Info Kesehatan

healhty

Rabu, 11 April 2012

makalah plasenta previa


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian
Plasenta (bahasa Jawa: ari-ari) adalah jaringan yang terbentuk di dalam rahim selama kehamilan. Plasenta berfungsi membawa makanan dan oksigen dari ibu ke janin dan membuang produk limbah dan karbon dioksida dari janin ke ibu melalui tali pusat.
Plasenta biasanya terbentuk di sepanjang bagian atas rahim. Pada plasenta previa, plasenta melekat di dekat atau menutupi serviks (pembukaan rahim yang mengarah ke vagina). Hal ini dapat mengganggu proses kelahiran bayi karena plasenta menutupi jalan lahir.
Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum).
Plaseta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. (Mochtar,1998:269)

2.2  Klasifikasi
Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yaitu :
http://www.bidankita.com/images/stories/previa.jpg





1.    Plasenta previa totalis 
bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta          
2.    Plasenta previa lateralis
bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh  plasenta.
3.    Plasenta previa marginalis
bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir.
4.    Plasenta previa letak rendah
bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan   jalan lahir.

2.3  Etiologi
Menurut Prof. Dr. Rustam Moctar MPH., 1998. Jakarta, beberapa faktor yang
berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa, yaitu:
1.                Paritas
Makin banyak paritas ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa
2.                Usia ibu pada saat hamil
Pada primigravida, umur diatas 35 tahun lebih seding dari pada umur di bawah 25 tahun
3.                Hipoplasia endometrium
Bila kawin dan hamil pada umur muda
4.                Endometrium cacat
Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase, dan mual plasenta
5.                Korpus luteum bereaksi lambat
Dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepasi
6.                Tumor-tumor
Seperti mioma uter, polip endometrium







2.4 Diagnosis
Menurut Prof. Dr. Rudstam Mochtar MPH. 1998 Jakarta.
Diagnosis ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan beberapa pemeriksaan:
1.      Anamnesis
a.       Gejala pertama yang membawa si sakit ke dokter atau rumah sakit ialah perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjutan (trimester III)
b.      Sifat perdarahannya tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless), dan perulang (recurrent), kadang-kadang perdarahan terjadi sewaktu bangun tidur, pagi hari tanpa disadari tempat tidur sudah di penuhi dengan dara. Perdarahan cenderung berulang dengan volume yang lebih banyak dari yang sebelumnya. Sebab dari perdarahan ialah karena ada plasenta dan pembuluh darah yang robek yang disebabkan oleh:
1.      Terbentuknya segmen bawah rahim
2.      Terbentuknya ostium atau oleh malipulasi intravaginal atau raktal
2.      Inspeksi
a.       Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam : banyak, sedikit darah beku dan sebagainya
b.      Kalau telah berdarah banyak maka ibu kelihatan pucat / anemis.
3.      Palpasi abdomen
a.       Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah
b.      Sering di jumpai kesalahan letak
c.       Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala, biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating) atau menggolak di atas pintu atas pinggul
d.      Bila cukup pengalaman (ahli), dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim, terutama pada ibu yang kurus.
4.      Pemeriksaan inspekula
Dengan memakai spekulum secara hati-hati dilihat dari mana asal perdarahan, apakah dari dalam uterus, atau dari kelainan serviks, vagina, varises pecah dan lain-lain.




5.      Pemeriksaan radio-isotop
a.       Plasentografi jaringan lunak
Yaitu membuat foto dengan sinar roentgen lemah untuk mencoba melokalisir plasenta.
b.      Sitrografi
Kosongkan kandung kemih, lalu dimasukkan 40cc larutan NaCl 12,5 , kepala janin di tekan kearah pintu atas panggul lalu dibuat foto. Bila jarak kepala dan kandung kemih berselisih lebih dari 1 cm, maka terdapat kemungkinan plasenta previa
c.       Plasentografi indirik
Yaitu membuat foto seri lateral dan anteroposterior, dengan cara menghitung antara jarak kepala-simfisis dan kepala promotorium
d.      Arteriografi
Dengan memasukkan zat kontras kedalam arteri femoralis, karena plasenta sangat akan pembuluh darah maka ia akan banyak menyerap zat kontras.
e.       Aminografi
Dengan memasukkan zat kontras kedalam rongga amnion, lalu di buat foto dan dilihat dimana terdapat daerah kosong di luar janin dalam rongga rahim
f.       Radio isotop plasentografi
Dengan menyuntikan zat radio aktif RISA (Radio Iodinateol Serum Albumin) decara intra vena, lalu diikuti dengan detektor GMC
g.      Ultrasonografi
Cara ini sangat terapi dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin

2.4  Patofisiologi
Perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus yang menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada pada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan dimulai.



Skema patofisiologi
Rounded Rectangle: Implantasi plate pada bagian bawah (kauda) uterus
 

Implantasi plate pada bagian bawah (kauda) uterus
 












2.5  Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang nampak pada plasenta previa, antara lain :
1.    Pendarahan tanpa sakit (painless bleeding).
2.    Warna darah merah terang.
3.    volume sedikit atau banyak, keluar terus menerus, atau berhenti-keluar.
4.    Bagian terbawah janin tidak kunjung masuk rongga panggul.
5.    Posisi janin melintang atau sungsang.
6.    Kadang-kadang ukuran janin lebih kecil dari usia kehamilan disebabkan sirkulasi darah.

2.6  Komplikasi
Menurut Roeshadi (2004), kemugkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya plasenta previa adalah sebagai berikut :
1.                Komplikasi pada ibu :
a.    Syok akibat perdarahan
b.    Anemia akibat perdarahan
2.                Komplikasi pada janin :
a.    Persalinan premature
b.    Asfiksia berat
2.7  Dampak Plasenta Previa dalam kehamilan
a.      Karena terhalang oleh placenta maka bagian terbawah janin tidak dapat masuk PAP.Kesalahan- kesalahan letak; letak sunsang, letak lintang, letak kepala mengapung.
b.      Sering  terjadi  partus  prematur;  rangsangan  koagulum  darah  pada  servix,  jika banyak  placenta yang lepas kadar progesterone menurun dan dapat terjadi His,pemeriksaan dalam.

Dampak Placenta Previa terhadap partus
a.       Letak janin yan tidak normal; partus akan menjadi patologis
b.      Bila pada placenta previa lateralis; ketuban pecah/dipecahkan dapat  terjadi prolaps  funkuli
c.       Sering dijumpai insersi primer
d.      Perdarahan


2.8 Penatalaksanaan
Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar MPH, 1998, Jakarta)
a.       Untuk menghindari perdarahan yang banyak, maka pada plasenta previa sentralis dengan janin hidup atau meninggal, tindakan yang paling baik adalah seksio sesarea.
b.      Persalinan perabdominal dengan seksio sesarea.
Indikasi seksio sesarea pada plasenta previa :
1.    Semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau meninggal, semua plasenta previa lateralis, posterior, karena perdarahan yang sulit dikontrol dengan cara-cara yang ada.
2.    Semua plasenta previa lateralis posterior, karena perdarahan yang sulit dikontrol dengan cara-cara yang ada.
3.    Semua plasenta previa dengan tindakan tindakan-tindakan yang ada.
4.    Plasenta previa dengan panggul sempit, letak lintang perdarahan pada bekas insersi plasenta kadang-kadang berlebihan dan tindakan dapat diatas dengan cara-cara yang ada.





























2.8  Skema penatalaksanaan Plasenta Previa




 














                                                                          

 



                                                                                                                                         
 





























ASUHAN KEBIDANAN ANTE NATAL CARE
Ny. “D” DENGAN KEHAMILAN PATOLOGIS
PLASENTA PREVIA
DI BPS NY. KARMILA

DATA SUBJEKTIF
Pada tanggal 10 Oktober 2010, Pukul 14.00, Ny. D datang ke BPS Bidan Karmila untuk memeriksakan kehamilannya. Usia Ny. D adalah 25 tahun. Ibu mengatakan hari pertama haid terakhir tanggal 1 Februari 2010, ibu mengatakan ini merupakan hamil pertama.
Ibu mengatakan sejak jam 05.00 mengeluarkan darah  berwarna merah segar namun sedikit dan ibu tidak merasakan nyeri. Akan tetapi jika ibu melakukan aktifitas darah tersebut semakin keluar banyak, Oleh karena itu ibu mengurangi aktifitasnya. Karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan bayinya, maka ibu memeriksakan dirinya ke RS.

DATA OBYEKTIF
Jam 14.20 bidan memeriksa Ny. D dengan hasil pemeriksaan : TD 110/80 mmHg, nadi 80x/menit, RR 20x/menit,suhu 36,7 oC, keadaan ibu lemas, ibu terlihat pucat,conjungtiva pucat, sklera putih.
Abdomen  : bentuk simetris, membesar sesuai dengan usia kehamilan, tidak ada cacat, tidak ada bekas operasi, tidak ada nyeri tekan pada saat dipalpasi.

Leopold I     :    TFU pertengahan antara pusat dengan proxesus xympoideus, pada fundus teraba keras, melenting yang berarti kepala
Leopold II    :    Teraba panjang dan keras seperti papan disebelah kiri yang berarti punggung kiri (PUKI), perut sebelah kanan teraba bagian-bagian janin yang kecil berarti extremitas.
Leopold III  : Bundar, melenting, bagian terbawah janin belum turun, kepala masih bisa digoyangkan
Leopold IV  :    Tidak dikaji
DJJ                : 135x/mnt
Dan pada Genetalia terdapat pengeluaran darah segar, warna merah, tidak ada hemoroid, tidak ada varises dan oedema, tidak dilakukan pemeriksaan dalam  dikarenakan tampak sisa perdarahan dari kemaluan.
 Pemeriksaan Laboratorium Darah: Hb = 9 gr% , Protein urine : (-). Dilakukan USG pada tanggal 10 Oktober 2010 jam 15.00, pada USG terlihat ada bagian yang menutupi jalan lahir yaitu plasenta, Uterus: janin tunggal, intra uterin,letkep, 39 minggu 1 hari, Placenta: SBr  – OUI , Ketuban : cukup.
HPL : 01-11-2010

ASSESMENT
Diagnosa  : Ny. “D” G1P00000, UK 39 minggu, hidup, tunggal, letak kepala u, intra uteri, kesan jalan lahir tidak normal, dengan placenta previa.
Dx Masalah Potensial :   Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan adanya perdarahan
Gangguan Aktivitas sehubungan dengan adanya perdarahan

Tindakan kebutuhan segera:
-  Tirah baring dengan menghadap ke kiri
-  Pemberian infus
-  Hindari tekanan rongga perut (misal batuk, mengedan karena sulit buang air besar).
-  Observasi DJJ
-  Cek HB
-  Kolaborasi dengan dokter segera mungkin jika terjadi komplikasi yang lebih hebat

PENATALAKSANAAN
  1. Perbaiki keadaan umum ibu dengan memasang infus RL dan siapkan transfusi darah
  2. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur setiap 15 menit
  3. Bila terjadi syok maka posisi ibu miring kiri,pasang O2 pasang infuse RL, ,pantau DJJ,cek HB
  4. Bila tidak syok maka pasang infuse RL,pantau DJJ
  5. Segera rujuk pasien ke Rumah Sakit
  6. Bila belum aterm lakukan :
·         Konservatif
·         Rawat
·         Kortikosteroid untuk pematangan paru-paru janin
·         Bila perdarahan ulang banyak dilakukan PDMO
·       Bila plasenta previa lateralis dan marginalis maka lakukan :
·   Amniotomi
·   Berikan oksitosin tiap setengah jam per drip
·   Bila belum berhasil lakukan SC
·      Bila plasenta previa sentralis(totalis) lakukan SC
·      Bila plasenta letak rendah maka lakukan
·   Amniotomi
·   Partus pervaginam

      











BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Plasenta adalah jaringan yang terbentuk di dalam rahim selama kehamilan. Plasenta berfungsi membawa makanan dan oksigen dari ibu ke janin dan membuang produk limbah dan karbon dioksida dari janin ke ibu melalui tali pusat.

Faktor-faktor penyebab yaitu:
·         Paritas : Makin banyak paritas ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa
·         Usia ibu pada saat hamil : Pada primigravida, umur diatas 35 tahun lebih seding dari pada umur di bawah 25 tahun
·         Hipoplasia endometrium : Bila kawin dan hamil pada umur muda
·         Endometrium cacat : Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase, dan mual plasenta
·         Korpus luteum bereaksi lambat : Dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepasi
·         Tumor-tumor : Seperti mioma uteri, polip endometrium

Tanda dan gejalanya yaitu :
·         Pendarahan tanpa sakit (painless bleeding). Warna darah merah terang.
·         Volume sedikit atau banyak, keluar terus menerus, atau berhenti-keluar.
·         Bagian terbawah janin tidak kunjung masuk rongga panggul.
·         Posisi janin melintang atau sungsang.
·         Kadang-kadang ukuran janin lebih kecil dari usia kehamilan disebabkan sirkulasi darah.










3.2 Saran
*      Bagi tenaga kesehatan
Dengan adanya kemungkinan komplikasi pada plasenta, diharapkan bagi tenaga kesehatan khususnya bidan segera melakukan tindakan komprehensif pada klien dengan placenta previa. Penatalaksanaan yang cepat dan tepat akan menurunkan AKI dan AKB.
*                  Bagi klien
Untuk segera ke sarana kesehatan terdekat apabila ditemukan salah satu tanda-tanda placenta previa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar