Info Kesehatan

healhty

Jumat, 04 Mei 2012

makalah efusi pleura


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi sistem pernapasan dan dapat menimbulkan masalah-masalah yang dapat berakhir gagal napas. Masalah yang sering ditemukan adalah penyakit paru-paru yang biasa disebut dengan Efusi pleura dan masih banyak lagi ganguan pernapasaan.
Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam cavum pleura (Kapita Selekta Kedokteran, Hal. 484).
Efusi pelura adalah akumulasi cairan dalam ruang pleura dan mengubah tempat jaringan paru dan juga dapat terjadi ke dalam mediastinum dan torsio bronchus. Efusi Pleura adalah adanya cairan dalam kavum pleura. Jadi dapat disimpulkan bahwa Efusi Pleura  adalah adanya cairan dalam kavum pleura

B.     TUJUAN PENULISAN
1.      Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan Asuhan keperawatan pada klien dengan EFUSI FLEURA, yang diharapkan akan mampu mengidentifikasikan seluruh masalah yang terjadi sehubungan dengan EFUSI FLEURA.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu mengkaji klien dengan masalah utama EFUSI FLEURA
b.      Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan klien dengan masalah utama EFUSI FLEURA
c.       Mahasiswa mampu merencanakan tindakan keperawatan klien dengan masalah EFUSI FLEURA
d.      Mahasiswa mampu mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan klien dengan masalah EFUSI FLEURA
e.       Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan klien dengan masalah EFUSI FLEURA

C.    METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu:
a.       Metode kepustakaan
Metode penulisan dengan menggunakan beberapa literatur sebagai sumber.
b.      Metode wawancara
Data diperoleh dengan wawancara langsung kepada klien dan perawat ruangan.
c.       Metode observasi
Dengan mengobservasi langsung kepada klien dengan masalah utama Hambatan reabsorbsi cairan dari rongga pleura.

D.    S1STEMATIKA PENULISAN
a.    Bab I : Merupakan pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
b.   Bab II : Tentang landasan teori yang memuat konsep dasar medis dan konsep dasar keperawatan serta Intervensi keperawatan.

BAB II
LANDASAN TEORI

I.         DEFENISI DASAR MEDIS
1.      Defenisi
Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam cavum pleura (Kapita Selekta Kedokteran, Hal. 484).
Efusi pelura adalah akumulasi cairan dalam ruang pleura dan mengubah tempat jaringan paru dan juga dapat terjadi ke dalam mediastinum dan torsio bronkhus (Patofisiologi untuk Keperawatan, Hal. 107)
Efusi Pleura adalah adanya cairan dalam kavum pleura
2.      Anatomi Paru
Paru-paru ada 2, merupakan alat pernafasan utama. Paru-paru mengisi rongga dada yang terletak di sebelah kanan dan kiri, di tengah terpisah oleh jantung beserta pembuluh darah besar dan struktur lainnya terletak di dalam mediastinum. Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apek (puncak) di atas dan muncul sedikit lebih tinggi dari klavikula di dalam dasar leher. Paru-paru kanan mempunyai 3 lobus dan paru-paru kiri 2 lobus (Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Hal. 215)

3.      Etiologi
-          Hambatan reabsorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada kompensasi kordis, penyajit ginjal, tumor mediastinum, sindroma meig dan sindroma vena cava superior.
-          Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (TBC, pneumonia, virus) , bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus kerongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma.
-          Neoplasma, seperti neoplasma brokhogenik
-          Kardiovaskuler, seperti gagal jantung, perikarditis
-          Penyakit pada abdomen, seperti pankreatitis, asites, abses
-          Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikrobakterional
-          Trauma
-          Lain-lain seperti syndrom nefrotik
4.      Patifisiologi
Cairan pleural normalnya hanya cukup untuk berfungsi sebagai pelumas pleura fiseral dan parietal. Penambahan cairan pleura dan efusi pleura dapat terjadi akibat penyakit dan trauma. Trauma pada thoraks dapat berakibatkan perdarahan ke dalam rongga pleura yang disebut hematotorak. Efusi pleura sering sekali di bagi dalam kategori eksudat dan transudat. Ini terjadi akibat penyakit seperti gagal jantung kongesti memiliki kadar yang lebih rendah. Jika fungsi itu mengandung materi purulen disebut sebagai empisema dan jika berakhir akan terjadi fibrosis pada paru dan dinding thoraks disebut fibrotoraks. Dan jika terdapat cairan yang lebih dari batas normalnya akan terjadi efusi pleura.(Penyimpangan KDM Terlampir)
5.      Manifestasi Klinis
Ini tergantung kecepatan pada hemotoraks akibat aneurisma aorta yang pecah, darah dengan cepat mengumpul dan timbul tanda dan gejala kehilangan darah dan gesekan letak mediastinum. Bila prosesnya lambat mungkin tertampung sampai 2000 cc cairan dalam rongga pleura sebelum ada gejala dispnea.
Disini penderita tiba-tiba menjadi demam, panas disertai menggigil, terkadang juga ada yang menderita kejang, sakit kepala, sesak serta perasaan tubuh tidak enak. Suhu tubuh meningkat dengan cepat hingga 40 oC. Keadaan seperti ini dapat berlangsung sampai 1 minggu kemudian suhu tubuh menurun dengan tiba-tiba dan juga terjadi muntah-muntah atau mual ini akibat saraf paru dan lambung terangsang sehingga terjadi refleks muntah. Bagian tepi dari dada terasa nyeri dan terdapat batuk penyebab dari rasa nyeri tersebut.
6.      Diagnosis
a.       Anamnesi : adanya kebutuhan nyeri dada
b.      Pemeriksaan fisik pada daerah efusi, fremitus tidak ada, perkusi redup, suara nafas berkurang
c.       Analisis : cairan efusi diambil melalui torakosentesis
d.      Pemeriksaan radiologi : dalam foto thoraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat permukaan yang akan melengkung jika jumlah efusi pleura lebih dari 300 ml, pergeseran mediastinum kadang ditemukan
7.      Komplikasi
a.       Infeksi paru
b.      Fibrosis paru
c.       Radang paru
8.      Penatalaksanaan
a.       Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subjektif, seperti nyeri, dispnea dan lain-lain. Cairan efusi sebenarnya 1-1,5 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya odema paru jika jumlah cairan efusi lebih banyak, maka pengeluaran cairan berikutnya baru dilakukan 1 jam kemudian.
b.      Selain dari obat-obatan antibiotik penderita juga harus banyak beristirahat dan berada di tempat tidur
c.       Usahakan agar posisi tidurnya cukup menyenangkan bagi penderita
d.      Terapi tergantung penyebab penyakit, namun pada umumnya dengan drainase atau WSD dan juga USG, foto thoraks

II.       KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN

Istirahat/aktifitas :
Subjektif   : kelemahan dan kelelahan, gangguan tidur ; tirah baring/immobilisasi ; nafas pendek, dispnea
Objektif  :  kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan aktifitas gerak akibat dari sesak ; gangguan tidur ; kecepatan jantung tidak normal, TD tidak berespon pada aktifitas
Sirkulasi :
Subjektif   : riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, nyeri dada ; riwayat trauma ; riwayat kardiovaskuler seperti gagal jantung dan kanker paru
Objektif  :  takikardia ; bunyi jantung ekstra, misalnya S3 dan S4 ; nadi mungkin normal kembali/lembut
Integritas ego :
Subjektif            : ketakutan, perasaan mau pingsan ; takut mati
Objektif  :           gelisah, gemetar, perilaku panik ; wajah tegang ; peningkatan keringat
Pernafasan :
Subjektif            : riwayat penyakit paru ; lapar udara/dispnea
Objektif  :           takipnea, dispnea, pernafasan tersengal-sengal ; batuk (basah/kering)

III.             DIAGNOSA KEPERAWATAN

a.       Gangguan pola pernafasan : tidak efektif berhubungan dengan ekspansi paru
Tujuan : pola nafas efektif
Rencana tindakan dan rasional :
o   Kaji frekwensi, kedalaman pernafasan dan ekpansi dada, catat upaya pernafasan (kecepatan biasanya meningkat. Kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas, ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektase atau nyeri dada pleuritik
o   Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas tambahan seperti mengi, gesekan pleural (bunyi nafas menurun, bekuan atau kolaps jalan nafas kecil/atelektase. Ronki dan mengi menyertai jalan nafas/kegagalan nafas)
o   Tinggikan kepala dan bantu mengatur posisi (duduk tinggi memungkinan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. Pengubahan posisi dapat meningkatkan pengisian udara pasa semua segmen paru)
o   Observasi pola batuk (kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering atau kerusakan jaringan/infark paru atau antikoagulansi berlebihan)
o   Bantu fisioterapi dada, misalnya drainase postural dan perkusi area yang tidak sakit (memudahkan upaya pernafasan dalam dan meningkatkan drainase dari segmen paru ke dalam bronkhus dimana dapat mempercepat pembuangan dengan batuk)
b.      Gangguan pertukaran gas (kerusakan) berhubungan dengan terganggunya aliran udara ke bagian utama paru
Tujuan : pertukaran gas adekuat
Rencana tindakan dan rasional :
                                                 i.      Catat kedalaman pernafasan, penggunaan otot bantu, nafas bibir (takipnea dan dispnea menyertai obstruksi paru. Kegagalan pernafasan lebih berat menyertai kehilangan paru unit fungsional)
                                               ii.      Auskultasi paru untuk penurunan/tidak adanya bunyi nafas dan adanya bunyi tambahan, misalnya krekels (area yang tidak terventilasi dapat diidentifikasi dengan tidak adanya bunyi nafas)
                                             iii.      Lakukan tindakan untuk memperbaiki/mempertahankan jalan nafas (meningkatkan ekspansi dada maksimal, membuat mudah bernafas yang meningkatkan kenyamanan psikologis/fisiologis)
                                             iv.      Tinggikan kepada tempat tidur sesuai kebutuhan/toleransi klien (meningkatkan ekspansi paru)
                                               v.      Kaji toleransi aktifitas, misalnya keluhan kelemahan/kelelahan selama bekerja dan perubahan tanda vital (hipoksemia menurunkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas tanpa dispnea berat)
c.       Ketakutan/ansietas berhubungan dengan adanya ancaman kematian/perubahan status kesehatan
Tujuan : ketakutan/ansietas dapat dikurangi/hilang
Rencana tindakan dan rasional :
                                                  i.      Catat derajat ansietas, informasikan pada klien atau teman terdekat bahwa perasaannya normal dan dorong untuk mengekspresikan perasaannya (pemahaman tentang perasaan berdasarkan situasi stress ditambah ketidakseimbangan oksigen yang mengancam/normal dapat membantu klien meningkatkan perasaan kontrol emosi)
                                                ii.      Jelaskan proses penyakit dan prosedur dalam meningkatkan kemampuan klien untuk memahami informasi (menghilangkan ansietas karena ketidaktahuan menurunkan takut tentang keamanan pribadi)
                                              iii.      Berikan tindakan kenyamanan, misalnya pijatan punggung, merubah posisi (alat untuk menghilangkan stress dan perhatian tidak langsung untuk meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping)
                                              iv.      Kembangkan program aktifitas dalam batas kemampuan fisik (memberikan kenyamanan untuk membentuk energi dengan perasaan)
d.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi, program tindakan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit, komplikasi dan terapi jangka panjang
Tujuan : pengetahuan klien tentang penyakitnya bertambah
Rencana tindakan dan rasional :
                                                  i.      Diskusikan dan berikan daftar tertulis tanda/gejala untuk dilaporkan ke dokter, misalnya sesak nafas (pencegahan berhubungan dengan klien yang mengalami mobilisasi berat mengalami riwayat efusi pleura. Catatan: klien menderita efusi pleura mengalami peningkatan resiko terjadinya gagal jantung)
                                                ii.      Diskusikan pentingnya melaporkan pengawasan jadwal laboratorium dan kunjungan dokter (pengawasan medik penting bila terapi mungkin terganggu/dihentikan tergantung informasi yang didapat)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar