Info Kesehatan

healhty

Selasa, 17 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
KEJANG DEMAM

A.     KONSEP DASAR
              I.       Pengertian
Kejang demam adalah kebangkitan kejang yang terjadi pada kenakan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38 oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Menurut konsensus Statment on Febrite Seizures (1980), kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan deman tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk.
Dahulu Living Ston membagi kejang menjadi 2 golongan, yaitu keang demam sederhana (simple febrille convulsion) dan epilepsi yang diprovikasi oleh demam (epilepsi triggered of by fever). Definisi ini tidak lagi digunakan karena studi prospektif epidemiologi membuktikan bahwa resiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang tanpa demam tidak sebanyak yang diperkirakan.
Akhir-akhir ini, kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana, yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal, atau multipel (lebih 1 kali kejang dalam 24 jam)

           II.       Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Deman sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang deman yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.


a.       Faktor Resiko
Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih. Resiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.
b.       Manifestasi Klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral. Bentuk kejang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8% berlangsung lebih dari 15 menit, sering kali kejang berhenti sebentar.

        III.      
Peningkatan suhu tubuh

 
Patofisiologi
 









Infeksi
 
           


 



        IV.       Diagnosis Banding
Penyebab lain kejang yang disertai demam harus disingkirkan, khususnya meningitis atau ensefalitis, pungsi lumbal teridikasi bila ada kecurigaan klinis meningitis.

           V.       Pemerikaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang cairan serebro spiral dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi-bayi kecil sering kali gejala meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang 6 bulan, dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Elektro selografi (EEG) yang tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang dikemudian hari. Saat ini pemeriksaan laboratorium rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk sumber infeksi.

        VI.       Komplikasi
Yang sering terjadi pada kejang demam adalah :
1.       Hipoksia.
2.       Hiperpireksia.
3.       Oedema otak.

     VII.       Penatalaksanaan
1.       Pengobatan
a.       Pengobatan fase akut
Obat yang paling cepat menghentikan kejang demam adalah diazepam yang diberikan melalui interavena atau indra vectal.
-    Dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/kg/dosis IV (perlahan-lahan).
-    Bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosis yang sama setelah 20 menit.
b.       Turunkan panas
-    Anti piretika : parasetamol / salisilat 10 mg/kg/dosis.
-    Kompres air PAM / Os
c.       Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebro spiral dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama, walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila aga gejala meningitis atau bila kejang demam berlangsung lama. 
d.      Pengobatan profilaksis
Pengobatan ini ada dalam cara : profilaksis intermitten / saat demam dan profilaksis terus menerus dengan antikanulsa setiap hari. Untuk profilaksis intermitten diberikan diazepim secara oral dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/hgBB/hari.
e.       Penanganan sportif
-    Bebaskan jalan napas
-    Beri zat asam
-    Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit
-    Pertahankan tekanan darah
2.       Pencegahan
a.       Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Beri diazepam dan antipiretika pada penyakit-penyakit yang disertai demam.
b.       Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata
Dapat digunakan :
-    Fero barbital
-    Fenitorri
-    Klonazepam
:
:
:
5-7 mg/kg/24 jam dibagi 3 dosis
2-8 mg/kg/24 jam dibagi 2-3 dosis
(indikasi khusus)
3.       Dampak masalah
a.       Penderita kejang sering timbul sesak napas, dikarenakan spasme saluran pernapasan maupun sekret yang banyak dan menumpuk dijalan napas.

b.       Akibat kejang sering timbul muntah karena isi lambung tersedak keatas oleh adanya tekanan dari otot-otot lambung sehingga dapat terjadi aspirasi.
c.       Akibat kejang dapat terjadi perlukaan pada lidah tergigit (resiko cedera / trauma).
  VIII.       Prognosis
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan kematian. Frekuensi berkurangnya kejang berkisar antara 25 – 50 %.   Umumnya terjadi pada 6 bulan pertama. Resiko mendapatkan epilepsi, kelainan motorik, gangguan mental dan belajar rendah





















B.     KONSEP KEPERAWATAN
1.      Pengumpulan Data
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, nama orang tua, umur, pekerjaan.
2.      Keluhan Utama
Panas, kejang / spesifik.
3.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah diantara keluarga yang mempunyai penyakit menular seperti TBC, diare atau penyakit keturunan seperti DM, Hipertensi.
4.      Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang diderita saat kecil seperti batuk, pilek, panas, adakah alergi terhadap makanan, minuman, obat atau debu.
5.      Pemeriksaan Fisik
a.       Kedaan Umur
Lemah, cukup atau baik.
b.       TTV
Berapa suhu tubuhnya, Nadi, RR, TB, dan BB
c.       Pemeriksaan Kepala dan Leher
Bentuk kepala simetris atau tidak, mata cowong, ubun-ubun cekung atau cembung, leher ada kelainan atau tidak.
d.      Pemeriksaan Integumen
Turgor kulit menurun atau tidak, akral hangat.
e.       Pemeriksaan Thorax
Bentuk simetris tidak ada nyeri tekan.
f.        Pemeriksaan Abdomen
Pada palpasi biasanya terjadi distensi, perkusi terdengar suara tyimphani dan pada auskultasi bising usus terdengar.
g.       Pemeriksaan Kelamin
Apakah ada iritasi pada anus.
6.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Laboratorium (widal tes, DL, UL, GDA, serum, elektrolit)
b.       EEG

C.     ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KEJANG DEMAM
a.       Diagnosa Keperawatan
1.       Jalan nafas tidak efektif sehubungan dengan menumpuknya sekret pada jalan nafas.
2.       Hipertermi sehubungan dengan proses penyakit (terganggunya sistem termoregulasi).
3.       Resiko terjadinya kejang berulang sehubungan dengan adanya peningkatan suhu tubuh.
4.       Kurang pengetahuan keluarga tentang cara penanganan kejang sehubungan dengan kurangnya informasi. 
b.       Perencanaan
1.       Diagnosa keperawatan I
Jalan nafas tidak efektif sehubungan dengan menumpuknya sekret pada jalan nafas.
Tujuan
KH
:
:
Jalan nafas bersih dalam waktu 1 X 30 menit.
-    Jalan nafas bersih
-    Penderita tidak sesak
-    Sekret tidak ada
-    Respirasi normal 20 – 26 X / menit
Rencana tindakan
-    Letak posisi klien dengan posisi kepala ekstensi.
R / : Dengan posisi ekstensi diharapkan dapat mencegah terjadinya lidah jatuh kebelakang dan jalan nafas longgar.
-    Observasi gejala kardinal terutama pernapasan selama penderita kejang.
R / :  Dengan observasi diharapkan dapat mengetahui keadaan sedini mungkin.
-    Berikan penjelasan pada klien dan keluarganya.
R / : menambah wawasak klien dalam mengenal penyakitnya.
2.       Diagnosa keperawatan II
Hipertermi sehubungan dengan proses penyakit (terganggunya sistem termogulasi)
Tujuan
KH
:
:
Rasa nyaman terpenuhi.
-    Cairan tubuh tetap seimbang antara intake dan output.
-    Membran mukosa basah.
-    Turgor kulit baik.
-    Klien tidak merasa haus.
-    Tanda-tanda vital normal.
Rencana tindakan
-    Berikan cairan elektrolit sesuai dengan kebutuhan.
R / : Diharapkan cairan tubuh terpenuhi  
-    Beri minum yang banyak.
R / : Dapat menambah cairan yang hilang akibat suhu badan yang tinggi.
-    Kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam pemberian cairan infus.
R / : Diharapkan dapat memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
3.       Diagnosa Keperawatan III
Resiko terjadinya kejang berulang sehubungan dengan adanya peningkatan suhu tubuh.
Tujuan
KH
:
:
Tidak terjadi kejang berulang
-    Tidak kejang
-    Suhu tubuh normal
-    Tanda-tanda vital kembali normal
Rencana tindakan
-    Berikan kompres basah pada daerah axilla dan lipatan paha
R / : Dengan kompres basah pada daerah axilla dan lipatan paha dapat menurunkan suhu tubuh, karena daerah tersebut terdapat pembuluh darah besar sehingga mempercepat penguapan.
-    Berikan baju tipis
R / :  Dengan Baju tipis diharapkan akan mengetahui perubahan dan perkembangan sedini mungkin.
-    Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga
R / : Dengan diberikan penjelasan diharapkan akan menambah pengetahuan klien tentang penyakit.
-    Kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam pemberian obat antipiretik
R / : Dengan obat anti piretik diharapkan dapat menurunkan panas.
4.       Diagnosa keperawatan IV
Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan penderita selama kejang sehubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan

KH
:

:
Keluarga mengerti maksud dan tujuan dilakukan tindakan perawatan selama kejang.
-    Keluarga mengerti cara penanganan kejang.
-    Keluarga tanggap dan dapat melaksanakan peawatan kejang.
-    Keluarga mengerti penyebab tanda yang dapat menimbulkan kejang.
Rencana tindakan
-    Informasi keluarga tentang kejadian kejang dan dampak masalah, serta beritahukan cara perawatan dan pengobatan yang benar.
R / : Diharapkan keluarga mengetahui cara perawatan dan pengobatan yang benar.
-    Informasikan juga tentang bahaya yang dapat terjadi akibat pertolongan yang salah.
R / : Diharapkan keluarga mengerti akibat dari pertolongan yang salah.
-    Ajarkan kepada keluarga untuk memantau perkembangan yang terjadi akibat kejang.
R / : Diharapkan keluarga mengerti bahaya dari kejang.
-    Kaji kemampuan keluarga terhadap penanganan kejang.
R / : Dengan mengkaji pada keluarga diharapkan mampu menangani gejala-gejala yang menyebabkan kejang.




DAFTAR PUSTAKA


Arif Mansjoer, dkk, 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga jilid 2, Media Aescolapiu, FKUI Jakarta.
Ergle, Joyse, 1999. Penghasilan Pediatrik. Edisi 2. EGC : Jakarta.
Nelson, 1993. Ilmu kesehatan Anak. Bagian 2, EGC : Jakarta.
Pedoman Standart Asuhan Keperawatan Departemen Kesehatan Ri. RI, 1994, Jakarta.
Pedoman Diagnosis dan Terapi “Lab / UPF Kesehatan Anak” 1994. RSUD Dokter Suetomo, Surabaya.





















LAPORAN PENDAHULUAN
(L.P)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANAK A
DENGAN KEJANG DEMAM
DI – RS AL – IRSYAD SURABAYA




 












Oleh :
FASHATIN
NIM : 200115





AKADEMI KLEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2004











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar