Info Kesehatan

healhty

Kamis, 19 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn. V DENGAN STATUS ASMATIKUS


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn. V DENGAN
STATUS ASMATIKUS DI RUANG PAVILIUN SHOFA
RUMAH SAKIT SITI KHODIJAH SEPANJANG





 










Disusun oleh  :
Merry Yuni Anggraini
Nim : 200135




AKADEMI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2004/2005



LEMBAR PENGESAHAN


Asuhan keperawatan pada Nn “V” dengan diagnosa medis status asmatikus di ruang Shofa Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang, telah diperiksa dan disetujui untuk disahkan sebagai laporan praktek klinik keperawatan yang dilaksanakan mulai tanggal 02 Februari 2004 sampai 15 Februari 2004.


  Surabaya, 15 Februari  2004
Mahasiswa praktek,



Merry Yuni Anggraini
NIM : 200135

Mengetahui,

Kepala Ruangan Interne (Pav. Shofa) Rumah Sakit Siti Khodijah
Sepanjang

Pembimbing Ruangan Interne (Pav. Shofa) Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang
Ida Yuliastutik
Nining K, Amd
 NIP.
 NIP.


Pembimbing Pendidikan
Akper UNMUH Surabaya


Nur Mukarromah, M. Kes.
                                                 NIP.
Konsep Dasar
1.      Pengertian
Status asmatikus adalah suatu asma yang sukar disembuhkan dengan obat-obatan yang konvensial (Dr. H. Tabrani Rab, 1996 : 170). Status asmatikus adalah kedaruratan yang mengancam kehidupan, merupakan serangan asma yang berat dan berlangsung lebih lama dari pada biasanya serta tidak memberikan respons terhadap terapi yang diberikan (Lorenz, 1991).

2.      Etiologi
Sebagai faktor pencetusnya adalah :
a.       Alergi
b.      Infeksi dan iritasi
c.       Ketidakseimbangan saraf otonom.
d.      Perubahan lingkungan dan suhu
Asma dianggap suatu reaksi atopik, maka timbulnya asma dapat merupakan immediate asmatic reaction allergi dimana IgE memegang peranan penting. Pada reaksi atopik maka yang memegang peranan penting adalah IgE, nel mast yang terdapat di mukosa dan sub mukosa, dan basofil yang terdapat di dalam darah. Pada reaksi anafilaksis maka yang memegang peranan penting adalah IgE, disamping IgE. Reaksi ini termasuk kedalam reaksi tipe I (Voorhort, 1969) (Dr. H. Tabrani Rab, 1996 : 173).

3.      Patofisiologi
Reaksi hipersensitivitas jalan nafas
¯
Reaksi inflamasi jalan nafas
¯
Bronkokonstriksi
¯
Pembengkakan diding jalan nafas
¯
Sumbatan mukus (mucosa plug)
¯
Batuk / sesak nafas
¯
Bersin jalan nafas tidak teratur

Gangguan pertukaran gas                   Pola nafas tidak efektif

4.      Anatomi Fisiologi
Respirasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen kedalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
Saluran pernafasan dibagi menjadi 2 zona yaitu :
1)      Zona konduksi
Terdiri dari hidung, faring, trakea, bronkus dan bronkus terminalis.
2)      Zona respiratorik
Terdiri dari bronkiali respiratorik, duktus alveoli dan sakus alveoli.
Mekanisme pernafasan yaitu :
1)      Ventilasi
-          Proses inspirasi
-          Proses ekspirasi
2)      Difusi
Yaitu perpindahan O2 dan CO2 melalui membran alveoli dan pertukaran O2 dan CO2 dari alveoli dan kapiler.
3)      Transportasi
Yaitu Peredaran O2 ke seluruh tubuh ke dalam darah perifer, udara yang masuk melalui rongga hidung akan disaring oleh rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan partikel yang halus disaring dalam lapisan mukosa.
Trakea panjangnya kira-kira 9cm berjalan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebrata torak jalis kelima dan bercabang menjadi dua bronkus dan trakea yang tersusun 16-20 lingkaran berupa tulang rawan yang diikat jaringan fibrosa ke atas laring. Maka dengan gerakan ini debu dan butir halus lainnya turut masuk bersama pernafasan dapat dikeluarkan tulang rawan yang digunakan untuk mempertahankan agar trakea tetap terbuka disebelah belakang tidak tersambung.
Bronkus terbentuk dari dua belahan trakea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis mempunyai serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan pendek dari pada bronkus kiri yang sedikit lebih tinggi dari arteri pulkonalis dan mengeluarkan sebuah cabang yang disebut bronkus lobus atas. Cabang kedua timbul setelah cabang utama lewat ke bawah arteri bronkus lobus bawah (evelyn, 1997 : 211 – 214).

5.      Gejala-Gejala Asma
Faktor-faktor yang mengaktifkan asma adalah :
a.       Infeksi saluran pernafasan
b.      Alergen :   - inhalasi
- pencernaan
c.       Olahraga
d.      Udara buruk
e.       Emosional    :  -     Tersinggung
-     Marah
-     Takut
-     Tertawa
-     Menangis
f.       Konflik rumah tangga
g.      Udara yang berubah sewaktu-waktu

h.      Berbagai obat :  -     Aspirin
-     Antiobiotik
(Dr. H. Tabrani Rab, 1996 : 168 – 169)

6.      Diagnosis
Diagnosis asma berdasarkan
a.       Anamnesis : riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap asma, riwayat keluarga dan riwayat adanya alergi serta gejala klinis.
b.      Pemeriksaan fisik
c.       Pemeriksaan laboratorium : darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik), sputum (eosinofil, spiral cursman, kristal cha-cha leyden).
d.      Tes fungsi paru dingin spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan nafas.
(Arif Mansjoer dkk, 2001 : 477)

7.      Komplikasi
a.       Pneumotoraks
b.      Pneumomediastinum
c.       Emfisema subkutis
d.      Atelektasis
e.       Aspergilasis
f.       Bronkopulmonar alergik
g.      Gagal nafas
h.      Bronkitis
i.        Fraktur iga
(Arif Mansjoer dkk, 2001 : 477)


8.      Penatalaksanaan
Tujuan terapi asma adalah :
a.       Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
b.      Mencegah kekambuhan
c.       Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya.
d.      Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise.
e.       Menghindari efek samping obat asma.
f.       Mencegah obstruksi jalan nafas yang ireversibel
(Arif Mansjoer dkk, 2001 : 477 – 478)

B.     Konsep Asuhan keperawatan
I.            Pengakajian
A.    Pengumpulan Data
1.      Identitas klien
Meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, tanggal MRS, diagnosa medis, nomor register.
2.      Keluhan utama
Orang yang terkena asma biasanya mengeluh sesak nafas setelah terpapar oleh faktor pencetus asma, nafas / dada terasa seperti tertekan.
3.      Riwayat penyakit sekarang
Klien mengeluh sesak nafas, dada seperti tertekan, batuk terdengar whiizing.
4.      Riwayat penyakit dahulu
Klien biasanya pernah mengalami penyakit asma sebelumnya atau penyakit lain yang berhubungan dengan asma misal alergi terhadap suaca, rhinitis alergika.

5.      Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini.
6.      Pola fungsi kesehatan
a.       Pola pesepsi dan tata laksana hidup sehat
Kurangnya aktivitas fisik / beban fisik yang berlebihan dapat menyebabkan kekambukan penyakit asma, selain itu ketepaparan terhadap faktor pencetus asma juga menyebabkan kekambuhan asma.
b.      Pola nutrisi dan metabolisme
Konsumsi makanan perlu diperhatikan karena penyakit asma juga dapat disebabkan oleh makanan yang menyebabkan alergi.
c.       Pola eliminasi
Padaklien dengan penyakit asma tidak ada perubahan pada pola eliminasi, buang air kecil 4 x/hari, warna urin kuning jernih, bau aroma khas, konsistensi cair jernih, buang air besar 1-3 x/hari, warna coklat, konsistensi lunak, dan berbentuk bau aromatik (dipengaruhi oleh makanan yang dimakan).
d.      Pola istirahat tidur
Pada klien asma mengalami gangguan (< 8 jam/hari) karena sesak dan batuk yang dialami.
e.       Pola aktivitas dan latihan
Pola aktivitas dan latihan mengalami kelemahan akibat dari sesak dan batuk.
f.       Pola persepsi dan konsep diri
Klien merasa cemas dengan keadaan yang dialami dan juga resiko yang terjadi bila timbul kekambuhan.
g.      Pola sensori dan kognitif
Adanya keluhan sesak, kelemahan pada klien dengan penyakit asma.
h.      Pola reproduksi seksual
Bila klien sudah berkeluarga dan mempunyai anak maka akan mengalami gangguan, jika klien belum berkeluarga maka tidak akan mengalami gangguan dalam pola reproduksi seksual.
i.        Pola hubungan dan peran
Perlu ditanyakan bagaimana hubungan klien dengan orang lain, interaksi klien dengan orang lain.
j.        Pola penanggulangan stress
Perlu ditanyakan apa yang membuat klien stres dan bagaimana cara mengatasinya.
k.      Pola tata nilai dan kepercayaan
Perlu ditanyakan apakah klien masih menjalankan ibadah seperti biasanya.
7.      Pemeriksaan fisik
a.       Keadaan umum
Sesak nafas setelah terpapar oleh faktor pencetus serangan asma, nafas atau dada seperti tertekan batuk.
b.      Kepala
Rambut normal, wajah menyeringai tidak ditemukan pembesaran pada leher.
c.       Sistem integumen
Turgor kulit normal, akral dingin, keringat dingin
d.      Sistem respirasi
Ditemukan adanya wheezing dan nafas cuping hidung, sesak penggunaan otot-otot bantu nafas, peningkatan frekuensi pernafasan perpanjangan ekspirasi.
e.       Sistem kardiovaskuler
Jika terjadi serangan dapat terjadi takikardi, perubahan tekanan darah (tensi meningkat).

f.       Sistem gastrointestinal.
Tidak terdapat mual, muntah, BAB 1-3 x/hari peristaltik usus normal.
g.      Sistem genitourinaria
BAK 4 x/hari, tidak ditemukan disuria, retensi urin dan infotinensia urine.
h.      Sistem muskuloskeletal
Ada tidaknya kekakuan sendi, kelemahan otot, keterbatasan gerak dan ada tidaknya atropi.
i.        Sistem endokrin
Ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran kelenjar limfe
j.        Sistem persyarafan
Tidak terjadi gangguan penglihatan, pemicu, pembesaran, perasa.
8.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Laboratorium
·         BGA menunjukkan hipoknia (PaCO2 kurang dari 35 mmHg) disebabkan menurunnya perfusi ventilasi. Selanjutnya PaCO2 meningkat diatas normal sesuai dengan meningkatnya tahanan jalan nafas.
·         Jumlah sel darah (JSD) menunjukkan adanya peningkatan kadar eosinofil.
·         Pemeriksaan fungsi paru-paru menunjukkan kultur dan tes sensitivitas untuk menentukan infeksi dan mengidentifikasi antimikroba yang cocok dalam mengobati infeksi yang terjadi.
·         Sinar X paru memperlihatkan distensi alveoli.
b.      Radiologik : foto thorax.


II.         Analisa Data
a.       Data I
Data subyektif                  :  Klien mengatakan sulit bernafas, ortopnea, batuk dan terdapat sekret.
Data obyektif                    :  -     Wheezing ada saat ekspirasi
-          BB > 20 x/menit, tanda-tanda vital normal.
-          BGA normal (PaO2 < 60 mg, PaCO > 45 mmHg).
Masalah                             :  Ketidakefektifan bersin dalan nafas.
Kemungkinan penyebab   :  Peningkatan produksi sekret.
b.      Data II
Data subyektif                  :  Klien mengatakan sesak, kepala pusing.
Data obyektif                    :  -     Wheezing ada saat ekspirasi
-          Gelisah
-          Cyanosis
Masalah                             :  Gangguan pertukaran gas
Kemungkinan penyebab   :  Kurangnya suplai oksigen
c.       Data III
Data subyektif                  :  Klien mengatakan sesak
Data obyektif                    :  -     Cyanosis
-          Pengengkatan bahu sewaktu bernafas.
-          Ortopnea
-          BGA normal (PaO2 <60 mg, PaCO2 > 45 mmHg).
Masalah                             :  Ketidakefektifan pola nafas
Kemungkinan penyebab   :  Peningkatan produksi sekret
d.      Data IV
Data subyektif                  :  Klien mengatakan khawatir tetang penyakitnya.
Data obyektif                    :  -      Gelisah
-          Ekspresi wajah murung
-          Tanda-tanda vital menurun
Masalah                             :  Ansietas
Kemungkinan penyebab   :  Sesak nafas

III.      Diagnosa keperawatan
1.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
2.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen.
3.      Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
4.      Ansietas berhubungan dengan sesak nafas.

IV.      Perencanaan
1.      Diagnosa keperawatan I
Tujuan       :  Menunjukkan keefektifan jalan nafas dan mampu mempertahankan jalan nafas yang adekuat dalam waktu 2 x 24 jam.
Kriteria hasil :
-        Penurunan wheezing
-        Kecepatan dan kedalaman pernafasan normal
-        Tidak terjadi ortopnea, syanosis
-        Penurunan batuk
-        Analisa gas darah dalam batas normal
Rencana tindakan
a.       Auskultasi irama nafas, catat adanya wheezing.
b.      Observasi tanda-tanda vital.
c.       Pertahankan polusi lingkungan minimal, misal debu, bulu ?????
d.      Berikan posisi semi fowler.
e.       Bantu klien untuk merubah posisi, nafas dalam, batuk yang adekuat, postural drainase sesuai instruksi setiap 2 jam.
f.       Berikan O2 sesuai dengan kebutuhan.
g.      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.
Rasional :
a.       Melihat obstruksi penyebab asma dan menilai derajat keparahan pernafasan.
b.      Mengetahui perkembangan penyakit dan menentukan tindakan selanjutnya.
c.       Mencegah pencetus dari timbulnya serangan asma.
d.      Mempermudah fungsi pernafasan dan membantu dalam meningkatkan ekspansi paru.
e.       Memudahkan pengeluaran sekret.
f.       Memenuhi kebutuhan oksigenasi dan mengurangi beban otot-otot pernafasan.
g.      Mempercepat proses penyembuhan.
2.      Diagnosa keperawatan II
Tujuan     : Adanya pertukaran gas yang adekuat 2 x 24 jam
Kriteria hasil :
-        Penurunan wheezing saat eksprirasi / inspirasi
-        Tidak ada sesak dan tidak pusing
-        Tidak ada cyanosis
-        BGA normal (PaO2 < 60 mmHg PaCO2 > 45 mmHg)
-        Tidak gelisah
Rencana tindakan
a.       Kaji suara nafas tiap jam selama perode akut
b.      Kaji warna membran mukosa
c.       Observasi tanda-tanda vital
d.      Berikan posisi semi fowler
e.       Anjurkan pada klien untuk menggunakan teknik pernafasan diafragma, relaksasi, nafas dalam.
f.       Kolaborasi dengan tim medis.
Rasional
a.       Menentukan keadekuatan pertukaran gas.
b.      Mengetahui adanya cyanosis.
c.       Mengetahui keadaan umum dan menentukan tindakan selanjutnya.
d.      Mempermudah fungsi pernafasan dan membantu dalam ekspansi paru.
e.       Teknik bernafas dapat mengurangi stragnasi ekshalasi udara yang tidak mengalir dan bermanfaat pada periode dyspnel.
f.       Mempercepat proses penyembuhan.
3.      Diagnosa keperawatan III
Tujuan     : Pola nafas menjadi efektif dalam waktu 2 x 24 jam.
Kriteria hasil :
-        Frekuensi, irama dan kedalaman nafas normal.
-        Tidak sesak
-        Tidak cyanosis
-        BGA normal (PaO2 < 60 mmHg, PaCO2 > 45 mmHg).
-        Tidak ada nafas cuping hidung dan tidak menggunakan otot bantu nafas.
Rencana tindakan
a.       Kaji dan observasi frekuensi pernafasan, kedalaman pernafasan dan adanya tanda-tanda sesak nafas.
b.      Observasi tanda-tanda vital.
c.       Berikan posisi semi fowler.
d.      Berikan minum hangat.
e.       Ajarkan pada klien cara nafas dan batuk efektif.
f.       Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.

Rasional
a.       Pernafasan yang tidak teratur dan dangkal menunjukkan pola nafas yang tidak efektif.
b.      Mengetahui keadaan umum klien dan menentukan tindakan selanjutnya.
c.       Membantu dalam ekspansi paru.
d.      Mengencerkan sputum dan memudahkan pengeluaran.
e.       Memudahkan pengeluaran sekret.
f.       Mempercepat proses penyembuhan.
4.      Diagnosa keperawatan IV
Tujuan     : Ansietas berkurang dan rasa takut hilang 1 x 24 jam.
Kriteria hasil :
-        Ekspresi wajah rileks.
-        Mengungkapkan perasaan cemas berkurang.
-        Tanda vital dalam batas normal.
Rencana tindakan
a.       Kaji tingkat ansietas klien (ringan, sedang, berat)
b.      Kaji kebiasaan ketrampilan koping.
c.       Berikan dukungan emosional.
d.      Anjurkan penggunaan teknik relaksasi.
e.       Observasi tanda-tanda vital.
f.       Pertahankan lingkungan yang terang.
g.      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.
Rasional
a.       Mengetahui tingkat kecemasan untuk memudahkan dalam perencanaan tindakan selanjutnya.
b.      Menilai mekanisme koping yang telah dilakukan serta menawarkan koping yang biasa digunakan.
c.       Membantu kebutuhan klien dan mendapat keyakinan yang menenangkan.
d.      Relaksasi dapat menurnkan dan menghilangkan kecemasan.
e.       Kecemasan biasanya diikuti oleh peningkatan tensi darah, nadi, respirasi rate.
f.       Lingkungan yang tenang dapat menurunkan tingkat kecemasan.
g.      Mempercepat proses penyembuhan.

V.         Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan pengolahan dari perwujudan rencana tindakan yang meliputi beberapa kegiatan yaitu validasi rencana keperawatan, menulis atau mendokumentasikan rencana keperawatan dan pengumpulan data (Lismidar, 1990 : 60).

VI.      Evaluasi
Perbandingan yang sistemik dari rencana tindakan, masalah kesehatan dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lain (Nasrul Effendi, 1995).

DAFTAR PUSTAKA

Dr. H. Tabrani Rab, (1996). Ilmu Penyakit Paru. Jakarta, Hipokrates

Marllyn E. Doenges, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Alih Bahasa. EGC, Jakarta.

Arif Mansjoer dkk, (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I Edisi Ketiga, Jakarta. Media Ausculapius. FKUI.

Nasrul Effendi, (1995). Pengantar Proses Keperawatan, Jakarta. EGC.

Lismidar dkk, (1990). Proes Keperawatan, Jakarta UI Press.

C. Pearce Evelyn, (1997). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Lorent A., (1991)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar