Info Kesehatan

healhty

Rabu, 11 April 2012

Cara Pemberian imunisasi pada BBLR


Cara Pemberian imunisasi pada BBLR

1. Cara pemberian imunisasi hepatitis B.
 
a.Buka kotak wadah uniject dan periksa:
•Label jenis vaksin untuk memastikan bahwa uniject tersebut memang berisi vaksin hepatitis B
•Tanggal kadaluarsa.
•Warna pada tanda pemantau paparan panas (VVM) yang tertera atau menempel pada sebungkus uniject masih layak dipakai.
b.Buka kantong Aluminium atau plastic dan keluarkan uniject
c.Pegang uniject pada bagian leher dan bagian tutup jarum. Aktifkan uniject dengan cara mendorong tutup jarum kearah leher dengan tekanan dan gerakan cepat.
d.Saat uniject diaktifkan akan terasa hambatan dan rasa menembus lapisan
e.Buka tutup jarum
f.Selanjutnya tetap pegang uniject pada bagian leher dan tusukan jarum pada pertengahan paha bayi secara intramuscular (IM). Tidak perlu dilakukan aspirasi.
g.Pijit reservoir dengan kuat untuk menyuntikan vaksin hepatitis B.
h.Jangan memasang kembali tutup jarum. Buang uniject yang telah dipakai tersebut ke dalam wadah alat suntik bekas yang telah bersedia (safety box).

.Jenis Vaksin
A.Vaksin BCG ( Bacillus Calmette Guerine)
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosa.
Kemasan:
•Kemasan dalam ampul, beku kering, 1 box beriosi 10 ampul vaksin.
•Setiap 1 ampul vaksin dengan 4ml pelarut.

Cara pemberian dosis:
•Sebelum disuntikan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Melarutkan dengan alat suntuk steril (ADS 5ml ).
•Dosis pemberian : 0.05 ml, sebanyak 1 kali.
•Disuntikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas ( Insertio musculus deltoideus ), dengan menggunakan ADS 0.05 ml.
•Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam.
Kontraindikasi:
•Adanya penyakit kulit yang berat  menahun sepert eksim, furunkulosos, dan sebagainya.
•Mereka yang sedang menderita TBC.

B. Vaksin DPT
Diskripsi:
Vaksin jerap DPT ( Difteri Pertusis Tetanus ) adalah vaksin yang terrdiri dari toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan dan bakeri pertusis yang telah diinaktivasi.

Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan secra simultan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus.
Kemasan:
•Kemasan dalam vial
•1 box vaksin terdiri dari 10 vial
•1 vial berisi 10 dosis
•Vaksin berbentuk cairan.

Cara emberian dan dosis:
•Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar menjadi homogen.
•Disuntikkan secara intram pada uskular dengan dosis pemberian 0.5 ml sebanyak 3 dosis.
•Dosis pertama diberikan umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu ( 1 bulan )
•Di unit pelayanan statis, vaksin DPT yang telah di buka hanya boleh digunakan selama 4 minggu,

•Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunkan lagi.
Kontraindikasi:
Gejala- gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi pertussis. Anak yang mengalami gejala- gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua, dan untuk meneruskan Imunisasinya dapat diberikan DT.


C. Vaksin TT
Diskripsi:
Vaksin jerap TT ( tTetanus Toxoid ) adalah vaksin yang mengandung toxoid tetanus yang telah dimurnikan dan terabsorsi ke dalam 3 mg/ml alumunium fosfat. Thimerosal 0.1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Satu dosis 0.5 ml vaksin mengandung potensi sedikitnya 40 IU. Digunakan untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir dengan mengimunisasi WUS (Wanita Usia Subur) atau ibu hamil, juga untuk pencegahan tetanus pada ibu bayi.
(Vademecum Bio Farma Jan, 2002 )
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif pada tetanus.
Kemasan:
•1 box vaksin terdiri dari 10 vial
•1 vial berisi 10 dosis
•Vaksin TT adalah vaksin yang berbentuk cairan.

Cara pemberian dan dosis:
•Sebelum digunakan Vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.
•Untuk mencegah tetanus/ tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikan secara intramuskular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0.5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ketiga dan keempat. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan pada periode trimester pertama.
•Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang tlah dibuka hanya bioleh digunakan selama 4 minggu
•Sedangkan di posyandu vaksin yang sudan terbuka tidak boleh digunkan lagi untuk hari berikutnya


Kontraindikasi:
Gejala- gejala berat karena dosis pertama TT.


D. Vaksin DT
Diskripsi:
Vaksin jerap DT ( Difteri dan Tetanus ) adalah vaksin yang mengandung toxoid difteri dan Tetanus yang telah dimurnikan.
(Vademecum Bio Farma Jan, 2002 )
Indikasi
Untuk pemberian kekebalan simultan terhadao difteri dan tetanus.
Kemasan:•1 box vaksin terdiri dari 10 vial
•1 vial berisi 10 dosis
•Vaksin DT adalah vaksin yang berbentuk cairan
Cara pemberian dan Dosis:
•Sebelum digunakan Vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.
•Disuntikan secara intramuskular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 mk. Dianjurkan untuk anak usia 8 tahun atau lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin Td.
•Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang tlah dibuka hanya bioleh digunakan selama 4 minggu

•Sedangkan di posyandu vaksin yang sudan terbuka tidak boleh digunkan lagi untuk hari berikutnya


E.Vaksin Polio
Diskripsi:
Vaksin oral polio Trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1,2 dan 3 ( strain Sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sukrosa.
(Vademecum Bio Farma Jan, 2002 )
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis
Kemasan:
•1 box vaksin terdiri dari 10 vial
•1 vial berisi 10 dosis
•Vaksin Polio adalah vaksin yang berbentuk cairan.
•Setiap vial vaksin polio disertai 1 buah penetes ( dropper) terbuat dari bahan plastik.
Cara pemberian dan Dosis:
•Diberikan secara oral ( melalui mulut ), 1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali ( dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.
•Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes ( dropper ) yang baru.
•Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang tlah dibuka hanya bioleh digunakan selama 4 minggu
•Sedangkan di posyandu vaksin yang sudan terbuka tidak boleh digunkan lagi untuk hari berikutnya
Efek samping:
Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping n=berupa paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi ( kurang dari 0, 17 : 1.000.000 ; Bull WHO 66: 1988)
Kontraindikasi:
Pada individu yang menderita ” Immune deficienci ”.  Tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh.


F.Vaksin Campak
Diskripsi :
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu erythromycin. (Vademecum Bio Farma Jan 2002)
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
Kemasan:
1 box vaksin terdiri dari 10 vial
1 vial berisi 10 dosis
1 box pelarut berisi 10 ampul @ 5 ml
Vaksin ini berbentuk beku kering
Cara pemberian dan dosis:
Sebelum disuntikan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut.
Dosis pemberian 0,5 ml disuntikan secera subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada anak SD kelas 1-6.
Efek samping:
Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.
Kontraindikasi:
Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukimia, lymphoma.

G. Vaksin hepatitis B
Diskripsi:
Vaksin Hepatitis B adalh vaksin virus recombinan yang telah diinaktivasi yang bersifat non- infecious, berasal dari HbsAg yang dihasilkan oleh sel ragi ( Hansenula Polymorphia ) menggunakan teknologi DNA Rekombinan.
(Vademecum Bio Farma Jan, 2002 )
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B.
Kemasan:
•Vaksin hepatitis B adalah vaksin yang berbentuk cairan.
•Vaksin hepatitis B terdiri dari dua kemasan:
-kemasan dalam prefiil injection device (PID)
-kemasan dalam vial
•Satu box vaksin hepatitis B PID terdiri dari 100 HB PID.
•Satu box vaksin hepatitis B vial terdiri dari 10 vial @ 5 dosis masing-masing
Cara pemberian dan dosis
•Sebelum digunakan vaksin harus dikocock terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.
•Vaksin disuntikan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara intra muskuler, sebaiknya pada antero lateral paha.
•Pemberian sebanyak 3 dosis.
•Dosis pertama diberikan pada usia 0 sampai 7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimal 4 minggu ( 1 bulan).
Untuk hepatitis B vial
•Di unit pelayanan statis, vaksin HB yang tlah dibuka hanya bioleh digunakan selama 4 minggu
•Sedangkan di posyandu vaksin yang sudan terbuka tidak boleh digunkan lagi untuk hari berikutnya
Efek samping:
Reaksi lokal seperti rasa sakit kemerahan dan pembengkakan disekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan bisanya hilang setelah 2 hari.
Kontra indikasi:
Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang.


H.Vaksin DPT-HB
Deskripsi:
Vaksin mengandung DPT berupa toksoid difteri dan toksoid tetanus yang di murnikan dan pertusis yang inaktifasi serta vaksin hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infectious.
Indikasi:
•Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus dan hepatitis B.
Kemasan:
•Satu box vaksin DPT-HB  vial terdiri dari 10 vial @ 5 dosis.
•Warna vaksin putih keruh seperti vaksin DPT.
Cara pemberian dan dosis:
•Pemberian dengan cara intramuskular, 0,5 ml sebanyak 3 dosis.
•Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya denga interval 4 minggu (1 bulan).
•Di unit pelayanan statis, vaksin DPT-HB yang tlah dibuka hanya bioleh digunakan selama 4 minggu Sedangkan di posyandu vaksin yang sudan terbuka tidak boleh digunkan lagi untuk hari berikutnya

§  Jadwal Pemberian Imunisasi

Vaksin    Pemberian Imunisasi    Selang waktu Pemberian        Umur        Keterangan

BCG        1x                        0-11 bulan  

DPT        3x
    (DPT 1, 2, 3)            4 minggu        2-11 bulan  

Polio        4x
    (Polio 1, 2, 3, 4)        4 minggu        0-11 bulan  

Campak        1x                        0-11 bulan  

Hepatitis B    2x
    (Hep. B 1, 2, 3)        4 minggu        0-11 bulan    Untuk bayi yang lahir di RS/Puskesmas/RB/Rumah oleh nakes HB segera diberikan dalam 24 jam pertama kelahiran. BCG, Polio diberikan sebelum bayi pulang ke rumah.

2)Langkah-langkah mencampur vaksin BCG, Campak dengan pelarut:
a)Cuci tangan
b)mengamati VVM dan Masa kadaluarsa pada botol atau ampul vaksin
c)menggoyang botol atau ampul vaksin. Memastikan semua bubuk ada pada dasar botol.
d)membuka botol atau ampul vaksin
e)mengamati ampul atau botol pelarut pastikan tidak retak.
f)membaca label pada ampul atau botol pelarut pastikan dikirim oleh pabrik bersama dengan vaksin dan masa kadaluarsa belum lewat.
g)membuka ampul kaca jika terjadi luka saat membuka ampul, buang ampul karena ada kemungkinan isi ampul telah terkontaminasi. Membalut luka sebelum mambuka ampul baru.
h)menyedot pelarut ke dalam semprit pencampur dengan menggunakan semprit pencampur sekali buang (disposable mixing syring) yang baru untuk mencapur setiap persediaan dengan pelarut.
i)mencampur vaksin dengan pelarut

ountuk mencampur pelarut dan vaksin, tari pelan-pelan pelarut vaksin ke atas sehingga masuk ke dalam semprit dan suntikkan lagi ke dalam botol atau ampul. Ulangi beberapa kali.
oMasukkan semprit dan jarum pencampur ke dalam kotak keselamatan setelah digunakan.

§  Pemberian Vaksin
a.      Vaksinasi BCG
1)Suntikan diberikan di lengan kanan atas.
a)Dosis 0,05 cc, untuk mengukur dan menyuntikan dosis sebanyak itu secara akurat, harus menggunakan semprit dan jaru kecil yang khusus.
b)Disuntikkan ke dalam lapisan kulit dengan penyerapan pelan-pelan (intrakutan). Untuk memberikan suntikan intrakutan secara tepat, harus menggunakan jarum pendek yang sangat halus (10mm ukuran 26).
  2)Cara pemberian vaksin BCG:
·         Letakkan bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibu dan lepas baju bayi dari lengan dan bahu.
·         Ibu sebaiknya memegang bayi dekat dengan tubuhnya, menyangga kepala bayi dan memegang lengan dekat dengan tubuh.
·         Pegnag semprit dengan tangan kanan dengan lubang pada ujung jarum menghadap ke depan.
·         Buatlah permukaan kulit menjadi datar dengan menggunakan ibu jari kiri dan jari telunjuk.
·         Letakkan semprit dan jarum dengan posisi hampir datar dengan kulit bayi.
·         Masukkan ujung jarum tepat di bawah permukaan kulit tetapi di dalam kulit yang tebal, cukup masukkan bevel (lubang di ujung jarum).
·         Jaga agar posisi jarum tetap datar di sepanjang kulit sehingga jarum masuk ke dalam lapisan atas kulit saja. Jaga agar lubang di ujung jarum menghadap ke depan.
·         Jangan menekan jarum terlalu dalam dan jangan menurunkan jarum karena jarum akan masuk di bawah kulit, sehingga yang terjadi suntukan di dalam otot (subcutameous) bukan suntukan intradermal.
·         untuk memegang jarum dengan posisi yang tepat, letakkan ibu jari pada ujung bawah semprit dejat jarum, tetapi jangan menyentuh jarum.
·         pegang ujung penyedot antara jari telunjuk dan jari tengah kanan. Tekan penyedot dengan ibu jari.
·         Suntikkan 0,05 ml vaksin dan lepaskan jarum.

Catatan:
•Jika suntikan intradermal diberikan secara tepat, alat penyedot akan sulit didorong. Jika vaksin mudah masuk mungkin menyuntik terlalu dalam. Segera hentikan suntikan, betulkan posisi jarum dan berikan sisa dosis, tetapi tidak ditambah lagi.
•Hitunglah bayi-bayi yang telah menerima dosis vaksin. Jangan ulangi memberikan dosis. Mintalah orang tua untuk kembali bersama anak mereka jika menunjukkan efek samping seperti abses atau pembengkakan kelenjar.
•Jika suntukan BCG tepat, akan timbul pembengkakan dengan puncak yang datar (flat-topped) pada kulit. Pembengkakan ini kelihatan pucat dengan lubang sangat kecil seperti kulit jeruk. Jika teknik yang digunakan
tidak tepat, vaksin akan masuk dengan mudah dan tidak terlihat adanya pembengkakan
Cara penyuntikan BCG
·         Bersihkan lengan dengan kapas air
·         Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berlubang menghadap keatas.
·         Suntikan 0,05 ml intra kutan
– merasakan tahan
– benjolan kulit yang pucat dengan pori- pori yang khas diameter 4-6 mm
b.Vaksinasi DPT atau DPT-HepB
1)Suntikan diberikan pada paha tengah luar secara intramuscular atau subkutan dalam dengan dosis 0,5 cc.
2)Cara pemberian:
  • Letakkan bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibunya dengan seluruh kaki telanjang.
  • orang tua sebaiknya memegang kaki bayi.
  • pegang paha dengan ibu jari dan telunjuk.
  • masukka jarum dengan sudut 900.
  • tekan seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga masuk ke dalam otot. Suntikkan pelan-pelan untuk mengurangi rasa sakit.

c.Vaksinasi DT dan TT (bagi WUS dan Anak Sekolah)
1)Suntikan diberikan pada lengan atas secara intramuscular atau subkutan dalam dengan dosis 0,5 cc.
2)Cara pemberian:
  • Mintalah sasaran untuk duduk.
  • Suruh ia menurunkan bahunya dan meletakkan tangan kiri di belakang punggungnya atau di atas pinggul. Posisi ini akan meregangkan otot pada lengan dan membuat suntukan menjadi hamper tidak sakit.
  • Letakkan jari dan ibu jari pada bagian luar lengan atas.
  • gunakan tangan kiri untuk menekan ke atas otot lengan.
  • cepat tekan jarum ke bawah melalui kulit di antara jari-jari. Masukkan ke dalam otot.
  • tekan alat penyedot (plunger) dengan ibu jari untuk menyuntik vaksin.
  • tarik jarum dengan cepat dan hati-hati dan mintalah sasaran untuk menekan tempat penyuntikan secara hati-hati dengan kain kaps jika terjadi perdarahan.


d.Vaksinasi polio oral (OPV)
Cara pemberian:
1)mintalah orang tua untuk memegang bayi dengan kepala disangga dan dimiringkan ke belakang.
2)buka mutul bayi secara hati-hati, baik dengan ibu jari pada dagu (untuk bayi kecil) atau dengan menekan pipi bayi dengan jari-jari.
3)teteskan 2 tetes vaksin dari alat tetes ke dalam lidah. Jangan biarkan alat tetes menyentuh bayi.

e.Vaksinasi Campak

1)Suntikan diberikan pada lengan kiri atas secara subkutan dengan dosis 0,5 cc.
2)Cara pemberian:
  • Atur bayi dengan posisi miring di atas pangkuan ibu dengan seluruh lengan telanjang.
  • orang tua sebaiknya memegang kaki bayi. Gunakan jari-jari kiri anda untuk menekan ke atas lengan bayi.
  • cepat tekan jarum ke dalam kulit yang menonjol ke atas dengan sudut 450.
  • untuk mengontrol jarum, peganglah ujung semprit dengan ibu jari daan jari telunjuk tetapi jangan sentuh jarum.


f.Vaksinasi Hepatitis B
1)Vaksin Hepatitis B yang digunakan dalam program imunisasi saat ini adalah yang terdapat dalam kemasan Prefill Injection device (PID).
2)Alat suntik dalam kemasan ini mudah dipakai, tidak perlu mengukur dosis karena telah dikemas dari pabrik, kecil dan mudah dibawa.
3)Setiap alat suntik digunakan hanya untuk satu dosis sehingga tidak memboroskan vaksin.
4)Cara pemakaian vakisn Hepatitis B PID:
  • buka kantong alumunium/plastic dan keluarkan alat suntik PID.
  • pegang alat suntik PID pada leher dan tutup jarum dengan memegang keduanya diantara jari telunjuk dan jempol dan dengan gerakan cepat dorong tutup jarum kea rah leher. Teruskan mendorong sampai tidak ada jarak antara tutp jarum dan leher.
  • buka tutup jarum, tetap pegang alat suntik pada bagian leher dan tusukkan jarum pada anterolateral paha secara intramuscular, tidak perlu dilakukan aspirasi.
  • pijit reservoir dengan kuat untuk menyuntik, setelah reservoir kempis cabut alat suntik.
5)Vaksin Hepatitis B PID di puskesmas disimpan seperti vaksin Hepatitis B dalam vial, tetapi di be\idan desa/pustu vakisn Hepatitis B PID ini boleh disimpan pada suhu kamar sepanjang tidak terjadi perubahan warna pada VVM















Pemberian imunisasi hepatitis B berdasarkan status HBsAg pada saat melahirkan sebagai berikut:
Bayi lahir dengan ibu HbsAg positif. Dalam kurun waktu 12 jam setelah lahir secara bersamaan berikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan,IM disisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ke3 diberikan usia 6 bulan.
Bayi yang terlahir dari ibu yang positif HbsAg harus diberikan dosis tunggal HBIG (0,5 ml IM) dan lakukan vaksinasi dalam waktu 12 jam setelah kelahiran. Dosis pertama vaksin harus diberikan bersamaan dengan HBIG sesaat setelah bayi lahir pada tempat yang berbeda. Pemberian vaksin dosis kedua dan ketiga (tanpa HBIG) dengan interval 1-2 dan 6 bulan kemudian. Disarankan agar dilakukan pemeriksaan  HbsAg dan anti-HBs pada bayi pada saat berumur 9-15 bulan untuk memantau keberhasilan atau kegagalan pengobatan. Bayi yang positif anti-HBs dan negatif HbsAg telah terlindungi dan tidak memerlukan dosis vaksin lebih lanjut. Bayi yang pada pemeriksaan didapatkan anti-HBs negatif dan HBsAg negatif harus diberikan imunisasi ulang.
Setelah terjadi pemajanan melaui membrana mukosa atau per kutan  (contohnya karena tertusuk jarum) akan terpajan dengan darah yang mengandung atau mungkin mengandung HbsAg, pertimbangan untuk memberikan pencegahan pasca pajanan harus dengan memperhatikan beberapa faktor: i) apakah sumber pemajanan adalah dari darah; ii) harus dilihat status HbsAg sumber pemajanan; dan iii) bagaimana status imunisasi hepatitis B seseorang yang terpajan. Untuk mereka yang tidak diimunisasi sebelumnya dan terpajan dengan darah dari sumber yang positif HbsAg, maka berikan dosis tunggal HBIG (0,06 ml/kg, atau 5 ml untuk dewasa) dan harus diberikan sesegera mungkin, yaitu dalam waktu paling sedikit 24 jam setelah pajanan dengan jarum suntik risiko tinggi, dan pemberian seri vaksin hepatitis B harus segera dimulai. Apabila imunisasi aktif tidak dapat diberikan, maka dosis kedua HBIG harus diberikan 1 bulan setelah pemberian pertama. HBIG tidak harus diberikan kepada mereka yang mengalami pajanan dengan jarum suntik pada darah yang tidak diketahui atau kemungkinan besar tersangka positif HBSAg, oleh karena risiko infeksi dalam keadaan seperti ini rendah; akan tetapi, pemberian imunisasi hepatitis B awal disarankan apabila orang tersebut tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Untuk mereka yang sudah pernah diimunisasi dan terpajan dengan sumber yang positif HbsAg, pencegahan pasca pajanan tidak diperlukan apabila mereka telah memiliki titer antibodi protektif yaitu  (10 mili-IU/ml anti-HBs atau lebih).
 Bagi orang yang responsnya terhadap imunisasi tidak diketahui dengan jelas, maka vaksin hepatitis B dan atau HBIG harus segera diberikan.
Setelah terjadi pajanan secara seksual dengan seseorang yang terinfeksi HBV akut, maka dosis tunggal HBIG (0,06 ml/kg) disarankan untuk diberikan dalam 14 hari setelah hubungan seksual terakhir. Terhadap mereka semua yang terpajan melalui kontak seksual dengan orang yang terinfeksi HBV akut dan kronis,  pemberian vaksin harus dilakukan. 

 
PENGELOLAAN BAYI BARU LAHIR DENGAN IBU HEPATITIS B
Penanganan secara multidisipliner antara dokter spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan & kandungan dan spesialis anak. Satu minggu sebelum taksiran partus, dokter spesialis anak mengusahakan vaksin hepatitis B rekombinan dan imunoglobulin hepatitis B. Pada saat partus, dokter spesialis anak ikut mendampingi, apabila ibu hamil ingin persalinan diltolong bidan, hendaknya bidan diberitahukan masalah ibu tersebut, agar bidan dapat juga memberikan imunisasi yang diperlukan. 
Ibu yang menderita hepatitis akut atau test serologis HBsAg positif, dapat menularkan hepatitis B pada bayinya :
  • Berikan dosis awal  Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml segera setelah lahir, seyogyanya dalam 12 jam sesudah lahir disusul dosis ke-2, dan ke-3 sesuai dengan jadwal imunisasi hepatitis.
  • Bila tersedia pada saat yang sama beri Imunoglobulin Hepatitis B 200 IU IM      (0,5 ml) disuntikkan pada paha yang lainnya, dalam waktu 24 jam sesudah lahir (sebaiknya dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir).
Mengingat mahalnya harga immunoglobulin hepatitis B, maka bila orang tua tidak mempunyai biaya, dilandaskan pada beberapa penelitian, pembelian HBIg tersebut tidak dipaksakan. Dengan catatan, imunisai aktif hepatitis B tetap diberikan secepatnya.
  • Yakinkan ibu untuk tetap menyusui dengan  ASI, apabila vaksin diatas sudah diberikan (Rekomendasi CDC), tapi apabila ada luka pada puting susu dan ibu mengalami Hepatitis Akut, sebaiknya tidak diberikan ASI.

Tatalaksana khusus sesudah periode perinatal :
a)      Dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HbaAg berkala pada usia 7 bulan (satu bulan setelah penyuntikan vaksin hepatitis B ketiga) 1, 3, 5 tahun dan selanjutnya setiap      1 tahun. (7,9)
  1. Bila pada usia 7 bulan tersebut anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan ulang anti HBs dan HBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun. (7,9)
  2. Bila anti HBs dan HBsAg negatif, diberikan satu kali tambahan dosis vaksinasi dan satu bulan kemudian diulang pemeriksaan anti HBs. Bila anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan yang sama pada usia 1, 3, dan 5 tahun seperti pada       butir a. (8,9)
  3. Bila pasca vaksinasi tambahan tersebut anti HBs dan HBsAg tetap negatif, bayi dinyatakan sebagai non responders dan memerlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak akan dibahas pada makalah ini karena terlalu teknis. (10)
  4. Bila pada usia 7 bulan anti HBs negatif dan HBsAg positif, dilakukan pemeriksaan HBsAg ulangan 6 bulan kemudian. Bila masih positif, dianggap sebagai hepatitis kronis dan dilakukan pemeriksaan SGOT/PT, USG hati, alfa feto protein, dan HBsAg, idealnya disertai dengan pemeriksaan HBV-DNA setiap 1-2 tahun. (1,4,5)
b)Bila HBsAg positif selama 6 bulan, dilakukan pemeriksaan SGOT/PT setiap 2-3 bulan. Bila SGOT/PT meningkat pada lebih dari 2 kali pemeriksaan dengan interval waktu 2-3 bulan, pertimbangkan terapi anti virus.

Tatalaksana umum 
Pemantauan tumbuh-kembang, gizi, serta pemberian imunisasi, dilakukan sebagaimana halnya dengan pemantauan terhadap bayi normal lainnya.
Pada HCV sebaiknya tidak memberikan ASI karena 20 % ibu dengan Hepatitis C ditemukan Virus dalam kolostrumnya. Pada penelitian Kumal dan Shahul, ditemukan infeksi HCV pada bayi yang tidak mengandung HCV RNA padahal  bayi-bayi tersebut
at ASI eksklusif dari Ibu dengan HCV.
 Apabila pada pemeriksaan selanjutnyadiketahui ibu HbsAg-nya positif, segeraberikan 0,5 ml HBIG (sebelum 1 minggu)
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B.
Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.

Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan.
Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II dengan HBV III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha.

Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan.
Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu).

Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih.
Vaksin HBV dapat diberikan kepada ibu hamil.
Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran pencernaan), yang akan hilang dalam beberapa hari.













JIKA SEORANG ANAK TERLAMBAT MENDAPATKAN IMUNISASI, APA YANG HARUS DILAKUKAN?
Jika anak belum mendapatkan imunisasi sama sekali, segeralah rencanakan untuk memulai pemberian imunisasi. Tenaga medis akan memberikan vaksinasi sesuai umur anak saat ini, yang jadwalnya biasanya berbeda dengan jadwal anak yang mendapat imunisasi sesuai dengan ketentuan umur. Pemberian yang terlambat tidak akan mengurangi efektivitas vaksinansi untuk membentuk imunitas tubuh, hanya saja anak tidak mendapatkan perlindungan terhadap penyakit infeksi sedini mungkin.
Begitu pula apabila anak tidak lengkap mendapatkan vaksinasi, segeralah lengkapi sesuai jadwal tanpa harus memulainya dari awal lagi.
Sun, 24 Oct 2004 23:22:40 -0700
Hi mbak Ati,
 
Nggak apa-apa mbak, nggak usah takut dengan istilah 'terlambat imunisasi' :).  
 
Lebih baik sekarang-sekarang ini tidak ditunda dan spare waktu untuk bawa Maula 
imunisasi campak.  Apalagi kayaknya sedang 'musim' campak.  Kalau tidak salah,  campak 
termasuk yang 'single dose' vaccine, tidak seperti mis. vaksin Hepatitis A yang 
jadwalnya 2x, dan jadwal suntikan ke-duanya batas waktunya sekitar 6 bulan-1 tahun 
(cmiiw) dari suntikan yang pertama dan keterlambatan akan berdampak pada efektivitas 
vaksinnya.
 
Bisa juga 'tunda' imunisasi campak sampai waktu pemberian imunisasi MMR 1 (M/Measle 
juga termasuk kategori campak) waktu anak usia 12-15 bulan. Cuma ya itu, artinya 
sekarang-sekarang ini harus make sure dengan lingkungan seputar anak kita agar sebisa 
mungkin tidak terkena dampak dari wabah campak atau anak lain yang sedang menderita 
campak.
 
Kadang memang jadwal imunisasi sering 'delay' karena anak sedang tidak fit.  Saya 
punya tips khusus untuk masalah ini :).  Selama ini untuk urusan imunisasi, Jovan saya 
bawa ke dokter yang rumahnya 1 kompleks dengan saya. So, saya bisa ke sana pagi-pagi 
sambil jalan-jalan dengan buggy (kadang dokternya masih mandi pagi he..he..), langsung 
dapat no. urut 1, dan pulang dengan ruang tunggu dokter masih kosong alias bisa 
meminimalkan interaksi Jovan dengan pasien lainnya yang sedang sakit di ruang tunggu.  
Kita kan bawa anak sehat waktu imunisasi, sayang banget kalau pulangnya malah bawa 
bibit penyakit he..he..

Soedjatmiko mengatakan, ada tiga hal yang selalu salah dipersepsikan mengenai pemberian imunisasi. Pertama jika seseorang bayi terlambat memberikan imuinisasi, maka harus diulang. Padahal, meskipun terlambat imunisasi tetap dapat diberikan. Sebab, jarak waktu setiap pemberian imunisasi bukan merupakan patokan yang baku.

Selanjutnya, ketika bayi telah melampui batas imunisasi, maka bayi tidak bisa mendapatkan imunisasi. Padahal, dalam imunisasi jika terdapat kasus sampai melampui, bisa diberikan imunisasi sekaligus tanpa menghilangkan pemberian imunisasi selanjutnya. "Daripada tidak diimunisasi, lebih baik dirangkap sekaligus. Lagipula tidak ada efek sampingnya," tambahnya







                                  

Memberikan suntikan imunisasi pada bayi anda tepat pada waktunya adalah faktor yang sangat penting untuk kesehatan bayi anda. Yakinlah bahwa dengan membawa bayi anda untuk melakukan imunisasi adalah salah satu yang terpenting dari bagian tanggung jawab anda sebagai orang tua. Imunisasi (atau “vaksinasi”) diberikan mulai dari lahir sampai awal masa kanak-kanak. Imunisasi biasanya diberikan selama waktu pemeriksaan rutin ke dokter atau klinik.

Imunisasi yang diwajibkan
Vaksinasi
Jadwal pemberian-usia
Booster/Ulangan
Imunisasi untuk melawan
BCG
Waktu lahir
--
Tuberkulosis
Hepatitis B
Waktulahir-dosis I
1bulan-dosis 2
6bulan-dosis 3
1 tahun-- pada bayi yang lahir dari ibu dengan hep B.
Hepatitis B
DPT dan Polio
3 bulan-dosis1
4 bulan-dosis2
5 bulan-dosis3
18bulan-booster1
6tahun-booster 2
12tahun-booster3
Dipteria, pertusis, tetanus, dan polio
campak
9 bulan
--
Campak
Imunisasi yang dianjurkan:
Vaksinasi
Jadwal pemberian-usia
Booster/Ulangan
Imunisasi untuk melawan
MMR
1-2 tahun
12 tahun
Measles, meningitis, rubella
Hib
3bulan-dosis 1
4bulan-dosis 2
5bulan-dosis 3
18 bulan
Hemophilus influenza tipe B
Hepatitis A
12-18bulan
--
Hepatitis A
Cacar air
12-18bulan
--
Cacar air
Yang harus diperhatikan, tanyakan dahulu dengan dokter anda sebelum imunisasi jika bayi anda sedang sakit yang disertai panas; menderita kejang-kejang sebelumnya ; atau menderita penyakit system saraf.
Imunisasi adalah suatu prosedur rutin yang akan menjaga kesehatan anak anda. Kebanyakan dari imunisasi ini adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak. Walaupun pengalaman sewaktu mendapatkan vaksinasi tidak menyenangkan untuk bayi anda (karena biasanya akan mendapatkan suntikan), tapi rasa sakit yang sementara akibat suntikan ini adalah untuk kesehatan anak dalam jangka waktu panjang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar