Info Kesehatan

healhty

Senin, 21 Mei 2012

CONGENITAL HEART DISEASEN ( CHD ) ATAU PENYAKIT JANTUNG BAWAAN


LAPORAN PENDAHULUAN
CONGENITAL HEART DISEASEN ( CHD ) ATAU PENYAKIT JANTUNG BAWAAN

A.    Definisi
Congenital heart disease (CHD) atau penyakit jantung Congenital adalah kelainan yang sudah ada sejak bayi lahir, jadi kelainan tersebut terjadi sebelum bayi lahir, tetapi kelainan jantung bawaan ini tidak selalu memberi gejala segera setelah bayi lahir, tidak jarang kelainan tersebut baru ditemukan setelah pasien berumur beberapa bulan bahkan beberapa tahun (Ngastiah)
  1. Etiologi
Penyebab penyakit jantung Congenital berkaitan dengan kelainan perkembangan embolik, pada usia lima sampai delapan minggu, jantung dan pembuluh darah besar dibentuk. Gangguan perkembangan mungkin disebabkan oleh faktor-faktor prenatal seperti infeksi ibu selama trimester pertama. Agen penyebab lain adalah rubella. Inlfuensa atau chicken pox. Faktor-faktor prenatal seperti ibu yang menderita diabetes militus denbgan ketergantungan pada insulin serta faktor-faktor genetic juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit jantung congenital. Selain faktor orang tua, insiden kelainan jantung juga meningkat pada individu. Faktor-faktor lingkungan seperti radiasi, gizi ibu yang jelek, kecanduan obat-obatan dan juga mempengaruhi perkembangan embrio.
  1. Klasifikasi
Terdapat berbagai cara penggolongan penyakit jantung congenital : penggolongan yang sangat sederhana adalah penggolongan yang didasarkan pada adanya sianosis serta vaskularisasi paru.
1.      Penyakit jantung bawaan (PJB) non sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah, misalnya defek septum (DSV), defek septum atrium (DSA), dan duktus atrium (DSA) dan duktus arterius parsisten (DAP).
2.      PJB non sianotik dengan vaskularisasi paru normal. Pada penggolongan ini termasuk ini stenosis aorta (SA), stenosis pulmonal (SP) dan koarktasio aorta.
3.      PJB sianotik dengan vaskularisasi paru berkurang. Pada penggolongan ini yang paling banyak adalah tetralogi fallot (TF).
4.      PJB sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah, misalnya transposisi arteri besar (TAB)

PJB NON SIANOTIK DENGAN VASKULARISASI  PARU BERTAMBAH

Terdapat defek pada septum ventrikel, atrium atau duktus yang tetap terbuka adanya pirau (kebocoran) darah dari kiri kekanan karena tekanan jantung dibagian kiri lebih tinggi dari pada bagian kanan.
  1. Defek septum ventrikel (DSV)
DSV terjadi bila sekat ventrikel tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya darah dari bilik kiri mengalir ke bilik kanan pada systole.

Manifestasi klinik

Pada pemeriksaan selain didapat pertumbuhan terhambat, anak terlihat pucat, banyak keringat bercucuran, ujung-ujung jari hiperemik, diameter dada bertambah, sering terlihat pembenjolan dada kiri. Tanda yang menonjol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum, sela intrakostal dan region epigastrium. Pada anak yang kurus terlihat implus jantung yang hiperdinamik.

Penatalaksanaan

Pasien dengan DSV besar perlu ditolong dengan obat-obatan untuk mengatasi gagal jantung. Biasanya diberikan digoksin dan diuretik, misalnya lasix. Bila obat dapat memperbaiki keadaan, yang dilihat dengan membaiknya pernafasan dan bertambahnya berat badan, maka operasi dapat ditunda sampai usia 2-3 tahun. Tindakan bedah sangat menolong karena tanpa tindakan tesebut harapan hidup berkurang.
  1. Defek septum atrium
Kelainan septum atrium disebabkan dari suatu lubang pada foramen ovale atau pada septum atrium. Tekanan pada foramen oval atau septum atrium, tekanan pada sisi kanan jantung meningkat.

Manifestasi klinis

Anak mungkin sering mengalami kelelahan dan infeksi saluran pernafasan atas. Mungkin ditemukan adanya murmur jantung. Pada foto rongen ditemukan adanya pembesaran jantung dan diagnosa dipastikan dengan katerisasi jantung.

Penatalaksanaan

Kelainan tesebut dapat ditutup dengan dijahit atau dipasang suatu graft pembedahan jantung terbuka, dengan prognosis baik.

3.  Duktus Atereosus Persisten
DAP terjadi bila duktus tidak menutup bila bayi lahir. Penyebab DAP bermacam-macam, bisa karena infeksi rubela pada ibu dan prematuritas
Manifestasi klinis
Neonatus menunjukkan tanda-tanda respiratori distres seperti mendengkur tacipnea dan retraksi. Sejalan dengan pertumbuhan anak maka anak akan mengalami dyspnea, kardio megali, hipertrofi ventrikuler kiri akibat penyesuaian jantung terhadap peningkatan volume darah, adanya tanda ‘machinery type’. Murmur jantung akibat aliran darah turbulen dari aorta melewati duktus menetap. Tekanan darah sistolik mungkin tinggi karena pembesaran ventrikel kiri.
Penatalaksanaan
Karena neonatus tidak toleransi terhadap pembedahan, kelainan biasnya diobati dengan aspirin atau idomethacin yang menyebabkan kontraksi otot lunak pada duktus arteriosus. Ketika anak berusia 1-5 tahun, cukup kuat untuk dilakukan operasi .




PENYAKIT JANTUNG BAWAAN NON SIANOTIK DENGAN VASKULARISASI PARU NORMAL.

1.      Stenosis Aorta.
Pada kelainan inistriktura terjadi diatas atau dibawah katup aorta. Katupnya sendiri mungkin terkena atau retriksi atau tersumnbat secara total aliran darah
Manifestasi klinik
Anak menjadi kelelahan dan pusing sewaktu cardiac output menurun. Tanda-tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan kebutuhan terhadap O2 tidak terpenuhi, hal ini menjadi serius dapat menyebabkan kematian, ini juga ditandai dengan adanya murmur sistolik yang terdengar pada batas kiri sternum, diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran ECG yang menunjukkan adanya hipertropi ventrikel kiri, dan dari kateterisasi jantuing yang menunjukkan striktura.
Penatalaksanaan
Stenosis dihilangkan dengan insisi pada katup yang dilakukan pada saat anak mampu dilakukan pembedahan.

2.      Stenosis pulmonal
Kelainan pada stenosis pulmonik, dijumpai adanya striktura pada katup, normal tetapi puncaknya menyatu.
Manifestasi klinik.
Tergantung pada kondisi stenosis. Anak dapat mengalami dyspnea dan kelelahan, karena aliran darah ke paru-paru tidak adekuat untuk mencukupi kebutuhan O2 dari cardiac output yang meningkat. Dalam keadaan stenosis yang berat, darah kembali ke atrium kanan yang dapt menyebabkan kegagalan jantung kongesti. Stenosis ini di diagnosis berdasarkan murmur jantuing sistolik, ECG dan kateteerisasi jantung.
Penatalaksanaan
Stenosis dikoreksi dengan pembedahan paad katup yang dilakukan pada saat anak berusia 2-3 tahun.

3.     Koarktasio Aorta
kelainan pada koarktasi aorta, aorta berkontriksi dengan beberapa cara. Kontriksi mungkin proksimal atau distal terhadap duktus arteriosus. Kelainan ini biasanya tidak segera diketahui, kecuali pada kontriksi berat. Untuk itu, penting melakukan skrening anak saat memeriksa kesehatannya, khususnya bila anak mengikuti kegiatan-kegiatan olahh raga.
Manifestasi klinik
Ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah, searah proksimal pada kelainan dan penurunan secara distal. Tekanan darah lebih tinggi paad lengan daripada kaki. Denyut nadi pada lengan terassa kuat, tetapi lemah pada popliteal dan femoral. Kadang-kadang dijumpai adanya murmur jantung lemah dengan frekuensi tinggi. Diagnosa ditegakkan dengan aortagrapy.
Penatalaksanaan
Kelainan dapat dikoreksi dengan pengangkatan bagian aorta yang berkontriksi atau anastomi bagian akhir, atau dengan cara memasukkan suatu graf.

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOSTIK DENGAN VASKULARISASI PARU BERTAMBAH

Transportasi Arteri Besar
Apabila pembuluh darah besar mengalami transposisi aorta, arteri aorta dan pulmonal secara anatomis akan terpengaruh. Anak tidak akan hidup kecuali ada suatu duktus ariosus menetap atau kelainan septum ventrikular atau atrium, yang menyebabkan bercampurnya darah arteri-vena.
Manifestasi klinik
Transportasi pembuluh-pembuluh darah ini tergantung pada adanya kelainan stsu stenosis. Stenosis kurang tampak apabila kelainan merupakan PDA atau ASD atau VSD, tetapi kegagalan jantung akan terjadi.
Penatalaksanaan
Pembedahan paliatif dilakukan agar terjadi percampuran darah. Pada saat prosedur suatu kateter balon dimasukkan ketika katerisasi jantung untuk memperbesar kelainan septum intra arterial. Pada cara blalock Halen dibuat suatu kelainan septum atrium. Pada Edward vena pulmonale kanan. Cara Mustard digunakan untuk koreksi yang permanent septum dihilangkan dibuatkan sambungan sehingga darah yang teroksigenasi dari vena pulmonalis kembali ke ventrikel kanan untuk sirkulasi tubuh dan darah tidak terosigenasi kembali dari vena cava ke arteri pulmonale untuk keperluan sirkulasi paru – paru. Kemudian akibat kelainan ini telah berkurang secara nyata dengn adanya koreksi dan paliatif    

D.    Komplikasi
Pasien dengan penyakit jantung congenital terancam mengalami berbagai komplikasi antara lain;
1.      Gagal jantung kongestif
2.      Renjatan kardiogenik
3.      Aritmia
4.      Endokarditis bakterialistik
5.      Hipertensi
6.      Hipertensi Pulmonal
7.      Tromboemboli dan abses otak
8.      Henti Jantung

E.    Patofisiologi
Kelainan jantung congenital menyebabkan  dua perubahan hemodinamik utama. Shunting atau percampuran darah arteri dari vena serta perubahan aliran darah pulmonal dan tekana darah. Normalnya tekanan pada jantu ng kanan lebih besara daripada sirkulasi pulmonal. Shunting terjadi apabila darah mengalir melalui lubang pulmonal pada jantung sehat dari daerah yang bertekanan tinggi  ke daerah yang bertekanan rendah, menyebabkan darah yang teroksigenasi mengalir ke dalam sirkulasi sistemik.
Aliran darah pulmonal dan tekanan darah meningkat bila ada keterlambatan penipiosan normal serabut otot lunak pada arteriola pulmonal sewaktu lahir. Penebalan vascular meningkatkan resistensi sirkulasi pulmonal, aliran darah pulmonal dapat melampaui sirkulasi sistemik dan aliran darah bergerak dari kanan ke kiri.
Perubahan pada aliran darah, percampuran darah vena dan arteri, serta kenaikan tekanan pulmonal akan meningkatkan kerja jantung. Manifestasi dari penyakit jantung congenital yaitu adanya gagal jantung, perfusi tidak adekuat dan kongesti pulmonal.
F.     Pemeriksaan Penunjang
1.          Gambaran ECG yang menunjukkan adanya hipertropi ventrikel kiri, kateterisasi jantung yang menunjukkan striktura.
2.Aortography
3.Peningkatan cardiac iso enzim (cpk & ckmb)
4.Rontgen thorax à cardiomegali dan infiltrate paru.

PROSES KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
1.   Riwayat Keperawatan
a Riwayat terjadinya infeksi pada ibu selama trimester pertama
a Riwayat prenatal seperti ibu yang menderita DM dengan ketergantungan pada insulin
a Kepatuhan ibu menjaga kehamilan dengan baik termasuk menjaga gizi ibu, tidak mengonsumsi obat – obatan dan merokok
a Proses kelahiran secara alami atau adanya faktor – faktor yang memperlama proses persalinan dan penggunaan alat
a Riwayat keturunan, dengan memperhatikan adanya anggota keluarga lain yang juga mengalami kelainan jantung
2.      Pemeriksaaan Fisik
Pemeriksaan Fisik yang dilakukan sama dengan pengkajian fisik yang dilakukan terhadap apasien yang menderita penyakit jantung pada umumnya. Secara spesifik data yang dapat ditemukan dari hasil pengkajian fisik pada CHD ini adalah  :
¨      Bayi baru lahir berukuran kecil dan berat badan kurang
¨      Anak terlihat pucat, banyak keringat bercucuran, ujung jari hiperemik
¨      Diameter dada bertambah, sering terlihat pembenjolan pada dada kiri
¨      Tanda yang menonjol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum, sela intrakosta dan region epigastrium
¨      Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinamik
¨      Neonatus menunjukkan tanda – tanda respiratory distress seperti mendengkur, tacipnea dan retraksi
¨      Anak pusing, tanda – tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan kebutuhan terhadap O2 tidak terpenuhi ditandai dengan adanya murmur sistolik yang terdengar pada batas kiri sternum
¨      Adanya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah lebih tinggi pada lengan daripada kaki. Denyut nadi pada lengan terasa kuat, tapi lemah pada popliteal dan femoral 

B.    Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
1. Penurunan Cardiac Output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas jantung, perubahan tekanan jantung
Tujuan : pasien dapat mentoleransi gejala-gejala yang ditimbulkan akibat penurunan curah jantung, dan setelah dilakukan tindakan keperawatan terjadi peningkatan curah jantung sehingga keadaan normal.
Intervensi :
a.       Monitor tanda-tanda vital
b.      Informasikan dan anjurkan tentang pentingnya istirahat yang adekuat.
c.       Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal / masker sesuai indikasi
d.      Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis
e.       Kaji perubahan pada sensori, contoh letargi, bingung disorientasi cemas
f.       Secara kolaborasi, berikan tindakan farmakologis berupa digitalis, digoxin.
2.         Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menyusu dan makan
Tujuan : Anak dapat makan dan menyusu dan tidak terjadi penurunan berat badan selama terjadi perubahan status nutrisi tersebut.
Intervensi :
a.       Anjurkan ibu untuk terus menyusui walaupun sedikit tapi sering
b.      Pasang IV infus jika terajdi ketidak adekuatan nutrisi
c.       Jika anak sudah tidak menyusu, berikan makanan sedikit tapi sering dengan diet sesuai instruksi
d.      Observasi pemberian makanan atau menyusui

3.  Nyeri dada berhubungan dengan iskemia miokard
Tujuan : Menyatakan nyeri hilang
Intervensi :
  1. Selidiki adanya keluhan nyeri yang mungkin dimanifestasikan dengan rewel atau sering menangis
  2.  Evaluasi respon terhadap obat / terapi yang diberikan
  3. Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang dan batasi aktivitas anak sesuai kebutuhan
4. Peningkatan volume cairan tubuh berhubungan dengan kongestif vena, penurunan fungsi ginjal
Tujuan : Menunjukkan keseimbangan masukan dan keluaran, berat badan stabil, tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak terjadi edema.
Intervensi :
a.       Pantau pemasukan dan pengeluaran, catat keseimbangan cairan, timbang berta badan anak setiap hari.
b.        Kaji adanya edema periorbital, edema tangan dan kaki, hepatomegali, arales, ronchi, penambahan berat badan
c.       Secara kolaborasi, berikan diuretic ; contoh furosemid sesuai indikasi
d.      Secara kolaborasi : berikan batasan diet natrium sesuai indikasi

5.   Tidak efektif pola nafas berhubungan dengan peningkatan resistensi vaskuler paru
Tujuan : Tidak terjadi ketidak efektifan pola nafas.
Intervensi :
  1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman. Catat upaya pernafasan
  2. Observasi penyimpangan dada, selidiki penurunan ekspansi paru atau ketidak simetrisan gerakan dada.
  3. Kaji ulang hasil GDA, Hb sesuai indikasi
  4. Minimalkan menangis atau aktivitas pada anak

6.  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan
Tujuan : Anak dapat melakukan aktivitas yang sesuai tanpa adanya kelemahan
Intervensi :
  1. Kaji perkembangan peningkatan tanda-tanda vital, seperti adanya sesak
  2. Bantu pasien dalam aktivitas yang tidak dapat dilakukannya
  3. Dukung pemenuhan nutrisi

7.  Kurang pengetahuan ibu tentang keadaan anaknya berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : Ibu tidak dapat mengalami kecemasan dan mengetahui proses penyakit dan penatalaksanaan keperawatan yang dilakukan
Intervensi : Berikan pendidikan kesehatan kepada ibu dan keluarga mengenai penyakit serta gejala dan penatalaksanaan yang akan dilakukan.










Daftar Pustaka

Dongoes, Marilyn E, Jane R Kenly. 1998: Maternal / Newborn Care Plan : Gudelines for client care E. a Davis Company : Philadelphia

Mansjoer, Arif. 1999: Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta

Mattsion, Susan. 2000 : Care Curriculum For Maternal-Newborn second edition : advision of Harcourtbrace & Company : Philadelphia.

Ngastiyah. 1997 : Perawatan Anak Sakit : Penerbit buku Kedokteran EGC: Jakarta

Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departamen Kesehatan. 1993 : Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler : Penerbit buku Kedokteran EGC : Jakarta





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar