Info Kesehatan

healhty

Sabtu, 24 Maret 2012

SINDROM GAWAT NAFAS PADA NEONATUS


SINDROMA GAWAT NAPAS
A. KONSEP DASAR
  1. 1. PENGERTIAN
Sindrom gawat nafas ( respiratory distress syndroma, RDS ) adalah:
  • Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar 60 x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium, suprosternal, interkostal pada saat inspirasi. ( Ngatisyah.2005 hal 23 )
  • Kumpulan gejala yang terdiri dari frekuensi nafas bayi lebih dari 60x/i atau kurang dari 30x/i dan mungkin menunjukan satu atau lebih dari gejala tambahan gangguan nafas sebagai berikut:
  1. Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir )
  2. Ada tarikan dinding dada
  3. Merintih
  4. Apnea ( nafas berhenti lebih dari 20 detik ) ( PONED,2004 )
  • Istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. ( Surasmi, asrining,dkk. 2003 hal 70 )
  • Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan perkembangan maturitas paru  ( Whalley dan wong, 1995 )
  • Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak nafas berat (dyspnea ), frekuensi nafas meningkat (tachypnea ), sianosis yang menetap dengan terapi oksigen, penurunan daya pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular, perdarahan, edema paru, dan adanya hyaline membran pada saat otopsi ( www.google.com )
  • Menurut Murray et.al (1988) disebut RDS apabila ditemukan adanya kerosakan paru secara langsung dan tidak langsung, kerosakan paru ringan sampai sedang atau kerosakan yang berat dan adanya disfungsi organ non pulmonar.  ( www.google.com )
  • Menurut Bernard et.al (1994) apabila onset akut, ada infiltrat bilateral pada foto thorak, tekanan arteri pulmonal =18mmHg dan tidak ada bukti secara klinik adanya hipertensi atrium kiri, adanya kerosakan paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 300, adanya sindrom gawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 200, menyokong suatu RDS .  ( www.google.com )
  1. 2. ETIOLOGI
  • Kelainan paru: pneumonia
  • Kelainan jantung: penyakit jantung bawaan, disfungsi miokardium
  • Kelainan susunan syaraf pusat akibat: Aspiksia, perdarahan otak
  • Kelainan metabolik: hipoglikemia, asidosis metabolik
  • Kelainan bedah: pneumotoraks, fistel trakheoesofageal, hernia diafragmatika
  • Kelainan lain: sindrom Aspirasi mekonium, penyakit membran hialin
Bila menurut masa gestasi penyebab gangguan nafas adalah :
-          Pada bayi kurang bulan
  1. penyakit membran hialin
  2. b.pneumonia
  3. asfiksia
  4. d.kelainan atau malformasi kongenital
-          Pada bayi cukup bulan
  1. Sindrom Aspirasi Mekonium
  2. pneumonia
  3. asidosis
  4. kelainan atau malformasi kongenital
Gangguan traktus respiratorius:
  • Hyaline Membrane Disease(HMD),
Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi ( bayi prematur )
  • Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN),
Paru-paru terisi cairan, sering terjadi pada bayi caesar karena dadanya tidak mengalami kompresi oleh jalan lahir sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru.
  • Infeksi(Pneumonia),
  • Sindroma Aspirasi,
  • Hipoplasia Paru,
  • Hipertensi pulmonal,
  • Kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin syndrome),
  • Pleural Effusion,
  • Kelumpuhan saraf frenikus,
  • Luar traktus respiratoris:
  • kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSP
  1. 3. PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna kerana dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik. Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein , lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli tetap mengembang.
Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli, tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah. Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).
4. MANIFESTASI KLINIS
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yang ditujukan.
Menurut Surasmi, dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut :
  1. Takhipneu (> 60 kali/menit)
  2. Pernafasan dangkal
  3. Mendengkur
  4. Sianosis
  5. Pucat
  6. Kelelahan
  7. Apneu dan pernafasan tidak teratur
  8. Penurunan suhu tubuh
  9. Retraksi suprasternal dan substernal
  10. Pernafasan cuping hidung
  1. 5. KLASIFIKASI
Secara klinis gangguan nafas dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:
  1. Gangguan nafas berat
  2. Gangguan nafas sedang
  3. Gangguan nafas ringan
Tabel 1. Klasifikasi Gangguan Nafas
Klasifikasi
Frekuensi nafas
Gejala tambahan
Gangguan nafas berat
60 kali/ menit
90 kali/ menit
Dengan sianosis sentral dan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi
Dengan sianosis sentral atau tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi
Dengan atau tanpa gejala lain dari gangguan nafas
Gangguan nafas sedang
60-90 kali/ menit
> 90 kali/ menit
Dengan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi tetapi tanpa sianosis sentral
Tanpa tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral
Gangguan nafas ringan
60-90 kali/ menit
Tanpa tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral
  1. 6. PEMERIKSAAN
  • Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit), pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan pernapasan dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler.
Penilaian fungsi respirasi meliputi:
  1. Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya keadaan klinik.
  1. Mekanika usaha pernafasan
Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung, retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.
  1. Warna kulit/membran mukosa
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.
Penilaian fungsi kardiovaskuler meliputi:
  1. Frekuensi jantung dan tekanan darah
Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress, ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung.
  1. Kualitas nadi
Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara:
  1. Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
  2. Blancing Skin Test, caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki tersebut selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik.
  1. Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot, kejang dan dilatasi pupil.
  • Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik meliputi pemeriksaan darah, urine, dan glukosa darah ( untuk mengetahui hipoglikemia ). Kalsim serum ( untuk menentukan hipokalsemia ), analisis gas darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan PCO2 diatas 60 mmHg, peningkatan kadar kalium darah, pemeriksaan sinar-X menunjukkan adanya atelektasis, lesitin/spingomielin rasio 2 :1 mengindikasikan bahwa paru sudah matur, pemeriksaan dekstrostik dan fosfatidigliserol meningkat pada usia kehamilan 33 minggu.
  1. 7. PENATALAKSANAAN
Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :
  1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat.
  2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
  3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
  4. Mempertahankan perfusi jaringan adekwat.
  5. Mencegah hipotermia.
  6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat.
  • Penatalaksanaan secara umum :
  1. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
  • Pantau selalu tanda vital
  • Jaga patensi jalan nafas
  • Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
  1. Jika bayi mengalami apneu
  • Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
  • Lakukan penilaian lanjut
c.   Bila terjadi kejang potong kejang
d.   Segera periksa kadar gula darah
e.   Pemberian nutrisi adekuat
Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Menajemen spesifik atau menajemen lanjut:
  1. Gangguan nafas ringan
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut “Transient Tacypnea of the Newborn” (TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus. Gangguan napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik.
  1. Gangguan nafas sedang
  • Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih sesak dapat diberikan O2 4-5 liter/menit dengan sungkup
  • Bayi jangan diberi minukm
  • Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi kemungkinan besar sepsis.
-          Suhu aksiler <> 39˚C
-          Air ketuban bercampur mekonium
-          Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini (> 18 jam)
  • Bila suhu aksiler 34- 36,5 ˚C atau 37,5-39˚C tangani untuk masalah suhu abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam:
-          Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan, berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis
-          Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan tersebut diatas.
  • Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam
  • Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis
  • Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi o2secara bertahap . Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat menyusu, berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum
  • Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minumbaik dan tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan
  • Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
  • Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya. Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan dan segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
  • Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.
  • Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
  • Penatalaksanaan medis:
  1. Gangguan nafas ringan
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:
  • Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
  • Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru
  • Fenobarbital
  • Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
  • Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. (cusson,1992)
  • Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen (derifat dari sumber alami misalnya manusia, didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan)
  1. 8. TINDAKAN PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi resiko tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat terhadap kehamilan dan kelahiran bayi resiko tinggi, dan pada penatalaksanaan kelahiran dengan usia kehamilan 32 minggu atau kurang dianjurkan memberi dexametason atau betametason 48-72 jam sebelum persalinan. Pemberian glukortikoid juga dianjurkan karana berfungsi meningkatkan perkembangan paru janin.
  1. B. ASUHAN  KEPERAWATAN PADA  KLIEN  DENGAN  SGN
1.Pengkajian
  1. Lakukan pengkajian fisik BBL dan pengkajian gestasi
  2. Lakukan pengkajian sistemik dengan penekanan khusus pada pengkajian pernafasan
  3. Observasi adanya  ; takipneu, retraksi substernal, krekel inspirasi, pernapasan mengorok, pernapasan cuping hidung eksternal,  sianosis, sulit bernapas.
  4. Bila penyakit berlanjut ; lemah dan lesu, tidak responsif, sering mengalami episode apnea, penurunan fungsi nafas, gangguan termoregulasi
  5. Penyakit yang berat berhubungan  dengan hal berikut ; keadaan seperti syok, penurunan curah jantung, rendahnya tekanan darah sistemik
2.Diagnosa Keperawatan
  • Pola nafas tidak efektif b.d defisiensi surfaktan, atelektasis
    • Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna makanan,kelelahan.
      • Pertumbuhan dan perkembangan, perubahan, risiko tinggi terhadap pengasingan dari orang terdekat, ketidakadekuatan perawatan,respon pengasuh tidak konsisten/multiple, kurang lingkungan dan stimulasi, efek-efek kondisi/ ketidakmampuan kronis.
3.Intervensi Keperawatan
  1. Diagnosa : Pola nafas tidak efektif b.d defisiensi surfaktan, atelektasis
Kriteria Hasil :
  • Pola nafas efektif dengan ventilasi adekuat (nafas 46-60x/i)
  • GDA dalam batas normal (Hb 9-14 mg%, Ht 41-50%)
  • Tanda distress pernapasan tidak ada
Intervensi
Rasional
Mandiri
1. Catat frekuensi dan kedalaman nafas
  1. Auskultasi paru untuk penurunan / tidak adanya bunyi nafas atau adanya bunyi tambahan, misal ; krekel.
  1. Kaji status pernapasan, bunyi napas, sianosis, retraksi dinding dada, cuping hidung, abnormalitas setiap 4 jam.
  1. Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas.
  1. Awasi tanda-tanda vital
  1. Kaji tingkat kesadaran / penuruman mental.
  1. Kaji toleransi aktivitas, kelemahan.
Kolaborasi
  1. Awasi GDA
  1. Berikan O2
  1. Takipnea dan dispnea menyertai obstruksi paru.  Kegagalan pernapasan lebih berat menyertai kehilangan unit paru fungsional dari sedang sampai berat.
  1. diidentifikasi dengan tikdak adanya bunyi napas.
  1. Menunjukkan tanda dari efek gawat napas yang lama memerlukan pemantauan yang ketat.
  1. Jalan nafas yang lengket / tersumbat menurunkan fungsi alveoli.
  1. Takikardi, takipneu dan perubahan TD menunjukkan hipoksia dan asidosis.
  1. Hipoksia dapat ditunjukkan dengan penurunan mental secara progresif.
  1. Hipoksemia menurunkan aktivitas tanpa dispnea berat, takikardi dan disritmia.
  1. Menentukan intervensi penambahan O2.
  1. Memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran gas.
  1. Diagnosa :  Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna makanan, kelelahan
Kriteria hasil :
  • Berat badan meningkat
  • Turgor kulit baik
  • Pergerakan aktif
  • Penambahan BB 1 kg/bulan
  • Tanda vital stabil ( N : 140-160x/i, P : 30-40x/I, S : 36-37,2oC).
Intervensi
Rasional
Mandiri
  1. Kaji masukan, kebiasaan diet, derajat kesulitan makan.
  2. Auskultasi bunyi usus.
  1. timbang BB sesuai indikasi.
Kolaborasi
  1. Konsultasi pada ahli diet
  1. Beri tambahan O2
  1. Pasien distress pernapasan sering anoreksia karena dispnea dan obat.
  2. Penurunan BU menunjukkan penurunan motalitas gaster karena pembatasan masukan cairan.
  3. Menentukan kebutuhan kalori, menyusun terapi untuk BB.
  1. Metode makanan dan kebutuhan kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.
  2. menurunkan dispnea dan meningkatkan energi untuk meningkatkan masukan.
  1. Diagnosa Keperawatan: Pertumbuhan dan perkembangan, perubahan, risiko tinggi terhadap pengasingan dari orang terdekat, ketidakadekuatan perawatan,respon pengasuh tidak konsisten/multiple, kurang lingkungan dan stimulasi, efek-efek kondisi / ketidakmampuan kronis.
INTERVENSI
Intervensi
Rasional
  1. Tentukan status individu dengan menggunakan Denver Development atau alat skrining serupa.
  1. Identifikasi hambatan perkembangan dan antisipasi kerangka waktu dalam pencapaian.
  2. Diskusikan persepsi pemberi asuhan tentang kemampuan bayi dan rencana untuk pertumbuhan.
  1. Observasi interaksi bayi-orang tua.
  1. Anjurkan pengungkapan perasaan oleh orang tua /anggota keluarga.
  1. Hindari melawan penyangkalan, yang mungkin sangat kuat bila bayi asimptomatik. Konsul tanpa menggurui, memberikan informasi tanpa mengatur, dan mendukung serta memberikan harapan tanpa membuat janji palsu.
  2. Anjurkan / dukung upaya keluarga untuk perawatan bayi.
  1. Diskusikan cara memberikan situasi normal ( mis menggunakan waktu di luar rumah, menggunakan system pendukung secara efektif)
KOLABORASI
  1. Koordinasikan konferensi tim multidisiplin untuk melibatkan dokter anak, perawat primer, pekerja social, dukungan nutrisi, psikologis atau psikiatris, terapis fisik/okupasi,dan terapi wicara.
10.  Tekankan pentingnya sering dilakukan skrining dan evaluasi formal oleh spesialis perkembangan.
  1. Memberikan data dasar untuk memperhatikan kemajuan / perubahan masa datang dan mengidentifikasi kebutuhan terapi.
  2. Menguatkan keyakinan bahwa bayi dapat berkembang dengan dukungan dan intervensi yang tepat.
  3. Peningkatan penyakit, perawatan di rumah sakit yang lama/berulang, pengabaian/perlindungan berlebihan oleh pemberi asuhan dapat membatasi stimulus sensori/ gerakan dan motivasi.
  4. Kontak mata dan kedekatan bayi meningkatkan respon orang dewasa. Efek ibu pengguna obat, adanya penyakit, atau perlambatan perkembangan dapat mencegah atau membatasi interaksi bayi, merusak ikatan.
  5. Seringkali, perasaan bersalah dan kecewa dapat diekspresikan sebagai marah,menyangkal,atau defensive berkenaan dengan diagnosis. Kesadaran terhadap perasaan ini memberikan kesempatan untuk menjalaninya dan mengembangkan hubungan positif dengan bayi.
  6. Orang tua perlu melanjutkan kecepatan mereka sendiri. Memberikan informasi, mendengar dengan aktif, dan menerima seseorang dengan cara tidak menghakimi meningkatkan progresi dan resolusi lebih positif.
  7. Interaksi seseorang bahkan setelah periode terbebas,meningkatkan proses ikatan.
  8. Meningkatkan rasa control dan memberikan dorongan untuk menikmati kemungkinan saat ini dan masa datang.
  1. Perlu untuk membahas isu-isu kompleks dan memaksimalkan potensi bayi karena semua area saling berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan.
10.  Mengidentifikasi pelambatan perkembangan dan keefektifan terapi (mis: program intervensi awal [EIP]).

WOC SINDROM GAWAT NAPAS NEONATUS
Bayi premature
Peny. Membran hialin
Pengembangan paru
berlebihan
Maturitas paru
Alveolus pecah
Def. Surfaktan
Robekan pd dinding mediastinum
Kemampuan paru mpertahankan stabilitas
Terganggu
Kolaps alveolar dan paru
Kompensasi tek intratoraks berkurang,
inspirasi kuat-kuat
Ventilasi terganggu
SGN
PO2 #, PCO2$
Ggn fungsi O2-CO2
Pirau (Shunt)
Retensi CO2
Penurunan O2 ke jaringan
Alkalosis respiratori
Jantung
Otak
Kompensasi Jantung
 kesadaran$Pe
Mules dan kejang
Hiperpepneu
Bradikardi
reflek batuk $Pe
kerja silia
Lemah, tdk mampu mencerna
Kardiomegapati
sekret di sal nafass#Pe
Makanan dan reflek isap turun
O2 jar turun
Kerusakan endotel kapiler
Obstruksi sal nafas
MK : Perubahan Nutrisi Kurang
epitel duktus
dari Tubuh
Transudasi dlm paru
MK: Bersihan Jalan
Metabolisme anaerob
Nafas Tidak Efektif
Fibrin dan jar.nekrotik
As. Laktat
HCO3 turun
menumpuk
Sesak napas
Asidosis respiratorik
Asidosis metabolik
Kompensasi tubuh
Hiperventilasi
Sesak nafas
MK : Ggn. Pertukaran gas
MK :Pola napas tak efektif
Pemasangan alat bantu nafas
Hospitalisasi pada anak
Perlukaan
MK : Risiko perubahan peran ortu
MK : Resiko injury

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar