Info Kesehatan

healhty

Kamis, 12 April 2012

makalah giekologi hiperplasa endometrium


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Wanita memiliki organ eksterna dan interna serta dilengkapi dengan hormon-hormon reproduksi. Perkembangan zaman yang semakin pesat, menjadikan wanita rentan sekali terhadap berbagai penyakit terutama yang berhubungan  dengan organ reproduksi contohnya seperti Hyperplasia Endometrium.
Sebanyak 40.000 kasus terdiagnosis di Amerika pada tahun 2005. Risiko terjadinya kelainan ini meningkat pada wanita dengan obesitas, diabetes, dan penggunaan terapi pengganti hormon.Studi yang dilakukan oleh Kurman menyatakan hiperplasia sederhana berhubungan dengan 1% progresi menjadi kanker, 3% progresi menjadi hiperplasia kompleks, 8% progresi menjadi hiperplasia sederhana atipik. Sementara hiperplasia komleks atipik, 29% akan progresi menjadi kanker.2,4 %.
Semakin meningkatnya penderita Hyperplasia Endometrium, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang Hyperplasia Endometrium.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang ada, maka berikut rumusan masalah yang dapat dipaparkan
1.      Pakah pengertian dari Hiperplasia Endometrium itu ?
2.      Apa penyebab dari hyperplasia endometrium ?
3.      Bagaimanakah terapi dari hyperplasia endometrium ?

1.3  Tujuan
Dari rumusan masalah yang ada, maka berikut tujuan yang ingin dicapai
1.      Untuk mengetahui pengertian dari hyperplasia endometrium.
2.      Untuk mengetahui penyebab dari hyperplasia endometrium.
3.      Untuk mengetahui terapihiperplasia endometrium.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Hiperplasia Endometrium adalah suatu kondisi di mana terjadi penebalan/pertumbuhan berlebihan dari lapisan dinding dalam rahim (endometrium), yang biasanya mengelupas pada saat menstruasi. Kondisi ini merupakan proses yang jinak (benign), tetapi pada beberapa kasus (hyperplasia tipe atipik) dapat menjadi kanker rahim

2.2 Anatomi
Endometrium merupakan bagian dari uterus, terletak antara kandung kemih dan rectum. Terdiri dari 3 lapisan, susunan dari luar ke dalam:

1.      Tunika serosa (perimetrium) terdiri dari epitel skuamus simpleks.

2.      Tunika muskularis ( myometrium) terdiri dari  berkas otot polos yang serabutnya berjalan longitudinal atau oblik pada bagian dalam dan luar, Sedangkan bagian tengah sirkuler

3.      Tunika mukosa (endometrium) terdiri dari epitel kolumnar simpleks dengan sel bersilia dan sel sekretorik, Lamina propria, stroma yang langsung berhubungan dengan myometrium

Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan, agar hasil konsepsi bisa tertanam. Jika tidak terjadi kehamilan, maka lapisan ini akan keluar saat menstruasi.












Description: D:\endometrium.jpg







2.3 Angka Kejadian
Sebanyak 40.000 kasus terdiagnosis di Amerika pada tahun 2005. Risiko terjadinya kelainan ini meningkat pada wanita dengan obesitas, diabetes, dan penggunaan terapi pengganti hormon.Studi yang dilakukan oleh Kurman menyatakan hiperplasia sederhana berhubungan dengan 1% progresi menjadi kanker, 3% progresi menjadi hiperplasia kompleks, 8% progresi menjadi hiperplasia sederhana atipik. Sementara hiperplasia komleks atipik, 29% akan progresi menjadi kanker.2,4 %.




2.4 Etiologi
Hormon yang ada di tubuh wanita: estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium dimana estrogen merangsang pertumbuhannya dan progesterone mempertahankannya. Sekitar pertengahan siklus haid, terjadi ovulasi (lepasnya sel telur dari indung telur). Jika sel telur ini tidak dibuahi (oleh sperma), maka kadar hormon (progesteron) akan menurun sehingga timbullah haid/ menstruasi.
Hiperplasia endometrium disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, yang dihasilkan oleh ovarium. Perubahan level kedua hormon ini tiap bulannya yang mengatur siklus menstruasi. Tetapi, bila efek estrogen berlebihan atau tubuh memproduksi estrogen lebih banyak dari progesteron, maka sel-sel endometrium akan terstimulasi untuk bertumbuh dengan sangat cepat.
Hiperplasia endometrium lebih sering terjadi pada gadis remaja yang baru mendapat menstruasi pertama, dan juga pada wanita yang mendekati masa menopause (Montgomery,2004: Tate,2003). Bagaimanapun, hiperplasia endometrium dapat terjadi pada wanita yang dalam masa reproduksi, yakni bila sering tidak terjadi ovulasi. Pada saat ovulasi, telur dilepaskan dari ovarium. Tetapi bila tidak terjadi ovulasi, maka ovarium tidak melepas progesteron, sehingga estrogen akan tetap tinggi.
Wanita yang beresiko tinggi terjadi hiperplasia endometrium :
• Tidak menstruasi
• Obesitas
• Sindrom polikistik ovarium
• Perimenopause (mendekati menopause) dan siklus menstruasi tidak teratur
• Terapi sulih hormon yang mengandung estrogen tetapi tanpa progesteron untuk mengurangi efek dari  gejala menopause(estrogen berlebihan dapat meningkatkan resiko kanker endometrium)
• Penggunaan tamoxifen untuk mencegah / mengobati kanker payudara
• Ada tumor ovarium yang mensekresi estrogen (jarang)


2.5 Hispatologi
Penebalan dinding Rahim tidak dapat dilihat secara fisik, ada gejala bahwa seseorang yang mengalami Hiperplasia endometrium merasakan nyeri perut bagian bawah, spotting atau perdarahan antara periode menstruasi, keputihan yang berlebihan, atau menstruasi berat/ berkepanjangan. Gejala ini tidak boleh diabaikan.
Gambaran histopatologi yang dapat dilihat dari hiperplasia endometrium adalah terjadinya peningkatan rasio kelenjar terhadap stroma, tepi kelenjar menjadi tidak teratur dengan ukuran kelenjar yang bervariasi. Aktivitas mitosis kelenjar tampak jelas dengan derajat yang berbeda. Sering tejadi peningkatan vaskularisasi stroma di dalam epitel

2.6 Klasifikasi
Menurut World Health Organization (WHO) dan the International Society of Gynecologic Pathologists terdapat 4 jenis hiperplasia yakni, simpel non atipik, kompleks non atpik , simpel atipik, dan kompleks atipik. Klasifikasi ini berdasarkan ada dan tidaknya gambaran sel atipik dan selanjutnya berdasarkan kompleksitas kelenjarnya yaitu menjadi simpleks dan kompleks.
Tabel 1. Klasifikasi Hiperplasia Endometrium (WHO) 1994
Hiperplasia non atipik :           - Simpleks
- Kompleks
Hiperplasia atipik :                  - Simpleks
- Kompleks

2.6.1 Hiperplasia Simpleks Non Atipik

Sebelumnya disebut sebagai hiperplasia kistika atau ringan dengan gambaran yang tampak adalah banyak kelenjar yang mengalami proliferasi dan dilatasi dengan tepi yang tidak teratur dan terdapat penonjolan dan perlekukan kelenjar yang menonjol serta sering ada gambaran kistik, dan dipisahkan oleh stroma yang masih banyak (Gambar a). Dapat terlihat metaplasia skuamosa walau hal ini jarang terjadi. Sitologi, epitel kelenjar menyerupai gambaran
endometrium fase proliferasi, berupa sel kolumner dengan sitoplasma amfofilik dan pseudostratifikasi nukleus sampai ke membrana basalis (Gambar b). Nukleus bentuk oval dengan kontur halus, sering dengan kromatin yang menyebar dan nukleoli kecil yang tidak terlihat. Stroma yang banyak menyerupai dengan yang terlihat pada fase proliferasi dari siklus haid normal, terdiri atas sel yang kecil, oval dengan sitoplasma sedikit atau tampak terlihat aktifitas mitosis seperti pada kelenjar. Gambaran khas pada hyperplasia simpleks ini adalah venula yang berdilatasi pada stroma.

 






                        ( a )                                                                                          ( b )
Gambar . (a.) Hiperplasia non-atipik simpleks. Kelenjar dipisahkan oleh stroma yang masih banyak. Kelenjar dengan ukuran yang ireguler dan kadang-kadang tampak bentuk dilatasi serta kelenjar kistik. (b) Dengan pembesaran tinggi, garis epitel menyerupai endometrium fase proliferasi. Nukleus pseudostratifikasi, tampak juga pada membrana basalis. Bentuk inti sama dan oval.

2.6.2 Hiperplasia kompleks Non Atipik
Hiperplasia kompleks sebelumnya dikenal sebagai hiperplasia moderat atau adenomatosa, dengan tampak suatu gambaran susunan kelenjar yang padat. Pada kelenjar terdapat gambaran irreguler, dengan ukuran bervariasi, sebagian berdilatasi bercabang dengan lekukan dan tonjolan. Lebih banyak adanya penonjolan dan perlekukan kelenjar dan kadang-kadang kelenjar saling berdekatan dan menempel karena padatnya (back-to-back position), dengan hanya sedikit stroma yang masih terlihat. Rasio kelenjar dan stroma lebih dari 2:1. Derajat kepadatan kelenjar inilah yang membedakan hiperplasia simpleks dan kompleks. Gambaran kelenjar kistik kadang juga ditemukan.



 





                                                                
            Gambar  . Hiperplasia kompleks non-atipik. Kelenjar saling bertumpukan dan ukuran serta
bentuknya ireguler.
Sering terjadi adanya bentuk campuran antara hiperplasia simpleks dan kompleks. Gambaran intinya terdapat pseudostratifikasi, Cigar shaped sampai berbentuk oval dengan bentuk yang halus, distribusi kromatin yang seragam, nukleolus kecil dan aktifitas mitosis yang jumlahnya bervariasi, sedangkan sitoplasmanya sering amfofilik.
 







Gambar . Hiperplasia kompleks non-atipik dengan pembesaran tinggi. Nukleus sel kelenjar
dengan bentuk yang halus. Kelenjar berdekatan tetapi masih dipisahkan oleh stroma.

2.6.3 Hiperplasia Simpleks Atipik

Hiperplasia atipik simpleks memperlihatkan gambaran kelenjar yang kurang padat dibandingkan dengan jenis kompleks, sehingga risiko untuk berkembangnya menjadi adenokarsinoma endometrium lebih tinggi.


2.6.4 Hiperplasia Kompleks Atipik
Secara umum hiperplasia atipik berbentuk kompleks dengan kelenjar yang padat sekali.
Bentuk dan ukuran kelenjar sangat tidak beraturan berbentuk papiler atau bertumpuk, dengan sedikit inti fibrovaskuler dalam lumen. Walaupun kompleks dan sangat padat, kelenjar pada hiperplasia endometrium atipik dikelilingi oleh stroma dengan adanya gambaran kelenjar yang saling menempel, tiap kelenjar mempunyai membrana basalis dengan tepi tipis.

 







            Gambar . Hiperplasia kompleks atipik. Kelenjar berdekatan dan sangat ireguler tetapi
masih dipisahkan oleh stroma.

2.7 Diagnosa
Pada penderita perdarahan uterus abnormal yang disertai dengan faktor resiko harus dilakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan hiperplasia endometrium :
  1. Pemeriksaan Ultrasonografi
Pada wanita pasca menopause ketebalan endometrium pada pemeriksaan ultrasonografi transvaginal kira kira < 4 mm. Untuk dapat melihat keadaan dinding cavum uteri secara lebih baik maka dapat dilakukan pemeriksaan hysterosonografi dengan memasukkan cairan kedalam uterus

  1. Biopsy
Diagnosis hiperplasia endometrium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan biopsi yang dapat dikerjakan secara poliklinis dengan menggunakan mikrokuret. Metode ini juga dapat menegakkan diagnosa keganasan uterus.
  1. Dilatasi dan Kuretase
Dilakukan dilatasi dan kuretase untuk terapi dan diagnosa perdarahan uterus.
  1. Histeroskopi
Histeroskopi adalah tindakan dengan memasukkan peralatan teleskop kecil kedalam uterus untuk melihat keadaan dalam uterus dengan peralatan ini selain melakukan inspeksi juga dapat dilakukan tindakan pengambilan sediaan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi.

2.8 Penatalaksanaan
Pasien dengan hiperplasia dapat diterapi dengan terapi progestin atau histerektomi, tergantung dari usia dan adanya keinginan untuk memiliki anak. Wanita-wanita muda dengan hiperplasia sederhana seringkali berhasil diterapi dengan pil kontrasepsi oral, progesterone periodik withdrawal atau progestin dosis tinggi. Histerektomi dianjurkan pada pasien dengan hiperplasia atipikal kompleks. Pasien-pasien yang masih memiliki keinginan untuk memiliki anak atau mereka yang memiliki masalah kesehatan lain yang menyulitkan operasi dapat diterapi dengan progestin dosis tinggi sambil diawasi dengan ketat melalui biopsi endometrial yang diulang setiap 3-6 bulan
Terapi progestin sangat efektif dalam mengobati hiperplasia endometrial tanpa atipi, akan tetapi kurang efektif untuk hiperplasia dengan atipi. Terapi cyclical progestin (medroxyprogesterone asetat 10-20 mg/hari untuk 14 hari setiap bulan) atau terapi continuous progestin (megestrol asetat 20-40 mg/hari) merupakan terapi yang efektif untuk pasien dengan hiperplasia endometrial tanpa atipi. Terapi continuous progestin dengan megestrol asetat (40 mg/hari) kemungkinan merupakan terapi yang paling dapat diandalkan untuk pasien dengan hiperplasia atipikal atau kompleks. Terapi dilanjutkan selama 2-3 bulan dan dilakukan biopsi endometrial 3-4 minggu setelah terapi selesai untuk mengevaluasi respon pengobatan.
Biopsi endometrial berkala atau USG transvaginal dianjurkan untuk dilakukan pada pasien dengan hiperplasia atipikal setelah terapi progestin, karena kemungkinan adanya kanker yang tidak terdiagnosa pada 25% dari kasus, 29% kemungkinan progresi ke arah kanker dan angka kekambuhan yang tinggi setelah diterapi dengan progestin.
Pada pasien peri- dan postmenopause dengan hiperplasia atipikal yang mengalami kekambuhan setelah terapi progestin atau yang tidak dapat mentoleransi efek samping maka dianjurkan untuk histerektomi vaginal atau abdominal.
2.9 Prognosa
Beberapa macam terapi yang dapat dilakukan pada hiperplasia endometrium :
• Dilatasi dan kuret
Ini termasuk prosedur operasi kecil dimana dilakukan kerokan pada endometrium. Bagi wanita yang premenopause dan yang mengalami hiperplasia non atipikal, tindakan ini dapat memulihkan endometrium, dan masih ada kemungkinan untuk hamil lagi.
Terapi hormon
Biasanya akan digunakan progestin, untuk mengimbangi efek estrogen terhadap dinding uterus. Tujuan utama terapi hormon adalah untuk mengembalikan keseimbangan hormonal tubuh agar endometrium dapat bertumbuh secara normal.
• Histerektomi
Ini merupakan prosedur operasi dimana dilakukan pengangkatan uterus secara keseluruhan. Bila terjadi perubahan prekanker pada endometrium, maka histerektomi dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium. Setelah histerektomi, tidak ada lagi kemungkinan untuk hamil.
Beberapa pilihan terapi tergantung pada keadaan tiap orang, seperti yang dikemukakan dibawah :
• Bagi usia reproduktif dan hiperplasia non atipikal ( simpleks ataupun kompleks), maka penanganannya bisa : (Feldman, 1999:Stencheve, 2001; tate,2003)
*      Follow up jangka panjang tanpa terapi. Dalam beberapa kasus, hiperplasia non atipikal akan hilang dengan sendirinya.
*       Dilatasi dan kuret untuk menghilangkan jaringan endometrium yang ada dan memberi kemungkinan untuk pertumbuhan endometrium yang baru. Dokter akan melakukan cek up secara tertatur untuk memastikan bahwa tidak ada kekambuhan.
*      erapi hormon dan cek up yang teratur ( termasuk biopsi endometrium)
• Bagi usia reoproduktif dan hiperplasia atipikal, dimana masih ingin mempertahankan uterus atau masih ingin hamil, dapat diberikan terapi hormon selama tiga bulan (singkirkan kemungkinan kanker endometrium). Bila masih tetap hiperplasia, dapat dilakukan lagi terapi hormon yang kedua, selama 3 bulan. Tetapi, bila tetap saja masih hiperplasia, maka sebaiknya dilakukan histerektomi.
• Bagi usia reproduktif dan hiperplasia atipikal, dimana sudah tidak ingin hamil lagi, histerektomi merupakan pilihan yang tepat.
• Bagi usia postmenopause dan hiperplasia non atipikal, dapat diterapi dengan terapi hormon selama tiga bulan. Bila setelah terapi tidak ada perbaikan, dianjurkan histerektomi.
• Histerektomi dianjurkan bagi wanita postmenopause dan hiperplasia atipikal sedang sampai berat, untuk menghindari resiko kanker endometrium yang makin meningkat sejalan dengan usia. Bila histerektomi tidak dapat dilakukan sehubungan dengan adanya masalah kesehatan atau resiko operasi yang besar, maka diberikan terapi hormon selama tiga bulan. Bila hiperplasia berkurang atau menghilang, maka terapi hormon dianjurkan untuk selamanya. Dokter juga akan melakukan biopsi endometrium secara teratur untuk mendeteksi adanya pertumbuhan prekanker atau kanker. Bila hiperplasia tetap ada, atau tidak dapat menahan efek samping obat, maka tetap dianjurkan histerektomi.
2.10 Pencegahan Hiperplasia Endometrium
  • Penggunaan etsrogen pada masa pasca menopause harus disertai dengan pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium.
  • Bila menstruasi tidak terjadi setiap bulan maka harus diberikan terapi progesteron untuk mencegah pertumbuhan endometrium berlebihan. Tderapi terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral kombinasi.
  • Rubah gaya hidup untuk menurunkan berat badan.














BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dari pembahasan yang ada, maka dapat diambil kesimpulan yaitu,
o   Hiperplasia Endometrium adalah suatu kondisi di mana terjadi penebalan/pertumbuhan berlebihan dari lapisan dinding dalam rahim (endometrium).
o   Hiperplasia endometrium disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, yang dihasilkan oleh ovarium.
o   Terapi yang dapat dilakukan pada hiperplasia endometrium yaitu dilatasi dan kuret,terapi hormon dan histerektomi
3.2 Saran
            Sebagai petugas kesehatan hendaknya kita memperhatikan derajat kesehatan masyarakat khususnya perempuan karena perempuan sangatlah rentan terhadap berbagai penyakit.








DAFTAR PUSTAKA
Bagus Ida.1998. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri, Ginekologi, dan Kb.Jakarta:EGC





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar