Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

-----

TINGKAT KECEMASAN PASIEN SEBELUM DILAKUKAN ORIENTASI


PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG
1
 
Tindakan pembedahan merupakan pengalaman menegangkan bagi sebagian pasien, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai tindakan perawatan maupun tindakan medis yang akan dilakukan terhadapnya, perawat bertanggung jawab dalam memberikan informasi dan atau penyuluhan terkait dengan tindakan pembedahan yang akan di terimanya (Hawari, 2001). Penyuluhan pre operasi sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatan sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. Tuntutan pasien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan, tambahan pengetahuan, keterampilan, dan perubahan perilaku. Penyuluhan pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan diberikan dangan tujuan meningkatkan kemampuan adaptasi pasien dalam menjalani rangkaian prosedur pembedahan sehingga klien diharapkan lebih kooperatif, berpartisipasi dalam perawatan post operasi, dan mengurangi risiko komplikasi post operasi (Kaplan and Sadock, 1997).

Sebagian besar pasien yang akan menjalani operasi sectio caesaria dengan persiapan atau sudah direncanakan, dimana klien sudah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan-keperluan selama dan setelah operasi. Tetapi sebagian lagi klien masuk tanpa persiapan dan tanpa perencanaan sebelumnya. Meskipun dengan cara apapun klien akan menjalani operasi, ia akan merasa takut dan cemas. Fenomena seperti ini bagi perawat adalah hal yang biasa, tetapi bagi klien dan keluarganya sangat menakutkan dan aneh. Oleh karena itu menerima penderita baru khususnya yang akan menjalani tindakan operasi perlu dilakukan orientasi.
Melihat keadaan diatas, perawat sebagai lini terdepan dari pelayanan kesehatan diharapkan untuk terus memgembangkan profesionalisme, agar dapat menimalkan respons yang negative bagi pasien dan keluarganya. Salah satu upaya untuk meminimalkan respons psikososial negatif tersebut adalah pemberian penyuluhan kepada pasien dan keluarganya. Dalam konteks keperawatan, orientasi berarti mengenalkan segala sesuatu tentang Rumah Sakit meliputi lingkungan Rumah Sakit, tenaga kesehatan, peraturan, prosedur dan pasien lain (Barbara C. Long, 1999). Perawat dan klien bekerja sama untuk menganalisa situasi sehingga mereka dapat mengenali, memperjelas dan menentukan eksistensi sebuah masalah. Sehingga diharapkan dapat mengurangi kecemasan klien dan keluarga, sertabklien dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pengaruh orientasi terhadap tingkat kecemasan klien yang akan menjalani operasi sectio caesaria di ruang operasi Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya.
1.1  Rumusan Masalah
1.       Bagaimanakah tingkat kecemasan pasien sebelum dilakukan orientasi?
2.       Bagaimanakah tingkat kecemasan pasien sesudah dilakukan orientasi?
3.       Bagaimanakah pengaruh orientasi terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani operasi sectio caesaria di RS Mitra Keluarga Surabaya?

1.2  Tujuan
1.2.1   Tujuan Umum
Mempelajari pengaruh orientasi terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani operasi sectio caesaria di RS Mitra Keluarga Surabaya.
1.2.2   Tujuan Khusus
1.       Mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien pre operasi sectio caesaria sebelum dilakukan orientasi di RS Mitra Keluarga Surabaya.
2.       Mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien pre operasi sectio caesaria sesudah dilakukan orientasi di RS Mitra Keluarga Surabaya.
3.       Menganalisis pengaruh orientasi terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi sectio caesaria di RS Mitra Keluarga Surabaya.

4.6 Pengumpulan dan Analisis Data
4.6.1 1nstrumen
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuisioner, untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan klien dengan menggunakan  hamilton anxiety ranting scale (HARS).
4.6.2 Lokasi dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di ruang operasi Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya mulai awal bulan Juli 2007.
4.6.3 Prosedur
Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti mendapat rekomendasi dari Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammdiyah Surabaya untuk melakukan pengumpulan data. Sebelum dilakukan penelitian ini, peneliti terlebih dahulu meminta ijin kepada Direktur Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya untuk melakukan penelitian di Ruang operasi. Kemudian peneliti menyeleksi responden sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Selanjutnya peneliti membagikan kuesioner kepada responden untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien baru dengan alat ukur skala HARS. Kemudian pasien diorientasikan selama 15–20 menit yang meliputi : ruang perawatan, tenaga kesehatan di ruang operasi, prosedur tindakan, memperkenalkan dengan pasien lain, peraturan RS dan biaya perawatan. Setelah diorientasikan tingkat kecemasan pasien dievaluasi kembali dengan skala HARS.
4.6.4 Analisis Data.
Berdasarkan kuisioner tersebut selanjutnya dilakukan tabulasi dan analisis data dengan menggunakan uji statistic Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui variabel dependen dapat diprediksi melalui variabel independen. Analisis statistik hasil kuesioner diskoring dan kemudian dilakukan pembandingan nilai antara sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan dengan uji statistic Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi  a<0.05 bila hasil analisis p<0.05 berarti Ho ditolak atau ada pengaruh orientasi terhadap tingkat kecemasan.


4.7 Etik Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian harus mengajukan permohonan ijin dari direktur Rumah Saki Mitra Keluarga Surabaya untuk mendapatkan persetujuan, kemudian tindakan dilakukan terhadap subyek (responden) dan observasi mulai dilakukan oleh peneliti pada responden yang akan diteliti dengan menekankan masalah etik yang meliputi :
4.7.1 Lembar persetujuan menjadi responden
Lembaran persetujuan sebagai peserta diberikan pada saat pengumpulan data. Tujuanya adalah agar responden mengtahui magsud dan tujuan penelitian serta dampak yang akan terjadi selama penelitian. Jika responden bersedia maka responden menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika responden menolak untuk diteliti maka peneliti menghargai hak-hak tersebut.
4.7.2 Anonimity (tanpa nama)
 Responden tidak perlu mencantumkan nama pada lembar untuk mengetahui keikutsertaan responden peneliti cukup memberikan kode pada lembar jawaban yang dikumpul.

4.7.3 Convidentiallity (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari responden dijaga kerahasiaanya oleh peneliti. Penyajian atau pelaporan hasil riset hanya terbatas pada kelompok data tertentu yang terkait dengan masalah peneliti.


4.8 Keterbatasan
Keterbatasan  adalah  kelemahan  atau  hambatan  dalam  penelitian  yang terdiri :
1.       Sampel yang diambil dalam penelitian ini hanya terbatas pada pasien pre operasi sectio caesaria di RS Mitra Keluarga Surabaya.
2.       Pengumpulan data dengan kuesioner memiliki jawaban lebih banyak dipengaruhi oleh harapan-harapan pribadi yang bersifat subyektif, sehingga hasilnya kurang mewakili secara kwalitatif.

 







































PROPOSAL PENELITIAN PERAWATAN
PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN
PADA PASIEN PRE OPERASI SECTIO CAESARIA
DI RUMAH SAKIT MITRA KELUARGA SURABAYA


























Oleh :

RACHMAD KURNIAWAN
NIM : 0560032



PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
S U R A B A Y A
2 0 0 7
Previous
Next Post »

Translate