi mengeluarkan ASI karena dihalangi hormon estrogen dan progesteron.
Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin nampak. Payudara makin besar, putting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan areola mamae makin hitam.
Persiapan memperlancar pengaluaran ASI dilaksanakan dengan jalan:
1.      Membersihkan putting susu dengan AIR atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
2.      Putting susu ditarik-tarik tiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
3.      Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi. 
Segera setelah persalinan hormon-hormon yang dikeluarkan plasenta (estrogggen, progesteron, dan human plasental lactogen hormone) yang berfungsi menghalangi peranan prolaktin dan oksitosin menurun. Untuk mempercepat pengeluaran ASI, segera setelah persalinan – bahkan semasih tali pusat belum dipotong – bayi langsung diikatkan pada putting susuibunya sehingga terjadi refleks pengeluaran prolaktin dan oksitosin. Isapan bayi sangat menguntungkan karena dapat mempercepatpelepasan plasenta, serta perdarahan postpartum dapat dihindari.
5
Setelah plasenta lahir dengan menurunnya hormon estrogen, progesteron, dan human plasental lactogen hormone, maka prolaktin dapat berfungsi membentuk ASI dan mengeluarkannya kedalam alveoli bahkan sampai duktus kelenjar ASI. isapan langsung pada puting susu ibu menyebabkan  refleks yang dapat mengeluarkan oksitosin dari hipofisis, sehingga mioepitel yang terdapat disekitar alveoli dan duktus kelenja ASI berkontraksi dan mengeluarkan ASI ke dalam sinus : let down reflek.
Keberadaan putting susu dalam mulut bayi mempunyai keuntungan tersendiri:
·         Rangsangan puting susu lebih mantap sehingga refleks pengeluaran ASI lebih sempurna.
·         Menghindari kemungkinan lecet pada putting susu.
·         Kepuasan bayi saat mengisap ASI lebih besar.
·         Semprotan ASI lebih sempurna dan menghindari terlalu banyak udara yang masuk kedalam lambung bayi.
Untuk menyempurnakan pembentukan ASI maka kedua payudara harus diperlakukan sama untuk menghindari terjadinya stagnisasi dan buntutnya pembuluh kelenjar ASI serta selanjutnya menghindari kemungkinan infeksi payudara.

C.    Komposisi ASI

            ASI bersifat khas untuk bayi karena susunan kimianya, mempunyai nilai biologis tertentu, dan mempunyai substansia yang spesifik. Ketiga sifat itulah yang membedakan ASI dengan susu formula. Pengeluaran ASI tergantung dari umur kehamilan sehingga ASI yang keluar dari ibu dengan kelahiran prematur akan berbeda dengan ibu yang bayinya cukup bulan. Dengan demikian pengeluaran ASI sudah diatur sehingga sesuai dengan tuanya kehamilan.




6
Pengeluaran ASI dapat dibedakan atas:
1.      Kolostrum
·         Berwarna kuning jernih dengan protein berkadar tinggi
·         Mengandung: imunoglobulin, laktoferin, ion-ion (Na,Ca,K,Zn,Fe), vitamin (A,E,K, dan E), lemak dan rendah laktosa.
·         Pengeluaran kolustrum berlangsung sekitar dua dan tiga hari dan diikuti ASI yang mulai berwarna putih.
2.      ASI transisi (antara)
·         ASI antara, mulai berwarna putih bening dengan susunan yang disesuaikan kebutuhan bayi, dan kemampuan mencerna usus bayi.
3.      ASI sempurna
·         Pengeluaran ASI penuh sesuai dengan peerkembangan usus bayi, sehingga dapat menerima susunan ASI sempurna.
Terdapat beberapa pengertian yang salah mengenai kolostrum, yang diperkirakan ASI yang kotor, buruk sehingga tidak patut diberikan pada bayi. Ternyata kolostrum sebagai pembuka jalan agar bayi dapat menerima ASI penuh. Kolostrum banyak mengandung antibodi dan anti – infeksi serta dapat menumbuhkembangkan flora normal dalam usus bayi, untuk siap menerima ASI. Memperhatikan perkembangan pengeluaran ASI, tiada ASI yang tidak berguna. Alam telah mempersiapkan bayi untuk tumbuh kembang hanya dengan ASI sampai umur 4 bulan.








7

Tabel. Produksi ASI Selama 2 Tahun
Umur Bayi
Produksi ASI
Sama dengan           
Susu bubuk
mt/hari
kalori/hari    
susu sapi
susu gula
gram
0-6 bulan
7-12 bulan
13-18 bulan
19-24 bulan
0-24
850
500
500
200
512,5
600
385
385
154
381
155,5
91,5
91,5
36,5
375
183
105
105
42
437
24.600
14.000
14.000
5.700
58.300

Untuk ibu pekerja dapat dipecahkan dengan jalan :
1.      Dapat memberikan susu formula, tetapi sebaiknya dengan sendok, sehingga bayi tidak merasakan enaknya mengisap dot, yang pengeluaran susunya sangat mudah dan cepat menyebabkan kenyang.
  1. ASI dapat diperas dan segera dibawa pulang untuk diberikan bayi dengan memakai sendok.
Selanjutnya setelah pulang dapat memberikan ASI sehingga bayi dengan dapat menetek dengan puas. Sekali lagi diingatkan janganlah memberikan susu tambahan atau ASI yang telah diperas dengan dot, karena keenakan memakai dot akan menyulitkan untuk menetek secara langsung

D.    Keuntungan dan kerugian pemberian ASI


Keuntungan pemberian ASI adalah sebagai berikut:
  1. Memberikan ASI sesuai dengan tugas seorang ibu, sehingga dapat meningkatkan martabat wanita dan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
  2. ASI telah disiapkan sejak mulai kehamilan sehingga sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi.

8
  1. ASI mempunyai kelebihan dalam susunan kimia, komposisi biologis dan mempunyai substansia untuk bayi.
  2. ASI siap setiap saat untuk di berikan pada bayidengan sterilitas yang terjamin.
  3. ASI dapat disimpan selama 8 jam tanpa perubahan apapun, sedangkan susu botol hanya cukup 4 jam.
  4. Karena bersifat spesifik, maka pertumbuhan bayi dan terhindar dari beberapa penyakit tertentu.
  5. Ibu yang siap memberikan ASI mempunyai keuntungan:
    • Terjadi laktasi amenorea, dapat bertindak sebagai metode KB dalam waktu relatif  3 sampai 4 bulan.
    • Mempercepat terjadinya involusi uterus.
    • Pemberian ASI mengurangi kejadian karsinoma mamae.
    • Melalui pemberian ASI kasih sayang ibu terhadap bayi lebih baik sehingga menumbuhkan hubumgan batin lebih sempurna.
  6. Bayi mengukur sendiri rasa laparnya sehingga metode pemberian ASI dengan jalan call feeding.
Sedangkan kerugian pemberian ASI adalah:
1.      Waktu pemberian tidak terjadwal, tergantung dari bayinya.
2.      Kesiapan ibu untuk memberikan ASI setiap saat.
3.      Terdapat kesulitan bagi ibu yang bekerja di luar rumah.

E.  Larangan untuk memberikan ASI

Sekalipun upaya  untuk memberikan ASI di galakkan tetapi pada beberapa kasus pemberian ASI tidak di benarkan.
  1. Faktor dari ibu
    • Ibu dengan penyakit jantung yang berat, akan menambah beratnya penyakit ibu.

9
    • Ibu dengan pre-eklamsia dan eklampsia, karena banyaknya obat-obatan yang telah di berikan, sehingga dapat mempengaruhi bayinya.
    • Penyakit infeksi berat pada payudara, sehingga kemungkinan menular pada bayinya.
    • Karsinoma payudara mungkin dapat mnimbulkan metastasis.
    • Ibu dengan psikosis, dengan pertimbangan kesadaran ibu sulit diperkirakan sehingga dapat membahayakan bayi.
    • Ibu dengan infeksi virus.
    • Ibu dengan TBC atau lepra.
  1. Faktor dari bayi
·         Bayi dalam keadaan kejang-kejang, yang dapat menimbulkan bahaya aspirasi ASI.
·         Bayi yang menderita sakit berat, dengan pertimbangan dokter anak tidak di benarkan untuk mendapatkan ASI.
·         Bayi dengan berat badan lahir rendah, karena refleks menelannya sulit sehingga bahaya aspirasi mengancam.
·         Bayi dengan cacat bawaan yang tidak mungkin menelan (labiokisis, palatognatokisis, labiognatopalatokisis).
·         Bayi yang tidak dapat menerima ASI, penyakit metabolisme seperti alergi ASI.
            Pada kasus tersebut di atas untuk memberikan ASI sebaiknya dipertimbangkan dengan dokter anak.
  1. Keadaan patologis pada payudara
Pada rawat gabung dapat diharapkan bahwa kemungkinan stagnasi ASI yang dapat menimbulkan infeksi dan abses dapat dihindari. Sekalipun demikian masih ada keadaan patologis payudara yang mermerlukan konsultasi dokter sehingga tidak merugikan ibu dan bayinya. Keadaan patologis yang memerlukan konsultasi dokter sehingga tidak merugiakan ibu dan bayinya.

10

Keadaan patologis yang memerlukan konsultasi adalah :
·         Infeksi payudara
·         Terdapat abses yang memerlukan insisi
·         Terdapat benjolan payudara yang membesar saat hamil dan menyusui
·         ASI yang bercampur dengan darah.
Memperhatikan hal – hal yang disebutkan di atas sudah wajarlah bila payudara yang sangat vital dipelihara sebagaimana mestinya. Salah satu tugas utama wanita adalah memberiakan ASI yang merupakan tugas alami yang hakiki.

F.  10 Manfaat ASI Bagi Bayi

1.      Pemberian ASI pada bayi akan meningkatkan perlindungan terhadap banyak penyakit seperti radang otak dan diabetes.
2.      ASI juga membantu melindungi dari penaykit – penayakit biasa seperti infeksi telinga, diare demam dan melindungi dari Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau kematian mendadak pada bayi.
3.      Ketika bayi yang sedang menyusui sakit, mereka perlu perawatan rumah sakit jauh lebih kecil dibanding bayi yang minum susu botol.
4.      Air susu ibu memberikan zat nutrisi yang paling baik dan paling lengkap bagi pertumbuhan bayi.
5.      Komponen air susu ibu akan berubah sesuai perubahan nutrisi yang diperlukan bayi ketika ia tumbuh.
6.      Air susu ibu akan melindungi bayi terhadap alergi makanan, jika makanan yang dikonsumsi sang ibu hanya mengandung sedikit makanan yang menyebabkan alergi.
7.      Pemberikan ASI akan menghemat pengeluaran keluarga yang digunakan untuk membeli susu formula dan segala perlengkapannya.


11
8.      Air susu ibu sangat cocok dan mudah, tidak memerlukan botol untuk mensterilisasi, dan tidak perlu campuran formula.
9.      Menyusui merupakan kegiatan eksklusif  bagi  ibu dan bayi. Kegiatan ini akan meningkatkan kedekatan antara anak dan ibu.
10.  Resiko terjadinya kanker ovarium dan payudara pada wanita yang memberiakan ASI bagi bayinya lebih kecil dari pada wanita yang tidak menyusui.


 




















12
BAB III
P E N U T U P

A.    Kesimpulan
  • Pola pemberian ASI eksklusif pada bayi umur < 1 – 2 bulan relatif cukup tinggi, sedangkan yang berumur 3 bulan relatif cukup rendah, baik secara keseluruhan ataupun yang dibedakan menurut perkotaan dan pedesaan.
  • Proporsi pemberian ASI eksklusif pada bayi berumur 2 bulan relatif cukup besar, baik diperkotaan maupun di pedesaan, dan mulai menurun pada umur 3 bulan.
  • Proporsi bayi yang menyusu ASI eksklusif mulai umur < 1 bulan sampai 2 bulan relatif cukup besar, baik secara keseluruhan maupun berdasarkan pedesaan dan perkotaan, serta rendah proporsinya pada umur 3 bulan. Proporsi pemberian ASI eksklusif pada bayi umur 3 bulan di perkotaan lebih rendah dibandingkan di pedesaan.
  • Berdasarkan analisis hubungan antara variabel – variabel sosial ekonomi yang terdiri dari lima variabel, semuanya menggambarkan proporsi pemberian ASI eksklusif pada semua tingkatan yang relatif cukup besar dibandingkan dengan yang tidak eksklusif.
  • Analisis terhadap pengaruh variabel sosial ekonomi, demografi, pelayanan kesehatan, dan paparan media, hanya tiga variabel yang ditamatkan, dan jumlah anak 0 – 4 tahun dalam keluarga.

B.     Saran
·         Diperlukan penyuluhan yang intensif melalui komunikasi langsung oleh petugas – petugas kesehatan di desa, bidan desa, kader – kader Posyandu, dan dalam pertemuan instrumen kelompok ibu – ibu tentang ASI eksklusif.



13
·         Diperlukan penyuluhan yang rinci tentang cara – cara menambah makanan tambahan pada ibu – ibu untuk menjamin kecukupan gizi pada waktu menyusui.
·         Berhubungan rendahnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi berumur kurang 1 bulan dibandingkan yang berumur 1 bulan, diperlukan informasi lebih lanjut mengenai penyebab terjadinya hal ini.
























14

DAFTAR PUSTAKA


Indonesia, Departemen Kesehatan, Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Dikjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat (1992). Pedoman Pemberian Makanan Tambahan Pendamping ASI (MP-ASI) Jakarta.
Evi NA (1992). Sudahkah Bayi Anda Diberi ASI ? Warta Demografi, Th XXII, No.8, Agustus 1992, Jakarta.
Indonesia, Departemen Kesehatan, Badan Litbangkes-BPS (1992). Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Jakarta.
Ratna LB (1995). Perubahan Perilaku Pemberian ASI di Indonesia Majalah Kesehatan Perkotaan II (I), Jakarta.



















15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar