Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

-----

MAKALAH ASKEB IV DENGAN SALPINGITIS



MAKALAH ASKEB IV
ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny “S”
DENGAN SALPINGITIS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN bintang
 





DISUSUN OLEH:
Annisa Cintya      (2010.0661.054)
NailySalsabila      (2010.0661.080)
Komariyah           (2010.0661.094)

PRODI DIII KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
KATA  PENGANTAR

Puji syukur  kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kami sehingga makalah yang berjudul Makalah Askeb IV Asuhan Kebidanan pada Ny “S” dengan Salpingitisdapat diselesaikan dengan baik.Makalah ini disusun untuk memberikan pengetahuan dan informasi kepada pembaca  tentang materi ini.

kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami  menerima kritik dan saran yang membangun. Harapan kami semoga makalah ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan berguna bagi pembaca.

Akhirnya kami mengucapkan banyak terima kasih dan mudah-mudahan semua pihak yang membantu penulisan makalah ini mendapat pahala yang setimpal dari Allah.


           




            



                                                            DAFTAR ISI

KataPengantar ............................................................................................................ i
Daftar Isi ...................................................................................................................... ii

BAB 1PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2        Rumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3        Tujuan ................................................................................................ 2

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1    Definisi ………………………………………………………………… 3
2.2    Klasifikasisalpingitis …..……………………………………………… 4
2.3    Penyebabsalpingitis …………………………………………………… 4
2.4    Patofisiologisalpingitis …,,,…………………………………………… 5
2.5    Gambaran klinis …………..…………………………………………… 6
2.6    KomplikasiSalpingitis ………………………………………………… 7
2.7    Prosedurpemeriksaan………………………..………………….......…8
2.8    Prosedurterapi ……..………………………………………………….. 9
              
BAB 3 AsuhanKebidananNy “S” Dengansalpingitis ..…..…….…………………... 11

BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan ..........................................................................................15
4.2 Saran ................................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................16

SoalSalpingitis …………………………………………………………………..…… 17



















BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tingkat kesadaran masyarakat untuk hidup sehat masih sangat rendah.Tingginya angka kematian itu menunjukkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan masih kurang.Hal itu juga menunjukkan pelayanan kesehatan di Indonesia kurang maksimal.
Radang atau infeksi pada alat-alat genetal dapat timbul secara akut dengan akibat meninggalnya penderita atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa bekas atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyakit ini bisa juga menahun atau dari permulaan sudah menahun.Salah satu dari infeksi tersebut adalah salpingitis.
Sebagian besar wanita tidak menyadari bahwa dirinya menderita infeksi tersebut.Biasanya sebagian besar wanita menyadari apabila infeksi telah menyebar dan menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu. Keterlambatan wanita memeriksakan dirinya menyebabkan infeksi ini menyebar lebih luas dan akan sulit dalam penanganannya.
Penyakit Radang Panggul (Salpingitis, PID, Pelvic Inflammatory Disease) adalah suatu peradangan pada tuba falopii (saluran menghubungkan indung telur dengan rahim).Peradangan tuba falopii terutama terjadi pada wanita yang secara seksuaktif.
Resiko terutama ditemukan pada wanita yang memakai IUD.
Oleh karena itu diharapkan mahasiswa mampu memahami apa itu peradangan pada alat genitalia wanita. Dan pada makalah ini penulis membahas mengenai salpingitis.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksut dengan salpingitis ?
2.      Apa saja jenis-jenis salpingitis ?
3.      Apa penyebab salpingitis ?
4.      Bagaimana patofisiologi salpingitis ?
5.      Bagaimana gambaran klinis penderita salpingitis ?
6.      Bagaimana prosedur pemeriksaan salpingitis ?
7.      Bagaimana prosedur terapi penderita salpingitis ?
8.      Bagaimana asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis?

1.3    Tujuan
1.      Mengetahui definisi salpingitis
2.      Mengetahui jenis-jenis salpingitis
3.      Mengetahui penyebab salpingitis
4.      Memahami patofisiologi salpingitis
5.      Mengetahui gambaran klinis pada penderita salpingitis
6.      Mengetahui prosedur pemeriksaan salpingitis
7.      Mengetahui prosedur terapi penderita salpingitis
8.      Mengetahui asuhan kebidanan yang tepat diterapkan kepada wanita yang mengalami salphingitis









BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Salpingitis adalah terjadinya inflamasi pada uterus, tuba fallopi, dan ovarium yang mengarah ke perlukaan dengan perlengketan pada jaringan dan organ sekitar.Tuba fallopi perpanjangan dari uterus, salpingitis adalah salah satu penyebab umum terjadinya infertilitas pada wanita.
            Terjadi dalam trimester pertama kehamilan, akibat migrasi bakteri ke atas dari serviks hingga mencapai endosalping. Begitu terjadi penyatuan korion dengan desidua sehingga menyumbat total kavum uteri dalam trimester kedua, lintasan untuk penyebaran bakteri yang asenderen ini melalui mukosa uterus akan terputus. Organisme penyebab infeksi ini diperkirakan mencapai tuba falopii dan ovarium yang sebelumnya sudah cidera tersebut lewat cairan limfe atau darah. Pada salah satu  dari dua kasus tubo-ovsrium yang menjadi komplikasi dalam pertengahan kehamilan dan di rawat di RS dilakukan histerektomi di samping salpingo-ooforektomi bilateral. Pasien dapat disembuhkan setelah menjalani proses kesembuhan pasca bedah yang sangat rumit. Walaupun terjadi perlekatan yang luas dalam rongga panggul akibat infeksi pelvis sebelumnya, pasien biasanya tidak mengalami efek yang sama selama kehamilannya.
            Salphingitis atau peradangan pada saluran tuba dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah tindakan medis sebelumnya, mioma, dan pada umumnya adalah infeksi.Tindakan medis dalam hal ini adalah operasi pada daerah abdomen (perut) dan pangul.Tindakan kuretase hanya dilakukan pada daerah rahim dan tidak mencapai saluran tuba sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk menyebabkan peradangan pada saluran tuba.Infeksi akibat dari kuretase memang ada kemungkinannya dimana infeksi tersebut menyebar ke saluran tuba.Namun hal itu hanya terjadi apabila kuretase berlangsung kurang steril.Salah satu infeksi yang cukup sering disebabkan karena kuman TBC.
Apabila salpingitis tidak ditangani dengan segera, maka infeksi ini akan menyebabkan kerusakan pada tuba fallopi secara permanen sehingga sel telur yang dikeluarkan dari ovarium tidak dapat bertemu dengan seperma. Tanpa penanganan yang cepat infeksi bisa terjadi secara permanen merusak tuba fallopi sehingga sel telur yang dikeluarkan pada proses menstruasi tidak bisa bertemu dengan sperma.

2.2 Klasifikasi Salpingitis
Ada dua jenis dari salpingitis :
·         Salpingitis akut :
pada  salpingitis akut, tuba fallopi menjadi merah dan bengkak, dan keluar cairan berlebih sehingga bagian dalam dinding tuba sering menempel secara menyeluruh. Tuba bisa juga menempel pada bagian intestinal yang terdekat.Kadang-kadang tuba fallopi penuh dengan pus.Hal yang jarang terjadi, tuba rupture dan menyebabkan infeksi yang sangat berbahaya pada kavum abdominal (Peritonitis).
·         Salpingitis Kronis :
Biasanya mengikuti gejala akut. Infeksi terjadi  ringan, dalam waktu yang panjang dan tidak menunjukan banyak tanda dan gejala.

2.3 Penyebab Salpingitis
Salpingitis disebabkan oleh bakteri penginfeksi. Jenis-jenis bakteri yang biasaya menyebabkan Salpingitis : Mycoplasma, staphylococcus, dan steptococus. Selain itu salpingitis bisa juga disebabkan penyakit menular seksual seperti gonorrhea,  Chlamydia, infeksi puerperal dan post abortus. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul radang adneksa sebagai akibat tindakan ( laparatomi, pemasangan IUD, dan sebagainya) dan perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks.

2.4 Patofisiologi Salpingitis
Infeksi biasanya berasal di vagina, dan naik ke tabung falopi dari sana. Karena infeksi dapat menyebar melalui pembuluh getah bening, infeksi pada satu tabung fallopi biasanya menyebabkan infeksi yang lain. Paling sering disebabkan oleh gonococcus, di samping itu oleh staphilokokus, streptokokus dan bacteri tbc.

Infeksi ini dapat terjadi sebagai berikut :
a.    Naik dari cavum uteri
b.    Menjalar dari alat yang berdekatan sepert dari apendiks yang meradang

Haematogen terutama salpingitis tuberculosa. Salpingitis biasanya bilateral.Bakteri dapat diperkenalkan dalam berbagai cara, termasuk:
a.         Hubungan seksual
b.        Penyisipan sebuah IUD (perangkat intra-uterus)
c.         Keguguran
d.        Aborsi
e.         Melahirkan
f.         Apendisitis
salpingitis adalah salah satu penyebab terjadinya infertilitas pada wanita. Apabila salpingitis tidak ditangani dengan segera, maka infeksi ini akan menyebabkan kerusakan pada tuba fallopi sehingga sel telur rusak dan sperma tidak bisa membuahi sel telur. Radang tuba falopii dan radang ovarium biasanya terjadi bersamaan. Oleh sebab itu tepatlah nama salpingo-ooforitis atau adneksitis untuk radang tersebut. Radang itu kebanyakan akibat infeksi yang menjalar ke atas dari uterus, walaupun infeksi ini juga bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah dari jaringan-jaringan di sekitarnya.

2.5 Gambaran Klinis
Ada pun tanda gejala dari salpingitis adalah :

v  Nyeri pada salah satu atau kedua sisi perut
v  Sakit punggung
v  Demam dan menggigil
v  Mual muntah
v  Kelainan pada vagina seperti perubahan warna yang tidak seperti orang normal dan berbau.
v  Nyeri selama ovulasi.
v  Sering kencing
v  Disminorhoe
v  Tidak nyaman atau hubungan seksual yang menyakitkan
v  Pada periksa dalam nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan yterus, kadang-kandang ada penebalan dari tuba.
1.    Nyeri Abdomen: Nyeri abdomen bagian bawah merupakan gejala yang paling dapat dipercaya dari infeksi pelvis akut. Pada mulanya rasa nyeri unilateral, bilateral, atau suprapubik, dan sering berkembang sewaktu atau segera setelah suatu periode menstruasi. Keparahannya meningkat secara bertahap setelah beberapa jam sampai beberapa hari, rasa nyeri cenderung menetap, bilateral pada abdomen bagian bawah, terdapat nyeri tekan di abdomen bagian bawah dan semakin berat dengan adanya pergerakan.
2.    Perdarahan pervaginam atau sekret vagina: perdarahan antar menstruasiatau meningkatnya aliran menstruasi atau kedua-duanya dapat merupakan akibat langsung dari endometritis atau pengaruh tidak langsung dari perubahan-peubahan hormonalyang berkaitan dengan ooforitis. Sekret vagina dapat disebabkan oleh servitis.
3.    Gejala-gejala penyerta: menggigil dan demam lazim ditemukan. Anoreksia, nausea dan vomitus berkaitan dengan iritasi peritoneum.Disuria dan sering kencing menunjukkan adanyan keterkaitan dengan uretritis dan sistitis.Nyeri bahu atau nyeri kuadran kanan atas mungkin merupakan gejala dari perihepatitis gonokokus.
4.    Riwayat Menstruasi: menstruasi dapat meningkat dalam jumlah dan lamanya. Salpingitis dapat menjadi simptomatik pada hari keempat atau kelimadari siklus menstruasi.Kadang terdapat perdarahan di luar siklus dan secret vagina berlebihan.
5.    Tanda-tanda perluasan infeksi:
- Nyeri semakin hebat
- Adanya peningkatan suhu tubuh

Tindakan kita sebagai bidan hanya sebatas mengetahui gejala dan deteksi awal untuk mengetahui salpingitis saja, untuk selanjutnya harus segera dilakukan rujukan secepatnya.

2.6 Komplikasi Salpingitis
            Komplikasi potensial yang dapat terjadi akibat salpingitis meliputi ooforitis, peritonitis, piosalping, abses tuboovarium, tromboflebitis septik, limfangitis, selulitis, perihepatitis, dan abses didalam ligamentum latum, Infertilitas dimasa depan, dan kehamilan ektopik akibat kerusakan tuba
2.7 Prosedur Pemeriksaan
Pemeriksaan yang dilakukan
ü  Pemeriksaan Fisik

1.  Pemeriksaan Umum: suhu biasanya meningkat, sering sampai 120ºF atau 103ºF. Tekanan darah biasanya normal, walaupun deyut nadi seringkali cepat.Pada saat itu, terkadang postur tubuh membungkuk.

2.  Pemeriksaan Abdomen: nyeri maksimum pada kedua kuadran bawah. Nyeri lepas, ragiditas otot, defance muscular, bising usus menurun dan distensi merupakan tanda peradangan peritoneum.Nyeri tekan pada hepar dapat diamati pada 30% pasien.

3.  Pemeriksaan Pelvis: sering sulit dan tidak memuaskan karena pasien mersa tidak nyaman dan rigiditas abdomen. Pada pemeriksaan dengan spekulum, sekret purulen akan terlihat keluar dari ostium ueteri. Serviks sangat nyeri bila digerakkan.Uterus ukurannya normal, nyeri (terutma bila digerakkan).Adneksa bilateral sangat nyeri.

ü  Tes Laboratorium

1.      Hitung darah lengkap dan Apusan darah: hitung leukosit cenderung meningkat dan dapat sampai 20.000 dengan peningkatan leukosit polimorfonuklear dan peningkatan rasio bentuk batang dengan segmen. Kadar hemoglobin dan hemokrit biasanya dalam batas-batas normal. Penigkatan kadarnya berkaitan dengan dehidrasis.

2.      Urinalisis: biasanya normal.



ü  Data diagnostic tambahan yang dapat dilakukan

Pewarnaan gram endoserviks dan biakan : diplokokus gram-negatif intraseluler pada asupan pewarnaan gram baik dari cairan serviks ataupun suatu AKDR dengan pasien dengan salphingitis simptomatik merupakan penyokong adanya infeksi neisseria yang memerlukan pengobatan. Biakan bakteriologi diperlukan untuk identifikasi positif neisseria gonorrhoeae.Laparoskopi untuk melihat langsung gambaran tuba fallopi.Pemeriksaan ini invasive sehingga bukan merupakan pemeriksaan rutin. Untuk mendiagnosis penyakit infeksi pelvis, bila antibiotik yang diberikan selama 48 jam tak memberi  respon, maka dapat digunakan sebagai tindakan operatif.

2.8 Prosedur Terapi
Perawatan penyakit salpingitis dilakukan dengan pemberian antibiotic (sesering mungkin sampai beberapa minggu).Antibiotik dipilih sesuai dengan mikroorganisnya yang menginfeksi. Pasangan yang diajak hubungan seksual harus dievaluasi, disekrining dan bila perlu dirawat, untuk mencegah komplikasi sebaiknya  tidak melakukan hubungan seksual selama masih menjalani perawatan untuk mencegah terjadinya infeksi kembali. Perawatan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

ü  Antibiotik : untuk menghilangkan infeksi, dengan tingkat keberhasilan 85%dari kasus.
ü  Perawatan di rumah sakit : memberikan obat antibiotic melalui Intravena(infuse) Jika terdapat keadaan-keadaan yang mengancam jiwa ibu
ü  Pembedahan : dilakukan jika pengobatan dengan antibiotic menyebabkan terjadinya resistan pada bakteri.
ü  Berobat jalan
Jika keadaan umum baik, tidak demam
Berikan antibiotik
- Cefotaksitim 2 gr IM atau
- Amoksisilin 3 gr peroral atau
- Ampisilin 3,5 per os
Masing-masing disertai dengan pemberian probenesid 1gr per os
Diikuti dengan
- Dekoksisiklin 100 mg per os dua kali sehari selama 10-14 hari
- Tetrasiklin 500 mg per os 4 kali sehari
(dekoksisilin dan tetrasiklin tidak digunakan untuk ibu hamil)

·         Tirah baring
·         Kunjungan ulang 2-3 hari atau jika keadaan memburuk
·         Bantu mencapai rasa nyaman:
- Mandi teratur
- Obat untuk penghilang gatal
- Kompres hangat pada bagian abdomen yang merasa nyeri
- Pemberian terapi analgesic

·         Konseling :
- PID dapat menyebabkan infertilitas karena tuba yang rusak, pasien harus mengatasi hal tersebut

·         Pendidikan kesehatan yang diberikan:
- Pengetahuan tentang penyebab dan penyebaran infeksi serta efeknya
- Kegiatan seksual dikurangi atau menggunakan pengaman
- Cara mengetasi infeksi yang berulang

·         Pengobatan dilanjutkan sampai pasien pulang dan sembuh total

BAB 3
ASUHAN KEBIDANA PADA Ny “S”
DENGAN SALPINGITIS

Pengkajian
Tanggal : 03 Mei 2012                                     Jam : 09.00

A.    Data Subjektif
1.      Biodata
Nama               :  Ny.S                                     Nama Suami    : Tn.Z
Usia                 : 30 th                                      Usia                 : 33 th
Pendidikan      :SMA                                      Pendidikan      : SMA       
Pekerjaan         :  swasta                                  PekerjaaN        : Swasta
Alamat                        :  jl.Bigcola 155  

2.      Keluhan           : px merasakan nyeri pada perut bagian bawah, keluar cairan yang berbau dari  kemaluan dan gatal, mual kadang disertai muntah, seringkencing dan sakit  saat berhubungan seksual.
           
3.      Riwayat Menstruasi
Menarche        :  Usia 12 tahun
Siklus              : 28 hari teratur
Lama               : 7-8 hari
Sifat Darah      : Merah dan encer

4.      Riwayar Obstetri
Hamil ke-1 UK 9 bulan,spontan B, ditolong bidan,JK Perempuan ,BB 3000 gr, PB 50 cm, hidup, usia 3 th

5.      Riwayat Kontrasepsi
Kb IUD sejak tanggal 17 Maret 2010 sampai sekarang
6.      Pola Kesehatan Fungsional
o   Pola Nutrisi              : Makan 2X/hari, minum 7-8 gelas/hari 
o Pola Eliminasi          : BAK 7-8 x/hari, BAB 1 x/hari
o   Pola Seksualitas       : Ibu melakukan hubungan seksual 1x/minggu dan akhir-akhir ini ibu merasakan sakit saat berhubungan.
o   Personal Hygiene     : Mandi 3X/hari dan mengganti celana dalam 3X/hari

  
B.     Data Objektif

1.      Pemeriksaan Umum :
KU                  : Cukup
Kesadaran       : Compos mentis
            TD                   : 110/70 mmHg
            Suhu                : 380C
            Nadi                : 88 x/menit
            RR                   : 20 x/menit

2.      Pemeriksaan Fisik
a. Kepala         : tidak ada benjolan, rambut tidak rontok dan bersih
b. Muka           : Simetris, Tidak ada oedem
c. Mata            : Sclera putih, Conjungtiva merah muda
d. Hidung        : simetris,tidak ada secret
e. Mulut           : mukosa bibir lembab, tidak ada caries gigi,gusi tidak berdarah
f. Telinga         : simetris,tidak ada serumen
g. Leher           : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe dan tidak ada pelebaran vena jugularis
h. Payudara     : simetris,putting susu menonjol
i. Abdomen     : Rata ,tidak membesar, tidak ada abses, tidak ada bekas luka operasi,teraba nyeri pada salah satu bagian sisi perut ibu.
j. Ekstremitas   : Tidak ada oedem dan varises, reflek patella kanan dan kiri (+/+)
k. Genetalia     : Tidak ada oedem dan varises,keluar cairan berbau  dari vagina.
l. Anus             : tidak ada hemoroid
3. Pemeriksaan Penunjang
§  Pemeriksaan darah :    leukosit 20.000 mm3
§  hemoglobin dan hemokrit normal
§  Pewarnaan gram endoserviks dan biakan dari cairan Serviks : positif neisseria gonorrhoeae
§  Laparoskopi            : Tuba tampak Inflamasi
§  Urine                      : Normal


C.    Analisa Data
Diagnosa               : Ny.S 30 tahun P10001 dengan salphingitis
Masalah                 : - Cemas, Gangguan rasa nyaman
Masalah Potensial : Infertilitas


D.    Penatalaksanaan
1.      Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa ibu mengalami salphingitis.
E/ Ibu dan keluarga memahami

2.      Memberikan dukungan emosional untuk mengurangi cemas yang dirasakan ibu dan keluarga.
E/ Ibu dan keluarga tampak lebih tenang

3.      Memberikan HE tentang :
o   personal Hygiene yaitu mandi teratur, sering mengganti pakaian dalam, selalu mencuci dan mengeringkan alat kelaminnya selesai BAB dan BAK secara teratur, cebok dari depan ke belakang.
o   Pola nutrisi yaitu sebaiknya ibu makan sedikit-sedikit tapi sering.
o   memberikan kompres hangat pada bagian perut yang merasa nyeri.
E/ Ibu memahami dan akan melaksanakannya

4.      Menganjurkan Ibu dan pasangan ketika melakukan hubungan seksual sebaiknya menggunakan kondom serta menganjurkan suami untuk periksa ke dokter untuk mengantisipasi penularan salphingitis.
E/ Ibu dan suami memahami dan akan melaksanakannya

5.      Melepaskan AKDR
E/ Ibu bersedia dan IUD telah dicabut

6.      Berkolaborasi dengan Dokter : diberikan Antibiotik Cefotaxime 2 gr IM, Tetrasiklin 500 mg per oral 4 kali sehari, Asam Mefenamat per oral 3X1


EVALUASI
S          : Ibu memahami semua penjelasan yang telah diberikan petugas kesehatan
O         : Ibu dapat mengulangi semua penjelasan yang telah diberikan petugas kesehatan
A         : Ny.S 30 tahun P10001 dengan salphingitis
P          : Menyepakati kunjungan ulang 3 hari lagi atau sewaktu-waktu jika keadaan semakin memburuk.










BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Salphingitis adalah Inflamasi pada uterus, tuba fallopi, dan ovarium yang mengarah ke perlukaan dengan perlengketan pada jaringan dan organ sekitar.Yang disebabkan oleh adanya bakteri penginfeksi, wanita dengan IUD asimptomatik, dengan nyeri abdominal kuadran bawah, dispareunia, perdarah vagina Abnormal, vaginal discharge. Langkah pertama yang dilakukan ialah:
§  Sediakan analgesic
§  Bila pasien menggunakan IUD maka hentikan penggunaan, dengan catatan pasien dapat mencegah kehamilan meski tanpa alat kontrasepsi minimal 7 hari
§  Segera rujuk ke bagian genitourinaria (obgyn), untuk menjalani skrining dan terapi untuk pasangan seksual pasien.

4.2 Saran
Kejadian salpingitis sangat membahayakan bagi wanita karena dapat menyebabkan kehamilan ektopik.Untuk itu diharapkan pada wanita untuk menjaga kesehatannya terutama organ reproduksinya yang rentan terhadap kejadian infeksi.Dan melakukan pemeriksaan secara dini kepada tenaga kesehatan agar apabila terjadi infeksi terutama salpingitis dapat segera diatasi.Dan untuk tenaga kesehatan berupaya untuk memberikan penyuluhan atau pendidikan khususnya kesehatan reproduksi pada wanita dan pemerintah mampu memberikan kebijakan-kebijakan yang mendukung terhadap pemeliharaan kesehatan.



DAFTAR PUSTAKA

Syafudin.2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: ECG

Sindharti, GM.2008. Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Reproduksi. Malang

Bagian Obstetri dan Ginekologi, 1981.Ginekologi. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung

Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

F Gary Cunningham, dkk.2005. Obstetri Williams edisi 21. ECG:Jakarta

http://www.best-home-remedies.com/popular/salpingitis.htm
MamasHealth.com.http://www.mamashealth.com/women/salpingitis.asp








”soal asuhan kebidanan patologi salfingitis”
1.      Terjadinya inflamasi pada tuba fallopi yang salah satu dari penyebab umum terjadinya infertilitas pada wanita adalah……………….
a.      Salphingitis
b.      Pelviksitis
c.       kista sarcoma pilodes
d.      akresitis
e.       endometritis

2.      Tanda dan gejala salfingitis adalah….kecuali….
a.       nyeri selama ovulasi
b.       nyeri pada kedua sisi perut
c.        Pusing
d.      Disminorhoe
e.       mual dan muntah

3.      Bakteri penyebab salphingitis adalah…….
a.       e.coli dan gonococcus
b.       tricomonas dan mycoplasma
c.       mycoplasma,staphylococcus dan streptococcus
d.      staphylococcus,E.coli,dan gonococcus
e.       streptococcus,tricomonas,dan E.coli

4.      Selain karena bakteri salphingitis bisa juga disebabkan oleh penyakit oleh  penyakit menular seksual seperti:
a.       HIV dan condiloma acuminate
b.      gonorrhea dan Chlamydia
c.       herpes dan Chlamydia
d.       HIV dan gonorrhea
e.       Herpes dan HIV

5.      Ada dua jenis dari salphingitis salah satunya yaitu dimana tuba fallopi menjadi merah dan benkak  dan keluar cairan berlebih sehingga bagian dalam dinding tuba menempel secara menyeluruh,kadang kadang tuba fallopi penuh dengan pus,ini adalah termasuk salphingitis………
a.       Kronis
b.      Akut
c.       Sedang
d.      Ringan
e.       Parah

6.      Ada dua jenis salphingitis yaitu………
a.       Parah dan sedang
b.      Akut dan kronis
c.       Menahun dan ringan
d.      Sedang dan ringan
e.       Semua betul/semua salah

7.      Salphingitis bisa menyebabkan beberapa komplikasi,kecuali………
a.       Kehamilan ektopik
b.      Infertilitas
c.       Infeksi yang terjadi di daerah terdekat dengan tuba fallopi,seperti ovarium atau uterus
d.      Menginfeksi orang yang di ajak berhubungan seksual
e.       Perdarahan

8.      Nyeri pada abdomen,nyeri selama ovulasi,mual muntah,disminorhoe adalah beberapa tanda dan gejala dari………….
a.       Peritoritis
b.      Parametritis
c.       Pelviksitis
d.      Salvingitis
e.       Akresitis

9.      Biasanya mengikuti gejala akut. Infeksi terjadi  ringan, dalam waktu yang panjang dan tidak menunjukan banyak tanda dan gejala adalah termasuk salphingitis….
a.       Akut
b.      Kronis
c.       Menahun
d.      Sedang
e.       Ringan

10.  Salpingittis Kronis adalah stadium infeksi tuba fallopi setelah stadium subakut. Tipe ini dapat timbul dalam 4 bentuk yaitu:
a.       Piosalping
b.      Hidrosalping
c.       Salpingitis interstisialis kronis
d.      Salphingitis ismika nodosa
e.       Semua betul

Previous
Next Post »

Translate