Info Kesehatan

healhty

Minggu, 08 April 2012

asuhan keperawatan keluarga



 BAB 1
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Pembangunan kesehatan masyarakat diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat yang dilakukan dengan memprioritaskan pada upaya promotif dan preventif, kuratif serta rehabilitatif yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan agar mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal maka sasaran yang utama adalah keluarga, karena keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Bila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan maka akan mempengaruhi keluarga yang lain.
Kurang Energi Protein (KEP) adalah salah satu maslah gizi utama yang banyak dijumpai pada Balita di Indonesia. Dalam repelita VI pemerintah dan masyarakat berupaya menurunkan prevalensi KEP dari 40% menjadi 30% namun saat ini Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang berdampak pada status gizi balita.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut diperlukan kesiapan dan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam mencegah dan menanggulangi KEP ringan sampai berat secara terpadu di setiap jenjang administrasi termasuk kesiapan sarana pelayanan kesehatan seperti di Rumah Sakit Umum, Puskesmas Perawatan, Puskesmas, Balai Pengobatan (BP), Puskesmas Pembantu, Posyandu, atau PPG (Pusat Pelayanan Gizi) (Depkes RI, 2000 : 1).
Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain diluar kesehatan ibu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatan tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri tetapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah-masalah sehat sakit untuk itu diharapkan tenaga kesehatan khususnya Bidan dapat membantu mendeteksi dini timbulnya masalah kesehatan dalam keluarga.


1.2    Tujuan
1.2.1        Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa Akademi Kebidanan Griya Husada mendapat pengalaman nyata dalam memberikan Asuhan Kebidanan pada keluarga secara langsung, serta mampu bersikap etis, rasional dan profesional dalam menambah dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan.

1.2.2        Tujuan Khusus
Diharapkan  mahasiswa Akademi Kebidanan mampu :
1.      Melaksanakan pengkajian pada keluarga dengan KEP.
2.      Menganalisa data pada keluarga dengan KEP.
3.      Merumuskan masalah pada keluarga dengan KEP.
4.      Menentukan diagnosa keperawatan pada tingkat keluarga.
5.      Menentukan prioritas masalah.
6.      Melakukan perencanaan atau intervensi pada keluarga dengan KEP.
7.      Melakukan penilaian atau evaluasi pada keluarga dengan KEP.

1.3    Batasan Masalah
Mengingat Asuhan Kebidanan keluarga cukup kompleks tetapi karena waktu dan kemampuan yang terbatas, maka penulis membatasi makalah ini pada Asuhan Kebidanan dengan salah satu anggota keluarga menderita KEP di    RW 03 Kelurahan Dukuh Pakis, Kecamatan Dukuh Pakis Surabaya.

1.4    Metode Penulisan
1.4.1        Studi Kepustakaan
Dalam penyusunan makalah ini sebagai pedoman, penulis mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan keluarga, kurang energi protein, rumah sehat.

1.4.2        Praktek langsung
Merupakan suatu pendekatan yang dilakukan penulis secara langsung pada keluarga Tn ”W” untuk memperoleh gambaran tentang identitas masing-masing anggota. Penyakit lain yang pernah diderita, sosial, budaya dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk dapat bersama-sama keluarga binaan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada. Adapun pengumpulan data ini dilakukan melalui :
1.      Wawancara
2.      Observasi / pengamatan.
3.      Pemeriksaan fisik.

1.5    Sistematika Penulisan
BAB 1   PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
1.2    Tujuan
1.3    Batasan Masalah
1.4    Metode Penulisan
1.5    Sistematika Penulisan

BAB 2   LANDASAN TEORI
2.1    Konsep Dasar Keluarga
2.1.1        Definisi
2.1.2        Struktur Keluarga
2.1.3        Ciri-ciri Struktur Keluarga
2.1.4        Tipe atau Bentuk Keluarga
2.1.5        Pemegang Kekuasaan
2.1.6        Peranan Keluarga
2.1.7        Fungsi Keluarga
2.1.8        Tugas-tugas Keluarga
2.1.9        Tipotologi Masalah Kesehatan Keluarga
2.2    Kurang Energi Protein (KEP)
2.2.1        Pengertian
2.2.2        Etiologi
2.2.3        Klasifikasi KEP
2.2.4        Marasmus, Kwasiokor, Marasmus dan Kwasiokor
2.2.5        Pencegahan KEP
2.2.6        Cara Menentukan Balita KEP
2.3    Konsep Asuhan Kebidanan
BAB 3   TINJAUAN KASUS
3.1    Pengkajian
3.2    Identifikasi Masalah/Diagnosa
3.3    Rumusan Masalah
3.4    Susunan Prioritas Masalah
3.5    Proses Manajemen Kebidanan

BAB 4   PEMBAHASAN
BAB 5   PENUTUP
5.1    Simpulan
5.2    Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB 2
LANDASAN TEORI


2.1    Konsep Dasar Keluarga
2.1.1        Definisi
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1998).

2.1.2        Struktur Keluarga
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya yaitu :
1.      Partilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2.      Martilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah, dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3.      Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4.      Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
5.      Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga, karena adanya hubungan dengan suami atau istri.



2.1.3        Ciri-ciri Struktur Keluarga
1.      Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga.
2.      Adanya keterbatasan
Setiap anggota keluarga memiliki keterbatasan tetapi meraka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsinya dan tugasnya masing-masing.
3.      Ada perbedaan dan kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peran serta dan fungsinya masing-masing.

2.1.4        Tipe atau Bentuk Keluarga
1.       Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak-anak.
2.       Keluarga besar (extended family)
Yaitu keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya : nenek, kakek, keponakan, saudara, sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
3.       Keluarga berantai (serial family)
Keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
4.       Keluarga duda/janda (single family)
Keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
5.       Keluarga komposisi (composite)
Keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersamaan.
6.       Keluarga kabitas (cahabitation)
Yaitu dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.





2.1.5        Pemegang Kekuasaan Keluarga
1.      Patriakal
Yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah dipihak ayah.
2.      Matriakal
Yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah dipihak ibu.
3.      Equalitation
Yang memegang kekuasan dalam keluarga adalah ayah dan ibu.

2.1.6        Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat didalam keluarga adalah sebagai berikut :
1.      Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2.      Peranan ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3.      Peranan anak
Melaksanakan peranan psiko sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

2.1.7        Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan sebagai berikut :
1.      Fungsi Biologis
a.       Untuk meneruskan keturunan.
b.      Memelihara dan membesarkan anak.
c.       Memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
d.      Memelihara dan merawat anggota keluarga.
2.      Fungsi psikologis
a.       Memberi kasih sayang dan rasa aman.
b.      Memberi perhatian diantara anggota keluarga.
c.       Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
d.      Memberikan identitas keluarga.
3.      Fungsi sosialisasi
a.       Membina sosialisasi pada anak.
b.      Membentuk norma-norma, tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
c.       Menerukan nilai-nilai budaya keluarga.
4.      Fungsi Ekonomi
a.       Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
b.      Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
c.       Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga   dimasa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya.
5.      Fungsi Pendidikan
a.       Menyekolahkan anak untuk memberi pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai bakat dan minat yang dimilikinya.
b.      Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
c.       Mendidik anak sesuai dengan tingkat tumbuh kembangnya.
2.1.8        Tugas-tugas Keluarga
1.      Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
2.      Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada didalam keluarga.
3.      Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya.
4.      Sosialisasi antar anggota keluarga.
5.      Pengaturan jumlah anggota keluarga.
6.      Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
7.      Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
8.      Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga.

2.1.9        Tipologi Masalah Kesehatan Keluarga
Dalam tipologi masalah kesehatan ada 3 kelompok masalah besar, yaitu :
1.      Ancaman kesehatan adalah keadaan-keadaan yang dapat mencapai potensi kesehatan yang termasuk dalam ancaman kesehatan :
a.       Penyakit turunan, seperti asthma bronkiale, diabetes millitus, dan sebagainya.
b.      Keluarga/anggota keluarga yang menderita penyakit menular seperti TBC, gonorhoe, hepatitis dan sebagainya.
c.       Jumlah anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan dan sumber daya keluarga seperti anak terlalu banyak sedang penghasilan keluarga kecil.
d.      Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga, misalnya benda tajam diletakkan sembarangan, tangga rumah terlalu curam.
e.       Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-masing anggota keluarga.
f.       Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan stress antara lain :
-          Hubungan keluarga yang kurang harmonis.
-          Hubungan anak dan orang tua tegang.
-          Orang tua yang tidak dewasa.

g.      Sanitasi lingkungan yang buruk, diantaranya :
-          Ventilasi dan penerangan rumah kurang baik.
-          Tempat pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat.
-          Tempat pembuangan tinja mencemari air minum.
-          Selokan atau tempat pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat.
-          Sumber air minum yang tidak memenuhi syarat.
-          Kebisingan.
-          Polusi udara.  
h.      Kebiasaan-kebiasaan yang merugikan kesehatan :
-          Merokok.
-          Minuman keras.
-          Tidak memakai alat kaki.
-          Makan obat tanpa resep.
-          Kebiasaan makan daging menta.
-          Hygiene personal kurang.
i.        Sifat kepribadian yang melekat, misalnya pemarah.
j.        Riwayat persalinan sulit.
k.      Memainkan peranana yang tidak sesuai, misalnya : anak wanita memainkan peran ibu karena meninggal, anak laki-laki memainkan peranan ayah.
l.        Imunisasi anak tidak lengkap.
2.      Kurang atau tidak sehat adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan, yang termasuk diantara adalah :
a.       Keadaan sakit, apakah sesudah atau sebelum didiagnosa.
b.      Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.
3.      Situasi krisis adalah saat-saat yang banyak menurut individu atau keluarga dalam penyesuaian diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga yang termasuk dalam situasi krisis adalah :
a.       Perkawinan.
b.      Kehamilan.
c.       Persalinan
d.      Masa nifas
e.       Menjadi orang tua
f.       Penambahan anggota keluarga, misalnya bayi baru lahir.
g.      Abortus.
h.      Anak masuk sekolah.
i.        Anak remaja.
j.        Kehilangan pekerjaan.
k.      Kematian anggota keluarga.
l.        Pindah rumah.
(Nasrul Effendi, 1998 : 32-50)

2.2    Kurang Energi Protein (KEP)
2.2.1        Pengertian
Kurang Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) (Markum, 1991).

2.2.2        Etiologi
1.      Masukan yang tidak adekuat dihubungkan dengan ketidakmampuan atau penyakit yang menyebabkan anorexia.
2.      Kebutuhan energi yang meningkat karena infeksi, demam, trauma, neoplasma, hypertiroid, dan distress pada jantung dan pernafasan.
3.      Meningkatkan energi yang terbuang dapat disebabkan muntah, diare, dan sindroma malabsorbsi, juga menurunkan retensi energi.

2.2.3        Klasifikasi
1.      KEP ringan yang hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak garis putih
2.      KEP sedang yaitu jika hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak Dibawah Garis Merah (BGM).
3.      KEP berat / gizi buruk yaitu bila hasil penimbangan berat badan < 60%, baku median pada KMS tidak ada garis pemisah KKP berat atau gizi buruk digunakan tabel.
Adapun tabel BB yang digunakan untuk menentukan tingkatan KEP :
Kurang Kalori Protein
Baik atau Normal
Lebih
Berat
Sedang
Ringan
BB < 60%
BB 60-70%
BB 70-80%
80-110%
BB > 110%

Dengan perhitungan :
Adapun sindroma marasmus, kwasiokor dan marasmus yang merupakan KEP itu tidaklah sering ditemukan pada KEP ringan, sedang hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa jenis dan kebiasaan makan berlainan antara satu dengan daerah lainnya, iklim, keadaan lingkungan, sanitasi-hygiene yang buruk serta infeksi yang berulang yang ditimbulkan.

2.2.4        Marasmus, Kwasiokor, Marasmus dan Kwasiokor
1.      Marasmus Kwasiokor
Adalah makanan tidak adekuat, melalui absorbsi dan penyakit hati dengan tanda dan gejala seperti sebagai berikut :
a.       Keadaan umum apatis
b.      Berat badan sangat menurun.
c.       Gangguan pertumbuhan dan kelainan kulit.
Apabila masukan energi kurang dan cadangan lemak terpakai, bayi atau anak akan jatuh menjadi marasmus, sebaliknya bila cadangan protein dipakai untuk energi maka gejala kwasiokor akan menyertai.
2.      Marasmus
Adalah suatu penyakit kekurangan pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai dengan tanda atau gejala wajah seperti orang tua, badan kurus, tidak ada lapisan lemak, kelihatan sangat lapar, mata cekung, kadang-kadang disertai mencret menahun dan anak biasanya lebih aktif atau tidak apatis.
Marasmus sering terjadi pada bayi di bawah 12 bulan.
Tanda dan gejala marasmus antara lain :
a.       Kurangnya (bahkan tidak ada) jaringan lemak dibawah kulit, sehingga tampak seperti bayi yang memakai pakaian yang terlalu berat untuk ukurannya.
b.      Wajah tampak menua (old man / monkey fase).
c.       Atropi jaringa, otot lemah terasa kendor atau ini dapat dilihat pada paha dan pantat bayi yang seharusnya kuat, kenyal dan tebal.
d.      Biasanya kelaparan dan cengeng.
Pada marasmus tingkat berat, terjadi retradasi pertumbuhan, berat badan dibanding usianya sampai kurang 60% standar berat normal, sedikitnya jaringan adiposa pada marasmus berat tidak menghalangi homeostatis, oksidasi lemak tetap utuh namun menghabiskan cadangan lemak tubuh.
3.      Kwashiorkor
Adalah suatu penyakit gangguan keseimbangan protein dengan tanda muka bulan, rambut merah seperti jagung, menipis, mudah rontok dan mudah dicabut, kulit tampak pucat, BB kurang, anak tampak apatis dan kadang terdapat ruam seperti cat tua mengelupas pada lengannya, kasus kwasiokor biasanya terjadi pada anak usia 1-3 tahun, pertumbuhan terhambat, jaringan otot lunak dan kendor, namun jaringan lemak di bawah kulit masih ada. Pada kwasiokor pengaruh terhadap sistem neurologi dijumpai adanya tremor seperti parkinson yang berpengaruh terhadap jaringan (cadangan) syaraf tunggal maupun syaraf kelompok pada otot.  






2.2.5        Pencegahan KEP
Kurang energi protein disebabkan oleh multi faktor yang saling terkait sinergis secara klinis maupun lingkungan (masyarakat). Pencegahan hendaknya meliputi seluruh faktor secara simultan dan konsisten. Meskipun KKP tidak sepenuhnya dapat diberantas, tanpa harus menunggu dapat segera dilaksanakan beberapa tindakan untuk mengatasi keadaan :
1.      Mengendalikan penyakit-penyakit infeksi diare.
2.      Deteksi dini dan manajemen KEP awal atau ringan.
3.      Memelihara status gizi anak.
4.      Memperkecil dampak penyakit-penyakit infeksi terutama diare di wilayah yang sanitasi lingkungan kurang baik.

2.2.6        Cara Menentukan Balita KEP
Penemuan kasus balita KEP dapat dimulai dari :
1.      Keluarga / Posyandu / Pusat Pemilihan Gizi
Pada penimbangan bulanan dapat diketahui apakah termasuk kategori KEP ringan, sedang atau berat. Bila balita termasuk KEP ringan, sedang perawatan dapat dilakukan di rumah, tetapi bila anak dikategorikan dalam KEP sedang, berat/BGM harus dirujuk ke Puskesmas.
2.      Puskesmas
Semua balita yang datang ke Puskesmas harus ditentukan status gizinya. Apabila ditentukan balita KEP sedang-berat segera lakukan pemeriksaan ulang dan kaji secara teliti, apabila balita tersebut termasuk dalam kategori KEP sedang atau KEP berat. Bila KEP sedang tanpa penyakit penyerta berat dapat dilakukan rawat jalan di Puskesmas. Bila KEP berat (tanda klinik positif) harus dilakukan rawat inap di Puskesmas atau dirujuk ke Rumah Sakit Umum terdekat.
(Depkes RI, 1999)



2.3    Konsep Asuhan Kebidanan Keluarga
2.3.1        Definisi
Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan berdasarkan teori yang ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan untuk mengambil keputusan yang berfokus pada klien (Varney, 1997).

2.3.2        Tujuan Asuhan Kebidanan
Asuhan Kebidanan pada balita gizi buruk dalam konteks keluarga bertujuan untuk :
1.      Mempertahankan kesehatan balita dengan gizi buruk.
2.      Mencegah komplikasi yang lebih parah pada balita gizi buruk.
3.      Mendapatkan balita yang sehat.

2.3.3        Sasaran Asuhan Kebidanan
Sasaran Asuhan Kebidanan adalah balita gizi buruk dan seluruh anggota keluarga, terutama anggota keluarga yang tinggal serumah karena keluarga mempunyai peran yang sangat besar terhadap kesehatan balita.

2.3.4        Metode Asuhan Kebidanan
Dalam melakukan Asuhan Kebidanan pada balita gizi kurang digunakan manajemen kebidanan menurut Helen Varney.

2.3.5        Proses Manajemen Menurut Helen Varney
1.      Melakukan pengkajian (pengumpulan data).
2.      Mengidentifikasi masalah / diagnosa.
3.      Menentukan antisipasi masalah potensial.
4.      Mengidentifikasi kebutuhan segera.
5.      Menentukan rencana Asuhan Kebidanan.
6.      Mengimplementasi Asuhan Kebidanan.
7.      Mengevaluasi Asuhan Kebidanan.

1.      Pengumpulan Data
Pada pengumpulan data ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap yaitu :
a.       Data umum
1)      Alamat
Meliputi antara lain lokasi tempat tinggal keluarga, kecamatan, RT, RW, alamat untuk mengetahui dimana tempat tinggal keluarga untuk dijadikan petunjuk saat kunjungan rumah (Nasrul Effendy, 1995 : 257).
2)      Identitas keluarga
-          Nama kepala keluarga : untuk dapat mengenal kepala keluarga dan mencegah kekeliruan bila ada kesamaan nama.
-          Umur : untuk menentukan kematangan sebuah keluarga, perkawinan yang sehat dilakukan pada usia diatas 20 tahun bagi wanita dan diatas 25 tahun bagi pria.
-          Agama : dinyatakan untuk mengetahui kepercayaan yang dianut oleh keluarga.
-          Pendidikan : digunakan untuk menentukan bahasa yang digunakan dalam penyampaian informasi.
-          Pekerjaan : untuk menentukan taraf hidup dan sosial ekonomi keluarga tersebut.
-          Perkawinan : untuk menentukan keadaan alat reproduksi ayah dan ibu.
3)      Susunan anggota keluarga
Dinyatakan untuk mengetahui jumlah keluarga dalam satu rumah, status keluarga, hubungan dalam keluarga, dan pengambil keputusan dalam keluarga.
4)      Genogram keluarga
Ditanyakan untuk mengetahui silsilah keluarga dari keluarga istri dan keluarga suami, serta keluarga yang tidak dibina.
b.      Data khusus
1)      Imunisasi
Untuk mengetahui kelengkapan imunisasi setiap anggota keluarga.
2)      Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Untuk menilai keterjangkauan keluarga terhadap sarana kesehatan dan apabila dalam keluarga ada salah satu anggota keluarga yang sakit dan kepercayaan keluarga pada tenaga kesehatan.
3)      Jenis penyakit yang sering diderita
Untuk menilai tingkat kesehatan masing-masing anggota keluarga, penanganan apa saja yang sudah diterima dan hasil  yang didapat, apakah penyakit yang diderita dapat disembuhkan dengan tuntas atau belum.
4)      Pemeriksaan kehamilan
Untuk memantau kehamilannya oleh petugas kesehatan, berapa kali periksa kehamilan, apakah sudah pernah mendapatkan imunisasi TT, apakah sudah mendapatkan tablet tambah darah minimal 90 tablet dan Vit. B complek serta yodium, penyuluhan tentang bahaya kehamilan, gizi ibu hamil.
5)      Pertolongan persalinan
Ditanyakan pada ibu siapa penolong persalinan yang lalu, apakah pada persalinan yang lalu ada penyulit seperti pendarahan, sectio caesaria, solutio placenta.
6)      Kebiasaan menyapih
Ditanyakan untuk menilai nutrisi pada anak khususnya dalam pemberian ASI pada bayi.
7)      Pemberian makanan tambahan
Ditanyakan untuk mengetahui apakah ibu melaksanakan program ASI eksklusif pada saat anaknya masih bayi yaitu pemberian ASI sampai bayi berusia 6 bulan dan setelah itu diberikan makanan tambahan.
8)      Tanggapan terhadap KB
Ditanyakan untuk menilai apakah ibu melaksanakan program KB serta menilai pengetahuan ibu terhadap KB yang telah dipilih dan digunakan tentang manfaat dan efek samping dari KB.
9)      Pola hidup
a)      Pola tidur : Tidur sangat penting untuk menentukan kondisi setiap anggota keluarga.
b)      Pola makan : Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pada keluarga dan untuk mengetahui bahan makanan apakah yang dikonsumsi oleh keluarga.
c)      Pola kebersihan diri : Menjaga kebersihan diri tubuh dapat membantu mencegah infeksi, diusahakan mandi dengan air bersih dan ganti pakaian setiap kali kotor.
d)     Pola eleminasi : Untuk mengetahui pola buang air besar dan pola buang air kecil anggota keluarga, selain itu juga untuk mengetahui fungsi alat pencernaan.
10)  Adat kebiasaan
Pada adat kebiasaan digunakan untuk mengetahui diadakannya selamatan atau ritual-ritual khusus.
11)  Penggunaan waktu senggang
Penggunaan waktu senggang keluarga menggunakan waktu untuk berkumpul bersama anggota keluarga, nonton TV dan berbincang-bincang dengan tetangga.
c.       Data subyektif
Dilakukan pemeriksaan antara lain :
1)      Tanda-tanda vital
-          Suhu normal 360-370C jika > 380C kemungkinan terjadi infeksi.
-          Nadi normal 90-120x/menit.
-          Pernafasan normal 30-40x/menit.
-          BB apakah sesuai dengan umur anak, umur anak 1,6 tahun BB normal : 12500 gram.
-          TB apakah sesuai dengan umur anak, umur anak 1,6 tahun TB normal :
2)      Pemeriksaan fisik dilakukan pada balita
Kepala       :  Kulit kepala bersih atau kotor, ada benjolan atau tidak.
Muka         :  Kesimetrisan, tidak ada tanda conjungtivitis, sklera mata kuning atau tidak, selaput lendir mata pucat atau tidak.
Hidung      :  Tidak ada polip, keluar cairan atau tidak.
Telinga      :  Simetris atau tidak, keluar serumen atau tidak.
Mulut        :  Simetris atau tidak, bibir pucat atau tidak, gigi caries atau tidak.
Leher         :  Bila mengalami pembesaran kelenjar thyroid kemugkinan balita tersebut kekurangan yodium, bila ada pembesaran vena jugularis menunjukkan adanya penyakit jantung.
Tangan      :  Simetris atau tidak, pergerakan aktif atau tidak.
Ketiak       :  Ada pembesaran kelenjar lymfe atau tidak.
Dada         :  Pernafasan normal atau tidak.
Perut          :  Ada pembesaran hepar atau tidak, ada pembesaran lien atau tidak.
Kaki          :  Simetris atau tidak, jari-jari lengkap atau tidak.
Anus          :  Ada haemorroid atau tidak.
Genetalia   :  Testis sudah turun ke dalam kantong scrotum atau belum pada lak-laki, dan labio mayora sudah menutup labia minora atau belum pada anak perempuan.
3)      Auskultasi
Untuk mendengar bising usus balita sehingga dapat diketahui kondisi alat pencernaan berfungsi dengan baik atau ada gangguan.
2.      Analisa Data
Di dalam analisa data ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan kesehatan keluarga yaitu :
a.       Keadaan kesehatan yang normal dari setiap anggota keluarga meliputi :
-          Keadaan kesehatan fisik, mental, sosial anggota keluarga.
-          Keadaan gizi anggota keluarga.
-          Status imunisasi anggota keluarga.
-          Kehamilan dan keluarga berencana.
b.      Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan
-          Rumah : ventilasi, penerangan, kebersihan, konstruksi, luas rumah dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga dan sebagainya.
-          Sumber air minum.
-          Jamban keluarga.
-          Tempat pembuangan air limbah.
-          Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya.
c.       Karakteristik keluarga
-          Sifat-sifat keluarga.
-          Komunikasi dalam keluarga.
-          Interaksi antar anggota keluarga.
-          Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota keluarga.
-          Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga.

3.      Perumusan Masalah
Perumusan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga yang diambil didasarkan kepada penganalisaan praktek lapangan yang didasarkan kepada analisa konsep, prinsip, teori dan standar yang dapat dijadikan acuan dalam menganalisa sebelum mengambil keputusan tentang masalah kesehatan dan keperawatan keluarga.


Dalam tripologi masalah kesehatan keluarga ada 3 kelompok masalah besar, yaitu :
a.       Ancaman kesehatan : keadaan-keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegawatan dalam mencapai potensi kesehatan yang termasuk dalam ancaman kesehatan :
1)      Penyakit keturunan, seperti asthma bronkiale, diabetes millitus, dan sebagainya.
2)      Keluarga atau anggota keluarga yang menderita penyakit menular seperti TBC, gonore, hepatitis dan sebagainya.
3)      Jumlah anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan dan sumber daya keluarga seperti anak terlalu banyak sedang penghasilan keluarga kecil.
4)      Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga, misalnya benda tajam diletakkan sembarangan, tangga rumah terlalu curam.
5)      Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-masing anggota keluarga.
6)      Keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan stress antara lain :
-          Hubungan keluarga yang kurang harmonis.
-          Hubungan anak dan orang tua tegang.
-          Orang tua yang tidak dewasa.
7)      Sanitasi lingkungan yang buruk, diantaranya :
-          Ventilasi dan penerangan rumah kurang baik.
-          Tempat pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat.
-          Tempat pembuangan tinja mencemari sumber air minum.
-          Selokan atau tempat pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat.
-          Sumber air minum yang tidak memenuhi syarat.
-          Kebisingan.
-          Polusi udara. 
8)      Kebiasaan-kebiasaan yang merugikan kesehatan :
-          Merokok.
-          Minuman keras.
-          Tidak memakai alat kaki.
-          Makan obat tanpa resep.
-          Kebiasaan makan daging mentah.
-          Hygiene personal kurang.
9)      Sifat kepribadian yang melekat.
10)  Riwayat persalinan sulit.
11)  Memainkan peranana yang tidak sesuai.
12)  Imunisasi anak tidak lengkap.
b.      Kurang atau tidak sehat adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan, yang termasuk didalamnya adalah :
1)       Keadaan sakit, apakah sesudah atau sebelum didiagnosa.
2)       Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.
c.       Situasi krisis adalah saat-saat yang banyak menurut individu atau keluarga dalam penyesuaian diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga yang termasuk dalam situasi krisis adalah :
1)       Perkawinan.
2)       Kehamilan.
3)       Persalinan
4)       Masa nifas
5)       Menjadi orang tua
6)       Penambahan anggota keluarga, misalnya bayi baru lahir.
7)       Abortus.
8)       Anak masuk sekolah.
9)       Anak remaja.
10)   Kehilangan pekerjaan.
11)   Kematian anggota keluarga.
12)   Pindah rumah.

4.      Diagnosa Keperawatan pada Tingkat Keluarga
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan tentang faktor-faktor yang mempertahankan respons / tanggapan yang tidak sehat dan menghalangi perubahan yang diharapkan.
Diagnosa yang didapatkan pada tingkat keluarga ini adalah :
a.       Kurangnya tanggapan keluarga mengenai imunisasi.
b.      Kurangnya tanggapan keluarga tentang KB.
Dalam menetapkan diagnosa perawatan keluarga, ditetapkan berdasarkan faktor resiko dan faktor potensial terjadinya penyakit atau masalah kesehatan keluarga, serta mempertimbangkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya seperti yang telah diterapkan di atas. Diagnosa keperawatan ditegakkan dengan menggunakan formulasi PES (Problem, Etiologi dan Sign).

5.      Prioritas Masalah
Setelah menentukan diagnosa atau masalah keperawatan, langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas kesehatan dan keperawatan keluarga perlu disusun skala prioritas sebagai    berikut :
No
Kriteria
Nilai
Bobot
1
Sifat masalah
Skala :
Ancaman kesehatan
Tidak/kurang sehat
Krisis


2
3
1
1
2
Kemungkinan masalah dapat diubah
Skala :
Dengan masalah
Hanya sebagian
Tidak dapat


2
1
0
2
3
Potensial masalah dapat diubah
Skala :
Tinggi
Cukup
Rendah


3
2
1
1
No
Kriteria
Nilai
Bobot
4
Menonjol masalah
Skala
Masalah berat harus ditangani
Masalah yang tidak perlu segera ditangani
Masalah tidak dirasakan


2
1
0
1

Skoring : 
a.       Tentukan skor untuk setiap kriteria.
b.      Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan bobot
c.       Jumlahnya skor untuk semua kriteria
d.      Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot.

Kriteria prioritas masalah :
a.       Sifat masalah, dikelompokkan menjadi
1)      Ancaman kesehatan
2)      Keadaan sakit atau kurang sehat.
3)      Situasi krisis.
b.      Kemungkinan masalah dapat dirubah adalah kemungkinan keberhasilan untuk mengurangi masalah atau mencegah masalah bila dilakukan intervensi keperawatan dan kesehatan.
c.       Potensi masalah untuk dicegah adalah sifat dan beratnya masalah yang akan timbul dan dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan keperawatan dan kesehatan
d.      Masalah yang menonjol adalah cara keluarga melihat dan menilai masalah dalam nol beratnya dan mendesaknya untuk diatasi melalui intervensi keperawatan dan kesehatan.







6.      Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaksanakan, dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi.
Diagnosa   :  Balita dengan KEP sedang
Tujuan       :  -  Jangka pendek
                        Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan selama ± 1 jam diharapkan ibu balita mengerti tentang penjelasan yang diberikan petugas, dengan kriteria :
·         Ibu balita mengerti dan mampu menjelaskan kembali
·         Ibu mencoba merubah makanan sesuai dengan penjelasan petugas
                    -  Jangka panjang
                       Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan selama ± 1 minggu dalam 2 kali kunjungan keluarga mampu mengenal masalah kesehatan kurang energi protein, dengan kriteria :
·         Anak mau makan
·         Berat badan anak naik ½ kg dalam 1 minggu.
Intervensi dan rasional
1)       Lakukan pendekatan therapeutik antara balita dan keluarga
R/  Dengan melakukan hubungan therapeutik akan menciptakan pendekatan dan kerja sama yang baik antara keluarga dan petugas  
2)       Jelaskan pada keluarga tentang :
a.       Pengertian, penyebab dan akibat anak yang KEP
R/   Ibu lebih waspada dalam memberikan makanan pada anak.
b.      Pentingnya gizi pada balita
R/   Menambah pengetahuan ibu, keluarga tentang gizi bagi balita KEP
c.       Jenis makanan yang bergizi yaitu makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral
 R/  Menambah pengetahuan ibu tentang makanan yang bergizi
3)       Anjurkan pada ibu memilih sayuran yang baik dan segar
R/  Menu yang seimbang dapat meningkatkan tumbuh kembang anak dan meningkatkan selera makan anak
4)       Jelaskan cara pemberian makanan pada balita secara teratur
R/  Menambah BB balita secara teratur akan naik 
5)       Motivasi keluarga untuk menimbangkan BB anak melalui Posyandu
R/  Mengetahui perkembangan anak
6)       Anjurkan ibu untuk mengambil PMT
R/  Memberi tambahan asupan gizi bagi balita

7.      Penilaian / Evaluasi
Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan, apabila dalam penilaian tujuan tidak tercapai maka perlu dicari penyebabnya.
a.       Hal ini dapat terjadi karena
-          Tujuan tidak realistis
-          Tindakan keperawatan yang tidak tepat.
-          Ada faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi.
b.      Metode penelitian
-          Observasi langsung
Mengamati secara langsung perubahan yang terjadi dalam keluarga. 
-          Wawancara
Mewawancarai keluarga yang berkaitan dengan perubahan sikap apakah telah menjalankan anjuran yang diberikan petugas. 

-          Memeriksa laporan
Dapat dilihat dari rencana asuhan keperawatan yang dibuat dan tindakan yang dilaksanakan sesuai rencana. 
-          Latihan stimulasi
Latihan stimulasi berguna dalam menentukan perkembangan kesanggupan melaksanakan Asuhan keperawatan.
(Effendi, Nasrul, 1998)


BAB 3
TINJAUAN KASUS


Pengkajian
Tanggal 15-02-2008         Jam : 10.30 WIB
            Data Subyektif
Data umum
Kecamatan     :   Dukuh Pakis
Kelurahan       :   Dukuh Pakis
RT/RW           :   04/03
Alamat            :   Dukuh Pakis 6A/1-F
Kepala keluarga  
Nama              :   Tn.”W”
Umur              :   28 tahun
Agama            :   Islam
Pendidikan     :   SMA
Pekerjaan        :   Swasta
Penghasilan    :   -
Suku/Bangsa :   Jawa/Indonesia

Susunan Anggota Keluarga
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Hubungan dengan KK
Pekerjaan atau
Pendidikan
Keadaan Kesehatan Waktu Kunjungan Pertama atau Imunisasi yang didapat
Tn.Wiranto
L
28 thn
Kep. Keluarga
Swasta/SMA 
Sehat
Ny.Susilawati
P
26 thn
Istri
IRT/D3
Sehat
An.Sabrina
P
16 Bln 
Anak ke-I
-
Sehat/imunisasi lengkap






Genogram















Keterangan :
                        :  Laki-laki
                        :  Perempuan
                        :  Tinggal Serumah
                        :  Garis keturunan
                        :  Garis perkawinan
                        :  Klien

Keadaan Kesehatan Keluarga
Riwayat kesehatan keluarga yang lalu dan sekarang
1.      Bapak ”W” anak ke-2 dari 2 bersaudara sebagai kepala keluarga, tidak pernah menderita penyakit ginjal, jantung, asthma, kencing manis, hipertensi, hepatitis, kalaupun sakit cuma batuk, pilek biasa dan berobat ke Dokter.
2.      Ibu ”S” anak ke-2 dari 3 bersaudara sebagai istri, tidak pernah menderita penyakit ginjal, jantung, asthma, kencing manis, hipertensi, hepatitis, kalaupun sakit cuma batuk, pilek biasa dan berobat ke dokter.
3.      Anak ”S” anak tunggal sebagai anak, dalam keluarga tersebut selama dalam masa kandungan ibu tidak pernah mengalami gangguan sampai lahir. Umur kehamilan 9 bulan, keadaan waktu lahir baik, lahir spontan, letak belakang kepala, segera menangis, tidak cacat, berat badan lahir 3000 gram, panjang badan 50 cm, lahir ditolong oleh Bidan tahun 2003. Bila anak sakit upaya yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dengan membawa anak tersebut berobat ke dokter atau bidan, imunisasi sudah lengkap. Saat dikunjungi keadaan anak ”S” tampak kurus, BB : 8000 gram, TB : 75 cm, lingkar lengan : 12 cm, lingkar kepala 45 cm, perkembangan motorik anak ”S” sudah dapat berjalan sendiri, makan sendiri.

Pemeriksaan Khusus
Rambut       :  Hitam ikal, pertumbuhan merata, perabaan halus, fontanel mayor sudah menutup.
Mata           :  Simetris, selaput lendir mata tidak pucat, sklera mata tidak ikterus, tidak ada conjungtivitis, tidak ada bintik bitot.
Hidung       :  Simetris, tidak pernah mimisan, kebersihan cukup.
Telinga        :  Simetris, kebersihan cukup, tidak ada serumen.
Mulut          :  Bibir tidak pucat, tidak ada stomatitis, tanda rhagaden tidak ada, gigi sudah tumbuh lengkap.
Leher          :  Pembesaran kelenjar limfe tidak ada, pembesaran kelenjar thyroid tidak ada, tidak ada bendungan vena jugularis.
Ketiak         :  Pembesaran kelenjar limfe tidak ada, tidak ada assesoriasis mammae, kebersihan cukup.
Tangan        :  Simetris, tidak ada polydactili maupun syndactili, tidak oedema.
Dada           :  Simetris, tidak ada kelainan, pernafasan normal.
Perut           :  Tidak buncit, tidak ada pembesaran hepar, tidak ada pembesaran lien, tidak kembung.
Pelipatan paha : Pembesaran kelenar limfe tidak ada, tanda hernia inguinalis tidak ada.
Punggung   :  Simetris, tidak ada kelainan, tidak ada spina bifida.
Kaki            :  Simetris, tibia baik, jari-jari lengkap.
Anus           :  Tidak ada haemorroid, kebersihan cukup

Pola Kebiasaan Sehari-hari
1.      Tn ”W”
Nutrisi       : Makan 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk pauk. Minum ± 6-7 gelas air putih/hari 
Istirahat    : Siang tidak pernah tidur siang
                    Malam : ± 8 jam, pukul 21.00-05.00 WIB
Personal hygiene : Mandi 2x sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 2x sehari dengan pasta gigi dan ganti baju tiap hari
Eliminasi   : BAB lancar
                    BAK lancar
2.      Ny.”S”
Nutrisi       : Makan 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk pauk. Minum ± 7-8 gelas air putih/hari 
Istirahat    : Siang : ± 2 jam, pukul 12.00-14.00 WIB 
                    Malam : ± 8 jam, pukul 20.30-04.30 WIB
Personal hygiene : Mandi 2x sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 2x sehari dengan pasta gigi dan ganti baju tiap hari
Eliminasi   : BAB lancar
                    BAK lancar
3.      An.”S”
Nutrisi       : Makan 2x sehari dengan nasi, sayur, lauk pauk. Minum susu dan air putih ± 8 botol 60 ml sehari, anak sulit makan 
Istirahat    : Siang : ± 2 jam, pukul 12.00-14.00 WIB 
                    Malam : ± 9 jam, pukul 20.30-05.30 WIB
Personal hygiene : Mandi 2x sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 2x sehari dengan menggunakan pasta gigi dan ganti baju tiap hari
Eliminasi   : BAB lancar
                    BAK lancar

Pengetahuan Pengolahan
Memilih        :  Ibu selalu memilih sayuran yang segar untuk dimasak
Mencuci       :  Setelah dipotong sayuran dicuci sebelum dimasak
Mengolah     :  Ibu memasak sayuran sampai matang
Menyajikan :  Ibu biasa menyajikan makanan dalam keadaan hangat atau dingin.

Tanggapan tentang Keluarga Berencana
Setelah melahirkan ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi suntik maupun pil, ibu menggunakan alat kontrasepsi sederhana yaitu kondom.

Keadaan Sosial Budaya, Ekonomi dan Spiritual
1.      Keadaan sosial budaya
Keluarga selalu mengikuti kebiasaan adat Jawa yang berupa selamatan, baik tiga bulanan, tujuh bulanan, khitanan maupun peringatan hari orang meninggal, hubungan keluarga dengan tetangga baik dan saling tolong menolong. 
2.      Keadaan ekonomi keluarga
Tn.”W” bekerja di sebuah perusahaan swasta, sedangkan ibu sebagai ibu rumah tangga. Penghasilan Tn.”W” digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, keluarga masih bisa menabung sedikit-sedikit.  
3.      Keadaan spiritual
Bapak dan ibu selalu melaksanakan sholat 5 waktu.

            Data Obyektif
Rumah
Luas               :  16 m x 10 m
Jenis rumah    :  Permanen, rumah orang tua
Letak             :  Jauh dari sarang vektor
Dinding         :  Tembok
Atap              :  Genteng
Lantai            :  Tegel
Cahaya          :  Cukup
Jalan angin     :  Cukup
Jendela          :  3

Air minum
Asal                :  Air PDAM
Nilai air           :  Bersih
Konsumsi air   :  Untuk mencuci baju, mandi, mencuci piring, untuk minum dan masak digunakan air galon

Pembuangan sampah
-          Jenis jamban leher angsa
-          Kebersihan cukup.
-          Kamar mandi dekat dengan jamban

Pekarangan dan Selokan
-          Pengaturan teratur.
-          Kebersihan : bersih
-          Air limbah teratur
-          Rumah : tidak ada pekarangan

Denah Rumah
 





















Keterangan :
            :  Pintu sebanyak 6
:  Jendela, sebanyak 3


Interpretasi Data Dasar
Tanggal
Diagnosa/Masalah 
Data Dasar
15-02-2008
Jam
10.30 WIB
Balita dengan KEP sedang

Masalah :
Anak sulit makan

Kebutuhan :
-     Memberikan penyuluhan pada ibu dan keluarga
-     Memberikan PMT

DS :
-      Ibu mengatakan anak ”S” sulit makan, anak hanya mau minum susu.

DO :
-      Anak ”S” sehat, agak kurus
-      Berat badan       : 8000 gram 
-      Panjang badan   : 75 kg
-      Lila                     : 12 cm
-      Lingkar kepala   : 45 cm
-      Umur                  : 16 bulan

Perumusan Masalah
Dari data-data di atas dan hasil analisa yang sederhana maka banyak pemasalahan yang timbul dalam keluarga Tn. Wiranto yang disebabkan oleh faktor kurangnya pengetahuan keluarga dalam menjalankan tugas keluarga dalam bidang kesehatan sehingga timbullah masalah-masalah keluarga sebagai berikut :
-          Balitanya menderita KEP sedang

Susunan Prioritas Masalah
Untuk mengatasi masalah keluarga Tn. Wiranto secara keseluruhan tidak mungkin oleh karena itu diperlukan masalah kesehatan, dimana masalah dan keperawatan yang mengancam kehidupan dan kesehatan itulah yang menjadi prioritas utama. Agar dapat melaksanakan prioritas keluarga secara tepat maka dilakukan pembobotan masalah dengan kriteria sebagai berikut :
-          Balita menderita KEP sedang
No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1
Sifat masalah
2/3 x 1
2/3
Ancaman kesehatan
2
Kemungkinan masalah untuk diubah
2/2 x 2
1
Masalah mudah diubah karena keluarga dapat menjangkau
No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
3
Potensial masalah untuk dirubah
3/3 x 1
1
Kekurangan energi protein dapat dirubah atau diatasi dengan asupan nutrisi yang cukup
4
Menonjolnya masalah
½ x 1
½
Keluarga menyadari masalah tetapi belum segera diatasi
Total skor 
3 1/6




























 
 
































 

 
 
































































 
 
































CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal
Diagnosa
Catatan Perkembangan
22-02-2008
Jam
10.30 WIB
Balita dengan KEP
DS :
-      Ibu mengatakan sudah memberikan PMT kepada anaknya dan mau makan

DO :
-      Keadaan umum baik
-      Ibu mampu menjelaskan kembali tentang pentingnya makan-makanan bergizi
-      Anak mau makan menu yang disediakan ibunya
-      BB anak naik 500 ons

A :
Balita dengan KEP sudah mau makan dan BB anak naik dalam waktu 1 minggu
 
P :
-      Anjurkan pada ibu untuk memilih sayuran yang segar, cara mencuci sayuran, cara mengolah masalah yang baik, dan cara menyajikan masalah
-      Jelaskan cara pemberian makanan pada balita secara teratur
-      Motivasi keluarga untuk menimbang BB anak melalui Posyandu atau Puskesmas











BAB 4
PEMBAHASAN


KEP sedang adalah bila dari hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita warna merah. Penyebab dari KEP sedang salah satunya adalah kurangnya intake makanan sehari-hari, sehingga tidak memenuhi kecukupan gizi yang disebabkan karena kurang ketelatenan ibu dalam memberi makan anaknya. Penghasilan keluarga cukup untuk kebutuhan sehari-hari bahkan keluarga terkadang dapat menabung sedikit-sedikit.
Dalam melaksanakan Asuhan Kebidanan komunitas dengan KEP sedang pada Anak ”S” keluarga bapak ”W” yang berhubungan dengan ketidakmampuan ibu dalam memberi asupan nutrisi yang adekuat pada balitanya. Asuhan Kebidanan ini dilaksanakan tanggal 15 Februari 2008 dengan mengacu pada prosedur yang ada dan rencana Asuhan Kebidanan komunitas selalu disebutkan dengan teori yang ada, sehingga masalah-masalah yang akhirnya terealisasi sesuai dengan kriteria hasil dari tujuan, jangka panjang yaitu :
-          Anak mau makan sesuai kebutuhan anak.
-          Berat badan anak naik.
-          Ibu atau keluarga mampu memberikan makanan menu seimbang.
-          Ibu atau keluarga telaten dalam memberikan makanan.
-          Ibu atau keluarga membawa anaknya ke Posyandu.
Evaluasi dilakukan pada waktu di rumah yang dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2008, berat badan anak naik 500 gram yaitu dari 8 kg menjadi 8,5 kg. Kenaikan berat badan anak tersebut ditunjang dengan pemberian PMT.



BAB 5
PENUTUP


5.1    Simpulan
Setelah melakukan Asuhan Kebidanan komunitas pada keluarga Tn.”W” di RW 03 Kelurahan Dukuh Pakis selama ± 3 minggu dapat disimpulkan :
5.1.1        Pengkajian
Data yang diperoleh berdasarkan identitas klien dan status klien, dari data yang diperoleh tidak ada kesenjangan. Karena klien kooperatif terhadap tindakan yang dilakukan.

5.1.2        Identifikasi Diagnosa / Masalah
Dari identifikasi masalah didapatkan diagnosa : KEP sedang pada An.”S” keluarga bapak ”W” yang berhubungan dengan kurang ketelatenan ibu dalam memberi makan anak balitanya :
-          KIE tentang nutrisi atau makanan menu seimbang.
-          Telaten dalam memberikan makanan.
-          Telaten pergi ke Posyandu untuk menimbang berat badan anak.

5.1.3        Antisipasi Masalah / Diagnosa Potensial
Dalam Asuhan Kebidanan ini didapatkan masalah potensial yaitu potensial terjadi KEP berat.

5.1.4        Identifikasi Kebutuhan Segera
-          KIE gizi seimbang pada keluarga.
-          Pemanfaatan fasilitas yang ada (Posyandu).

5.1.5        Pengembangan Rencana (Intervensi)
Intervensi dilakukan berdasarkan diagnosa / masalah yang telah didapatkan.


5.1.6        Implementasi
Implementasi dilaksanakan berdasarkan rencana tindakan yang telah disusun.

5.1.7        Evaluasi
Evaluasi dilakukan berdasarkan tujuan, dari evaluasi diketahui bahwa Asuhan Kebidanan yang dilakukan telah berhasil sesuai dengan tujuan yang ada, yaitu ibu dan keluarga mampu memberikan menu seimbang pada balitanya, keluarga mampu dan telaten dalam memberikan makanan, keluarga mampu menimbangkan berat badan balitanya di Posyandu.

5.2    Saran
5.2.1        Bagi Petugas Kesehatan
1.      Diharapkan agar para tenaga kesehatan dapat lebih meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan.
2.      Diharapkan agar para tenaga kesehatan dapat memberikan Asuhan Kebidanan secara optimal dan komprehensif pada semua keluarga.

5.2.2        Bagi Orang Tua dan Keluarga
1.      Memotivasi keluarga untuk menjaga kondisi kesehatannya dengan melakukan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
2.      Memotivasi keluarga terutama ibu untuk memberikan makanan sehat seimbang dan mengolah makanan yang benar.
3.      Menganjurkan pada keluarga untuk memanfaatkan sarana kesehatan yang ada.








 
DAFTAR PUSTAKA


Depkes RI, 1999. Buku Pedoman Tatalaksana Kurang Energi Protein pada Anak di Puskesmas dan Rumah Tangga. Jakarta : Depkes RI.

Effendy, Nasrul. 1998. Perawatan Kesehatan Masyarakat Cetakan 2.  Jakarta : EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit, Cetakan I. Jakarta : EGC.

Pudjiadi, Solihin, 2000.Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta : EGC.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar