Info Kesehatan

healhty

Sabtu, 12 Mei 2012

ADAPTASI FISIOLOGI DAN PSIKOLOGI TERHADAP PERSALINAN


ADAPTASI FISIOLOGI DAN PSIKOLOGI
 TERHADAP PERSALINAN

A.      ADAPTASI FISIOLOGI TERHADAP PERSALINAN
1.    ADAPTASI JANIN
Perawat / petugas kesehatan harus mengetahui perubahan – perubahan yang akan terjadi terkait dengan denyut jantung janin, sirkulasi janin, gerakan napas dan perilaku lain.
a)             Denyut Jantung Janin
Pemantauan Denyut Jantung Janin memberi informasi yang dapat dipercaya dan dapat digunakan untuk memprediksi keadaan janin yang berkaitan dengan oksigenasi. Rata – rata denyut jantung janin pada aterm = 140 denyut/menit. Batas normal = 110 – 160 denyut/menit. Semakin matangnya janin saat mencapai aterm laju denyut akan menurun. Akan tetapi, percepatan sementara dan diselarasi denyut jantung janin yang sedikit dini dapat terjadi sebagai respon terhadap gerakan janin yang spontan, pemeriksa dalam, tekanan fundus, kontrasi uterus, palpasi abdomen.
b)   Sirkulasi Janin
Dipengaruhi oleh posisi ibu, kontraksi uterus, tekanan darah, dan aliran darah tali pusat. Kontraksi uterus selama persalinancenderung mengurangi sirkulasimelalkui arteriol spiralis, sehingga mengurangi perfusi Melalui ruang intervilosa.
c)    Pernapasan dan Perilaku janin
Perubahan – perubahan tertentu menstimulasi kemoreseptor pada aorta dan badan karotid guna mempersiapkan janin untuk mulai pernafasan setelah lahir.
Perubahan – perubahan ini meliputi :
1.      7 – 42 ml air ketuban diperas keluar dari paru – paru (selama persalinan pervaginam)
2.      Tekanan Oksigen (PO2) janin menurun
3.      Tekanan Karbondioksida (PCO2) arteri meningkat
4.      PH arteri menurun
Gerakan janin masih sama seperti pada masa hamil tapi menurun setelah ketuban pecah

2.         ADAPTASI IBU
Pemahaman yang mendalam tentang adaptasi ibu selama masa hamil akan membantu perawat mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan wanita selama bersalin. Perubahan – perubahan yang sering terjadi yaitu:
Ø Perubahan Kardiovaskuler
Dalam sebuah persalinan akan ditemukan beberapa perubahan pada sistem kardiovaskuler, pada setiap kontraksi 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke dalam sistem vaskuler ibu. Hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10 – 15 % pada tahap pertama persalinan dan sekitar30% - 50% pada tahap kedua persalinan.
Perawat dapat mengantisipasi perubahan tekanan darah .
Be berapa faktor yang mengubah tekanan darah ibu.
§  Aliran darah yang menurun pada arteri uterus akibat kontraksi
§  Jika wanita melakukan manuver valsalva (menahan napas dengan menegangkan otot abdomen)
§  Adanya rasa cemas dan nyeri serta penggunaan analgesik dan anestetik dapat menyebaabkan hipotensi  
Ø Perubahan Pernafasan
Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan penahanan O2 terlihat dari peningkatan frekuensi pernapasan. Hoiperventilasi dapat menyebabkan alkolisis respiratorik (PH meningkat), hipoksia dan hipokapnea (CO2 menurun). Pada tahap kedua persalinan, jika wanita tidak diberi obat – obatan, maka ia akan mengkonsumsi O2 hampir 2x lipat. Kecemasan juga meningkatkan pemakaian O2.
Ø Perubahan Pada Ginjal
Selama persalinan, wanita dapat mengalami kesulitan berkamih secara spontan akibat berbagai alasan : edema jaringan karena tekanan bagian presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi, malu. Proteinuria = +1dikatakan N dan hasil ini merupakan respons rusaknya jaringan otot akibat kerja fisik selama persalinan.  
Ø Perubahan Integumen
Adaptasi sistem integumen jelas terlihat khususnya pada daya distensibilitas daerah introitus vagina (muara vagina). Tingkat distensibilitas ini berbeda – beda pada tiap individu. Meskipun daerah itu dapat meregang, namun dapat terjadi robekan – robekan kecil pada kulit sekitar introitus vagina sekalipun tak dilakukan episiotomi / tidak terjadi laserasi.
Ø Perubahan Muskuloskeletal
Sistem muskoloskeletal mengalami stres selama persalinan. Diaforesis, keletihan, proteinuria, (+1), dan kemungkinan peningkatan suhu menyertai peningkatan aktivitas otot yang menyolok. Nyeri punggung dan nyeri sendi (tidak berkaitan dengan posisi janin) terjadi sebagai akibat meregangnya sendi pada masa aterm. Proses persalinan itu sendiri dan gerakan melurusnya jari – jari dapat menimbulkan kram tungkai.
Ø Perubahan Neurologi
Sistem neurologi menunjukkan bahwa timbul stres dan rasa tidak nyaman selama persalinan selama persalinan. Mula – mula wanita bersalin mungkin merasa euforia yang mana membuat wanita menjadi serius, kemudian mengalami amnesia di antara fraksi selama tahap kedua. Akhirnya, wanita merasa sangat senang atau merasa letih setelah melahirkan. Endofrin endogen (senyawa mirip morfin yang diproduksi tubuh secara alami) meningkatkan ambang nyeri dan menimbulkan sedasi. Anastesia fisiologis jaringan perineum yang ditimbulkan tekanan bagian presentasi menurunkan presepsi nyeri.
Ø Perubahan Pencernaan
Bibir dan mulut dapat menjadi kering akibat wanita hamil bernapas melalui mulut, dehidrasi, respon emosi terhadap persalinan. Selama persalinan, mortilitas dan absorpsi saluran cerna menurun dan waktu pengosongan lambung menjadi lambat. Wanita hamil seringkali mual dan memuntahkan makanannya ysng belum dicerna setelah bersalin. Mual dan sendawa juga terjadi sebagai respon refleks terhadap dilatasi serviks lengkap. Ibu dapat mengalami diare pada awal persalinan.  
Ø Perubahan Endokrin
Persalinan dapat diakibatkan oleh penurunan kadar progesteron dan peningkatan kadar esterogen, prostaglandin dan oksitosin . metabolisme meningkat dan kadar glukosa darah dapat menurun akibat proses persalinan. (bobak, keperawata maternitas, 2005. Hal. 248. EGC)
Ø Perubahan Sistem Reproduksi

Servik
Pembukaan servik didahului oleh pendataran dari servik

REPRODUKSI :
v  (Segmen atas rahim dan segmen bawah rahim)
Dalam persalinan, perbedaan antara segmen atas rahim dan segmen bawah rahim lebih jelas lagi. Segmen atas rahim memegang peran aktif  karena berkontraksi dandindingnya bertambah tebal dan mendorong anak keluar. Segmen bawah rahim memegang peranan pasif dan makin tipis karena mengadakan relaksasi dan dilatasi dan menjadi saluran yang tipis dan teregang yang akan dilalui bayi.
v  Rahim (uterus)
Tiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang sedang ukuran melintang maupun ukuran muka belakang berkurang. Tiap kontraksi uterus mengalami retraksi.
v  Ligamentum Rotundum
Otot – otot ligamentum rotundum ikut berkontraksi hingga menjadi pendek jika uterus berkontraksi.
v  Servik
Pembukaan servik didahului oleh pendataran. Pendataran dari serviks ini terjadi dari atas ke bawah. Mula – mula bagian servik di daerah ostium internum ditarik ke atas dan menjadi lanjutan dari segmen bawah rahim, sedang ostium externum sementara tak berubah.
Servik mengalami dilatasi penuh.
v  Vagina
F Dalam kala I, ketuban ikut meregangkan bagian vagina
F Dilatasi vagina yang cukup luas.
v  Vulva
F Penonjolan vulva
F Penipisan dan pemanjangan perineum
F Dilatasi orifisium uretra eksterna
v  Anus menonjol dan terbuka
v  Tekanan Darah
Tekanan darah dapat meningkat lagi 15 – 25 mmHg selama kontraksi pada kala II. Rata – rata peningkatan tekanan darah 10 mmHg diantara kontraksi
v           Metabolisme
Peningkatan metabolisme yang terus menerus berlanjut sampai kala II disertai upaya mendorong pada ibu menambah otot – otot rangka untuk memperbesar peningkatan metabolisme
v  Denyut Nadi
Frekuensi denyut nadi ibu bervariasi pada tiap kali upaya mendorong. Secara keseluruhan, frekuensi nadi meningkat selama kala II persalinan disertai takikardi  yang nyata ketika mencapai puncak pada saat pelahiran.
v  Suhu
Peningkatan suhu tertinggi terjadi pada saat pelahiran dan saat setelahnya. Peningkatan N adalah 1 – 2 °(F) / 0,5 – 1 °(C)
v  Pernafasan
Kebutuhan O2 naik sampai 100 %
v  Curah Jantung
Naik 80 % diatas nilai sebelum proses persalinan
v  Tekanan Vena Sentral
Naik 4 – 6 cm H2O akibat kenaikan sementara volume darah ibu


B.       ADAPTASI PSIKOLOGIS TERHADAP PERSALINAN
      Kegiatan komunikasi terapiutik pada ibu melahirkan merupakan  pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses persalinan.

a.          Tujuan komunikasi terapiutik pada ibu dengan gangguan psikologi saat persalinan
v Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban, perasaan dan pikiran selama proses persalinan
v Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien
v Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya.

b.         Pendekatan komunikasi terapiutik
Ø Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien.
Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang positif
Ø Kehadiran
Kehadiran merupakan bentuk tindakan aktif keterampilan yang meliputi mengawasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total pada klien. Bila memungkinkan, anjurkan pendamping untuk mengambil peran aktif dalam asuhan.
Ø Mendengarkan
Bidan selalu mendengarkan  dan memperhatikan keluhan klien.
Ø Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin
Komunikasi non verbal kadang – kadang lebih bernilai daripada kata – kata. Sentuhan bidan terhadap klien akan memberi rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi.
Ø Memberi informasi tentang kemajuan persalinan
Hal ini diupayakan untuk memberi rasa percaya diri bahwa klien dapat menyelesaikan persalinan. Pemahaman dapat mengurangi kecemasan dan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Informasi yang diberikan diulang beberapa kali dan jika mungkin diberikan secara tertulis.
Ø Memandu persalinan dengan memandu instruksi khusus tentang bernafas, berelaksasi dan posisi postur tubuh.
Ø Mengadakan kontak fisik dengan klien
Kontak fisik dapat dilakukan dengan menggosok punggung, memeluk dan menyeka keringat serta membersihkan wajah klien.
Ø Memberikan pujian
Pujian diberikan pada klien atas usaha yang telah dilakukannya.
Ø Memberikan ucapan selamat pada klien atas kelahiran putranya dan menyatakan ikut berbahagia.
Komunikasi terapeutik pada ibu dengan gangguan psikologi saat persalinan dilaksanakan oleh bidan dengan sikap sebagai seorang tua dewasa, karena suatu ketika bidan harus memberikan perimbangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar