Info Kesehatan

healhty

Minggu, 15 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASMA BRONCHIALE


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
ASMA BRONCHIALE DI PAVILIUN MARWAH
RS.SITI KHODIJAH SEPANJANG



 







Disusun Oleh :









AKADEMI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2004

KATA PENGANTAR


Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan atas terselesainya penyusunan makalah keperawatan dengan kasus ASMA BRONCIALE di rumah sakit Siti Khodijah Sepanjang.
Dengan diberikannya tugas diharapkan pada mahasiswa dapat memberikan tindakan atau askep pada pasien untuk berisolasi di masyarakat.
Dalam penyusunan makalah ini kami ucapkan terima kasih kepada Direktur Akper Unmuh Surabaya, Direktur RS. Siti Khodijah, pembimbing baik dari RS. Siti Khodijah ataupun akademik dan teman-teman ku sekalian yang telah mendukung dalam penyusunan makalah ini.


Surabaya,    Juli 2004

Penyusun

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ASMA BRONCHIALE


I.        KONSEP DASAR

1.             PENGERTIAN

Asma bronchiale adalah keadaan respon abnormal saluran nafas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan saluran nafas (IPD jilid II, 2001).
Asma bronchiale dibagi menjadi 3 kategori yaitu :
1.       Ektsrinsik / alergi
Asma yang disebabkan oleh bahan alergen seperti spora, jamur, debu, bulu binatang dan yang lebih jarang adalah susu atau coklat. Dan asma yang umumnya dimulai sejak kanak-kanak dengan anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit seperti hayfever, dermatitis.
2.       Asma intrinsik
Ditandai dengan faktor yang tidak jelas. Asma ini sering muncul setelah umur 40 tahun. Serangan ini makin lama makin sering sehingga akan terjadi brontitis kronik.
3.       Asma campuran
Kombinasi ekstrinsik dan instrinsik

2.       ETIOLOGI
Penyebab dari asma bronchiale belum diketahui secara pasti namun berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa dasar gejala asma adalah inflamasi dan respon saluran nafas yang berlebihan. Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran nafas. Inflamasi ditandai dengan adanya kalor (panas karena vasodilatasi) dan rubor (kemerahan karena vasodilatasi), tumor lekssutasi plasma dan edema), dolor (rasa sakit karena rangsangan sensoris) dan fuction laesa (fungsi yang terganggu) ternyata ke enam syaraf tersebut dijumpai pada asma, sifat saluran nafas pasien asma sangat peka terhadap berbagai rangsangan iritan (debu), zat kimia (histamin) dan feses (kegiatan jasmani).





3.       PATOFISIOLOGIS
Destruksi saluran nafas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus, sumbat mukus edema dan inflamasi dinding bronkus. Destruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisiologis saluran nafas menyempit. Gejala mengi menandakan adanya penyempitan di saluran nafas besar, sedang pada saluran nafas yang kecil gejala batuk dan sesak lebih dominan dibanding mengi. Penyempitan saluran nafas ternyata tidak merata di seluruh bagian paru. Ada daerah yang kurang mendapat ventilasi, sehingga darah kapiler yang melalui daerah tersebut mengalami hipoksemia. Untuk mengatasi kekurangan O2 tubuh melakukan hiperventilasi, agar kebutuhan O2 terpenuhi. Tetapi akibat pengeluaran CO2 sehingga PaCO menurun dan menimbulkan alkalosis respiratorik pada serangan asma yang lebih berat lagi banyak saluran nafas tertutup oleh mukus sehingga tidak memungkinkan lagi terjadi pertukaran gas. Hal ini menyebabkan hipokremia dan kerja otot-otot pernafasan bertambah berat serta terjadi peningkatan produksi CO2, peningkatan produksi CO2 dapat mengakibatkan gagal nafas.
 















4.       GEJALA KLINIS
Gejala Klinis asma adalah batuk, mengi dan sesak nafas. Pada awal serangan sering gejala tidak jelas seperti rasa berat di dada dan pada asma alergik bisa disertai pilek atau bersin. Meskipun pada mulanya batuk tanpa disertai sekret tetapi pada perkembangan selanjutnya pasien akan mengeluarkan Sekret, pada asma alergi, sering hubungan antara pemajanan alergen dengan gejala asma tidak jelas. Terlebih lagi pasien asma alergi pencetus non alergik seperti asap rokok, asap yang merangsang infeksi saluran nafas ataupun perubahan cuaca

5.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium dapat dibagi atas :
1.          Pemeriksaan sputum
Pada pemeriksaan sputum ditemukan
-          Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
-          Netrofil dengan eosinofil yang terdapat pada sputum umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang-kadang terdapat mukus plug.
2.          Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan terjadi peningkatan eosinofil sedangkan leokosit dapat meningkatkan atau normal, walaupun terdapat komplikasi.
-          Analisis gas darah pada umumnya normal, akan tetapi dapat pula terjadi hipoksomia, asidosis.
-          Kadang-kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan IDH. 
3.          Pemeriksaan radiologi
Kelainan yang didapat adalah :
-          Bila disertai dengan bronchitis maka bercak-bercak dihilus akan bertambah.
-          Bila terjadi emfirema (COPD) maka gambaran radiolosan akan semakin bertambah.
-          Bila komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrasi pada paru-paru.
4.          Pemeriksaan faal paru
Berdasarkan pemeriksaan faal paru maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
-          Setiap pasien menunjukkan peningkatan resistensi jalan pernafasan dan penurunan expiratory flow rate (kecepatan aliran ekspirasi)
-          Peningkatan fluktuasi dari tekanan intrapleura.


5.          Scaning paru
Dengan scaning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma ternyata tidak menyeluruh, pada paru-paru sedangkan pada pemeriksaan xenon 133 melalui pembuluh darah dapat dilihat redistribusi radioaktif tidak menyeluruh pada kedua paru.

6.       PENATALAKSANAAN
Pada penderita asma bronchiale dapat ditinjau dari berbagai pendekatan seperti :
a.       Mencegah ikatan alergen IGE
Menghindari alergen, tampaknya sederhana tetapi sukar untuk dilakukan.
b.       Mencegah pelepasan mediator
      Premedikasi dengan natrium kromolin dapat mencegah spasme bronkus yang dicetuskan oleh alergen natrium kromolin mekanisme konjungtiva diduga mencegah penglepasan mediator dari mastosif obat tersebut tidak adapat mengatasi spasme bronkus yang telah terjadi, oleh karena itu hanya dipakai sebagai obat profilaktif pada terapi pemeliharaan.
c.       Melebarkan saluran nafas dengan bronkodilator
      Kortikosteroid tidak termasuk obat golongan bronkodilator tetapi secara tidak langsung, dapat melebarkan saluran nafas.
d.      Mengurangi respons dengan jalan meredam inflamasi saluran nafas.
      Implikasi terapi proses inflamasi diatas adalah meredam inflamasi yang ada baik dengan natrium kromolin, atau secara lebih paten dengan kartikosteroid baik secara oral, parenteral atau inhalasi

7.       KOMPLIKASI
-              Pneumotoraks
-              Pneumodiastinum dan erofirema subkutis
-              Atelektasis
-              Gagal nafas
-              Bronkitis
-              Fraktur iga




2.       ASUHAN KEPERAWATAN

1.       PENGUMPULAN DATA
a.       Identitas klien
-          Nama
-          Umur
-          Jenis kelamin
-          Agama
-          Pendidikan
-          Pekerjaan
-          Alamat
-          No Reg
b.       Keluhan utama
Biasanya pada klien dengan asma bronchiale mengeluh sesak nafas
c.       Riwayat kesehatan
-          Riwayat kesehatan sekarang
Ditanyakan     : 
- Kapan terjadinya
- Sering atau kadang-kadang
- Batuk produktif atau non produktif
- Sputum dan warna
-          Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit yang pernah diderita sebelumnya seperti sesak nafas batuk dan disertai dahak dan alergi.
-          Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya merupakan faktor keturunan dari salah satu anggota keluarga.

2.       POLA FUNGSI KESEHATAN
1.       Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Meliputi persepsi klien terhadap kesehatan dan penyakitnya.
Apa yang dilakukan klien bila merasa sakit
2.       Pola nutrisi dan metabolisme
Meliputi makanan klien dalam sehari, adakah alergi makanan yang bisa menyebabkan sesak.



3.       Pola aktivitas dan latihan
Gangguan aktivitas / kebutuhan istirahat, akibat sesak nafas dan batuk sehingga dapat menghambat aktivitas sehari-hari termasuk pekerjaan harus dibatasi.
4.       Pola eliminasi
Pada pola ini klien tidak mengalami gangguan
5.      Pola tidur dan istirahat
Pada pasien ini mengalami gangguan pada pola tidur yang diakibatkan sesak nafas dan batunya
6.      Pola sensori dan kognitif
Bagaiman Klien dalam menghadapi penyakitnya, apakah dapat mengerti cara penanggulangan pertama jika kambuh penyakitnya
7.      Pola persepsi dan konsep diri
Persepsi klien tentang penyakitnya dan bagaiman konsep diri dalam menghadapi penyakit yang dideritanya
8.      Pola hubungan dan peran
Dalam hal ini hubungan dan peran klien terganggu karena klien mungkin merasa bahwa dirinya orang yang sakit-sakitan
9.      Pola reproduksi dan sexual
Mengalami gangguan akibat penurunan libido yang diakibatkan sesak nafas yang ia alami.
10.  Pola penanggulangan stress
Bagaimana klien menghadapi masalah yang membebaninya sekarang, cara penanggulangannya.
11.  Pola tata nilai dan kepercayaan
Dalam pola ini kadang ada yang mempercayakan diri pada hal-hal yang ber sifat ghoib.

3.       PEMERIKSAAN FISIK
1.       Keadaan umum
Kesadaran, TTV, sesak nafas dan batuk, suara tambahan (whezing,   ronchi)
2.       Dada
-          Inspeksi      :   Pada klien asma terlihat pergerakan otot bantu pernafasan, pernafasan cuping hidung.
-          Palpasi        :   Meliputi pergerakan dada kanan + kiri simetris atau tidak, ada atau tidaknya nyeri tekan.
-          Perkusi       :   Klien asma suara ketok sonor antara dada kanan dan kiri.
-          Auskultasi :   Terdapat suara tambahan, berupa whezing ronchi.
3.       Abdomen
-          Inspeksi       : Pada klien terlihat otot bantu pernafasan perut
-          Palpasi         : Ada tidaknya nyeri klien pembesaran hati atau limfe
-          Perkusi        :  Pada penyakit ini peristaltik usus tidak ada gangguan.
-          Auskultasi   :  Meliputi ada tidaknya kembung, suara pekak atau redup

4.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.       Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan sekret
2.       Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplay oksigen bronkospasme.
3.       Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan ekspirasi, Peningkatan sekresi.
4.       Ansietas berhubungan dengan sesak nafas,Takut menderita dan takut serangan.

5.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
Dx I  :   Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan sekret
-          Tujuan
Menunjukkan keefektifan jalan nafas dan mampu mempertahankan jalan yang paten.
-          Kriteria hasil
a.       Penurunan wheezing dan ronchi.
b.       Kecepatan dan kedalaman pernafasan normal.
c.       Tidak terjadi dispnea sionasis.
d.      Penurunan batuk dan non produktif.
-          Rencana intervensi
1.       Auskultasi jalan nafas, catat adanya wheezing, ronchi, rales.
2.       Pantau tanda-tanda vital, termasuk frekuensi pernafasan setiap jam.
3.       Pertahankan polusi lingkungan minim misal : debu, bulu bantal.
4.       Beri posisi yang nyaman dengan peninggian kepala tempat tidur, atau posisi semi fowler.
5.       Kaji keefektifan batuk klien, anjurkan untuk batuk efektif
6.       Berikan tindakan rebulizer, inhalasi.
7.       Tingkatkan intake cairan yang adekuat sampai 2 liter / hari.
8.       Lakukan fisioterapi dada (perkusi, vibrasi), jika sekret sulit dikeluarkan.
9.       Berikan perawatan mulut yang baik sesudah batuk, setiap 2 – 4 jam.
10.   Lakukan kolaborasi dengan doktert dalam pemberian pengobatan.
-          Rasional
1.       Melihat obstruksi penyebab asma dan menilai derajat keperawatan pernafasan.
2.       Mengetahui perkembangan penyakit dan andanya proses infeksi.
3.       Mencegah pencetus dari alergi.
4.       Mempermudah fungsi pernafasan dan membantu dalam meningkatkan ekspansi paru.
5.       Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupeutik.
6.       Membantu untuk mengencerkan dahak.
7.       Hidrasi mencegah sekret yang kentak dan mempermudah pengeluarnya.
8.       Membantu dalam pengeluaran sekret yang kental, membantu spasme bronkus pada asma.
9.       Hygine mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan mencegah bau mulut.
10.   Evaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

Dx II : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplay oksigen bronkospasme.
-         Tujuan
Pasien memiliki pertukaran gas yang adekuat.
-         Kriteria hasil
a.       Penurunan wheezing, ronchi saat ekskresi /inspirasi
b.       Pa O2 lebih dari 60 mmHg.
c.       Pa CO2 kurang dari atau sama dengan 45 mmHg.
d.      pH 7,35 – 7,45
e.       tidak ada sianosis
-         Recana intervensi
1.       Kaji Suara Nafas Tiap Jam Selama Periode Akut.
2.       Kaji Warna Membran Mukosa Kulit.
3.       Berikan Oksigen Melalui Kanul Nasal 2 – 4 Litar / Menit.
4.       Monitor Pulse Oksimetri.
5.       Monitor Terhadap Pemeriksaan Blood Gas.
6.       Berikan Obat-Obatan Sesuai Dengan Dosis Yang Diberikan.
7.       Lakukan Pemberian Terapi Intravena Sesuai Anjuran Dehidrasi.
-         Rasional
1.       Menentukan keadekuatan pertukaran gas.
2.       Mengetahuai adanya sianosis.
3.       Pemberian oksigen mengurangi beban kerja otot-otot pernafasan.
4.       Mengetahui kadar satuan oksigen
5.       Mengidentifikasikan indikasi kearah kemajuan atau penyimpangan dari hasil pasien.
6.       Mengembalikan seperti kondisi semula.
7.       Rehidrasi cepat dan mengurangi dehidrasi.

Dx : Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan ekspirasi, Peningkatan sekresi.
-          Tujuan
Pasien mengalami peningkatan pola nafas
-          Kriteria hasil
a.       Penurunan frekuensi pernafasan sampai batas normal
b.       Penurunan tanda-tanda dispnea
-    pernafasan cuping hidung
-    tidak memakai alat bantu nafas
c.   Analisa gas darah dalam batas normal
d.   Faal paru dalam batas normal
-          Rencana intervensi
1.       Kaji dan observasi frekuensi pernafasan , kedalam pernafasan dan adanya tand-tanda sesak nafas.
2.       Monitor nilai analisa gas darah.
3.       Observasi pengembangan fungsi faal paru.
4.       Baringkan pasien dalam posisi fowler.
5.       Berikan oksigen sesuai order 2 – 4 liter / menit.
6.       Alihkan perhatian individu dari ansietas dan ajarkan cara bernafas efektif.
7.       Berikan obat-obatan (bronkodilator, kartikosteroid, antihistamin dll) sesuai dosis.
8.       Observasikan efek samping obat (bronkodilator) dengan adanya gejala-gejala yang muncul.
-          Rasional
1.       Pola pernafasan yang tidak terputus dan dangkal menunjukkan pola nafas yang tidak efektif.
2.       Mengetahui keefektifab pemberian obat-obatan.
3.       Mengevaluasi terhadap hasil terapi
4.       Membantu dalam ekspansi paru.
5.       Dengan memenuhi kebutuhan oksigenasi, mengurangi beban atau otott-otot perawasan
6.       Ansetas dapat menyebabkan pola nafas tidak efektif.
7.       Membantu proses penyembuhan penyakit.
8.       Mengetahui adanya tachicardue, tumor, dan lain-lain.

Dx : Ansietas berhubungan dengan sesak nafas,Takut menderita dan takut serangan.
-          Tujuan
Ansietas berkurang dan rasa takit hilang
-          Kriteria hasil
a.       Ekspresi wajah releks
b.       Mengungkapkan perasaan cemas berkurang
c.       Tanda-tanda vital dalam batas normal
-          Rencana intervensi
1.       Kaji tingkat ansietas klien (ringan, sedang, berat)
2.       Kaji kebiasaaan ketrampilan koping
3.       Berikan dukungan emosional
4.       Anjurkan penggunaan tehnik relaksasi seperti aktivitas hiburan
5.       Jelaskan setiap prosedur tindakan yang akan dilakukan
6.       Berikan tindakan kenyamanan seperti merubah posisi pasien
7.       Pertahankan lingkungan tenang untuk memberikan periode istirahat yang tidak terganggu
-          Rasional
1.       Mengetahui tingkat kecemaan untuk memudahkan dalam perencanaan tindakan selanjutnya
2.       Menilai mekanisme koping yang telah dilakukan serta menawarkan alternatif koping yang bisa digunakan
3.       Dukung emosional dapat memantapkan hati untuk mencapai tujuan yang sama
4.       Relaksasi merupakan salah satu metode dalam menurunkan dan menghilangkan kecemasan
5.       Pemahaman terhadap prosedur akan memotifasi klien untuk lebih kooperatif.
6.       Menurunkan cemas dan perhatian tak langsung untuk meningkatkan relaksaso dan kemampuan koping
7.       Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi

6.       IMPLEMENTASI
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana tindakan meliputi beberapa bagian yaitu validasi, rencana keperawatan, memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data.

7.       EVALUASI
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dari rencana tindakan dari masalah kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff H, Murty A. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press, Surabaya 1995.
Capernito, Lynda Juall. Diagnosa Keperawatan, Buku Saku, EGC, Jakarta, 1999, edisi 2
Doenges M.G. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta, 2000, edisi 3
Suparman H. Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1998, Jilid II
Sihning EJ. Tehapuring. Terapi Rasional Asma Bronkial II. Hang Tuah University Press, Surabaya, 1998.


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar