Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

-----

MAKALAH ASKEB IV ADNEXITIS


Asuhan kebidanan
“pada radang genetalia interna Adnexitis”

FAKULTAS ILMU KESEHATAN bintang

Di Susun oleh :
Kelompok 12
Dwi Novianti              2010.0661.060
Ifa Nur Farida                         2010.0661.066
Suheni Dwi P              2010.0661.096

Fakultas Ilmu Kesehatan
Prodi D3 Kebidanan
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2012
 
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga makalah Asuhan Kebidanan Pada Radang Genetali Interna Adneksitis dapat kami susun.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb IV dengan dosen  pembimbing Rahmawati Ika S.ST M.Kes. Selain itu juga diharapkan bisa memberikan wawasan kepada rekan-rekan mahasiswa khususnya mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dalam kesempatan ini kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu memberi bimbingan, ilmu, dorongan, serta saran-saran kepada penyusun.
 Kami selaku penyusun menyadari sepenuhnya bahwa isi maupun penyajian makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amien


Surabaya, 03 Mei  2012



Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………..………………    i
DAFTAR ISI ………………………………………………….…………………    ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang  .................................................................................       1
1.2  Rumusan Masalah………………………………..…………………..     1
1.3  Tujuan…………………………………………………………………   2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Adnexitis …..…………………………………………………  3
2.2 Etiologi ……..…………………………………………………………  3
2.3 Patofisiologi ……..……………………………………………………   3
2.4 Gambaran Klinis………………………………………………………   4
2.5 Jenis Adnexitis.. ………………………………………………………   4
2.6 Gejala Adnexitis ………………………………………………………  6
2.7 Komplikasi ……………………………..……………………………..   6
2.8 Pemeriksaan Penunjang ……….………………………………………  6
2.9 Penatalaksanaan ……………………………………………………….  7
BAB III ASUAHN KEBIDANAN ……………………………………………….            8
BAB IV : PENUTUP
4.1 Kesimpulan ……………………………………………………………  14
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………..     15



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis setiap manusia untuk mendapatkan keturunan. Namun, masalah seksual dalam kehidupan rumah tangga seringkali mengalami hambatan atau gangguan karena salah satu pihak (suami atau isteri) atau bahkan keduanya, mengalami gangguan seksual. Jika tidak segera diobati, masalah tersebut dapat saja menyebabkan terjadinya keretakan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila kita dapat mengenal organ reproduksi dengan baik sehingga kita dapat melakukan deteksi dini apabila terdapat gangguan pada organ reproduksi.
Menurut (Winkjosastro,Hanifa.Hal.396,2007) prevalensi adneksitis di Indonesia sebesar 1 : 1000 wanita dan rata-rata terjadi pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Adneksitis bila tidak ditangani dengan baik akan menyebar keorgan lain disekitarnya seperti misalnya ruptur piosalping atau abses ovarium, dan terjadinya gejala-gejala ileus karena perlekatan, serta terjadinya appendisitis akuta dan salpingo ooforitis akuta. Maka dari itu sangat diperlukan peran tenaga kesehatan dalam membantu perawatan klien adneksitis dengan baik agar radangnya tidak menyebar ke organ lain dan para tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Salah satu tenaga kesehatan yang dapat memberikan asuhan secara komprehensif yaitu bidan melalui asuhan kebidanan yang sudah dimilikinya. Beberapa peran bidan diantaranya yaitu peran bidan sebagai pengelola dimana bidan memiliki beberapa tugas salah satunya tugas kolaborasi. Didalam kolaborasi ini bidan harus menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga serta memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan tim medis lain. (Soepardan,Suryani.Hal 38.2008). Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara lebih dalam tentang adneksitis dan penatalaksanaannya dengan konsep asuhan kebidanan.

1.2  Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat di rumuskan masalah sebagai berikut :
1.2.1        Apa definisi adneksitis?
1.2.2        Bagaimana penyebab terjadinya adneksitis?
1.2.3        Bagaimana gejala jika seorang wanita mengalami adneksitis?
1.2.4        Bagaimana penatalaksanaan jika wanita menderita adneksitis?
1.3  Tujuan
1.3.1        Mahasiswa dapat memahami definisi adneksitis
1.3.2        Mahasiswa dapat mengetahui penyebab terjadinya adneksitis
1.3.3        Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala jika seorang wanita mengalami adneksitis
1.3.4        Mahasiswa mengetahui mengenai penatalaksanaan jika seorang wanita menderita adneksitis
















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Adnexitis adalah suatu radang pada tuba fallopi dan radang ovarium yang biasanya terjadi bersamaan. Radang ini kebanyakan akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus, walaupun infeksi ini bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah atau menjalar dari jaringan sekitarnya.
Adnexitis adalah infeksi atau radang pada adnexa rahim. Adnexa adalah jaringan yang berada di sekitar rahim, termasuk tuba fallopi dan ovarium. Istilah lain dari adnexitis antara lain: pelvic inflammatory disease, salpingitis, parametritis, salpingo-oophoritis.

2.2 Etiologi
Sebab yang paling banyak terdapat adalah infeksi gonorroe dan infeksi puerperal dan postpartum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul radang adnexa sebagai akibat tindakan kerokan, laparotomi, pemasangan IUD serta perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks.
Pada wanita rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantara traktus genetalia. Radang atau infeksi rongga perut disebabkan oleh :
1. Sifat bactericide dari vagina yang mempunyai pH rendah.
2. Lendir yang kental dan liat pada canalis servicalis yang menghalangi naiknya kuman-kuman.
Adapun bakteri yang biasanya menyebabkan terjadinya penyakit ini adalah Baktery Gonorrhea dan Bakteri Chalmydia.

2.3 Patofisiologi
Radang tuba fallopii dan radang ovarium biasanya terjadi bersamaan. Radang itu kebanyakan akibat infeksi yang menjalar ke atas dari uterus, walaupun infeksi ini juga bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah, atau menjalar dari jaringan – jaringan sekitarnya.
Pada salpingo ooforitis akuta gonorea ke tuba dari uterus melalui mukosa. Pada endosalping tampak edema serta hiperemi dan infiltrasi leukosit, pada infeksi yang ringan epitel masih utuh, tetapi pada infeksi yang lebih berat kelihatan degenarasi epitel yang kemudian menghilang pada daerah yang agak luas dan ikut juga terlihat lapisan otot dan serosa. Dalam hal yang akhir ini dijumpai eksudat purulen yang dapat keluar melalui ostium tuba abdominalis dan menyebabkan peradangan di sekitarnya.
Infeksi ini menjalar dari serviks uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritonium pelvik. Disini timbul salpingitis interstialis akuta, mesosalping dan dinding tuba menebal menunjukkan infiltrasi leukosit, tetapi mukosa seringkali normal. (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa Hal 287. 2007).

2.4 Gambaran Klinis
Gambaran klinik adnexitis akut ialah demam, leukositosis dan rasa nyeri disebelah kanan atau kiri uterus, penyakit tersebut tidak jarang dijumpai terdapat pada kedua adneksa, setelah lewat beberapa hari dijumpai pula tumor dengan batas yang tidak jelas dan nyeri tekan. Pada pemeriksaan air kencing biasanya menunjukkan sel-sel radang pada pielitis. Pada torsi adneksa timbul rasa nyeri mendadak dan apabila defence musculaire tidak terlalu keras, dapat diraba nyeri tekan dengan batas nyeri tekan yang nyata.(Sarwono. Winkjosastro, Hanifa. Hal 288.2007).
2.5  Jenis Adnekitis
Penyakit adnek2itis atau salpingo ooporitis terbagi atas :
2.5.1        Salpingo ooporitis akuta
Salpingo ooporitis akuta yang disebabkan oleh gonorroe sampai ke tuba dari uterus sampai ke mukosa. Pada gonoroe ada kecenderungan perlekatan fimbria pada ostium tuba abdominalis yang menyebabkan penutupan ostium itu. Nanah yang terkumpul dalam tuba menyebabkan terjadi piosalping. Pada salpingitis gonoroika ada kecenderungan bahwa gonokokus menghilang dalam waktu yang singkat, biasanya 10 hari sehingga pembiakan negative. Salpingitis akut banyak ditemukan pada infeksi puerperal atau pada abortus septic ada juga disebabkan oleh berbagai tierti kerokan. Infeksi dapat disebabkan oleh bermacam kuman seperti streptokokus ( aerobic dan anaaerobic ), stafilokokus, e. choli, clostridium wechii, dan lain-lain. Infeksi ini menjalar dari servik uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritoneum pelvic. Disini timbul salpingitis interstitial akuta ; mesosalping dan dinding tuba menebal dan menunjukkan infiltrasi leukosit, tetapi mukosa sering kali normal. Hal ini merupakan perbedaan yang nyata dengan salpingitis gonoroika, dimana radang terutama terdapat pada mukosa dengan sering terjadi penyumbatan lumen tuba.( Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007).
2.5.2        Salpingo ooporitis kronika
Dapat dibedakan pembagian antara:
a)      Hidrosalping
Pada hidrosalping terdapat penutupan ostium tuba abdominalis. Sebagian dari epitel mukosa tuba masih berfungsi dan mengeluarkan cairan akibat retensi cairan tersebut dalam tuba. Hidrosalping sering kali ditemukan bilateral, berbentuk seperti pipa tembakau dan dapat menjadi sebesar jeruk keprok. Hidrosalping dapat berupa hidrosalping simpleks dan hidrosalping follikularis. Pada hidrosalping simpleks terdapat satu ruangan berdinding tipis, sedang hidrosalping follikularis terbagi dalam ruangan kecil.
b)      Piosalping
Piosalping dalam stadium menahun merupakan kantong dengan dinding tebal yang berisi nanah. Pada piosalping biasanya terdapat perlekatan dengan jaringan disekitarnya. Pada salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit di tengah – tengah jaringan otot.
c)      Salpingitis interstisialis kronika
Pada salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit ditengah-tengah jaringan otot. Terdapat pula perlekatan dengan-dengan jaringan-jaringan disekitarnya, seperti ovarium, uterus, dan usus.
d)      Kista tubo ovarial, abses tubo ovarial.
Pada kista tubo ovarial, hidrosalping bersatu dengan kista folikel ovarium, sedang pada abses tubo ovarial piosalping bersatu dengan abses ovarium.Abses ovarium yang jarang terdapat sendiri,dari stadium akut dapat memasuki stadium menahun.
e)      Salpingitis tuberkulosa
Salpingitis tuberkulosa merupakan bagian penting dari tuberkulosis genetalis. (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289,2007).


2.6  Gejala Adnexitis
o   Kram atau nyeri perut bagian bawah yang tidak berhubungan dengan haid(bukan pre menstrual syndrome)
o   Keluar cairan kental berwarna kekuningan dari vagina
o   Nyeri saat berhubungan intim
o   Demam
o   Nyeri punggung
o   Leukosit tinggi
o   Setelah beberapa hari dijumpai tumor dengna batas yang tidak jelas dan nyeri tekan
2.7   Komplikasi
Pembedahan pada salpingo-ooforitis akuta perlu dilakukan apabila:
a)      Jika terjadi ruptur atau abses ovarium
b)      Jika terjadi gejala-gejala ileus karena perlekatan
c)      Jika terjadi kesukaran untuk membedakan antara apendiksitis akuta dan adneksitis akuta.
Gejala; nyeri kencing, rasa tidak enak di bawah perut, demam, ada lendir/bercak keputihan di celana dalam yang terasa panas, infeksi yang mengenai organ-organ dalam panggul/ reproduksi. Penyebab infeksi lanjutan dari saluran kencing dan daerah vagina. Selain itu komplikasi yang terjadi dapat berupa appendisitis akuta, pielitis akuta, torsi adneksa dan kehamilan ektopik yang terganggu. Biasanya lokasi nyeri tekan pada appendisitis akuta (pada titik Mac Burney) lebih tinggi daripada adneksitis akuta, akan tetapi apabila proses agak meluas perbedaan menjadi kurang jelas (Sarwono.Winkjosastro,Hanifa.Hal 288.2007).

2.8  Pemeriksaan Penunjang
o   USG
o   UKG
o   Kuldoskopi dan laparoskopi tidak berarti keculi bilamana pemeriksaan tersebut tidak dilakukan pemeriksaan biopsi.

2.9  Penatalaksanaan
Penanganan utama yang dianjurkan adalah TAH + BSO + OM + APP (Total Abdominal Hysterectomy + Bilateral Salpingo-Oophorectomy +  Omentectomy + Appendectomy). Dapat dipertimbangkan (optional) instilasi phosphor-32 radioaktif atau khemoterapi profikalis. Sayatan dinding perut harus longitidunal di linea mediana, cukup panjang untuk memungkinkan mengadakan eksplorasi secara gentle (lembut) seluruh rongga perut dan panggul, khususnya di daerah subdifragmatika dan mengirimkan sampel cucian rongga perut untuk pemeriksaan sitologi eksfoliatif. Bila perlu dapat dilakukan biopsy pada jaringan yang dicurigai. Radioaterapi akhir-akhir ini tidak mendapat tempat dalam penanganan tumor ganas tuba dan ovarium karena sifat biologic tumor dan menyebar melalui selaput perut (surface spreader). Radiasi ini akan merusak alat-alat vital dalam rongga perut, khususnya usus-usus, hati dan ginjal. Dengan shielding (perlindungan) alat vital tersebut, akan menyebabkan kurangnya dosis radiasi. Radioterapi hanya dikerjakan pada tumor bed dan pada jenis histologik keganasan tertentu seperti disgerminoma.
Penyakit ini dapat diterapi dengan pemberian antibiotika. Tergantung dari derajat penyakitnya, biasanya diberikan suntikan antibiotik kemudian diikuti dengan pemberian obat oral selama 10-14 hari. Beberapa kasus memerlukan operasi untuk menghilangkan organ sumber infeksi, ini dilakukan jika terapi secara konvensional(pemberian antibiotik) tidak berhasil. Jika terinfeksi penyakit ini melalui hubunganseksual, maka pasangannya juga harus mendapat terapi pengobatan, sehingga tidak terinfeksi terus menerus. Operasi radikal ( histerektomi dan salpingo ooforektomi bilateral ) pada wanita yang sudah hampir menopause. Pada wanita yang lebih muda hanya adnexia dengan kelainan yang nyata yang diangkat.












BAB III
ASUHAN KEBIDANAN
I.    SUBYEKTIF
Tanggal : 25 Februari 2012   Oleh : Mahasiswa    Pukul : 18.00
1.      Identitas
Nama Ibu
Umur
Suku/bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
No. telp.
No. register
: Ny S
: 21 Thn
:Indonesia
:Islam
:SMA
:IRT
: Jl.Indah Barat
: (-)
: 2030
Nama Suami
Umur
Suku/bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
No. telp.
No. register
: Tn T
: 23 Thn
:Indonesia
:Islam
:SMA
:Swasta
:Jl.IndahBarat
:031-7689956
: (-)

2.      Keluhan utama (PQRST) :
Ibu mengatakan merasa nyeri hebat di daerah perut bawah, serta demam sejak 4 hari yang lalu, rasa nyeri bertambah keras pada saat melakukan pekerjaan yang berat-berat dan disertai dengan sakit pinggang dan keputihan.
3.      Pola  Kesehatan Fungsional
Pola Fungsi Kesehatan
Sebelum Sakit
Selama Sakit
1.Pola Nutrisi

Ibu makan porsi cukup 3x/hari, minum 6 gelas/hari
Ibu tidak mau makan, makan 2x/hari, minum 5 gelas/hari
2.Pola Eliminasi
BAB 2x/hari
BAK 5-6x/hari
BAB 2x/hari
BAK 4-5x/hari
3.Pola Istirahat

Tidur siang 3 jam
Tidur malam 7 jam
Ibu tidak pernah tidur siang
Tidur malam 5 jam
4.Pola Aktivitas

Ibu melakukan aktifitas rumah tangga
Ibu hanya melakukan pekerjaan yg ringan saja
5.Pola seksual
Ibu melakukan hubungan seksual 3-4x/seminggu
Ibu tidak mau melakukan hubungan seksual
6.   Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan  : merokok, alcohol, narkoba, obat – obatan, jamu, binatang peliharaan



7.         Riwayat penyakit sistemik yang pernah di derita : Tidak ada
1.      Jantung
2.      Ginjal
3.      Asma
4.      TBC
  1. Hepatitis
  2. DM
  3. Hipertensi
  4. TORCH
8.         Riwayat kesehatan dan penyakit keluarga : Suami pernah mengalami infeksi gonore
1.      Jantung
2.      Ginjal
3.      Asma
4.      TBC
5.      Hepatitis
6.      DM
7.      Hipertensi
8.      TORCH



a.   Riwayat KB :
Pernah menggunakan KB AKDR yaitu IUD sudah 1 tahun

II.    OBYEKTIF
1.   Pemeriksaan Umum
a.       Keadaan umum      :
lemah                      baik
b.      Kesadaran
Compos mentis 
Apatis   
Somnolen
Sopor
Koma
c.       Keadaan emosional            :
  kooperatif          depresi                      agresif             hipoaktif
  bingung              menarik diri              cemas              marah
  hiperaktif           gelisah
d.      Tanda –tanda vital
¨      Tekanan darah  : 110/90 mmHg.
¨       Nadi                 : 100 kali/menit
¨      Pernafasan        : 20 Kali / menit
¨       Suhu                :  38 0C
e.       Antropometri
¨      BB periksa yang lalu    : 57 kg
¨      BB sekarang                 : 56 kg
¨      Tinggi Badan                : 156 cm
2.      Pemeriksaan Fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
a. Wajah          : simetris, terlihat pucat
b.Rambut        : bersih, tidak ada ketombe
c. Mata             : bentuk simetris, konjungtiva pucat, sclera tidak ikterik
d.      Mulut & gigi : bersih, tidak ada caries dan stomatitis
e. Telinga         : simetris, tidak ada serumen
f. Hidung         : simetris, tidak ada nyeri tekan, bersih, fungsi penciuman baik
g.Dada            : bentuk simetris, tidak ada tarikan dinding dada
h.Abdomen    : tidak ada bekas luka oprasi, ada nyeri tekan pada perut bagian bawah, kembung
i.  Genetalia     : terdapat flour albus, nyeri tekan
j.  Ekstremitas  : tidak ada odema, fungsi pergerakan baik
3.   Pemeriksaan Penunjang :
·         USG                = Terdapat pembesaran tuba falopi dan ovarium
·         UKG              
·         Biopsi

III.    ASSESMENT
1.   Interpretasi Data Dasar
a.    Diagnosa    : Ny “S” dengan adneksitis
b.   Masalah      : Gangguan rasa nyaman, kepercayaan diri
c. Kebutuhan  : - Meyakinkan ibu bahwa bidan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu ibu mengatasi masalahnya dan ibu tidak perlu takut.
- Memberikan penyuluhan tentang maksud, tujuan dilakukan terapi serta prosesnya.
2.   Antisipasi terhadap diagnosa/masalah potensial
Piosalping
Abses  ovarium
3.   Identifikasi kebutuhan akan tindakan segera/kolaborasi/rujukan
Kolaborasi dengan dokter SpOG
IV.    PLANNING
Tujuan                  : Setelah di berikan asuhan kebidanan dapat meringankan beban ibu
 Kriteria Hasil      : - ibu merasa tenang tidak cemas mengenai keadaanya
-  KU Ibu
- ibu dapat beraktifitas seperti biasa serta rasa nyeri dapat berkurang
1.  Intervensi
·         Jalin hubungan baik dengan px dan keluarga
R/ untuk memudahkan petugas dalam melakukan pemeriksaan
·         Jelaskan mengenai keadaan ibu sekarang kepada keluarga
R/ agar ibu dan keluaga tidak cemas dengan keadaanya
·         Jelaskan penyebab terjadinya adneksitis kepada keluarga
R/ agar keluarga mengetahui penyebab terjadinya adneksitis
·         Lakukan konseling kebutuhan nutrisi, istirahat, serta kebersihan
R/ agar kebutuhan istirahat dan nutrisi ibu dapat terpenuhi dengan baik dan cukup
·         Kolaborasi dengan dokter
R/ untuk mengatasi masalah dengan mencegah komplikasi
2.   Implementasi
·         Menjalin hubungan baik dengan px dan keluarga dengan cara member salam
·         Menjelaskan mengenai keadaan ibu sekarang kepada keluarga
-          Ibu dalam keadaan kurang stabil kesehatannya
·         Menjelaskan penyebab terjadinya adneksitis kepada keluarga
Salah satu penyebab terjadinya adneksitis antara lain :
-          Kurangnya personal hygine
-          Adanya infeksi yg di sebabkan oleh bakteri seperti Gonorrhea, Chalmydia
·         Melakukan konseing kebutuhan nutrisi dan istitahat serta kebersihan
-          Memberitahu kepada ibu agar istirahat yang cukup tidur siang 3 jam dan tidur malam 7-8 jam
-          Memberitahu kepada ibu agar makan cukup 3x/hari dengan porsi cukup
-          Menjaga kebersihan pada daerah genetalia
·         Melakukan kolaborasi dengan dokter
Jika terjadi masalah yang lebih parah bisa melakukan tindakan segera
3.      Evaluasi : SOAP
S : pasien mengatakan sudah tidak cemas lagi
O : K/U Ibu sudah baik ibu dapat mengulang penjelasan yang diberikan oleh bidan
A :  Ny “S” Usia 21 tahun dengan Adneksitis
P : - lakukan konseling mengenai istirahat dan nutrisi
            Makan 3x/hari, tidur malam 7-8 jam/hari
-       Mengajak keluarga untuk menjaga kondisi ibu
-          Memberikan medikamentosa :
·         Amoxan 3×1 amp
·         Gentamicin 2×80 gr
·         Analgetika jenis Antrain 3×1 amp (Diberikan secara IV)
-          Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan segera sesuai dengan advice dokter
·         TAH + BASO + OM + APP (Total Abdominal Histerektomy + Bilateral Salpingo-Oophorectomy + Omentectomy + Appendectomy)






















BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Adneksitis atau Salpingo-ooforitis adalah radang pada tuba falopi dan radang ovarium yang terjadi secara bersamaan, biasa terjadi karena infeksi yang menjalar ke atas sampai uterus, atau akibat tindakan post kuretase maupun post pemasangan alat kontrasepsi (IUD).
Salah satu tenaga kesehatan yang dapat memberikan asuhan secara komprehensif yaitu bidan melalui asuhan kebidanan yang sudah dimilikinya. Beberapa peran bidan diantaranya yaitu peran bidan sebagai pengelola dimana bidan memiliki beberapa tugas salah satunya tugas kolaborasi. Didalam kolaborasi ini bidan harus menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga serta memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan tim medis lain.


















DAFTAR PUSTAKA

Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sastrawinata, sulaiman. 1981. Ginekologi. Bandung : Elstar offset
Sarwono,Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Marmi, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
http://leephonkhikmah.blogspot.com/2012/04/makalah-adnexitis.html (Di unduh pada tanggal 03 April 2012, pukul 10.00)

Previous
Next Post »

Translate