Info Kesehatan

healhty

Selasa, 17 April 2012

askep jiwa menarik diri pada SHIZOPRENIA HEBEFRENIK SUB STUPOR


ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. m DENGAN  ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI  PADA  SHIZOPRENIA HEBEFRENIK SUB STUPOR DI RUANG JIWA  C  RSUD DR SOETOMO SURABAYA


A.      Konsep Isolasi  Sosial.

            Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Twondsend, 1998).
            Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Pawlin,  1993).  Terjadinya dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan antara lain perkembangan dan social budaya.  Kegagalan dapat menyebabkan individu tidak percaya pada diri, dan orang lain, ragi, takut, salah, spesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan keinginana  dan merasa tertekan.
             Keadaan ini dapat menyebabkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, menghindar dari orang lain dan kegiatan sehari-hari terabaikan.

B.      Konsep Shizofrenia Katatonik
               Shizofrenia katatonik dapat dimanifestasikan dalam bentuk stupor (ditandai dengan retardasi psikomotor, mutisme, kelakuan seperti lilin (postur), negativisme, regiditas  atau kegaduhan (legitasi psikomotor yang ekstrim yang dapat menyebabkan kelelahan atau kemungkinan melukai diri sendiri/orang lain bila tidak segera ditanggulangi. Shizofrenia katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolic, alcohol obat-obatan serta dapat juga terjadi  gangguan afektif. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk untuk mendiagnosa shizofrenia.
Timbulnya pertama kali antara umur 15 – 30 tahun biasanya akut serta sering didahului stress emosional.  Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.

1.    Gaduh gelisah katatonik :
                Terdapat hyperaktifitas motorik tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar. Klien terus berbicara atau bergerak dan menunjukan steroitipi, manerisme, grimas,Mologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum, sehingga mungkin terjadi dehidrasi atau kolaps atau kadang-kadang terjadi kematian (kehabisan tenaga dan terlebih bila terdapat penyakit badaniah : jantung, paru-paru dan sebagainya).  Seorang yang mulai membaik pada   shizofrenia gaduh gelisah katatonik  berulang-ulang minta dipulangkan dari Rumah Sakit. Pikiran ini diantaranya melalui berbagai macam cara, sehingga sudah merupakan persevverasi.
2.    Supor katatonik   :
              Pada stupor katatonik penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap lingkungan.  Emosinya seperti dangkal. Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti  :
  1. Mutisme kadang-kadang dengan mata tertutup.
  2. Muka tanpa mimik seperti topeng.
  3. Sttupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa hari, kadang-kadang sampai beberapa bulan.
  4. Bila diganti posisinya penderita ditantang  : Negativisme.
  5. Makanan ditolak , air ludah tidak ditelan,  sehingga terkumpul didalam mulut dan meleleh keluar, air seni dan faeces ditahan.
  6. Terdapat  grimas dan katalepsi. Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.
Etiologi Shizofrenia Katatonik  sama sebagaimana gejala shizofrenia secara umum yaitu   :
1.                   Keturunan
2.                   Sistem endokrin
3.                   Sistem metabolisme
4.                   Susunan saraf pusat
5.                   Teori Adolf Meyer
6.                   Teori Sigmund Freud
7.                   Eugen Bleuler
8.                   Shizofrenia sebagai satu sindroma
9.                   Shizofrenia suatu gangguan psikosomatik

Prognosis, Secara umum mempertimbangkan hal-hal berikut  :
1.       Kepribadian pre psikotik
2.       Timbulnya serangan shizofrenia akut lebih baik
3.       Jenis-jenis shizofrenia : jenis hebefrenik dan simpleks sama jeleknya, penderita menuju kearah kemunduran mental.
4.       Umur :makin muda prognosis makin jelek
5.       Pengobatan makin cepat makin baik
6.       Fakktor pencetus : adanya factor pencetus lebih baik
7.       Keturunan : dalam keluarga ada penderita lebih jelek.

Pengobatan :
Prinsip pengobatan  shizofrenia katatonik sama pengobatan shizzofrenia  secara umum  yaitu :
1.       Farmakoterapi
2.       Terapi elektorkonvulsi
3.       Psikoterapi dan rehabilitasi
4.       Hobotomi  pre frontal.


C.     ASUHAN KEPERAWATAN  TN. S DENGAN  ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI  PADA  SHIZOPRENIA KATATONIK SUB  STUPOR DI RUANG JIWA  C  RSUD DR SOETOMO SURABAYA.

Pengkajian
Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilian terhadap stressoe, sumber keping dan kemampuan kuping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Isi pengkajian meliputi :
1.       Identitas klien
2.       Keluhan utama/alasan masuk
3.       Faktor predisposisi
4.       Dimensi fisik / biologis
5.       Dimensi psikososial
6.       Status mental
7.       Kebutuhan persiapan pulang
8.       Mekanisme koping
9.       Masalah psikososial dan lingkungan
10.   Aspek medik
Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga melalui wawancara perawatan disebut data subyektif.
Dari data yang dikumpulkan, perwatan langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang trkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah :  Penyebab (kausa), masalah utama (care problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini diharapkan dapat menudahkan perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan



























BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SKIZOFRENIA HEBEFRENIK


A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

     IDENTITAS KLIEN
    N     a   m    a       :  TN. M                             No. Reg. 10173831
    U   m  u  r            :  21 tahun                         Tgl. MRS : 31-7-2003
    Jenis kelamin       :  Laki-laki                      Tgl Pengkjian  : 12-8-2003
    Agama                  : Islam
    Informasi               : Tn. M
    A l a m a t              : Gilang Taman, Sidoarjo.

I.              ALASAN MASUK
Klien diam sejak 3 hari sebelum MRS, klien tidak mau bicara, sulit tidur, makan/minum hanya sedikit, klien tidak mau keluar rumah, sering menyendiri dikamar, tidak mau kerja dan tidak mau bantu orang tua.

II.            FAKTOR PREDISPOSISI
Klien pernah MRS dengan keluhan yang sama pada bulan juni 2002, kemudian setelah KRS klien tidak kontrol lagi. Anggota keluarga tidak ada yang menderita gangguan jiwa. Aniaya fisik, Aniaya seksual, Penolakan, Kekerasan dalam keluarga, Tindakan kriminal, tidak pernah dialami oleh klien

III.          Faktor Presipitasi  :
Keterangan dari kakak klien sebelum MRS klien tiba-tiba diam tidak mau bicara setelah bertengkar dengan adiknya yang paling kecil (paling dekat dengan klien) mengenai pemilihan sekolah SMA dimana ada perbedaan dengan adiknya tentang pemilihan sekolah untuk adikny, setelah itu klien diam

IV.          FISIK
1.       Tanda vital:  TD: 110/70 mmHg   N: 76    S: 365oC    P: 18x/menit
2.       Ukur :                  TB: 169               BB: 51 kg           Turun                     Naik
3.       Kesadaran Compos Mentis, GCS 456, Keluhan fisik : tidak ada.

V.            PSIKOSOSIAL
    GENOGRAM    :














Keterangan
       =   Perempuan

       =   Laki-laki

       =   Laki-laki Meninggal

       =   Perempuan Meninggal

       =   Orang yang tinggal serumah

       =   Klien

1.       Konsep diri :
a.       Citra tubuh : Klien diam dan tak tahu tentang keadaanya.
b.             Identitas diri  : Klien belum jelas menyebutkan nama, menyatakan sudah tidak bekerja.
c.             Peran : Anak ke 2 dari 3 bersaudara,
d.             Ideal diri   : Klien mengatakan ingin pulang kerumah ingin kumpul lagi bersama keluarga.
e.             Harga diri : Klien tidak suka bergaul dengan teman-teman sebayanya atau dengan tetangganya.
Masalah keperawatan : Gangguan konsep diri : Harga diri rendah.

2.       Hubungan Sosial:
Orang terdekat adalah adiknya, klien tidak pernah terlibat dalam kegiatan sosial. Klien akhir-akhir ini lebih banyak diam dirumah dan menyendiri dikamar.Masalah
Keperawatan: Isolasi sosial : menarik diri.

4.     Spiritual:
a.       Nilai dan Keyakinan : Klien beragama Islam
b.       Kegiatan ibadah : Klien melakukan sholat 5 waktu sebagaimana diwajibkan oleh agamanya.
Masalah keperawatan : Ada permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan spiritual, tidak dapat konsentrasi dengan baik.

VI.          STATUS MENTAL
1.        Penampilan sehari-hari : klien penampilan sehari-hari rapih dan postur tubuh agak kurus, mandi kadang bila dibantu, rambut tersisir rapih, berpakaian sesuai.
Masalah Keperawatan: -
2.       Pembicaraan :  Klien lebih banyak diam,  Nada bicara lambat, klien menjawab pertanyaan dengan singkat.
Masalah Keperawatan:   Kerusakan komunikasi verbal
3.       Aktivitas Motorik : Klien tampak lemah dan sering duduk sendirian, kadang-kadang duduk ditempat tidur, psikomotor menurun.
Masalah Keperawatan: Isolasi sosial : menarik diri
4.       Afek / emosi : Sedih,  pandangan kosong, berdiam diri dan tampak ekspresi wajah lemah. Afek dangkal
Masalah Keperawatan: Isolasi sosial : menarik diri.
5.       Interaksi Selama Wawancara : Saat diajak bicara kontak mata tidak ada, sering menunduk, jawabanya mengangguk atau menggeleng sesuai apa yang ditanyakan, komunikasi verbal sangat minimal  & tak lancar.
Masalah Keperawatan: Isolasi sosial : menarik diri
6.       Persepsi : Tidak ada  halusinasi pendengaran.
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah.
7.       Proses Pikir : Bentuk : non realistik. Arus : asosiasi longgar.
Masalah Keperawatan: Perubahan proses pikir
8.       Isi Pikir : Poverty of thought (kemiskinan akan ide) dan tidak ada waham.
Masalah Keperawatan: Perubahan proses pikir.
9.       Tingkat Kesadaran : Berubah.Orientasi cukup terhadap waktu, tempat dan orang.
Masalah keperawatan :-
10.   Memori  : Klien mengetahui tanggal lahirnya dan tanggal masuk rumah sakit.
Masalah Keperawatan: -
11.   Tingkat Konsentrasi dan Berhitung : dapat menghitung dan berkonsentrasi
Masalah Kepercayaan: -


VII.        KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1.       Makan , BAB/BAK, Mandi, gosok gigi, berpakaian, sudah dapat melakukan sendiri.
2.       Istirahat dan Tidur
Tidur siang lama:           1 jam    s/d        2 jam   
Tidur malam lama:         6          s/d        7 jam   
Aktivitas sebelum/sesudah tidur: 15         s/d        30 menit
3.       Penggunaan obat : perlu bantuan minimal
4.       Pemeliharaan kesehatan, Perawatan lanjutan, Sistem pendukung, Aktivitas di dalam rumah, Mempersiapkan makanan, Menjaga kerapihan rumah, Mencuci pakaian, Pengaturan keuangan : memerlukan bantuan minimal
5.       Aktivitas di luar rumah : berbelanja, transportasi : bantuan minimal.
Masalah Keperawatan: -

VIII.      MEKANISME KOPING
Adatif                                                          Maladatif
Bicara dengan orang lain                              Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah                   Reaksi lambat/berlebihan
Teknik Relokasi                                           Bekerja berlebihan
Aktivitas konstruksi                                     Menghindar
Olah raga                                                    Mencederai diri
Lainnya: Giat dalam kegiatan                        Lainnya
Harian di ruangan, kadang menyendiri,
 Dan diam.
Masalah keperawatan :  Isolasi sosial: menarik diri

IX.          MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
-          Masalah dengan dukungan kelompok: Klien mengatakan keluarga (ibu) mendukung proses pengobatan.
-          Masalah berhubungan dengan lingkungan : Klien mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan sosial dan lingkungan.
-          Masalah dengan pendidikan : Klien mengatakan, saya belum lulus SMA.
-          Masalah dengan pekerjaan : Tidak ada.
-          Masalah dengan perumahan : tidak ada, klien mengatakan tinggal serumah dengan ibunya.
-          Masalah dengan ekonomi : klien termasuk golongan ekonomi lemah.
-          Masalah dengan pelayanan kesehatan : Kurang memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.
-          Kurang pengetahuan tentang : Penyakit jiwa, faktor presipitasi, koping, sistem pendukung, penyakit fisik, obat-obatan

X.            ASPEK MEDIK
a)     Diagnosa multi aksial :
Aksis  I          :  Skizofrenia Hebefrenik
Aksis  II         :  Ciri kepribadian skizoid
Aksis  III        :   -
Aksis  IV        :   -
Aksis  V         :  GAF skala : MRS :  30 - 21
b)    Terafi medik   : Obat – obat : Tanggal 12 – 8 – 2003
                                    - Trifluoperazine (Stelazine) 2 x 5 mg
                                    -  Lorazepam       2 x 2 mg
Terapi gerak : Klien mau ke ruang olah raga dan mau melakukan aktivitas olah raga.
Terapi aktivitas kerja :  Klien mau ke ruang terapi kerja dan mau melakukan aktivitas.

X. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
ANALISA DATA
DATA
MASALAH KEPERAWATAN
S: Keluarga klien mengatakan 1 minggu sebelum klien MRS tidak mau keluar rumah, menyendiri dikamar, tidak mau bekerja, makan dan minum sedikit.
O : Sering duduk menyendiri, ekspresi wajah datar, menunduk dan kontak mata kurang, kepribadian skizoid.

S: Keluarga klien mengatakan 1 minggu sebelum klien MRS tidak mau keluar rumah, menyendiri dikamar, tidak mau bekerja, makan dan minum sedikit.
O : Sering duduk menyendiri, ekspresi wajah datar, menunduk dan kontak mata kurang, kepribadian skizoid.

S : Keluarga klien mengatakan 1 minggu sebelum klien MRS tidak mau keluar rumah, menyendiri dikamar, tidak mau bekerja, makan dan minum sedikit.
O : Sering duduk menyendiri, ekspresi wajah datar, menunduk dan kontak mata kurang,
.
Resiko perubahan sensoeri persepsi b.d isolasi sosial :menarik diri






Isolasi sosial : menarik diri







Gangguan konsep diri; Harga diri rendah b.d koping individu tidak efektif



18. POHON  MASALAH:

Akibat     :                                           Resiko Perubahan Sensori Persepsi :           
                                                                Halusinasi pendengaran
 

Masalah Utama :                               Isolasi sosial : Menarik Diri                          
Core Problem                                        


 


Penyebab     :                                       Harga  Diri Rendah                                                  
 



Koping keluarga tidak efektif.                            Koping Individu tidak efektif.

19. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
     
1.       Resiko perubahan sensori persepsi b.d isolasi sosial :menarik diri
DS : Keluarga klien mengatakan 1 minggu sebelum klien MRS tidak mau keluar rumah, menyendiri dikamar, tidak mau bekerja, makan dan minum sedikit.
DO : Klien selalu menghindar pada orang lain, bila diajak bicara tidak ada kontak mata dan sering menunduk
2.       Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
DS : Keluarga klien mengatakan 1 minggu sebelum klien MRS tidak mau keluar rumah, menyendiri dikamar, tidak mau bekerja, makan dan minum sedikit.
DO : Klien selalu menghindar pada orang lain, bila diajak bicara tidak ada kontak mata dan sering menunduk.
3.       Gangguan konsep diri; Harga diri rendah b.d koping individu tidak efektif
DS : Keluarga klien mengatakan 1 minggu sebelum klien MRS tidak mau keluar rumah, menyendiri dikamar, tidak mau bekerja.
DO : Klien selalu menghindar pada orang lain, bila diajak bicara tidak ada kontak mata dan sering menunduk.








RENCANA  KEPERAWATAN JIWA

Nama Pasien : Tn. M.s.

a.        Ruang Jiwa II C  RSUD Dr. Soetomo Surabaya

No/
Diagnosa

Perencanaan

Tgl
Keperawatan & Tujuan

Kriteria Evaluasi

Tindakan Keperawatan
Rasional
.
11-8-2003

Isolasi sosial : menarik diri b.d harga diri rendah.

Tujuan umum :
Klien mampu berhubungan dengan orang lain tanpa merasa rendah diri.
Tujuan khusus :
1. Klien mampu memperluas kesadaran dirinya














2. Klien mampu menyelidiki / mengeksplorasi diri.












3. Klien mampu mengevalusi dirinya



















4. Klien mampu membuat perencanaan yang realistis untuk dirinya















5. Klien mampu bertanggungjawab dalam bertindak

















6. Klien dapat menggunakan keluarga dalam meningkatkan harga diri








Resiko perubahan sensori persepsi b.d isolasi sosial :menarik diri

Tujuan umum :
Perubahan sensori persefsi: halusinasi dengar tidak terjadi
Tujuan khusus :
1.       Klien dapat hubungan saling percaya :











2.       Klien dapat mengenal halusinasi

















3.       Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik













.







1.1.Setelah dua kali pertemuan klien mampu menyadari dirinya sendiri dengan baik.












2.1. Setelah tiga kalil pertemuan klien mampu menilai aspek-aspek yang ada pada dirinya seperti : menyebutkan aspek kekuatan/kelebihannya dan aspek kelemahannya. diri.






3.1.Setelah tiga kali pertemuan klien mampu menilai/mengevaluasi dirinya sendiri :
-          Menyebutkan pertahanan diri (koping yang dimilki)
-          Perbedaan koping adaptif dan maladaptif











4.1.Setelah 4 kali pertemuan klien mampu membuat perencanaan yang realistis dan sesuai dengan kemampuannya
-          Melanjutkan kegiatan positif di rumah sakit dan di rumah bila klien pulang
-          Bekerja sebaik-baiknya, bila bererja kembali sesuai kemampuannya





5.1. Setelah 4 kali pertemuan klien mampu menunjukkan tanggungjawabnya pada setiap tindakan sesuai dengan rencana ;
-          Menepati rencana yang telah disusun
-          Melaksanakan aktivitas dengan kesadaran sendiri
-          Mengungkapkan keuntungan yang dirasakanya





Setelah pulang ke rumah klien mampu :
6.1.Meningkatkan harga diri














klien dan perawat terbina hubungan saling percaya











Klien dapat mengenal halusinasi

















Setelah 3 kali pertemuan Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik






















1.1.1.Identifikasi kemampuan yang dimiliki klien.



1.1.2. Motivasi klien untuk mendiskusikan perasaannya.

1.1.3. Dengarkan ungkapan pikiran dan perasaan klien dengan penuh empati, beri respon  dan tidak menghakimi.

1.1.4. Beri dukungan untuk menurunkan kecemasan klien.


1.1.5. Tunjukkan bahwa klien adalah individu yang berharga bagi dirinya, bertanggung jawab dan dapat membantu diri sendiri.

2.1.1. Dorong klien mengekspresikan emosi, keyakinan, prilaku dan pikiran secara verbal dan nonverbal. 

2.1.3. Bantu klien untuk mengungkapkan kelebihan dan kelemahannya.
2.1.4.Bantu klien untuk menguraikan hubungannya dengan orang lain

2.1.5.Beri penguatan pada klien bahwa ia berguna dalam menyelesaikan masalahnya

2.1.6.Gunakan sumber daya keluarga yang ada untuk memfasilitasi penyelidikan diri klien

3.1.1.Bersama klien mengidentifikasi stressor dan bagaiman penilaian klien terhadap stressor  tersebut

3.1.2.Jelaskan bahwa keyakinan klien terhadap stressor mempengaruhi pikiran dan prilakunya

3.1.3.Bersama klien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimilkinya

3.1.4.Bandingkan bersama klien, koping adaptif dan maladaptif

3.1.5. Diskusikan kerugian dan akibat respon koping maladaptif dan keuntungan respon koping adaptif

3.1.6.Anjurkan dan bimbing klien dalam memilih dan melakukan koping yang adaptif dalam memecahkan masalah yang dihadapi
3.1.7.Beri pujian atas kemampuan klien memilih dan mencoba melakukan koping yang adaptif

4.1.1.Bantu klien untuk mengerti bahwa hanya klien yang dapat mengubah dirinya, bukan orang lain

4.1.2.Motivasi klien merumuskan tujuannya sendiri (bukan perawat)

4.1.3.Diskusikan bersama klien tentang konsekwensi dan realitas dari tujuannya

4.1.4.Bantu klien untuk menetapkan secara jelas perubahan yang diharapkannya

4.1.5.Motivasi klien untuk memulai pengalaman baru dan berkembang sesuai poetensi yang dimilkinya

4.1.6.Beri pujian atas kemampuan klien


5.1.1.Beri kesempatan kepada klien untuk sukses



5.1.2.Kuatkan dan akui kekuatan, keterampilan dan aspek positif dari kepribadian klien

5.1.3.Bantu klien mendapatkan bantuan yang diperlukan


5.1.4.Libatkan klien dalam kegiatan kelompok


5.1.5.Beri waktu yang cukup untuk proses berubah


5.1.6.Beri dukungan dan pujian untuk membantu klien mempertahankan kemajuannya

6.1.1.Diskusikan dengan klien hal-hal yang dapat dilakukan klien di rumah dalam usaha meningkatkan harga dirinya

6.1.2. Jelaskan manfaat dan kegunaan dari kegiatan dalam meningkatkan harga diri

6.1.3.Beri pujian atas kemampuan klien yang positif











1.1 Bina hubungan saling percaya
-          Salam terapeutik
-          Perkenalan diri
-          Jelaskan tujuan interaksi
-        Ciptakan lingkungan yang tenang
-        Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik, waktu dan tempat berbicara)

1.2 Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
1.3 Dengarkan ungkapan klien dengan empati
Observasi tanda halusinasi

2.1     Lakukan kontak sering dan singkat
2.2    Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke sekitarnya seolah–olah ada teman bicara.
2.3    Bantu klien untuk mengenal halusinasi;
-          Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa yang dikatakan ?
-          Katakan bahwa perawat percaya klien mendengarnya.
-        Katakan bahwa perawatan akan membantu klien
2.4    Diskusikan dengan klien tentang ;
-          Situasi yang dapat menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi
-          Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang sore, malam atau bila sendiri atau bila jengkel / sedih)
2.5    Diskusikan dengan klien tentang apa yang di-rasakan bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang) dan berkesempatan mengung-kapkan perasaan
3.1  Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat.

3.2 Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat merasakan manfaatnya.

3.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat tentang efek dan efek samping obat yang di-rasakan

3.4 Diskusikan akibat berhenti obat tanpa konsultasi.

3.5 Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu)











Tingkat kemampuan klien seperti : menilai realirtas kontrol diri atau integritas ego diperlukan sebagai dasar untuk intervensi asuhan keperawatan

Meningkatkan keterbukaan klien.

Sikap empati memberikan arti bahwa perawatan peduli pada klien tetapi tidak terlibat secara emosi.

Kecemasan dapat timbul pada klien harga diri rendah saat berinteraksi dengan orang lain.

Meningkatkan kepercayaan diriklien, sehingga klien merasa lebih dihargai.


Membantu klien untuk menerima pikiran dan perasaannya.


Keterbukaan dan pengertian tentang persepsi diri sendiri adalah prasyarat untuk berubah
Dapat memberikan gambaran konsep diri dan hubungan dengan orang lain secara terbuka.

Penguatan akan memberikan keyakinan bahwa kekuatan untuk berubah atau menyelesaikan masalah ada pada dirinya

Keluarga dan kelompok merupakan tempat yang tepat untuk memfasilitasi penyelidikan diri klien

Dengan mengetahui masalah secara jelas, usaha atau alternatif pemecahan masalah dapat direncanakan

Prilaku yang ditampilkan klien merupakan cerminan dari keyakinan yang dimilki klien

Klien dapat mengenal aspek positif dengan baik pada dirinya


Pengetahuan klien tentang koping adapatif dan maladaptif, membantu klien dalam menentukan pilihan koping yang tepat

Respon koping maladaptif tidak berguna untuk memecahkan masalah yang dihadapi

Akan meningkatkan motivasi klien untuk memilih dan mencoba koping adaptif

Pujian dapat meningkatkan harga diri klien dan menimbulkan minat untuk selalu melaksanakan hal-hal yang positif

Untuk menanamkan sikap dalam bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri

Klien adalah individu yang bertanggungjawab terhadap kehidupannya sendiri

Untuk memotivasi klien menilai rencana dan tujuan yang akan dilaksanakan

Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya]


Memulai pengalaman baru merupakan langkah awal dalam bertindak secara realistis

Pujian dapat meningkatkan harga diri klien


Dengan adanya kesempatan akan memotivasi klien untuk menggantikan koping maladaptif dengan yang adaptif dalam bertindak

Penguatan akan kemampuan, keterampilan dan aspek positif klien akan meningkatkan harga diri klien

Sumber daya dan sumber dana diperlukan dalam proses berubah

Pengakuan kelompok terhadap klien dapat meningkatkan harga diri dalam bertindak yang adaptif

Waktu yang cukup akan memaksimalkan keinginan klien untuk berubah

Dukungan dan pujian pada hal-hal yang positif dapat meningkatkan harga diri klien

Dengan mengetahui cara untuk meningkatkan harga diri akan menjadikan pertimbangan klien untuk memulainya

Dengan mengetahui guna dan manfaat akan meningkatkan motivasi klien untuk memulai sesuatu

Pujian dapat meningkatkan harga diri klien











Menambah rasa percaya diri klien untuk mengungkapkan perasaan dan dapat terbina hubungan saling percaya







Dukungan dan pujian pada hal-hal yang positif dapat meningkatkan harga diri klien



Untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya
Melihat  tingkah laku yang terkait dengan adanya halusinasi








Positif reinforcement mendorong semangat menggunakan perilaku pengembangan koping yang dapat diterima







Menambah pengetahuan bagi klien dan keluarga sehingga menambah tingkat kepatuhan minum obat

Meningkatkan rasa kepatuhan minum obat


Menghindari resiko efek samping obat, anti psikotik mempunyai efek samping EPS yang membahayakan pada kondisi klien
Menambah pengetahuan bagi klien dan keluarga sehingga menambah tingkat kepatuhan minum obat
Menambah pengetahuan bagi klien dan keluarga sehingga menambah tingkat kepatuhan minum obat



















TINDAKAN KEPERAWATAN

Tanggal
NO. DX
Implementasi
Evaluasi
11 –8- 2003








12 –8- 2003








13 –8- 2003











14 –8- 2003










15 –8- 2003























19-8-2003
DX. I
TUK.1







DX. I
TUK.1







DX. I
TUK.1










DX. I
TUK.1









DX. I
TUK.1







TUK 2



DX. 2
TUK 1









DX 1
TUK 3

TUK 4
Menyampaikan salam “ Selamat pagi Mas ….” ( Ekspresi datar, diam, tidak menjawab)
-          Memperkenalkan diri
-          Menjabat tangan
-          Mempertahankan kontak mata
“ Nama saya Arif. M saya mahasisiwa PSIK praktek di sini selama 1 bulan dari Senin-Jum’at akan merawat mas di sini. Kalau boleh tahu nama Mas siapa dan suka dipanggil siapa ?


Menyampaikan salam “ Selamat pagi Mas ….” ( Ekspresi datar, diam, tidak menjawab)
-          Memperkenalkan diri
-          Menjabat tangan
-          Mempertahankan kontak mata
“ Nama saya Arif. M saya mahasisiwa PSIK praktek di sini selama 1 bulan dari Senin-Jum’at akan merawat mas di sini. Kalau boleh tahu nama Mas siapa dan suka dipanggil siapa ?


Menyampaikan salam “ Selamat pagi Mas ….” ( Ekspresi datar, diam, tidak menjawab)
-          Memperkenalkan diri
-          Menjabat tangan
-          Mempertahankan kontak mata
“ Nama saya Arif. M saya mahasisiwa PSIK praktek di sini selama 1 bulan dari Senin-Jum’at akan merawat mas di sini. Kalau boleh tahu nama Mas siapa dan suka dipanggil siapa ?”
“ Nama Mas MS kan ? senang kalau saya panggil Mas S ? “
“ Mas S sudah mandi ? sudah minum obat ?”



Menyampaikan salam “ Selamat pagi Mas ….” ( Ekspresi datar, diam, tidak menjawab)
-          Memperkenalkan diri
-          Menjabat tangan
-          Mempertahankan kontak mata
“ Nama saya Arif. M saya mahasisiwa PSIK praktek di sini selama 1 bulan dari Senin-Jum’at akan merawat mas di sini. Kalau boleh tahu nama Mas siapa dan suka dipanggil siapa ?”
“ Nama Mas MS kan ? senang kalau saya panggil Mas S ? “
“ Mas S sudah mandi ? sudah minum obat ?”


- Menyampaikan salam “ Selamat pagi Mas ….”
-          Menjabat tangan
-          Mempertahankan kontak mata
- Mengevaluasi kemampuan klien  TUK 1, “ Mas S masih ingat nama saya ? “
- “ Mas S sudah mandi ? sudah minum obat ?”
- Mengingatkan kontrak, topik,waktu dan tempat
    “ Apakah  S masih ingat pertemuan kita kemaren pagi, pertemuan sekarang akan   membicarakan apa?”
- Mendiskusikan kelebihan yang klien punyai
- Menanyakan perasaan klien saat ini
- Memberikan reenforcement atas kemauan klien untuk mau mengungkapkan perasaannya

- Memberikan pujian karena klien sudah mau bicara “ Alhamdulillah mas mau bicara”
- Mendorong klien untuk bercerita lebih jauh tentang keadaan dirinya “ Bagaimana perasaan Mas sekarang ? sudah baikkan?”
- Mengklarifikasi kata-kata klien yang tidak dimengerti “ Maksud Mas S bagaimana saya masih belum mengerti ?”






- Menjelaskan pada klien manfaat berhubungan dengan orang lain “Bagaimana rasanya mas S kalau hidup sendiri tanopa da orang lain ?”

Membantu klien membuat kesimpulan secara relistik apa yang sudah direncanakan dalam berhubungan dengan orang lain “ Bagaimana Mas rencana selanjutnya ingin punya teman lagi ?”

S : -
O : -  Klien diam tidak berbicara sepatah katapun, mata dengan pandangan kosong. Kontak mata belum ada
A : Fase perkenalan belum berhasil karena klien diam
P : Lanjutkan fase orientasi dengan mengadakan kontrak untuk pertemuan berikutnya besok jam 10.30-10.50 tanggal 12-8-2003


S : -
O : -  Klien diam tidak berbicara sepatah katapun, mata dengan pandangan kosong. Kontak mata sudah ulai  ada
A : Fase perkenalan belum berhasil karena klien diam
P : Lanjutkan fase orientasi dengan mengadakan kontrak untuk pertemuan berikutnya besok jam 09.30-09.50 tanggal 13-8-2003



S : -
O : -  Klien diam tidak berbicara sepatah katapun, mata dengan pandangan kosong. Kontak mata sudah mulai ada
A : Fase perkenalan belum berhasil karena klien diam
P : Lanjutkan fase orientasi dengan mengadakan kontrak untuk pertemuan berikutnya besok jam 09.00-09.10 tanggal 14-8-2003






S : -
O : -  Klien diam tidak berbicara sepatah katapun, mata dengan pandangan kosong. Kontak mata sudah  ada
A : Fase perkenalan belum berhasil karena klien diam
P : Lanjutkan fase orientasi dengan mengadakan kontrak untuk pertemuan berikutnya besok jam 09.00-09.10 tanggal 15-8-2003




S : Klien mampu berbicara walau hanya dengan kata-kata singkat, mampu menjawab pertanyaan siapa nama perawat “Arif”dan menjawab kata “ya”/’tidak”
O :  Klien terlihat lebih tenang, bicara masih lambat dan mau mengikuti kegiatan olahraga bersama orang lain dan ikut aktif terlibat dalam kegiatan
A : TUK 1dan 2  tercapai dimana klien dapat mengungkapkan perasann menarik diri
P : Pertemuan tanggal 19-8-2003 jam 09.00-0910 mengenai topik mamfaat betrgaul/berhubungan dengan orang lain


S : Klien mampu berbicara walau hanya dengan kata-kata singkat, mampu menjawab pertanyaan dengan  kata “ya”/’tidak” dan mau mengulang jawaban yang perawat tidak mengerti seperti “saya mau pulang”
O :  Klien terlihat lebih tenang, bicara masih lambat dan mau mengutarakan masalahnya
A : TUK 1  tercapai dimana klien suadah mau berbicara/berkumonikasi dengan perawat
P : Pertemuan tanggal 19-8-2003 jam 09.00-0910 mengenai topik mamfaat betrgaul/berhubungan dengan orang lain

S : Klien mampu berbicara dengan kata-kata singkat, mampu menjawab pertanyaan dengan  kata “ya”/’tidak” dan mau mengulang jawaban yang perawat tidak mengerti seperti “saya mau pulang”
O :  Klien terlihat lebih tenang, bicara masih lambat dan mau mengutarakan masalahnya
A : TUK 3 dan 4  tercapai dimana klien suadah mau berbicara/berkumonikasi dengan perawat
P : Persiapan klien pulang












4 juni 2002
jam 08.00






Jam  09.00


Jam 11.00

5 Juni 2002
jam 08.00


jam 11. 00



6 Juni 2002
jam 08.00

jam 09.00

jam 12.00


7 juni 2002
jam 08.00
jam 09.00





Jam 10.00








Jam 12.00

-Membina hubungan saling percaya dengan membuat perjanjian
-Membantu memenuhi kebutuhan Nutrisi dengan memberi pengertian manfaat makan dan obat Trifluofenazine 2,5 mg
-Membantu keluarga untuk mampu membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
-Mengajak klien untuk latihan lakukan aktifitas
-Mengajak klien untuk ikut lakukan aktifitas kelompok
-Melakukan pendekatan lagi untuk menggali permasalahan yang sedang dihadapi klien

-Membantu klien minum obat
-Mengajak klien dalam aktifitas gerak/olahraga

-Mengajak diskusi tentang kegiatan yang akan dilakukan selama di RS dan di rumah
-Mencoba lagi menggali perasaan supaya mau berbicara

-Menyapa klien sambil menanyakan obat sudah diminum apa belum
-Memberikan dorongan pada klien untuk lakukan aktifitas agar tidak terus tidur
-Menanyakan apakah  kegiatan klien bila sudah pulang nanti dan memberikan dukungan untuk selalu beraktifitas dan tidak selalu menyendiri.

-Membantu memberikan obat
-Mengajak ngobrol dengan klien agar mau bicara 

-Mendiskusikan dengan keluarganya kegiatan yang harus dilakukan bila sudah pulang kerumah agar tidak selalu menyendiri dirumah
-Mengajak lakukan aktifitas olahraga sambil memberikan  pengetahuan tentang manfaat aktifitas gerak
- Mengajak ngobrol dan mendiskusikan tentang manfaat obat, makanan yang telah dimakan
- Mengajak diskusi tentang persiapan bila dirumah dan memotivasi sikap klien yang sudah kooperatif untuk dipertahankan
- Menganjurkan agar supaya obat diminum secara teratur dan kontrolsesuai jadwal yang telah ditentukan dan bila terjadi sesuatu dari efek obat segera dibawa ke RS (untuk keluarganya)
-           Mendiskusikan tentang perawatan klien dirumah denga orang tua agar klien tidak kambuh lagi.




EVALUASI :

TANGGAL  :

4 JUNI 2002 :

Klien belum bias diajak komunikasi, hanya menjawab ya atau tidak, sambil memalingkan perhatian pada tempat lain.

5 JUNI 2002 :

Klien sedikit mau bicara bila dittanya mengapa ingin pulang, klien mengatakan kangen dengan keluarga. Klien mau olahraga tapi sebentar saja. Lalu pergi keruangan untuk istirahat.

6 JUNI 2002

klien nangis karena pingin pulang . Bila ditanya tidak mau menjawab, hanya mengeluh terus untuk mau pulang. Makan dan minum serta perawatan diri sudah dapat dilakukan sendiri.


7 JUNI 2002
Klien tampak berseri-seri saat ditanya sangat kooperatif dalam memberikan jawaban dan mau menatap sipenanya. Bila ditanya kegiatan dirumah klien mampu menyebutkan.
Klien pulang jam 13. 30
-Klien hanya mengangguk-ngangguk sambil tersenyum
-Kontak mata belum ada


-Klien mau diajak lakukan latihan gerak ringan
-Klien mau berkumpul namun disuruh bicara belum mau
-Klien tidak mau bicara

-Klien minum obat atas bantuan petugas
-Klien ikut kegiatan olahraga
-Klien tidak mau bicara
hanya kata ingin pulang



-Klien sudah mulai menjawab bila ditanya


-Klien mau dan bias menyebutkan kegiatanya selama berada dirumah

-Mau ngomong tapi hanya singkat-singkat saja.



-Klien mau ikut dalam kegiatan olahraga

-Klien tampak sengan bicara sudah lancar dan wajah berseri-seri


Klien menyebutkan kegiatan yang dilakukan dirumah

Menerima dan mau melaksanakan pesanan yang telah dianjurkan


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar