Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

-----

MAKALAH ASKEB IV (PATOLOGI) “ENDOMETRITIS”


MAKALAH ASKEB IV (PATOLOGI)
“ENDOMETRITIS”






Oleh kelompok 8
Eka Nor Afiyanti            (2010.0661.061)
Ismatur Rokhmah           (2010.0661.070)
Lelya Sabbaha                 (2010.0661.073)

D III KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2011-2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji Syukur Kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena telah  melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas ASKEB IV dengan judul ENDOMETRITIS.
            Dalam menyusun makalah ini penulis banyak mendapatkan bimbingan serta motivasi dari beberapa pihak, oleh karenanya kami mengucapkan Alhamdulillah dan terima kasih kepada :
1.      Bapak dr.Sukodiono selaku dekan fakultas ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya
2.      Rachmawati Ika S S.ST M.Kes selaku pembimbing mata kuliah ASKEB IV
3.      Kedua orang tua yang selalu membina,mendukung,dan memberikan doa serta semangat baik moral maupun spiritual.
Semoga amal kebaikannya diterima Allah SWT dan mendapat imbalan pahala dariNya.Dalam penyusuna makalah ini penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharap kritik dan saran untuk perbaikan dimasa mendatang.
Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca, khususnya bagi penulis sendiri.Terima kasih.


Surabaya, 03 Mei 2012







BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Radang selaput lendir rahim atau endometritis adalah peradangan yang terjadi pada endometrium, yaitu lapisan sebelah dalam pada dinding rahim, yang terjadi akibat infeksi. Terdapat berbagai tipe endometritis, yaitu endometritis post partum (radang dinding rahim sesudah melahirkan), endometritis sinsitial (peradangan dinding rahim akibat tumor jinak disertai sel sintitial dan trofoblas yang banyak), serta endometritis tuberkulosa (peradangan pada dinding rahim endometrium dan tuba fallopi, biasanya akibat Mycobacterium tuberculosis
1.2  RUMUSAN MASALAH
1)      Apa pengertian dari indometritis?
2)      Apa etiologi dari indometritis?
3)      Apa klasifikasi dari indometritis?
4)      Apa gambaran klinis dari indometritis?
5)      Apa patofisiologi dari indometritis?
6)      Apa komplikasi dari indometritis?
1.3  TUJUAN
1)        Mahasiswa mengetahui apa pengertian dari indometritis?
2)        Mahasiswa mengetahui apa etiologi dari indometritis?
3)        Mahasiswa mengetahui apa klasifikasi dari indometritis?
4)        Mahasiswa mengetahui apa gambaran klinis dari indometritis?
5)        Mahasiswa mengetahui apa patofisiologi dari indometritis?
6)        Mahasiswa mengetahui apa komplikasi dari indometritis?







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
Endometritis adalah suatu peradangan endometrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan. (Taber, B., 1994).
Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari rahim). (Manuaba, I. B. G., 1998).
Endometritis adalah suatu infeksi yag terjadi di endometrium, merupakan komplikasi pascapartum, biasanya terjadi 48 sampai 72 jam setelah melahirkan.(Obstetri dan ginekologi universitas Padjajaran hal: 93,1981)
2.2 ETIOLOGI
Mikroorganisme yang menyebabkan endometritis diantaranya Campylobacter foetus, Brucella sp., Vibrio sp. dan Trichomonas foetus. Endometritis juga dapat diakibatkan oleh bakteri oportunistik spesifik seperti Corynebacterium pyogenes, Eschericia coli dan Fusobacterium necrophorum. Organisme penyebab biasanya mencapai vagina pada saat perkawinan, kelahiran, sesudah melahirkan atau melalui sirkulasi darah.
Terdapat banyak faktor yang berkaitan dengan endometritis, yaitu retensio sekundinarum, distokia, faktor penanganan, dan siklus birahi yang tertunda. Selain itu, endometritis biasa terjadi setelah kejadian aborsi, kelahiran kembar, serta kerusakan jalan kelahiran sesudah melahirkan. Endometritis dapat terjadi sebagai kelanjutan kasus distokia atau retensi plasenta yang mengakibatkan involusi uteruspada periode sesudah melahirkan menurun. Endometritis juga sering berkaitan dengan adanya Korpus Luteum Persisten (CLP).


Sedang menurut Varney, H. (2001), hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi pada wanita adalah:
·         Waktu persalinan lama, terutama disertai pecahnya ketuban.
·         Pecahnya ketuban berlangsung lama.
·         Adanya pemeriksaan vagina selama persalinan dan disertai pecahnya ketuban.
·         Teknik aseptik tidak dipatuhi.
·         Manipulasi intrauterus (pengangkatan plasenta secara manual).
·         Trauma jaringan yang luas/luka terbuka.
·         Kelahiran secara bedah.
·         Retensi fragmen plasenta/membran amnion.
2.3 Klasifikasi
Menurut Wiknjosastro (2002),
1.      Endometritis akuta
Terutama terjadi pada masa post partum / post abortum.
Pada endometritis post partum regenerasi endometrium selesai pada hari ke-9, sehingga endometritis post partum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9. Endometritis post abortum terutama terjadi pada abortus provokatus.
Pada endometritis akuta, endometrium mengalami edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi, edema dan infiltrasi leukosit berinti polimorf yang banyak, serta perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus.
Infeksi gonorea mulai sebagai servisitis akut, dan radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis akut. Infeksi gonorea akan dibahas secara khusus.
Pada abortus septik dan sepsis puerperalis infeksi cepat meluas ke miometrium dan melalui pembuluh-pembuluh darah limfe dapat menjalar ke parametrium, ketuban dan ovarium, dan ke peritoneum sekitarnya. Gejala-gejala endometritis akut dalam hal ini diselubungi oleh gejala-gejala penyakit dalam keseluruhannya. Penderita panas tinggi, kelihatan sakit keras, keluar leukorea yang bernanah, dan uterus serta daerah sekitarnya nyeri pada perabaan.
Sebab lain endometritis akut ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti kerokan, memasukan radium ke dalam uterus, memasukan IUD (intra uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya.
Tergantung dari virulensi kuman yang dimasukkan dalam uterus, apakah endometritis akut tetap berbatas pada endometrium, atau menjalar ke jaringan di sekitarnya.
Endometritis akut yang disebabkan oleh kuman-kuman yang tidak seberapa patogen pada umumnya dapat diatasi atas kekuatan jaringan sendiri, dibantu dengan pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu haid. Dalam pengobatan endometritis akuta yang paling penting adalah berusaha mencegah, agar infeksi tidak menjalar.
Gejalanya :
·         Demam.
·         Lochea berbau : pada endometritis post abortum kadang-kadang keluar flour yang purulent.
·         Lochea lama berdarah malahan terjadi metrorrhagi.
·         Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau parametrium tidak nyeri.
Terapi :
·         Uterotonika.
·         Istirahat, letak fowler.
·         Antibiotika.
·         Endometritis senilis perlu dikuret untuk menyampingkan corpus carsinoma. Dapat di beri uterotonika.
2.      Endometritis kronika
Endometritis kronika tidak seberapa sering terdapat, oleh karena itu infeksi yang tidak dalam masuknya pada miometrium, tidak dapat mempertahankan diri, karena pelepasan lapisan fungsional darn endometrium pada waktu haid. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit. Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium.Gejala-gejala klinis endometritis kronika adalah leukorea dan menorargia. Sedangkan Pengobatannya tergantung dari penyebabnya.
Endometritis kronis ditemukan pada:
1.  Pada tuberkulosis.
2.  Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus.
3.  Jika terdapat korpus alineum di kavum uteri.
4.  Pada polip uterus dengan infeksi.
5.  Pada tumor ganas uterus.
6.  Pada salpingo – oofaritis dan selulitis pelvik.
Endometritis tuberkulosa terdapat pada hampir setengah kasus-kasus TB genital. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan tuberkel pada tengah-tengah endometrium yang meradang menahun.
Pada abortus inkomplitus dengan sisa-sisa tertinggal dalam uterus terdapat desidua dan vili korealis di tengah-tengah radang menahun endometrium.
Pada partus dengan sisa plasenta masih tertinggal dalam uterus, terdapat peradangan dan organisasi dari jaringan tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah apa yang dinamakan polip plasenta.
Endometritis kronika yang lain umumnya akibat ineksi terus-menerus karena adanya benda asing atau polip/tumor dengan infeksi di dalam kavum uteri.
Gejalanya :
·     Flour albus yang keluar dari ostium.
·     Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi.
Terapi :
·     Perlu dilakukan kuretase.
2.4 Gambaran Klinis  
Gambaran klinis dari endometritis tergantung pada jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokhea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang segera hilang setelah rintangan dibatasi. Uterus pada endometrium agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas penderita pada hari-hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, mulai hari ke 3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun, dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali, lokhea pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal yang terakhir ini tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokhea yang sedikit dan tidak berbau.
Gambaran klinik dari endometritis:
1.  Nyeri abdomen bagian bawah.
2.  Mengeluarkan keputihan (leukorea).
3.  Kadang terjadi pendarahan.
4.  Dapat terjadi penyebaran.
·         Miometritis (pada otot rahim).
·         Parametritis (sekitar rahim).
·         Salpingitis (saluran otot).
·         Ooforitis (indung telur).
·         Pembentukan penahanan sehingga terjadi abses.
(Manuaba, I. B. G., 1998)
 Menurut Varney, H (2001), tanda dan gejala endometritis meliputi:
·         Takikardi 100-140 bpm.Suhu 30 – 40 derajat celcius.
·         Menggigil. 
·         Nyeri tekan uterus yang meluas secara lateral. 
·         Peningkatan nyeri setelah melahirkan.
·         Sub involusi.
·         Distensi abdomen.
·         Lokea sedikit dan tidak berbau/banyak, berbau busuk, mengandung darah seropurulen.
·         Awitan 3-5 hari pasca partum, kecuali jika disertai infeksi streptococcus.
·         Jumlah sel darah putih meningkat.
 Menurut Varney, H (2001)
2.5  Patofisiologi
Kuman-kuman masuk endometrium, biasanya pada luka bekas insersio plasenta, dan waktu singkat mengikut sertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa patogen, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama-sama dengan bekuan darah menjadi nekrosis serta cairan. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat terdapat lapisan terdiri atas lekosit-lekosit. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. 
2.6  Komplikasi
·         Wound infection.
·         Peritonitis.
·         Adnexal infection.
·         Parametrial phlegmon.
·         Abses pelvis.
·         Septic pelvic thrombophlebitis.
 2.7 Penatalaksanaan
Antibiotika ditambah drainase yang memadai merupakan pojok sasaran terpi. Evaluasi klinis daan organisme yang terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga pengetahuan bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya, memberikan petunjuk untuk terapi antibiotik.
Cairan intravena dan elektrolit merupakan terapi pengganti untuk dehidrasi ditambah terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang tidak mampu mentoleransi makanan lewat mulut. Secepat mungkin pasien diberikan diit per oral untuk memberikan nutrisi yang memadai.
Pengganti darah dapat diindikasikan untuk anemia berat dengan post abortus atau post partum.
Tirah baring dan analgesia merupakan terapi pendukung yang banyak manfaatnya.
Tindakan bedah: endometritis post partum sering disertai dengan jaringan plasenta yang tertahan atau obstruksi serviks. Drainase lokia yang memadai sangat penting. Jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase perlahan-lahan dan hati-hati. Histerektomi dan salpingo – oofaringektomi bilateral mungkin ditemukan bila klostridia teah meluas melampaui endometrium dan ditemukan bukti adanya sepsis sistemik klostridia (syok, hemolisis, gagal ginjal).











PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Endometritis adalah infeksi pada endometrium atau desidua, dengan ekstensi ke dalam miometrium dan jaringan parametrial. Endometritis biasanya terjadi akibat infeksi naik dari saluran kelamin bawah. Dari perspektif patologis, endometritis dapat diklasifikasikan sebagai akut vs kronis. Endometritis akut ditandai dengan kehadiran neutrofil dalam kelenjar endometrium. Endometritis kronis ditandai dengan adanya sel plasma dan limfosit dalam stroma endometrium.
Endometritis ini mempunyai dua macam, yaitu endometritis akut dan kronis, dengan gejala-gejala yang kadang terlihat dan kadang pula tidak terlihat, yang terlihat seperti adanya demam, kontraksi uterus yang kurang baik, serta adanya perdarahan yang tidak normal.
Endometriosis ini disebabkan oleh karna adanya infeksi bakteri diantaranya Campylobacter foetus, Brucella sp., Vibrio sp. dan Trichomonas foetus. Endometritis yang masuk melalui proses persalinan yang kurang menjaga kesterilannya.









ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY “R’ USIA 23 TAHUN P1Ab0Ah1 POST PARTUM HARI ke-3
DENGAN ENDOMETRITIS
DI RB DENISA
1.    PENGKAJIAN
Pada Tanggal: 22 Maret 2011, jam 09:30 WIB di RB Denisa

A.     DATA SUBYEKTIF
        I.       Identitas
Nama     : Ny. R
Usia        : 23 Th
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Alamat : jln. Mawar  melati Gang II No 7
     II.       Keluhan Utama
Ibu mengatakan demam selama 3 hari dan keluar darah banyak dari jalan lahir serta berbau.
   III.       Riwayat menstruasi 
Menarche umur 13 tahun. Siklus 29  hari. Lamanya 6-7 hari, Sifat darah encer. Bau khas fluor albus tidak ada. Banyaknya ganti pembalut 3 kali dalam sehari. Dan terdapat perdarahan diluar siklus haid.
  IV.       Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah mengidap penyakit menurun seperti asma, diabetes melitus,dsb dan penyakit menular seperti Hepatitis B, HIV/AIDS.
    V.        Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan sedang tidak menderita penyakit menurun seperti asma, diabetes militus, jantung dsb dan sedang tidak menderita penyakit menular seperti hepatitis B, HIV/AIDS dsb.
  VI.        Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan baik dari keluarga Ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menurun sepeti asma, diabetes melitus, jantung dsb dan tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti hepatitis B, HIV/AIDS dsb
VII.       Riwayat Kehamilan
Ibu mengatakan ini kehamilan pertamanya dan tidak pernah menggalami keguguran
VIII.       Riwayat Persalinan
Pada tanggal 20 Maret 2011 jam 01.55 wib telah melahirkan bayi perempuan, lahir normal di tolong oleh bidan, bayi langsung menangis keras, dengan berat badan 2700gram dan panjang badan 48 cm.
  IX.       Nifas
Ibu mengatakan setelah persalinan darahnya semakin banyak dan berbau.
    X.       Riwayat KB
Ibu mengatakan pernah menggunakan alat kontrasepsi IUD selama 1 tahun.
  XI.       Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Eliminasi 
Ibu mengatakan 1x BAB dari melahirkan sampai sekarang. Konsistensi lunak warna kuning.dan BAK 3-4 x sehari dengan warna kekuningan, bau khas.
b. Nutrisi 
Makan 3x sehari dengan komposisi 1 porsi nasi dan tempe.
Minum 4-5 gelas perhari.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi 2X sehari.
d. Mobilisasi
Ibu mengatakan setelah melahirkan sampai sekarang hanya terlentang setengah duduk di tenpat tidur.
  XII.    Riwayat Psikososialspiritual
Ibu mengatakan khawatir dengan keadaan bayinya bila tidak bisa menyusui saat ibunya sakit., dan ibu juga cemas dengan kondisi yang sedang dialami. Hubungan dengan lingkungan sekitar baik dan rukun serta ibu dan keluarga selalu berdoa agar diberi kesehatan dan kemudahan dalam merawat bayinya. 

B. Data Obyektif
1.  Pemeriksaan Umum
a.      Keadaan umum: kelihatan lemas 
b.       Kesadaran umum : compos mentis 
c.      Status emosional : stabil 
d.       Tanda vital
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 120 kali per menit
Pernafasan : 23 kali per menit
Suhu :390C 
e.    Antropometri 
TB : 157 cm
BB : 58 kg 
2.     Pemeriksaan Fisik
a.      Kepala : tidak ada benjolan, rambut bersih, tidak rontok
b.      Muka : simetris, tidak ada oedem, muka tidak pucat
c.      Mata : simetris, konjungtiva pucat, sclera putih, tidak ikterik.
d.      Telinga : simetris,sejajar mata,bersih, tidak ada infeksi dan
serumen.
e.      Hidung : simetris, tidak infeksi, dan tidak ada sekret.
f.       Mulut : bibir tidak kering, tidak stomatitis, tidak ada gigi yang
berlubang.
g.      Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar limfe, tiroid, dan
vena jugularis.
h.      Payudara : simetris, areola hiperpigmentasi, putting susu
menonjol.
i.         Abdomen : Tidak ada bekas luka, TFU 3 jari di bawah pusat.
Kontraksi uterus lemah, uterus teraba lunak Kantong kemih kosong. 
j.        Ekstermitas
Odema : tidak ada odema
Varises : tidak ada
Reflek patella : +
k.      Genitalia luar
Varices : tidak ada
Perineum : utuh tak ada bekas luka episiotomi
Kelenjar Bartholini : tidak membesar
Pengeluaran lokhea : lokhea banyak dan berbau .
l.        Anus
Hemoroid : tidak ada
3.      Pemeriksaan penunjang
·         Leukosit : terjadi kenaikan antara 15.000 – 30.000/mm3.
·         Hemoglobin dan Hematokrit : 9 g%
·         Kultur dari bahan intrauterus atau intraservical : ditemukan biakan Streptococus hemoliticus aerobia, Staphylococus aureus, Clostridium welchii, Escherichia colli.
·         Pemeriksaan USG trasvaginal
4.      Diagnosa potensial.
Peritonitis, Adnexal infection, Abses pelvic
5.      Kebutuhan segera
Kolaborasi dengan dokter SPOG untuk pemberian terapi dan tindakan selanjutnya.
C. Assesment 
Ny R P1Ab0Ah1 usia 23 tahun Post Partum hari ke 3 dengan Endometritis
Ø  Masalah: gangguan rasa nyaman
Ø  Kebutuhan :
·        berikan HE tentang personal higien
·        Berikan He tentang pola istirahat
·        Berikan HE tentang nutrisi
D. Planning tanggal : 22 maret 2011 jam : 10.00 wib
1)        Menjelaskan kepada ibu dan suami pasien tentang hasil pemeriksaan bahwa ibumengalami endometriti.
     E/ Ibu mengerti dan memahaminya
2)        Menganjurkan ibu untuk menjaga personal hiegyn dengan  mandi 2x sehari,selalu menjaga kebersihan alat genital dengan cara memebersihkannya dengan menggunakan sabun dan air bersih mengalir dan menegringkannya dengan kain bersih agar tidak lembab sehingga akan terhindar dari kuman yang bisa menyebabkan infeksi lebih parah.
      E/ Ibu mengerti dan bersedia. 
3)        Memberikan dukungan kepada ibu, dan memotivasi keluarga untuk mendoakan agar kondisi ibu membaik.
E/ Keluarga bersedia memberikan dukungan pada ibu

4)        Memberikan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri yaitu asam mefenamat.
E/ Asam mefenamat telah diberikan kepada ibu 

5)        Melakukan tes laboratorium untuk menentukan antibiotic apa yang akan diberikan
E/ tes laboratorium telah dilakukan

6)        Melakukan uji elergi untuk mengetahui ibu tersebut elergi atau tidak terhadap antibiotik yang akan diberikan
E/ uji elergi telah dilakukan

7)        Memberikan antibiotik untuk menangani infeksi yang diderita ibu
E/ Antibiotik telah diberikan kepada ibu 

8)        Memasang infus. Infus telah dipasang cairan berupa RL
E/.pasien terlihat lebih baik.

9)        Melakukan pemeriksaan TTV setiap 4 jam. TTV telah dilakukan dengan hasil 
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 120 kali per menit
Pernafasan : 30 kali per menit
Suhu : 38 0C
E/Kondisi ibu mulai membaik dan ibu mengerti.

10)    Kolaborasi dengan dokter obsgyn.untuk dilakukan pemeriksaan ginekologi. E/Kolaborasi dilakukan. 

11)    Melakukan pendokumentasian. Telah dilakukan dokumentasi.
E/dokumentasi telah dilakukan









DAFTAR PUSTAKA

Taber, Ben-Zion. (1994). Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri Dan Ginekologi.Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. (1999). Kapita Selekta Kedokteran (Jilid 1).Jakarta: Media Aesculapius.
Varney, H. (2002). Buku Saku Bidan.Jakarta: EGC.
Wiknjosastro, H. (2002). Ilmu Kebidanan.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Wiknjosastro, H. (1991). ILMU KEBIDANAN. Edisi III.Jakarta : Gramedia.

















                                  
SOAL –SOAL ENDOMETRITIS

1.Mikroorganisme yang menyebabakan endometritis diantaranya,kecuali?
             A.Brucella SP
             B.Vibrio SP
             C.Candidialis
             D.Campylobakter foetus
             E.Trikomonas foetus

2.Endometritis terjadi setelah kejadian
             1.Aborsi
             2.Kelahiran kembar
             3.Kerusakan jalan lahir setelah melahirkan
             4.kelahiran prematur

3.Faktor penyebab dari endometritis adalah
            1.Retensio sekundinarum
            2.Distokia
            3.Faktor penanaganan
            4.Siklus birahi yang tertunda

4. Gejala dari endometritis akut adalah
            1.Perdarahan
            2.Panas tinggi
            3.Nyeri pada vagina
            4.Lochea bernanah

5. Terapi  yang dapat diberikan pada penyakit endometritis
            1.Uterotonika
            2.Istirahat
            3.Antibiotik
4. Kuretase

6.      Adanya Endometritis yang disebabkan oleh postabortum terutama terjadi pada kasus abortus?
a.       Abortus kompletus
b.      Missed abortion
c.       Abotus insipiens
d.      Abortus provocatus
e.       Abortus iminens

7.      Endometritis ada dua jenis, yaitu:
a.       Ringan dan sedang
b.      Berat dan ringan
c.       Kronis dan akut
d.      Sedang dan berat
e.       Ringan dan berat

8.      Pada endometritis kronis ada beberapa gejala, diantaranya gejala pada kelainan haid, seperti:
1.      Oligomenorrhoe
2.      Metrorrhagi
3.      Kryptomenorrhoe
4.      Menorrhagi

9.      Komplikasi apa yang dapat terjadi pada kasus endomertitis, kecuali?
a.       Abses pelvis
b.      Peritonitis
c.       Wound infektion
d.      Adnekxal infektion
e.       Kanker cerviks






10.  Menurut H.Varney ada beberapa hal yang dapat menyebabkan infeksi pada wanita post partum, diantaranya kecuali:
a.       Mengkonsumsi makanan yang tidak sehat selama sebelum proses persalinana
b.      Persalinan lama
c.       Pecahnya ketuban  lama
d.      Tekhnik aseptik yang tidak dipatuhi dalam proses persalinan
e.       Trauma jaringan yang luas
            2.Panas tinggi
            3.Nyeri pada vagina
            4.Lochea bernanah
                   
Previous
Next Post »

Translate