Info Kesehatan

healhty

Senin, 16 April 2012

GASTRO ENTRITIS AKUT (GEA)


GASTRO ENTRITIS AKUT
(GEA)

A.    KONSEP DASAR

Diare adalah buang air besat dengan jumlah feces yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml/jam feces). Dengan feces berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi BAB yang meningkat.
Diare adalah BAB encer atau cair lebih dari tiga kali sehari (WHO/1980).
Diare menurut sifatnya : 2
1.   Diare Akut.
2.   Diare Kronis
I.          PENGERTIAN
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.

II.       ETIOLOGI
Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Penyebab lain adalah faksin dan obat, nutrisi enteral diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kodisi lain.
Penyebab terbanyak adalah E. Coli (38,29%), V. Cholerae (18,29%), Aeromonas sp (14,29%).

III.    PATOGENESIS
Diare akibat infeksi terutama ditularkan secara fekal. Hal ini disebabkan masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi feces ditambah dengan ekskresi yang buruk. Makanan yang tidak matang bahkan yang disajikan tanpa dimasak. Penularannya adalah transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi (Norwalk, Rotavirus), tangan yang terkontaminasi (clostridium difficile), atau melalui aktivitas seksual. Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agent) dan faktor pejamu (host). Faktor pejamu adalah kemampuan pertahana tubuh terhadap mikroorganisme, yaitu faktor daya tahan tubuh atau lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman lambung, motelitas lambung, imunitas, juga mencakup lingkungan mikro flora usus. Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain daya penetrasi yang merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus. Serta daya lekat kuman. Kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat menginduksi diare.
Patogenesis diare yang disebabkan infeksi bakteri terbagi dua yaitu :
1.      Bakteri non invasif (Interotoksigenik).
Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada mukosa usus halus, namun tidak merusak mukosa. Toksin meningkatkan kadar siklit AMP di dalam sel menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam luman usus yang diikuti air ion karbonat, kation natrium dan kalium. Bakteri yang termasuk golongan ini adalah V. Choleral, Enterotoksigenik, E. Coli (ETEC), C. Perfringers, S. aureus, dan vibro nonaglutinabel. Secara klinis dapat ditemukan diare berupa air seperti cucian beras dan meninggalkan dubur secara deras dan banyak (Voluminous), keadaan ini disebut diare sekretorik (Isotonik Voluminal).

2.      Bakteri Enteroinvasif.
Bakteri menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi, dan bersifat sektotorik eksudatif. Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah. Bakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah Enteroinvasiue, E. Coli (EIEC), S. Parotyphi B, S. typhi murium, S. Enteriditis, S. Cholerasuis, Shigela dan C. Perfringens tipe C. penyebab diare lainnya seperti parasit, memyebabkan kerusakan berupa ulkus besar (E. histolytica), kerusakan vili yang penting untuk penyerapan air, elektrolit dan zat makanan (G. Lambdia), patofisiologi kandida menyebabkan diare belum jelas, mungkin karena superinfeksi dan jasad renik lain dan keadaan seperti diabetes mellitus.
Mekanisme yang dilakukan virus masih belum jelas. Kemungkinan dengan merusak sel epitel mukosa walaupun hanya seperfisial, sehingga mengganggu absorbsi air dan elektrolit, sebaliknya sel-sel kripti akan berpoliterasi dan menyebabkan bertambahnya sekresi cairan ke dalam lumen usus. Selain itu, terjadi pula kerusakan enzim-enzim disakrida yang menyebabkan intoleransi laktosa, yang akhirnya memperlama diare. Berbeda dengan kolera, Rotavirus tidak meningkat aktivitas adenilsildase.

IV.    MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan diare akut akibat infeksi sering mengalami naurea muntah, nyeri perut sampai kejang perut, deman dan diare. Terjadinya renjatan hipovolemik harus dihindari. Kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak. Gangguan Biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasab kusmaul). Bila terjadi renjatan hipovolemik barat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120x / menit), tekanan darah menurun sampai tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung-ujung ekstrimitas dingin, kadang sianosis. Kekurangan kalium menyebabkan aritmia jantung perfusi ginjal menurun sehingga timbul arurig, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penyakit berupa nekrosis tubulas akut. Secara klinis diare karena infeksi akut terbagi menjadi 2 golongan :
1. Koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja.
2. Disentriform, pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.
·      Akibat diare
-       Dehidrasi.
-       Asidosis metabolik.
-       Gangguan gizi akibat muntah dan berak-berak.
-       Hipoglikemi.
-       Gangguan sirkulasi darah akibat yang banyak keluar sehingga terjadi syock.
·      Derajat dehidrasi
1.   Tidak ada dehidrasi bila terjadi penurunan BB 2,5 %.
2.   Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan BB 2,5 – 5 %.
3.   Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan BB 5 – 10 %.
4.   Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan BB 10 %.

V.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Pemeriksaan darah tepi lengkap.
2.      Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatin dan berat jenis.
3.      Pemeriksaan urin lengkap.
4.      Pemeriksaan feces lengkap dan biakan feces dari colok dubur.
5.      Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan dicurigai infeksi sistemik.
6.      Pemeriksaan sedian darah malaria serta serologi helicobacter jeyuni sangat dianjurkan.

VI.    PENATALAKSANAN
Pada orang dewasa, penatalaksanaan diare akut akibat infeksi terdiri:
1.      Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.
4 hal penting yang perlu diperhatikan
a.       Jenis cairan.
Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan ringes laktat bila tidak tersedia dapat diberikan cairan NaCl isotonik ditambah satu ampul Na bicarbonat 7,5 % 50 m.


b.      Jumlah cairan.
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan. Kehilangan cairan tubuh dapat dihitung dengan beberapa cara.
·      Metode Pierce
:
Berdasarkan keadaan klinis (derajat dehidrasi)
·      Metode Daldiyono
:
Berdasarkan keadaan klinis yang diberi penilaian atau skor.
Kebutuhan cairan
:
x 10 % x kg BB x 1 liter.
c.       Jalan masuk atau cara pemberian cairan.
Rute pemberian cairan pada orang dewasa dapat dipilih oral / IV.
d.      Jadwal pemberian cairan.
Dehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan berdasarkan metode Daldiyono diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya kebutuhan cairan Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke tiga.
2.      Identifikasi penyebab diare akut karna infeksi.
Secara klinis, tentukan jenis diare koleriform atau disentriform. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah.
3.      Terapi simtomatik.
Obat anti diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan yang rasional. Antimotalitas dan sekresi usus seperti Loperamid, sebaiknya jangan dipakai pada infeksi salmonela, shigela dan koletis pseudomembran, karena akan memperburuk diare yang diakibatkan bakteri entroinvasif akibat perpanjangan waktu kontak antara bakteri dengan epithel usus. Bila pasien amat kesakitan, maka dapat diberikan obat anti motalitas dan sekresi usus diatas dalam jangka pendek selama 1 – 2 hari saja dengan 3 – 4 tablet / hari, serta memperhatikan ada tidaknya glukoma dan hipotropi prostat. Pemberian antiemetik pada anak dan remaja, seperti metoklopopomid dapat menimbulkan kejang akibat rangsangan ekstrapiramidal.
4.      Terapi Definitif
Pemberian edurasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vaksinasi sangat berarti, selain terapi farmakologi.

VII. KOMPLIKASI
Komplikasi diare mencakup potensial terhadap disritmia jantung akibat hilangnya cairan dan elektrolit secara bermakna (khususnya kehilangan kalium). Haluaran urin kurang dari 30 ml / jam selam 2 –3 hari berturut-turut. Kelemahan otot dan parastesia. Hipotensi dan anoreksia serta mengantuk karena kadar kalium darah di bawah 3,0 mEq / liter (SI : 3 mmol / L) harus dilaporkan, penurunan kadar kalium menyebabkan disritmia jantung (talukardio atrium dan ventrikel, febrilasi ventrikel dan kontraksi ventrikel prematur) yang dapat menimbulkan kematian.

B.     KONSEP KEPERAWATAN
Dalam melakukan upaya keperawatan yang terpenting perawat memerlukan metode ilmiah, yaitu melalui pendekatan proses keperawatan dalam upaya membantu pemecahan masalah klien. Proses perawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan Asuhan Keperawatan dan mempunyai 4 tahapan yaitu :
1.      PENGKAJIAN
a.       Pengumpulan data
1.      Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, nomor register, diagnosa medis, dan tanggal MRS.
2.      Keluhan utama
Klien mengeluh BAB cair lebih dari 3 kali (diare) yang mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam kadang disertai muntah.

3.      Riwayat penyakit sekarang
Pada umumnya didapatkan keluhan utama pada penderita, yaitu peningkatan frekuensi BAB dari biasanya dengan konsistensi cair, naurea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut , demam, lidah kering, turgor kulit menurun serta suara menjadi serah, bisa disebabkan oleh terapi obat terakhir, masukan diit, atau adanya masalah psikologis (rasa takut dan cemas).
4.      Riwayat penyakit dahulu
Biasanya dikaitkan dengan riwayat medis lalu berhubungan dengan : perjalanan kearea geogratis lain.
5.      Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi susunan keluarga penyakit keturunan atau menular yang pernah di derita anggota keluarga.
6.      Pola-pola fungsi kesehatan
-       Pola Eliminasi urin.
Biasanya pada diare ringan fliminasnya normal, sedang (oliguri), berat (anuria).
-       Pola Eliminasi Alvi.
Pada klien dengan diare akut biasanya BAB cair lebih banyak atau sering dari kebiasaan sebelumnya.
-       Pola Natrisi dan metabolisme.
Pada klien diare akut terjadi peningkatan bising usus dan peristaltik usus yang menyebabkan terganggunya absorbsi  makanan akibat adanya gangguan mobilitas usus. Sehingga menimbulkan gejala seperti rasa kram pada perut, perut terasa mual atau tidak enak dan malas makan, maka kebutuhan nutrisi menjadi terganggunya karena asupan yang kurang.
-       Pola istirahat tidur.
Pada umumnya pola istirahat menjadi terganggu akibat gejala yang ditimbulkan seperti : mendadak diare, muntah, nyeri perut, sehingga Kx sering terjaga.

7.      Pemeriksaan fisik.
1).       Keadaan umum
Kesadaran (baik, gelisah, Apatis/koma), GCS, Vital sign, BB dan TB.
2).       Kulit, rambut, kuku
Turgor kulit (biasa – buruk), rambut tidak ada gangguan, kuku bisa sampai pucat.
3).       Kepala dan leher
4).       Mata
Biasanya mulai agak cowong sampai cowong sekali.
5).       Telinga, hidung, tenggorokan dan mulut
THT tidak ada gangguan tapi mulutnya (biasa – kering).
6).       Thorak dan abdomen
Tidak didapatkan adanya sesak, abdomen biasanya nyeri, dan bila di Auskulkasi akan ada bising usus dan peristaltik usus sehingga meningkat.
7).       Sistem respirasi
Biasanya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasanb kusmaul).
8).       Sistem kordovaskuler
Pada kasus ini bila terjadi renjatan hipovolemik berat denyut nadi cepat (lebih dari 120x/menit).
9).       Sistem genitourinaria
Pada kasus ini bisa terjadi kekurangan kalium menyebabkan perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria.
10).   Sistem gastro intestinal
Yang dikaji adalah keadaan bising usus, peristaltik ususnya terjadi mual dan muntah atau tidak, perut kembung atau tidak.
11).   Sistem muskuloskeletal
Tidak ada gangguan.
12).   Sistem endokrin

13).   Sistem persarafan
Pada kasus ini biasanya kesadaran gelisah, apatis / koma.

b.      Analisa Data
1). - Data mayor
:
Penderita diare dengan frekuensi lebih dari biasa dan timbul rasa haus.
     - Data minor
:
Penderita biasanya muntah sebelum dan sesudah diare, mukosa mulut kering, turgor kulit menurun.
-    Kemungkinan Penyebab : out put yang berlebihan.
-    Masalah : kekurangan volume cairan.
2). - Data mayor
:
Penderita biasanya mengalami kram abdomen dan penurunan nafsu makan dan mual.
     - Data minor
:
Penderita didapati mata cowong, mukosa kulit kering, akral dingin, lemah, BB menurun, tulang pipi menonjol.
-    Kemungkinan Penyebab : input yang inadeguat
-    Masalah : nutrisi.
3). - Data mayor
:
Penderita pada umumnya istirahatnya terganggu.
     - Data minor
:
Pada penderita didapati pucat, gelisah, lemah.
-    Kemungkinan Penyebab : eleminasi yang sering dan tidak terkontrol.
-    Masalah : istirahat - tidur.

2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Dari hasil analisa data diatas dirumuskan suatu diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah yaitu :
1.         Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh sedang out put yang berlebihan berhubungan dengan frekuensi diare yang meningkat dari biasanya, rasa haus, muntah, mukosa bibir kering, turgor kulit menurun.
2.         Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sedang input yang inadeguat berhubungan dengan penderita mengalami kram abdomen penurunan nafsu makan, mual, mata cowong, mukosa bibir kering, tulang pipi menonjol
3.         Gangguan istirahat – tidur kosong dari kebutuhan tubuh sampai dengan eliminasi yang sering dan tidak terkontrol berhubungan dengan sering terjaga, pucat, gelisah dan lemah.

3.      PERENCANAAN
Pada perencanaan ini disusun berdasarkan tujuan prioritas masalah sebagai berikut : adanya ancaman kehidupan dan kesehatan dan sumber daya yang tersedia, perasaan penderita, prinsip alamiah dan praktek.
1.         Diagnosa : gangguan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh sedang output yang berlebihan berhubungan dengan diare dengan frekuensi yang meningkat lebih dari biasanya, timbul rasa haus, muntah, mukosa bibir kering, turgor kulit menurun.
o        Tujuan
Volume cairan terpenuhiu dalam waktu 6 – 8 jam.
o        Kriteria Hasil
-          Penderita tidak diare lagi, tidak haus.
-          Tidak muntah.
-          Mukosa bibir lembab.
-          Turgor kulit normal.
o        Rencana Tindakan
1.      Lakukan pendekatan pada penderita dan keluarganya.
2.      Catat frekuensi, jumlah dan konsistensi feces yang keluar.
3.      Anjurkan penderita untuk minum banyak (sedikit-sedikit sering).
4.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian infus dan obat anti diare.
5.      Monitoring tanda-tanda dehidrasi.
6.      Observasi TTV tiap 8 jam.
7.      Anjurkan penderita untuk tidak makan makanan yang merangsang timbulnya diare.
o        Rasionalisasi
1.      Dengan komunikasi terapeutik penderita diharapkan lebih kooperatif.
2.      Memudahkan membuat asuhan keperawatan secara tepat untuk intervensi selanjutya.
3.      Untuk mengganti cairan yang hilang.
4.      Terapi yang cepat dan membuat mempercepat kesembuhan dan mencegah komplikasi secara dini.
5.      Mendeteksi secara dini tanda-tanda dehidrasi.
6.      Untuk memantau perkembangan kesehatan penderita.
7.      Untuk mencegah diare lebih parah lagi.


















DAFTAR PUSTAKA


·         Keperawatan Medical Bedah, Buku saku. Brunner Suddarth, EGC Jakarta, 2000.
·         Keperawatan Medikal Bedah, Buku ajar, Brunner Suddarth, EGC Jakarta, 2000.
·         Kapita Selekta kedokteran, Jilid I edisi 3, Arief Mansyoer, Media Aesculapiur, Jakarta, 1999.
·         Rencana Asuhan Keperawatan, Marilynn E. Dongoes edisi 3 EGC, Jakarta, 2000.























LAPORAN PENDAHULUAN PADA PENDERITA DENGAN DIAGNOSA MEDIS GASTRO ENTERITIS AKUT (GEA)

DIRUANG INTERNE KELAS

RUMAH SAKIT AL – IRSYAD SURABAYA











           

Oleh :
Titik Nur Hidayati
NIM : 200154








AKADEMI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar