Info Kesehatan

healhty

Senin, 21 Mei 2012

stroke


LAPORAN PENDAHULUAN
STROKE
1.1            Pengertian
1.1.1      CVA disebut juga stroke adalah suatu gangguan neurologis akut, yang disebabkan oleh karena gangguan peredaran darah ke otak dimana secara mendadak (dalam beberapa detik), atau secara tepat (dalam beberapa jam) timbul gejala dan tanda sesuai dengan daerah fokal di otak yang terganggu. (Prof. Dr. dr. B. Chandar, hal 181)
1.1.2      Stroke merupakan cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak, (Elisabeth, J, Corian, hak 181)
1.1.3      CVA merupakan gangguan sirkulasi cerebral dan sebagai salah satu manifestasi neurologi yang umum dan timbul secara mendadak sebagai akibat adanya gangguan suplay dalam ke otak (Depkes RI 1996, hal 149)
1.2        Klasifikasi
CVA pada dasarnya dibagi 2 kelompok besar
1.2.1      Stroke Iskemik
Secara patogenesis dibagi menjadi
1)    Stroke trombolik
Yaitu stroke yang disebabkan karena tombosis di arteri karotis interna secara langsung masuk ke arteri serebri media
Stroke jenis ini sering dijumpai pada kelompok usia 60 - 90 tahun. Serangan gejala CVA sekunder dari trombosis sering datang pada waktu tidur atau waktu mulai bangun
2)    Stroke embolik
Yaitu stroke iskemik yang disebabkan oleh karena emboli yang pada umumnya berasal dari jantung.
Emboli biasanya mengenai pembuluh-pembuluh kecil dan sering dijumpai pada titik bifurkasi dimana pembuluh darah menyempit.
Stroke iskemik secara lazim dibagi menjadi :
1)              TIA (Transient Iskhemik Attach)
Gangguan neurologik yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang dalam beberapa menit sampai beberapa jam (tidak melebihi 24 jam)
Disfungsi neurologi bisa sangat parah disertai tidak sadar sama sekali dan hilang fungsi sensorik serta fungsi motorik.
2)              RIND (Reversible Iskhemic Neurologic Deficit)
gejala neurologik menghilang dalam waktu lebih 24 jam
3)              Progressive Stroke
Gejala neurologik bertambah lama bertambah berat
4)              Completed Stroke
Gejala neurologik dari permulaan sudah maksimal (stabil)
1.2.2            Stroke hemoragik, dibagi menjadi
1)    Perdarahan Intraserebral
yaitu perdarahan di dalam jaringan otak
2)    Perdarahan subaraknoid
Yaitu pendapatan di ruang subaraknoid yang disebabkan oleh karena pecahnya suatu aneurisma atau arterio - venosus mallformation (AUM)
1.3            Etiologi
1.3.1            Thrombosis Otak
Thrombosis merupakan penyebab yang paling umum ari CVA dan yang paling sering menyebabkan thrombosis otak adalah atherosklerosis. Penyakit tambahan yang paling sering kali dijumpai pada trombosis hipotensi da tipe lain-lain cidera vaskuler seperti arteritis.
1.3.2            Emboli Serebral
Merupakan penyumbatan pembuluh darah otak, oleh bekuan darah atau lemak, udara pada umumnya emboli berasal dari trombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem nyeri serebral. Emboli serebral pada umumnya berlangsung cepat dan gejala yang timbul kurang dari 10 - 30 detik.
1.3.2            Perdarahan Intraserebral
Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak, hal ini terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. Keadaan ini pada umumnya terjadi pada usia di atas 50 tahun sehingga akibat pecahnya pembuluh darah arteri otak.
1.3.4            Ruptura Aneurisma Sekuler (Gerry)
Merupakan lepuhan yang lemah dan berdinding tipis yang menonjol pada tempat yang lemah.
1.4            Tanda dan Gejala
1.4.1            Serangan iskemik sepintas
Berlangsung hanya beberapa menit, sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat gangguan neurologis yang menetap
1.4.2            Iskomia pada hemisfer serebral
-     Kelemahan wajah bagian bawah, jari-jari tangan, lengan dan tungkai, kontralateral dan singkat.
 -    Nyeri pegal pada bagian tubuh kontralateral terhadap tempat iskemia


1.4.3            Iskemia pada batang otak
-     Ditandai dengan vertigo, tinitus, diplopia, disartia, dipsnoe, iskemia arteri, arteri vertebralis.
-     Potensial untuk terjadinya iskemik reversibel
1.4.4            Gangguan neurologi iskemik reversibel
Berlangsung lebih lama dengan kesembuhan tetapi dan gangguan minimal
1.4.5            Stroke involution
Gangguan neurologi tambahan yang terjadi secara berangsur-angsur bisa bertambah buruk atau terbentuknya kelainan baru
1.4.6            Stroke lengkap
Gangguan neurologi menetap, menentukan infark pada jaringan otak.
.5             Patofisiologi
Usila
Bekuan darah, Lemak udara
Arterosklerosis, hypertensi
Ô
Ô
Ô
Penurunan aktivitas simpatis
Penyempitan pembuluh
Tekanan pembuluh darah
Ô
Darah otak
Ô
Penurunan tekanan darah
Ô
Aneurisma
Ô
Emboli
Ô
Suplay darah otak  menurun

Pecahnya pembuluh darah
Ô

Ô
Iskhemi jaringan otak

Perdarahan intraserebral











Gangguan sirkulasi serebral


Ô


Perubahan perfusi jaringan serebral


Ô


Gangguan pada otak sbg pusat koordinasi tubuh


Ô


Gangguan semua sistem
















N.  VII
Gangguan transmisi
Gangguan koordinasi otak
N.    X
Ô
Ô
Ô
Ô
Kerusakan komunikasi verbal
Persepsi sensori
Kelemahan
Kerusakan menelan
Ô
Ô


Perubahan persepsi sensori
Kerusakan mobilitas fisik


Ô



Kurang perawatan




















-               Gangguan harga diri
-               Kurang pengetahuan










.6             Prognosa
1.6.1            Tergantung pada luas jaringan yang mengalami infark
1.6.2      30 - 40% penderita pada TIA lebih dari satu kali mengalami infark serebral dalam 5 tahun
1.6.3      TIA yang amat sering, seringkali jinak
1.7        Komplikasi
1.7.1      Dini (0-48 jan pertama)
Odema serebri, defisit neorologis memperberat, mengakibatkan peningkatan TIK, herniasi dan akhirnya kematian
1.7.2            Jangka pendek
Pnemonia (akibat imobilisasi) infark miokard, emboli paru (cenderung terjadi 7-14 hari paska stroke)
1.8            Pemeriksaan Penunjang
1.8.1            CT-Scan
Akan dapat menemukan daerah yang kepadatannya menurun, digunakan untuk membedakan adanya perdarahan infark, iskemia, hematom, odema.
1.8.2            Angiografi
Gunakan mencari penyumbatan darah dan menentukan penyebab stroke
1.8.3            Position Scanning
Untuk memberikan gambaran metabolisme cerebral
1.8.4            Pungsi Lumbal
Menunjukkan adanya tekanan normal
1.8.5            EEG
Untuk melihat area yang spesifik dari lesi otak
1.8.6            Ultra Sonografi
Mengidentifikasi penyakit arterio vena, arterio sklerosis
1.8.7            Sinar - X Tengkorak
Klasifikasi partial penyakit arterio vena, arterio sklerosis
1.8.8            Teknik Doppler
Untuk mengetahui arteri sklerosis yang rusak
1.9            Penatalaksanaan
1.9.1      Empat tujuan pengobatan, menyelamatkan jiwa, membatasi kerusakan otak, mengurangi ketergantungan dan deformitas, mencegah terjadinya penyakit.
1.9.2      Pertahankan agar jalan nafas selalu bebas, pemberian cairan elektrolit dan kalori adekuat, hindari ulcus decubitus
1.9.3      Larutan urea hipertonik 1 - 1,5 9 /Kg, IV
1.9.4      Rehabilitasi dan latihan termasuk fisioterapi, tetapi pekerjaan dan terapi biara
1.9.5      Obat dari koagulan
1.9.6      Tirah baring dan penurunan rangsangan eksternal
2. ASUHAN KEPERAWATAN  STROKE
2.1        Pengkajian
Data yang dikumpulkan akan bergantung pada letak, keparahan, durasi patologi.
2.1.1      Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan faktor resiko, keadaan biopsiko-sosio-spiritual
2.1.2      Aktivitas / istirahat
Gejala          :     Kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralisis
Tanda          :     gangguan tonus otot dan kelemahan umum, gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran
2.1.3      Sirkulasi
Gejala          :     adanya penyakit jantung, polisitemia, riwayat hipotensi postural,
Tanda          :     Hipertensi, frekuensi nadi bervariasi disritmia
2.1.4      Integritas Ego
Gejala          :     perasaan tidak berdaya, putus asa
Tanda          :     emosi yang labil, kesulitan untuk mengekspresikan diri
2.1.5      Eliminasi
Gejala          :     perubahan pola berkemih, distensi abdomen
2.1.6      Makanan / Cairan
Gejala          :     nafsu makan hilang, mual muntah, kehilangan sensasi, adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah
Tanda          :     kesulitan menelan, obesitas
2.1.7      Neurosensori
Gejala          :     pusing, nyeri kepala, penglihatan menurun, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda          :     status mental / tingkat kesadaran : coma ekstremitas lemah, paralise wajah, aphasia, pendengaran, reflek pupil dilatasi
2.1.8      Nyeri / kenyamanan
Gejala          :     sakit kepala
Tanda          :     tingkah laku yang tidak stabil, gelisah
2.1.9      Pernafasan
Gejala          :     merokok (faktor risiko)
Tanda          :     batuk, ketidakmampuan menelan, hambatan jalan nafas, ronki
2.1.10 Keamanan
Gejala          :     gangguan dalam penglihatan perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh, gangguan berespon terhadap panas dan dingin.
2.1.11 Interaksi Sosial
Tanda          :     gangguan dalam berbicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
2.1.12 Penyuluhan
Gejala          :     adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke, pemakaian kontrasepsi
2.2            Diagnosa dan intervensi keperawatan
2.2.1            Perubahan perfusi jaringan
1)    Dapat dihubungkan dengan : interupsi aliran darah, vasospasme serebral, edema serebral
2)    Kemungkinan dibuktikan oleh : perubahan tingkat kesadaran, perubahan dalam respon motorik/sensorik; gelisah, perubahan tanda-tanda vital.
3)    Kriteria Evaluasi
-     Mempertahankan tingkat kesadaran fungsi kognitif dan motorik / sensori
-     Mendemontrasikan tanda-tanda vital stabil.
4)    Intervensi keperawatan
(1)         kaji faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab terjadinya koma atau menurunnya perfusi jaringan otak
             R/ mempengaruhi intervensi
(2)         Catat status neurologis dan bandingkan dengan keadaan normal
             R/ mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi luas dan kemajuan kerusakan SSP
(3)         Pantau tanda-tanda vital
R/ reaksi mungkin terjadi oleh karena tekanan / trauma serebral pada daerah vasomotor otak
(4)         Evaluasi pupil : ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap cahaya
             R/                reaksi pupil berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih baik. Ukuran dan kesamaan pupil ditentukan oleh keseimbangan antara persyaratan simpatis dan parasimpatis yang mempersarafinya
(5)         Catat perubahan dalam penglihatan : kebutuhan, gangguan lapang pandang
             R/ gangguan penglihatan yang spesifik mencerminkan daerah otak yang terkena dan mempengaruhi intervensi yang akan dilakukan
(6)         Kaji fungsi bicara jika pasien sadar
             R/ perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indikator dari lokasi
(7)         Letakkan kepala engan posisi agak ditinggikan dan dalam posisi anatomis
             R/ menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan meningkatkan sirkulasi
(8)         Pertahankan keadaan tirah baring : ciptakan lingkungan yan tenang
             R/ aktivitas yang kontinu dapat meningkatkan TIK, istirahat dan ketenangan diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik
(9)         Cegah terjadinya mengejan saat defekasi dan pernafasan yang memaksa
             R/ manuver valsava dapat meningkatkan TIK dan memperbesar risiko terjadinya perdarahan
(10)       Kaji adanya kedutan, kegelisahan yang meningkat, peka rangsang dan serangan kejang
             R/ merupakan indikasi adanya meningeal kejang dapat mencerminkan adanya peningkatan TIK /trauma serebral yang memerlukan perhatian dan intervensi selanjutnya.
Kolaborasi
-     Beri oksigen sesuai indikasi
-     Beri obat sesuai indikasi anti koagulasi, antifibrolitik, antihipertensi
-     Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
2.2.2            Kerusakan mobilitas fisik
1)    Dapat dihubungkan dengan : keterlibatan neuromuskuler kelemahan, parestesia, kerusakan perseptual/kognitif
2)    Kemungkinan dibuktikan oleh : ketidakmampuan bergerak dengan tujuan dalam lingkungan fisik, kerusakan koordinasi
3)    Kriteria evaluasi
-     Mempertahankan posisi optimal dari fungsi yang dibuktikan oleh tak adanya kontraktur
-     Meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena
-     Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktivitas
-     Mempertahankan integritas kulit
4)    Intervensi keperawatan
(1)         kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas secara fungsional / luasnya kerusakan awal dan dengan cara yang teratur
             R/ mengidentifikasi kekuatan dan dapat memberikan informasi mengenai pemulihan                               
(2)         Ubah posisi pasien etiap 2 jam
             R/ menurunkan risiko terjadinya trauma / iskemia jaringan
(3)         Letakkan pasien pada posisi telungkup satu kali atau dua kali sehari jika pasien dapat mentoleransinya
             R/ membantu mempertahankan ekstensi pinggul fungsional
(4)         Latih pasien untuk melakukan pergerakan ROM atif dan pasif untuk semua ekstremitas
             R/  :             Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu mencegah kontraktur
(5)         Gunakan penyangga dengan ketika pasien berada dalam posisi tegak, sesuai indikasi
             R/ : penggunaan penyangga dapat menurunkan resiko terjadinya subluksasi lengan
(6)         Evaluasi penggunaan dari / kebutuhan alat bantu untuk pengaturan posisi
             R/ : kontraktur fleksi dapat terjadi akibat dari otot fleksor lebih kuat dibandingkan dengan otot ekstensor
Tindakan Kolaborasi
-     berikan tempat tidur khusus sesuai indikasi
-     Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, ambulan pasien
-     Berikan obat relaksan otot, antispasmodik, sesuai indikasi
2.2.3            Kerusakan komunikasi Verbal
1)    Dapat dihubungkan dengan kerusakan sirkulasi serebral, kerusakan beuromuskuler, kehilanga tonus
2)    Kemungkinan dibuktikan oleh kerusakan artikulasi, ketidakmampuan untuk bicara, ketidakmampuan menghasilkan komunikasi tertulis
3)    Kriteria Evaluasi
-     Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi
-     Membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan
-     menggunakan sumber dengan tepat
4)    Intervensi keperawatan
(1)         Kaji derajat disfungsi
             R/ : membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam beberapa proses komunikasi     
(2)         berikan metode komunikasi alternatif
             R/ : memberikan komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan keadaan yang mendasarinya
(3)         Antisipasi dan penuhi kebutuhan pasien
             R/ : bermanfaat dalam menurunkan frustasi bila tergantung pada orang lain
(4)         Diskusikan mengenal hal-hal yang dikenal pasien, pekerjaan,, keluarga, hobi
             R/ : meningkatkan percakapan yang bermakna dan memberikan kesempatan untuk keterampilan praktis
Kolaborasi
-     Konsultasikan dengan /rujuk kepada ahli terapi wisata
      R/ : pengkajian secara individual kemampuan bicara dan sensori, motorik, dan kognitif berfungsi untuk mengidentifikasi kekurangan  kebutuhan terapi.
2.2.4      Perubahan  Persepsi Sensori
1)    Dapat dihubungkan dengan perubahan persepsi sensori transmisi, integrasi, stres psikologis.
2)    Kemungkinan dibuktikan oleh disorientasi terhadap waktu, tempat, orang, perubahan dalam pola perilaku, konsentrasi buruk, perubahan pola komunikasi, inkoordinasi motor.
3)    Kriteria evaluasi
-     memulai / mempertahankan tingkat kesadaran
-     mengakui perubahan dalam kemampuan
4)    Intervensi keperawatan
(1)         Evaluasi adanya gangguan penglihatan
             R/ : munculnya gangguan penglihatan dapat berdampak negatif terhadap kemampuan pasien untuk menerima lingkungan           
(2)         Kaji kesadaran sensorik
             R/ : penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan perasaan berpengaruh buruk terhadap keseimbangan  posisi tubuh   
(3)         Berikan stimulasi terhadap rasa suntikan
             R/ : membantu melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi
(4)         Observasi respon perilaku pasien seperti rasa bermusuhan, menangis, afek tidak sesuai halusinasi
             R/                : respon individu dapat bervariasi tetapi umumnya yang terlihat seperti emosi labil, apatis
(5)         Lakukan validasi terhadap persepsi pasien
             R/ : membantu pasien untuk mengidentifikasi ketidakkonsistenan dari persepsi dan integrasi stimulus
2.2.5      Kurang perawatan diri
1)    Dapat dihubungkan dengan : kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol, nyeri, depresi
2)    Kemungkinan dibuktikan leh : kerusakan kemampuan melakukan ADL
3)    Kriteria evaluasi
-     mendemonstrasikan teknik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
-     melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
-     mengidentifikasi sumber pribadi
4)    Intervensi Keperawatan
(1)         Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
             R/ : membantu dalam mengantisipasi pemenuhan kebutuhan secara individual
(2)         Pertahankan dukungan sikap, yang tegas , beri pasien waktu ya cukup untuk mengerjakan tugasnya
             R/ : Pasien akan memerlukan empati tetap perlu untuk mengetahui pemberi asuhan yang akan membantu pasien secara konsisten
(3)         Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang keutuhannya
             R/ : tidak dapat mengatakan kebutuhannya pada fase pemulihan akut tetapi biasanya dapat mengontrol kembali fungsi sesuai perkembangan proses penyembuhan.
(4)         Buat rencana terhadap gangguan penglihatan yang ada
Kolaborasi
-     Berikan obat suppositori dan pelunak feces
      R/ : dibutuhkan pada awal untuk membantu menciptakan . merangsang fungsi defekasi teratur
-     Konsultasikan dengan ahli fisioterapi
      R/ : memberikan bantuan untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasikan kebutuhan alat penyokong khusus
Daftar Pustaka
1.        Soeparman. 1990. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Balai penerbit FKUI
2.        Heru . 1995. Kesehatan Masyarakat. Jakarta. : EGC
3.        Mansjoer, Arief. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar