Info Kesehatan

healhty

Minggu, 08 April 2012

ASKEB PATOLOGI KEBIDANAN “PENYAKIT YANG MENYERTAI KEHAMILAN DAN PERSALINAN DENGAN SISTEM PENCERNAAN”


MAKALAH ASKEB IV
ASKEB PATOLOGI KEBIDANAN
  
“PENYAKIT YANG MENYERTAI KEHAMILAN DAN PERSALINAN DENGAN SISTEM PENCERNAAN”
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4 :

                           
PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmatNya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul rawat gabung untuk memenuhi tugas ASKEB IV (PATOLOGI) tepat pada waktunya.
            Pada kesempatan ini, kami selaku penyusun makalah mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam hal terselesaikannya makalah ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Dr. sukadiono, selaku dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
2.      Supatmi, S.Kep. Ners, M. Kes, selaku Ketua Program Studi D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
3.      Rachmawati Ika S, S.ST.M.Kes, selaku dosen pengajar Asuhan Kebidanan IV PATOLOGI
4.      Seluruh staf pengajar Program Studi D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
5.      Serta seluruh pihak yang membantu dalam hal terselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis selalu membuka diri untuk menerima berbagai kritik dan saran sehingga makalah ini kelak menjadi lebih sempurna dan bermanfaat.


Surabaya, 06 Maret 2012
                                                                                                                                               
                                                                                                                                                                                        Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………………………………….          
Daftar Isi …………………………………………………………………………………. 
BAB I             :  Pendahuluan
1.1          Latar Belakang ……………………………………………………  
1.2          Rumusan Masalah ………………………………………………..
1.3          Tujuan Umum ……………………………………………………
BAB II            : Pembahasan
                        2.1 Definisi  ……………………………………………………………...   
                        2.2HiperemesisGravidarum..............………………………..……………   
                        2.3  Wasir Haemorroid...............................................................................
           
BAB III          : Penutup
                        3.1Kesimpulan…………………………………………………………………                  3.2Saran…………………………………………………………………………
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………….







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehamilan terjadi perubahan fungsi pencernaan, ini merupakan hal yang biasa. Perubahan-perubahan tersebut umumnya tidak berarti dan tidak berbahaya, dan akan dapat ditanggulani dengan mudah dengan penerangan, obat-obat yang relative ringan atau dengan melalui pendekatan psikologik.
Perubahan fungsi alat pencernaan dapat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu karena adanya perubahan hormonal, anatomic dan fisiologik kehamilan.
Saat ini saja, seperti dikatakan kurang lebih 24,8 persen ibu hamil menderita wasir. Penyakit yang juga dikenal dengan sebutan ambeien atau dalam istilah kedokterannya hemorrhoid, ditandai dengan adanya perubahan pada bantalan pembuluh darah di dubur (corpus cavernosa recti) berupa pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah serta jaringan di sekitarnya.Sesungguhnya fungsi dari bantalan itu sendiri adalah sebagai klep atau katup yang membantu otot-otot dubur untuk menahan feses.

B.     Rumusan Masalah         
Dari uraian latar belakang diatas penulis merumuskan masalah sesuai dengan apa yang ingin dijelaskan yaitu :
1.      Apa yang menyababkan terjadinya perubahan fungsi alat pencernaan dalam kehamilan.
2.      Kelainan dan penyakit-penyakit apa saja yang erat hubungannya dengan alat pencernaan.

C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.       Untuk mengetahui penyebab-penyebab terjadinya perubahan fungsi pencernaan dalam kehamilan
2.      Untuk mengetahui adanya kelainan dan penyakit-panyakit yang erat hubungannya dengan alat pencernaan


























BAB II
PEMBAHASAN
PENYAKIT TRAKTUS DIGESTIVUS (ALAT PENCERNAAN) YANG MENENYERTAI KEHAMILAN

2.1 Definisi
adalah Penyakit organ dalam rongga perut yang gawat dianggap sebagai gangguan yang disebabkan oleh kehamilan biasa.Oleh karena itu diketahui kelainan dan penyakit – penyakit yang sering ditemukan dalam kehamilan yang erat hubungannya dengan alat pencernaan
Selama kehamilan akan terjadi pula penurunan gerakan saluran alat cerna karena tonus otot-otot alat pencernaan yang berkurang, disamping itu terdapat pula perubahan letak serta penekanan yang disebabkan oleh pembesaran rahim (uterus)
Macam – macam penyakit traktus digestivus (alat pencernaan) yang menyertai kehamilan antara lain :
1.MULUT
Ptialismus, syalorec, hipersalivas Pada kehamilan trisemester pertama, kemungkinan dijumpai produksi air ludah berlebihan dari biasa, sehingga menyebabkan wanita hamil tersebut seringkali membuang ludah. Produksi air ludah yang berlebihan ini disebut ptialismus. Hal ini karena ketidaksanggupan wanita tersebut menelan air ludahnya sebagai akibat dari perasaan mual. Pengobatan khusus tidak ada, cukup dengan pendekatan dan penerangan serta psikologik.

2.KARIES
Dalam kehamilan sering dijumpai gingivistis dan karies dentis, akan tetapi tidaklah beralasan kehamilan sebagai penyebab menigkatnya kejadian karies dentis. Karies dentis sebelum hamil sudah ada, dan kekurangan kalsum akan memperburuk kerusakan giginya seperti juga sebelum hamil. Pengobatan yaitu dengan merawat gigi, mulut, serta mencukupi kebutuhan kalsium dalam kehamilan.
3.ESOPAGUS
Pirosis (heartburn,nyeridada) Pirosis ialah perasaan nyari didada, karena masuknya isi lambung kedalam esofagus bagian bawah. Keluhan sering ditemukan dalam kehamilan, terutama dalam posisi tengkurap,atau menelan sesuatu makanan tertentu atau obat. Pada kehamilan tua, mungkin kelainan ini agak sering dijumpai karena pengaruh tekanan rahim yang membesar. Pada esfagos terjadi esofagitis, akan tetapi pada endoskopi tidak kelihatan ada tanda-tanda radang, hanya secara histologik dapat dilihat. Isi lambung tersebut berisi asam klorida, pepsin serta makanan. Pirosis biasanya tidak akan menimbulkan komplikasi seperti striktura, pendarahan, karena waktunya sebentar saja. Pengobatan cukup dengan obat antasid, mengubah posisi tubuh dan menegakkan kapala serta mencegah tengkurap setelah makan. Keadaan yang lebih berat, kadang-kadang menyebabkan penderita sulit menelan, ada pendarahan (hematesis) sebagai akibat terjadi esofagitis erosif. Pengobatannya tetap sepertidiuraikan diatas, yaitu konservatif.

4.ESOFAGITIS’EROSIVA
Esofagitis erosiva merupakan akibat yang gawat dari kembalinya isi lambung kedalam esofagus dan agaknya tidak mempunyai hubungan dengan hiperemesis gravidarum. Gejala yang paling sering dijumpai ialah nyeri waktu menelan (disfagia) disertai pirosis. Hematemesis dapat terjadi, dan esofagoskopi menunjukkan erosio berdarah pada selaput lender satu pertiga bawah esofagus.Penanggulangan sama dengan pada pirosis biasa. Apabila terjadi hematemesis, penderita disuruh minum air es atau menelan es batu kecil-kecil.

5.LAMBUNG
Hernis histus diafragmatika ialah masuknya bagian atas lambung kedalam lubang diafragma. Kelainan ini seringdijumpai dalam kehamilan, kira-kira 17 % terutama dalam kehamilan trisemester III dan sering pada multipara dalam usia lanjut. Kelainan ini akan sembuh sendiri, setelah anak lahir. Penderita mungkin mengeluh tentang ganguan pencernaan berupa pirosis,muntah, kadang-kdang hematisis, berat badan menurun atau kadang-kadang tak ada keluhan sama sekali. Kalau keluhan meningkat, mungkin ada hubungan dengan dua faktor yaitu wanita tersebut telah menderita hernia hiatus dan isi lambung yang bertambah besar, sedangkan kalau mengira gejala-gejala tersebut disebabkan oleh karena hamil biasa, sedang kalau diperiksa dengan foto rontgen mungkin dijumpai adanya hernia. Hernia hiatus jarang mengalami strangulasi hernia dalam kehamilan, dan kalau ada biasanya penderita mengeluh sesak napas, sianotik, kadang-kadang dapat jatuh dalam syok.
Penanganannya adalah simptomatik, penderita ditidurkan setengah duduk, makanan diberikan dalam porsi kecil-kecil. Kalau hernia tersebut telah diketahui sebelum hamil, sebaiknya penderita tidak hamil, atau dilakukan operasi lebih dulu.

6.UlkusPeptikum
Ulkus peptikum jarang dijumpai dalam kehamilan, perjalanan penyakitnya bervariasi. Pada wanita yang mempunyai ulkus peptikumsebelum hamil, biasanya setelah hamil, penyakit akan menjadi lebih baik, bahkan dapat sembuh. Terutama pada trisemester pertama dan kedua, karena rendahnya sekresi asam lambung dan meningkatnya produksi getah lambung, walaupun kadang-kadang ulkus mungkin lebih hebat gejalanya dan yang sering dijumpai adalah rasa kejang dan perih diperut bagian atas (yang dapat hilang dengan memakan makanan atau obat alkalis), rasa panas, rasa tak enak didiaerah epigastrium. Gejala lebih sering terjadi atau dirasakan 2 atau 3 jam sesudah makan. Perforasi jarang terjadi.oelh karena itu penanganan ulkus peptikum dalam kehamilan umumnya konservatif, jarang atau hampir tidak ada dengan tindakan operatif.

7.Gastritis
Diagnosis gastritis sering dibuat dalam kehamilan muda, hanya atas dasar keluhan penderita, seperti mual, muntah-muntah, tidak ada nafsu makan, nyeri didaerah epigastrium dan sebagainya. Dan setelah diperiksa dengan teliti ternyata penderita tidak menderita gastritis akan tetapi mungkin emesis (hiperemesis), pirosis, esofagitis. Penderita diobservasi dan ditentukan terapi konservatif seperti gastritis diluar kehamilan.

8.UsusHalus
Baik ileus obstruktif maupun ileus paralitik dapat dijumpai dalam kehamilan yang kadang-kadang tidak diketahui, karena gejala-gejalanya sering disalah tafsirkan sebagai gejala-gejala kehamilan biasa, seperti mual, muntah, konstipasi, uterus kontraksi, kejang otot dan sebagainya. Diagnosis dibuat atas dasar gejala-gejala muntah, muntah, konstipasi, bising usus meningkat seperti bunyi logam. Tindakan operasi harus harus segera dilakukan bila diagnosis telah dipastikan, karena terlambat melakukan tindakan akan memperburuk keadaan umum penderita, bahkan meningkatkan kematian. Dalam kehamilan biasa, tonus dan peristaltik usus berkurang, sehingga tak jarang gejala-gejala ileus paralitik dalam kehamilan dan nifas., dan hal ini haruslah dibedakan dari ileus paralitik dalam kehamilan dan dan nifas.pada ileus paralitik tanpa komplikasi lain seperti makanan parenteral, pemasangan pipa hidung lambung, dan cairan lambung diisap terus-menerus, serta pemberian antibiotika, vitamin aneurin 25-50 mg intra muskular, dan biasanya dalam waktu 3-5 hari akan sembuh.

9.Volvulus
Dengan makin tuanya kehamilan dan makin membesarnya uterus, usus-usus halus dapat berputar pada pangkalnya, sehingga terjadi penjiratan seluruh ileum. Akibatnya sangat gawat dan menyebabkan kematian apabila tidak segera dikenal dan dioperasi. Keadaan lain yang dapat pula menyebabkan volvulus ialah perpanjangan mesokolon, hernia diafragmatika, perekat usus dan terdapat peta kongenital dalam rongga perut Gambaran klinik berupa perut yang menunjukkan tanda-tanda gawat mendadak terdiri atas gejala-gejala obstruksi usus disertai muntah-muntahyang hebat. Keadaan umum cepat memburuk akibat gangguan elektrolit dan keracunan nadi sangat cepat dan suhu meningkat.

10.Hernia
Berbagai macam hernia dapat dijumpai dalam kehamilan seperti hernia inguinalis, femoralis, umbilikalis dan sikatrisea, yang biasanya tidak menimbulkan keluhan.Penanganam hernia dalam kehamilan sama dengan diluar kehamilan apabila timbul gejala-gejala gawat. Hernia umbilikalis dan hernia sikatrisea tetap membesar oleh kehamilan. Apabila ada perlekatan usus dengan omentum tarikan pada oemntum sering menyebabkan rasa nyeri.

11. Ileitisregionalis
Ileitis regionalis seperti dilaporkan oleh Crohn danYarnis merupakan suatu proses granulamatus ileum bagian akhir yang tidak khas yang meliputi peradangan, nekrosis dan perparutan. Apabila penderita menunjukkan gejala-gejala yang berat dan reaksi negatif terhadap kehamilannya maka bekerja sama dengan psikiater dapat dipertimbangkan abortus buatan, walaupun ini jarang diperlukan.
12.UsusBesar
Appendisitis akuta Kejadian appendisitis akuta dalam kehamilan dan di luar kehamilan tidaklah berbeda. Kejadiannya satu di antara 1000 sampai 2000 wanita hamil. Akan tetapi kejadian perforasi, lebih sering pada kehamilan, yaitu 1,5 sampai 3,5 kali dari wanita tidak hamil. Hal ini karena diagnosis dini appendisitis akuta kadang-kadang sulit dibuat sering meragukan, atau dikacaukan oleh keadaan-keadaan lain seperti :
• Gejala dan tanda rasa mual, muntah anoreksia, perut gembung, dan nyeri di perut sering dijumpai pula pada kelainna lain dari appendisitis.
• Adanya leukositosis fisiologik dalam kehamilan yang mungkin menyerupai jumlah leukosit pada appendisitis akuta.
• Berpindahnya letak soekum akibat dorongan rahim yang main membesar, menyebabkan letak appendiks juga berpindah. Pada akhir pertengahan usia kehamilan, appendiks terletak di bagian kanan atas, sehingga gambaran klinik yang diberikan oleh appendisitis yang biasa tidak menunjukkan gambar yang seperti di luar kehamilan.
• Adanya relaksasi otot-otot dinding perut pada kehamilan lanjut, menyebabkan tanda-tanda nyeri, kekakuan dinding perut, menjadi tak jelas.
• Tanda-tanda appendisitis akuta, kadang-kadang diperlihatkan pula oleh kelainan-kelainan lain, seperti pada kehamilan muda dengan adanya kista yang terputar, batu ureter, pielonefritis akuta, salpingitis akuta; rasa nyeri dari ligamentum rotundum pada kehamilan lebih lanjut, solusi plasenta tingkat permulaan, infeksi saluran kemih, persalinan prematur, obstruksi usu halus. Pada masa nifas adanya endometritis atau adneksitis.

13.KolitisulSerosa
Kolitis ulserosa yang biasanya menahun merupakan suatu penyakit peradangan disertai ulkus-ulkus pada mulanya di rektum, kemudian menjalar ke atas dan dapat sampai ke usus halus. Perjalanan penyakit dalam kehamilan tak dapat diramalkan sebelumnya, sangat bervariasi. Biasanya bagian usus yang terserang adalah mukosa dan submukosa, jarang lapisan otot dan serosa. Gejala-gejala klinik tersering adalah diarea dengan darah, nanah atau lendir, badan panas, leukositosis, takikardia, perut terasa tidak enak, malas makan dan berat badan menurun. Komplikasi penyakit ini mungkin dapat terjadi perforasi, perdarahan sehingga penderita jadi anemia, defisiensi protein dan vitamin.
Pengaruh penyakit ini terutama terhadap kesehatan Ibu, pada janin atau kehamilan tidak begitu banyak. Sedangkan pengaruh kehamilan pada penyakit ini, dapat menimbulkan keadaan lebih berat, yaitu penyakit yang tadinya kurang aktif dapat jadi aktif, terutama pada trimester pertama dapat terjadi perforasi. Etiologi penyakit ini secara pasti belum diketahui, akan terapi faktor psikogenik dianggap mempunyai pengaruh penting pada kolitis ulserasi ini, seperti perubahan-perubahan emosionil,kecemasan ketakutan dan lain-lain selama kehamilanPenerangan diberikan pada penderita kolitis ulserosa ini, baik sebelum hamil maupun dalam kehamilan. Perahtikan dan terangkan faktor penyakit penderita, diet yang mudah diserap, kalau perlu antiodiare dan antibiotika. Mereka yang telah ahmil, kehamilan dapat dteruskan, dan persalinan dapat per vaginam. Pada keadaan dimana anak sudah cukup, penderita menderita kolitis ulserosa, sebaiknya tidak hamil lagi, dan ikut keluarga berencan. Dapat dilakukan sterilisasi

14.TumorGanasUsusBesar
Tumor ganas usus besar biasanya karsinoma, jarang dijumpai dalam kehamilan tidak terdapt bukti-bukti bahwa kehamilan mempengaruhi jalannya karsinoma koliet rekti. Karena itu, anortus buatan tidak dilakukan. Walaupun demikian penyakit ini dapat mempengaruhi persalinan.Penanggulangan tumor ganas usus besar dalam kehamilan ialah dengan jalan operasi, saran seperti diluar kehamilan.
Apabila operasi dilakukan dalam triwulan II dan III, maka mungkin uterus seperti isinya perlu diangkat untuk memudahkan opersi rektum. Pada penderita karsinoma kolon, apabila kehamilan sudah cukup bulan, dapat ditunggu partus pervaginam. Apabila terdapat gejala-gejala obstruksi usus, mungkin diperlukan kolostomiasebelum persalinan atau operasi. Dalam kehamilan trimester III sebelum 38 minggu, pada penderita karsinoma rekti dilakukan seksiop histerektomia. Setelah anak lahir, selekasnya dilakukan operasi rektum.
15.Megakolon
Megakolon sangata jarang dijumpai dalam kehamilan, usus besar yang asangat meluas terisi penuh dengan skibala menyebabkan konstipasi yang kadang-kadang sangat sulit untuk diatasi. Dalam persalinan megakolon yang terisi penuh, dapat menghalang-halangi turunnya kepal, sehingga dapat terjadi ruptura uteri.


16.DAERAHANUS
PrarituAni
Pruritus ani kadang-kadang dijumpai dalam kehamilan dan dapat sangat mengganggu penderita. Biasanya pengobatan juga sulit. Rasa gatal dapat terbatas di daerah perianal atau menjalar lebih luas sampai di daerah kelamin, bagian dlm paha, dan pantat. Karena rasa gatal, daerah itu digaruk, yang menimbulkan / menambah iritasikulit;dan seterusnya ini menambah rasagatal.
• ruritus ani dapat dibagi dalam 2 golongan :
1) yang mempunyai sebab organik, dan
2) yang disebabkan faktor psikogenik.
Dalam golongan pertama termasuk pruritus yang disebabkan oleh fissura et fistula ani, proktitis, wasir, jamur, diabetes mellitus, alergi terhadap benang sintetik pakaian dalam, atau ukuran pakaian yang tidak sesuai. Golongan kedua biasanya disebabkan oleh konflik emosional dalam kehamilan yang berdasarkan ketidakmatangan psiko-seksual. Penanggulangan harus dimulai dengan menghilangkan / menghindarkan faktor penyebabnya. Iritasi kulit akibat garukan diobati dengan salep kortison. Apabila pengobatan tidak berhasil dan tidak ditemukan sebab organik, maka sebaiknya dimintakan konsultasi pada psikiater.

Wasir hemoroid
Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran vena hemoroidalis interna dan pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus. Hemoroid ini lebih nyata dan dapat menonjol keluar anus. Wasir yang kecil kadang-kadang tidak menimbulkan keluhan, sedang yang besar sering menimbulkan keluhan bahkan dapat menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta perdarahan pada saat buang air besar, serta ada sesuatu yang keluar dari anus.
Wasir dapat didiagnosis dengan mudah, yaitu adanya keluhan rasa perih di daerah anus, perdarahan, serta pada pengamatan ditemukan vena yang membengkak di anus atau di rektum. Pada hemoroid interna dan eksterna yang tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu diberi pengobatan, dan setelah melahirkan hemoroid tersebut akanmengecil sendirinya.Pada hemoroid yang besar, yang menjadi keluar baik dalam kehamilan atau masa nifas, yang menimbulkan keluhan, perlu dilakukan antara lain reposisi oleh dokter maupun oleh penderita sendiri, dengan menggunakan salep antihemoroid. Usahakan penderita agar memakan makanan yang lunak dan tidak meneran. Pada keadaan yang sudah berdarah, diberi anti-salep atau suppositoria. Tindakan sklerosing atau hemoroidektomia jarang diperlukan.

FissuraAni
Fisura ani merupakan kelainan yang sering dirasakan sangat nyeri dan terdiri atas luka-luka memanjang pada dinding belakang anus. Asalnya tidak diketahui dengan pasti mungkin karena trauma pada mukosa dengan kriptitis, atau sbg akibat pecahnyaabses kista.Mula-mula rasa nyeri dialami pada waktu penderita buang air besar, sehingga penderita segan untuk ke belakang ; kemudian rasa nyeri berlangsung sampai beberapa jam setelah defekasi. Fissura yang baru terjadi dapat diharapkan akan sembuh spontan. Akan tetapi, fissura menahun yang disertai peradangan menahun dengan banyak keluhan memerlukan eksisi lebar semua jaringan yang sakit, disertai insisi muskulus sfingter ani eksternus, juga pada wanita hamil.














2.2 Hiperemesis Gravidarum
2.2.1 Pengertian
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, terdapat aseton dalam urine, bukan karena penyakit seperti Appendisitis, Pielitis dan sebagainya.

2.2.2 Etiologi
            Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :
a. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
b. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik.
c. Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik.
d. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien.

2.2.3 Patofisiologi
            Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama.
Pengaruh psikologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan.
Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, disamping faktor hormonal. Yang jelas wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang berat.
            Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehmgga cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Natrium dan Khlorida darah turun, demikian pula Khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Kekurangan Kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, bertambahnya frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan.
2.2.4 Gejala Dan Tanda
            Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu :
1. Tingkatan I :
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata cekung.
2. Tingkatan II :
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.
Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3. Tingkatan III:
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.

2.2.5 Penatalaksanaan
         Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.
1. Obat-obatan
Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin

2. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan/minuman setama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
4. Cairan parenteral
Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.
5. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.
6. Diet
a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa rod kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat – zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari.
b. Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi linggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan . Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi kecuali vitamin A dan D.
c. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.
7. Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin
.

















2.3 Pembahasan Kasus
Wasir/Haemoroid
1.Definisi
Piere A.Grace & Neil R. Borley (2007:104) mengemukakan bahwa hemoroid adalah pembengkakan submukosa pada lubang anus yang mengandung pleksus vena, arteri kecil dan jaringan areola yang melebar. Interna: hanya melibatkan jaringan lubang anus bagian atas. Eksterna: melibatkan jaringan lubang anus bagian bawah. Hemoroid adalah varises pada anus (Geri Morgan, 2009:207). Hemoroid adalah pelebaran vena (varises) di dalam plexus hemorodialis yang bukan merupakan keadaan patologik. Hanya bila menyebabkan keluhan atau penyulit diperlukan tindakan (Syamsuhidajat, 1997).
Hemoroid terlihat seperti bantalan jaringan dari varikosis vena yang merupakan insufisiensi kronik vena yang terdapat di daerah anus. Bila terjadi infeksi hemoroid dapat menimbulkan perasaan gatal, sakit dan berdarah terutama sesudah buang air besar yang mengeras.
2. Patofisiologi
Pemeriksaan Klinik Perubahan fisiologis selama kehamilan akan mempercepat munculnya penyakit. Saluran dubur terdiri dari tiga bantalan fibrovascular (jaringan ikat dan pembuluh darah) yang ditunjang oleh jaringan konektif yang terdiri otot longitudinal dan sphincter internal (jaringan otot melingkar untuk mengatur keluarnya kotoran/buang air besar).
Pada kehamilan karena pengaruh kenaikan hormon seks dan bertambahnya volume darah, menyebabkan pelebaran pada pembuluh darah vena di daerah dubur. Begitu pula akibat penekanan janin dalam rahim pada pembuluh darah vena di daerah panggul akan mengakibatkan pembendungan. Ditambah lagi dengan pengejanan waktu buang air besar yang sering terjadi pada wanita hamil karena konstipasi (sulit buang air besar), akan meyebabkan terjadinya prolaps (keluar dari dubur) hemorrhoid.



3. Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala
a. Perdarahan di daerah dubur yang bisa keluar berupa tetesan, tetapi juga bisa mengalir deras. Darah berwarna merah muda dan biasanya penderita tidak merasakan sakit.
b. Setelah buang air besar biasanya ada sensasi rasa mengganjal. Kondisi ini menciptakan kesan bahwa proses buang air besar belum berakhir, sehingga seseorang mengejan lebih kuat. Tindakan ini justru membuat hemoroid semakin parah.
c. Karena bagian yang terasa nyeri di dubur sulit dibersihkan, virus akan sangat mudah menyerang dan menyebabkan infeksi kulit yang memicu gatal.
4. Pentalaksanaan
            a. Data Subyektif :
·         Ibu mengatakan di bagian perut terasa mual dan ingin muntah setiap selesai makan
·         Nafsu makan ibu menurun dan merasa pusing setelah muntah
·         Ibu merasakan sembelit atau mengejan saat buang air besar
·         Setelah buang air besar biasanya ada sensasi rasa mengganjal
·         Keluar darah jika BAB
·         Jika duduk terlalu lama terasa sakit di daerah anus
·         Kadang – kadang terasa gatal pada anus
·         Ibu mengatakan tidak bisa membersihkan anusnya setelah buang air besar karena terasa nyeri bila dipegang
b. Data Obyektif
·         TD : 110/80 mmHg, n/s : 86/36°c, rr : 18x/menit
·         Konjungtiva : pucat, sklera : putih
·         Hemoroid eksternal terlihat pada pemeriksaan, saat istirahat, atau ketika berbaring.
·         Trombosis (massa biru atau ungu mengkilat; bekuan subkutan berdekatan dengan anus) atau infeksi (penampilan meradang) dapat terlihat.
·         Tinja yang kotor mungkin perlu dicatat di mana pembengkakan komponen eksternal membuat kebersihan sulit.

c. Diagnosa
GI P00000 kesan jalan lahir normal dengan emesis gravidarum dan wasir haemoroid
d. Masalah
·         Cemas karena mual muntah yang di derita
·         Gangguan rasa nyaman
·         Gangguan rasa nyeri
·         Gangguan pola pemenuhan nutrisi
·         Gangguan konsep diri
e. Intervensi
1.      Melakukan asuhan yang menyeluruh dan menjelaskannya kepada pasien.
2.      Menjelaskan kepada ibu bahwa kondisinya dalam batas normal
3.      Memberikan HE tentang pusing dan penangannya
·         Minum air hangat atau biasa
·         Hindari makanan yang berlemak
·         Istirahat cukup
·         Makan dengan porsi sedikit tetapi sering tetapi masi tetap bernutrisi dan berserat
 4.   Melakukan test diagnostik untuk memperoleh hemoglobin/hematokrit jika perdarahan yang terjadi sangat besar dan terus
 5.   Melakukan pengobatan terhadap wasir
·         Mencoba untuk mengurangi wasir dengan tekanan digital lembut.
·         Memberikan obat supositoria dengan memasukkan satu per rektum sesuai kebutuhan,tiga sampai lima per hari,khususnya setiap pagi,pada waktu tidur
·         Memberika salep dioleskan secara bebas dan dengan lembut menggosok ke daerah dubur,tiga sampai lima kali per hari,khususnya setiap pagi,pada waktu tidur
 6.   Memberikan He pada ibu untuk mandi dengan air hangat atau dingin selama 15 sampai 20 menit seperti yang diperlukan untuk kenyamanan, ketika perdarahan tidak ada.
 7.   Menyarankan ibu untuk melakukan Kompres Astringent:dengan bantalan hazel, sesuai kebutuhan, untuk mengurangi ketidak nyamanan.
 8.   Mengajarkan ibu menggunakan petroleum jelly atau supositoria gliserin per rektum untuk mempermudah buang air besar, sesuai kebutuhan
 9.   Mengajarkan ibu untuk menjaga kebersihan terutama daerah anus,setelah BAB anus dibersihkan dari atas kebawah secara perlahan.
10.  Mengkonsumsi makanan yang berserat agar mudah BAB

f. Evaluasi
S : pasien mengerti tentang penjelasan,minum obat secara teratur,pemenuhan nutrisi yang berserat,mengerti tentang penanganan mandiri,kontrol ulang/kembali jika ada keluhan
O : TD : 110/80 mmHg    Hb : 10,8 gr%
Nadi :80x/mnit                 hasil rontgen (colon skopi)
Suhu : 37,5C                    pemeriksaan fisik inspeksi : sklera putih,konjungtiva pucat dan colok dubur
A : GI P00000 dengan hiperemesis gravidarum dan wasir/haemoroid
P : kontrol ulang seminggu kemudian /sewaktu waktu bila ada keluhan
1.      Vitamin yang di perlukan
·      vitamin B komplek
·      mediatur B6
2.      Pengobatan :
·      sedative ringan, Luminal 3x30 mg , valium
·      anti mual muntah : stematil,primeret,emetrol
·      supositoria gliserin per rektum dan salep
 3.   Nasehat pengobatan :
·      banyak minum air putih
·      hindari minuman / makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
·      Makan makanan yang berserat
 4.   Nasehat kontrol Antenatal :
·      pemeriksaan hamil lebih sering
·      segera datang pada yankes jika ada keadaan abnormal.























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Perubahan fungsi pencernaan itu disebabkan oleh beberapa factor yaitu karena adanya perubahan hormonal, anatomic dan fisiologik kehamilan. Ketiga factor tersebut sangat mempengaruhi kehamilan.
2.      Pada perubahan fungsi pencernaan juga dapat ditemukan beberapa kelainan dan penyakit-penyakit  pada mulut, lambung, eofagus, usus halus, usus besar dan derah anus
3.      Usahakan penderita wasir agar memakan makanan yang lunak dan tidak meneran. Pada keadaaan yang sudah berdarah, diberi antisalep suppositoria.
 
3.2 Saran

1.      Selama kehamilan diharapkan ibu lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihannya
2.      Petugas kesehatan diharapkan untuk lebih mensosialisasikan adanya perubahan-perubahan yang mempengaruhi terjadinya perubahan fungsi pencernaan.
 








DAFTAR PUSTAKA
V. Walsh, Linda. 2007. Buku Ajar Kebidanan Komunitas Hal 90.Jakarta:EGC.$
L., Winifred, dkk. 2001. Ambulatori Obstetrics third edition. San Fransisco: UCSF Nursing Press.
Piere A.Grace & Neil R. Borley. 2007. At a Clance Ilmu Bedah edisi ketiga. Jakarta: Erlangga
http://obstetriginekologi.com/ibu-hamil-dengan-hemoroid




















PERTANYAAN SISTEM PENCERNAAN

1.      Sebutkan gejala-gejala klinik tersering  pada colitis ulsirosa?
Jawab : Gejala-gejala klinik
-          Diare dg darah
-          Nanah atau lendir
-          Badan panas
-          Leukositosis
-          Takikardia
-          Perut terasa tidak enak
-          Malas makan
-          Berat badan menurun
2.      Apa penanggulangan tumor ganas usus besar pada kehamilan?
Jawab : penanggulangan tumor ganas usus besar dalam kehamilan ialah dengan jalan operasi, saran seperti diluar kehamilan
3.      Jika terjadi obstruksi usus pada kehamilan apa yang akan dilakaukan?
Jawab : Apabila terdapat gejala-gejala obstruksi usus, mungkin diperlukan kolostomia sebelum persalinan atau operasi.
4.      Apa yang dilakukan Jika anak sudah lahir  pada  karsinoma rekti ?
Jawab : Setelah anak lahir, selekasnya dilakukan operasi rektum.
5.      Apa yang terjadi jika Dalam persalinan mega kolon yang terisi penuh?
Jawab : Dalam persalinan megakolon yang terisi penuh, dapat menghalang-halangi turunnya kepal, sehingga dapat terjadi ruptura uteri.

11.    Mengapa penderita ulkus peptikum pada saat hamil kondisi akan menjadi lebih baik bahkan sembuh dari penyakit tersebut ?
Karena pada trimester 1 dan trimester 2 sekresi asam lambung terjadi penurunan sedangkan produksi getah lambung akan meningkat.

12.    Sebutkan gejala-gejala yang sering dijumpai pada penderita ulkus peptikum!
1.      Rasa kejang dan perih di perut bagian atas (dapat hilang bila mengkonsumsi obat alkalis)
2.      Rasa panas
3.      Rasa tidak enak pada epigastrium
4.      Gejala akan lebih dirasakan 2 atau 3 jam sesudah makan.

13.    Jelaskan penatalaksanaan pada penderita ileus paralitik !
1.      Memberikan makanan secara parenteral
2.      Pemasangan pipa hidung lambung
3.      Cairan lambung dihisap terus – menerus
4.      Pemberian antibiotika, vitamin aneurin 25-50 mg IM

14.    Sebutkan sebab-sebab terjadinya volvulus !
1.      Terjadinya perpanjangan mesokolon
2.      Hernia diafragmatika
3.      Perekat usus
4.      Terdapat peta konginetal dalam rongga perut

15.    Sebutkan hal-hal yang menyulitkan dalam diagnosis dini pada penderita appendicitis akut !
1.       Gejala dan tanda rasa mual,muntah,anoreksia,perut gembung,nyeri di perut sering dijumpai pada kelainan dari appendicitis.
2.      Adanya leukosit fisiologik dalam kehamilan yang mungkin menyerupai jumlah leukosit pada appendicitis
3.      Adanya relaksasi otot-otot dinding perut pada kehamilan lanjut menyebabkan tanda-tanda nyeri, kekakuan dinding perut menjadi tidak jelas.

16.  Apa yang anda ketahui tentang Esovagitis Erosiva ?
Jawab : Esofagitis erosiva merupakan akibat yang gawat dari kembalinya isi lambung kedalam esofagus dan agaknya tidak mempunyai hubungan dengan hiperemesis gravidarum
17. Mengapa pada kehamilan tua ( TM III ) pirosis sering terjadi ?
Jawab : karena adanya kelainan ini agak sering dijumpai karena pengaruh tekanan rahim yang membesar.
18.  Jelaskan faktor predisposisi terjadinya hiperemesis gravidarum pada ibu hamil !
Jawab : a. primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan  bahwa faktor hormon memegang peranan
b.      Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun
c.       Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik
d.      Faktor Psikologik Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil

19.  Jelaskan tanda gejala hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala !
Jawab : dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu :
a. . Tingkatan I :
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata cekung.
b. Tingkatan II :
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.
c. Tingkatan III:
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati
.
20.  Apa saja HE kita sebagai bidan terhadap pasien yang mengalami hiperemesis gravidarum ?
Jawab : Sebagai bidan, kita harus memberikan HE yaitu Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar