Info Kesehatan

healhty

Minggu, 15 April 2012

asuhan keperawatan dengan appendiksitis


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS
APPENDIKSITIS

A.    KONSEP DASAR

              I.      PENGERTIAN

Appendiksitis adalah peradangan dari appendik, saluran sempit yang meluasa dari bagian inferior (Sharon Mentik, 1996 : 1150). Appendiksitis adalah peradangan pada appendik yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut. (Syivia A Price, 1995 : 401)

           II.      PATOFISIOLOGI

 

























        III.      GEJALA KLINIS

Keluhan appendisitis biasanya bermula dari nyeri dibawah ambilikis atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 – 12 Jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, muntah, leukositosis moderat. Bila neptura appendiks terjadi, nyeri seingkali hilang secara dramatis untuk sementara.

        IV.      PENATALAKSANAAN

1.Sebelum Operasi
a.       Observasi
Dalam 8 – 12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala appendiksitis sering kali masih belum jelas. Dalam keadaan ini obeservasi ketat perlu dilakukan pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit) diulang secara periodik. Foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain.
b.      Intubasi bila perlu
c.       Antibiotik
2.Operasi appendiktom;
3.Pasca Operasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hypertermia, atau gangguan pernafasan. pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasin atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4 – 5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2x30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

           V.      PEMERIKSAAN PENUNJANG

·         SDP :  leukositosis diatas 12.000 / mm3.
      Neutrofri meningkat sampai 75 %
      (Nilai normal : 4500 – 10.000 UI)
·         Urinalis : Normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada
·         Foto abdomen : dapat menyatakan adanya penegrasan material pada appendiks (Fecalisth), rileus terlokalisir.

B.     ASUHAN KEPERAWATAN

Merupakan tindakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam upaya memeperbaiki atau memelihara klien sampai ketahap optimal melalui suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal klien untuk memenuhi kebutuhannya.

              I.      PENGKAJIAN

Pengumpulan data
1.      Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, no register, diagnosa medis, tanggal MRS.
2.      Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh sakit (nyeri) perut kanan bawah, anoreksia, mual dan muntah suhu badan sub febris 37,5oC – 38,5oC.
3.      Riwayat Penyakit dahulu
Biasanya klien dengan appendiks akan mengalami nyeri di perut, kanan bawah yang hebat dan berulang sulit BAB.
4.      Riwayat Penyakit sekarang.
Pada umumnya penderita mengeluh nyeri perut kanan bawah dan sering mual, muntah di sertai panas dalam meningkat.
5.      Riwayat kesehatan keluarga
Di dalam anggota keluarga yang lainnya tidak ada yang pernah menderita penyakit yang seperti diderita klien saat ini.
6.      Pola-pola fungsi
a.       Pola aktivitas dan istirahat.
Aktivitas klien terganggu karena lemah dan malaise.
b.      Pola Nutrisi dan Metabolisme
Kebutuhan nutrisi kurang karena adanya mual, muntah, anoreksia
c.       Pola Eliminasi
Perubahan pola eliminasi, mengalami konstipasi, diare (kadang-kadang).
d.      Pola Istirahat dan Tidur
Klien mengalami gangguan (< 8 jam / hari) karena klien mengalami nyeri abdomen.
e.       Pola Perspesi dan Konsep diri
Klien merasa cemas dan gelisah dengan perubahan yang dialami.

f.       Pola Sensorik dan Kognitif.
Ada keluhan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisir.
           
Ø  PEMERIKSAAN FISIK
-        INSPEKSI
Inspeksi daerah abdomen tidak menunjukkan kelainan.
-        AUSKULTASI
Peristalistik mungkin berkurang, tetapi biasanya normal.
-        PALPASI
Nyeri akan berasal dari kuadran kanan bawah, palpasi dengan satu jari.

Ø  PEMERIKSAAN KHUSUS
-        Rebound Tenderness (Nyeri tekan lepas)
Rasa nyeri ditimbulkan dengan tekanan yang kuat pada abdomen ditempat yang jauh dari proses inflamasi yang kita curigai, kemudian tekanan kita lepaskan dengan tiba-tiba.
-        Iliopsoas Test.
Penderita diminta memfleksikan a culatio coxae melawan tahanan yang kita berikan. Kalau proses radang yang letaknya dekat dengan musculus psoas dengan pemeriksaan tadi penderita akan merasa sakit. Gangguan dalam derajat rendah dapat diketahui dengan menyuruh penderita berbaring pada sisi yang berlawanan dan memfleksikan paha pada posisi yang terkena seluas-luasnya.
-        Obsturator Test
Disini paha dilipat / ditekuk 90 derajat kemudian diadakan endorotasi dan exorotasi. Rasa nyeri pada hipogastrium dapat ditimbulkan jika ada massa radang yang letaknya bersebtuhan. Hal ini mungki positif jika ada appendiksitis pelvis ataupun timbunan cairan atau darah pada pelvis.









           II.      DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Nyeri (akut) berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi
2.      Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan anoreksia, muntah, demam.
3.      Ansieras berhubungan dengan status kesehatan, faktor fisiologis

        III.      PERENCANAAN

Dx 1
Nyeri (akut) berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi
TUJUAN :
Nyeri hilang atau terkontrol
KRITERIA HASIL :
-        Nyeri berkurang
-        skala nyeri O
-        Klien tidak menyeringai
RENCANA TINDAKAN
1.      Kaji ulang tingkat atau skala nyeri
2.      Jelaskan sebab-sebab timbulnya nyeri
3.      Beri penjelasan tentang manfaat dan tehnik relaksasi, distraksi dan anjurkan untuk melakukan tehnik tersebut
4.      Kolaborasi dengan medis dalam pemberian analgesik dan antibiotik
RASIONAL
1.      Untuk mengetahui atau menentukan tingkat keparahan.
2.      Menambah tingkat pengetahuan individu tentang penyakitnya.
3.      Meningkatkan pengetahuan individu dan dapat mengantisipasi lebih awal bila timbul nyeri.
4.      Membantu untuk mengatasi nyeri dan antibiotik diperlukan untuk mencegah dan mengatasi infeksi.

Dx 2
Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan anoreksia, mual.
TUJUAN :
Kebutuhan volume cairan tubuh terpenuhi.
KRITERIA HASIL :
-        Kebutuhan volume cairan terpenuhi
-        Mampu menyebutkan dampak dari anoreksia, muntah
-        Menerima dan mau dilakukannya tindakan untuk mengurangi muntah, anoreksio
RENCANA TINDAKAN
1.      Berikan intake nutrisi dan cairan yang adekuat.
2.      Jelaskan dampak yang dapat ditimbulkan dari anoreksia, muntah.
3.      Jelaskan pada individu tentang tehnik relaksasi sebelum makan.
4.      Awasi tanda vital, status membran mukosa dan turgor kulit.
RASIONAL
1.      Nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan daya tahan tubuh individu.
2.      Adanya anoreksia, muntah dapat menyebabkan resiko kurang volume cairan.
3.      Untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung.
4.      Untuk mengetahui perubahan yang terjadi.

Dx 3
Ansietas berhubungan dengan status kesehatan, faktor fisiologis, kurang pengetahuan.
TUJUAN :
Cemas berkurang dan mau menerima perubahan pada dirinya.
KRITERIA HASIL
-        Mau dan menerima dilakukannya tindakan untuk mengurangi kecemasan.
-        Mampu menyebutkan penyebab dari kecemasan.
RENCANA TINDAKAN
1.      Berikan informasi tentang penyakit dan antisipasi tindakan.
2.      Jelaskan tentang pentingnya istirahat yang cukup.
3.      Evaluasi tingkat kecemasan (ringan, sedang, berat).
4.      Berikan aktivitas yang dapat mengurangi ketegangan (Aktivitas fisik).
RASIONAL
1.      Untuk mengurangi tingkat kecemasan individu.
2.      Istirahat cukup dapat mengurangi ketegangan .
3.      Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien.
4.      Dapat menurunkan tingkat ansieras dan mengurangi ketegangan.

        IV.      IMPLEMENTASI

Implementasi yang dimaksud adalah pengelolaan dan perwujutan dari rencana perawatan,meliputi tindakan perawatan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan advis dokter dan ketentuan rumah sakit.

           V.      EVALUASI

Perbandingan yang sistematis dari rencana tindakan masalah kesehatan dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan yang lain. (Nasrul effendi, 1995)


































DAFTAR PUSTAKA



1)      Areif Mnasjoer dkk (2000), kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media Aesculapius, FKUI.
2)      Pedoman Diagnosa dan Terapi, lab / UPF Ilmu Bedah, 1994 rumah sakit Umum Daerah Soetomo, Surabaya.
3)      Marlyn E. Doenges (2001), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, 1994.
4)      Nasrul Effendi (1995), Pengantar Proses Keperawatan, Jakarta EGC.
5)      Carpenito Lynda Juail (2000), Diagnosa Keperawatan, Jakarta, EGC.



























LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S
DENGAN KASUS APPENDIKSITIS POST OP APPENDICTOMY DI RUANG BEDAH
RS AL-IRSYAD SURABAYA















Disusun Oleh :





AKADEMI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar