Info Kesehatan

healhty

Sabtu, 02 Juni 2012

MAKALAH MASALAH PADA LANSIA


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Menua merupakan masa perubahan yang dialami individu baik fisik maupun psikologi akibat penurunan fungsi tubuh sehingga memerlukan pemeliharaan yang berbeda dengan usia anak-anak, remaja, maupun dewasa yang membutuhkan dukungan dari orang di sekitarnya.
Lansia mengalami penurunan fungsi tubuh akibat proses degenerasi, oleh karena itu diperlukan usaha untuk mempertahankan derajat kesehatan para lansia pada taraf setinggi-tingginya agar terhindar dari penyakit atau gangguan. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan wadah yang dapat memberikan sarana bagi lansia yang dapat memelihara kesehatannya yaitu posyandu lansia. Pada tempat tersebut dapat diperoleh manfaat antara lain, lansia dapat mengetahui status kesehatannya juga kegiatan lain yang bermanfaat untuk mengisi kegiatan para lansia. Dalam posyandu lansia, terdapat suatu kepedulian dan perhatian yang didapat dari kontak sosial sehingga memberi harapan dan semangat para lansia untuk terus dapat hidup mandiri dan menyadari bahwa di usia senja mereka tetap prima.
RW 04 Kelurahan Polowijen Blimbing Malang memiliki satu wadah posyandu lansia dengan Jumlah keseluruhan lansia berjumlah 157 orang yang terbagi dalam beberapa golongan menurut tingkat usia yaitu midle age(45-59 tahun), elderly age(60-70 tahun), old age(70-90 tahun), dan very old age(> 90 tahun). Lansia yang beresiko tinggi adalah lansia yang berusia di atas 60 tahun Pada sebagian besar lansia banyak yang mengalami perubahan berbagai fungsi tubuh baik secara fisiologis, psikologis dan perubahan psikososial. dari perubahan-perubahan tersebut sehingga timbulah suatu keluhan-keluhan pada tubuhnya tetapi belum mengetahui penyakitnya secara pasti.Dengan ditunjang oleh pola perilaku yang kurang tepat, seperti makan makanan yang tinggi garam, tinggi lemak, merokok, minum kopi, dan lain-lain semakin menambah kompleksitas masalah lansia di RW 04 Kelurahan polowijen Blimbing malang
Berdasarkan hal tersebut di atas, kami tertarik untuk melakukan suatu kegiatan asuhan keperawatan pada kelompok khusus lansia yang ada di wilayah wewenang Puskesmas Pandanwangi yaitu Khususnya di posyandu lansia kokrosono yang berada di RW 04 Kelurahan Polowijen Blimbing Malang.

B. Tujuan
1.  Tujuan Umum
Setelah melakukan asuhan keperawatan, diharapkan mahasiswa mampu mengaplikasikan teori yang sudah didapat kedalam asuhan keperawatan pada kelompok khusus lansia secara nyata sesuai dengan masalah yang muncul, dikelompok khusus lansia yang berada di RW 04 Kelurahan Polowijen Blimbing Malang.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada kelompok khusus lansia di RW 04 Kelurahan Polowijen Blimbing Malang Diharapkan mahasiswa mampu :
a.       Mengkaji dan mendapatkan data khusus yang berkaitan dengan derajat kesehatan lansia ( data demografi,status derajat kesehatan lansia saat ini,data pola prilaku lansia dan data lingkungan sekitar lansia tinggal )
b.      Menganalisa data dengan cara pengelompokan data fokus hasil pengkajian kedalam tabel distribusi frekwensi sekaligus menginterprestasikan sesuai data yang ada
c.       Mengetahui masalah dan status kesehatan yang ada pada lansia.
d.      Mengetahui altrnatif pemecahan masalah yang ada pada saat pelaksanaan MMRW dengan cara membuat rencana asuhan keperawatan pada kelompok khusus lansia
e.       Melaksanaan upaya peningkatkan kesehatan lansia Hasil MMRW bersama sama dengan masyarakat RW 04 Kelurahan Polowijen Blimbing Malang
f.       Menyusun laporan hasil praktek keperawatan kelompok khusus lansia di RW 04 Kelurahan Polowijen Blimbing Malang.

C.  Batasan masalah
   Penulis membatasi masalah pembahasan asuhan keperawatan pada kelompok khusus lansia hanya pada kelompok lansia di RW 04 Kelurahan Polowijen Blimbing Malang yang aktif dan jarang keposyandu lansia Kokrosono























BAB II

TINJAUAN TEORI

I.  UPAYA KESEHATAN USIA LANJUT DI PUSKESMAS
    A. PENGERTIAN
Upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan usia lanjut, yang dilaksanakan di tingkat puskesmas serta diselenggarakan secara khusus maupun umum yang terintegrasi dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya.
Upaya tersebut dilaksanakan oleh petugas kesehatan dengan dukungan peran serta masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas.
Yang termasuk pasien geriatric adalah:
1. Pasien dengan usia 55-70 tahun yang mengalami lebih dari satu kondisi patologik.
2. Pasien dengan usia lebih dari 70 tahun walaupun dengan hanya satu kondisi patologik.

   B. TUJUAN DAN SASARAN

        1 Tujuan
            a.Tujuan Umum
Meningkatnya derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal.
            b.Tujuan Khusus
§Meningkatkan kesadaran pada lansia lanjut untuk membina sendiri 
    kesehatannya.
§Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam
    menghayati dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut 
    secaraoptimal.
§Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut.
§Meningkatkan jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut.
        2.Sasaran
§ Sasaran Langsung
Ø  Kelompok usia menjelang usia lanjut (45-54 tahun) atau dalam masa ferilitas, di dalam keluarga maupun masyarakat lua dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan fisik, gizi agar dapat mempersiapkan diri menghadapi masa tua.
Ø  Kelompok usia lanjut dalam masa prasenium (55-64 tahun) dalam keluarga, organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya, dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif.
Ø  Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (> 65 tahun) dan usia lanjut denga resiko tinggi (> 70 tahun), hidup sendiri, terpencil, menderita penyakit berat, cacat dan lain-lain, dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat selama mungkin mempertahankan kemandiriannya.
§ Sasaran Tidak Langsung
Ø  Keluarga dimana usia lanjut berada
Ø  Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut
Ø  Institusi pelayanan kesehatan dan non kesehatan yang berkaitan
     dengan pelayanan dasar dan pelayanan rujukan
Ø  Masyarakat luas

   C. KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT

       Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut
       1.  Upaya peningkatan
Yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat.

Upaya peningkatan dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang:
a.       Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri
b.       Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang
c.       Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan sesuai dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar
d.      Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
e.       Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan
f.        Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat
1.       Upaya pencegahan
Yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun kumpulan penyakit yang disebabkan oleh proses ketuaan.
Upaya pencegahan dapat berupa kegiatan antara lain:
§  Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menentukan secara dini penyakit-penyakit usia lanjut
§  Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar
§  Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat Bantu, misalkan: kacamata, alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna
§  Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan pada usia lanjut
§  Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
        2.Upaya pengobatan
Yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut.
Upaya pengobatan dapat berupa kegiatan sebagai berikut:
a. Pelayanan kesehatan dasar
b.Pelayanan kesehatan specialistik melalui sistem rujukan

3. Upaya Pemulihan
Yaitu upaya pemulihan fungsi organ yang telah menurun.
Upaya pemulihan dapat berupa kegiatan antara lain:
a. Memberikan informasi, pengetahuan dan pelayanan tentang penggunaan berbagai alat Bantu misalnya: kacamata, alat Bantu dengar dan alin-lain agar usia lanjut dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan.
b. Mengembalikan kepercayaan diri sendiri dan memperkuat mental penderita
c. Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi, aktivitas di dalam maupun di luar rumah
d.Nasihat dan cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita
e. Perawatan fisioterapi

   D. Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat
Dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan kesehatan yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut, dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat.

   E. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut
Pengembangan upaya kesehatan lanjut di puskesmas adalah salah satu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey, study, SP2TP untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut. Pengembangan ini dilaksanakan melalui forum mini loka karya, mikro planning dan stratifikasi puskesmas dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal.

   F. Pencatatan dan Pelaporan
Diintegrasikan ke dalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas.
II. MENUA
     A.  PENGERTIAN
§ Menua atau menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.(Contantinides 1994).
§ usia lanjut merupakan seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, baik fisiknya masih berkemampuan (potensial) maupun karena permasalahan yang tidak lagi mampu berperan secara konstruktif dalam pembangunan. (Depsos RI 1997).

     B.  BATASAN USIA LANJUT

Menurut WHO:
1.       Middle age (usia pertengahan) 45-59 tahun
2.       Elderly (lanjut usia) 60-74 tahun
3.       Old (lanjut usia tua) 75-90 tahun
4.       Very Old (usia sangat tua) > 90 tahun

    C.  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENUAAN

1.       Hereditas: keturunan/ genetik
2.       Nutrisi/ makanan
3.       Status kesehatan
4.       Lingkungan
5.       Stress






    D. TEORI MENUA
         1. TEORI BIOLOGI
a.  Hayfliek Limit Theory
Teori ini disebut juga teori “Biological Clock”, “Genetical Theory” atau “Cellular Aging”. Menurut teori ini tiap species di dalam inti selnya mempunyai suatu macam genetik yang telah diputar menurut replikasi. Dimana jam ini menghitung mitosis dan menghentikan replikasi. Jadi menurut konsep ini kita akan meninggal meskipun tidak disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit.
b.   The Error Theory
Menua disebabkan oleh kesalahan-kesalahan beruntun dalam waktu yang lama, terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA ® RNA), maupun dalam proses translasi (RNA ® protein/ enzim) yang disebut sebagai “Error Catastrope” walaupun dalam batas tertentu kesalahan dapat diperbaiki, namun kemampuan untuk memperbaiki sifatnya terbatas pada kesalahan dalam proses transkripsi (pembentukan RNA) yang tertentu menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, yang dapat menghasilkan zat berbahaya.
c.    Wear dan Tear Theory
Menurut teori ini meninggal adalah suatu hasil penggunaan jaringan yang berlebihan karena mereka tidak dapat meremajakan ke dalam cara yang tidak ada habis-habisnya. Menua dapat dipandang sebagai suatu proses fisiologi yang ditentukan oleh jumlah pemakaian dan kerusakan yang seorang telah gunakan.
d.   Free Radical Theory
Menurut teori ini di dalam tubuh manusia akan dihasilkan suatu radikal bebas seperti superoksida, peroksida hydrogen, radikal hidroksi yang bersifat sangat merusak karena sangat rekaktif sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh seperti dalam membran sel radikal bebas ini dihasilkan sebagai zat antara oleh proses respirasi mengubah bahan bakar menjadi ATP yang melibatkan oksigen walaupun ada penangkal sebagian masih tetap lolos dan makin lanjut usia bertambah banyak sehingga proses perusakan terus terjadi, kerusakan makin lama makin banyak dan akhirnya sel mati.
e.    Immunity Theory
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Mutasi menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan sebagai sel asing dan menghancurkannya. Di pihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel-sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah.
f.    Cross Linkage Theory
Pada lanjut usia, terjadi penurunan efisiensi sistem immune pertahanan tubuh untuk mengangkat agen rantai silang. Agen rantai silang ini misalnya terpapar radiasi, alumunium, Zn, Magnesium dan lain-lain. Setelah agen menyerang seharusnya mitosis terjadi tetapi dalam ini tidak sehingga menyebabkan rantai silang. Rantai silang menjelaskan penyebab utama aterosklerosis, penurunan sistem immune dan penurunan elastisitas kulit pada usia lanjut.

  1. TEORI SOSIOLOGI
a.    Disengagement Theory
Menurut teori ini bertambahnya usia, maka seseorang akan terjadi kehilangan ganda (Triple Loss) yaitu:


1. Kehilangan peran (Loss of Role)
2. Hambatan kontak sosial (Restraction of Contacts and 
   Relationship)
3.  Berkurangnya komitmen (Reduced Commitment to Social Mores
        and Valves)
   b.   Activity Theory
Teori ini menyatakan bahwa pada usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak kegiatan sosial. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pola hidup dari usia lanjut. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
c.    Continuity Theory
Teori ini juga membicarakan bagaimana seseorang terus menerus hidup, bagaimana terus hidup pada sisi hidupnya. Lanjut usia tidak dipandang suatu bagian akhir yang dipisahkan dari sisi hidupnya. Teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
d.   Person Environment Fit Theory
Teori ini menjelaskan hubungan saling ketergantungan antara kemampuan suatu kelompok dalam masyarakat dan lingkungan sosial mereka. Pada lanjut usia mengalami penurunan kemampuan seseorang yang mempengaruhi kemampuannya untuk berhubungan dengan lingkungan. Demikian juga jika menderita penyakit maka kemampuannyaakan terbatas.

        3. TEORI PSIKOLOGI
a.    Maslow’s Hierarchy of Human Needs Theory
menurut teori ini setiap individu mempunyai hierarki kebutuhan dan semua individu berusaha untuk memenuhinya. Kebutuhan individu mempunyai prioritas yang berbeda, ketika seseorang telah memenuhi kebutuhan dasar maka akan mencapai kebutuhan yang lebih tinggi.
b.   Jung’s Theory Individualism
Kepribadian seseorang digambarkan tidak hanya berorientasi pada dunia luar (extroverted) tetapi juga pengalaman pribadi (introved). Keseimbangan antara keduanya merupakan faktor yang penting untuk kesehatan mental. Perjalanan proses menua, perubahan kepribadian sering dimulai dari luar difokuskan dan diperhatikan kemandirian dirinya di masyarakat ke yang lebih dalam seperti individu mencari jawaban dari dalam diri. Menua dikatakan sukses bila seseorang melihat ke dalam dan nilai dirinya lebih dari kehilangan atau pembatasan fisiknya. Individu dapat menerima prestasi dan keterbatasannya.
c.    Course of Human Life Theory
Fokus dari teori ini adalah mengidentifikasi dan pencapaian tujuan kehidupan seseorang menurut ilmu fase perkembangan. Kunci dari perkembangan kesehatan adalah pemenuhan kebutuhan diri. Fase perkembangan tersebut meliputi masa kanak-kanak, remaja dan dewasa muda, dewasa tua, fase terakhir (usia lanjut). Fase usia lanjut merupakan waktu menghentikan mencapai cita-cita tujuan hidup.
d.   Development Task Theory
Setiap individu harus belajar tugas perkembangan yang khusus pada berbagai tingkatan kehidupan, pencapaian tugas perkembangan memberi kontribusi kebahagiaan dan perasaan sukses individu. Menurut teori ini tugas perkembangan lansia meliputi:
·                                                                                                                         Pengaturan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan.
·                                                                                                                         pengaturan dari pengunduran diri dan penurunan penghasilan.
·                                                                                                                         Pengaturan meninggalnya suami/ istri.
·                                                                                                                         Mendirikan perkumpulan kelompok umur, adaptasi tugas
   masyarakat.
·                                                                                                                         Membuat perencanaan kehidupan fisik yang memuaskan.
    E. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANJUT USIA
        1. Perubahan Fisik
a.Sel
Jumlah lebih sedikit, ukuran lebih besar, mekanisme perbaikan sel terganggu, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati.
b.         Sistem persyarafan
Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, mengecilnya saraf panca indera, kurang sensitive terhadap sentuhan, hubungan persarafan menurun.
c.         Sistem pendengaran
Presbiakusis/ gangguan pendengaran, hilang kemampuan pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau nada yang tinggi dan tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, terjadi pengumpulan ceruman dapat mengeras.
e.Sistem penglihatan
Spingter pupil timbul sclerosis, hilang respon terhadap sinar, kornea lebih berbentuk sferis (bola), kekeruhan pada lensa, hilangnya daya akomodasi, menurunnya daya membedakan warna biru dan hijau pada skala, menurunnya lapangan pandang, menurunnya elastisitas dinding aorta, katub jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun ± 1% pertahun, kehilangan elastisitas pembuluh darah, TD meningkat. 
f. Sistem pengaturan suhu tubuh
Temperatur tubuh menurun secara fisiologis, keterbatasan reflek menggigitdan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi penurunan aktivitas otot.
g.         Sistem respirasi
Menurunnya kekuatan otot pernafasan dan aktivitas dari silia-silia paru-paru kehilangan elastisitas, alveoli ukurannya melebar, menurunnya O2 pada arteri menjadi 75 mmHg, menurunnya batuk. 
h.         Sistem gastrointestinal
Terjadi penurunan selera makan rasa haus, asupan makanan dan kalori, mudah terjadi konstipasi dan gangguan pencernaan lainnya, terjadi penurunan produksi saliva, karies gigi, gerak peristaltic usus dan pertambahan waktu pengosongan lambung.
i.          Sistem genitourinaria
Ginjal mengecil aliran darah ke ginjal menurun, fungsi menurun, fungsi tubulus berkurang, otot kandung kemih menjadi menurun, vesikel vrinaria susah dikosongkan, perbesaran prostat, atrofi vulva.
j.          Sistem endokrin
Produksi hormon menurun fungsi paratiroid dan sekresi tidak berubah, menurunnya aktivitas tiroid, menurunnya produksi aldesteron, menurunnya sekresi hormon kelamin.
k.         Sistem integumen
Kulit mengerut/ keriput, permukaan kulit kasar dan bersisik, respon terhadap trauma menurun, kulit kepala dan rambut menipis dan berwarna kelabu, elastisitas kulit berkurang pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku menjadi keras dan seperti bertanduk, kelenjer keringat berkurang.
l.          Sistem muskulokeletal
Tulang kehilangan cairan dan makin rapuh, tafosis, tubuh menjadi lebih pendek, persendian membesar dan menjadi kaku, tendon mengerut dan menjadi sclerosis, atrofi serabut otot.
        2. Perubahan Psikologi
Tidak semua fungsi-fungsi pada lansia mengalami penurunan, adapun perubahan psikis yang terjadi menurut Stevens dan Hurlock 1980 adalah:
a.Pengamatan
Memerlukan waktu lebih lama untuk menyimak keadaan sekelilingnya.
b.Daya ingat
Cenderung masih mengingat hal yang lama disbanding dengan hal yang baru.
c. Berpikir dan argumentasi
Terjadi penurunan dalam pengmbilan keputusan/ kesimpulan.
d.      Belajar
Lebih berhati-hati dalam belajar, memerlukan waktu lebih lama untuk dapat mengintegrasikan jawaban, kurang mampu mempelajari hal-hal yang baru.
e. Perubahan sosial
Lanjut usia cenderung mengurangi bahkan berhenti dari kegiatan sosial atau menarik diri dari pergaulan sosialnya, keadaan ini mengakibatkan  interaksi sosial lanjut usia menurun, secara kualitas maupun kuantitas, yaitu: kehilangan peran, kontak sosial dan berkurangnya komitmen karena merasa sudah tidak mampu (Hurlock, 1990).
f. Perubahan spiritual
Hubungan horizontal, antar pribadi berupaya menyerasikan hubungan dengan dunia.

     F. PENYAKIT-PENYAKIT YANG SERING TERJADI PADA LANJUT USIA
1.       Kardiovaskuler
2.       Moskulosketal
3.       Td paru, bronchitis, asma dan penyakit paru lain
4.       Gigi, mulut dan saluran pencernaan
5.       Kelainan sistem saraf
6.       Infeksi kulit
7.       Malaria
8.       Infeksi jaringan





III.  KEPERAWATAN KELOMPOK LANJUT USIA DI MASYARAKAT
       A.  PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA
          1.Pendekatan fisik Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi 2 bagian, yaitu:   
§  Klien lanjut usia yang aktif, mereka yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain, sehingga kebutuhan sehari-harinya dapat dilaksanakan sendiri.
§  Klien lanjut usia yang pasif, mereka yang keadaan fisiknya memerlukan banyak pertolongan orang lain.
Adapun komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah mempertahankan dan membantu para klien untuk bernafas lancar makan, minum, eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh dalam berjalan, merubah posisi tidur, istirahat, keberhasilan tubuh, memekai dan menukar pakaian, melindungi kulit dari trauma dan kecelakaan.
        2. Pendekatan psikis
Perawatan mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia. Perawatan dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia pribadi dan sebagai sahabat akrab. Dengan selalu berpegang pada 3 prinsip (3S) yaitu sabar, simpatik, service.
        3. Pendekatan sosisl
Perawatan dapat menciptakan hubungan sosial antara lanjut usia dan lanjut usia lain, maupun lanjut usia dan perawatan sendiri dengan mengadakan diskusi, tukar pikiran ataupun bercerita.
        4. Pendekatan spiritual
Perawatan harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan baik dalam hubungannya dengan Tuhan atau Agama, terutama bila klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.


    B.  FOKUS KEPERAWATAN LANJUT USIA
1.       Peningkatan kesehatan (health promotion)
2.       Penyegaran penyakit (preventif)
3.       Mengoptimalkan fungsi mental
4.       Mengatasi gangguan kesehatan yang umum

    C. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA
1.       Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan.
2.       Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut usia dengan jalan perawatan dan pencegahan.
3.       Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia.
4.       Menolong dan merawat hidup klien lanjut usia yang menderita penyakit atau mengalami gangguan tertentu (kronis atau akut).
5.       Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai suatu kelainan tertentu.
6.       Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia menderita suatu penyakit/ gangguan masih dapat mempertahankan kebebasan yang semaksimal mungkin tanpa perlu suatu pertolongan.

    D. DIAGNOSA KEPERAWATAN

         1. Fisik/ Biologi
a.       Gangguan nutrisi kurang/ lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat.
b.       Gangguan persepsi sensoru berhubungan dengan hambatan penerimaan dan pengiriman rangsangan.
c.       Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan minat perawatan diri.
d.      Potensial cidera fisik berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh.
e.       Gangguan pola tibur berhubungan dengan kecemasan/ nyeri.
f.        Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan penyempitan jalan nafas/ secret jalan nafas.
g.       Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan sendi menurun.
       2. Psikososial
a.       Isolasi sosial berhubungan dengan perasaan curiga.
b.       Menarik diri dari lingkungan berhubungan dengan perasaan tidak mampu.
c.       Depresi berhubungan dengan isolasi sosial.
d.      Harga diri rendah berhubungan dengan perwKn ditolak
e.       Koping individu inadekuat berhubungan dengan ketidakmampuan mengemukakan perasaan dengan tepat.
f.        Cemas berhubungan dengan sumber keuangan yang terbatas.

        E.  RENCANA KEPERAWATAN
              Meliputi:
1.       Melibatkan klien dan koleganya dalam perencanaan.
2.       Bekerjasama dengan profesi kesehatan lainnya.
3.       Tentukan prioritas: klien mungkin puas dengan situasi demikian/ rasa aman adalah utama yang merupakan kebutuhan.
4.       Cegah timbulnya masalah.
5.       Sediakan klien cukup waktu untuk mendapat input atau pemasukan.
6.       Tulis semua rencana jadwal.

                Perencanaan

Tujuan tindakan keperawatan lanjut usia diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, antara lain:
1.       Pemenuhan kebutuhan nutrisi.
2.       Peningkatan keamanan dan keselamatan.
3.       Memelihara kebersihan diri.
4.       Memelihara keseimbangan istirahat/ tidur.
5.       Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi efektif.

                Diagnosa Keperawatan 1: Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi

1.       Berikan makanan porsi kecil tapis erring.
2.       Banyak minum dan kurangi makanan yang terlalu asin.
3.       Berikan makanan yang mengandung serat.
4.       Batasi pemberian makanan yang tinggi kalori.
5.       Batasi minum kopi dan teh.

                Diagnos Keperawatan 2: Peningkatan Keamanan dan Keselamatan

                a. Klien/ lansia

1.       Berikan lansia menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan.
2.       Latih lansia untuk pindah dari tempat tidur ke kursi.
3.       Bairkan penggunaan pengamanan tempat tidur jika tidur.
4.       Bila mengalami masalah fisik missal: rematik, letih klien untuk menggunakan alat bantu berjalan.
5.       Bantu klien ke kamar mandi, terutama pada klien yang menggunakan obat penenang dan diuretic.
6.       Menggunakan kacamata bila berjalan.
7.       Usahakan ada yang menemani jika bepergian.

               b. Lingkungan

1.       Tempatkan klen khusus di dekat kantor sehingga mudah diawasi bila lansia tersebut dirawat.
2.       Letakkan bel di bawah bantal dan ajarkan cara menggunakannya.
3.       Gunakan tempat yang tidak terlalu tinggi.
4.       Letakkan meja kecil di dekat tempat tidur.
5.       Upayakan lantai bersih, rata, tidak licin, tidak basah.
6.       Pasang pegangan di kamar mandi.

7.       Hindari lampu yang redup dan menyilaukan sebaiknya 70-100 watt.
8.       Gunakan sandal/ sepatu yang beralas karet.

               Diagnosa Keperawatan 3: Memelihara Kebersihan Diri

1.       Meningkatkan/ membantu lansia untuk melakukan upaya kebersihan diri.
2.       Mengantarkan lansia menggunakan sabun lunak yang mengandung minyak atau berikan skin lotion.
3.       Meningkatkan lansia untuk memelihara lubang telinga, mata, memotong kuku.

              Diagnosa Keperawatan 4: Memelihara Keseimbangan Istirahat/                                                 

              Tidur

1.       Menyediakan tempat/ waktu tidur yang nyaman.
2.       Mengatur lingkungan yang cukup ventilasi bebas dari bau-bauan.
3.       Melatih lansia untuk latihan fisik ringan untuk memperlancar sirkulasi dan melenturkan otot.
4.       Beri minuman hangat sebelum tidur, misalnya: susu hangat.

              Diagnosa Keperawatan 5: Meningkatkan Hubungan Interpersonal           
              Melalui Komunikasi Efektif
1.       Berkomunikasi dengan lansia melalui kontak mata.
2.       Memberi stimulus/ meningkatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan.
3.       Menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan lansia.
4.       Memberikan kesempatan lansai untuk mengekspresikan/ tanggap terhadap respin terhadap non verbal.
5.       Melibatkan lansia untuk keperluan tertentu sesuai kemampuan.
6.       Menghargai pendapat lansia.
 



BAB VI
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah penulis menyusun tinjauan teori dan praktek keperawatan komunitas khususnya kelompok lansia di RW IV kelurahan polowijwn blimbing malang,maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagaiberikut :
1.       Menua atau menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.(Contantinides 1994).
2.       usia lanjut merupakan seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, baik fisiknya masih berkemampuan (potensial) maupun karena permasalahan yang tidak lagi mampu berperan secara konstruktif dalam pembangunan. (Depsos RI 1997).

3.       batasan usia lanjutenurut WHO:

Ø  Middle age (usia pertengahan) 45-59 tahun
Ø  Elderly (lanjut usia) 60-74 tahun
Ø  Old (lanjut usia tua) 75-90 tahun
Ø  Very Old (usia sangat tua) > 90 tahun

4.      faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan

Ø  Hereditas: keturunan/ genetik
Ø  Nutrisi/ makanan
Ø  Status kesehatan
Ø  Lingkungan
Ø  Stress
5.       Lansia banyak mengalami penurunan fungsi tubuh akibat proses degenerasi, oleh karena itu diperlukan usaha untuk mempertahankan derajat kesehatan para lansia pada taraf setinggi-tingginya agar terhindar dari penyakit atau gangguan. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan wadah yang dapat memberikan sarana bagi lansia yang dapat memelihara kesehatannya yaitu posyandu lansia
6.       Pada posyandu lansia dapat memperoleh manfaat antara lain, mengetahui status kesehatannya juga kegiatan lain yang bermanfaat untuk mengisi kegiatan para lansia.Disamping itu pada posyandu lansia terdapat suatu kepedulian dan perhatian yang didapat dari kontak sosial sehingga memberi harapan dan semangat para lansia untuk terus dapat hidup mandiri dan menyadari bahwa di usia senja mereka tetap prima.

B.  SARAN
1.       Dalam pelaksanan kegiatan posyandu diperlukan peran serta masyarakat,kerja sama dari berbagai pihak oleh karena itu dukungan dan partisipasi keluarga lansia dalam ikut serta memelihara kesehatan lansia sangat diperlukan dismping tokoh dan perangkat desa setempat yang nantinya diharapkan secara mandiri para lansia dapat berperan aktif dalam posyandu lansia dan bahkan tidak menutup kemungkinan dilaksanakan dari dan untuk kelompok lansia itu sendiri
2.        Untuk mengatasi masalah kesehatan  di rw 4 kelurahan polowijen diperlukan kesadaran waga sendiri oleh karena itu perhatian dan rasa kebersamaan lingkungan setempat sangat diperlukan dalam mengenal masalah
3.       Puskesmas sebagai tempat rujukan yang utama bagikesehatan diharapkan lebihefektif terjun kemasyarakat terutama untuk membimbing potensi yang ada di masyarakat terutama di bidang kesehatan





   

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto,Suharsimi.1999.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Pratek. Jakarta: PT   Rineka cipta

Carpenito,L.J.2000.Buku Diagnosa Keperawatan.Editor Monika Ester.Jakarta: EGC

Efendi,N.1998.Dasar Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.Jakarta: EGC

Gunawan,lany.2004.Hipertensi Dan Tekanan Darah Tinggi.Yogykarat: Penerbit Konisius

Leueckenote,AA1998.Pengkajian Gerontologi.Jakarta: EGC

Notoadmojo.1997.Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC

Nugroho,wahyudi.2000.Perawatan Usia Lanjut.jakarta;EGC

YIDKR.1985.Perawatan Kesehatan Masyarakat Suatu Proses Dan Praktek Untuk Peningkatan Kesehatan Masyarakat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar