Info Kesehatan

healhty

Minggu, 15 April 2012

demam berdarah dengue


LAPORAN PENDAHULUAN



A.     KONSEP DASAR

I.              DEFINISI

Demam berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam-deman akut dengan ciri-ciri demam manifestasi perdarahan, dan bertendensi mengakibatkan ranjatan yang dapat menyebabkan kematian. Puncak kasus DBD terjadi pada musin hujan yaitu bulan desember sampai dengan maret. (Arif Mansjoer, dkk : 419).

II.           ETIOLOGI

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk Aedes Dibopictus, Aedes Pdynesiensis, dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan anti bodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap saretipe lain.

III.        PATOFISIOLOGI

Virus hanya dapat hidup dalam sel hidup sehingga harus bersaing dengan zat manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan manusia.
Sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi :
(1).        Auktluasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilatoksin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan terjadi perembesan plasma dari ruang intrauceskular ke ruang ekstrauaskular.
(2).        Agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibat mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang.
(3).        Kerusakan sel endotol pembuluh darah akan menrangsang / mengaktivasi fraktur pembekuan.

















 























Ketiga faktor diatas menyebabkan :
(1).        Peningkatan permeabilitas kapiler.
(2).        Kelainan hemostasis yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopenia dan keagulopati.

IV.        MANIFESTASI KLINIS

Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik, penyakit paling ringan (mild undifferantiated febrile illness), demam dengue, demam berdarah dengue, sampai sydrom syok dengue. Walaupun secara epidemiologis infeksi ringan lebih banyak, tetapi pada awal penyakit hampir tidak mungkin membedakan infeksi ringan atau berat.
Biasanya ditandai dengan demam tinggi, kenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demam ringan disertai timbulnya ruan makulopapular. Pada anak besar dan dewasa dikenal sindrom trias dengue berupa demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), dan timbul makulopapular. Tanda lain menyerupai demam dengueyaitu anoreksia, muntah dan nyeri kepala.
Klinis :
(1).        Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari.
(2).        Manifestasi perdarahan, termasuk setidak-tidaknya uji banding positif dan bentuk lain (petekia, purpura, ekimosis, epestaksis, perdarahan gusi). Hematomesis atau melena.
(3).        Pembesaran hati.
(4).        Syok yang ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 20 mmHg atau kurang) di sertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari, dan kaki, pasien menjadi gelisah, timbul sianosis disekitar mulut.

V.           PEMERIKSAAN PENUNJANG

Lakukan pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, hitung trombosit, uji serologi HL (Haemagglutenation Inhibiting anty bodi), Dengua Blot.
Trombosit opemia ringan sampai nyata bersamaan dengan hemokoasentrasi adalah gejala yang spesifik. Leukosit normal pada hari 1-3 hari pertama. Menurun saat akan terjadi syok dan meningkat saat syok teratasi.
Air seni, mungkin di temukan albuminuria ringan, sumsum tulang pad awal sakit biasanya hiposeluler, kemudian menjadi hiperseluler pada hari ke-5 dengan gangguan maturasi dan pada hari ke 10 sudah kembali normal untuk semua sistem.

VI.        PENATALAKSANAAN

Pada penderita demam haemorralagic fever ini dianjurkan untuk tirah baring / bedrast dan diet disesuaikan dengan kebutuhan yaitu makan lunak dan bila belum nafsu makan di beri minum 1,5 – 2 liter dalam 24 jam (susu air dan gula atau sirop) antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi.





B.     ASUHAN KEPERAWATAN

I.              PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan pendekatan yang sistematis untuk pengumpulan data dan analisa data sehingga dapat diketahui masalah yang dihadapi oleh klien.
a).           Pengumpulan Data
a.1.        Identitas klien meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, bahasa, status perkawinan, kebangsaan, pekerjaan, pendidikan, tanggal MRS, nomer register dan diagnosa medis.
a.2.        Keluhan utama
Pada umumnya klien merasa deman, mual, muntah, anoreksia, pendarahan, nyeri kepala sampai dapat terjadi syok berat.
a.3.        Riwayat kesehatan
·         Riwayat kesehatan sekarang
Hal ini meliputi keluhan utama mulai sebelum ada keluhan sampai terjadi demam, mual, muntah, pendarahan, anoreksia, nyeri, syok sampai klien masuk rumah sakit.
·         Riwayat kesehatan dahulu
Klien merasa mual, muntah, demam, anoreksia, pendarahan, nyeri, syok apakah terdapat hubungan dengan penyakit yang diderita sebelumnya.
·         Riwayat kesehatan keluarga
Hal ini meliputi tentang bagaimana kesehatan dalam keluarga apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular.
a.4.        Pola-pola fungsi kesehatan
·         Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Tanggapan klien mengenai kesehatan dan kebiasaan yang kurang menjaga kebersihan meliputi 3M : menguras, mengubur dan menutup sehingga perkembangan nyamuk pembawa virus DBD berkurang.
·         Pola nutrisi dan metabolisme.
Pada umumnya klien DBD nafsu makannya menurun, ada mual dan muntah.
·         Pola aktivitas dan latihan.
Pada klien DBD akan mengalami gangguan karena, bedrest, anoreksia, mual, muntah, demam dan nyeri akan membuat penurunan aktivitas klien.

·         Pola eliminasi.
Eliminasi alvi Kx kadang mengalami konstipasi sedangkan pada eliminasi urine tidak mengalamai gangguan hanya warna urine menjadi kecoklatan.
·         Pola istirahat dan tidur.
Pola tidur dan istirahat akan menurun karena pasien dengan DHF terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak sehingga istirahat menurun juga disertai dengan nyeri epigastrium.
·         Pola persepsi dan konsep diri.
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya, dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain: body image, ideal diri
·         Pola hubungan peran.
Bagaimana peran kx dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain.
·         Pola penanggulangan stress.
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas atas keadaan penyakit.
·         Pola tata nilai dan kepercayaan.
Biasanya klien akan terganggu dalam hal ibadanya karena harus berobat sehingga aktivitas klien dibantu oleh keluarganya.
a.5.        Pemeriksaan fisik
·         Keadaan umum
Didapatkan saat keadaan klien waktu pengkajian k/u lemah, suhu tubuh meningkat (28-41°C) muka kemerahan, mual + muntah, nyeri (kepala, perut, sendi dll).
·         Pemeriksaan tanda-tanda vital.
-          Peningkatan suhu tubuh.
-          Penurunan denyut nadi (bradikardi).
-          Tingkat kesadaran.
-          Tekanan darah menurun.
·         Pemeriksaan kepala dan leher.
Mukosa bibir kering dan pecah, wajah pucat, mata cowong, wajah menyeringai kesakitan.


·         Pemeriksaan sistem integumen.
Kulit terlihat kering, turgor kulit menurun, muka kemerahan, petakie, sianosis, keringat dingin, adanya ptechie yang diketahui dengan rempelit test.
·         Pemeriksaan sistem respirasi.
Pada klien DBD pernafasan rata-rata ada peningkatan inspirasi dan eskspirasi.
·         Pemeriksan sistem kardiovaskuler.
Terjadi penurunan tekanan darah (bradikardi), relatik haemoglobin rendah, tidak ada kelainan suara jantung, dan dapat terjadi perdarahan pada sistem kardiovaskuler.
·         Pemeriksaan gastrointestinal tract.
Pada klien DBD lidah kotor, mual (+), muntah (+) dan anoreksia peningkatan peristaltik usus, perut kembung, sering haus, hematomesis (+).
·         Pemeriksaan muskuloskeletal.
Adanya kelemahan otot karena kehilangan cairan dan nutrisi tubuh.
·         Pemeriksaan sistem endokrin.
Tidak ada yang mempengaruhi terjadinya DBD dalam sistem endokrin.
·         Pemeriksan ganitouria.
Tidak terdapat dysuria, retensi urine dan inkontinersia urine, dan bisa terjadi hematuri dan melena.
·         Pemeriksaan sistem persyarafan.
Pada umumnya motorik dan sensorik terjadi gangguan.

b).          Analisa Data.
DS : pasien mengatakan nyeri ulu hati.
DO : mual (+) muntah (+) nyeri asigastriom (+).
Masalah : gangguan rasa nyaman karena nyeri.
Kemungkinan penyebab : peningkatan asam lambung.

DS : pasien mengatakan badannya panas.
DO : - suhu tinggi (38°-40°C).
-    keluar keringat dingin.
-    Demam.
-    Mukosa bibir kering.
Masalah : peningkatan suhu tubuh.
Kemungkinan penyebab : adanya invasi virus.

II.           DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.       Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakitnya.
2.       Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
3.       Potensi terjadinya hipovolemik syok sampai dengan adanya perdarahan yang hebat.
4.       Gangguan kebutuhan tidur (istirahat) sehubungan dengan suhu tubuh yang meningkat.
5.       Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya sehubungan dengan informasi tentang penyakitnya.

III.        RENCANA KEPERAWATAN

Ø  Dx Kep. Prioritas (Dx. Kep 3)
Hipovolemik syok sampai dengan adanya perdarahan yang hebat.
Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
-          Perfusi hangat.
-          Klien tidak tampak gelisah.
-          Nadi normal (70-80 x/mnt).
-          Tensi normal (80-120 mmHg).
-          Keadaan umum baik.
-          Tidak terjadi perdarahan.
-          Balance cairan normal
Intervensi :
1.       Monitor keadaan umum klien.
R / : mengetahui tingkat penyakit klien.
2.       Observasi tanda-tanda vital.
R / :  peningkatan TTV menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh.
3.       Catat pengeluaran dan pemasukan.
R / : Mengetahui intake dan out put.

4.       Monitor tanda-tanda pendarahan.
R / : mengetahui secara dini pendarahan.
5.       Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan.
R / : menjalankan fungsi interdependent.
6.       Kolaborasi dengan lab dalam pemeriksaan trombosit serial.
R / : mengetahui derajat penyakit

IV.        IMPLEMENTASI

Adalah mengelola dan mewujudkan dari rencana keperawatan meliputi : tindakan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan anjuran dokter dan ketentuan rumah sakit.

V.           EVALUASI

Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses perawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara melibatkan pasien dan sesama tenaga kesehatn (Nasrul Efendi, 1995).




















DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer. Dkk (2001). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media Aes CV Laprus FKUI.
Marlyn E. Doenges, (2001)., Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.
Nasrul Effendi (1995), Pengantar Proses Keperawatan, Jakarta, EGC.
Sylfia A. Price (1995), Patofisiologi, Jakarta, EGC.






























LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA
DHF DI RUANG INTERNE KELAS RUMAH SAKIT
 AL-IRSYAD SURABAYA












Oleh :
 UCIEK HERNANDI
22071








AKADEMI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar