Info Kesehatan

healhty

Kamis, 19 April 2012

OEDEMA PARU


LAPORAN PENDAHULUAN
OEDEMA PARU

Adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya cairan ekstravaskular yang patologis pada jaringan parenkim paru..

Etiologi
Secara umum penyebab oedema paru adalah akibat peningkatan tekanan hidrostatik dan atau peningkatan permeabilitas kapiler paru.
Faktor penyebab Oedema paru meliputi gangguan sistemik. Penyakit/gangguan yang menyebabkan peningkatan tekanan kapiler paru meliputi :
Gangguan Faal Paru
-          Kerusakan pembuluh darah paru
-          Edema paru neurogenik
-          Oedema paru akibat peningkatan tekanan udara (barotrauma) misalnya di ketinggian.

Gangguan Jantung (Kardiogenik)
-          Gagal jantung Kanan
-          Gagal Jantung Congestif
-          Kerusakan katup jantung (stenosis mitral)
Sedangkan gangguan yang dapat mengakibatkan peningkatan permeabiltas kapiler paru antara lain :
Insufisiensi paru pasca trauma
Aspirasi cairan lambung
Sepsis
Pneumonia
Overdosis heroin
Luka bakar inhalasi (thermal atau kimiawi)
Toksisitas oksigen
Tenggelam/hampir tenggelam
Emboli lemak
Uremia
Pancreatitis
Dan lain-lain

Keseluruhan faktor diatas dapat meimbulkan Oedema paru melalui mekanisme :

Gagal Jantung kanan/Kongestif
Gangguan ginjal
Trauma luas
Terapi cairan overload
Aspirasi cairan lambung
Sepsis
Pneumonia


Aliran balik darah paru terhambat
Rudapaksa
Pemakaian heroin
Tempat tinggi

Luka bakar inhalasi
Oksigen konsentrasi >>
Emboli lemak
Uremia


Peningkatan tekanan intrakapiler pulmonal


Sindrom kongesti vena
Efek Neurogenik

Pancreatitis
Tenggelam


Permeabilitas kapiler >>



Perembesan cairan intravaskuler à Interstisiel

Peningkatan tek. Kapiler > Tek. Interstisiel



Timbunan pada alveoli

OEDEMA PARU




Distensi intrapulmonal >>


Pecahnya pembuluh darah

Peningkatan kerusakan jaringan paru



Gangguan  Pertukaran Gas

Bersihan Jalan nafas tak efektif
Devisit Vol Cairan

Nutrisi kurang dari kebutuhan
Gangguan Aktivitas

Resiko tinggi  Injuri




Bantuan Pernafasan :
Pemasangan Ventilator




Kerusakan pertukaran gas b.d pengesetan ventilator tak tepat
Gangguan komunikasi verbal b.d penempatan selang endotrakeal
Ansietas b.d rasa takut akan kematian, lingkungan kritis, tindakan pemasangan ventilator



Nyeri b.d letak selang endotrakeal
Resiko tinggi perubahan perfusi b.d ventilasi tekanan positif, Hipotensi
Resiko tinggi terhadap infeksi b.d pemasangan selang endotrakeal


Asuhan Keperawatan
Pengkajian
Identitas                      :
Umur               : Klien dewasa dan bayi cenderung mengalami dibandingkan remaja/dewasa muda

Riwayat Masuk
Klien  biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi/tidak. Kesadaran kadang sudah menurun dan dapat terjadi dengan tiba-tiba pada trauma. Berbagai etiologi yang mendasar dengan masing-masik tanda klinik mungkin menyertai klien

Riwayat Penyakit Dahulu
Predileksi penyakit sistemik atau berdampak sistemik seperti sepsis, pancreatitis,
Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan serta penyakit ginjal mungkin ditemui pada klien

Pengkajian
1.      Sistem Integumen
Subyektif : -
Obyektif   : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan

2.      Sistem Pulmonal
Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng
Obyektif   : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru,

3.      Sistem Cardiovaskuler
Subyektif : sakit kepala
Obyektif  : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun, Denyut jantung tidak teratur, suara jantung tambahan

4.      Sistem Neurosensori
Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang
Obyektif   : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi

5.      Sistem Musculoskeletal
Subyektif : lemah, cepat lelah
Obyektif  : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan

6.      Sistem genitourinaria
Subyektif : -
Obyektif   : produksi urine menurun/normal,

7.      Sistem digestif
Subyektif  : mual, kadang muntah
Obyektif   : konsistensi feses normal/diare

Studi Laboratorik  :
Hb                               : menurun/normal
Analisa Gas Darah      : acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah, kadar karbon darah meningkat/normal
Elektrolit                     : Natrium/kalsium menurun/normal


Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan :
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d intubasi, ventilasi, proses penyakit, kelemahan dan kelelahan
Tujuan : Jalan nafas dapat dipertahankan kebersihannya
Kriteria : Suara nafas bersih, ronchii tidak terdengar pada seluruh lapang paru
Rencana Tindakan
Rasional
-            Auskultasi bunyi nafas tiap 2-4 jam
-            Lakukan hisap lendir bila ronchii terdengar





-            Monitor humidivier dan suhu ventilator
-            Monitor status hidrasi klien
-            Monitor ventilator tekanan dinamis


-            Beri Lavase cairan garam faali sesuai indikasi untuk
-            Beri fisioterapi dada sesuai indikasi
-            Beri bronkodilator
-            Ubah posisi, lakukan postural drainage 
1)        Monitoring produksi sekret
2)        Tekanan penghisapan tidak lebih 100-200 mmHg. Hiperoksigenasi dengan 4-5 kali pernafasn dengan O2 100 % dan hiperinflasi dengan 1 ½ kali VT menggunakan resusitasi manual atau ventilator. Auskultasi bunyi nafas setelah penghisapan
3)        Oksigen lembab merngasang pengenceran sekret. Suhu ideal 35-37,8OC
4)        Mencegah sekresi kental
5)        Peningkatan tekanan tiba-tiba mungkin menunjukkan adanya perlengketan jalan nafas
6)        Memfasilitasi pembuangan sekret

7)        Memfasilitasi pengenceran dan penge-luaran sekret menuju bronkus utama
8)        Memfasilitasi pengeluaran sekret menuju bronkus utama


Diagnosa Keperawatan :
Gangguan pertukaran Gas b.d sekresi tertahan, proses penyakit, atau pengesetan ventilator tidak tepat
Tujuan : Pertukaran gas jaringan paru optimal
Kriteria : Gas Darah Arteri dalam keadaan normal
Rencana Tindakan
Rasional
-            Periksa AGD 10-30 menit setelah pengesetan ventilator atau setelah adanya perubahan ventilator
-            Monitor AGD atau oksimetri selama periode penyapihan
-            Kaji apakah posisi tertentu menimbulkan ketidaknyamanan pernafasan
-            Monitor tanda hipoksia dan hiperkapnea


1)        AGD diperiksa sebagai evaluasi status pertukaran gas; menunjukkan konsentrasi O2 & CO2 darah
2)        Periode penyapihan rawan terhadap perubahan status oksigenasi
3)        Dalam berbagai kondisi, ketidak-nyamanan  dapat mempengaruhi klinis penderita
4)        Hipoksia dan hiperkapnea ditandai adanya gelisah dan penurunan kesadaran, asidosis, hiperventilasi, diaporesis dan keluhan sesak meningkat

Diagnosa Keperawatan :
Gangguan komunikasi verbal b.d pemasangan selang endotrakeal
Tujuan : Klien dan petugas kesehatan dapat berkomunikasi secara efektif selama pemasangan selang endotrakeal
Kriteria : Klin dan perawat menentukan dan menggunakan metodayang tepat untuk berkomunikasi, tidak terjadi hambatan komunikasi berarti, menggunakan metode yang tepat
Rencana Tindakan
Rasional
-            Jelaskan lingkungan, semua prosedur, tujuan dan alat yang berhubungan dengan klien
-            Berikan bel atau papan catatan serta alat tulis untuk momunikasi
-            Ajukan pertanyaan tertutup
-            Yakinkan pasien bahwa suara akan kembali bila endotrakela dilepas
1)        Mengurangi kebingungan klien dan meminimalisasi adanya komunikasi yang sulit antara klien dan perawat
2)        Sebagai media komunikasi antara klien dan perawat
3)        Menghindari komunikasi tidak efektif
4)        Mengurangi kecemasan yang mungkin timbul akibat kehilangan suara

Diagnosa Keperawatan :
Resiko tinggi infeksi b.d pemasangan selang endotrakeal
Tujuan : Klien tidak mengalami infeksi nosokomial
Kriteria : tidak terdapat tanda-tanda infeksi nosokomial
Rencana Tindakan
Rasional
Evaluasi warna, jumlah, konsistensi dan bau sputum tiap kali penghisapan


-            Tampung spesimen untuk kultur dan sensitivitas sesuai indikasi
-            Pertahankan teknis steril selama penghisapan lendir
-            Ganti selang ventilator tiap 24 – 72 jam
-            Lakukan oral higiene
-            Palpasi sinus dan lihat membrana mukosa selama demam yang tidak diketahui sebabnya
-            Monitor tanda vital terhadap tanda infeksi

1)        Infeksi traktus respiratorius dapat mengakibatkan sputum bertambah banyak, bau lebih menyengat, warna berubah lebih gelap
2)        Memastikan adanya kuman dalam sputum/jalan nafas
3)        Mengurangi resiko infeksi nosokomial

4)        Mengurangai resiko infeksi nosokomial

5)        Mengurangi resiko infeksi nosokomial
6)        Perubahan membrana mukosa dan adanya sinusitis mungkin menjadi indikasi adanya infeksi pernafasan
7)        Infeksi dapat dilihat dari tanda umum/khusus organ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar