Info Kesehatan

healhty

Sabtu, 14 April 2012

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN


1. Anatomi Fisiologi Sitem Pencernaan
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus.
a. Mulut (oris)
Adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas dua bagian yaitu :
1) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi.
2) Bagian rongga mulut bagian dalam, yaitu bagian mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis, disebelah belakang bersambung dengan faring.
Selaput lendir mulut (mukosa) ditutupi epitelium yang berlapis- lapis, dibawahnya terletak kelenjar- kelenjar halus yang mengeluarkan lendir. Selaput ini kaya akan pembuluh darah dan juga memuat banyak ujung akhir saraf sensorik.
b. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dan kerongkongan (esophagus). Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Faring merupakan persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya di belakang rongga mulut dan rongga hidung didepan ruas tulang belakang.
c. Esofagus
Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung. Panjangnya kira-kira 25cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung. Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah melalui toraks menembus diafragma masuk kedalam abdomen menyambung dengan lambung.
d. Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar yang terdiri dari tiga bagian yaitu kardia, fundus, dan antrum. Makanan masuk kedalam lambung dari kerongkongan melalui otot yang berbentuk cincin yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sphringter menghalangi makanan kembali masuk kemulut dari lambung.
e. Usus Halus
Usus halus merupakan bagian dari system pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum. Panjangnya kira-kira 6 cm dan merupakan saluran yang paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan.
Usus halus terdiri dari 3 bagian yaitu :
a. Duodenum (usus 12 jari), panjangnya kira-kira 25 cm berbentuk seperti sepatu kuda melengkung kekiri pada lengkungan ini terdapat pankreas.
b. Yeyenum, panjangnya kira-kira 2-3 meter, yang merupakan bagian tengah dari usus halus dan berlanjut pada ileum
c. Ileum, panjangnya 4-5 meter, dan merupakan bagian akhir dari usus halus. Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantara sebuah katup yang disebut katup ileoseikal. Katup ini mencegah cairan dalam kolon assendens agar tidak masuk kembali kedalam ileum.
f. Hati
Hati merupakan organ yang paling besar di dalam tubuh kita. Warnanya coklat dan beratnya kira-kira 1,5 kg. Letaknya bagian atas dalam rongga abdomen di sebelah kanan bawah diafragma. Hati terbagi menjadi dua lapisan utama yaitu, permukaan atas yang berbentuk cembung terletak di bawah diafragma, permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura tranfersus. Fungsi utama hati adalah membentuk dan mengeksresi empedu, saluran empedu mengangkut empedu sedangkan kandung empedu menyimpan dan mengeluarkan empedu kedalam usus halus sesuai kebutuhan. Hati menyekresi sekitar 500 hingga 1000 ml empedu kuning setiap hari.
g. Kandung Empedu
Sebuah kantong yang berbentung seperti terong dan merupakan membrane berotot, letaknya di dalam sebuah lobus di sebelah permukaan bawah hati sampai pinggir depannya, panjangnya 8,2 cm berisi 60 cc. Fungsi kandung empedu sebagai persediaan getah empedu yang dihasilkan oleh sel-sel hati. Jumlahnya setiap harinya 500-1000 cc. Sekresi yang digunakan untuk mencerna lemak.
h. Pankreas
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah. Panjangnya kira-kira 15 cm, lebar 5 cm mulai dari duodenum sampai ke limfa dan beratnya rata-rata 60-90 gr terbentang pada vertebra lumbalis I dan II di belakang lambung.
i. Usus Besar
Panjangnya kira-kira 1,5 m, lebarnya 5-6 cm. Terdiri dari selaput lendIr, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, dan jaringan ikat. Fungsi usus besar terdiri dari: menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli dan tempat feces.
j. Appendiks
Bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari akhir seikum mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan untuk dilewati oleh beberapa isi usus. Appendiks tergantung menyilang pada linea terminalis masuk kedalam rongga pelvis minor terletak horizontal di belakang seikum. Sebagai suatu organ pertahanan terhadap infeksi kadang appendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa menimbulkan perforasi pada dinding abdomen.
Appendiks Vermiformis merupakan sisa aspeks sekum yang belum diketahui fungsinya pada manusia. Struktur ini berupa tabung yang panjang, sempit (sekitar 6 sampai 9 cm), dan mengandung arteri appendikularis yang merupakan suatu arteri terminalis (and-artery).
k. Kolon
Ada beberapa bagian dari kolon yaitu :
a. Kolon assendens yang panjangnya 13 cm terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur keatas dari ileum kebawah hati. Di bawah hati membengkok ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatika, dilanjutkan sebagai kolon transversum.
b. Kolon transversum yang panjangnya kira-kira 38 cm, membujur dari kolon assendens sampai kekolon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatika dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis.
c. Kolon desendens yang panjangnya 25 cm terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas kebawah dari fleksura lienalis sampai kedepan ileum kiri bersambung dengan kolon sigmoid.
d. Kolon sigmoid merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak miring dalam rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.
l. Rektum
Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis didepan os sacrum dan os koksigis.
m. Anus
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar. Terletak didasar pelvis yang dindingnya diperkuat oleh 3 sphringter :
a. Sphringter ani internus: bekerja tidak menurut kehendak
b. Sphringter levator ani: bekerja tidak menurut kehendak
c. Sphringter ani eksternus: bekerja menurut kehendak.

2. Fisiologi Sistem Pencernaan
a. Fungsi utama sistem pencernaan adalah memindahkan zat nutrient (zat yang sudah dicerna), air, dan garam yang berasal dari zat makanan untuk didistribusiken ke sel- sel melalui sistem sirkulasi. Zat makanan merupakan sumber energi bagi tubuh seperti ATP yang dibutuhkan sel- sel untuk melaksanankan tugasnya.
Agar makanan dapat dicerna secara optimal dalam saluran pencernaan, maka saluran pencernaan harus mempunyai persediaan air, elektrolit dan zat makanan yang terus-menerus. Untuk itu dibutuhkan :
1) Pergerakan makanan melalui saluran pencernaan
2) Sekresi getah pencernaan dan pencernaan
3) Absorpsi hasil pencernaan, air dan elektrolit
4) Sirkulasi darah melalui organ gastrointerstinal yang membawa zat yang diabsorpsi
5) Pengaturan semua fungsi oleh sistem saraf dan hormon.
b. Pengaturan Saraf
Sistem saraf intrinsik dalam bentuk dua pleksus mesenterikus dan fleksus submukosa terdiri dari neuron yang membentuk hubungan sinaps dengan neuron lain. Pleksus berakhir di otot polos dan kelenjar. Akson dari fleksus mesentrikus mengadakan sinaps dengan neuron submukosa dan sebaliknya.
Hubungan saraf dalam fleksus memungkinkan refleks- refleks saraf tidak bergantung pada sistem saraf pusat. Ada dua jenis refleks system daraf pusat yang menghubungkan suatu rangsangan yaitu refleks jarak pendek dari reseptor melalui fleksus saraf ke susunan saraf pusat (SSP) kembali ke fleksus saraf dan sel efektor dengan perantaraan saraf otonom.

B. KONSEP PENYAKIT THYPOID ABDOMINALIS
1. Pengertian
Tifus abdominalis adalah suatu infeksi sistem yang ditandai demam, sakit kepala, kelesuan, anoreksia, bradikardi relatif, kadang-kadang pembesaran dari limpa/hati/kedua-duanya. (Samsuridjal D dan heru S, 2003).
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. Sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ).
2. Etiologi
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. Ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
3. Patofisiologi
Masuknya kuman salmonella thypi (S. thypi) dan salmonella parathypi (S. parathypi) kedalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian lolos masuk kedalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa (Ig A) usus kurang baik maka kuman akan menembus sel- sel epitel (terutama sel- M) dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya di bawa ke plague piyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteri pertama yang asimtomatik) dan menyebar keseluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ- organ ini kuman meninggalkan sel- sel fagosit dan kemudian berkembang biak diluar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk kedalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.
Di dalam hati, kuman masuk kedalam kandung empedu, berkembang biak dan bersama cairan empedu diekskresikan secara “intermitten” ke dalam lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskuler, gangguan mental, dan koagulasi.
Di dalam plague piyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hyperplasia jaringan (S. Thypi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat, hiperplasia jaringan dan nekrosis organ) perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah akibat plague piyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperpasia akibat akumulasi sel-sel mononukleuar di dinding usus. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga ke lapisan otot, serosa usus, dan dapat mengakibatkan perforasi.
Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular, pernafasan, dan gangguan organ lainnya.



4. Manifestasi Klinis
Berdasarkan klasifikasi yang ada maka thypoid dapat dibagi dalam beberapa bagian berdasarkan masa penyebarannya dengan masa tunas thypoid 10-14 hari, yaitu:
a. Minggu I
Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.
b. Minggu II
Pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi relatif, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.
c. Minggu III
Pada minggu III gejala sudah berkurang tetapi masih sering terjadi pusing, nyeri otot, sifat demam menigkat perlahan- lahan dan terutama sore hingga malam hari dan kekambuhan berulang dari demam thypoid ini.

d. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit thypus abdominalis, meliputi:
1) Komplikasi intestinal
Pada plague piyeri usus yang terinfeksi (terutama ileum terminalis) dapat terbentuk tukak/ luka berbentuk lonjong dan memanjang terhadap sumbu usus. Bila luka menembus lumen usus dan mengenai pembuluh darah maka terjadi perdarahan. Selanjutnya bila tukak menembus dinding usus maka perforasi dapat terjadi. Selain karena faktor luka, peradarahan juga dapat terjadi karena gangguan koagulasi darah (KID) atau gabungan kedua faktor. Sekitar 25% penderita demam thypoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdapat perdarahan sebanyak 5ml/ kg/ BB/ jam dengan faktor hemostatis dalam batas normal. Jika penanganan terlambat mortalitas cukup tinggi sekitar 10-32%, bahkan ada yang melaporkan sampai 80%. Bila transfusi yang diberikan tidak dapat mengimbangi perdarahan yang terjadi, maka tindakan bedah perlu dipertimbangkan.
a) Perdarahan usus
b) Perporasi usus
c) Ilius paralitik
2) Komplikasi extra intestinal
Komplikasi hematologik berupa trombositopenia, hipofibrino-genemia, peningkatan prothrombin time, peningkatan partial thromboplastin time, penigkatan fibrin degradation products sampai koagulasi intravascular diseminata (KID) dapat ditemukan pada kebanyakan pasien demam thypoid. Trombositopenia saja sering dijumpai, hal ini mungkin terjadi karena menurunnya produksi trombosit di sumsum tulang selama proses infeksi untuk meningkatkan destruksi trombosit di sistem retikuloendotelial. Obat- oabatan juga memegang peranan.
Penyebab KID pada demam thypoid belumlah jelas. Hal-hal yang sering dikemukakan adalah endotoksin mengaktifkan beberapa sistem biologik, koagulasi, dan fibrinolisis. Pelepasan kinin, prostaglandin dan histamin menyebabkan vasokontriksi dan kerusakan endotel pembuluh darah dan selanjutnya mengakibatkan perangsangan mekanisme koagulasi: baik KID kompensata maupun dekompensata.
Bila terjadi KID dekompensata dapat diberikan tranfusi darah, subtitusi trombosit dan/ atau faktor- faktor koagulasi bahkan heparin, meskipun ada pula yang tidak sependapat tentang manfaat pemberian heparin pada demam thypoid.
1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan sindroma uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.

C. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
“Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitas dan preventif perawatan kesehatan. Asuhan keperawatan pada klien dengan Typhus Abdominalis digunakan pendekatan yang sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi dan pemecahan masalah konsep keperawatan diimplementasikan secara terpadu dalam tahap yang terorganisir meliputi : pengkajian, diagnosa, perencanaan, intervensi dan evaluasi” (Doenges., et.al, 1999 hlm 6).
1. Pengkajian
Menurut Suriadi, et al. (2001 hlm 284), dasar data pengkajian pasien dengan Typhus Abdominalis adalah:
a. Identitas
Di dalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, nomor registrasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan, Medical Record.
b. Keluhan utama
Kaji data mengenai penyakit mayor, pembedahan, penggunaan obat-obat masa lalu, perdarahan Gastrointestinal, penurunan berat badan atau penambahan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, perubahan dan kebiasaan defekasi, mual dan muntah.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan, epistaksis, penurunan kesadaran.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kesehatan keluarga tentang penyakit yang berhubungan dengan Gastrointestinal, penyakit keturunan seperti Diabetes Melitus, kesehatan saat ini dan masalah seperti karsinoma.
e. Riwayat kebutuhan
1) Pola nutrisi : Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tidak diolah dengan baik.
2) Pola cairan : Sumber air minum yang tidak sehat, kebiasaan minum kopi, soda dan alkohol.
3) Pola eliminasi : Kebiasaan dalam buang air kecil dan buang air besar dan perubahan pada kebiasaan defekasi dan karakteristik feces.
4) Pola hygiene : Kebersihan perseorangan yang cukup
5) Pola aktivitas : Kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.

f. Riwayat psikososial
Faktor-faktor sosiologis dan psikologis serta lingkungan fisik dapat menyebabkan pengaruh kesehatan. Pekerjaan mempengaruhi status kesehatan klien meliputi apakah ada zat toksik yang dicerna atau diabsorbsi misalnya arsenik merkuri atau karbon tetraklorida.

g. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada Typhus Abdominalis
1) Keadaan umum
Biasanya pada pasien Typhus Abdominalis mengalami badan lemah, panas, pucat, mual, perut tidak enak, anorexia.

2) Mulut
Stomatis, bibir kering dan pecah-pecah, lidah tertutup selaput putih kotor sementara ujung dan tepinya berwarna kemerahan dan jarang disertai tremor.
3) Abdomen
Kaji lokasi nyeri, frekuensi bising usus, massa abdomen. Adanya temuan abnormal harus dicatat. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Suriadi, et al, (2001 hlm 284) diagnosa keperawatan pada klien dengan Typhus Abdominalis adalah sebagai berikut :
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak nafsu makan, mual dan kembung.
c. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan istirahat total.
d. Kurang pengetahuan tentang penyakit thypoid berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi.


3. Perencanaan
Perencanaan pada Typhus Abdominalis menurut Suriadi, et. al, (2001 hlm 284) yaitu :
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Mempertahankan suhu dalam batas normal
Kriteria hasil : - Suhu tubuh dalam batas normal yaitu 360C-370C
- Tidak mengalami komplikasi yang berhubungan
Intervensi
1) Pantau suhu pasien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/ diaphoresis
2) Pantau suhu lingkungan, batasi atau tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi.
3) Berikan kompres mandi hangat dan hindari penggunaan alkohol.

Rasional :
1) Suhu 38,90C–41,10C menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis, misalkan kurva demam lanjut berakhir lebih dari 24 jam menunjukkan pneumonia pneumokokal. Demam scarlet atau thypoid, demam remiten (bervariasi hanya beberapa derajat pada arah tertentu) menunjukkan infeksi paru, kurva intermiten atau demam yang kembali normal sekali dalam periode 24 jam menunjukkan episode septik, endokarditis septik, atau TB. Menggigil sering mendahului puncak suhu. Catatan : penggunaan antipiretik mengubah pola demam dan dapat dibatasi sampai diagnosis dibuat atau bila demam tetap lebih besar dari 38,90C.
2) Suhu ruangan/ jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal
3) Dapat membantu mengurangi demam. Catatan : menggunakan air es/ alkohol mungkin menyebabkan kedinginan, meningkatkan suhu secara aktual. Selain itu, alkohol dapat mengeringkan kulit.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak nafsu makan, mual dan kembung.
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi
Kriteria hasil : - Nafsu makan meningkat
- Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai porsi yang diberikan



Intervensi
1) Timbang Berat badan setiap hari
2) Dorong tirah baring atau pembatasan aktivitas selama fase sakit akut.
3) Anjurkan istirahat sebelum makan
4) Anjurkan kebersihan oral
5) Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru, temani.
6) Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui perenteral jika pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi.

Rasional :
a. Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/ keefektifan terapi
b. Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.
c. Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan
d. Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makan
e. Lingkungan yang menyenangkan menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan.
f. Mengistirahatkan saluran GI sementara memberikan nutrisi penting.



c. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh.

Tujuan : Menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan nutrisi
Kriteria hasil : - Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan
- Tanda-tanda vital (TTV) stabil
- Membran mukosa lembab
- Turgor kulit baik
Intervensi
1) Awasi masukan dan haluaran, karakter dan jumlah feces; perkirakan kehilangan yang tak terlihat. Misalnya berkeringat. Ukur berat jenis urine, observasi oliguri.
2) Kaji tanda vital (TD, nadi, suhu).
3) Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat.
4) Ukur berat badan setiap hari
5) Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring, hindari kerja.



Rasional :
1) Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian cairan.
2) Hipotensi (termasuk postural), takikardi, demam dapat menunjukkan respon terhadap efek kehilangan cairan.
3) Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi.
4) Indikator cairan dan status nutrisi
5) Kolon disitirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan kehilangan cairan usus.

d. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
Tujuan : kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas
Kriteria hasil : - Melakukan aktivitas keperawatan dari dalam,tingkat kemampuan sendiri
- Mengidentifikasi sumber pribadi/keluarga dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan

Intervensi
1) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung sesuai kebutuhan.
2) Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
3) Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
4) Tingkatkan aktivitas toleransi. Bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif
5) Dorong penggunaan tehnik manajemen stress, dan relaksasi progersif, visualisasi, bimbingan imajinasi. Berikan aktivitas hiburan yang tepat, contohnya menonton TV, radio, membaca.

Rasional :
1) Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
2) Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan
3) Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
4) Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping.

e. Kurang pengetahuan b/d kurang terpaparnya informasi
Tujuan : Pengetahuan bertambah
Kriteria hasil : - klien dapat mengerti

Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien.
2) Tentukan persepsi klein tentang proses penyakit.
3) Beritahu pasien tentang penyebab atau hubungan faktor yang dapat menimbulkan gejala dari thypoid

Rasional :
1) Mengetahui pemahaman klien tentang penyakit yang di alaminya.
2) Membuat kebutuahn dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu.
3) Kewaspadaan klien terhadap makanan akan lebih tinggi dan hati- hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar