Info Kesehatan

healhty

Jumat, 20 April 2012

penyakit TB PARU


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Penyakit TB Paru adalah penyakit infeksi dan menular yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh kuman Micobacterium Tuberkulosis.
Saat ini secara epidemilogi menurut WHO terdapat 10 – 12 juta penderita TB Paru dan mempunyai kemampuan untuk menular, dengan angka kematian 3 juta penderita tiap tahun, dan keadaan tersesebut 75 % terdapat di Negara yang sedang berkembang dengan sosial ekonomi rendah seperti Indonesia. Di Indonesia penyakit TB Paru merupakan penyakit rakyat nomor satu dan penyebab kematian nomor tiga.Prevalensi BTA positif adalah 0,3 % (1982).Prevalensi pasien di dunia saat ini adalah sekitar 20 juta orang dan terdapat 3 juta pasien yang meninggal setiap tahunnya karena TB Paru, dan pada survey kesehatan rumah tangga (SKRT) Depkes RI 1986TB Paru menduduki urutan 10 morbiditas dan urutan ke-4 mortalitas. Pada SKRT tahun 1992 mortalitas ini meningkat ke urutan ke-2.
Berdasarkan informasi dari WHO tahun 1998, program TB Paru di Indonesia masih menempati rangking ke-3 di dunia setelah India dan RRC. Hal ini bisa dilihat dari angka kematian yang masih cukup tinggi yaitu sekitar 2,2 per-1000 penduduk. Dari angka tersebut setiap tahun di Indonesia muncul sejumlah kasus baru sekitar 436.000 kasus. Sedangkan menurut laporan stratifikasi puskesmas Ngagel Rejo Kodya Surabaya, jumlah klien TB Paru positif  yang ditemukan dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2000 tercatat 94 penderita TB Paru positif serta telah mendapat pengobatan program sedangkan  tersangka TB Paru  berdasarkan klinis sejumlah  217  orang, hingga saat ini belum dilakukan pemeriksaan Mikroskopis maupun Radiologis.  
Jika hal ini tidak mendapat perhatian dan penanganan yang tepat,cepat,segera dan intensif, maka  prevalensi penyakit ini akan terus meningkat serta resiko penularan pun semakin tinggi. Permasalahan yang sering timbul pada klien TB Paru pada kasus keluarga adalah terjadinya penularan pada anggota keluarga yang lain, droup out obat, terjadi gangguan peran, dan hubungan dalam keluarga maupun masyarakat karena proses penyakit, koping individu serta koping keluarga yang tidak efektif.           
Untuk mengatasi permasalahan tesebut, maka diharapkan perawat dapat membantu  keluarga agar mampu melaksanakan tugas-tugas kesehatan keluarga, sehingga peran - peran perawat adalah sebagai berikut :
1.      Memberi asuhan keperawatan kepada keluarga yang sakit.
2.      Pengenal, pengamat masalah dan kebutuhan kesehatan keluarga.
3.      Koordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga.
4.      Fasilitator, menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau dan perawat dengan mudah dapat menampung permasalahan yang dihadapi keluarga dan membantu mencarikan jalan pemecahannya.
5.      Pendidik kesehatan, perawat dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat.
6.      Penyuluh dan konsultasi, perawat dapat berperan dalam memberikan petunjuk tentang asuhan keperawatan dasar terhadap keluarga disamping menjadi penasehat dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan keluarga ( Drs. Nasrul Efendy, 1995 ).

B.     Batasan masalah.
Mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan kemampuan serta kompleksnya permasalahan yang ada pada keluarga yang menderita TB Paru   maka penulis membatasi ruang lingkup pembicaraan yaitu “ Asuhan keperawatan keluargadengan salah satu anggotanya menderita TB Paru melalui pendekatan proses keperawatan.

C.    Tujuan penulisan  
1.      Tujuan umum.
Untuk megetahui asuhan keperawatan tuan X yang salah satu anggota keluarganya menderita TB Paru di wilayah kerja puskesmas Ngagel Rejo Kodya Surabaya.
2.      Tujuan khusus.
 Mengetahui pendekatan proses keperawatan :
a.       Pengumpulan data.
b.      Analisa data yang diperoleh.
c.       Merumuskan masalah kesehatan keluarga.
d.      Memprioritaskan masalah dengan system scoring.
e.       Menentukan diagnosa keperawatan.
f.       Menyusun rencana.
g.      Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah dibuat.
h.      Mengevaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan.
D.    Metodologi.
1.            Metode penulisan.
   Adapun metode yang digunakan dalam penulisan karlis ini adalah sebagai berikut :
a.                                   Metode Deskriptif.
 Adalah metode yang digunakan untuk mengungkapkan peristiwa dan bertujuan  pada pemecahan masalah yang terjadi di masa kini dan hasil digunakan pada saat sekarang.
b.            Studi kepustakaan.
Mencari informasi melalui beberapa buku atau literature yang ada di perpustakaan dan dijadikan landasan teori dalam memberikan suatu pelayanan keperawatan maupun dalam penyusunan karlis.
c.                                      Studi kasus
                               Memberi aasuhan keperawatan pada kelurga tuan X untuk memperoleh gambaran kondisi yang sebenarnya tentang pelaksanaan asuhan keperawatan dengan metode pendekatan proses keperawatan .
2.      Lokasi dan waktu.
a.                               Lokasi
   Dalam meberikan asuhan keperawtan pada kelarga X yang salah satu     anggota keluarganya mendeita TB Paru, maka lokasi  yang dipilih adalah Puskesmas Ngagel Rejo Kecamatan Wonokromo Kodya Surabaya.
b.Waktu.
                          
c. Tehnik pengumpulan data.
1.      Observasi
2.      Wawancara
3.      Pemeriksaan fisik
4.      Pemeriksaan penunjang:
-          Laboratorium
-          Radiologi
                     d. Sumber data
1.       Data primer
2.       Data sekunder:
-            Informasi petugas PHN
-          Family folder
-          Catatan medik puskesmas
-          Hasil pemeriksaan
-          Laporan stratifikasi
d.      Tehnik sampling
                     Pemilihan keluarga  yang akan diasuh berdasarkan petunjuk dari       puskesmas.

E.     Sistimatika penulisan.
Dalam upaya pembuatan karlis ini, penulis menggunakan sistimatika sebagai berikut :
1.      Bab pertama : pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistimatika penulisan.
2.      Bab kedua : tinjauan pustaka yang menguraikan tentang konsep dasar terdiri dari : pengertian, asuhan keperawatan, dampak masalah, factor-faktor yang mempengaruhi kesehatan keluarga kemudian dilanjutkan dengan asuhan keperawatan yang terdiri dari : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
3.      Bab ketiga tinjauan kasus : menguraiakn tentang asuhan keperawatann keluarga secara nyata yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
4.      Bab keempat pembahasan yang menguraikan kesenjangan antara bab dua dan bab tiga dengan mengacu pada tujuan penulisan.
5.      Bab kelima penutup yang menguraikan kesimpulan dan saran sebagai jawaban terhadap tujuan penulisan kemudian dilanjutkan dengan daftar pustaka.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar
1.     Keperawatan kesehatan keluarga.
a.       Pengertian.
1.      Keluarga
Banyak ahli menguraikan pengertian tentang keluarga sesuai dengan  perkembangan social  masyarakat . Berikut akan diuraikan pengertian keluarga.
1.1.   Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal  di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (  Drs. Nasrul Efendy ).    
                           1.2.   Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga beserta beberapa orang anggotanya yang terkumpul dan tinggal dalam satu tempat karena pertalian darah, ikatan perkawinan, atau adopsi yang satu sama lainnya saling tergantung dan beriteraksi. (  Dep.Kes. RI 1988 ).    
        1.3.   Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing- masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. (  Salvicion G Bailon dan Aracelis Maglaya 1989 ).
1.4. Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta social dari tiap anggota keluarga ( Duvall dan Logan 1986 ).
1.5. Keluarga adalah kelompok dua orang atau lebih yerhubungan karena kelahiran dari perkawinan, adopsi atau tinggal bersama dalam suatu rumah tangga ( National Center For Health Statistics 1990 ).
                  Secara tradisional keluarga didefinisikan sebagai hubungan nuklir  keluarga ( ibu, ayah, dan anak-anak muda ) dimana orang tuanya tetap bersama keluarga selama siklus penghidupan. Pola keluarga tradisional ditandai dengan legalisasi sepanjang masa, perkawinan eksklusif diantara seorang wanita dan seorang laki-laki dengan anak-anak di mana si pria merupakan pencari nafkah dan pejabat yang tertinggi ( Mackin, 1987 ).
Dari beberapa pengertian tentang keluarga tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa  keluarga adalah :
1.      Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
2.      Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.
3.      Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing- masing mempunyai peran social : suami, istri, anak, kakak dan adik.
4.      Mempunyai tujuan; menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan social keluarga.
2.  Perawatan kesehatan keluarga.
Perawatan kesehatan keluarga menurut Salvian G. Bailon dan Aracelis Maglaya, 1978 adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan dan melalui perawatan sebagai sasaran.
b.      Type-type keluarga :
b.1.  Keluarga inti ( Nuclear family ) yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.
b.2.  Keluarga besar ( Exstended family ) yaitu keluarga inti ditambah   dengan  sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.  
      b.3.  Keluarga berantai ( serial family ) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
      b.4.  Keluarga duda/janda ( single family ) yaitu keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
b.5. Keluarga berkomposisi ( Composite ) yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami  dan hidup secara bersama.
b.6.  Keluarga kabitas ( Cahabitation ) yaitu dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
c.       Fungsi keluarga.
Friedman ( 1986 ) mengidentifikasikan lima fungsi dasar keluarga, yaitu:
c.1.  Fungsi afektif.
        Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif  berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah ; saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menrima, saling mendukung, saling menghargai, dan ikatan antar anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga.
         Kesimpulan bahwa fungsi afek merupakan sumber energi yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga timbul karena fungsi afektif yang tidak terpenuhi.
c.2.   Fungsi social.
               Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui  individu, yang menghasilkan interaksi social dan belajar berperan dalam lingkungan social ( Friedman, 1986 ). Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma – norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga.
c.3.   Fungsi Reproduksi.
               Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga berencana maka fugsi ini sedikit terkontrol.
c.4.   Fungsi Ekonomi.
               Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarg, seperti kebutuhan akan makan, pakaian, dan tempat untuk berlindung ( rumah ).
c.5.   Fungsi Perawatan Kesehatan.
               Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhai status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga dalam melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga. Adapun tugas kesehatan keluarga  (Friedman, 1998)  adalah ; mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat dan mempertahankan hubungan dengan (menggunakan ) fasilitas kesehatan masyarakat.

2.     Penyakit Tubercolusis Paru.
A.    Definisi.
              Tuberkolosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru-  paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberkulosis

B.    Etiologi.
               Jenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 4  mm      dan tebal antara 0,3 – 0,6 mm. Sebagian besar kuman berupa lemak/lipid sehingga kuman ini tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap fisik dan kimiawi. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang banyak oksigen, dalam hal ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya yaitu daerah apikal paru, daerah ini menjadi prediksi pada penyakit paru.

C.    Pathofisiologi.
Tempat masuk kuman M. Tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis (TBC) terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektorya adalah makrofag, sedangkan limfosit ( biasanya sel T ) adalah sel imunoresponsifnya. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil ; gumpalan yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkhus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut. Setelah hari-hari pertama leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau berkembang-biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini membutuhkan waktu 10 – 20 hari .
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju, isi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Bagian ini disebut dengan lesi primer. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
   Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkhus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalam percabangan trakheobronkial. Proses ini dapat terulang kembali di bagian lain di paru-paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah, atau usus. Lesi primer menjadi rongga-rongga serta jaringan nekrotik yang sesudah mencair keluar bersama batuk. Bila lesi ini sampai menembus pleura maka akan terjadi efusi pleura tuberkulosa.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkhus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan, dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos melalui kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil, yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh.

D.    Komplikasi.
Komplikasi yang dapat timbul akibat tuberkulosis terjadi pada sistem pernafasan dan di luar sistem pernafasan. Pada sistem pernafasan antara lain menimbulkan pneumothoraks, efusi pleural, dan gagal nafas, sedang diluar sistem pernafasan menimbulkan tuberkulosis usus, meningitis serosa, dan tuberkulosis milier.


E.    Tanda dan gejala.
            Pada stadium dini penyakit TBC biasanya tidak tampak adanya tanda dan   gejala yang khas. Biasanya keluhan yang muncul adalah :
1.      Demam : sub fibril, fibril ( 40 – 410C ) hilang timbul.
2.      Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang / mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulent ( menghasilkan sputum ).
3.      Sesak nafas : terjadi bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.
4.      Nyeri dada : ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
5.      Malaise : ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan keringat di waktu di malam hari.
F.     Pemeriksaan Diagnostik dan  Pengobatan TB Paru .
a.      Pemeriksaan Diagnostik.
1.      Kultur sputum
Positif jika ditemukan mikobakterium tuberkulosis dalam stadium   aktif pada perjalanan penyakit.
2.      Ziehl-Neelsen (pewarnaan terhadap sputum)
Positif jika ditemukan bakteri tahan asam.
3.      Skin test (PPD, Mantoux, Tine, Vollmer patch)
Reaksi positif (area indurasi > 10 mm timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intra kutan) menunjukkan telah terjadinya infeksi dan dikeluarkannya antibodi tetapi tidak menunjukkan aktifnya penyakit.
4.      Elisa/Western Blot
Dapat menunjukkan adanya virus HIV.
5.      Rontgen dada
Menunjukkan adanya infiltrasi lesi pada paru-paru bagian atas, timbunan kalsium dari lesi primer atau penumpukan cairan. Perubahan yang menunjukkan perkembangan tuberkulosis meliputi adanya kavitas dan area fibrosa.
6.      Pemeriksaan histologi/kultur jaringan
Positif bila terdapat mikobakterium tuberkulosis.
7.      Biopsi jaringan paru
Menampakkan adanya sel-sel yang besar yang mengindikasikan  terjadinya nekrosis.
8.      Pemeriksaan elektrolit
Mungkin abnormal tergantung lokasi dan beratnya infeksi, misalnya hipernatremia yang disebabkan retensi air mungkin ditemukan pada penyakit tuberkulosis kronis.
9.      Analisa gas darah (BGA)
Mungkin abnormal tergantung lokasi, berat, dan adanya sisa kerusakan jaringan paru.
10.  Pemeriksaan  fungsi  paru
Turunnya kapasitas vital, meningkatnya ruang rugi, meningkatnya rasio residu udara pada kapasitas total paru, dan menurunnya saturasi oksigen sebagai akibat infiltrasi parenkim/fibrosa, hilangnya jaringan paru, dan kelainan pleura (akibat dari tuberkulosis kronis).
b.      Pengobatan.
Sejak ditemukannya obat-obat anti TB dan dimulainya dengan monotherapi, kemudian mulai timbul masalah resistensi terhadap obat-obat tersebut, maka pengobatan secara paduan beberapa obat ternyata dapat mencapai tingkat kesembuhan yang tinggi dan memperkecil jumlah kekambuhan.
Paduan obat jangka pendek 6 – 9 bulan yang selama ini dipakai di Indonesia dan dianjurkan juga oleh WHO adalah 2 RHZ/4RH dan variasi lain adalah 2 RHE/4RH, 2 RHS/4RH, 2 RHZ/4R3H3/ 2RHS/4R2H2, dan lain-lain. Untuk TB paru yang berat  ( milier ) dan TB Ekstra Paru, therapi tahap lanjutan diperpanjang jadi 7 bulan yakni 2RHZ/7RH. Departemen Kesehatan RI selama ini menjalankan program pemberantasan TB Paru dengan panduan 1RHE/5R2H2.
Bila pasien alergi/hipersensitif terhadap Rifampisin, maka paduan obat jangka panjang 12 – 18 bulan dipakai kembali yakni SHZ, SHE, SHT, dan lain-lain.
Beberapa obat anti TB yang dipakai saat ini adalah :
1.      Obat anti TB tingkat satu
Rifampisin ( R ), Isoniazid ( I ), Pirazinamid ( P ), Etambutol ( E ), Sterptomisin ( S ).
2.      Obat anti TB tingkat dua
Kanamisin ( K ), Para-Amino-Salicylic Acid ( P ),Tiasetazon ( T ), Etionamide, Sikloserin, Kapreomisin, Viomisin, Amikasin, Ofloksasin, Sifrofloksasin, Norfloksasin, Klofazimin dan lain-lainl. Obat anti TB tingkat dua ini daya terapeutiknya tidak sekuat yang tingkat satu dan beberapa macam yang teakhir yaitu golongan aminoglikosid dan quinolon masih dalam tahap eksperimental.
Belakangan ini WHO menyadari bahwa pengobatan jangka pendek tersebut baru berhasil bila obat-obat yang relatif mahal ( R & Z ) tersedia sampai akhi masa pengobatan. Di beberapa negara berkembang, pengobatan jangka pendek ini banyak yang gagal mencapai angka kesembuhan yang ( cure rate ) ditargetkan yakni 85 % karena :
-                      Program pemberantasan kurang baik
-                      Buruknya kepatuhan berobat
Hal ini menyebabkan :
-                      Populasi TB semakin meluas
-                      Timbulnya resistensi terhadap bermacam obat
Adanya epidemi AIDS akan lebih mengobarkan kembali aktifnya TB.
Menyadari bahaya tersebut di atas, WHO pada tahun 1991 mengeluarkan pernyataan baru dalam pengobatan TB Paru sebagai berikut :
Pengobatan tetap dibagi dalam dua tahap yakni
1.      Tahap intensif ( initial ), dengan memberikan 4 – 5 macam obat anti TB per hari dengan tujuan :
-          Mendapatkan konversi sputum dengan cepat ( efek bakterisidal )
-          Menghilangkan keluhan dan mencegah efek penyakit lebih lanjut
-          Mencegah timbulnya resistensi obat
2.      Tahap lanjutan ( continuation phase ), denga hanya memberikan 2 macam obat per hari atau secara intermitten dengan tujuan :
-          Menghilangkan bakteri yang tersisa (efek sterilisasi )
-          Mencegah kekambuhan
Pemberian dosis diatur berdasarkan berat badan yakni kurang dari 33 kg, 33 – 50 kg dan lebih dari 50 kg.
Pengobatan dibagi atas 4 katagori yakni :
1.      Katagori I
Ditujukan terhadap :
-          Kasus baru dengan sputum negatif
-             Kasus baru dengan bentuk TB berat seperti meningitis, TB diseminata, perikarditis, peritonitis, pleuritis, spondilitis dengan gangguan neurologis, kelainan paru yang luas dengan BTA negatif, TB usus, TB genito urinarius.
Pengobatan tahap intensif adalah dengan paduan 2RHZS ( E ). Bila setelah dua bulan BTA menjadi negatif, diteruskan dengan tahap lanjutan. Bila setelah dua bulan masih positif, tahap intensif diperpanjang lagi selama 2 – 4 minggu dengan 4 macam obat. Pada populasi dengan resistensi primer terhadap INH rendah pada tahap intensif cukup diberikan 3 macam obat yakni RHZ.
Pengobatan tahap lanjutan adalah dengan paduan 4 RH atau 4R3H3. Pasien dengan TB berat ( meningitis, TB diseminata, spondilitis dengan kelainan neurologis ), R dan H harus diberikan setiap hari selama 6 – 7 bulan. Paduan obat alternatif adalah 6 HE ( T ).
2.            Kategori II
Ditujukan terhadap :
-          Kasus kambuh
-          Kasus gagal dengan sputum BTA positif
Pengobatan tahap intensif selama 3 bulan dengan 2 RHZE/1RHZE. Bila setelah tahap intensif BTA menjadi negatif, maka diteruskan dengan tahap lanjutan. Bila setelah 3 bulan tahap intensif BTA tetap positif, maka tahap intensif tersebut diperpanjang lagi 1 bulan dengan RHZE. Bila setelah 4 bulan BTA masih juga positif pengobatan dihentikan selama 2 – 3 hari, lalu diperiksa biakan dan resistensi terhadap BTA dan pengobatan diteruskan dengan tahap lanjutan. Bila pasien masih mempunyai data resistensi BTA dan ternyata BTA masih sensitif terhadap semua obat dan setelah tahap intensif BTA menjadi negatif, maka tahap lanjutan harus diawasi dengan ketat di RS rujukan. Kemungkinan konversi sputum masih cukup besar. Bila data menunjukkan resiten terhadap R dan H, maka kemungkinan keberhasilan menjadi kecil.
   Pengobatan tahap lanjutan adalah dengan paduan 5 RHE atau  paduan 5 R3H3E3 yang perlu diawasi dengan ketat. Bila sputum BTA masih tetap positif setelah selesai tahap lanjutan, maka pasien tidak perlu diobati lagi.

3.            Kategori III
Ditujukan terhadap :
-                Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas.
-                Kasus TBC ekstra paru selain yang disebut dalam kategori I
Pengobatan tahap intensif dengan panduan 2 RHZ atau 2 R3H3Z3
Pengobatan tahap lanjutan dengan panduan 2RH atau 2 R3H3. Bila kelainan paru lebih luas dari 10 cm2 atau pada TB ekstra paru yang belum remisi sempurna, maka tahap lanjutan diperpanjang lagi dengan H saja selama empat bulan lagi. Paduan obat alternatif adalah 6 HE ( T )

4.      Kategori IV
Ditujukan terhadap kasus TB kronik.
Prioritas pengobatan disini rendah, terdapat resistensi terhadap obat-obat anti TB (sedikitnya R dan H), sehingga masalahnya jadi rumit. Pasien mungkin perlu dirawat beberapa bulan dan diberikan obat-obat anti TB tingkat dua yang kurang begitu efektif, lebih mahal dan lebih toksis.
Di negara yang maju dapat diberikan obat-obat anti TB eksperimental sesuai dengan sensitivitasnya, sedangkan di negara yang kurang mampu cukup dengan pemberian H seumur hidup dengan harapan dapat mengurangi infeksi dan penularan.

Departemen Kesehatan RI dalam program baru pemberantasan TB paru telah mulai dengan paduan obat : 2 RHZE/4 R3HE ( kategori I ), 2 RHZSE/1 RHZE/5 R3H3E3 ( kategori II ), 2 RHZ/2 R3H3 ( kategori IV ).

7.   Evaluasi Pengobatan.
Kemajuan pengobatan dapat terlihat dari perbaikan klinis ( hilangnya keluhan, nafsu makan meningkat, berat badan naik dan lain-lain ), berkurangnya kelainan radiologis paru dan konversi sputum menjadi negatif.
Kontrol terhadap sputum BTA langsung dilakukan pada akhir bulan ke-2, 4, dan 6. Pada yang memakai paduan obat 8 bulan sputum BTA diperiksa pada akhir bulan ke-2, 5, dan 8. Biakan BTA dilakukan pada permulaan, akhir bulan ke-2 dan akhir pengobatan. Pmeriksaan resistensi dilakukan pada pasien baru yang BTA-nya masih positif setelah tahap intensif dan pada awal terapi pasien yang mendapat pengobatan ulang ( retreatment ).
Kontrol terhadap pemeriksaan radiologis dada, kurang begitu berperan dalam evaluasi pengobatan. Bila fasilitas memungkinkan foto dapat dibuat pada akhir pengobatan sebagai dokumentasi untuk perbandingan bila nanti timbul kasus kambuh.
Untuk mengetahui efek samping obat ( yang terbanyak hepatitis ), perlu pemeriksaan darah terhadap enzim hati, bilirubin, kreatinin/ureum, darah perifer. Asam urat darah perlu diperiksa bagi yang memakai obat Z. bila terdapat hepatitis karena obat ( kebanyakan karena R dan H ), maka obat yang hepatotoksis diganti dengan yang non-hepatotoksis. Pemberian steroid dapat dipertimbangkan. R atau H kemudian dapat diberikan kembali secara desensitisasi. Tes mata untuk warna perlu bagi yang memakai E, sedangkan tes audiometri perlu bagi yang memakai S.
Resistensi obat sudah harus diwaspadai yakni bila dalam 1 – 2 bulan pengobatan tahap intensif tidak terlihat perbaikan. Di Amerika Serikat prevalensi pasien yang resisten terhadap obat anti TB makin meningkat dan sudah mencapai 9 %. Di negara yang sedang berkembang seperti di Afrika, diperkirakan lebih tinggi lagi. BTA yang sudah resisten terhadapobat anti TB saat ini sudah dapat dideteksi dengan cara PCR-SSCP ( Single Stranded Confirmation Polymorphism ) dalam waktu satu hari. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi 99% BTA yang resisten terhadap R, 70% terhadap H, dan 60% terhadap S.
3.      Dampak masalah.
a.       Terhadap individu.
1.      Biologis.
Adanya kelemahan fisik secara umum, batuk yang terus menerus, sesak napas, nyeri dada, nafsu makan menurun, berat badan menurun, keringat pada malam hari dan kadang-kadang panas yang tinggi.
2.      Psikologis.
Biasanya klien mudah tersinggung , marah, putus asa oleh karena batuk yang terus menerus sehingga keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan.
3.      Sosial.
Adanya perasaan rendah diri oleh karena malu dengan keadaan penyakitnya sehingga klien selalu mengisolasi dirinya.
4.      Spiritual.
Adanya distress spiritual yaitu menyalahkan tuhan karena penyakitnya yang tidak sembuh-sembuh juga menganggap penyakitnya yang manakutkan    
      ( Bailon Maglaya, 1989 ).
 5.  Produktifitas menurun oleh karena kelemahan fisik.
b.       Terhadap keluarga.
3.     Terjadinya penularan terhadap anggota keluarga yang lain karena kurang    pengetahuan dari keluarga terhadap penyakit TB Paru serta kurang pengetahuan penatalaksanaan pengobatan dan upaya pencegahan penularan penyakit.            
4.     Produktifitas menurun.
Terutama bila mengenai kepala keluarga yang berperan sebagai pemenuhan kebutuhan keluarga, maka akan menghambat biaya hidup sehari-hari terutama untuk biaya pengobatan.
5.     Psikologis.
Peran keluarga akan berubah dan diganti oleh keluarga yang lain.
6.     Sosial.
            Keluarga merasa malu dan mengisolasi diri  karena sebagian besar masyarakat belum tahu pasti tentang penyakit TB Paru ( Lismidar,1990 )
c.       Terhadap masyarakat.
       Apabila penemuan kasus baru TB Paru tidak secara dini serta pengobatan Penderita TB Paru positif tidak teratur atau droup out pengobatan maka resiko penularan pada masyarakat luas akan terjadi oleh karena cara penularan penyakit TB Paru

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar