Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

-----

AUTISME


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Autisme adalah salah satu epidemik akhir abad 20 yang belum dapat ditemukan penangkalnya oleh lembaga kesehatan dunia WHO dan lembaga peduli kesehatan lainnya. Penelitian mengenai kelainan pertumbuhan anaksudah dilakukan oleh Dr. Longdon Down, hasil penelitiannya dipublikasikan pada tahun 1866 dan tahun 1887, yang memuat gejala umum kelainan pertumbuhan anak atau sindrom down.
Sebagai orang awam, tidak mudah memahami ciri-ciri penyebab kelainan pertumbuhan anak tersebut di atas. Yang dapat dilakukan orang tua secara mudah adalah mengamati pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan gerak anak (merangkak, berdiri dan berjalan), serta kemampuan anak bercakap-cakap dan berinteraksi dengan lingkungan terdekat. Pada anak penyandang autsime, umumnya pertumbuhan fisik anak terlihat wajar dan normal, hanya mengalami beberapa keterbatasan dalam memfungsikan organ tubuhnya yang secara medis dikenal sebagai:
1.      Anak yang susah berbicara atau aphasia, umumnya pada usia 14 bulan anak sudah lancar berbicara,
2.      Anak yang tidak dapat atau sulit menggerakkan badannya karena gangguan saraf motorik atau apraxia,
3.      Anak yang sulit menggerakan otot-ototnya atau ataxia,
4.      Anak yang tangannya terus menerus bergerak secara tidak terkendali atau athetoid,
5.      Anak yang mengalami kesulitan membaca atau dyslexia,
6.      Anak yang mengalami kesulitan mengucapkan kata yang sulit atau kalimat rumit atau dysphasia,
7.      Anak yang mengalami kesulitan menggerakkan kaki dan tangan atau dyskinesia,
8.      Anak yang mengalami kelainan perilaku atau kejiwaan yang berat atau mental psikotik
Ditinjau dari aspek keparahan tingkat kelainannya, dapat disimpulkan bahwa tingkat kelainan yang paling ringan adalah kelainan perilaku yang umumnya disandang oleh anak autisme, karena secara kasat mata keadaan pertumbuhan fisiknya dapat dikatakan normal. Kelainan perilaku seperti suka menyendiri, selalu menghindar tatap mata, dan terkesan sangat aktif sehingga suka menyentuh/memegang yang ada disekitarnya. merupakan ciri utama penyandang. Kesulitan mengembangkan kemampuan berbicara merupakan ciri lain penyandang autisme yang perlu dicarikan solusi yang tepat.

B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis merumuskan masalah tentang autisme pada anak khususnya mengenai interaksi dengan anak autisme termasuk perawatannya.

C.    Tujuan
Tujuan Umum
Mengetahui gambaran secara umum tentang anak penyandang autisme baik tanda maupun gejala – gejalanya.
Tujuan Khusus
  1. Mengidentifikasi.perilaku anak autisme
  2. Mengidentifikasi cara berinteraksi anak autisme
  3. Mengidentifikasi strategi berinteraksi dengan anak autisme











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Anak autisme adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan pervarsif yang ditandai dengan gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, komunikasi, dan adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan, yang terjadi pada anak sebelum berumur tiga tahun.
Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks dan disebabkan adanya kelainan otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan social, sensoris, dan belajar. Biasanya gejala sudah mulai tampak pada anak berusia dibawah 3 tahun.(Raharjo, 2002)
Gangguan komunikasi ditandai dengan ketidakmampuan menjalin interaksi sosial seperti kontak mata sangat kurang ekspresif, muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju, tak bisa bermain dengan teman sebaya, kurangnya empati, serta kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
Autisme adalah suatu ketidakmampuan anak untuk mengerti perilaku, apa yang mereka lihat, dengar yang mengakibatkan masalah yang cukup berat dalam hubungan sosialnya.
Autisme  adalah istilah untuk sekumpulan gejala/masalah gangguan perkembangan pervasifpada 3 tahun pertama karena abnormalan pada pusat otak, sehingga terjadi gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi serta prilaku.
B. Penyebab Autisme
        Dari penelitian pakar autisme dapat diklasifikasikan penyebab kelainan pertumbuhan anak kedalam 4 (empat) arus pemikiran, yaitu: kelainan perkembangan otak (brain development disorder) atau karena kelainan perkembangan saraf (neuro development disorder); virus, jamur, rubella, herpes toksoplasma dan akibat vaksin MMR, atau Thimersosal; sistem pencernaan yang kurang baik sehingga rentan terhadap makanan tertentu; karena faktor keturunan atau genetika misalnya kelainan kromosom. Selain itu, kelainan perilaku dan kepribadian anak autisme juga dapat disebabkan oleh kecelakaan, misalnya karena benturan keras (jatuh dan terpukul), karena demam panas tinggi, atau karena keracunan makanan, minuman dan atau obat-obatan.
Penyebab autisme belum dapat diketahui secara pasti. Autisme diduga merupakan gangguan otak karena berbagai sebab, meliputi penyebab genetic atau biologic dan penyebab lingkungan. Kelainan organik yang terbanyak  ditemukan adalah kelainan serebelum hipokampus, amigdala dan batang otak. Kelainan neuro tyransmiter juga ditemukan pada penyandang autisme.
C. Gejala Autisme
Gangguan komunikasi ditandai dengan terlambat bicara atau bicara tetapi tidak digunakan untuk komunikasi, sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang, cara bermain yang kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.
Perilaku autistik ditandai dengan adanya keterpakuan pada satu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tak ada gunanya, adanya gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang, dan seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
            Ganguan intelektual diantaranya adalah IQ di bawa 70%, tapi ada yang IQ di atas 100%(5%).Anak autsme sulit melakukan tugas yang melibatkan tugas pemikiran simbolis atau empati.

D. Jenis Kelainan Autisme.
a.       Childhood autisme.
a.       Kelianan pertumbuhan anak sejak lahir sampai 3 tahun.
b.      Atipical autisme.
a.       Kelainan anak mulai 3 tahun.
c.       Rets syndrom.
d.      Childhood disintegratif disorder
e.       Overaktive disorder assosiated with mental retardasion and stereotype movement.
f.       Asperger syndrom.
g.      Other pervasif development disorder.

E. Mekanisme koping
Mekanisme koping yang bisa di gunakan anak autistik adalah :
a.       Menarik diri
b.      Regresi 

F. Prognosis.
Prognosis pada umumnya buruk,sebagian besar anak akan tidak dapat berdikari pada    usia dewasa.  Prognosis berkaaitan dengan intelegensi dan prilaku

G.   Penatalaksanaan atau Terapi
Untuk melakukan komunikasi dengan anak autisme, kita harus menggunakan kata yang singkat dan simpel sambil memperlihatkan benda konkrit. Contoh pada saat anak akan tidur kita katakan "waktunya tidur" sambil perlihatkan piyama. Contoh lain apabila anak terlalu lama menonton televisi, kita katakan kalimat yang pendek "Matikan TV", sambil menunjuk televisi. Ini akan lebih dimengerti dari pada kita katakan "Nak, ibu pikir kamu terlalu banyak nonton TV".
Kita harus menggunakan penekanan pada kata kunci, yaitu dengan mengeraskan suara ketika menggunakan kata kunci, atau dengan menaruh kata kunci di belakang kalimat. Hal ini karena anak autisme lebih mendengarkan kata-kata terakhir dari kalimat yang diucapkan.
Kita juga harus memperlambat ucapan kita supaya anak mengerti. Caranya pertama ucapkan kalimat dengan suara normal, lalu ulangi dengan lambat dan ada jeda. Tetapi usahakan ucapan kita terdengar alamiah, jangan terlalu lambat dan jangan kaku seperti robot, karena nanti anak akan meniru.
Yang penting apabila kita berkomunikasi dengan anak autisme adalah dengan memperlihatkan benda konkret, karena anak autisme mengalami kesulitan dalam memahami konsep abstrak. Contohnya apabila mau naik mobil, perlihatkan kunci mobil; apabila mau tidur, perlihatkan piyama. Perlihatkan dengan perilaku dan gerak tubuh, umpamanya menawarkan minum sambil memegang gelas dan mendekatkan gelas ke mulut seolah-olah sedang minum.
Apabila sedang membicarakan benda, orang atau tempat, kita tunjuk benda, orang atau tempat tersebut. Kita dapat memperjelas anak misalnya dengan mengangguk atau tersenyum waktu mengatakan "ya", menggeleng waktu mengatakan "tidak".
Kita juga dapat membantu anak dengan menempel gambar-gambar makanan pada dinding lemari es atau lemari makan, sehingga anak dapat menunjuk gambar makanan tersebut bila anak menginginkannya. Kita dapat membuat jadwal kegiatan anak sehari-hari dengan menempel gambar aktivitas, misalnya gambar orang bangun tidur, mandi, berpakaian, makan, pergi ke sekolah dengan naik mobil, gambar sekolah, dan sebagainya.

H. Tahapan komunikasi
Walaupun anak autisme mengalami gangguan dalam berkomunikasi, bukan berari anak autisme tidak bisa berkomunikasi. Anak autisme tetap melakukan komunikasi tetapi dengan gaya komunikasi yang berbeda.
Ada 4 tingkatan komunikasi pada anak autisme, yang tergantung dari kemampuan berinteraksi, cara berkomunikasi, dan pengertian anak itu sendiri. Keempat tahap tersebut adalah "The Own Agenda Stage", "The Requester Stage", "The Early Communicator Stage" dan "The Partner Stage".
Pada tahap pertama (The Own Agenda Stage) anak biasanya merasa tidak bergantung pada orang lain, ingin melakukan sesuatu sendiri. Anak kurang berinteraksi dengan orang tua dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan anak lain. Anak juga melihat atau meraih benda yang dia mau. Anak tidak berkomunikasi dengan orang lain dan bermain dengan cara yang tidak lazim. Anak juga membuat suara untuk menenangkan diri, menangis atau menjerit untuk menyatakan protes. Anak suka tersenyum dan tertawa sendiri. Anak pada tahap ini hampir tidak mengerti kata-kata yang kita ucapkan.
Pada tahap kedua (The Requester Stage), anak mulai dapat berinteraksi walaupun dengan singkat. Anak menggunakan suara atau mengulang bebeapa kata untuk menenangkan diri atau memfokuskan diri. Anak meraih yang dia mau atau menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu. Anak meraih yang dia mau atau menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu. Apabila anak diajak bermain yang melibatkan kontak fisik, anak bisa meminta anda untuk meneruskan permainan fisik dengan melakukan kontak mata, senyum, gerak tubuh atau suara.Anak kadang-kadang mengerti perintah keluarga dan tahap-tahap kegiatan rutin di keluarga.
Pada tahap ketiga (The Early Communicator Stage) anak dapat berinteraksi dengan orang tua dan orang yang dikenal. Anak ingin mengulang permainan dan bisa bermain dalam jangka waktu lama. Anak meminta anda meneruskan permainan fisik yang disukai dengan menggunakan gerakan yang sama, suara, dan kata setiap anda main. Kadang-kadang anak meminta atau merespon dengan mengulang apa yang anda katakan (echolali).
Anak juga dapat meminta sesuatu dengan menggunakan gambar, gerak tubuh, atau kata. Anak mulai dapat memprotes atau menolak sesuatu dengan menggunakan gerak, suara, kata yang sama. Anak pada tahap ini dapat mengerti kalimat sederhana atau kalimat yang sering digunakan, mengerti nama benda atau nama orang yang sehari-hari ditemui, dapat mengatakan "hai" dan "dadah", dapat menjawab pertanyaan dengan mengatakan ya/tidak, dan dapat menjawab pertanyaan 'apa itu?"
Pada tahap yang paling tinggi yaitu "The Partner Stage, anak dapat berinteraksi lebih lama dengan orang lain dan dapat bermain dengan anak lain. Anak juga sudah dapat menggunakan kata-kata atau metode lain dalam berkomunikasi untuk meminta protes, setuju, menarik perhatian sesuatu, bertanya dan menjawab sesuatu. Anak juga dapat mulai menggunakan kata-kata atau metode lain untuk berbicara mengenai waktu lampau dan yang akan datang, menyatakan keinginannya dan meminta sesuatu.
Anak pada tahap ini sudah dapat membuat kalimat sendiri dan melakukan percakapan pendek. Kadang-kadang anak mengulanginya membetulkan apa yang dikatakannya ketika orang lain tidak mengerti. Anak pada tahap ini sudah lebih banyak mengerti perbendaharaan kata-kata.
Tetapi pada tahap Partner Stage ini, anak masih punya kesulitan dalam berkomunikasi. Umpamanya anak berhenti bermain dengan anak lain bila tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, seperti dalam pemainan imajiner yang mengandung banyak pembicaraan atau bermain pura-pura. Anak juga akan menggunakan echolali (menirukan perkataan orang lain) bila dia tidak mengerti perkataan orang lain atau bila dia tidak dapat membuat kalimat.
Anak pada tahap akhir ini masih mengalami kesulitan dalam mengikuti percakapan. Cara mengatasi kesulitan ini adalah dengan merespon orang dengan berinisiatif bercakap-cakap sendiri, berusaha bercakap-cakap dengan topik yang disukai. Anak mungkin melakukan kesalahan tata bahasa terutama kata ganti, sepeti kamu, saya, dia. Anak akan bingung bila percakapan terlalu rumit atau orang tidak berkata langsung padanya.
Anak juga dapat mengalami kesulitan dengan aturan percakapan. Anak tidak tahu bagaimana memulai dan mengakhiri percakapan, tidak mendengar perkataan orang lain, tidak bisa fokus pada satu topik, tidak berusaha mengklarifikasi perkataan yang tidak dimengerti orang dan memberi terlalu sedikit detail atau terlalu banyak detail. Anak mungkin tidak paham isyarat sosial yang diberikan orang lain melalui ekspresi wajah atau bahasa tubuh dan tidak mengerti humor atau permainan kata-kata.















BAB III
TINJAUAN KASUS

Seorang anak terlihat menarik-narik tangan ibunya dan menempelkan tangan ibunya ke kaleng biskuit yang terletak di lemari makanan. Ibunya langsung paham, dengan cepat sang ibu membuka kaleng biskuit dan memberikannya pada sang anak.
Sepintas tak ada yang aneh, tapi kalau diperhatikan lebih seksama anak itu tidak pernah melihat pada wajah atau mata ibunya selama dia menarik-narik tangan. Juga pada waktu kue itu diberikan kepadanya, anak itu tidak melihat kepada ibunya atau menunjukkan mimik senang sebagai tanda ucapan terima kasih.





















BAB IV
PEMBAHASAN

Gangguan kemampuan berkomunikasi pada anak autisme, biasanya ditunjukkan dengan keterlambatan bicara, tonggak yang biasanya dipakai para ahli perkembangan anak adalah 1,6 - 2 tahun anak belum mampu mengucapkan kurang lebih 25 kata atau dia hanya mampu mengucapkan 'bahasa planet' yang berupa kata-kata atau kalimat yang tidak ada artinya. Mereka seringkali hanya mampu membeo, menirukan perkataan orang lain tanpa tahu artinya bahkan sering mampu menghapal lagu atau iklan yang didengarnya, tetapi tidak memahami maknannya, tidak mampu merangkai kalimat sendiri, tidak mampu memulai komunikasi, berkomunikasi timbal balik dan sering tidak memahami perintah. Intonasi dan ritme vokalnya sering terdengar aneh dan kaku, tidak seperti yang ditunjukkan anak-anak lainnya. Anak akan didiagnosis autisme bila minimal memiliki satu gejala dari kelompok ini.
Melihat kasus diatas, anak tersebut tergolong sebagai anak penyandang autisme. Karena perilaku yang dimunculkan oleh anak tersebut terhadap ibunya merupakan salah satu ciri atau tanda anak yang menyandang autisme dan ciri diatas menunjukkan salah satu cara interaksi anak autisme dengan orang lain.
Untuk melakukan komunikasi dengan anak autisme, kita harus menggunakan kata yang singkat dan simpel sambil memperlihatkan benda konkrit. Kita harus menggunakan penekanan pada kata kunci, yaitu dengan mengeraskan suara ketika menggunakan kata kunci, atau dengan menaruh kata kunci di belakang kalimat. Hal ini karena anak autisme lebih mendengarkan kata-kata terakhir dari kalimat yang diucapkan. Kita juga harus memperlambat ucapan kita supaya anak mengerti. Caranya pertama ucapkan kalimat dengan suara normal, lalu ulangi dengan lambat dan ada jeda. Tetapi usahakan ucapan kita terdengar alamiah, jangan terlalu lambat dan jangan kaku seperti robot, karena nanti anak akan meniru. Selain itu kita dapat menggunakan alat bantu visual untuk berkomunikasi dengan anak autisme, karena alat bantu visual dapat dipakai untuk meningkatkan cara berkomunikasi anak autisme. Anak yang pasif diharapkan menjadi aktif, tahap komunikasi anak dapat ditingkatkan. Dan anak yang belum bicara (nonverbal) dapat dirangsang untuk dapat mengeluarkan suara (verbal).Bagaimanapun, komunikasi adalah kebutuhan semua orang, tak terkecuali anak autisme.





























BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Gejala anak autisme antara lain ; terlambat bicara, banyak meniru perkataan yang pernah didengarkan, sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang – ulang,  menolak dan menghindari tatap mata, cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan sukar meniru.
2.      Perilaku autistik ditandai dengan adanya keterpakuan pada satu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tak ada gunanya, adanya gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang, dan seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
3.      Anak autis berinteraksi dengan menggunakan gerakan atau tingkah laku yang aneh dan tidak jelas misalnya dengan menarik – narik baju orang lain atau ibunya atau dengan  memukul dan sangat sedikit bicara.
4.      Strategi berkomunikasi dengan anak autisme adalah  
a)    Kita harus menggunakan kata yang singkat dan simpel sambil memperlihatkan benda konkrit.
b)   Kita harus menggunakan penekanan pada kata kunci, yaitu dengan mengeraskan suara ketika menggunakan kata kunci, atau dengan menaruh kata kunci di belakang kalimat.
c)    Kita juga harus memperlambat ucapan kita supaya anak mengerti.
d)   Kita menggunakan alat bantu visual untuk berkomunikasi

B.     Saran
1.  Komunikasi adalah kebutuhan semua orang termasuk anak autisme, jadi bantulah mereka dalam berkomunikasi dengan baik.
2.  Berkomunikasi dengan anak autisme memang sulit, maka gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka.
3.  Sebagai orangtua harus sabar, jangan pernah menyerah dan terus berusaha.


DAFTAR PUSTAKA

1.      www.Google.com. Berinteraksi Dengan Anak Autisme oleh dr. Gemah Nuripah Diakses tanggal 25 Januari 2004.
2.      www.Google.com.  Peduli Autisme.org



























BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak- rata-rata perkembangan mereka lebih lambat dari anak yang normal. Kelambatan perkembangan bisa meliputi kemampuan motorik, berbahasa dan juga kemampuan dalam membina hubungan sosial. anak yang menderita sindroma Down biasanya cukup mudah dikenali. Mereka mempunyai berbagai ciri rupa yang berbeda dari orang kebanyakan. Misalnya, ukuran tubuh mereka biasanya lebih kecil dan mudah menjadi gemuk. Selain itu, mereka juga memiliki berbagai ciri lain yang cukup mudah dikenali.
Para penderita sindroma Down dapat mengalami berbagai gangguan pada perkembangan fisik maupun kognisi. Kelainan-kelainan yang diderita bisa bervariasi antara satu penderita dan penderita lainnya. Tapi umumnya, kecepatan rata-rata perkembangan mereka lebih lambat dari anak yang normal. Kelambatan perkembangan bisa meliputi kemampuan motorik, berbahasa dan juga kemampuan dalam membina hubungan sosial. Seperti halnya dengan anak yang menderita autisme , anak yang menderita sindrom down juga memerlukan perhatian khusus dari semua orang.

B. Rumusan Masalah
Dalam laporan ini, penulis meruskan masalah tentang Asuhan Keperawatan pada anak yang menderita sindrom down.
C. Tujuan
Tujuan Umum
Mengetahui gambaran secara umum tentang anak yang menderita sindrom down.
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi gejala anak yang menderita sindrom down.
2. Mengidentifikasi penyebab anak yang menderita sindrom down.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 A.  KONSEP DASAR 
1.      Definisi
Sindrom down adalah suatu penyakit individu yang dapat dikenali fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih.

2. Epidemologi
Sindrom down merupakan kelainan kromosom autosoma yang paling banyak terjadi pada manusia. Diperkirakan angka kejadiannya terakhir adalah 1,0 - 1,2 per seribu kelahiran hidup, dimana 20 tahun sebelumnya dilaporkan 1,6/1000. Penurunan ini berkaitan dengan menurunnya kelahiran dari wanita yang berumur. Diperkirakan anak dengan sindrom down dilahirkan oleh ibu diatas 35 tahun.
Sindrom down biasa terjadi pada semua ras. Dikatakan bahwa angka kejadiannya pada bangsa kulit putih lebih tinggi dari pada kulit hitam, tetapi perbedaan ini tidak bermakna. Sedangkan angka kejadian pada berbagai golongan social ekonomi adalah sama.

3. Etiologi
a.      Genetik
Adanya resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan sindrom down.
b.      Radiasi
Menurut penelitian sekitar 30 % ibu yang melahirkan anak dengan sindrom down, pernahmengalami radiasai di daerah perut sebelum tarjadinya konsepsi.
c.       Infeksi
Infeksi merupakan salah satu factor penyebab sindrom down, tapi belum ada penelitiaan yang mampu memastikan bahwa virus dapat menyebabkan terjadinya  non disjunction.
d.      Autoimun
Menurut salah satu penelitian autoimun yang berkaitan dengan auto antibody tiroid ibu yang melahirkan anak dengan sindrom down berbeda dengan ibu kontrol yang umurnya sama.
e.       Umur Ibu
Umur ibu bila diatas 35 tahun, diperkirakan ada perubahan hormonal yang dapat menyebabkan non disjunction pada kromosom. Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekrewsi androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya konsetrasi estradiol sistemik, perubahan konsentrasi rese4ptor hormone, dan peningkatan secara tajam kadar LH dan FSH secara tiba – tiba sebelum dan sesudah menopause, dapat meningkatkan kemungkinan disjunction.
f.       Umur Ayah
Penelitian sitogenetik pada orang tua dari anak dengan sindrom down mendapatkan bahwa 20 – 30 % kasus ekstra kromosom 21 bersumber dari ayahnya, tetapi korelasinya tidak setinggi dengan umur ibu.

4. Gejala klinis
Berat badan pada waktu lahir bayi dengan sindrom down pada umumnya kurang dari normal. Diperkirakan 20 % kasus mempunyai berat badan lahir 2500 gr atau kurang. Komplikasi pada neonatal lebih sering dari pada bayi yang normal.dengan bertambahnya umur anak ditemukan adanya karakteristik yang berubah seperti lekukan epikantus atau jaringan tebal sekitar leher akan berkutrang dengan bertambahnya umur anak. Sebaliknya celah lidah yang dalam atau kelainan pada gigi akan nampak jelas dengan bertambahnya umur anak. Demikian pula dengan retardasi mental ataupun perawakan pendek akan bertambah jelas dengan bertambahnya umur anak.

5. Tumbuh kembang anak dengan sindrom down
Pola pertumbuhan fisik anak sindrom down dapat berkisar dari anak yang sangat pendek sampai yang tinggi diatas rata – rata. Dari anak yang beratnya kurang sampai yang obesitas. Kemampuan intelektual anak yaitu dari anak yang retardasi mental sampai yang intelegensinya normal. Prilaku dan emosi juga bervariasi dapat lemah dan tidak aktif, sedangkan yang lainnya agresif dan tidak hiperaktif.
Kecepatan pertumbuhan fisik anak dengan sindrom down lebih rendah dari pada anak yang normal. Perlu dilakukan pemantauan pertumbuhannya secara berkelanjutan pada anak tersebut, karena sering disertai juga hipotiroid. Selain itu, anak dengan sindrom down yang disertai masalah pada saluran pencernaan atau dengan penyakit jantung bawaan yang berat, juga lebih pendek jika dibandingkan dengan yang tanpa komplikasi.
Ganguan makan dengan kelainan konginetal, berat badan anak sulit naik pada masa bayi atau prasekolah. Tetapi setelah masa sekolah atau pada masa remaja lebih sering terjadi obesitas. Perkembangan anak dengan sindrom down lebih lambat dari anak normal.

6. Diagnosis
Diagnosis pada sindom down berdasarkan atas adanya gejala – gejala klinis yang khas, serta ditunjang oleh pemeriksaan kromosom. Pada pemeriksaan radiology, didapatkan brachycephalic, sutura dan fontanela yang terlambat menutup. Tulang ileum dan sayapnya melebar disertai sudut asetabular yang lebih lebar, terdapat pada 87% kasus.
Pemeriksaan kariotiping pada semua penderita sindrom down adalah untuk mencari adanya translokasi kromosom. Kemungkinan terulangnya kejadian sindrom down yang disebabkan oleh translokasi kromosom adalah 5 – 15 %, sedangkan kalau trisomi hanya 1%.
Diagnosis antenatal dengan pemeriksaan cairan amnion atau vilicorionik, dapat dilakukan secepatnya pada kehamilan 3 bualn. Diagnosis antenatal perlu pada ibu hamil yang berumur lebih dari 35 tahun, atau pada ibu yang sebelumya melahirkan anak dengan sindrom down. Bila didapatkan janin yang dikandung mangalami sindrom down maka dapat ditawarkan terminasi kehamilan pada orang tuanya. Pemeriksaan sindrom down secara klinis pada bayi seringkali meragukan , maka pemeriksaan dermatoglifik (sidik jari, telapak tangan dan kaki) pada sindrom down menunjukkan adanya gambaran yang khas.

7. Penatalaksanaan
I. Medis
a.      Pendengaran
70 – 80 % dilaporkan terdapat ganguan pendengaran, oleh karenanya diperlukan adanya pemeriksaan telinga sejak awal kehidupan, serta dilakukan tes pendengaran secara berkala oleh ahli THT.
b.      Penyakit jantung bawaan
30 – 40 % disertai dengan penyakit jantung bawaan. Mereka memerlukan penanganan jangka panjang oleh ahli jantung anak.
c.       Nutrisi
Beberapa kasus, terutam yang disertai kelainan konginetal yang berat lainnya, akan terjadi gangguan pertumbuhan pada masa bayi atau prasekolah. Ada juga kasus justru terjadi obesitas pada masa remaja atau setalah dewasa. Serhingga diperlukan kerjasama dengan ahli gizi.
d.      Penglihatan
Anak dengan kelainan ini sering disertai gangguan penglihatan atau katarak. Sehingga perlu evaluasi secara rutin oleh ahli mata.
e.       Kelainan tulang
Kelainan tulang mencakup dislokasi platela, subluksasio pangkal paha atau ketidakswetabilan atlantoaksila.bila keadaan yang terakhir ini sampai menimbulkan depresi medulla spinalis, atu apabila anak memegang kepalanya seperti tortikolis, maka diperlukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa spinaservikalis dan diperlukan konsultasi neurologist. 
f.       Lain – lain
Aspek medis lainnya yang memerlukan konsultasi dengan ahlinya, meliputi masalah imunologis, gangguan fungsi metabolisme atau kekacauan biokimiawi.
8. Pendidikan
1.      Intervensi dini
2.      Teman bermain atau taman
3.      kanak – kanak
4.      Pendidikan khusus (SLB-C)
9. Penyuluhan pada orangtua
Begitu diagnosa ditegakkan, para dokter harus menyampaikan hal ini secara bijaksana dan jujur. Penjelasan ppertama sangat menentuikan adaptasi dan sikap orangtua selanjutnya. Dokter harus menyadari bahwa pada waktu memberi penjelasan, yang pertama kali reaksi orangtua sangat bervariasi walaupun menyampaikan masalah sindrom down akan menyakitkan bagi orangtua penderita, tetapi ketidakterbukaan justru akan dapat meningkatkan isolasi atau harapan – harapan yang tidak mungkin dari orangtuanya.

10. Prognosis
44 % kasus dengan sindrom down hidup sampai 60 tahun, dan 14 % sampai umur 68 tahun. Berbagai factor berpengaruh terahadap harapan hidup penderita. 80 % kejadian penyakit jantung bawaan pada penderita ini mengakibatkan kematian. Selain itu, pada hal lain yang lebih sedikit pengaruhnya pada harapan hidup penderita adal;ah leukemia. Timbulnya penyakit Alzeimer yang lebih dini pada kasus ini akan menurunkan harapan hidup setelah umur 44 tahun. Selain itu, penderita juga rentan terhadap penyakit infeksi.

11. Pencegahan
Konseling genetik maupun amniosintesis pada kehamilan yang dicurigai akan sangat membantu  angka kejadian sindrom down. Saat ini dengan kemajuan teknologi molekular, misalnya dengan gene targeting.
Down syndrom adalah indivdu yang dapat dikenali dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, dimana adanya kelebihan kromoson yang tiap-tiap pecahan sel dari awal tidak lagi be pasangan dengan sempurna. Syndrom sering di sebut Down syndrom trisomi 21.
     
B. PENGKAJIAN
1. Selama masa neonatal yang perlu di kaji :
a.    Setabilitas suhu
b.    Kesulitan pemberian makan .
c.    Penyesuaian orang tua terhadap diagnosis
d.   Adanya kelainan yang berhubungan dengan system jantung, pernafasan dan system GI
e.    Kemampuan orang tua untuk merawat bayi yang baru lahir.
2. Pengkajian kemampuan kognitif dan perkembangan mental menggunakan standar usia dengan Tes Pendengaran dan penglihatan
 3. Pengkajian terhadap kemampuan anak berkomunikasi.
 4. Pengkajian terhadap kemampuan motorik
 5. Penyesuaian terhadap diagnosis dan kemampuan perkembangan mental anak

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Perubahan termoregulasi terhadap hipotonik otot dan postur yang melebar.
2.      Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan  kesulitan pemberian makan karena lidah yang menjulur dan langit-langit / palatum yg tinggi
3.      Tidak efektifnya koping keluarga yang berhubungan dengan besarnya tekanan emosional dan finansial untuk merawat anak tidak normal secara kognitif. Kondisi kronis dan kesediaan karena kehilangan anak yang “sempurna”
4.      Deficit pengetahuan (orangtua ) yang berhubungan dengan perawatan neunatus atau infant di rumah        

D. INTERVENSI
1. Anak akan menjaga suhu tubuh normal dan tidak akan menggalami pernafasan yang   membahayakan yang berhubungan dengan hipothemia
2. Anak akan mengkonsumsi nutrisi yang memadai yang ditujukan oleh berat normal dan hidrasi yang memadai ganti popok / hari, turgor baik kelembapan membran mukosa
3. Keluarga turut berperan dalam perawatan anak, sikap yg santai dan kemampuan untuk mendiskusikan rencana realistis untuk masa depan anak
3. Keluarga mengerti kebuthuan bayi dengan down syndrom dan mendemontrasikan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

 
E. IMPLEMENTASI
1. Menyediakan pengaturan suhu yang memadai
a.       Memonitor suhu tubuh tiap jam pada 6 jam pertama setelah kelahiran dan sesudahnya 4 jam sekali
b.       Menempatkan bayi yang baru lahir dalam pemanas sampai suhu tubuh mencapai   36,6 c
c.       Menempatkan bayi dengan selimut yang hangat dan menempatkan dalam posisi menyamping
d.      Memonitor pertambahan angka respirasi, indicator  trauma dingin lainnya

       2. Menyediakan nutrisi yang memadai .
a.       Menilai kemampuan anak untuk menelan .
b.      Mengubah kelembutan putting susu yang di perlukan untuk menelan
c.       Mendudukan bayi dengan tegak di pangkuan saat memberi makan dan sendawa  yang sering ( kemungkinan meneguk lebih banyak udara di banding bayi normal)
d.      Tidurkan miring setelah makan
e.       Mengintruksikan pada orang tua teknik memberi makan yang baik, mendukung mereka saat memberi makan dan mengevaluasi kemampuan orang tua saat memberi makan kepada bayi
3. Menguatkan Ikatan orang tua –anak
a.       Mendorong orang tua untuk mengungkapkan perasaan, rasa takut perhatian dan rasa bersalah
b.       Menilai pengertian orang tua terhadap kondisi anak .
c.       Menjadi pendengar yang aktif , mendorong ortu untk bertanya lalu menjawabnya
d.      Mendorong partisipasi aktif orangtua dalam perawatan anak semasa di RS dan memberikan dukungan dan bantuan yang positif .
e.       Memberikan atau membuat penerimaan masyarakat secara layak
4. Meningkatkan pengertian orangtua terhadap kebutuhan anak .   
   

BAB III
TNJAUAN KASUS


Satu tahun lamanya Mira mengalami syok karena putri bungsunya menyandang sindroma down. Bila orang memandang anaknya dengan tatapan aneh, langsung ia disergap perasaan tak nyaman, bagaimana perjuangan orangtua mendampingi si kecil dengan kekurangan yang dianggap kutukan itu.
























BAB IV
PEMBAHASAN

            Bagi orang awam kehadiran anak yang menderita sindrom down memang dirasakan dan dianggap sebagai anak yang aneh. Bahkan mereka menganggapnya sebagai suatu kutukan. Hal ini tentunya merupakan suatu beban tersendiri bagi orangtuanya lebih – lebih bagi anaknya. Kasus diatas menunjukkan bahwa bagaimana stressnya sebagai orangtua dari anak yang menderita sindrom down, yang dianggap orang – orang sebagai kutukan.
            Berdasarkan teori yang ada, dikatakan bahwa anak yang menderita sindrom down bukanlah suatu kutukan melainkan karena adanya kelainan biologis yang terjadi pada anak tersebut. Jadi anggapan orang – orang terhadap anak yang menderita simdrom down adalah suatu kutukan adalah tidak dibenarkan.



















BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Bahawa kemungkinan penyebab anak menderita sindrom down adalah Genetik, Radiasi, Infeksi, Autoimun, Umur Ibu, Umur Ayah.
2.      Bahwa gejala klinis dari anak yang menderita sindrom down adalah Berat badan pada waktu lahir bayi dengan sindrom down pada umumnya kurang dari normal. Diperkirakan 20 % kasus mempunyai berat badan lahir 2500 gr atau kurang. Komplikasi pada neonatal lebih sering dari pada bayi yang normal.dengan bertambahnya umur anak ditemukan adanya karakteristik yang berubah seperti lekukan epikantus atau jaringan tebal sekitar leher akan berkutrang dengan bertambahnya umur anak.

B.     Saran
1.      Dalam memberiakan asuhan keperawatan pada anak sindom down seharusnya disesuaikan dengan kemampuan si anak.
2.      Sebagai seorang manusia yang mempunyai hati nurani harus pandai bersyukur.
3.      Sebagai orang tua kita harus tabah dan sabar dalam menghadapi segala cobaan.














DAFTAR PUSTAKA

1.      www.Google.com. Klinikku oleh dr. Iwan S. Handoko. Diakses tanggal 21Januari 2003.
2.      www.Google.com.  Diakses tanggal 18 Februari 2003. PT. Kompas Cyber Media.

Previous
Next Post »

Translate