Info Kesehatan

healhty

Senin, 16 April 2012

GAGAL GINJAL KRONIK


GAGAL GINJAL KRONIK
( GGK )
A.    KONSEP DASAR
  1. Definisi

Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersfat persisten dan irreversible, gangguan funsi ginjal adalah penurunan laju filterasi glomerolus yang dapat di goongkan ringan, sedang, berat.
  1. Anatomi Fisiologi
ginjal terletak pada dinding posterior abdomen terutama di daerah lumbal, disebelah kanan dan kiri tulang belakang dibungkus lapisan lemak yang tebal di belakang peritoneum dan diluar rongga peritoneum.
Kedudukan ginjal diperkirakan dari belakan mulai dari ketinggian vertebra torakalis  sam pai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rend ah dari kiri karena hati menduduki ruang banyak disebelah kanan.
Setiap ginjal panjangnya 6 – 7 ½  cm, dan tebal 1 ½ - 2 ½ cm. Pada orang dewasa beratnya kira – kira 140 gr.
Bentuk ginjal seperti biji kacang dan sisi dalamnya menghadap ketulang punggung. Sisi luarnya cembung. Pembuluh – pembuluh ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum. Diatas setiap ginjal menjulang sebuah kelenjar. Suprarenal ginjal kanan lebih pendek dan lebih tebal dari yang kiri.
Struktur ginjal dilingkupi kapsul tipis dari jaringan sibrus yang rapat membungkusnya dan membentuk pembungkus yang halus. Didalamnya terdapat struktur – struktur ginjal yang warnanya ungu tua dan terdiri atas bagian kortek disebelah luar  dan   bagian medulla di sebelah dalam. Bagian medulla ini tersusun atas 15 – 16 massa yang  berbentuk pyramid nyang disebut pyramid ginjal. Puncak – puncaknya langsung mengarah ke hilum dan berakhir di kalises – kalises yang menghubungkannya dengan kalises ginjal.
Fungsi ginjal adalah pengaturan keseimbangan air, pengaturan konsentrasi garam dalam darah, keseimbangan asam basa darah, ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam. (Evelyn Pearce, 1997).
  1. Etiologi
Penyebab gagal ginjal kronik merupakan kelanjutan dari beberapa jenis penyakit seperti :
1)      Penyakit jaringan jaringan ginjal kronis seperti glomerulonefritis
2)      Infeksi kronis, misalnya pyelonefritis dan tuberculosis.
3)      Kelainan bawaan seperti kista  ginjal.
4)      Obstruksi ginjal misalnya batu ginjal.
5)      Penyakit vaskuler, seperti nefro sclerosis dan penyaki hypertensi.
6)      Obat – obatan yang dapt merusak  ginjal, misalnya pemberian terapi aminoglikosida dalam jangka panjang.
7)      Penyakit endrokrin misalnya komplikasi diabetes.
  1. Patofisiologi
·         Pre Renal













·         Renal




·         Post Renal















  1. Manifestasi Klinis
a) Gastrointestinal                   : anoreksia nouse, muntah, hematomesis melena.
b) SPP/neurologik                   : lelah malas, insomnia, sakit kepala, kejang, koma, fasikulasi otot, mioklonus, neuropati perifer, perubahan –perilaku.
c) Kardiovaskuler                    : hipertensi, payah jantung kongesty, perikarditis, myokarditis uremik.
d) Hematologi                         : anemia, diatesis, hemorargik.
e) Endokrin metablik              : Hiper/hipoglikemia, hiperlipedemia tipe IV hiperparatiroidisme, disfungsi sex menstruasi, retardaasi pertumbuhan badan.
f) Dermatologi                        : kult kering, gatal – gatal.
  1. Pemerisaan Penunjang
Kreatinin plasma akan meningkat seiring  dengan penurunan laju filterasi glomerolus, dimulai bila laju kurang dari  60 ml/m, pada gagal gijal terminal konsentrasi kreatinn dibawah 1 m mol/ lt, konsentrasi ureum plama kurang dapa di percaya karma dapat menurun pada diet rendah protein dan meningkat pada diet tinggi protein, kekurangan garam dan keadaan katabolic. Biasanya konsenterasi ureum pada gagal ginjal terminal adalah 20 – 60 mmol/lt.
Terdapat penurunan bikarbonatplasma (15 – 25 mmol/l) penurunan pH dan peningkatan anion gap. Konsenterasi natrium biasanya normal. Namun dapat meningkat atau menurun akibat masukan caoiran inadekuat. Atau kelebihan. Hiperkalemia tanda – tanda gagal ginjal yang berat, kecuali terdapat masukan yang  berlebiha. Asidosis tubular ginjal atau hiperaldosteronisme.
Terdapan peningkatan konsentrasi fosfat plasma dan peningkatan kalsium plasma, kemudian fosfatase alkali meningkat, dapat ditemukan peningkatan parathormon pada hiperparatiroidisme. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan anemia normositik normokrom dan terdapat sel Burn pada uremia berat. Leukosit dan trombosit masih dalam batas normal. Peeriksaan mikroskopik urine menunjukkan kelainan penykit yang mendasariya. Kreatinin meningkat melebihi laju filterasi glomerous dan turun menjadi kurang dari 5ml/m pada gagal ginjal terminal dapat ditemukan proteinuria 200 – 1000 mg/hr.
Pemeriksaan biokimia lasma untuk mengetahui fungsi gimjal dan gangguan elektrolit. Mikroskopik urine, test serologi untuk mengetahui penyebab glomerolus nefritis dan tes – tes penyaringan sebagai persiapan sebalum dialysis (biasanya hepatitis B dan HIV).
USG ginjal sangat penting untuk mengetahui ukuran ginjal dan penyebab gagal ginjal, misalnya adanya kista atau obstruksi pelvis ginjal. Dapat juga dipakai foto polos abdomen jika ginjal lebih kecil disbanding usia dan besar tubuh pasien lebih cenderung kearah gagal ginjal kronik.
  1. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan konserfatif GGK bermanfaat bila faal ginjal masih pada tahap insufsiensiginjal dan GGK yaitu faal ginjal berkisar antara 10 – 50 % atau nilai kriatinin serum 2mg – 10mg%. (RP. Sidabutar Suhardjono, EJ Kapojos: 1997).
Tujuan pengobataa konservatif  GGK ialahmenunda dialysis atau transplantasi dengan memperlama periode asimtomatik. Pada penyakit gagal ginjal tahap akhir pengobatan pengganti sudah harus dilaksanakan. Penatalaksanaan konservatif juga dapat bermanfaat untuk menjaringkan frekwansi dialysis.
Memperbaiki faktor – faktor yang reversible, treatebel dan mencegah menumpuknya toksik uremik dengan diet dan odbat – obatan, memperbaiki penyakit dasar, mengatasi keluhan dan gejala dengan obat – oobataan, mencegah  atau menghindari tindakan yang menambah keruakan ginjal. ( Made Sukahatya, 1994).
Penaggulangan GGK harus berprinsip pada penaggulangan masalah seutuhnya dan sesekli tidak boleh mengobati  atau mengoreksi nilai – nilai kimiawi saja. Penetapan waktu untuk merencanakan dan memulai pengobatan pengganti (dialysis atau transplantasi) harus atas pertimbangan keseluruhan. Pentahaapan penurunan faal ginjal seperti  disebut sebelumnya tidak mempunyai batas – batas klinis yang jelas sehingga kewaspadaan orang yang mengobati sangat penting untuk dapat menilai apakah suatu tindakan diagnostic atau terapiutik perlu dailaksanakan. (R.P. Sidabutar,1997).
  1. Komplikasi
B.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Penkajian
a.       Pengumpulan data
1)      Identitas klien
Meliputi nama lengkap, umur agama jenis kelamin pendidikan , pekerjaan, penghasilan,ras, alamat.
2)      Keluhan utama
Pada klien dengan GGK tanpa keluhan dan gejala hanya kebetulan pemeriksaan BUN dan kreatinin meningkat, berlangsung berbulan – bulan sampai beberapa tahun. Kemudian berlanjut toksin uremik makin menumpuk sehingga timbul GGK dengan keluhan ganggan fungsi berbagai organ antra lain : kelaina gastrointestinal, SSP, neurologik, kardiovaskuler, paru, hematologik, endokrin atau metabolic, dermatologi, (Joyce M. Black,1997)
3)      Riwayat kesehatan
a)      Riwayat kesehatan sekarang
Pada klien gagal ginjal kronik umumnya gejaa dan tanda – tand sesuai dengan gangguan system yang timbul. (R.P. Sidabutar, Suharjono, EJ Kapojos,1997)
b)      Riwayat kesehatan lalu
Dalam hal ini 6ang orlu dikaji adalah aakah klien pernah mengalami GGK atau GGA sebelumnya dan apakah klien menderrita penyakit jaringa ginjal kronis seperti glomerulo nefritis kronis, infeksi kronis, misalnya pielonefriti dan tuberculosis, kelainan bawaan seperti kusta, obtrukksi ginjal misalnya batu ginjal, penyakit vaskuler seperti nefrosklerosis dan penyakit HT, serta tanyakan apakah sebelumya pernah masuk rumah sakit. (Rasindo,1999)
c)      Riwayat kesehatan keluarga
Yang perlu dikaji adalah apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti yang diderita klien, atau riwayat penyakit menular atau menurun, (Joyce M. Black,1997)
4)      Pola – pola fungsi kesehatan
a)      Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Dalam hal ini yang perlu di kaji adalah apakah klien mengerti tentang penyakitnya dan dibawa kemana bila sedang sakit, serta bagaiman klien merawat tentang dirinya.
b)      Pola nutrisi dan metabolisme
Pada klien dengan GGK biasanya peningkatan secara cepat berat badan karena bengkak atau penurunan berat  badan karena kurang gizi, tidak  nafsu makan rasa tidak nyata di muka ( nafas ammonia)
c)      Pola aktivitas
Biasanya klien mengalami gangguan dalam meakukan aktivitan karena klien dengan GGK mengeluh kelelahan yang  berlebihan.

d)     Pola eliminasi
Pada klien dengan GGK biasanya frekwensi kencing sedikit. Urin tidak  ada pada ginjal, perut mengembung diare, atau justru sulit buang air besar, perubahan warna urine, misalnya kuning,merah,cokelat,gelap, urin sedikit dan biasa negative.
e)      Pola istirahat tidur
Biasanya klien dengan GGK mengeluh sulit tidur karena keresahan atau mengigau.
f)       Pola persepsi kognitif
Perubahan sttus kesehatan dan gaya hidup data mempengaruhi pengetahuan  dan kemampuan dalam merawat dii sendiri.
g)      Pola persepsi diri
Pada klien dengan GGK mempunyai perasaan tidak berdaya, tidak punya  harapan, tidak punya kekuatan dan dapat memperlihatkan penolakan, cemas, takut, marah, sensitive perubahan keppribadian.
h)      Pola hubungan dan peran
Biasanya pasien sulit untuk menyesuaikan diri misalnya : tidak mampu  bekerja juga macam – macam fungsi yang wajar dalam keluarga.
i)        Pola reproduksi  dan sexual
Biasanya kien mengalami penurunan gairah sexual, tidak menstruasi, mandul. 
j)        Pola penanggulangan stress
Biasanya klien mengalami stress karena cemas, takut dan marah. Cara penanggulangannya dengan cara mengungkapkannya pada orang terdekat atau perawat, atau juga  dengan  cara  marah, menangis atau cara lain  tergantung individunya.
k)      Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien akan selalu berdo’a demi keselamatan dirinya sehingga perlu bantuan moral dari oaring – orang yang ada disekelilingnya.


5)      Pemeriksaan fisik
a)      Keadaan Umum
Keadaan umum pasien diamati mulai saat pertama kali bertemu dengan pasien dilanjutkan mengukur TTV, kesadaran pasien diamati sadar sepenuhnya ( komposmentis, apatis, somnolen, delirium semi koma, koma, keadaan sakit diamati aakah berat, sedang, ringan atau tampak tidak sakit.
b)      Kulit, rambut, kuku
Pada klien GGK ditemukan dalam pemeriksaan pada kulit yaitu kulit kuning,perubahan turgor kulit (lembab),kulit gatal-gatal karena infeksi sesaat atau berulang,bintik – bintik perdarahan kecil dan lebih besar dikulit.penyebaran proses pengapuran di kulit,pada kuku tipis dan rapuh serta pada rambut tipis.
c)      Kepala, leher
Pada klien GGK mengeluh sakit kepala,muka pucat memerah,tidak adanya pembesaran kelenjar tiroid.
d)     Mata
Pada klien GGK mata mengalami pandangan kabur
e)      Telinga, hidung, mulut tenggorokan
Pada GGK telinga hidung  dan tenggorokan tidak mengalami gangguan.pada mulut ditemukan adanya perdarahan pada gusi dan lidah.
f)       Pada thorak dan abdomen
Pada pemeriksaan abdomen dan thorak ditemukan adanya nyeri pada dada pada abdomen ditemukan disternsi perut (asites atau penumpukan cairan, pembesaran heper pada setadium akhir).
g)      System respirasi
Pada klien GGK biasanya terjadi kesulitan untuk bernafas karena adanya gagal jantung kongestif, paru mengalami perubahan yang sangat rentang terhadap infeksi. Terjadi akumulasi cairan. Kesakitan, pneumoni, klien mengeluh nafas pendek, sesak nafas yang datang hilang dimalam hari, batuk dengan atau tanpa suara parau, dahak yang kental, pernafasan kusmaul ( nafas lebih  dalam).
h)      System kardiovaskuler
GGK berlanjut menjadi tekanan darah tinggi, detak jantung menjadi irreguler ( termasuk detak jantung yang mengancam kehidupan atau terjadi fibrilasi), pembengkakan, gagal jantung kongestif.
i)        System genitourinaria
Karena ginjal kehilangan kesanggupan mengekskresi natrium, penderita mengalami retensi natrium dan kelebihan natrium sehingga penderita mengalami iritasi dan menjadi lemah. Pengeluaran urine mengalami penurunan serta mempengaruhi komposisi kimianya, berkurangnya frekwensi kencing, urin sedikit, urin tidak ada pada gagal ginjal, perut mengembung, diare atau justru sulit BAB, perubahan warna urine misalnya :
Kuning, coklat, merah, gelap, urin sedikit dan beda negatif.
j)        System gastrointestinal
Pada saluran pencernaan terjadi peradangan ulserasi pada sebagaian besar alat pencernaan. Gejala lainnya adalah terasa metal di mulut, nafas bau amonia, nafsu makan menurun, mual muntah, perut mengembung, diare atau justru sulit BAB.
k)      System musculoskeletal
Pada GGK adanya kelemahan otot atau kekuatan otot hilang.kurangnya respon otot – oto dan tulang. Ketidakseimbangan mineral dan hormon,tulang terasa sakit , kehilangan tulang, mudah patah, defisit kalsium dalam otak,mata, gusi, persendian, jantung, bagian dalam dan pembuluh darah. Fraktur atau otak tulang, penumpukan CaPO4 pada jaringan lunak , sendi pembatasan gerak sendi.
l)        System endokrin
Pada GGK memberikan pertumbuhan lambat pada anak – anak. Kurang subur serta nafsu sex menurun pada kedua jenis kelamin. Menstruasi berkurang bahkan dapat berhenti sama sekali. Impotensi dan produksi sperma menurun serta peningkatan kadar gula darah seperti pada diabetes.


m)    System persyarafan
Pada klien GGK sindroma tungkai bergerak – gerak salah satu pertanda kerusakan saraf , rasa sakit seperti terbakar, gatal pada kaki dan tungkai.juga dijumpai otot menjadi kram dan bergerak – gerak, daya ingat berkurang, mengantuk, iritabilitas, bingung, koma dan kejang (Merlyn E. Doenges,1990)
6)      Pemeriksaan penunjang
a)      Urine
Ø  Volume        : biasanya berkurang dari 400 ml/jam (oliguria) atau urin tidak ada
Ø  Warna           : gelap urin yang tidak normal dapat disebabkan nanah, bakteri, lemak, partikel koloid, pospat atau asam urat. Kotor sedimen coklat mengidentifikasikan adanya darah , myoglobin prefirin.
Ø  Bj                 : kurang dari 1.01 s ( tetap pada 1.010 mengindikasikan adanya gagal ginjal yang  parah dan berat.
Ø  Osmolitas     : kurang dari 350 mosn/kg menunjukkan gangguan tubulus dan rasio urin. Serum sering 1:1.
Ø  Clerens creatinin : mungkin menurun secara berhenti.
Ø  Na+              : lebih dari 40mcg/i untuk ginjal tidak mampu menyerap kembali Na.
b)      Darah
Ø  BUN/kreatinin         : meningkat biasanya secara proporsional kadar kreatinin 10mg/dl memberi kesan stadiunm akhir ( mungkin serendah 5)
Ø  CBC ( hitung darh lengkap ), HCT ( hematokrit) menurun pada anemia.
Ø  Hb                            : biasanya berkurang dari 7 – 8 g/dl.
Ø  SDM                                    :
c)      Gas darah (AS/BS)
Ø  PH                : menurut asidosis metabolik (kurang  dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ekskresi ginjal yaitu hidrogen dan amonia  dan produksi akhir dari katabolisme protein Hco3 dan Pco2 menurun.
Ø  Serum Na+   : mungkin rendah jika gagal ginjal hanya membuang Na.  Atau normal menunjukkan status delusi hipernatrium.
Ø  K+                : meningkat berhubungan dengan penumpukan sel ( asidosis atau pelepasan kejaringan ( hemolisis SDM)
Ø  Mq/p             : meningkat
Ø  Ca                 : menurun
d)     Protein
Ø  Albumin       : menurun di serum menunjukkan protein keluar lewat urin, pertukaran cairan, penurunan pemasukan atau penurun sintesa atau kekurangan asam amino esensial.
Ø  Serum osmolalitas    : lebih besar cdari 285n ons/kg sering sama dengan urine.
Ø  KUB/X-Ray : memperlihatkan ukuran  ginjal atau ureter atau vesika urinaria dan menunjukkan pembuntuan ( batu)
Ø  Rehograde/yelogran : tampak pelvis ginjal dan ureter yang tidak normal

b.      Analisa Data
a) - Data mayor  : biasanya klien mengatakan perutnya kembung, sulit kencing.
 - Data minor   : perut mengembung , kencing sedikit, perubahan warna urine, urine  tidak  ada pada  gagal  ginjal, odema,
 - Masalah        : kelebihan volume cairan
 - Kp                : penurunan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan air dan menahan natrium.
b) – Data mayor : biasanya klien mengatakan nafsu makan menurun  atauy berkurang
- Data minor    : penurunan berat  badan karena kurang gizi atau peningkatan berat badan secara cepat karena bengkak, anorexia, mual muntah
- Masalah         : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
- Kp                 : anorexia, mual muntah kehilangan selera makan. 


c.       Diagnosa
1.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan urine dan menahan natrium ditandai dengan perit kembung, sulit kencing, kencing sedikit, perubahan warna urine, urin tidak  ada pada  gagal ginjal, edema (+).
2.      perubahan nutrisi kurang berhubungan dengan anorexia mual muntah, kehilangan selera makan kehilangan bau, stomatitis dan diet tak enak.
3.      ketidak berdayaan berhubungan dengan kehilangan perasaan terhadap kontrol dan pembatasan  gaya hidup.
4.      resiko tinggi terhadap infeksi penatalaksanaan regimen  terapiutik berhubungan dengan insufisiensi pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet, pencatatan setiap hari, terapo farmakologi tanda / gejal komplikasi, kunjungan evaluasi dan sumber komunitas ( lynda Juall Carpenitto, 1999).

2.      Perencanaan
Diagnosa perttama : kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal mengeluarkan air dan menahan natrium.
1.      Tujuan       : cairan seimbang dalam waktu 2x24 jam
2.      KH                        :
3.      Rencana tindakan
-    masukan dan pengeluaran seimbang
-    berat  badan stabil
-    bunyi nafas jantung normal
-    elektrolit  dalam bats normal
4.      Rencana tindakan
J  Pantau dan dokumentasikan masukan dan keluaran tiap jam secara akurat
J  Timbang berat badan mklien tiap hari
J  Pantau peningkatan tekanan darah
J  Kaji edema perifer distensi vena leher dan peningkatan sesak nafas
J  Batasi cairan sesuai program pemberian obat – obatan dengan mmakanan jika mungkin bagi cairan selama sehari.
5.      Rasional
J  Klien ryang menunjukkan bukti kelebihan cairan memerlukan pembatasan berdasarkan pengeluaran urin
J  Klien dengan gagal ginjal kronis cenderung mengalami fluktuasi berat badan membutuhkasn evaluasi ulang yang bsering terhadan keseimbangan cairan optimal. Perubahan berat badan  interdialik yang diterima adalah 1 – 2 atau lebih/24jam
J  Volume sirkulasi  harus dipantau pada gagal ginjal kronis untuk mencegah hipervolemia berat.
J  Dengan mengkaji edema perifer distensi vena leher dan peningkatan sessak nafas dapoat mengetahui terjadinya gagal jantung kongestif.
J  Pembatasan natrium harus disesuaikan berdasarkan pada ekskresi Na urine dan serangkaian berat  badan.
Diagnosa ke dua  : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anorexia mual muntah, kehilangan selera makan atau nafsu makan kehilangan bau stomatitis dan diet tidak enak.
1.      Tujuan       : kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam 2x24jam
2.      KH                        :
Klien akan menghubungkan pentingnya masukan nutrisi adekuat dan mentaati program diet yang di programkan 
3.      Rencana tindakan
J  Terapkan tujuan nutrisional dengan klien  atau keluarganya dan rencanakan peratan untuk mencapainya  dengan :
-    konsul ahli diet untuk bentuaN pengkajian nutrisi mengidentifikasi tujuan nutrisi, meresepkan modifikasi diet den memberikan instuksi nutrisi pada klien.
-    Pertegas instruksi diet dan berikan materi tertulis untuk instruksi verbal
J  Siapkan  dan berikan dorongan higine oral yang  baik sebelum  dan sesudah makan
J  Berikan lingkungan yang menyenangkan selam waktu makan dan bantu sesuai kebutuhan
J  Periksa baki makan untuk mengetahui isinya dan dorong klien untuk makan
J  Dokumentasikan semua masukan cairan  dan makanann
J  Evaluasi status nutrisi klien dan keefektifan diet dengan klien dan ahli diet
J  Jelaskan perlunya kebutuhan klien untum makan protein maksimum  dari diet yang diizinkan.
4.      rasional
J   
-    Peresapan diet yang tepat penting dalam penatalaksanaan GGK untuk mencegah toksisitas, uremik, ketidakseimbangann  cairan dan elektrolit dan katabolisme
-    Empati dan penguatan terhadap instruksi diet dapat meningkatkan kepatuhan terhjadap pembatasan diet
J  Higiens oral yang tepat mengurangi mikroorganisme dan membantu stomatitis
J  Nafsu makan dirangsang pada waktu yang rilek dan menyenangkan
J  Umpan balik positif untuk ketaatan diet dalam meningkatkan kepatuhan
J  Dokumentasi akurat penting untuk pengkajian status nutrisi
J  Evaluasi kontinyu memungkinkan perubahan diet sesuai dengan kebutuhan spesifik nutrisi klien
J  Protein adekuat diperlukan untuk mencegah katabolisme protein dan penggunaan otot.

3.      Penatalaksanaan.
Merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan. Dalam fase pelaksanaan terdiri dari beberapa kegiatan validasi (penyerahan) rencana keperawatan, menulis dan mendokumentasikan rencana keperawatan, memberi asuhan keperawatan dan pengumpulan data (H. Lismidar : 1990)



4.      Evaluasi.
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang disengaja dan terus menerus dengan melibatkan klien, perawat dengan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan pengkajian ulang (H. Lismidar, 1990).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar